[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 8)

MY LADY - CHAPTER 8.jpg

MY LADY

 [ Chapter 8 ]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Kim Yura (GD), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7

Warning!!

Bagi adek-adekku yang masih 17 tahun ke bawah, jangan baca chapter ini ya. Walaupun ini hanya sebatas tersirat, tapi tetap saja mengandung unsur dewasa. Kumohon jangan membacanya, karena aku tidak memproteksinya. Jangan salahkan aku jika kalian yg masih di bawah umur tetap maksa buat baca chapter ini karena aku sudah memberikan peringatan di awal. Bahkan di rating pun sudah aku peringatkan. Jadi kumohon, jangan baca ya…

 

 “Kau sudah mendengarnya?” tanya Chanyeol memecahkan keheningan mereka bertiga saat sedang berada di kantin untuk menyantap makan siang.

“Memang ada berita apa?” tanya Baekhyun penasaran sambil menaikkan sebelah alisnya tanda tidak mengerti.

“Kau benar-benar belum mendengarnya sama sekali?” sembur Chanyeol lagi membuat kerutan semakin dalam di kening Baekhyun.

“Kalau aku sudah mengetahuinya mana mungkin aku bertanya padamu.” ucap Baekhyun penuh kekesalan. Sedangkan Kai, dia diam saja, mencoba untuk mengabaikan perdebatan kecil yang tidak berarti yang sedang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu.

“Kau benar-benar kurang pergaulan kalau begitu.” Ucap Chanyeol penuh dengan nada ejekan.

“Berhenti mengataiku seperti itu! Aku bukan tipe orang yang suka bergosip seperti dirimu. Jadi, sebelum kesabaranku habis, cepat katakan apa maksud dari pertanyaanmu tadi!” geram Baekhyun karena tidak tahan dengan kelakuan Chanyeol yang terus berbicara berputar-putar.

“Santai, Bro! Aku punya kabar yang akan membuatmu pingsan saat ini juga.” Ucapnya denga nada santai, tapi respon yang diberikan Baekhyun sebaliknya. Dia malah semakin memolototi Chanyeol untuk segera mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan sebenarnya.

“Ini tentang Sena.” Lanjutnya yang membuat tatapan Baekhyun sedikit melembut seketika, tapi tiba-tiba perasaan Baekhyun menjadi tidak enak saat menunggu kelanjutan dari kalimat Chanyeol yang berhenti di tengah-tengah. “Dia akan kuliah di luar negeri.” Lanjut Chanyeol membuat mata Baekhyun membulat seketika.

“Aku bisa mengikutinya ke luar negeri.” Ucap Baekhyun sambil berdehem dan mencoba untuk tetap santai setelah sekian menit hanya berdiam diri, berusaha memproses informasi yang diberikan Chanyeol padanya. Bagaimana aku bisa tidak tahu kabar ini padahal hampir setiap hari aku selalu bersama Sena? Gumam Baekhyun dalam hati penuh dengan kekesalan.

“Tapi bukan itu akar permasalahannya.” Balas Chanyeol lagi membuat Baekhyun mengernyit heran. “Universitas yang dia tuju ada di daerah netral, dan kita tidak bisa mengikutinya untuk sampai ke sana.” Tambah Chanyeol membuat Baekhyun kembali membulatkan matanya terkejut.

“Lebih tepatnya di mana?” ucap Kai yang sekarang perhatiannya berhasil teralihkan karena berita yang menggemparkan ini.

“Swiss. Lebih tepatnya di Universitas Zurich.” Jawab Chanyeol begitu ringannya seakan tidak ada beban sama sekali saat mengungkapkan hal itu. Mendengar hal itu membuat tubuh Baekhyun semakin diam membeku. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“Itu adalah masalah besar.” Ucap Kai lagi menanggapi perkataan Chanyeol. Suasana di sana tiba-tiba berubah menjadi dingin dan itu berasal dari satu orang yang sedang dekat dengan mereka.

Baekhyun semakin mengepalkan telapak tangannya sebagai tanggapan akan percakapan Chanyeol dan Kai. Bagaimana bisa dia kecolongan seperti ini? Tanyanya lagi dalam hati. Marah? Sungguh dia sangat marah, karena hal itu berarti dia tidak akan bertemu dengan Sena selama dia kuliah di Zurich. Sialan! Umpatnya dalam hati.

