GAME OVER – Bonus Stage III [Royal Thrope] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

starring Royal Thrope x Red Hair Witch

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Bonus Stage I: Tacenda CornerBonus Stage II: Eden’s Nirvana — [PLAYING] Bonus Stage III: Royal Thrope

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Bonus Stage [3] — Royal Thrope

“Wah, wah! Lihat siapa yang sudah menantangku.”

Bukan Royal Thrope namanya jika dia jadi seorang yang ragu-ragu terhadap keputusan yang telah diambilnya. Dan jangan panggil dia Seo Johnny—programmer utama WorldWare—kalau dia tidak bisa mendeteksi keanehan yang terjadi pada anak kesayangannya itu.

Buktinya, sekarang Johnny—yang dalam server dikenal dengan sebutan Royal Thrope—sudah berdiri tegap di tengah sebuah stage langka yang seharusnya tidak menjadi langka, Tacenda.

“Mengapa tidak kunjung memulainya, Royal Thrope?” si villain cantik berambut merah berkata, dimainkannya dedaunan yang melilit di lengannya sembari maniknya mengawasi pergerakan Johnny yang memilih bergeming tanpa menginjak start.

Baca lebih lanjut

Iklan

GAME OVER – Lv. 21 [Eden’s Nirvana] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11Level 15 — Level 16 — Level 20 — [PLAYING] Level 21

Your fake gestures

Ridiculing us when we’re in pain

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 21 — Eden’s Nirvana

In Jiho’s Eyes…

Aku mungkin sudah jadi orang paling tolol sedunia, karena memercayai tiap kata yang terucap dari bibir seorang Invisible Black. Nyatanya, semua kata itu adalah kebohongan. Sebab, eksistensinya pun merupakan sebuah kebohongan.

Tapi, mengapa aku seolah ingin memaksa logikaku untuk menerima saja dia apa adanya? Padahal, perasaan yang terlanjur melingkupi batinku sudah kelewat tidak masuk akal. Jatuh cinta pada sebuah karakter game yang tidak pernah ada, tidak pernah hidup dan tak akan bisa hidup.

Bisa bayangkan bagaimana mengerikannya perasaanku ini? Bayangkan saja jika kau harus mencintai seseorang yang tampak sempurna namun kesempurnaan itu hanya berupa sebuah media tiga dimensi.

Baekhyun, adalah seorang NPC.

Baca lebih lanjut

EXCEPTION – 6th — IRISH’s Tale

EXCEPTION

|   starring by EXO`s Chanyeol; Sehun; Baekhyun with OC`s Sarang   |

supported by Hello Venus & Lovelyz Members  |

|  AU x Fantasy x Melodrama x Romance  |  Chapterred  |  PG-17  |

—  exception:time passes—love changes

[ 2nd Story of Evening Sky © 2016 ]

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

dedicated for un-real-like fantasy

Previous Story: PrologueChapter 1 — Chapter 2 — Chapter 3Chapter 4Chapter 5

♫ ♪ ♫ ♪

In Sarang’s Eyes…

Aku berlari keluar penjara, mengabaikan tatapan aneh beberapa orang disana. Dan… Jongin ada disana. Ia menatapku… kecewa. Tapi aku tidak peduli. Aku melangkah terus ke kamarku—tidak, ini bukan kamarku.

Aku sadar. Aku tidak seharusnya ada di sini. Harusnya sejak awal aku sadar, aku salah berpihak pada bangsaku.

Tunggu saja Sarang, hanya beberapa hari lagi sampai semua penderitaan ini berakhir. Aku terhenti karena rasa sakit di lenganku. Aku butuh obat.

“Tidak akan ada obat untuk pengkhianat.” dokter Soojung berdesis di dekatku.

BRAK!
Baca lebih lanjut

GIDARYEO – 10th Page — IRISH’s Tale

GIDARYEO

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Park Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  Crime  — Family — Fantasy — Melodrama — Supranatural — Suspense  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 4 | 1st Page5th Page | 6th Page7th Page8th Page9th Page

♫ ♪ ♫ ♪

In Injung’s Eyes…

“Kenapa kau meninggalkan Kai dan Anna?”

Aku bertanya pada Sehun saat Ia masih terkekeh karena Kai menutup teleponnya secara tiba-tiba. Aku sangat mempertanyakan sikap anehnya. Ia tidak seharusnya meninggalkan Anna sendirian dirumah, apa itu sebabnya ia memanggil Kai? Atau karena ia memang mengetahui sesuatu? Seperti… mendengar pikiran Anna yang mengatakan bahwa ia tertarik pada Kai misalnya.

“Tentu saja karena mereka saling menyukai.” ucap Sehun enteng membuatku terkejut.

“Benarkah? Apa kau mendengar pikiran Anna?”

Sehun menyernyit, dan menggeleng pelan.

“Tidak, aku tidak mendengar pikirannya.” Baca lebih lanjut

GAME OVER – Lv. 20 [Black Radiant] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11Level 15 — Level 16Level 17 — Level 18Level 19 — [PLAYING] Level 20

Listen carefully now, I’ll reveal it all

The evil that’s hiding under a mask of good

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 20 — Black Radiant

In Jiho’s Eyes…

“Aku sudah mematahkan sayapku, dengan membiarkan mereka mengalahkanku dan mengetahui identitasmu. Jadi, aku mungkin tidak lagi jadi ancaman bagi mereka. Dan yang ada, mereka justru akan menggunakanmu sebagai ancaman terhadapku.

“Tapi, karena kau masih berdiri di sisiku seperti ini, tanpa sayap membanggakan itu pun aku tidak lagi akan merasa ragu-ragu, Jiho. Jadi, siapa yang kali ini harus kuhabisi?”

Baekhyun kembali, kurasa. Kudengar kepercayaan diri membuncah khas miliknya. Sementara sekarang dia menatapku dengan kilatan dalam sepasang manik kelamnya.

“Kau sudah kembali, Baekhyun.” tuturku tanpa sadar.

