[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 36)

MY LADY - CHAPTER 34

 

MY LADY  [ Chapter 36]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31 -> CHAPTER 32 -> CHAPTER 33 -> CHAPTER 34 -> CHAPTER 35

Jisoo membuka matanya saat ia merasakan deru napas hangat Baekhyun menerpa wajahnya. Detak jantung Baekhyun yang berdenyut teratur bisa dirasakan tangannya yang ia letakkan di dada telanjang Baekhyun. Dengkuran halus keluar dari bibir Baekhyun menandakan ia sudah tertidur pulas setelah kegiatan panas mereka.

Jisoo mengamati wajah Baekhyun yang sedang tertidur karena ia tidak merasa kantuk sedikit pun. Permainan panas mereka membuat ia tidak bisa memejamkan matanya sekalipun, lain halnya dengan Baekhyun sehingga Jisoo bisa sepuasnya mengamati wajah Baekhyun tanpa disadarinya.

Jisoo bergeming di tempatnya seperti patung karena ia takut gerakan sekecil apapun bisa membangunkan Baekhyun dan mereka akan mengalami situasi yang sulit setelah itu. Rangkulan salah satu tangan Baekhyun di pinggangnya semakin mengerat, menarik tubuh Jisoo untuk lebih dekat dengannya hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Sedangkan tangan lainnya, ia gunakan sebagai bantal untuk Jisoo.

Siapa kau sebenarnya? Siapa aku sebenarnya? Kenapa aku bisa senyaman ini saat bersamamu? Apa artinya dirimu di kehidupan masa laluku? Tanya Jisoo tanpa suara yang entah untuk keberapakalinya ia ungkapkan saat memandang wajah Baekhyun.

Jisoo menggeserkan tangan Baekhyun yang memeluk pinggangnya dengan hati-hati. Ia bangkit dari tidurnya tanpa menimbulkan gerakan yang berarti. Lalu wajahnya menengok ke bekalang, ke arah Baekhyun yang masih tertidur.

Ketika ia menggeser kakinya untuk turun dari ranjang, rasa sakit dari organ intimnya tidak begitu menyiksanya. Tubuh Jisoo menegang saat ia tidak merasakan perasaan seorang wanita yang baru pertama kali tidur dengan seorang pria. Jisoo kembali memandang wajah Baekhyun. Apakah ini bukan kali pertama kita tidur? karena seingatnya, ia tidak pernah tidur bersama seorang bahkan dengan Sehun sekalipun.

Kepalanya tiba-tiba pusing saat memikirkan semua kejadian ini. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berharap rasa pusing itu hilang dari kepalanya. Jisoo memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai. Menggunakannya satu per satu tanpa merasa takut Baekhyun akan mengamatinya.

Jisoo mengikat kembali rambutnya yang terlihat berantakan jika ia menggerainya. Ia mendekati meja nakas karena ia tidak menemukan sebuah kertas untuk meninggalkan pesan pada Baekhyun. Jisoo menghela napas kasar saat melihat handphonenya mati, lalu ia melihat sebuah handphone lainnya yang tergeletak di meja nakas.

Saat ia akan membuka tombol kunci, ternyata handphone Baekhyun yang tengah dipegangnya dikunci dengan sebuah password angka. Jisoo berpikir sejenak, memikirkan kombinasi angka yang kira-kira akan dibuat oleh Baekhyun sebagai sebuah password. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya sebuah kombinasi angka terbesit di benaknya, dengan ragu-ragu ia menekan angka-angka tersebut untuk mencoba peruntungannya.

Klik. Bunyi handphone Baekhyun terbuka pun membuat mata Jisoo membelalak seketika. Ia tidak menyangka akan dengan mudah memecahkan password yang digunakan oleh Baekhyun. Tubuhnya kembali membeku saat matanya menatap foto wallpaper yang digunakan oleh Baekhyun. Tanpa sadar air matanya menetes saat melihat tawa bahagia terekam di wajah seorang balita yang sedang di gendong oleh seorang wanita yang masih muda.

Mata Jisoo masih terfokus pada wajah balita tersebut. Entah kenapa hatinya begitu sakit bercampur rindu saat melihat wajah tersebut. Perlahan ia menggeser pandangannya ke arah wajah wanita yang juga sedang tersenyum sambil menggendong balita laki-laki tersebut.

