[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 8)

Title        : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 8

Author        : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length        : Chaptered

Genre        : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating        : PG 17

Main cast    :

Oh Serin (OC)

Do Kyungsoo (EXO)

Byun Baekhyun (EXO)

Park Chanyeol (EXO)

Additional cast:

Oh Sehun (EXO)

Kai (EXO) as Yamasaki Kai

Summary    : Serin bertemu dengannya lagi, pemilik mata tajam yang selalu membayangi pikirannya selama bertahun-tahun. Ia selalu ingin menghindar dari ingatan akan lelaki itu, namun semesta justru membuat Serin semakin terjebak dengannya.

Disclaimer    : Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi author. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan.  Dilarang keras untuk memplagiatkan atau merepost karya ini tanpa seizin author. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading! ❤

̶

̶

̶

“Aku tidak tahu apakah aku bisa bertemu lagi denganmu, jadi- bolehkah aku meminta nomor teleponmu?”

̶

̶

_

CHAPTER 8

-Sang Penyelamat-

_

_

̶

13 Mei.

    Hari yang sudah dipersiapkan akhirnya tiba. Siang ini Serin dan Kyungsoo akan segera terbang ke Jepang ditemani guru Kim. Di bandara Serin ditemani ibunya, Baekhyun dan Chanyeol yang juga ikut mengantarnya sampai ke Gimpo, sedangkan Kyungsoo terlihat sendirian hanya bersama guru Kim.

    “Kau sendirian?” tanya Serin heran melihat Kyungsoo hanya berdiri di sana tanpa keluarga atau teman yang mendampinginya.

    “Mmm.”

Serin menoleh ke belakang. Ia melihat ada ibunya, Baekhyun dan Chanyeol yang sedang mengobrol di belakang. Kemudian ia menoleh lagi ke Kyungsoo, membandingkan pemandangan yang sedikit mencolok di antara mereka.

“Orang tuamu?” Serin bertanya dengan sedikit hati-hati takut Kyungsoo akan memberikan jawaban yang tidak terduga.

“Orang tuaku di Gyeonggi. Aku tinggal di sini bersama hyung-ku, tapi ia sedang menjalani wajib militer sekarang.”

“Jadi kau tinggal sendiri?”

Kyungsoo mengangguk santai.

Beruntung jawaban Kyungsoo sedikit memuaskan, melihat reaksi Kyungsoo, nampaknya lelaki itu nyatanya baik-baik saja.

Serin membuka mulutnya. “Ah- begitu. Kau- tidak pernah cerita.” sejujurnya ia sedikit kagum dengan keberanian Kyungsoo yang tinggal sendiri dan berada jauh dari orang tuanya di usianya yang masih sangat muda. Lelaki itu hanya tersenyum simpul setelah mendengar reaksi Serin.

“Lima menit lagi kita check in, ya.” ujar guru Kim yang mengingatkan.

Serin segera memeluk ibunya, “Eomma, aku pergi dulu ya.”

Ibu menepuk punggung Serin lembut. “Jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa makan dengan teratur.”

Serin mengangguk dan membalas ibunya dengan pelukan yang lebih erat. “Aku akan merindukanmu, eomma.”

“NUNA!!!” tiba-tiba dari arah pintu masuk terlihat seorang pelajar yang masih mengenakan seragam berlari menghampiri Serin.

Oh Sehun?

“Nunaaa…” Sehun datang langsung memeluk Serin dengan erat.

Kyungsoo memerhatikan siswa lelaki itu dari jarak beberapa meter di depannya. Ia mengamati dengan serius wajah siswa bertubuh tinggi itu dan langsung mengenali mata sipit yang terlihat sangat mirip dengan milik Serin.

“Yah! Kau bolos sekolah?” tanya Ibu dengan keras sambil memukul punggung Sehun dengan keras.

Sehun tak menjawab ibunya dan tidak mau melepas tautannya dari Serin. Ia terus memeluk kakaknya seakan tidak ingin berpisah. Serin membalas pelukan Sehun. Ia menyandarkan kepalanya di bahu adiknya yang lebar sambil menepuk punggungnya pelan.

Serin mendekatkan wajahnya ke telinga Sehun dan berbisik. “Nuna pergi dulu, ya. Aku titipkan Eomma dan Appa padamu, jaga mereka baik-baik.”