“Apa maksudmu dengan ‘aku kembali’?” tanyanya kujawab dengan gelengan pelan. “Kupikir kau sempat kehilangan kepercayaan dirimu, tapi mendengar kau bisa bicara dengan begitu percaya diri seperti saat ini, kurasa dugaanku sepenuhnya salah.”

Senyuman kecil muncul di wajah Baekhyun tanpa sadar. Dia lantas mengalihkan pandang sejenak, membuatku tanpa sadar lagi-lagi memperhatikan paras kelewat sempurna miliknya yang pasti telah dipahat Tuhan dengan amat hati-hati.

Bagaimana bisa seorang manusia diciptakan begitu rupawan sepertinya? Baca lebih lanjut

[LAY BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GANGNAMGU (2) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PARTNER in Gangnam-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Lay & Suho

Supported by EXO`s Baekhyun, Chanyeol, Chen; OC`s Arin, Minrin

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Lay and Suho of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Gangnam-gu [Chen]

*be awarned, ada sedikit adegan tidak nyaman dalam bacaan di bawah ini, lyke i said, membacanya saat makan akan ngebuat mood makan menghilang, adegan ini juga tidak baik untuk pembaca yang sedang hamil/ngidam, pasti bikin mual. Danke ~

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baca lebih lanjut

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GANGNAMGU — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PARTNER in Gangnam-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Chen

Supported by EXO`s Baekhyun, OC`s Do Ahrin

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chen of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Seodae-mun [Baekhyun]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baca lebih lanjut

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN (3) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PRISONER in Seodaemun (3)  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Chen

Supported by EXO`s Sehun, Baekhyun, EXO`s Ex Tao, OC`s Do Ahrin & Kim Hyerim

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chen of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Seodae-mun [Baekhyun]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baca lebih lanjut

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN (2) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PRISONER in Seodaemun (2)  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Chen

Supported by EXO`s Sehun, Baekhyun, Chanyeol; EXO`s ex Luhan, Tao

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chen of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Seodae-mun [Baekhyun]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baca lebih lanjut

GAME OVER – Lv. 19 [White House] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11Level 15 — Level 16Level 17 — Level 18 — [PLAYING] Level 19

You won’t be able to use your wings that you broke yourself

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 19 — White House

In Jiho’s Eyes…

“Kau ingin mati, rupanya…”

Suara ini…

Aku segera membuka mata, dan jantungku hampir saja lupa caranya untuk berdetak saat aku mendapati wajah yang kukenal sekarang tengah menindih tubuhku, menghimpit pernafasanku dengan melintangkan sebuah sword di leherku.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Dia masih sama sempurnanya seperti terakhir kali kami bertemu. Tapi aku yakin benar namanya tak ada dalam daftar player yang ikut terlibat dalam demo version ini.

Apa dia melakukan kecurangan? Apa dia memanipulasi list itu dengan kemampuan cybernya seperti ucapan Taehyung kemarin? Apa dia memasukkan dirinya dengan ilegal? Bagaimana mungkin dia bisa ada di sini?

“B-Baekhyun… Bagaimana kau bisa ada di sini?”

Rupanya, vokalku tak cukup lantang untuk membuatnya mengenaliku. Diam-diam aku sadari, aku tidak melihat ID Baekhyun—biasanya, di bagian atas tubuh seorang player akan terlihat layar transparan kecil berisikan ID, DPS, dan level seorang player, tapi tidak kutemukan itu pada Baekhyun sekarang.

Yang ada, dia justru makin menatapku dengan kebencian yang sarat dalam sorot pandangannya. Ada apa dengan Baekhyun? Apa seseorang telah menyerangnya sebelum aku datang?

Belum lepas diriku dari rasa terkejut yang ada, Baekhyun sudah menarik tubuhku untuk berdiri dengan paksa, lantas ia todongkan pedang itu di depan leherku, lagi.

“Kau sungguh ingin mati?” pertanyaan itu Baekhyun ucapkan, membuatku menatapnya tidak mengerti.

Apa dia tidak mengenaliku—oh, penutup wajah sialan ini pasti jadi sumber masalahnya.

Hey, jangan emosi dulu. Apa kau tidak—”

SRAT!

Aku terkejut bukan kepalang saat Baekhyun dengan mudahnya menggerakkan pedangnya melewati wajahku begitu aku bersuara. Sadar bahwa aku tak bisa menghadapi Baekhyun dengan ucapan, aku akhirnya bergerak menarik penutup wajah yang—ugh.

Baekhyun rupanya memang tidak sedang bisa diajak kompromi. Baca lebih lanjut

Caramelo pt. 12

caramelo

Caramelo

CAST: Do Kyungsoo, Kwon Chaerin, Oh Sehun | SUPPORTED: Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kang Seulgi and others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you!

wattpad: @Shuu_07 //  wp: Shuutory

Teaser: Pt. 1 Pt. 2

Part: 1 2 3 4 5 6 8 9 10 11 12

Shuu’s Present this story

Baca lebih lanjut

GIDARYEO – 9th Page — IRISH’s Tale

GIDARYEO

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Park Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  Crime  — Family — Fantasy — Melodrama — Supranatural — Suspense  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 4 | 1st Page5th Page | 6th Page7th Page8th Page

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

Aku melangkah pelan memasuki halaman rumah yang secara resmi kutempati hari ini. Bersama tiga orang yang tidak aku kenal tapi saling mengenal satu sama lain. Aku tidak seharusnya ada di sini, dan rasanya aneh jika harus memaksakan diri berada dengan orang-orang yang tidak aku kenal.

Apa sebenarnya yang ada dalam pemikiran mereka?

Langkahku terhenti di depan pintu saat mendengar teriakan Injung dari dalam rumah. Aku tidak begitu tertarik untuk tahu kenapa ia berteriak seperti itu, kurasa mereka sudah terbiasa melakukan hal semacam itu bukan?

Banyak hal yang tidak kuketahui.

Dan tidak perlu aku cari tahu karena bukan urusanku.

CKLEK.