Tanpa sadar Baekhyun menggebrak meja kantin sekolahnya dengan keras membuat suasana di kantin yang ramai menjadi hening seketika. Semua orang menatap heran ke arah Baekhyun yang tiba-tiba memukul meja dengan begitu kerasnya. Chanyeol dan Kai sadar jika Baekhyun sedang marah saat ini, dan dari semua orang yang ada di kantin itu termasuk Chanyeol dan Kai pun, tidak ada yang berani bertanya apa yang sedang terjadi padanya saat ini.

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Baekhyun berdiri dari tempat duduknya. Menggeser kursi dengan kasar hingga menimbulkan suara bunyi derak yang begitu memekakan telinga, tapi dia tidak peduli. Karena hanya ada satu orang yang berada di dalam pikirannya saat ini, dan dia harus menemukannya sesegera mungkin untuk mengkonfirmasi berita tersebut.

Dengan langkah lebarnya, Baekhyun keluar dari kantin tersebut dengan menyisakan tatapan heran dari semua orang padanya. Chanyeol dan Kai hanya bisa memandang Baekhyun dari kejauhan. Mereka bedua terlalu hafal akan sikap Baekhyun jika sedang marah, jadi mereka lebih baik diam mencari aman untuk tidak berurusan dengan seorang Byun Baekhyun yang sedang marah dari pada mereka harus menginap beberapa hari di rumah sakit karena mencoba melawan amarah Baekhyun. Mereka berdua hanya berharap, sahabatnya itu tidak melakukan hal-hal yang dapat membuatnya menyesal. Semoga.

Dengan perasaan yang tidak menentu, Baekhyun terus melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong yang ada di sekolah untuk mencari keberadaan Sena. Beberapa kali dia menabrak orang-orang yang dilewatinya, tapi dia tidak peduli karena orang-orang tersebut juga tidak mengungkapkan kekesalannya pada Baekhyun.

Setelah beberapa menit, akhirnya Baekhyun sampai di tempat yang ditujunya. Dapat dilihatnya Sena sedang duduk di salah satu bangku taman dengan sebuah buku yang terbuka di atas mejanya. Sena begitu asyik dengan dunianya hingga dia tidak sadar bahwa keadaan di sekelilingnya telah berubah.

Dengan sedikit berlari Baekhyun mendekati Sena. Ditariknya lengan Sena hingga membuatnya langsung berdiri dari duduknya. Sena berdiri dengan agak limbung karena terlalu terkejut. Sena membulatkan matanya saat melihat keadaan Baekhyun yang sedang kacau. Nafasnya memburu, rambutnya acak-acakan, bibirnya mengatup rapat, dan matanya menatap tajam Sena.

“Ikut aku!” desis Baekhyun dari sela-sela bibirnya sambil mencengkram tangan Sena kuat. Sena semakin bingung dengan keadaan Baekhyun saat ini. Tanpa menunggu jawaban dari Sena, Baekhyun menyeret Sena untuk mengikutinya. Sena pun berjalan dengan terpogoh-pogoh mengikuti ke mana Baekhyun akan membawanya pergi sambil sesekali menahan sakit di pergelangan tangannya.

“Baekhyun, sakiitt…” Ucap Sena mengungkapkan protesnya saat dia merasakan cengkraman Baekhyun semakin kuat di pergelangan tangannya.

Tanpa mempedulikan protesan tersebut, Baekhyun terus menyeret Sena ke tempat yang ditujunya, ruang berkumpul gangnya yang berada di gedung seberang sekolah mereka. Semua orang menatap mereka berdua dengan tatapan bingungnya, tapi tidak ada yang berani menolong Sena untuk lepas dari cengkraman seorang Byun Baekhyun saat itu.

“Baekhyun, lepaass…”

“Baek, lepaass…ini sakiitt…” protes Sena lagi yang masih tidak ditanggapi oleh Baekhyun.

“Baek…” lirih Sena saat mengetahui ke mana tujuan mereka. Baekhyun terus menyeret Sena untuk menuju ke gerbang sekolah, dan situasi saat itu seakan mendukung dirinya untuk kabur ke gedung tersebut. Tanpa di ketahui satpam sekolah, Baekhyun dan Sena keluar dari sekolah dengan selamat.

“Baekhyun…” panggil Sena mencoba untuk menyadarkan Baekhyun dengan memanggil namanya, tapi itu semua percuma karena telinga Baekhyun seakan tuli.

“BYUN BAEKHYUN!!” teriak Sena pada akhirnya membuat Baekhyun pun berhenti melangkah.

“APA??” jawab Baekhyun dengan bentakkannya.