“Mmm.” jawab Sehun singkat dengan nada pelan.

Serin melepaskan pelukannya dan memberi isyarat agar Sehun sedikit menundukkan tubuhnya yang tinggi. Ia berjinjit dan mengecup kepala adik kesayangannya itu sambil sedikit mengacak rambutnya. “Kau harus menuruti apapun yang dikatakan Eomma, mengerti?”

Sehun mengangguk.

Kali ini giliran Baekhyun dan Chanyeol yang memeluk Serin bersamaan. Mereka bertiga berpelukan bersama dan saling merangkul bahu masing-masing.

“Aku akan merindukan kalian.”

“Sering-seringlah telepon aku.” kata Baekhyun.

Serin menepuk bahu kedua sahabatnya itu kemudian menarik kopernya untuk segera check-in.

“Serin-ah,” Chanyeol memanggil lagi dan mendekati Serin. Ia berbisik pelan ke telinga gadis itu. “kalau kau sampai pacaran dengannya, awas kau ya.” Serin yang langsung mengerti apa yang dimaksud Chanyeol langsung melotot dan menepak jidat lelaki itu dengan keras.

“Yah!”

“Itu hadiah terakhir dariku, berbahagialah karena kau tidak akan merasakan pukulanku dalam waktu yang lama.” kata Serin seraya menarik kopernya dan mengikuti langkah guru Kim masuk ke ruang tunggu.

Penerbangan dari Seoul ke Tokyo hanya memakan waktu dua jam lebih. Selama di pesawat, Serin dan Kyungsoo tidak banyak bicara. Lelaki itu lebih memilih membaca buku selama perjalanan, malah ia tidak mengajak Serin bicara sama sekali.

Sesampainya di bandara Haneda, mereka sudah dijemput sebuah mobil untuk mengantarkan mereka ke dorm yang ditujukan khusus untuk pelajar asing. Serin, Kyungsoo, serta guru Kim memasukkan semua koper ke dalam mobil dan segera meluncur menuju dorm tempat mereka tinggal selama tiga bulan ke depan.

Serin dan Kyungsoo ditempatkan di gedung yang berbeda karena dorm untuk siswa laki-laki dan perempuan dipisah. Walaupun terpisah, jarak gedung dorm mereka bersebelahan. Guru Kim memberikan kunci kamar pada Serin dan Kyungsoo dan setelah itu keduanya berpisah memasuki bangunan dorm masing-masing.

Malam harinya, Serin hanya berguling-guling di kasur. Perutnya sudah terasa lapar. Ia memegangi perutnya. Ah, Serin baru ingat ia belum makan apapun sejak turun dari pesawat. Setelah itu ia tertidur cukup lama setelah merapikan isi kopernya. Ia memandangi layar ponselnya, berpikir apakah ia harus mengajak Kyungsoo untuk ikut makan malam atau tidak.

Setelah menimbang-nimbang selama beberapa menit, akhirnya Serin memutuskan untuk keluar sendiri daripada harus terjebak lagi dalam situasi yang canggung bersama Kyungsoo. Ia bangkit dari tidurnya dan segera memakai hoodie abu-abu miliknya.

Udara Tokyo malam ini ternyata agak dingin. Ia sedikit menyesal karena hanya keluar memakai hoodie miliknya yang tidak cukup menghalau udara dingin yang masuk ke tubuhnya, namun ia juga malas jika harus kembali ke kamar hanya untuk mengambil mantel. Akhirnya ia tetap berjalan keluar sambil berjalan di daerah sekitar untuk mencari makanan apa yang akan ia makan malam ini.

Suasana Tokyo cukup ramai, bahkan sebenarnya sangat ramai dan lebih padat dari Seoul. Ia melirik jam di ponselnya, sudah jam sepuluh lebih tapi orang-orang justru terlihat seperti baru keluar dari rumah. Ia berjalan di pedestrian sambil melihat-lihat sekeliling. Gadis ini cukup berani untuk berkeliaran sendiri malam-malam di negara yang bahkan baru pertama kali ia kunjungi. Serin berbelok ke sebuah gang yang agak kecil. Jalan di gang itu agak sepi dari jalan utama karena hanya beberapa kedai makanan  saja yang buka di sana. Tidak, sebenarnya itu malah sangat sepi, tidak seperti jalan utama yang ia lewati beberapa saat lalu.

