ELEVEN ELEVEN – 13 – by AYUSHAFIRAA

newele1aaaaatex1

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 4 | 0102 0304 | 05 | 0607 | 08 | 0910 | 11 | 12[NOW] 13


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 13 ― Misi Yang Sulit ]

.

.

.

 

Sudah hampir 7 hari Yena tinggal bersama Sehun yang terus menemaninya di hotel. Mulai dari kebutuhan perut, pakaian, hingga waktu, Sehun curahkan semua uang miliknya untuk menghidupi gadis yang sebenarnya bukan siapa-siapanya itu. Sesekali, lelaki itu mungkin meninggalkan Yena sendirian untuk pergi bekerja dan pulang ke rumah orang tuanya, namun setelahnya, ia pasti kembali lagi hanya untuk sang gadis.

Berbeda dengan saat Yena tinggal bersama Baekhyun, bersama Sehun, Yena bisa mengenakan pakaian apapun yang memang lebih layak dikenakan gadis seusianya. Lelaki tinggi satu itu juga membelikan Yena beberapa pasang sepatu berbagai jenis, mulai dari flat shoes hingga high heels, membuat Yena merasa semakin banyak berhutang budi atas kebaikan lelaki itu secara tidak langsung.

Artikel konfirmasi dari agensi tentang Sehun yang sama sekali tak mengencani Yena telah terbit beberapa hari lalu dan berhasil mengundang banyak opini publik. Ada yang tetap mendukung Sehun agar mengencani Yena, ada juga yang kembali menghujat Sehun sebagai artis muda tak bertalenta pencari sensasi belaka. Dengan terbitnya artikel tersebut, Sehun akhirnya bisa sedikit meredam emosi Irene pada sosok Yena yang semula gadis itu kira akan merebut Sehun darinya.

Tapi seperti yang Yena minta, Sehun benar-benar mengurungkan niatnya untuk menikahi Irene. Entah karena bodoh atau ia benar telah jatuh hati pada gadis yang pernah ia tabrak itu, hingga apapun… apapun yang gadis itu minta, Sehun tak memiliki cukup kuasa untuk menolaknya.

Ahjussi! Ahjussi! Lihat ini!” seru Yena sambil memberi isyarat pada Sehun yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan baju handuk untuk segera menghampirinya yang asyik duduk bersila di atas kasur. Sebuah kantong belanjaan yang cukup besar tergeletak tepat di sampingnya.

“Apa?” tanya Sehun dengan raut malas.

“Tada!” Yena memperlihatkan tiga pasang masker bermotif binatang yang sengaja ia beli untuk dikenakan bersama-sama Oh Sehun. Masker lucu itu bisa sedikit menyembunyikan wajah tampan paman berkaki panjangnya sehingga  mereka berdua tak perlu lagi cemas atau khawatir jika ingin menghabiskan waktu bersama di luar.

“Yena membeli ini untuk kita! Couple! You know couple?”

Si lelaki Oh tampak geleng-geleng kepala sembari menertawai aksen Yena yang lucu saat sok-sokan berbicara bahasa inggris.

“Kenapa tertawa? Ahjussi tidak tahu ya?”

“Mana mungkin aku tidak tahu? Aku dan Irene ‘kan couple juga. Orang-orang yang mendukung hubungan kami menyebut kami ‘HunRene couple’,” jelas Sehun yang kemudian menyadari sang lawan bicara menggembungkan pipinya sendiri, menahan kesal.

“Kalau begitu, Yena juga tak mau kalah,” ucap Yena setelah merasa otaknya dihinggapi ide cemerlang. “Yena akan membuat nama couple untuk Yena dan Ahjussi!”

“Terserah kau saja,” balas lelaki itu sebelum akhirnya kembali masuk ke kamar mandi setelah mengambil setelan baju kasualnya dari dalam lemari.

“Sehun-Yena couple… SeNa couple? YeHun couple?”

Yena berguling-guling di atas kasur, bingung sendiri memikirkan nama pasangan apa yang cocok untuk ia dan sang paman berkaki panjang. Jika ia hanya menggabungkan namanya dan nama Oh Sehun, itu sudah terlalu biasa dan tak lagi terdengar istimewa.

“Ah!” gadis itu kembali bangkit bersamaan dengan keluarnya si tampan Sehun dari kamar mandi. “Ahjussi!”

