ELEVEN ELEVEN – 07 – by AYUSHAFIRAA

BeautyPlus_20180118225630_save

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 4 | 0102 0304 | 05 | 06[NOW] 07


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 07 ― Siapa Dia? ]

.

.

.

 

 

“Aku sudah mencarimu ke mana-mana. Syukurlah, aku bisa menemukanmu dalam keadaan baik-baik saja.”

Ketika detik berganti, Yena hanyut dalam kebisuan. Pemikirannya tentang Baekhyun yang tak akan mungkin mengkhawatirkan dirinya ternyata merupakan suatu kesalahan.

Dilihat dari dada bidangnya yang naik turun, nafasnya yang terengah-engah, juga wajahnya yang berpeluh, Baekhyun… pasti benar-benar berusaha keras untuk mencarinya.

“Dia lelaki yang kemarin hadir di jumpa fans Bae Irene kan?” tanya Sehun yang seketika membuyarkan lamunan Yena tentang sang ayah.

“Ah iya, Ahjussi. Dia Appa-” Yena menggeleng cepat, menganulir ucapannya. “Dia lelaki baik yang mengijinkanku tinggal di rumahnya.”

Baekhyun mengulurkan tangan kanannya pada si lelaki bermasker yang jika dilihat dari postur tubuhnya, lelaki bermasker itu tampak tak asing di mata Baekhyun.

“Namaku Baekhyun, Byun-“

“Tunggu! Tunggu!” Sehun yang sedaritadi mencoba mencerna kata-kata Yena akhirnya tersadar juga. Ia malah semakin tak berniat menjabat tangan Baekhyun setelah mengetahui fakta Yena dan lelaki yang baru saja hendak berkenalan dengannya itu tinggal satu atap. “Kau tinggal di rumah lelaki ini?! Kenapa?!”

Oppa?”

Tiga orang yang masih terlibat percakapan itu kedatangan satu orang lain lagi. Seorang gadis bersurai pirang yang melengkapi penampilan kasualnya dengan topi dan masker berwarna putih seperti yang dipakai Sehun kini berdiri menatap Yena tak suka.

Eomma?”

Mata Baekhyun menyipit. “Bae Irene?”

“Ah, Yena-ssi, aku pergi dulu! terima kasih untuk hari ini!” pamit Sehun yang kemudian menarik gadis bersurai pirang itu untuk ikut pergi bersamanya.

Yena memandang Baekhyun yang terdiam menatap punggung gadis yang berlalu semakin jauh bersama Sehun. Mungkin sama seperti Baekhyun, ia juga yakin bahwa gadis yang pergi bersama paman berkaki panjangnya memanglah satu-satunya wanita yang ayahnya cintai, seorang model papan atas yang tak lain adalah Bae Irene.

“Baekhyun-ssi?”

“Hm?”

Genggaman tangan hangat nan lembut Yena dapat Baekhyun rasakan pada tangan kanannya. Gadis itu seolah tahu apa yang ia rasakan dan berhasil mencegahnya mengepal tangan menahan kesal.

“Lelaki tadi itu siapa?” tanya Baekhyun kemudian.

“Hanya…” Yena mengulum senyumannya. “Seorang paman berkaki panjang yang baik hati.”

♥♥♥

Sehun masih duduk di depan kemudinya. Mobil yang ia kendarai sendiri tanpa sopir pribadi itu telah berhenti di pinggiran Sungai Han yang terlihat sepi. Sepuluh menit berlalu begitu saja dalam hening. Baik Irene maupun Sehun, keduanya masih sama-sama enggan membuka percakapan lebih dulu. Sehun yang marah karena merasa Irene tak pernah ada saat ia membutuhkannya, dan Irene yang juga marah karena tadi ia sempat melihat Sehun tak menolak pelukan erat dari gadis lain.

“Kenapa kau bisa tahu aku ada di sana?” tanya Sehun pada akhirnya.

Irene yang sedaritadi mengarahkan pandangannya ke luar kaca jendela mobil kini tampak menghembuskan nafasnya kasar.

“Saat kau meneleponku, aku sedang melakukan pemotretan. Aku tidak bisa menghubungimu karena nomormu tidak aktif. Aku menelepon rumahmu, dan pembantumu bilang ponselmu sudah hancur berantakan di lantai ruang makan. Tak ada lagi tempat yang akan kau datangi untuk membeli ponsel baru selain di tempat itu bukan?” jelas Irene, panjang lebar, sedang Sehun hanya meresponnya dengan anggukan kepala.

“Siapa gadis yang memelukmu tadi?” kini giliran Irene yang bertanya. “Apa dia gadis aneh yang kau ceritakan itu?”