Bagaikan disiram air es, tubuhnya menggigil seketika. Kaki Jisoo lemas tanpa sebab menyebabkan ia jatuh terduduk di pinggir ranjang. Tubuhnya terasa lemas, seperti tidak ada tulang sama sekali yang menyangganya.

Ia kembali memandang foto di handphone yang ada di genggaman tangannya itu. Matanya kembali meneteskan cairan bening itu tanpa sebab. Hatinya semakin sesak menerima informasi yang bertubi-tubi menghantamnya secara bersamaan seperti ini.

Ia tidak mungkin salah mengenali dirinya sendiri karena ia merasa tidak mempunyai kembaran sama sekali. Tapi sekuat apapun ia mengingat, semuanya terasa suram dan gelap. Dengan tangan bergetar, Jisoo membuka aplikasi galeri yang berada di layar home handphone Baekhyun. Biarlah ia disebut lancang karena memasuki privasi orang. Ia tidak peduli.

Tubuhnya semakin menggigil kedinginan saat melihat betapa banyaknya foto yang menampakkan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang begitu mesra. Di mana laki-laki tersebut adalah Baekhyun, dan perempuan itu adalah seseorang yang menyerupainya. Bahkan di foto yang paling atas, ia bisa melihat Baekhyun sedang berlutut dengan bibir yang terlihat mengecup lembut perut si perempuan yang tengah mengandung. Tanpa sadar Jisoo meletakkan tangannya di atas perutnya, dan mengelusnya seakan ia adalah si perempuan tersebut.

Itu hanya salah satu foto yang menampilkan kemesraan mereka, ada banyak lagi foto-foto yang tidak kalah mesra dari itu. Jisoo tersenyum miris saat foto-foto itu berpindah dari satu foto ke foto lainnya. Lalu tangannya berhenti di satu foto yang sangat menarik perhatiannya, di mana ia melihat Baekhyun sedang menggendong seorang balita yang ia lihat di wallpaper.

Wajah keduanya begitu bahagia, dan siapapun tahu, wajah mereka berdua sangat mirip seperti seorang ayah dan anaknya. Hanya satu yang membedakannya, yaitu warna mata balita itu yang terlihat seperti warna mata yang dimilikinya. Air mata semakin mengalir deras dari kedua mata Jisoo. Ya Tuhan, apalagi ini?

Jisoo segera menghapus air matanya dengan kasar. Ia mengirimkan beberapa file foto ke dalam emailnya karena ia tidak bisa langsung mengirimkannya ke handphonenya. Jisoo kembali meletakkan handphone Baekhyun ke tempatnya semula, melupakan tujuan awalnya membuka benda canggih itu. Ia memilih pergi dari tempat itu sesegera mungkin karena ia takut dengan fakta lain yang akan ia dapatkan jika terus membuka handphone Baekhyun lebih jauh lagi.

Kepalanya sungguh sakit saat ia berusaha mengingat kembali ingatannya yang hilang. Jisoo berjalan dengan terpogoh-pogoh saat menuju lobby hotel. Ia langsung menghentikan sebuah taksi yang akan membawanya menuju apartemennya dengan Sehun. Di dalam taksi itu ia kembali menangis tanpa sebab. Mata dan hidungnya bertambah merah karena ia terus saja menangis.

“Anda baik-baik saja, nona?” tanya supir taksi yang merasa bingung dan khawatir dengan keadaan Jisoo saat ini. Jisoo hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, karena sejujurnya tenggorokkannya begitu tercekat saat ini hingga yang keluar hanyalah isakan memilukannya. Setelah itu supir taksi pun tidak bertanya lagi. Ia membiarkan Jisoo menangis sepuasnya, karena memang itulah yang dibutuhkannya saat ini.

“Kita sudah sampai, nona.” Ucap supir taksi menyadarkan Jisoo yang tengah melamun setelah tangisannya berhenti.

Jisoo memandang bingung supir taksi itu, lalu mengedarkan pandangannya keluar jendela. Setelah menyadari ia sudah sampai ditujuannya, ia pun mengeluarkan uang untuk membayar taksi dan keluar dari dalam taksi itu tanpa mengatakan sepatah katapun pada supir taksi tersebut.