Srak. Srak.

Tiba-tiba saja Serin mendengar suara langkah mencurigakan di belakangnya. Entah kenapa ia merasa seperti ada orang yang sedang mengikutinya.

Srak.

Serin menghentikan langkahnya, berharap suara langkah di belakang akan berjalan mendahuluinya. Namun ternyata langkah itu ikut terhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia agak takut dengan suara mencurigakan itu. Apa? Mengapa ia ikut berhenti?

Karena mulai merasa takut, Serin kembali berjalan dan mempercepat langkahnya. Ia berjalan sangat terburu-buru.

SRAK!

Suara langkah kaki itu ikut melangkah dengan cepat. Serin mulai mengeluarkan keringat dingin dan perutnya terasa mulas. Akhirnya ia memutuskan untuk berlari.

DRAP DRAP DRAP!

Langkah itu semakin mendekat. Serin yakin sekali sumber suara itu sedang mengejarnya. Ia berlari sekuat tenaga dan menggunakan kakinya untuk bergerak sejauh mungkin sampai melampaui batas tenaganya. Ia ingin sekali berteriak, namun di jalan itu sedang tidak ada siapa-siapa. Hanya ada dirinya yang sedang berjalan di daerah itu.

GREP!

Sebuah tangan meraih dirinya.

“AAAAAAAAAKKK!!!” Serin mencoba berteriak sekeras mungkin.

Orang itu menarik tangannya sambil berlari di depannya. Serin mengangkat kepalanya dan melihat siapa sosok asing yang sedang memegangi tangannya itu. Tangan itu ternyata milik seorang pria yang terlihat seumuran dengannya. Pria itu berlari sambil memegangi tangannya yang membuat Serin ikut berlari di belakang pria tersebut. Dia pikir pria ini adalah orang yang mengikutinya barusan, namun ternyata bukan.

“Anata wa dare? (Siapa kamu?)”

Pria itu tidak menjawab, ia malah menarik Serin ke sebuah gang yang sangat kecil di antara dua bangunan. Pria itu menekan bahunya dengan paksa agar ia berjongkok. Sepertinya pria ini sedang mencoba untuk membantunya bersembunyi dari orang asing yang sedang mengikutinya tadi.

“Apa yang kau lakukan-” Serin belum sempat menyelesaikan kalimatnya namun pria itu sudah terlanjur membekapnya sambil matanya menerawang ke arah sekitar, mencoba bersembunyi dari penguntit yang mengejarnya. Gadis itu melotot terkejut. Matanya menatap lelaki asing yang sedang membekap mulutnya sekarang.

Lelaki itu kira-kira seusianya, berparas tinggi, kulitnya agak gelap dan ia memiliki mata yang tajam namun terlihat memesona. Untuk sesaat Serin berpikir kalau lelaki itu cukup tampan dan jujur, Serin sedikit terpesona dengan sosoknya dan ia terpaksa mengakui bahwa kharisma lelaki ini bahkan melebihi Chanyeol yang biasanya sangat terlihat jantan. Serin hanya terdiam menatap orang asing tersebut. Kemudian mata pria itu berbalik menatap Serin.

Lelaki itu menaruh jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Serin tidak bersuara. Kelihatannya ia tidak seperti orang jahat.

“Daijobudesuka? (Kau tidak apa-apa?)” tanya pria itu dengan bahasa Jepang.

Serin mengangguk pelan dengan perasaan masih setengah terkejut. “Ya, aku tidak apa-apa.”

Orang yang sebelumnya mengekori Serin sepertinya sudah pergi. Lelaki itu akhirnya berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Serin berdiri. Serin meraih tangan itu. Setelah keadaan dirasa sudah aman, mereka segera keluar dari persembunyian.

“Belakangan ini banyak penguntit yang sedang berkeliaran di daerah sekitar sini. Kau harus berhati-hati.”

Serin mengangguk. Ia sedikit merasa lega.

Namun tiba-tiba dari arah belakang, seseorang memukul lelaki tampan tersebut menggunakan sebuah batu bata.

BRUK.

Lelaki itu jatuh terlungkup. Orang yang memegang batu bata itu adalah seorang pria yang membuntutinya barusan. Serin terkejut setengah mati.