“Hm?”

“Kalau Bbubbu couple bagaimana?”

“‘Bbubbu’? Kenapa harus ‘Bbubbu’?” alis Sehun beradu, keheranan.

Yena tersenyum lebar, tangan kanannya sibuk menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Ya, menurut Yena nama itu terdengar lebih imut saja,” jawab Yena polos.

“Imut seperti Yena,” tambah gadis itu yang seketika mengundang tawa lebar di bibir Oh Sehun.

Sehun mendudukkan dirinya di atas kasur yang sama dengan Yena. Sementara mereka saling berhadapan, Sehun bertopang dagu sambil terus menatap si gadis lekat-lekat untuk beberapa sekon.

“Kenapa kau begitu antusias sekali memikirkan nama couple yang cocok untuk kita berdua? Apa sekarang kau baru saja menyadari perasaanmu untukku, Nona Yena?”

“Kenapa Ahjussi terus-terusan bersikukuh menggoda gadis kecil nan polos seperti Yena?” tanya gadis itu tanpa mau menjawab pertanyaan yang dilontarkan Sehun padanya. “Hati-hati, Ahjussi! Yena ini sudah ada yang punya, lho!”

“Siapa?! Siapa memangnya? Siapa yang berani mendahuluiku memiliki dirimu?”

Yena terkekeh melihat air muka Sehun yang sudah seperti sosok kekasih overprotektif. Ia kemudian menjawab dengan entengnya, “Tentu saja orang tua Yena! Siapa lagi?”

“Sudah ya, pokoknya kita sekarang adalah Bbubbu couple! Titik!” ujar Yena, mengambil kesimpulan akhir.

“Sebelum kencan pertama kita sebagai Bbubbu couple dimulai, kita pakai ini dulu!”

Yena memisahkan masker bermotif Piglet; tokoh bayi babi berwarna merah muda dalam kartun Winnie the Pooh, dari plastiknya dan langsung memasangkan masker lucu tersebut ke wajah tampan Oh Sehun.

“Ah, lucunya!”

Dilihat dari sorot matanya yang berubah datar, Sehun hanya bisa pasrah kala gadis di hadapannya itu mencubit-cubit pipinya gemas. Entah bagaimana jadinya wajah tampannya sekarang setelah ditutupi masker karakter bayi babi yang satu itu. Sungguh untuk kali ini, Sehun tidak mau bertemu cermin.

 

♥♥♥

 

“Maafkan rumahku yang sangat berantakan sekali! Jujur saja aku ini pemalas dan-

“Mulai hari ini, rumahmu tidak boleh berantakan lagi, Baekhyun-ssi.”

“Sekali lagi maafkan aku, Yena-ya. Seharusnya sebagai tamu kau tidak perlu melakukan tugas seperti ini.”

“Aish! Tidak apa-apa kok! Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini sejak kalian meninggal.”

“Hah?”

“Hm, maksudku, sejak kedua orang tuaku meninggal.”

Pukul sepuluh pagi, Baekhyun terbangun dari tidurnya dalam keadaan berantakan. Rambutnya acak-acakan, kepalanya pening dengan bau alkohol yang menyengat dari mulutnya. Sudah berhari-hari sejak ia menyaksikan pelukan erat Yena pada Oh Sehun sore itu, Baekhyun menghabiskan hari-harinya hanya dalam kefrustrasian. Stok soju yang seharusnya cukup untuk sebulan, kini telah habis tak bersisa, menyisakan kaleng-kaleng soju kosong serta kulit kacang yang berserakan di lantai rumahnya. Tanpa kehadiran Yena, rumah besarnya kini kembali terlihat seperti kandang hewan.

TRAK!

Telapak kaki Baekhyun yang hendak turun dari ranjangnya tak sengaja menginjak kaleng bekas sojunya semalam. Kesal dan terlalu tersiksa karena kesendiriannya membuat Baekhyun melampiaskan semua rasa yang mengganjal di hatinya dengan menendang kaleng-kaleng di depan matanya sekuat tenaga.

KLANG! KLANG! KLANG!

“Ahhh…” Baekhyun meremas perutnya yang seketika terasa melilit. Pening di kepalanya terasa kian menjadi hingga akhirnya memaksa Byun Baekhyun untuk mengambil seribu langkah cepat ke toilet untuk menumpahkan isi dalam perutnya.