Jisoo berjalan sambil menundukkan kepalanya menuju kamar apartemennya. Dibukanya kunci apartemen, lalu menutupnya kembali. Ia menegakkan kepalanya saat melihat keadaan apartemen yang masih sepi pertanda jika Sehun belum bangun. Jisoo langsung bernapas lega saat menyadari keadaan apartemen yang seperti ini.

Jisoo melangkahkan kakinya menuju kamarnya berada. Ia melemparkan tasnya ke arah ranjang, berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar tidak terlalu kelihatan kusut. Ia melirik sekilas ke arah jam dinding. Tidak memungkinkan baginya untuk tidur lagi sehingga ia memutuskan untuk pergi ke dapur. Jisoo menyibukkan dirinya dengan memasak, mencoba mengalihkan pikirannya yang sedang kalut.

Tanpa ia sadari, Sehun sudah berdiri tepat di belakangnya. Tubuh Jisoo berjengit kaget saat merasakan Sehun tiba-tiba memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di pundak Jisoo. Jisoo yang sudah terbiasa diperlakukan seperti ini, membiarkan Sehun begitu saja walaupun sebenarnya ia sedikit risih.

Sehun membenamkan wajahnya ke arah leher Jisoo. Menghirup aroma tubuh Jisoo yang selalu membuatnya candu. Namun saat ini ia merasakan keganjilan dengan aroma tubuh Jisoo. Seperti percampuran antara aroma bunga, maskulin, dan juga seks. Seks?

Sehun sedikit menjauhkan wajahnya tidak yakin dengan pikirannya sendiri. Lalu sesuatu tertangkap matanya membuat tubuh Sehun membeku seketika. Ia bukan seorang pria polos dan bodoh yang tidak tahu apa-apa. Amarah tiba-tiba menguasainya saat ia memperhatikan dengan seksama objek yang tertangkap penglihatannya di sekitaran leher Jisoo yang tidak tertutup sweaternya. Bukan hanya ada satu, tapi itu lebih banyak dari perkiraannya.

Tanpa aba-aba, Sehun langsung membalikkan badan Jisoo hingga menghadapnya. Bibirnya mencium bibir Jisoo dengan kasar. Meluapkan segala amarah dan kekesalannya saat ini. Jisoo yang tidak siap dengan ciuman Sehun terus melakukan pemberontakan berharap Sehun akan berhenti. Tapi semakin Jisoo memberontak, semakin kasar juga Sehun menciumnya. Bahkan ia sempat menggigit bibir Jisoo hingga berdarah karena kesal Jisoo tidak mau membalasnya juga.

“DIAM!!” bentak Sehun saat ia melepaskan ciumannya membuat Jisoo menatapnya nanar, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sehun. Kenapa pula ia diperlakukan sekasar ini oleh Sehun?

Sebelum ia mendapat jawaban, Sehun kembali menciumnya. Ciuman kali ini lebih lembut dari pada ciuman yang pertamanya. Jisoo mencoba mengabaikan rasa perih di bibirnya dengan membalas ciuman Sehun. Ia tidak ingin dibentak tanpa alasan lagi oleh Sehun.

Sehun mengangkat tubuh Jisoo, membuat wanita itu sedikit terkesiap karena perlakuan tiba-tiba Sehun. Ia merangkulkan tangannya pada leher Sehun, sedangkan kakinya membelit pinggang Sehun karena takut terjatuh. Tanpa melepaskan ciuman mereka, Sehun membawa Jisoo ke arah kamar Jisoo berada. Ia menidurkan Jisoo di atas ranjang dengan sedikit kasar.

Setelah Jisoo berbaring di atas ranjang, Sehun mencoba menarik ujung sweater Jisoo agar terlepas dari tubuhnya. Namun tangannya dicekal oleh tangan Jisoo membuat pergerakan tangan itu terhenti seketika. Sehun menatap tajam Jisoo yang sedang berusaha menahan tangisnya. Jisoo menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau melanjutkan kegiatan mereka.

“Kenapa?”