“Lepaskan, kau menyakitiku.” Ucap Sena tapi masih tetap diabaikan oleh Baekhyun.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Baekhyun dengan nada dinginnya dan malah semakin mengencangkan cengkramannya membuat Sena semakin meringis kesakitan.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Jangan pura-pura bodoh di depanku, Lee Sena!!” bentak Baekhyun lagi membuat Sena diam seribu bahasa. Tidak pernah sekalipun Baekhyun membentaknya seperti ini. Entah kenapa perasaan sakit hati terbesit di hatinya saat Baekhyun memperlakukannya seperti ini. “Jawab aku, Lee Sena. Jangan hanya diam saja!”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu.” Jawab Sena dengan suara yang bergetar. Setetes air mata jatuh dari matanya. Dia merasa sangat takut dengan sikap Baekhyun yang sekarang ada di hadapannya. Baekhyun yang sekarang sangat berbeda dengan Baekhyun yang selalu bersamanya.

“Mengapa kau tidak mengatakannya padaku.” Ucap Baekhyun sedikit meredakan emosinya walaupun masih dengan nada dinginnya. Hatinya sakit saat melihat Sena menangis di depannya karena dirinya. Sial.

“Apa yang sudah dan belum aku katakan padamu?” jawab Sena dengan suara seraknya.

“Swiss. Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”

“Aku mengatakan ataupun tidak mengatakannya padamu tentang Swiss, itu bukan urusanmu.” Jawab Sena setelah tahu ke mana arah pembicaraan mereka. Sena sedikit heran kenapa Baekhyun begitu marah hanya karena masalah dia akan kuliah di Swiss, bukankah Baekhyun bisa mengikutinya jika dia ingin? Gumam Sena dalam hati.

“Untuk masalah ini kau harus mengatakannya padaku, karena aku berhak untuk ikut memutuskan kau akan pergi atau tidak!!” desis Baekhyun tidak suka dengan jawaban yang diberikan Sena padanya.

“Kau tidak punya hak apapun untuk mengatur hidupku.” Ucap Sena kesal pada Baekhyun, sedikit melupakan rasa takutnya akan sikap Baekhyun yang sedang marah padanya saat ini.

“Aku punya hak!” jawab Baekhyun penuh dengan penekanan.

“Kau bukan siapa-siapaku, dan kau tidak berhak untuk ikut campur!”

“Kau adalah milikku, dan aku berhak untuk ikut ikut campur.”

“Kau gila!”

“Ya, aku gila karenamu. Batalkan sekarang juga atau kau akan aku paksa dirimu untuk membatalkannya.”

“Tidak, sampai kapapun aku tidak akan membatalkannya.”

“Aku memberikanmu pilihan untuk membatalkannya dengan cara yang baik-baik Sena.”

“Aku tetap tidak akan membatalkannya.”

“Jangan menjadi gadis yang keras kepala, atau kau akan menyesalinya.”

“Aku tidak takut dengan ancamanmu.”

“Aku yakin kau akan menyesal jika memilih opsi yang kedua, Sena-ya.”

“Aku tidak akan pernah menyesali apapun!” jawab Sena membuat Baekhyun menyeringai sambil menatapnya.

“Baiklah jika itu yang kau pilih. Aku harap kau benar-benar tidak menyesalinya.” Ucap Baekhyun penuh ancaman. Sena yang merasakannya pun melangkah mundur. Namun, secepat kilat, Baekhyun kembali menarik Sena ke arahnya dan langsung memenjarakannya dengan pelukannya.

Bibir Baekhyun mencium paksa bibir Sena dengan kasar. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Sena meronta di dalam pelukan Baekhyun, tapi itu tidak membuatnya terlepas. Semakin Sena berusaha untuk keluar, semakin erat pelukan Baekhyun berikan padanya. Sena terus memukul dada Baekhyun saat udara semakin menipis di paru-parunya. Seakan mengerti dengan kebutuhan sena, Baekhyun pun melepaskan ciumannya, tapi itu tidak lama, karena Baekhyun kembali menyerang Sena.

Setelah puas dengan bibir Sena yang sudah sedikit membengkak akibat ulahnya, Baekhyun pun mendorong Sena untuk berbaring di atas sofa yang terdapat di ruangan tersebut. Seakan mengerti maksud Baekhyun, Sena pun segera bangkit dari sofa tersebut, tapi Sena kalah gesit dari Baekhyun karena dia segera menindih Sena yang sedang terbaring di sofa.

