ELEVEN ELEVEN – 15 – by AYUSHAFIRAA

newele1aaaaatex1

AYUSHAFIRAA Proudly Presents

.

`ELEVEN ELEVEN`

.

Sequel of

.

`BATHROOM`

.

| starring Byun Baekhyun, You as Byun Yena, Oh Sehun, Bae Irene |

| supported by Park Chanyeol, Park Seul as Yoon Bitna |

| au, complicated, drama, fantasy, romance |

| pg-17 | | chaptered (under 2k words for every chapter) |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


BATHROOM : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | [Protected] Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Final Chapter (1) | Final Chapter (2)

ELEVEN ELEVEN : Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Teaser 4 | 0102 0304 | 05 | 0607 | 08 | 0910 | 11 | 12 | 13 | 14 | [NOW] 15


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

[ 15 ― Kau Dan Pilihanmu ]

.

.

.

 

Hampir pukul sembilan, matahari belum bersinar secerah biasanya di akhir bulan juni ini. Namun, tak peduli dengan sinar mentari di luar sana yang masih malu-malu kucing, Baekhyun dan Yena telah bersiap untuk pergi dari rumah sakit karena kondisi kesehatan Baekhyun yang dirasa sudah cukup membaik. Dirawat selama kurang lebih 4 hari lamanya dalam ruangan serba putih itu membuat Baekhyun merasa kurang nyaman karena setiap harinya ia harus bertemu dengan banyak perawat yang silih berganti masuk ke ruang rawatnya. Belum lagi dengan kehadiran Oh Sehun, lelaki yang Yena bilang telah membayar seluruh biaya rumah sakitnya. Tak hanya itu, dari mulut Yena, Baekhyun pun tahu fakta bahwa atas kebaikan hati lelaki itulah, Yena bisa membawanya ke rumah sakit.

Tapi tentu, yang namanya benci tetaplah benci. Baekhyun tak suka memiliki hutang budi pada orang lain, apalagi orang tersebut tak lain dan tak bukan ialah Oh Sehun, artis populer yang namanya selalu disangkut pautkan dengan Bae Irene. Karena itulah, Baekhyun telah menyiapkan sejumlah uang tunai yang cukup atau bahkan lebih untuk mengganti banyaknya uang yang telah Sehun habiskan untuk membayar biaya perawatannya selama ini.

“Apa kita akan pergi begitu saja tanpa pamit pada Oh Sehun?” tanya Yena, merasa tak enak jika harus pergi sebelum bertemu sang paman berkaki panjang yang telah baik hati membantunya saat dirinya benar-benar membutuhkan bantuan.

“Kau tahu sendiri, aku tidak suka lelaki itu,” ujar Baekhyun, kembali mengingatkan Yena.

Yena sedikit melambatkan langkahnya, berharap ia bisa bertemu dengan Oh Sehun dan mengucapkan berjuta terima kasih. Gadis itu sudah mengambil keputusan bulat bahwa dirinya tidak akan lagi tinggal di hotel bersama sang paman. Ia akan kembali tinggal di rumahnya, menemani Baekhyun agar tak tinggal sendirian dalam kesepian lagi. Toh, sama seperti Baekhyun, Yena juga merasa tak enak harus terus berhutang budi pada lelaki tampan satu itu.

Saat Yena hendak menyusul Baekhyun masuk ke dalam taksi, sebuah tangan besar berhasil menahannya untuk tidak melanjutkan langkah.

“Kalian mau ke mana, Yena-ssi?”

Masih dengan napas terengah-engah seperti habis berlari, lelaki yang menahan tangan Yena itu memberikan tatapan tak rela.

Ahjussi, syukurlah Yena bisa bertemu Ahjussi…” ucap Yena yang kini bisa bernapas lega. Ya, lelaki yang baru saja menahan tangannya tak lain ialah Oh Sehun.

“Kenapa kalian tiba-tiba pergi?” tanya Sehun lagi.

“Maafkan kami karena memutuskan pergi tanpa pamit terlebih dahulu. Kondisi Baekhyun sudah membaik, jadi dia mengajak Yena untuk pulang secepatnya,” jelas Yena.

Sekon kemudian, kening Sehun mengkerut. “Apa maksudmu dengan dia mengajakmu pulang? Kau tidak akan pulang ke hotel lagi?”

Yena mengangguk tanpa ragu.

“Yena-ya! cepatlah! Kalau kau tak kunjung masuk, sopir taksi ini akan mengamuk!” seru Baekhyun dari dalam taksi tanpa memandang ke arah Sehun dan Yena sedikitpun.