Aku melangkah masuk setelah beberapa detik tidak mendengar teriakan apapun lagi dari dalam rumah. Aku tersenyum pada Injung yang memandang ke arahku. Aku tidak yakin dengan siapa Ia tadi berteriak mengingat bahwa aku hanya melihat Injung sendirian.

“Bagaimana jalan-jalanmu?” kudengar Injung bertanya begitu tatapanya bersibobrok denganku.

Nde? Menyenangkan. Aku membawakanmu roti. Apa mereka… makan seperti kita?” tanyaku hati-hati, mengingat bahwa dua orang yang dikenal Injung ini bukan manusia, khawatir juga aku kalau mereka tersinggung karena ucapanku.

Injung menggeleng.

“Tidak. Mereka tidak makan seperti kita.” jawab Injung sambil melangkah mendekatiku, ditatapnya aku seolah aku sudah menyimpan begitu banyak tanya tentang—

“Kau pasti banyak bertanya-tanya soal keadaan di sini?”

—benar, bukan? Baca lebih lanjut

EXCEPTION – 5th — IRISH’s Tale

EXCEPTION

|   starring by EXO`s Chanyeol; Sehun; Baekhyun with OC`s Sarang   |

supported by Hello Venus & Lovelyz Members  |

|  AU x Fantasy x Melodrama x Romance  |  Chapterred  |  PG-17  |

—  exception:time passes—love changes

[ 2nd Story of Evening Sky © 2016 ]

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

dedicated for un-real-like fantasy

Previous Story: PrologueChapter 1 — Chapter 2 — Chapter 3Chapter 4

♫ ♪ ♫ ♪

In Sarang’s Eyes…

“Jadi… selama ini hubungan kita hanya karena kau diperintah oleh Chanyeol, begitu maksudmu, Baekhyun?”

“Ya, maaf. Aku tidak seharusnya memberitahu, atau membohongimu. Tapi kau terlalu baik, sampai aku tidak tega untuk membiarkanmu terus tenggelam dalam ketidak tahuan. Maafkan aku. Sudah kukatakan aku bukan vampire yang baik.”

Aku seharusnya marah, karena selama ini Chanyeol tahu tentang keberadaanku dan bahkan meminta seseorang untuk mengawasiku tapi dia tidak juga muncul. Aku seharusnya sedikit merasa bahagia karena dia setidaknya masih peduli padaku.

Tapi mengapa… aku justru merasa begitu sakit?

Mengapa aku merasa puluhan kali lebih kecewa karena kepalsuan yang Baekhyun sudah pamerkan padaku saat ia bersikap baik?

“Kau membuatku kecewa, Baekhyun.” tanpa sadar bibirku dengan lancang berucap.

“Apa?” Baekhyun menatapku, tampaknya dia tidak yakin jika aku baru saja mengatakan kalimat yang justru terkesan tidak menyudutkannya.

“Selama ini, aku selalu percaya pada vampire. Kupikir, jika aku tidak membohongi mereka, maka mereka juga akan melakukan hal yang sama padaku. Tapi sekarang kau membuatku kehilangan kepercayaan itu, Baekhyun.”

Apa selama ini semua vampire itu juga mendekatiku hanya karena mereka menginginkan bantuan dariku? Bantuan yang pada akhirnya membuat aku menjadi seorang pembelot dari bangsaku sendiri?

Tapi tidak, mereka tidak mungkin begitu. Mereka bukan manusia yang punya keegoisan sangat besar dan keinginan untuk berkuasa. Para vampire ini hanya ingin hidup berdampingan dengan manusia, bukannya menjadi musuh bagi manusia, apalagi menginginkan lenyapnya semua manusia dari muka bumi ini.

Aku yakin, Baekhyun pasti juga punya alasan.

“Aku akan mengantarmu kembali, Sarang.” Baekhyun berkata begitu tidak lagi didengarnya aku berucap.

Melihat bagaimana sekarang Baekhyun bicara dengan sangat santai padaku seolah beberapa saat yang lalu dia tidak mengatakan hal mengerikan yang menghilangkan kepercayaanku padanya, aku sungguh yakin kalau Baekhyun mengatakan semua kebenaran itu padaku untuk satu tujuan yang baik.

“Baiklah,” aku menyahuti ucapannya, kubiarkan dia memimpin langkah, sementara aku mengikuti di belakangnya, memperhatikan bagaimana Baekhyun sekarang bisa bersikap begitu tenang, keberanianku untuk memercayainya entah mengapa kembali muncul.

“Mengapa baru sekarang mengatakannya padaku?” aku akhirnya buka suara.

Baekhyun berbalik sebentar, sebelum dia kembali memalingkan wajah dan menghela nafas panjang.

“Kau terlalu baik, Sarang. Berlama-lama membohongimu hanya akan membuatku merasa terbebani. Lagipula, membiarkanmu terus menjadi seorang yang tidak tahu apa-apa pada akhirnya akan membuatmu terluka.” tutur Baekhyun.

“Lalu bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia baik-baik saja?”

Ah, sekarang mengingat kembali tentang Chanyeol membuatku teringata pada kenangan luar biasa yang pernah vampire itu tinggalkan dalam ingatanku. Cinta yang kurasakan padanya terlampau buta, sehingga saat dia hilang pun rasa itu juga perlahan menghilang.

Memang, masih ada perasaan yang tersisa dalam hatiku saat ini. Bahkan saat Baekhyun mengucap nama Chanyeol saja jantung ini masih berdegup tidak karuan karenanya. Tapi hanya sampai di situ saja, perasaan ini sudah enggan berlari lebih jauh lagi pada fantasi tentang kebersamaanku dengan Chanyeol.

“Dia baik-baik saja. Kudengar, dua pekan lalu dia menandai seorang vampire wanita.” Baekhyun menyahuti, tampak berhati-hati saat mengucapkannya padaku.

Apa seperti ini perasaan yang Jongin sekarang rasakan padaku? Kehampaan karena rasa putus asa dan sakit yang terlampau mencubit? Mengapa hatiku sama sekali tidak merasa sakit saat mengetahui Chanyeol yang sudah memiliki pasangan lain?