“Tidak-”

Penguntit itu tersenyum mengerikan seperti hendak akan memangsa Serin. Ia hampir saja meraih lengan Serin namun keburu berhasil dicegah oleh lelaki tinggi berkulit gelap itu. Dengan cepat ia segera meninju penguntit tersebut dan menghujaninya dengan pukulan keras. Serin hanya dapat menutup mulutnya karena terlalu syok.

Lelaki berkulit gelap itu sedikit terengah. Ada sedikit darah yang mengalir keluar dari tengkuknya. Ia menatap Serin sesaat sebelum akhirnya jatuh pingsan.

“Oh, tidak!”

***

Guru Kim dengan tergesa-gesa memasuki ruang UGD. Ia begitu terkejut saat menerima telepon dari Serin bahwa ia hampir saja menjadi korban dari seorang penguntit mesum yang belakangan ini sedang berkeliaran di daerah itu.

“Oh Serin!”

“Saem!” Serin hampir saja menangis saat melihat Kyungsoo dan guru Kim datang. Ia segera bangkit dari duduknya namun lututnya terasa begitu lemas hingga hampir saja terjatuh. Beruntung Kyungsoo dan guru Kim dengan sigap langsung menangkap tubuhnya.

“Apa yang terjadi?”

Serin mulai menjelaskan apa yang baru saja menimpanya. Seorang laki-laki telah menjadi korban cedera karena telah menyelamatkan dirinya.

“Bagaimana ini? Aku takut sekali.” Serin mulai menangis. Ia begitu ketakutan. Tidak ada Sehun, Baekhyun ataupun Chanyeol yang melindunginya saat itu. Jika saja lelaki itu tidak menolongnya, ia bahkan tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kyungsoo mendekat dan segera merangkul Serin, menenangkan gadis itu yang masih dilanda syok.

Seorang perawat menghampiri Serin dan bertanya dengan bahasa Jepang.

“Apakah kau yang tadi datang bersama pria dengan luka di kepala?”

Serin mengangguk.

“Ia sudah sadar.”

Mendengar kalimat perawat tersebut, Serin langsung menghapus air mata di pipinya dan segera mengikuti si perawat menuju tempat lelaki itu berbaring. Lelaki yang barusan menolongnya sudah sadar, ia melihat ke arah Serin.

“Kau tidak apa-apa?” tanya lelaki itu.

“Harusnya akulah yang bertanya seperti itu. Apakah kau baik-baik saja?” Serin menatap lelaki berkulit gelap itu dengan perasaan bersalah. “Maaf, karena aku sudah membuatmu seperti ini.”

Lelaki itu tersenyum. “Tidak apa-apa. Lagipula luka di kepalaku sudah diobati.”

Serin sedikit menghembuskan napas lega karena pria ini sepertinya benar-benar orang baik. “Arigatou, karena sudah menolongku, tuan…?”

“Yamasaki. Namaku Yamasaki Kai.”

“Arigatou gozaimasu, Yamasaki-kun.”

“Panggil saja Kai.”

“Namaku Oh Serin.”

“Hanguk saram? (Orang Korea?)” tanya Kai menggunakan bahasa Korea. Serin agak terkejut mendengarnya karena lelaki itu tiba-tiba saja berbicara bahasa Korea.

“Ya.”

“Kebetulan ibuku juga orang Korea.” lelaki bernama Kai itu jadi berbicara dengan bahasa Korea walaupun logatnya masih sangat khas orang Jepang.

“Ah, begitu.”

Tiba-tiba Kyungsoo datang menghampiri Serin yang masih berbicara dengan orang Jepang tersebut. “Oh Serin.”

Serin menoleh ke arah sumber suara. “Oh, Kyungsoo-ya.” gadis itu kembali menoleh dan memperkenalkan Kyungsoo pada Kai. “Dia temanku. Kami berdua sedang melakukan pertukaran pelajar sampai libur musim panas tiba.”

“Ah, konbanwa (selamat malam).” Kyungsoo sedikit menundukkan kepalanya dan menyapa Kai. Matanya mengamati lelaki berkulit gelap itu dengan seksama. Tentu saja, ia menatap dengan sorot matanya yang tajam seperti biasa.