“Tidak! Kau tidak boleh pergi!” cegah Sehun sekali lagi. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Yena begitu erat hingga mungkin gadis itu bisa merasakan sakit.

“Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk tetap tinggal di sisimu lewat lirik lagu itu?”

Dengan tatapan penuh penyesalan, Yena menatap manik hazel Sehun dalam-dalam.

“Yena benar-benar minta maaf, Ahjussi. Yena rasa, Yena tidak bisa terus tinggal di hotel dan membuat Ahjussi kerepotan, jadi-”

“Siapa yang bilang kalau aku kerepotan?! Siapa yang bilang kalau aku tak senang tinggal bersamamu?! Aku tidak pernah sekali pun mengatakan itu, Yena-ssi!” potong Sehun emosi.

Ahjussi mungkin tak mengatakan itu, tapi Yena yang tak enak terus mengandalkan kebaikan hati Ahjussi sedang Yena tak bisa membalasnya dengan apapun,” ujar gadis itu yang kini semakin merasa bersalah pada Oh Sehun.

Mendengar percakapan antara Yena dan Sehun yang tak kunjung usai, Baekhyun pun berinisiatif memisahkan mereka dengan tangannya sendiri.

“Hei, Oh Sehun! Kenapa kau tak juga melepaskan genggamanmu padanya?!” Baekhyun keluar dari taksi dan melangkah cepat menghampiri keduanya yang masih saling bersitatap.

“Dia sudah tak mau lagi bersamamu! Jadi, lepaskan!” ucap Baekhyun yang kemudian berusaha melepaskan genggaman kuat Oh Sehun di pergelangan tangan Yena.

“Aku tetap tak mengijinkanmu pergi.”

“Apa jika aku memberikanmu dua pilihan antara aku dan lelaki ini, kau akan tetap memilihnya?” tanya Sehun.

“Maafkan Yena, Ahjussi.” Yena berujar tanpa perlu menunggu detik berganti menit. “Yena akan tetap memilih Baekhyun.”

“Apa?”

Mungkin, inilah saatnya. Saat di mana Yena benar-benar datang dan menabur garam di atas lukanya. Sehun sudah paham akan konsekuensi ini. Jika ia memilih melanjutkan cintanya pada Yena setelah menyaksikan ciuman itu, ia akan terluka. Dan parahnya, setelah ia memilih untuk terluka, ia malah mengharapkan pengakuan yang sudah pasti tidak akan pernah ia dapatkan.

“Kenapa kau menyuruhku untuk tetap tinggal kalau akhirnya kau yang pertama kali memilih pergi?”

Ahjussi…”

Perlahan tapi pasti, Yena bisa merasakan genggaman Sehun pada pergelangan tangannya melemah. Genggaman kuat Sehun itu akhirnya meninggalkan bekas merah yang cukup menunjukkan seberapa keras usaha seorang Oh Sehun untuk tidak melepaskan kepergiannya begitu saja. Namun kini, lelaki itu telah menyerah sepenuhnya dengan meninggalkan sebuah senyuman pahit di bibirnya. Mungkin ia juga baru menyadari, bahwa berusaha mempertahankan seseorang yang sama sekali tak ingin dipertahankan adalah sebuah kejahatan.

“Ayo kita pergi!”

Baekhyun memaksa Yena untuk masuk ke dalam taksi dan Yena pun tak memiliki kuasa untuk menolak.

“Oh iya, ambil ini!” Baekhyun menyerahkan sebuah kotak hitam berpita putih berisi uang yang tadi sudah disiapkannya untuk mengganti uang Oh Sehun.

Sesaat setelah menerima kotak tersebut, Sehun hanya bisa memandangi taksi yang ditumpangi Yena dan Baekhyun berlalu semakin jauh hingga luput dari pandangannya.

‘― Panggilan masuk, Yang Tersayang’

Untuk beberapa detik, Sehun hanya menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Ia sudah terlalu jauh berlari untuk mengejar seseorang yang nyatanya memilih mengejar lelaki lain hingga ia tak sadar bahwa ia juga telah jauh meninggalkan seseorang yang setia berada di belakangnya. Mungkin, ini sudah waktunya bagi Sehun untuk balik kanan, kembali pada apa yang memang telah menjadi miliknya sejak awal.

“Halo, Sayang? Kau di mana?”