“Syukurlah, aku pikir sesuatu yang buruk mungkin terjadi padanya.” ucapku pelan.

Kuakui, hatiku sekarang terasa sangat hampa. Kebersamaan dengan Jongin selama bertahun-tahun yang kuanggap sebagai sebuah cinta, juga perasaan membabi-buta yang aku rasakan saat menyadari bahwa Chanyeol adalah seorang vampire sempurna yang menandaiku, sekarang rupanya telah berubah menjadi perasaan hampa yang menyiksa.

Aku tidak ingin bersama dengan siapapun, tidak juga ingin begitu saja mengatakan pada semua orang tentang siapa yang sekarang kucintai. Seperti yang sudah kukatakan tadi, hatiku sekarang sudah hampa.

“Kau masih mengingatnya dengan baik, rupanya.” kudengar Baekhyun berkata.

“Tidak banyak yang bisa kuingat selagi berada di sini, jadi ingatan-ingatan tentang masa lalu juga tidak mudah aku lupakan, Baekhyun. Tapi aku masih tidak mengerti, mengapa dia menugaskanmu untuk mengawasiku saat dia bahkan sudah punya seorang pasangan?” tanyaku kemudian.

Mengetahui fakta bahwa Baekhyun adalah seorang yang diperintahkan oleh Chanyeol untuk mengawasiku merupakan sebuah bukti bahwa Chanyeol masih peduli padaku, setidaknya dia peduli pada kehidupanku.

Tapi apa tujuannya?

“Dia sudah memerintahku untuk berhenti mengawasimu, Sarang.” lagi-lagi Baekhyun mengucapkan hal yang mengejutkan.

“Sudah lebih dari satu bulan yang lalu, dia memintaku untuk berhenti mengawasimu. Sebab dia sudah putuskan bahwa dia tidak lagi akan mencintaimu, atau menyimpan rasa untukmu.

“Tapi aku sendiri yang ingin ada di sini. Karena aku tahu kau kesepian, dan kau pasti butuh seorang teman untuk bertukar cerita. Itulah sebabnya aku masih ada di sini, itu juga alasanku memberitahumu soal apa yang sebenarnya terjadi.”

Aku terdiam, penjelasan Baekhyun terdengar begitu masuk akal tapi di saat yang bersamaan juga terdengar begitu tidak masuk akal dalam pendengaranku. Untuk apa? Apa untungnya bagi Chanyeol jika dia mengawasiku? Toh, dia tidak akan bersama denganku lagi.

“Kau tahu aku tidak benar-benar kesepian, Baekhyun. Ada vampire lain di dalam sana yang juga menjadi teman bicaraku.” aku berucap, sekarang entah mengapa tujuan Baekhyun ada di sinilah yang menjadi pertanyaan untukku.

Mengapa dia berkeras untuk tetap ada di tempat asing yang membahayakannya?

“Kau sedang ada di situasi yang membahayakanmu, Sarang. Bagaimana aku bisa berdiam dan membiarkanmu melakukan semua tindakan ini sendirian sementara kau tidak punya seorang pun untuk menolongmu?”

Lagi-lagi, Baekhyun mengucapkan kalimat yang terdengar tak masuk akal, tapi jika kunalar kembali, alasannya memang benar adanya.

“Aku tetap tidak mengerti, mengapa repot-repot mengkhawatirkan keadaanku? Tanpa diperintah oleh Chanyeol, kita mungkin saja tidak akan saling mengenal, bukan? Untuk apa kau peduli, Baekhyun? Mereka juga tidak mungkin membunuhku, karena aku adalah bangsa mereka.”

Kami sudah sampai di depan pintu masuk rahasiaku, tapi aku justru enggan untuk bergerak masuk meskipun aku punya kekhawatiran tentang mereka yang mungkin mencariku di dalam sana.

“Karena kau adalah satu-satunya orang yang peduli pada bangsaku di dalam sana, sedangkan aku hanya bisa menunggu di luar sini, tanpa bisa memberi bantuan apapun pada mereka.”

Aku menatap Baekhyun saat mendengarnya bicara seperti itu. Kemudian, aku keluarkan kunci berwarna keemasan yang selama ini jadi satu-satunya cara aku bisa keluar dari gedung tempat aku tinggal sementara waktu ini.

“Kalau begitu aku akan beri kau kesempatan untuk menyelamatkan mereka. Sehingga kau tidak lagi perlu mengkhawatirkan keadaanku, karena aku akan baik-baik saja, dengan atau tanpa pengawasan darimu.” aku berucap sebelum kulangkahkan kakiku mendekati Baekhyun, meraih tangan kanannya dan meletakkan kunci tersebut di telapak tangannya.

“Aku sudah katakan kalau aku kecewa padamu, Baekhyun. Dan aku tidak lagi punya keinginan untuk keluar dan menemuimu karena aku sudah tahu jelas, keinginanku untuk bertemu denganmu tak pernah berarti apapun untukmu.

“Aku sangat berterima kasih karena kau sudah membantuku hari ini, dan sebelum-sebelum ini. Tapi beberapa hari lagi, aku tidak akan bisa berbuat apapun selain menjadi penonton dari rencana yang sudah mereka buat untuk bangsamu.

“Jadi, anggap saja aku memberikan kunci ini untukmu sebagai ucapan terima kasih. Sehun hanya akan ada di penjara bangsamu saat pagi hari, dan sore hari. Di malam dan siang hari kau punya kesempatan untuk menyelamatkan mereka.

“Dan juga… selamat tinggal, Baekhyun. Aku harap kita mungkin bisa bertemu lagi, tidak dalam situasi yang begitu canggung dan penuh kecurigaan seperti saat ini.”

Usai menyelesaikan kalimatku, aku melangkah meninggalkan Baekhyun. Dia juga tidak tampak berkeinginan untuk menghentikanku jadi aku anggap, dia juga mengucapkan selamat tinggal padaku.