“Iya.” Jawab Sehun tanpa memikirkan kalau gadis cantik di sampingnya mungkin akan terluka mendengar jawabannya.

Gadis bermarga Bae itu tersenyum miris. Di saat dirinya harus berusaha keras untuk menyembunyikan hubungan yang dijalinnya bersama Sehun, seorang gadis lain justru bisa menghabiskan waktu dengan kekasihnya sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan apapun. Dua tahun yang sudah dilewati Irene bukanlah waktu yang sebentar, apalagi untuk mempertahankan suatu hubungan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tak terekspos oleh satupun media di luar sana.

“Tak bisakah kita sudahi saja sekarang?”

Sehun sontak berpaling, “Maksudmu?”

“Aku lelah.” Ujar Irene dengan tatapan sendu. “Memangnya apa yang salah dari dua orang yang saling mencintai? Kenapa kita harus terus bersembunyi dari pandangan mata orang-orang seakan apa yang kita lakukan adalah suatu dosa besar?”

Mendengar itu, Sehun akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Ya, hanya sedikit. Baru saja ia mengira Irene ingin memutuskan hubungan mereka, tapi untunglah, bukan itu yang gadisnya maksud. Sehun hanya bisa bernafas lega sedikit saja, karena ia akhirnya pun ikut merasakan apa yang gadisnya rasakan. Sehun juga lelah, mungkin sama lelahnya seperti Irene. Tapi, kalau sejak awal semuanya tidak berjalan seperti ini, mungkin ‘kelelahan’ yang mereka rasakan akan jauh lebih parah lagi mengingat memiliki skandal percintaan di tengah karir yang sedang menanjak hanya akan berimbas buruk bagi karir mereka, atau salah satu dari mereka, untuk ke depannya.

“Kalau kau sudah merasa lelah, genggamlah tanganku erat-erat,” ucap Sehun sambil mengulurkan tangan kanannya, menanti tangan lembut sang pujaan hati untuk menghampirinya. Sedetik kemudian, Irene menggengam tangan Sehun seperti yang Sehun harapkan. “dan ingatlah bahwa aku akan selalu di sini, untukmu, apapun yang terjadi.” Sambung lelaki tampan itu, mengundang sebuah lengkungan tipis terbentuk oleh bibir manis yang kemudian menghiasi paras ayu sang gadis tercinta.

“Terima kasih karena telah menemaniku selama ini, Oppa.” Gadis pirang itu akhirnya memilih untuk memeluk Sehun. Dalam dekapan hangat Sehun, di sanalah Irene dapat menemukan sebuah ketenangan yang tak dapat tergantikan oleh apapun. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga, Sayang.”

♥♥♥

Pukul sembilan malam, Baekhyun telah membiarkan Yena lelap tertidur di kamar sang kakak. Langkah besar lelaki itu kemudian berhasil membawa dirinya menghadap ke sebuah rak buku yang ada di ruang utama rumahnya. Pada sudut bagian kiri rak buku tersebut, terdapat sebuah pigura yang membingkai foto kedua orang tua yang teramat sangat lelaki itu rindukan.

“Tadi aku melihat seorang gadis yang mirip Nuna.” Baekhyun mulai bermonolog, seolah foto kedua orang tuanya itu bisa mendengar semua yang ingin ia ceritakan. “Ah, tidak,” lelaki itu menggeleng, “kurasa dia memang Nuna. Sayangnya, Nuna masih belum bisa mengenaliku.”

“Apa lagi yang harus kulakukan agar Nuna bisa mengingatku kembali, Eomma?” tanya Baekhyun, meskipun ia sendiri tahu pertanyaan tersebut tak berguna sama sekali. Baekhyun menggeser pigura foto kedua orang tuanya dan langsung menekan sebuah tombol yang sebelumnya tersembunyi di balik pigura itu. Tombol kotak berwarna hitam itu memang biasa Baekhyun gunakan untuk membuka pintu ruangan rahasianya.

Di antara sekian banyak ruangan di rumah besarnya, Baekhyun menggunakan sebuah ruangan khusus yang diterangi oleh cahaya lampu merah remang-remang untuknya berdiam diri ketika benar-benar merindukan sosok sang kakak tercinta. Di setiap inchi dinding ruang rahasia tersebut hanya dipenuhi oleh ribuan foto gadis yang digilainya. Ya, siapa lagi kalau bukan Bae Irene yang tak lain adalah kakaknya sendiri, Byun Joohyun?

cats1

Nuna… Oh Sehun kah lelaki yang tadi menarikmu agar menjauh dariku?”