“S-sehun-na…” suara Jisoo tercekat oleh tangisannya sendiri. Ia masih berusaha menahan tangan Sehun yang berusaha melepaskan sweaternya. Ia hanya tidak ingin Sehun melihat semua tanda yang diberikan Baekhyun di tubuhnya walaupun Jisoo tidak menyadari jika Sehun sudah melihatnya di lehernya.

Mendapat penolakan dari Jisoo membuat Sehun menggeram marah. Ia mengepalkan salah satu tangannya yang menyangga tubuhnya. Sehun meninju ranjang di sisi kanan kepala Jisoo sekuat tenaga. Menumpahkan semua emosinya. Kemudian Sehun beranjak dari atas tubuh Jisoo, membanting pintu kamar Jisoo saat ia menutupnya.

Sedangkan di dalam kamar itu, tubuh Jisoo masih membeku di tempatnya. Ia masih sangat syok dengan perlakuan Sehun padanya. Ia tidak menyangka Sehun akan semarah ini. Jisoo tahu ia salah karena telah mengkhianati pria baik tersebut, tapi semuanya sudah terjadi dan Jisoo tidak bisa memutar waktu kembali. Ia hanya tidak ingin menambah luka Sehun karena penolakkannya dan juga melihat tanda di tubuhnya. Pada akhirnya Jisoo kembali menangis. Tubuhnya meringkuk berusaha mencari kenyamanan dan keamanan dengan posisi tersebut.

Suara tangisan Jisoo masih terdengar oleh Sehun yang masih berdiri di depan pintu kamar Jisoo. Ia sangat marah. Ia marah pada Jisoo yang telah mengkhianatinya. Ia juga marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Jisoo untuk tetap setia padanya dan karena telah berbuat kasar pada wanita yang dicintainya itu.

Sehun melangkahkan kakinya menuju kamarnya, berharap hal itu akan bisa membuat Sehun berpikir jernih kembali. Begitu sampai di dalam kamar, suara pesan masuk di handphonenya masuk indera pendengarannya. Sehun membuka pesan singkat itu. Keningnya mengkerut dalam saat melihat siapa pengirim pesan singkat padanya itu.

From : Middyu

Senshine, Aku dengar kau sudah kembali ke Seoul. Bisakah kau luangkan waktumu untuk makan siang denganku? Aku sungguh merindukanmu. Kita sudah tidak bertemu selama dua bulan terakhir ini. Tidakkah kau merindukanku juga? Saranghae ^^

Sehun tersenyum simpul membaca pesan dari Miju padanya. Tunangan yang ia sembunyikan keberadaannya dari Jisoo. Ia berencana akan memutuskan pertunangannya dengan Miju begitu ia sampai di Seoul, hanya saja Sehun belum menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan niatanya itu. Dengan cekatan, Sehun membalas pesan singkat Miju sebelum melangkah menuju ke kamar mandi untuk bersiap berangkat bekerja.

To : Middyu

Baiklah. Kita bertemu saat makan siang. Tempatnya kau yang tentukan sendiri. Sampai bertemu nanti, Middyu.

***

Entah sudah berapa Jisoo meringkuk seperti janin di atas tempat tidurnya. Ia berencana untuk membolos kerja hari ini karena ia merasa tidak sanggup jika harus berpura-pura baik-baik saja di saat ia merasakan sebaliknya.

Dengan langkah gontai Jisoo berjalan ke arah kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya yang sangat lengket, bahkan ia bisa mencium wangi tubuh Baekhyun yang masih tersisa di tubuhnya. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Jisoo berjalan ke arah di mana ia sedang mengisi baterai handphonenya.

Mencabutnya dari pencatu daya, lalu menghidupkannya. Sebuah email langsung masuk saat pertama kali handphonenya kembali hidup. Tanpa perlu melihat isi email itu, Jisoo sudah tahu dari siapa email itu berasal. Ia lebih memilih mengabaikan email tersebut, dan memilih untuk membuka aplikasi lainnya. Ia menuliskan sebuah pesan singkat untuk manajer kafe tempat ia bekerja yang isinya memohon izin untuk tidak masuk bekerja hari ini.

Setelah berhasil mengirim pesan singkat tersebut, Jisoo berjalan ke arah lemari pakaian. Ia memilih sebuah blouse warna merah yang memiliki kerah berdiri untuk menutupi kissmark  yang dibuat Baekhyun karena tidak memungkinkan baginya untuk memakai syal di tengah musim semi seperti sekarang ini.