Lagipula, untuk apa aku terus bertahan untuk mengenalnya sementara aku sudah tahu jelas apa yang dia inginkan? Bukannya aku pernah menduga hal ini, bahwa Baekhyun ada di luar sana untuk alasan dan keadaan yang begitu tidak masuk akal.

Mengapa aku begitu bodoh dan tidak menyadarinya sejak awal?

Ah, lagi-lagi mengingat bagaimana Baekhyun berbohong padaku sekarang membuat aku semakin merasa sakit.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Setiap hari disini sekarang terasa sangat menyiksa. Aku benar-benar tidak menyukai tempat ini sekarang. Semua orang mulai membicarakan cara-cara penyiksaan untuk vampirevampire itu, dan aku tidak menyukai bahan pembicaraan mereka.

Jadi, saat hari ini—dua hari sebelum rencana mereka—aku terpaksa bergabung dengan mereka di aula, aku hanya memilih duduk diam dan membaca buku yang sebenarnya hanya kubolak-balik dengan tidak tertarik. Membiarkan pikiranku berkelana pada apa yang terjadi di luar jadi hal yang lebih menarik sekarang.

Perdebatanku dengan Baekhyun, apa yang sedang dia lakukan sekarang… apa dia sudah menyusun rencana untuk membawa bangsanya keluar dari tempat ini… semuanya sekarang menjadi beban dalam pikiranku.

Sehun dan beberapa orang lain, termasuk dokter Soojung dan Jongin, mereka keluar. Sudah beberapa hari sejak aku mencari darah bersama Baekhyun. Dan mereka belum kembali sampai hari ini.

Aku tidak begitu khawatir pada keadaan mereka. Aku lebih khawatir pada apa yang mereka lakukan di luar sana.

“Mereka kembali!” Yeoreum berteriak di ujung pintu aula, aku masih diam di tempatku saat orang-orang bergerak mendekati beberapa orang yang masuk ke dalam aula dengan pakaian yang begitu kotor.

Kebetulan macam apa ini? Aku baru saja memikirkan tentang kembalinya mereka saat kemudian mereka benar-benar kembali. Tapi ada apa dengan ekspresi mereka? Mengapa mereka semua memamerkan ekspresi yang serupa?

Kecewa… sedih… dan marah?

“Dimana dokter Soojung?” tanyaku pada Luhan, salah seorang yang ikut keluar bersama dokter Soojung dan Jongin.

“Ah, dia sedang mengurus beberapa peralatan medis yang berhasil kami dapatkan.” jawab Kris, sementara Luhan sendiri memilih membisu.

“Lalu bagaimana dengan Jongin? Dia mengurus hal-hal yang berhasil kalian dapatkan juga?” tanyaku, bukannya mereka seharusnya terlihat senang saat berhasil mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan?

“Ya, dia juga sedang mengurus hal-hal tertentu.” kali ini Luhan menyahut.

“Kalau begitu aku akan membantu mereka juga. Aku bisa—”

“—Kau bisa membantuku, Sarang.”

Upayaku untuk melangkah melewati Luhan dan Kris terhenti saat kusadari Sehun mencekal lenganku. Dengan sebuah senyum tipis dia mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya.

Mau bagaimana lagi, kalau aku menolak permintaannya orang-orang pasti akan berpikir aku sudah menolak untuk bekerja sama dengan mereka, bukan?

“Apa semuanya baik-baik saja?” tanyaku sembari mengikuti langkah Sehun.

“Apa yang kau bicarakan?” Sehun malah balik bertanya.

“Tidak, ekspresi semua orang terlihat begitu muram. Aku pikir sesuatu yang buruk sudah terjadi saat kalian keluar.” tuturku, untuk apa berbohong pada Sehun sementara aku sendiri tidak tahan untuk terkurung dalam rasa penasaran?

“Hanya perasaanmu saja, apa kami harus tertawa keras-keras saat kembali?” ucapan Sehun berhasil membungkamku.

Benar juga, akan lebih terkesan mengerikan dan tidak wajar jika mereka muncul dengan tawa yang berlebihan, bukan? Mungkin aku saja yang terlampau mengkhawatirkan semua hal.

“Cepat, kita harus pindahkan kotak-kotak ini ke gudang.” ucap Sehun.

Aku, Sehun, dan tiga orang lainnya pun mulai memindahkan kotak-kotak kayu ke dalam gudang. Sehun sendiri tidak memberikan kotak yang berat padaku, tapi dia tidak memberiku kesempatan untuk beristirahat barang sejenak.

Aku tahu, Sehun tengah berusaha mengulur waktu dan keingin tahuanku. Dia tahu benar kalau jawabannya tidak membuatku merasa puas dan lantas berhenti mempertanyakan ekspresi muram mereka.

Tapi Sehun juga tidak mau dibodohi. Dia tidak mau membiarkanku pergi kemana pun.

Sekarang aku yakin mereka menyembunyikan sesuatu.

“Aku lelah, Sehun. Biarkan aku beristirahat sebentar.” aku akhirnya berkata, tidak hanya berusaha untuk mendapatkan celah untuk mencuri-curi dengar informasi dari mereka yang lewat di dekat kami, karena mungkin apa yang mereka bicarakan ada hubungannya dengan hal yang mereka sembunyikan.

“Aku akan ambilkan minum,” ucap Sehun, dia memang melangkah meninggalkanku, tapi bisa kulihat bagaimana Sehun mengisyaratkan pada salah seorang yang juga ikut memindah-mindahkan kotak kayu tersebut untuk menungguiku.

Aneh, sekarang apa yang mereka lakukan semakin terlihat aneh.

Sehun kembali dengan membawakanku sebotol air mineral. Dan dengan segera, aku meneguknya. Tapi aku terperanjat bukan main saat sebuah aroma khas masuk ke dalam penciumanku. Bau anyir darah ini jelas bukan darah manusia.

Aku mengenalinya karena sudah bertahun-tahun aku hidup dengan mencium aroma serupa saat mendapati vampire yang tengah disiksa dengan menggunakan alat-alat yang manusia banggakan.