Baekhyun kemudian mencengkram pergelangan tangan Sena di atas kepalanya. Tidak hanya tangan, tapi Baekhyun juga mengunci pergerakan Sena agar Sena tidak bisa melawan padanya. Kembali, Baekhyun mencium bibir yang sudah menjadi candunya. Bibir yang begitu dirindukannya selama ini. Suara desahan keluar dari bibir Sena tanpa disadarinya.

Ciuman yang diberikan Baekhyun padanya mengacaukan akal sehatnya. Sena tahu ini salah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ciuman panas mereka pun semakin lama semakin dalam, membuat Sena lumpuh dan Baekhyun semakin diliputi oleh gairah. Merasa Sena tidak lagi memberikan perlawanan, Baekhyun melepaskan satu tangannya dari mencengkram tangan Sena untuk membuka satu persatu kancing seragam Sena.

Tanpa Sena sadari, semua kancing seragamnya sudah terlepas, dan menyisakan sebuah bra warna putih berendanya yang menutupi tubuh bagian depannya. Baekhyun pun langsung memberikan ciumannya dari dagu Sena, ke tulang selangkanya, kemudian turun lagi ke atas payudaranya yang masih tertutupi bra tersebut. Kecupan-kecupan ringan Baekhyun berikan membuat Sena semakin terbuai akan perlakuan Baekhyun. Tubuhnya semakin lemas akan gairah yang belum pernah dirasakannya selama ini.

Baekhyun pun melepaskan kemeja seragam Sena dengan terburu-buru, kemudian melepaskan kaitan pada bra Sena, dan membuangnya ke sembarang arah. Sebelum Sena berubah pikiran, Baekhyun pun segera memberikan kecupan-kecupannya pada payudara yang tidak tertutupi satu penghalang pun. Lenguhan manja keluar begitu saja dari bibir Sena. Tanpa sadar dia sudah mencengkram erat rambut Baekhyun, memintanya untuk lebih, dan dengan senang hati Baekhyun akan memberikannya.

Sore itu mereka lewati dengan menyatukan tubuh mereka. Pikiran mereka terlalu kalut untuk sekedar menghentikan kegiatan terlarang tersebut. Sena yang pada awalnya menolak setengah mati pun pada akhirnya menerima Baekhyun walaupun awalnya dengan sebuah keterpaksaan tanpa berpikir bahwa suatu hari nanti dia akan menyesalinya.

Setelah mereka puas akan pusaran gairah masing-masing, Baekhyun pun berbaring di atas tubuh Sena karena keadaan sofa yang terlalu kecil untuk mereka berdua. Tiba-tiba pikiran Sena kembali jernih setelah dipuaskan. Dia memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu yang telah terjadi antara dirinya dan Baekhyun.

Tanpa sadar dia pun menangis saat tahu hal sudah dijaganya diregut paksa oleh orang yang dibencinya. Dan dia lebih membenci dirinya sendiri saat dia sadar bahwa dia juga sangat menikmati apa yang telah Baekhyun lakukan padanya. Sena merasa menjadi seseorang yang sangat kotor. Dengan sisa tenaga yang dimiliknya, Sena mendorong Baekhyun dari atas tubuhnya. Tubuh Baekhyun pun jatuh ke lantai akibat dari dorong Sena.

Setelah tidak ada Baekhyun di atasnya, Sena pun bangkit dari sofa dan mengambil satu per satu pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Baekhyun hanya bisa memandang Sena dengan tatapan bingungnya. Dia sadar telah melakukan kesalahan yang begitu besar pada Sena, tapi Baekhyun tidak menyesal telah melakukan hal itu semua.

Tanpa memperdulikan keberadaan Baekhyun, Sena memakai kembali pakaiannya dengan tergesa-gesa. Air mata terus mengalir dari matanya. Sesekali Sena akan mengusapnya dengan punggung tangannya.

“Se-na….” panggil Baekhyun karena tidak tahan dengan situasi canggung seperti sekarang ini. Tapi tidak ada jawaban apapun yang diberikan Sena padanya.

“Sena…” panggil Baekhyun lembut sambil berjalan mendekatinya, tapi Sena bergerak mundur saat itu juga.

“Sena…” panggil Baekhyuk dengan suara lirih untuk yang ketiga kalinya.

“Jangan panggil namaku dengan mulut kotormu itu!!” ucap Sena dengan suara dinginnya, membuat Baekhyun berhenti melangkah seketika. Setelah sekian menit hanya saling tatapan, Baekhyun pun kembali mencoba untuk mendekati Sena.