Blouse tersebut ia padukan dengan sebuah celana jeans warna biru. Jisoo memilih menggerai rambutnya. Ia berjalan keluar kamar setelah ia menyambar tas yang berada di atas meja riasnya. Sejenak Jisoo menghentikan langkahnya, memandang pintu kamar Sehun yang tertutup rapat, lalu berjalan lagi menuju ke arah pintu keluar setelah memakai sepatunya.

Ia membutuhkan udara segar dan ia memilih untuk berjalan-jalan di kawasan lain Myeongdong yang hanya berjarak beberapa blok dari kafe tempat ia bekerja. Jika saat di Jeju ia akan memilih untuk mencari udara segar di pantai, di Seoul ia memilih untuk berjalan-jalan di salah satu kawasan pusat perbelanjaan yang di Seoul itu. Bukan karena ia tidak menemukan kawasan hijau, hanya saja ia ingin berada di keramaian saat ini.

Myeongdong adalah salah satu kawasan di Seoul yang menjadi salah satu distrik pusat perbelanjaan dan wisata utama di kota Seoul. Tempat ini sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara sebagai surga belanja dan pusat fashion yang menjual aneka fashion item dari produk lokal hingga barang-barang bermerk internasional. Tidak hanya sebagai pusat fashion, Myeongdong juga menjadi sentra kosmetik. Harga barang-barang di sana pun bervariasi dari sedang hingga mahal.

Ketika Jisoo sedang fokus melihat jejeran toko yang menjual pakaian, tiba-tiba seseorang menabrak tubuhnya dengan tidak sengaja. Ia membalikkan badannya untuk melihat orang yang telah menabraknya itu. Detik selanjutnya tubuh Jisoo langsung membeku seketika. Ia menatap dengan seksama orang tersebut seperti ia menatap Jisoo dengan seksama pula. Jisoo berasa ia melihat bayangan dirinya saat memakai seragam sekolah menengah atas dulu.

Eonni?” sebuah suara memanggilnya membuat lamunan Jisoo buyar seketika. Jisoo mengedarkan pandangannya seakan ia tidak percaya orang yang berada di depannya itu sedang memanggilnya. Sebuah sentuhan di tangannya berhasil mengalihkan tatapan Jisoo untuk kembali menatap mata yang seperti dirinya itu. Mata yang begitu berbinar saat menatapnya.

“Kau Sena eonni kan?” tanyanya lagi yang tidak dapat menyembunyikan nada antusiasnya. Jisoo semakin menatap bingung gadis yang menabraknya itu. Sebelum ia mengeluarkan jawabannya, tiba-tiba tubuhnya sudah dipelukan dengan sangat erat oleh gadis tersebut yang tak lain adalah Semi. “Oh Tuhan, syukurlah kau masih hidup. Aku sangat merindukanmu, eonni.”

Tanpa sadar tangan Jisoo terulur untuk membalas pelukan hangat itu karena sesungguhnya ia juga merasakan kehangatan saat memeluknya. “Ibu pasti akan sangat bahagia jika ia mengetahui kau masih hidup. Do’anya selama ini terjawab sudah.”

Lalu Semi melepaskan pelukannya, sedikit menjauhkan tubuhnya untuk menatap Jisoo lebih lekat. “Selama dua tahun ini kau kemana saja eonni? Kami sungguh mengkhawatirkanmu, apalagi Baekhyun oppa. Ia bertindak seperti orang gila karena tak kunjung menemukanmu yang tiba-tiba menghilang di saat upacara pernikahan kalian.”

Baekhyun? Mendengar nama pria yang baru saja tidur dengannya membuat rasa penasaran Jisoo semakin tinggi. Kenapa ia merasa semua orang yang bertemu dengannya selalu berakhir dengan menyebutkan nama Baekhyun atau pun Sena. Apakah benar dirinya adalah Sena? Lalu kenapa Sehun menutupi identitas aslinya selama ini? Semua pikiran-pikiran itu membuat kepala Jisoo kembali sakit. Ia meringis untuk menahan rasa sakitnya.