Ada aroma darah vampire yang melekat di botol air mineral ini.

Tidak, aroma ini bukan dari botol yang kupegang, melainkan tangan Sehun.

Bisa kupastikan, Sehun baru saja berurusan dengan vampire, dan vampire itu terluka. Apa mereka bertemu dengan vampire di luar sana? Atau mereka terlibat penyerangan? Tapi mengapa aku tidak melihat satupun bekas luka baru di tubuh Sehun?

Meskipun mereka adalah bangsa peralihan yang bisa menyembuhkan diri dengan cepat, bukan berarti mereka tidak akan punya bekas luka, bukan?

Kembali, aku berusaha mencuri kesempatan saat Sehun disibukkan dengan pencatatan di gudang. Beberapa orang yang tadi bersama dengan kami juga sudah pergi. Jadi dengan cepat aku bawa diriku melangkah ke arah gudang perlengkapan kesehatan yang letaknya dekat dengan ruang kesehatan tempat dokter Soojung seringkali menghabiskan waktu.

Aku sempat merasa bingung saat kusadari tidak banyak orang ada sepanjang koridor menuju ruang kesehatan, padahal jalan menuju ke ruang kesehatan berada di dekat ruang makan, dan kuduga-duga, mereka yang baru saja kembali pasti akan menghabiskan waktu untuk makan.

Aku sudah tahu, ada yang tidak wajar di sini.

Sempat langkahku terhenti di tengah koridor saat kulihat dokter Alice masuk ke dalam ruang kesehatan dengan membawa dua kantong darah. Ada apa ini? Apa seseorang dari bangsa peralihan terluka sampai-sampai mereka membutuhkan da—

“Apa masih sakit, Jongin-ah?” suara dokter Alice segera menyapa runguku ketika aku sampai di ruang kesehatan, sementara tungkaiku sekarang bergeming, enggan untuk mengintip ke dalam ruang kesehatan karena aroma anyir darah yang sekarang masuk ke dalam penciumanku sudah cukup jadi penjelasan bahwa seseorang di dalam sana sedang terluka.

“Sedikit, noona. Tapi bekas serangan vampire itu masih terasa begitu menyakitkan.” kali ini kudengar jelas suara Jongin.

“Minumlah ini, rasa sakitnya akan segera berkurang. Memang seperti ini yang terjadi saat kita pertama kali menjadi peralihan. Omong-omong, tadi kau bilang kalau vampire yang menyerangmu adalah vampire yang dulu ada di Gedung Penyembuhan, bukan?”

Gedung Penyembuhan? Serangan vampire? Pada Jongin?

Segera, aku melangkahkan kakiku ke depan pintu ruang kesehatan. Dengan jelas kulihat bagimana Jongin menyesap darah dari dalam kantong yang dokter Alice bawa. Dokter Soojung tidak ada di sana. Satu-satunya pemandangan yang bisa kutangkap adalah Jongin yang sudah bukan lagi manusia.

“Jongin… apa yang terjadi padamu?” tanpa sadar kalimat itu meluncur keluar dari bibirku. Padahal, di saat seperti ini aku seharusnya memilih untuk berlari saja.

“S-Sarang? Bagaimana kau bisa ada di sini?” pertanyaan Jongin sekarang menyadarkanku, bahwa mereka semua memang sengaja berusaha menyembunyikan hal ini dariku.

“Siapa yang menyerangmu? Seseorang dari Gedung Penyembuhan? Kalau begitu aku pasti mengenalnya, bukan?” melihat ekspresi terkejut Jongin sekarang, aku bahkan tidak perlu jawaban apapun untuk tahu bahwa vampire yang menyerang Jongin benar-benar vampire yang dulu kukenal di Gedung Penyembuhan.

“Sarang! Jangan!”

Aku mengabaikan teriakan Jongin sementara kubawa diriku berlari menyusuri jalan-jalan yang mulai kukenali. Bisa kudengar teriakan-teriakan kesakitan menggema sepanjang koridor menuju penjara, sementara pintu menuju bawah tanah tempat penjara itu berada sekarang tertutup rapat.

Dengan paksa, aku membuka pintu kayu tua tersebut, dan kulompati satu sampai dua anak tangga untuk bisa sampai ke bawah dengan cepat.

Teriakan yang langsung kukenali begitu aku sampai di penjara adalah suara teriakan dokter Soojung. Diikuti dengan suara cambuk yang selalu Sehun gunakan, dan teriakan seorang wanita. Tapi suara wanita itu bukan suara salah seorang vampire yang ada di sini. Karena aku sudah begitu hafal suara Kei, atau vampire wanita lainnya yang ada di sini.

“Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup setelah kau melukai keluargaku, hah?!” teriakan dokter Soojung lagi-lagi terdengar, diikuti suara cambuk lagi, dan rintihan kesakitan wanita yang sama.

Tunggu… suara itu… aku mengenalinya.

“Hentikan! Jangan lukai dia lagi!” kali ini vokal Kei, jeritannya terdengar begitu jelas dalam pendengaranku.

“Melukainya? Hah! Aku akan membunuhnya!” dokter Soojung lagi-lagi berteriak marah, sebelum kudengar suara cambukan lainnya.

Hal yang bisa kukenali berikutnya adalah tatapan penuh amarah yang vampirevampire sandera itu lemparkan pada kerumunan di depannya, pada sosok yang sekarang berada di balik bayangan dokter Soojung yang memunggungiku.

“Jangan kalian pikir aku akan melepaskannya setelah dia melukai Jongin.” dokter Soojung kini bicara dengan nada dingin, sementara aku sendiri berusaha menyelipkan diriku di antara keramaian yang tampak tengah terpana pada apa yang dokter Soojung lakukan.

Aku mengenali kulit pucat juga jemari mungil yang sekarang berdarah juga memar itu. Jin. Dia ada di sana, dipaksa untuk berdiri dengan rantai yang terikat ke kedua lengan juga lehernya sementara bibirnya terus mengeluarkan erangan kesakitan.