“JANGAN MENDEKAT!!” ucap Sena saat Baekhyun hanya berdiri beberapa langkah di depannya. Baekhyun pun mencoba untuk mengulurkan tangannya untuk menggapai Sena, tapi itu semua terhenti di udara saat Baekhyun kembali mendengar teriakan Sena padanya.

“JANGAN SENTUH AKU!!” teriak Sena masih dengan berurai air matanya.

“Aku membencimu!!” desis Sena dengan suara dinginnya.

“Aku membencimu!!” ulangnya sambil menatap Baekhyun dengan penuh kebencian di matanya.

“Aku sungguh membencimu!!” ucap Sena kembali membuat Baekhyun menatapnya dengan pandangan nanarnya.

Tanpa menunggu jawaban dari Baekhyun, Sena pun berlari keluar ruangan itu dengan meninggalkan Baekhyun yang masih bergeming di tempatnya tanpa melakukan apapun. Mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhnya, Sena pun terus berlari berharap memori kejadian beberapa jam lalu akan menghilang seiring dengan langkah kakinya yang terus menjauh.

Selepas kepergian Sena, tubuh Baekhyun pun jatuh terduduk di lantai. Setidaknya tadi dia harus meminta maaf walaupun Baekhyun yakin Sena tidak akan pernah memaafkannya sama sekali. Dengan sekuat tenaga Baekhyun meninju lantai yang tak berdosa itu hingga membuat kepalan tangannya merah dan luka. Baekhyun marah pada dirinya sendiri karena sudah melakukan hal yang tidak semestinya dia lakukan, tapi sungguh dia tidak merasa menyesal sama sekali di hatinya.

Setelah kejadian di hari itu, Baekhyun tidak pernah melihat sosok Sena. Bahkan bayangannya pun tidak pernah dilihatnya. Dan Baekhyun juga tidak pernah mencoba untuk mencari tahu bagaimana keadaan Sena saat ini. Dia belum sanggup menerima penolakan lagi dari Sena. Sudah cukup dia menyakitinya dengan mengambil hal berharga yang dimiliki oleh gadisnya. Jadi Baekhyun memilih menjauh untuk sementara waktu. Mengabaikan rasa sakit akibat rasa rindu yang dideranya pada gadis yang sudah membuatnya gila. Hingga saat keberangkatan Sena ke Swiss pun, mereka berdua tidak pernah bertemu lagi.

~ 7 tahun kemudian ~

“Kau masih tidak mau menyusulnya?” tanya Chanyeol yang sedang duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan kerja Baekhyun. Sedangkan orang yang ditanya tidak menjawabnya. Pikirannya terlalu sibuk dengan berbagai kejadian tujuh tahun yang lalu yang pernah terjadi antara dirinya dengan gadisnya.

Baekhyun dengan stelan kemeja dan celana warna hitam, rambut hitam acak-acakanya dibiarkan jatuh menjuntai menutupi  keningnya, hanya bisa memandang kosong ke arah pemandangan kota Seoul dari balik jendela besar yang ada di kantornya. Tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya. Rasa rindu yang terus menggerogotinya membuatnya menjadi pribadi yang kaku, dingin, dan kejam. Baginya, tidak ada wanita yang menarik selain wanita yang telah disakitinya begitu dalam.

“Kau tidak mendengarkanku?” tanya Chanyeol lagi sedikit mengeraskan suaranya. Nada suara jengkel kentara sekali dalam nada suaranya, membuat Baekhyun tersadar dari lamunannya. Baekhyun pun menolehkan wajahnya untuk menatap Chanyeol yang sedang memandangnya. Sedangkan Kai, menunjukkan raut wajah yang tidak berminat akan percakapan yang selalu Chanyeol lontarkan jika dia sedang bosan.

“Apakah omonganmu penting untuk aku dengarkan?” tanya Baekhyun dengan menaikkan sebelah alisnya, sedangkan Chanyeol hanya bisa memutar matanya jengah dengan kelakuan sahabatnya itu.

“Kalau begitu lupakan.” Ucapnya menyerah saat tahu Baekhyun akan menjawab apa perihal pertanyaannya itu.

“Kau sendiri sudah tahu jawabannya seperti apa walaupun kau terus bertanya hingga sejuta kalipun. Kau hanya membuang sia-sia waktumu.” Ucap Baekhyun dengan nadanya dinginnya. Kemudian dia kembali menatap pemandangan kota Seoul dari atas ketinggian.