Eonni, kau tidak apa-apa?” tanya gadis yang ada di depannya itu penuh kekhawatiran saat melihatnya meringis sakit.

Jisoo tersenyum simpul untuk menutupi rasa sakitnya berusaha menenangkan gadis tersebut. “Kenapa kau bisa mengenal pria yang bernama Baekhyun itu?”

Sekarang giliran Semi yang menatap bingung Jisoo. “Tentu saja aku mengenalnya. Ia adalah calon kakak iparku, dan selama dua tahun belakangan ini ia juga yang menjaga aku dan ibu. Eonni, ada apa denganmu? Kenapa kau seperti tidak mengenal Baekhyun oppa? Kau baik-baik saja kan?”

Jawaban Semi membuat kepala Jisoo semakin berdenyut sakit, ia tidak sanggup jika harus menahannya lebih lama lagi. Hingga pada akhirnya Jisoo pun memilih berusaha melepaskan genggaman tangan Semi pada tangannya. “Jika aku berkata aku baik-baik saja sekarang ini maka itu artinya aku berbohong.” Jisoo berjalan mundur. “Bukannya aku tidak mempercayaimu, tapi semuanya terlalu mendadak dan kepalaku serasa mau pecah. Aku butuh waktu. Maafkan aku.”

Jisoo berbalik untuk meninggalkan Semi yang masih mematung memandangnya tidak percaya. Sebelum Jisoo melangkah lebih jauh lagi, Semi buru-buru mencekal tangan Jisoo, hingga membuat ia membalikkan badannya lagi. “Setidaknya berikan aku dulu nomor handphone atau alamat tempatmu tinggal saat ini, eonni. Ibu akan sangat senang mengetahui putri sulungnya masih hidup.

“Kenapa kau bisa begitu yakin jika aku adalah kakakmu? Bisa saja aku bukan orang yang kau maksudkan itu.”

“Karena hati dan ikatan batin kita tidak bisa berbohong, kak. Tidakkah kau merasakannya?”

Jisoo dan Semi saling tatap selama beberapa menit. “Baiklah. Aku akan memberikannya.” Putus Jisoo membuat bibir Semi melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman bahagia. Lalu Jisoo menyerahkan secarik kertas yang berisi nomor handphone beserta alamat tempat ia tinggal.

“Terima kasih.”

Jisoo kembali meneruskan langkahnya menjauh dari tempat ia bertemu dengan seorang gadis yang tiba-tiba mengaku sebagai adiknya. Kegilaan macam apa lagi ini? Batin Jisoo. Ia berjalan sambil memikirkan setiap perkataan yang gadis tadi ucapkan padanya. Bodohnya ia karena tadi tidak sempat menanyakan nama gadis itu.

Jisoo yang sedang melamun pun tidak sadar jika ia sedang berjalan menyeberangi jalanan yang lumayan padat. Sebuah klakson mobil terdengar memekakan telinga hingga membuat Jisoo tersadar akan posisinya saat ini. Namun sebelum ia dapat menghindar, sebuah mobil ferrari california T 2015 warna merah menghantamnya dengan begitu keras.

Sekilas bayangan masa lalu mengingatkan Jisoo jika kejadian seperti ini pernah dialaminya. Dulu. Tubuh Jisoo terpelanting beberapa meter dari tempatnya berdiri. Sebelum kegelapan menyelubunginya, air mata Jisoo jatuh dari kedua bola matanya. Walaupun tidak ada yang keluar dari mulutnya, tapi ia bergumam memanggil seseorang seolah-olah itu adalah sebuah do’a yang dulu pernah ia ucapkan juga.

“Baek….Hyun….”

Semua orang yang berada di sana langsung mengerumi tubuh Jisoo yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Pengemudi yang menabrak Jisoo segera keluar dari dalam mobil. Ia langsung decak kesal saat melihat siapa yang baru saja ditabraknya. Sial! Dalam hati ia berharap wanita yang ditabraknya itu tidak usah bangun dari tidurnya lagi, karena itu akan menggagalkan rencananya selama ini. Dasar pengacau!

~ tbc ~

Selama hampir seminggu ini aku tidak menulis apapun. Aku terlalu terbuai dengan novel2 yang aku baca hingga pada suatu hari aku sampai tidak tidur sama sekali karena saking asyiknya baca novel.