 

♥♥♥

 

Sepanjang perjalanan pulang, Yena terdiam memandangi bekas merah di pergelangan tangannya. Bila ia ingat kembali seberapa baik paman berkaki panjang itu kepadanya selama ini, ia merasa sangat berdosa. Bagaimana tidak? Sejak hari di mana ia terlempar ke masa ini, Oh Sehunlah yang selalu ada untuknya saat ia butuh. Tapi bukannya membalas semua kebaikan lelaki itu, ia malah meninggalkan lelaki itu begitu saja dengan sejuta rasa kecewa.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Baekhyun, ibu jarinya mengelus lembut punggung tangan Yena. Namun ternyata, sentuhan Baekhyun itu malah semakin mengingatkan Yena pada sosok Oh Sehun yang selalu memiliki berbagai macam cara untuk menenangkannya kala ia sedih ataupun memiliki banyak pikiran.

“Bagaimana caranya menghilangkan rasa bersalah ya, Baekhyun-ssi?”

“Sungguh kau ingin mendengar pendapatku?” Baekhyun menatap ke arah Yena yang kemudian tampak membalasnya dengan anggukan. Pandangan Baekhyun beralih lurus ke depan sebelum akhirnya melanjutkan, “sekalipun aku merasa bersalah, aku jarang meminta maaf. Bagiku, rasa bersalah itu akan menghilang seiring berjalannya waktu.”

“Sejak tinggal seorang diri, banyak yang berubah dari sikapku. Sampai sekarang, aku sendiri tak mengerti kenapa aku bisa berakhir memiliki sikap seperti ini,” terang Baekhyun diakhiri tawanya yang khas.

Untuk kali ini, Yena merasa dirinya berbeda dengan sang ayah. Baekhyun mengatakan bahwasanya rasa bersalah akan menghilang seiring berjalannya waktu, tapi bagi Yena, rasa bersalah bukanlah hal yang bisa dianggap seremeh itu. Sampai kapanpun, rasa bersalah akan terus membebani pikiran Yena jika orang yang ia sakiti belum mau memaafkannya.

Oh Sehun tak mau memaafkannya. Itu pasti. Meski tadi Yena terus mengawali ucapannya dengan kata maaf, Sehun tak pernah mau menerima permintaan maafnya tersebut bahkan hingga di detik-detik terakhir lelaki itu merelakannya pergi bersama Baekhyun.

‘Maafkan Yena, Ahjussi,’ ketik Yena, singkat namun bermakna sangat dalam.

Setelah merasa cukup yakin, gadis itu pun mengklik ikon kirim untuk mengirim pesan singkat tersebut ke satu-satunya nomor kontak yang ia miliki di ponselnya; Ahjussi Tampan.

Beberapa menit berselang, ponsel merah muda Yena bergetar, tanda sebuah pesan baru telah masuk ke nomornya. Akhirnya, Yena bisa kembali tersenyum. Hatinya begitu lega saat ia mendapati pesan baru tersebut datang dari nomor kontak paman tampannya yang berisikan kalimat penjelas bahwa lelaki itu sudah mau memaafkan kesalahannya.

Ahjussi Tampan ― 30-06-2015, 09.59 AM

Tanpa perlu kau minta pun, aku sudah memaafkanmu. Aku tahu, setiap orang berhak memilih apa yang ingin mereka pilih. Jika pilihanmu bukanlah aku, maka sudah seharusnya aku menerima keputusan itu dan membiarkanmu pergi dengan pilihanmu sendiri.’

 

♥♥♥

 

Yena terbangun lebih lambat dari biasanya. Saat ia bangun, aroma khas dari ramen instan sudah menyeruak, bersemerbak menggoda indera penciumannya.

Ketika langkahnya sampai di dapur, sosok yang diharapkannya ternyata sudah tak ada di sana. Hanya tinggal sebuah panci kecil yang menyisakan sedikit mie yang masih tampak hangat. Sepertinya, sang ayah memang sengaja menyisakan ramen tersebut agar Yena tak perlu lagi repot memasak dalam keadaan lapar.

Baru mencicipi sesuap, Byun Yena harus dikejutkan dengan suara pecahnya barang-barang yang seperti sengaja dibanting. Khawatir terjadi sesuatu pada sang ayah, gadis itu pun bergegas melangkahkan kakinya ke asal suara. Dan benar saja. Di sebuah ruangan bercahaya remang-remang merah yang baru Yena ketahui keberadaannya, Byun Baekhyun terlihat begitu frustasi dengan laptop dan beberapa pigura foto yang telah hancur tak berbentuk lagi.

“Baekhyun-ssi…”

“Jangan mendekat!” bentak Baekhyun, persis seperti orang kesetanan.