“Huwek…. Huwek! Ahh… Huwek!”

Lelaki itu ambruk di depan wastafel. Tangannya yang gemetar berusaha keras untuk berpegangan pada dinding wastafel sembari menahan sakit.

“Ahh EommaEomma….” lirih Baekhyun, tersiksa setengah mati.

Sejak tinggal sendirian, Baekhyun tak pernah menjalani gaya hidup sehat. Makanannya sehari-hari tak lain dan tak bukan adalah ramen pedas, dengan beberapa kaleng soju sebagai minumannya. Itulah mengapa tak jarang ia harus menderita sakit sendirian seperti hari ini karena tak ada seorangpun di sisinya.

Keringat dingin terus membanjiri pelipis lelaki Byun seiring dengan wajahnya yang juga kian memucat. Dan tanpa butuh waktu lama, lelaki itu tergeletak tak berdaya, kembali menutup mata, tak sadarkan diri.

 

♥♥♥

 

PRANG!

“Ya ampun, Nona! Nona tidak apa-apa?”

“Yena-ssi! Kau baik-baik saja?!”

Tubuh Yena bergemetar hebat sesaat setelah secangkir kopi pesanan Sehun lolos dan jatuh begitu saja dari genggamannya. Sekon berlalu, Yena berusaha memunguti serpihan beling yang berserakan di lantai kafe namun Sehun dan seorang pelayan bergerak sedikit lebih cepat dalam mencegahnya.

“Sudah, Nona! Tidak apa-apa! Biar kami saja yang membersihkannya!”

“Kau dengar, ‘kan? Sudah, kemarilah,” ucap Sehun yang lantas menuntun Yena untuk menenangkan diri di sofa kafe.

“Ada apa? Kau sakit?” tanya lelaki itu lembut. Telapak tangannya sengaja ia tempelkan di dahi sang gadis.

Si gadis yang sejak tadi mendapat pertanyaan tak kunjung menjawab apapun. Ia masih terdiam membisu dengan wajah gelisah, tak enak hati. Sehun terus berusaha menenangkannya dengan cara mengusap-usap kedua punggung tangannya penuh kelembutan. Namun ternyata, itu saja tak cukup membuat suasana hatinya kembali seperti semula.

“Yena ingin pulang,” pinta Yena, menatap Sehun penuh harap.

Sehun mengangguk, mengiyakan. “Ayo kita kembali ke hotel.”

Sepersekian detik kemudian, Yena menggeleng cepat merespon ucapan Sehun. Hotel tempat ia tinggal beberapa hari ini bukanlah rumahnya, bukan tempatnya untuk pulang setelah pergi.

“Yena ingin pulang ke rumah Appa.”

“Kau yakin Appamu tidak akan menyakitimu lagi jika kau kembali?” dari pertanyaan Sehun, jelas sekali bahwa lelaki itu teramat sangat mengkhawatirkan Yena. Ia masih ingat sekali bagaimana suara Yena yang menangis terisak saat meneleponnya hari itu, masih juga tergambar dengan jelas dalam memorinya sudut bibir Yena yang berdarah seperti bekas menerima kekerasan. Sehun rasa, alasan itu sudah cukup untuk menahan si gadis berlensa cokelat agar tetap tinggal di sisinya.

Appa Yena tidak benar-benar jahat, Ahjussi,” ucap Yena, mencoba meyakinkan Oh Sehun, sekali lagi.

“Baiklah, ayo kita pulang ke rumah Appamu.”

Tanpa kembali ke hotel terlebih dahulu, Sehun langsung tancap gas mengantar Yena pulang ke rumahnya. Sejak dipertemukan lewat kecelakaan hari itu, ini adalah kali pertama Sehun akan mengetahui di mana letak tempat tinggal gadis itu. Hari ini mungkin tak berjalan sesuai dengan ekspektasi seorang Oh Sehun. tapi tak apa, selagi gadis yang saat ini terduduk cemas di jok sebelahnya bisa merasa sedikit lebih baik.

“Apa perasaanmu masih tidak enak, hm?”

Yena mengangguk, lagi, tanpa menjawab sepatah katapun.

“Semoga saja itu bukan pertanda apa-apa, ya?”