Setelah baca novel karya2 orang lain, aku merasa ceritaku tidak ada apa2nya. T_T

Mudah-mudahan dengan kegemaranku itu, aku bisa memberbaiki tulisan dan ceritaku menjadi lebih baik lagi. Terutama di cerita MY LADY.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

Iklan

37 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 36)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 42) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 41) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Side Story-Kai) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] my lady – chapter 40 | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 39) | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37) | EXO FanFiction Indonesia

  9. ey siapa itu yang nabrak sena?
    perasaan di ff ini sena nya ketabrak mobil mulu kan kasian, tapi semoga saja dengan begitu kepala nya kebentur trus ingat lagi sama baekhyun..
    banyak sekali cobaan hidup mereka semoga cepat berakhir dengan kebahagiaan.. next nya jngan lama2

  10. ihh kenapa aku terharu bgt pas sena buka hp baekhyun yaa, apasih kok sehun jdi kasar gitu, trua sena ketabrak?aduh inget lgi kek ama baekhyunnnn aaaaa
    My Lady makin bagus aja yaampunnnn semangat nulis kelanjutannyaaaa

  11. Huhuhu thor akhirnya dipost juga nih ff,, kngen bgt akutuh, betewe aku berharap setelah insiden ditabraknya jisoo a.k.a sena,, ingatannya segera kembali, so aku kasihan ama baekhyun, eh ngomongin baekhyun aku jdi teringat, chapter ini kgak ada partnya baekhyun yakk,, oke next thor hwaiting aduh aku telat baca ehehehe

  12. My lady makin greget bgt deh ,,
    Jisoo aka senaa nasib nya selalu malang , sampe kapan dia bakalan bener” bahagia ??? Makin sedih tapi terharu juga , semoga kecelakaan jisoo bisa mengembalikan ingatan sena .
    Hadeuhhh jangan bilang shannon yang nabrak jisoo ??? Klo sampe bener gak jamin leher nya shannon bakalan selamat dr sehun 😀
    Ditunggu next chapternya yaaa thor …

  13. Kakak ff mu ini udah bagus kok,menurutku kakak hanya perlu membuat crita sesuai imajinasi kakak. Untuk chap 36 ini aq suka soalnya sena udah mulai ingat walaupun masih dikit kekeke. Next chap ya kak;-)

  14. tiap hari ngecek google buat liat update.an ff ini.dan akhirnya di update juga 😂
    Duh jgn²jisoo ditabrak sma shannon😩tidakk
    penasaran thor next chapternya..

  15. Syukurlah diupdate,,, udah ditunggu kak….. itu pasti si shannon deh, ugh tuh anak tengil banget sih -,-
    Chapter ini scene baekhyun cuma satu, itupun cuma bobok ganteng kek boneka barbie hahaha tapi paling enggak de chapter ini aku berharap kalo sena ingatannya balik lagi lah iya gak yeoreobeun??
    Kangen lovey dovey baeksena nih uhuyyyyyyyyy sehun minggat sana khehehe sehun hampir tereliminasi saat ini dr kehidupan sena,,,

  16. syukur deh kalo sena kmbali ingt, thor bnyakin moment baekhyun-sena dong. ak udh nungguin ff ini dari kemaren2 hehehe dn akhir ny ada juga lanjutn ny. penasaran bgt thor sama next part ny, yg cepat ya thor lanjutin ny. my laddy adlh ff yg paling aku suka. fighting autor !!

  17. My Lady karya mu itu keren kok kak, jangan bandingkan sama novel yang memang melalui editing dll dari prof.nya. Dan padahal minggu kemarin aku sudah ancang-ancang buat baca update my lady selanjutnya loh, eh.. baru keluar minggu ini.. Tapi dibikin seneng banget sama kenangan jisoo yang muncul satu persatu mulai dari foto2nya sama jaehyun, Baekhyun, dan pertemuannya sama semi, semoga ingatannya segera pulih dan kembali bahagia sama baekie..

  18. Jahat banget itu orang yang sengaja nabrak jisoo. semoga abis ini ingatan jisoo kembali dan bisa bersatu lagi sama baekhyun.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s