Baekhyun menyalakan laptop yang ada di ruangan itu, memutar beberapa video wawancara Bae Irene yang ia koleksi di laptopnya.

‘Hai semuanya! Saya Bae Irene-

‘Hai, namaku Bae Irene-’

‘Selamat malam, Model Bae Irene di sini-

Setiap Irene memperkenalkan diri, Baekhyun menghentikan putaran videonya dan memutar video lain. Namun lagi-lagi, ia harus menemukan dirinya kecewa untuk ke sekian kali. Si model cantik yang Baekhyun harapkan akan memperkenalkan diri sebagai Byun Joohyun, nyatanya memang tidak pernah terjadi.

♥♥♥

Harum masakan bersemerbak menusuk indera penciuman Baekhyun yang sensitif. Entah saat ini pukul berapa, yang jelas Baekhyun tertidur semalaman di atas keyboard laptopnya masih di ruangan penuh foto Bae Irene.

Lelaki itu bangkit dari posisinya sambil meregangkan otot-otot tubuhnya. Aroma masakan yang begitu harum itu seakan memaksanya untuk keluar dari ruangan tertutup itu dan melanjutkan langkah ke arah dapur.

“Yena?”

Gadis yang dipanggil Baekhyun itu berpaling sesaat sebelum akhirnya kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada panci kecil yang terlihat sudah sangat beruap di atas kompor listrik.

“Selamat pagi, Baekhyun-ssi.” Sapa Yena penuh senyuman setelah mengangkat panci panas berisi ramen pedas yang sudah matang dan menaruhnya di atas meja makan. “Karena kemarin kita tidak jadi membeli barang belanjaan sama sekali, yang ada hanyalah ramen pedas persediaanmu. Maaf, aku memasaknya tanpa seizinmu.” jelas gadis itu kemudian.

“Tidak apa-apa, semua yang ada di rumah ini milikmu juga sejak aku mengizinkanmu tinggal bersamaku hari itu.” ujar Baekhyun, tak keberatan.

“Kalau begitu, kemarilah, Baekhyun-ssi! Kau harus mencobanya!”

Yena menarik Baekhyun untuk duduk manis di sampingnya. Namun saat ia melihat di pipi sang ayah masih tersisa bekas iler yang mengering, ia berusaha menahan tawanya sekuat tenaga. Seumur hidup, ini adalah kali pertama Yena bisa benar-benar melihat wajah polos sang ayah yang baru terbangun dari tidur.

“Tunggu sebentar!” Yena mengambil sehelai tisu di atas meja makan dan membasahinya dengan sedikit air dari keran.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Baekhyun, bingung.

Yena kembali duduk di samping Baekhyun, gadis itu lalu menyentuh wajah dan membersihkan pipi Baekhyun dengan beberapa kali usapan tisu basah yang lembut.

Baekhyun terdiam, lebih tepatnya tak bereaksi apa-apa selain menatap wajah Yena lekat-lekat. Usapan tisu itu terhenti saat Yena menyadari tatapan Baekhyun yang kini tak lagi biasa di matanya.

Uap dari panci ramen perlahan tak mengebul lagi. Beberapa menit berlalu tanpa sepatah kata keluar dari mulut Yena maupun Baekhyun. Suasana berubah menjadi aneh tepat saat keduanya sama-sama tersadar setelah saling menatap satu sama lain.

“Ta-tadi di pipimu-“

“Ah,” Baekhyun mengangguk, mengerti. “Ayo kita makan, ramennya sudah hampir dingin.”

Ting!

Ponsel baru Yena menyala, menandakan sebuah pesan baru saja masuk ke nomornya.

Ahjussi Tampan ― 17-06-2015, 08:12 AM

Hei, gadis aneh! Kalau kau sempat, tontonlah acaraku 20 menit lagi di televisi. Ajak juga ayahmu untuk menonton acaraku ya! karena bintang tamu hari ini adalah Bae Irene, model yang disukai ayahmu^^’

“Siapa?” saking penasarannya, Baekhyun sampai curi-curi pandang ke layar ponsel yang saat ini telah digenggam si empunya.

“Makan ramennya di depan televisi saja, yuk?” ajak Yena pada Baekhyun dengan raut cerah penuh harap.

“Kenapa memangnya?”

Yena mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun dan memberi tatapan penuh selidik, “Masa kau tidak tahu? Bae Irene ada jadwal mengisi sebuah acara langsung yang tayang di televisi pagi ini!”