Mendengar hal itu, Chanyeol hanya bisa berdecak kesal, sedangkan Kai menyeringai sambil menatap Chanyeol dengan tatapan meremehkannya. Bodoh! Ucap Kai lewat tatapan matanya. Chanyeol yang mengerti arti tatapan itu pun memproutkan bibirnya kesal ke arah Kai. Chanyeol dan Kai bukannya tidak tahu dengan masalah Baekhyun dan Sena, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mengatasi masalah sahabatnya itu. Baekhyun dan Sena sendiri yang bisa menyelesaikan masalah yang mereka berdua,

Sedangkan Baekhyun, pikirannya kembali pada wanitanya. Seperi apa penampilannya saat ini? Bagaimana keadaannya selama ini? Apakah dia baik-baik saja setelah kejadian hari itu? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di otaknya selama tujuh tahun terakhir ini. Apakah mereka mempunyai anak? Itu lah pertanyaan dengan jawaban yang paling menakutkan yang ingin Baekhyun dengar jawabannya.

Jika memang mereka mempunyai anak, maka Baekhyun telah menjadi orang yang paling berengsek. Padahal ibu Sena telah menitipkan Sena padanya. Berengsek! Umpatnya dalam hati lebih kepada dirinya sendiri saat memikirkan kemungkinan tersebut. Kemudian Baekhyun memejamkan matanya untuk menetralkan emosinya yang sempat memuncak saat mengingat kebodohannya di masa lalu.

Aku sungguh merindukanmu, hingga membuatku ingin mati karena terlalu merindukanmu. Maafkan aku atas keegoisanku yang terlalu menginginkan untuk memilikimu. Kumohon, kembalilah padaku. Aku sangat mencintaimu, Lee Sena.

~ tbc ~

Akhirnya chapter 8 ini selesai aku tulis. Aku sudah tidak sabar ingin segera mengakhiri ff ini, dan itu berarti ceritanya harus segera saat mereka sudah dewasa. Entah mengapa aku kurang suka menulis saat mereka masih SMA, terus aku lanjut ke dewasa. Pasti saat-saat SMA nya aku percepat hanya beberapa chapter aja, berbeda saat mereka sudah dewasa.

Untuk tidak diproteksinya chapter ini, murni karena ketelodoranku yang lupa akan adegan diceritaku sendiri. Seharusnya minggu lalu aku peringatkan kalian, tapi aku baru sadar saat sedang mengedit ulang chapter ini. Maafkan aku. Untuk ke depannya, aku berencana memproteksi beberapa chapter yang menurutku pantas dan harus diproteksi disemua ffku, tidak hanya My Lady saja, tapi DREAM juga. Dan seperti biasa, aku akan memberikan kalian clue untuk memecahkannya.

Maafkan aku jika kalian menunggunya dengan waktu yang lama. Sudah aku bilang dari awal, jangan terlalu berharap sama ff ini, karena aku merasa gagal dalam mengeksekusinya. Jadinya seperti ini…

Semoga kalian tetep suka sama ff ini.

Banyak yang nanya, akun wattpad aku apa. Di atas sudah aku kasih tahu akunku apa. Kalo kalian jeli, pasti kalian dapat membacanya di bagian dislcaimer. Tapi kalo kalian males baca, ya udah tak kasih tahu. Idnya “@mongmongngi_b” judul ceritanya “MY LADY”. Sudah jelaskan?

Sekian dari aku, sampai jumpa lagi dilain kesempatan…

Bye-bye :-*

Regards,

Azalea

Iklan

63 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 8)

  1. Keren!!! Ya ampun~ mereka punya anak ga ya? Dan thor menurutku aku suka kalo masa SMAnya dicepetin.. Cuman aga jauh 7 tahun..adduh 6 atau 5 tahun ajalah,but its okay ini maunya thor dan go next chap!

  2. Kenapa baekhyun gak bisa ke swiss?? Padahal di otak sena, kalo baekhyun mau ngikutin dia kan baekhyun bisa aja ngejar sena ke swiss. That means, sena pengen dikejar baek… huhu sedih kalo sekarang keadaan mereka jadi begini?

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 31) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 30) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 29) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My – (Chapter 27) | EXO FanFiction Indonesia

  7. Iya si thor, menurutku juga ini alurnya kecepetan. Mendadak ada tulisan 7 tahun kemudian hehe
    Tapi ceritanya kece thor, gw suka

  8. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 26) | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 25) | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 24) | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 23) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s