Likuid gelap yang sekarang menetes dari luka menganga yang ada di tubuh Jin segera mengingatkanku pada aroma yang kukenali di Gedung Penyembuhan, tiap kali vampire itu terluka karena ulah kami.

Tapi tidak, mengapa aku harus mendapati Jin dalam keadaan semengerikan ini lagi?

“Tao, bawakan senjata itu padaku. Sepertinya makhluk kotor ini akan jadi vampire pertama yang merasakan kematian dengan mengerikan.” dokter Soojung bertitah.

Tao sendiri sedari tadi berdiri di ruang kosong yang ada di depan jeruji sekarang melangkah mendekati dokter Soojung, mengulurkan sebuah senapan kepadanya.

Apa itu senjata yang sempat mereka bicarakan? Senjata yang mereka katakan bisa memusnahkan vampire karena peluru yang sudah dimodifikasi oleh mereka?

Tidak, Jin tidak boleh terluka lagi!

“Tidak! Hentikan!”

Bukan aku yang berteriak, tapi Kei. Aku tidak berteriak karena aku tahu berteriak tidak akan memberikan bantuan apapun, tidak juga akan menghentikan dokter Soojung dari keinginannya untuk menyarangkan peluru modifikasinya di tubuh Jin.

Jadi aku berlari, mendorong dengan kasar orang-orang yang menghalangi langkahku, kemudian aku menempatkan tubuhku di depan Jin, kurentangkan kedua tanganku untuk—

DOR!

—melindunginya.

“Tidak!” lagi-lagi kudengar teriakan Kei, sementara sekarang bisa kurasakan bagaimana rasa nyeri menyerang lenganku. Sangat menyakitkan. Lenganku kini mati rasa.

“Jangan melukainya…” ucapku terbata, rasa sakit yang kurasakan di lenganku tidaklah sebanding dengan rasa sakit yang sekarang Jin rasakan.

“Sarang! Ini bukan urusanmu! Berhentilah berusaha bertindak heroik dengan melindungi mereka!” teriak dokter Soojung.

Darah mengalir dari luka di lenganku. Kulihat Jongdae—yang berada di jeruji paling dekat denganku—bergerak mundur.

“Ini jadi urusanku saat kau berusaha melukai mereka.” tandasku.

“Tidak ada yang jadi urusanmu di sini Sarang! Kau di sini hanya menumpang untuk menyambung hidupmu! Jika saja kau tidak kurawat sejak kecil, kau tidak akan kubiarkan berada di sini. Kukira, kau akan berguna untuk kami, tapi aku salah, kau tidak berguna!”

Aku terpaku. Kalimat itu… Membuatku tahu… siapa yang akan kupihak sekarang.

“Menyingkir sebelum aku membunuhmu dengan senapan ini.” dokter Soojung kini menodongkan senapan itu ke arahku.

“Jangan melukainya lagi!” teriakku sambil menyentakkan tubuh dokter Soojung.

“Apa artinya dia untukmu!? Dia hanya makhluk busuk tidak berguna!” teriak dokter Soojung sembari mendorong tubuhku, keadaan lenganku yang sekarang terluka membuat aku tidak lagi sanggup menahan tindakan dokter Soojung.

“Kaulah makhluk busuk tidak berguna itu Lee Soojung! Aku melindunginya karena bagiku, nyawanya jauh lebih berarti daripada nyawamu!” aku akhirnya berteriak marah.

Mengapa mereka terus berusaha melukai orang-orang yang bahkan tidak pernah benar-benar berusaha melukai mereka?

Dokter Soojung menatapku nanar. Air mata kini jatuh membasahi kedua pipinya sementara aku masih berkeras dengan kemarahanku. Bisa kulihat bagaimana orang-orang sekarang menatapku dengan pandangan memusuhi, tapi aku tidak peduli lagi.

“Tidakkah kau sudah keterlaluan? Bertahun-tahun aku merawatmu dan ini yang jadi balasanmu. Aku benar bukan? Monster-monster ini mempengaruhimu dengan sangat baik.” kata dokter Soojung membuatku mendengus muak.

Aku sungguh tidak tahan mendengar celotehnya tentang bagaimana para vampire itu dikatakannya memengaruhiku. Padahal yang mereka lakukan hanyalah memperlakukanku dengan cara yang seharusnya.

“Ada apa ini? Kenapa kalian semua menjadikannya tontonan?”

Atensiku sekarang beralih pada Sehun yang entah sejak kapan sudah berdiri di ujung tangga teratas penjara. Tatapannya pada kami sekarang terlihat seolah kami sudah mengotori tempat berharga miliknya.

“Pergi. Jangan buat kekacauan di teritoriku.” Sehun mengusir dengan kasar.

“Aku sedang memberi ‘monster’ ini pelajaran, Oh Sehun.” dokter Soojung berkeras.

“Aku yang berhak menentukan ‘pelajaran’ apa yang akan dia terima. Tinggalkan tempat ini. Sekarang.” Sehun lagi-lagi memerintah dengan tegas.

Dokter Soojung bergeming, dan aku juga berkeras untuk tetap berdiri tegak meski rasa sakit di lenganku makin menjadi.

“Apa kalian semua tuli?” Sehun berkata, dia memang tidak berteriak marah pada kami, tapi aku cukup tahu kalau dia sedang menahan marah.

“Ayo kita pergi, Dok.” Tao berucap.

Dengan masih meninggalkan kemarahan, dokter Soojung akhirnya melangkah meninggalkan aku dan Jin.

“Kau menyelamatkanku lagi… Sarang-ah.” kudengar lirih suara Jin berucap di belakangku.

“Kenapa kau terus-terusan terjebak dalam masalah seperti ini, Jin?” balasku, berbalik menatapnya dengan membendung air mata.

Tatapan Jin padaku sekarang berhasil membuat tangisku pecah. Isakan menyedihkan akhirnya lolos dari bibirku, akumulasi dari rasa sakit dan kesedihan yang sudah kusimpan sejak pertama kali aku ada di tempat ini, agaknya.