Baekhyun tertawa, menyadari Yena mungkin baru saja meremehkan kemampuannya sebagai penggemar Irene garis keras, “Mana mungkin aku tidak tahu itu?”

Yena dan Baekhyun akhirnya mengungsi ke ruang utama dengan membawa serta panci ramen yang sejatinya sudah tak sedap lagi untuk dimakan. Setelah keduanya duduk bersama di sebuah sofa dan menghadap ke televisi berukuran 48 inchi, mereka disuguhi oleh beberapa iklan terlebih dahulu sebelum akhirnya acara yang mereka tunggu-tunggu sedari tadi dimulai juga tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 08.30 pagi.

“Huh? Apa-apaan ini? Kenapa harus Oh Sehun?” Baekhyun bertanya-tanya sendiri, keheranan. Kenapa di antara sekian banyak pembawa acara di Korea, harus Oh Sehun yang dipilih saat Irene yang menjadi bintang tamu?

“Kenapa? Kau tidak menyukainya?” tanya Yena yang melihat Baekhyun tak tampak menikmati acara yang baru dimulai tersebut.

Baekhyun mengangguk mantap. Sebagai seorang penggemar Bae Irene, ia tidak akan pernah menyukai siapapun lelaki yang berani mendekati gadisnya.

“Kenapa?” kata tanya yang sama lagi-lagi digunakan Yena untuk bertanya alasan apa yang membuat Baekhyun bisa tidak menyukai paman berkaki panjangnya itu.

“Lelaki yang menjadi pembawa acara itu pernah melakukan project pemotretan bersama Irene. Awalnya ia bukanlah artis terkenal, tapi setelah pemotretan itu, popularitasnya naik. Ya, hanya popularitasnya saja, kualitasnya nol.” Tuturnya yang sepertinya sedang menahan emosi dalam dada.

“Masa sih?” tanya Yena, lagi. Kini, perasaannya pun turut terluka. “Kita kan tidak boleh asal membenci atau menghakimi orang. Siapa yang tahu kalau sebenarnya dia mungkin sudah berusaha sangat keras untuk sampai di titik ini?”

Pernah menderita beban mental karena memiliki begitu banyak pembenci membuat Yena seolah bisa merasakan bagaimana rasanya jika berada di posisi Sehun saat ini. Seseorang yang mungkin tidak tahu apa-apa tentang perjuangannya kemudian dengan mudah menyimpulkan bahwa kemampuan yang dimilikinya tak berkualitas sama sekali, oh ayolah, kenapa orang seperti itu harus ada di muka bumi ini?

“Kenapa? Kau mau membelanya di depanku? Kau menyukainya?”

Yena menggeleng lemah, bulir air matanya jatuh tak lagi tertahankan. “Maafkan aku, Baekhyun-ssi. Aku hanya tidak bisa menerima perkataanmu tadi.”

Baekhyun menghela nafas, tangannya kemudian mengelus lembut punggung Yena untuk memberinya sedikit ketenangan. “Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan menjelek-jelekan lelaki itu lagi di hadapanmu.”

“Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Oh Sehun, Yena-ya? Kenapa kemarin, kau bisa ada di toko itu bersamanya, dan bahkan… memeluknya? Tak hanya itu, saat kita bertemu untuk pertama kalinya di acara jumpa fans Irene, dia juga ada bersamamu. Apa lelaki itu sebegitu spesialnya untukmu sampai kau tak terima kalau aku membencinya?”

Pertanyaan bertubi-tubi yang terlontar dari mulut Baekhyun itu seketika mampu membuat Yena terdiam seribu bahasa. Bukan karena tak mampu menjawab, melainkan karena nada bicara sang ayah yang seperti merasa sedih mengetahui ia dekat dengan lelaki lain, terlebih lelaki itu adalah Oh Sehun.

Baekhyun, tak mungkin sedang mencemburuinya kan?

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

Iklan

8 respons untuk ‘ELEVEN ELEVEN – 07 – by AYUSHAFIRAA

  1. thor sorry baru baca dan baru komen ffnya author,,,btw thor ceritanya keren banget dibuat bimbang pengennyasih nanti yena sama baekhyun tapi mereka kan memiliki hubungan ayah dan anak…terus kalo mislnya yena berhasil ngerubah masa lalu apakah masa depannya nanti akan berubah ya??? hehe semangat nulisnya ya thor, aku izin lanjut baca

  2. apakah baekhyun menyukai yena. ksian yenany yg prnh dibenci sma smua org.
    apakah yenany bsa kmbli kmasa dpn dan smuany brubh.
    duh pnsrn sma chapter selanjutny.
    smgt kk. nulis critany
    gomawo

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s