Yena tak menyahut lagi. Sementara mobil Sehun terus melaju menjauh dari pusat kota, tak ada percakapan berarti di antara mereka. Sesekali, hanya Sehun yang mencoba mengisi keheningan yang ada tanpa mendapat balasan dari gadis yang seharusnya menjadi lawan bicaranya.

Setelah cukup lama memegang kendali kemudi, akhirnya lelaki bermanik hazel itu menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah rumah besar saat aplikasi peta di ponsel pintarnya mengatakan bahwa mereka telah sampai di alamat tujuan. Kening Sehun sempat berkerut, tak percaya bahwa tempat tinggal Yena ternyata tampak begitu besar dibanding yang ada dalam bayangannya semula.

Tanpa menunggu Sehun membukakan pintu mobil untuknya, Yena berlari keluar mobil dengan tergesa-gesa. Ditekannya tombol bel rumah itu berkali-kali secara tak sabar, namun tampaknya si pemilik rumah sedikit lambat dalam membukakan pintu.

“Tenanglah, Yena-ssi,” ucap Sehun sembari menghampiri Yena yang berdiri di depan pintu rumahnya masih dengan pancaran raut ketidak tenangan.

Lagi, Yena menekan tombol bel, menanti sang ayah muncul dari balik pintu dalam keadaan baik-baik saja.

“Yena?”

Appa!” gadis itu tampak begitu terkejut saat melihat wajah pucat ayahnya. Ayahnya pun terlihat kepayahan menahan bobot tubuhnya sendiri dengan berpegangan ke bingkai pintu sekuat tenaga.

Sehun terdiam di belakang Yena. Keningnya berkerut tak mengerti kenapa gadis itu harus memanggil ‘Ayah’ pada lelaki yang jelas masih begitu muda.

“Apa Appa sakit?”

Sang ayah, Byun Baekhyun, menjawab pertanyaan Yena dengan gelengan lemah.

“Aku hanya… membutuhkanmu.”

BRUK!

APPA!”

Setelah tak kuasa menahan tubuhnya lagi, lelaki itu akhirnya tumbang, dalam pelukan putrinya.

AHJUSSI, AYO KITA BAWA APPA KE RUMAH SAKIT!”

 

♥♥♥

 

Dalam ruangan serba putih itu, Baekhyun terbaring tak sadar di atas ranjang dengan selang infus yang menancap di pergelangan tangan kiri dan selang oksigen yang terhubung ke kedua lubang hidungnya.

Sementara di sisi kanan, Yena masih setia terjaga dengan pandangan mata yang tak pernah lepas dari sosok lemah itu. Ketidak tenangan dalam hatinya kini terbukti sebagai suatu kebenaran. Darah Baekhyun yang mengalir di nadinya memang seakan telah mengikat ia dan Baekhyun sebagai satu kesatuan yang tak akan bisa dipisahkan sampai kapanpun.

Hatinya sakit melihat Baekhyun sakit. Pikirannya begitu kacau melihat sosok lelaki yang biasa tampak kuat seketika berubah menjadi selemah ini.

Sejak awal, misinya terlalu sulit. Kini, misinya semakin bertambah sulit saat perasaan yang seharusnya tak pernah tumbuh sejak awal itu tak bisa lagi ia cegah dengan seluruh daya upayanya.

Bibir Yena bertemu dengan bibir pucat Baekhyun. Gadis itu mencium bibir lembut ayahnya tanpa berniat meminta balasan apapun. Selama bibirnya bersentuhan dengan bibir sang ayah, selama itu pula lah akal dan perasaan Yena tak lagi sejalan.

Kalau Yena adalah milik Baekhyun, kenapa Baekhyun tak bisa menjadi milik Yena?

Sehun memegang erat gagang pintu ruang rawat yang tak sepenuhnya tertutup. Sedari tadi, tanpa Yena sadari, lelaki yang masih mengenakan masker Piglet itu berdiri di sana dan melihat semuanya.

Yena bukanlah siapa-siapa. Berulang kali, Sehun mencoba menanamkan kalimat itu pada pikirannya sendiri. Namun semakin ia mencoba, luka itu perlahan kian menganga. Semua hanya tinggal masalah waktu, hingga Yena benar-benar datang dan menabur garam di atas lukanya.

 

wp-1512900351254.jpg

 Watch my action also on wattpad.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s