“Senang bisa melihatmu lagi,” Jin kembali berucap, hal yang kemudian membuatku segera mendekatinya, mengusap darah yang mengotori wajahnya.

“Apa luka-luka ini terasa menyakitkan seperti dulu? Maaf… aku terlambat menyelamatkanmu.” aku berucap pada Jin dengan penuh rasa bersalah, kurengkuh tubuh ringkihnya meski kudengar dia mendesis cukup keras karena mencium aroma darahku yang menyeruak dari luka yang ada di lenganku.

Tapi aku tidak peduli, bahkan jika Jin menyerangku, aku sungguh tidak peduli. Aku begitu benci mendapati fakta bahwa pertemuanku dengan Jin akan seburuk ini. Aku tahu dia sangat kesakitan sekarang, aku sangat ingin menolongnya, tapi aku tak punya kuasa.

Aku benci melihatnya terluka, aku ingat bagaimana cantiknya Jin saat dia pada akhirnya tidak lagi memiliki luka-luka mengerikan di tubuhnya. Dan melihatnya sekarang terluka seperti ini membuatku—

“Apa sudah cukup kau bernostalgia, Sarang? Kau juga harus pergi.”

—teringat pada eksistensi Sehun yang sedang mengawasi.

Perlahan, kulepaskan rengkuhanku pada Jin, sementara aku berbalik dan menatap Sehun yang sekarang memandangku dengan tatapan ngeri. Dia pasti melihat luka menyedihkan di lenganku, juga darah yang mengotori sekujur tubuhku karena merengkuh Jin barusan.

“Sehun… Dia terluka dan—”

“—Kau tidak dengar apa kataku?” Sehun memotong ucapanku bahkan saat aku belum menyelesaikan apa yang ingin aku katakan padanya.

Sekilas kupandang Sehun, rautnya sekarang begitu serius. Dia tidak bermain-main soal mengusirku.

“Jangan melukainya, Sehun… aku mohon.”

Sehun hanya menatapku tanpa ekspresi.

“Biarkan saja dia mati seperti itu.” ucap Sehun sambil menatapku dengan sebuah senyum sinis. Hal yang kemudian membuatku mengalihkan pandangan, menahan air mataku yang untuk kedua kalinya hendak menghambur karena rasa sakit dan sedihku.

“Kau juga sama saja seperti mereka, Sehun…”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Aw, aw. Senangnya bisa kembali posting tepat waktu tepat sasaran tepat jadwal tepat harapan kayak gini. Seandainya dulu enggak kelelep di balik sibuknya akreditasi pasti diriku enggak akan semenderita ini :”>

Dua chapter lagi kelar! Yes, semangat Irish! (berusaha tabah dan menyemangati diri sendiri meskipun nanti enggak tau kapan pastinya bisa mengakhiri Exception).

Semangat aku kayaknya lagi dalam expert mode, karena dari Senin-Sabtu kerjaanku di rumah ngetik mulu, sampe waktu-waktu yang biasanya jadi jam wajib jalan-jalan (kayak di hari Jum’at, sama di hari Rabu) jadi aku cuekin demi deadline.

Ah… memang deadline itu bisa mengubah banyak hal. Dan berhubung akhir pekan ini ada festival film di Marvell City Surabaya sini, ini kartu kredit udah mulai lancang dipake adek buat ngeklik hampir semua film yang ada di festival. Dan walhasil kesimpulannya, postingan akhir pekan ini semuanya dijadwal dan pastinya bales-balesan komentarnya bakalan lebih lambat :”> tapi gapapa, diriku setrong buat ngetik balapan meski dua fanfiksi masih belum kelar juga :”>

Nah, sekian dariku, sampai ketemu tiga minggu lagi!

Salam, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

GIDARYEO – 8th Page — IRISH’s Tale

GIDARYEO

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Park Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  Crime  — Family — Fantasy — Melodrama — Supranatural — Suspense  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 4 | 1st Page5th Page | 6th Page7th Page

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

“S-Shadow?” aku memandang tak percaya saat nyatanya dia memang sosok yang sama dengan yang baru saja kupikirkan dan baru saja kuduga-duga kemana perginya! Bagaimana bisa dunia jadi sesempit ini?

“Berbicara dengan anak kecil saja kau tidak bisa, Anna. Heran, bagaimana bisa kau bicara begitu banyak pada kriminal-kriminal di luar sana.”

Dia ada di sini. Shadow Of The Dark ada di sini. Dia tidak pergi. Dan mengapa aku merasa begitu senang?

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya sejenak memandangku, melihat kebisuan yang kupamerkan, dia kemudian kembali berfokus pada anak kecil yang tadi diajaknya bicara.

Tanpa sempat mendengar apa yang dia katakan kepada anak kecil itu, atau menyerap tentang tujuan kemunculan tiba-tibanya, tidak juga aku sempat menanyakan apa yang dia katakan pada anak kecil itu, Shadow sudah menarik lenganku begitu bus berhenti.

“Ayo turun.” katanya tanpa terdengar ingin dibantah.

Tentu saja dia tidak perlu persetujuanku untuk melakukan segalanya. Aku saja sudah menyerahkan diri padanya. Terbukti dengan bagaimana sekarang aku hanya bergeming saat dia menarikku turun dari bus, dan membawa langkahku menjauh dari jalan raya.

“Mengapa kau ada di sini?” tanyaku begitu kudapatkan kembali kesadaranku.

Tatapannya lantas bersarang padaku, seolah pertanyaan yang kuutarakan padanya sekarang adalah pertanyaan paling konyol yang pernah didengarnya, ia kemudian buka suara.

“Kau sendiri? Kenapa kau naik bus yang sama denganku?” ia balik bertanya.

“Apa? Mengapa jadi salahku?” aku menatap tidak mengerti.

Aku bahkan tidak tahu kalau dia ada di dalam bus itu dan dia sudah mengutarakan pertanyaan yang membuatku terlihat seperti seorang stalker. Baca lebih lanjut