Dengan lutut bergemetar hebat, Yena memasuki ruangan rahasia tempat di mana Baekhyun menempelkan ribuan foto Bae Irene di setiap inchi dindingnya. Beberapa foto Irene yang terbingkai pigura telah hancur berserakan di lantai. Di meja Baekhyun pun terlihat sebuah majalah edisi lama yang menampilkan potret Sehun dan Irene telah disobek Baekhyun menjadi dua bagian.

“Apa yang terjadi, Baekhyun-ssi?” tanya Yena, ketakutannya kian melanda saat Baekhyun tak mau menjawab apapun.

Tubuh lelaki itu terlihat gemetar, kedua tangannya mengepal seolah menahan emosi yang terus bergejolak dalam dadanya. Walaupun Yena sudah mendapat ultimatum, ia tetap menghampiri dan memberi sang ayah pelukan dari belakang agar ayahnya bisa merasa sedikit tenang.

Sayup-sayup, suara liputan highlight di televisi yang ditinggal menyala tanpa ditonton tertangkap oleh indera pendengaran Yena. Sama seperti Baekhyun, gadis itu pun kini tak kalah menunjukkan ekspresi keterkejutan yang sama.

‘Artis tampan Oh Sehun dan model cantik Bae Irene kejutkan publik dengan umumkan rencana pernikahan.’

Kalimat pembuka highlight infotainment itulah yang tertangkap oleh telinga Byun Yena. Kabar menghebohkan itu cukup menjadi alasan di balik emosinya seorang Byun Baekhyun yang meledak-ledak. Jadi, Yena dapat menyimpulkan sendiri, telinganya tak salah dengar.

Oh Sehun, lelaki itu telah menarik kembali keputusannya yang tidak akan menikahi Irene demi Yena.

Yena berlari ke luar rumah dengan membawa serta ponsel merah muda pemberian Sehun. Semakin keras ia berusaha untuk tak menangis, air mata yang tak diharapkan itu terus jatuh tanpa mampu ia tahan lagi.

“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.”

“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.”

“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.” Berulangkali, Yena berusaha menghubungi nomor paman berkaki panjangnya namun nomor itu selalu saja sibuk.

Memang tak aneh, di saat-saat seperti ini, pasti banyak media yang juga berusaha menghubungi lelaki itu, berlomba mendapat informasi yang lebih akurat. Di internet, baik Oh Sehun maupun Bae Irene, nama keduanya sudah memuncaki daftar topik yang paling hangat dibicarakan dalam 2 jam terakhir. Bagaimana tidak? Sebelumnya, pasangan itu selalu kompak membantah perihal kedekatan hubungan mereka, bahkan baru-baru ini, Sehun pun pernah tersangkut rumor skandal percintaan dengan wanita lain yang tak lain adalah Yena, jadi pastilah kabar mereka yang tiba-tiba mengumumkan rencana pernikahan itu sukses menarik perhatian banyak orang di seluruh penjuru Korea, maupun para penggemar Bae Irene yang ada di negara lain.

“Halo?”

Jantung Yena hampir saja loncat dari tempatnya sesaat setelah suara Oh Sehun terdengar di seberang line telepon sana.

Ahjussi! Ahjussi, bisakah Ahjussi menemui Yena sekarang juga?! Ada sesuatu yang-”

“Tidak, aku tidak bisa,” tolak Sehun mentah-mentah bahkan sebelum Yena menyelesaikan ucapannya. “Ada banyak hal yang harus ku urus sekarang, jadi aku tidak bisa menemuimu. Maaf, Yena.”

“Kenapa Ahjussi melakukan ini pada Yena?”

Sambungan telepon itu masih terhubung, tapi Sehun seperti membutuhkan banyak waktu untuk membalas pertanyaan Yena. Sambil meremas ponsel merah muda yang masih menempel di telinga kanannya, air mata Yena terus menetes, tak menyangka Oh Sehun akan bertindak sejauh ini.

“Aku sudah merelakanmu pergi dengan pilihanmu. Sekarang, tak bisakah kau membiarkanku melanjutkan hidup dengan pilihanku sendiri? Aku sudah menghargai pilihanmu, tak bisakah kau menghargai pilihanku juga?”

 

wp-1512900351254.jpg

Watch my action also on wattpad.

4 tanggapan untuk “ELEVEN ELEVEN – 15 – by AYUSHAFIRAA”

    1. APASIH ANJG GAK JELAS LU, EMG L BISA NULIS ?? GEGAYAAN KRITIK KARYA ORANG LAIN.
      Kritik gak bener lu bajing

    2. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk berkomentar di karya saya. InsyaAllah, saya akan memperbaiki kualitas menulis saya agar lebih baik lagi ke depannya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s