“Annyeonghaseyo. Namaku Kai Yamasaki.” balas Kai dengan bahasa Korea. Sejujurnya ia agak merasa tidak nyaman karena lelaki bertubuh pendek itu terus mentapnya tidak enak. Kyungsoo agak terkejut mendengar Kai berbicara dengan bahasanya. “Ibuku berasal dari Korea, jadi aku tahu sedikit.”

“Ah, begitu.”

Kyungsoo mulai mengalihkan pembicaraannya pada Serin. “Kalau kau sudah baik-baik saja, ayo kita pulang.” kata Kyungsoo tidak menghiraukan keberadaan pria asing di hadapannya.

“Oh, baiklah.” jawab Serin sambil bangun dari duduknya.

“Tunggu, Serin-ssi!” tiba-tiba saja Kai menahan pergelangan tangannya. Kyungsoo yang melihat pemandangan itu langsung melirik Kai tajam. “Aku tidak tahu apakah aku bisa bertemu lagi denganmu, jadi- mmm- bolehkah aku- meminta nomor teleponmu?”

Kyungsoo membelalakkan bola matanya. Ia tidak percaya pria ini sungguh berani meminta nomor telepon Serin padahal mereka baru saja bertemu. Serin yang kebingungan mendadak jadi canggung karena ia cukup terkejut dengan perkataan lelaki itu. Kyungsoo terus melemparkan tatapan tidak suka pada Kai dan memerhatikan gelagat Serin, ingin tahu apakah gadis itu akan memberikan nomornya atau tidak.

“Oh, boleh saja.”

Kyungsoo mendengus pelan, ia memejamkan matanya sesaat karena sebenarnya ia sedikit kesal mendengarnya. Akhirnya Serin mau memberikan nomornya pada pria asing yang telah menyelamatkannya itu. Walaupun dalam hatinya ia berharap bahwa gadis itu hanya merasa tidak enak dan ingin membalas kebaikannya pada pria itu di kemudian hari.

Setelah adegan itu, Serin dan Kyungsoo diantar pulang oleh guru Kim. Tidak ada yang berbicara selama perjalanan selain guru Kim yang tak henti mengomel dan menasihati Serin agar lebih berhati-hati ke depannya, terutama saat ia harus berpergian sendiri di negara yang asing ini.

Sesampainya di dorm, Serin dan Kyungsoo hendak masuk ke gedung masing-masing tanpa mengatakan apapun. Namun tiba-tiba saja Kyungsoo menahan pergelangan tangan gadis itu.

“Kenapa?” Serin menatap Kyungsoo bingung.

Lelaki bertubuh pendek itu sungguh ingin mengatakan sesuatu pada gadis di hadapannya. Namun ia terlihat seperti kebingungan. Otaknya memiliki banyak hal untuk dikatakan namun mulutnya tak sanggup mengatakan sepatah katapun. Ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya acap kali ia berada di hadapan gadis itu.

Kyungsoo melonggarkan tautannya dan melepas tangan Serin perlahan. “Tidak, tidak ada apa-apa.”

Serin tersenyum. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Kyungsoo-ya.” Ia menepuk bahu Kyungsoo pelan. “Selamat malam.” ucap gadis itu kemudian berbalik meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri di sana.

Kyungsoo terdiam dan hanya menatap punggung gadis itu. “Aku-” ia berbisik sangat pelan. “aku sebenarnya tidak suka,”

Kyungsoo berbicara pada dirinya sendiri, nadanya terdengar sedikit ragu, matanya tidak lepas dari sosok gadis itu. “aku hanya ingin kau melihatku.”

̶

̶

̶

-To Be Continued-

̶

̶

̶

Note    :

Sebelumnya aku mohon maaf jika ada kesalahan dalam penggunaan bahasa Jepang di sini. Aku memang nggak tahu banyak tentang bahasa Jepang dan cuma mencari sedikit referensi dari internet, jadi harap maklum ^^. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar, karena aku terbuka sekali dengan kritik dan masukan dari readers. Terima kasih karena sudah membaca. Luv! ❤

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 8)”

  1. Auw..auw..ada yang cemburu nih..kyungsoo jangan terlalu lama pendekatannya,tar kesalip cowok lain lagi..haha..semangat kyongsoo..semangat author..semangat juga yang baca…

  2. ahhh cimolku tercintaaaaa…kamyu kok manis bnget sih…jdi pengen nyulik aahhhh,,,,simpen dlam kmar huahahahahahhh
    prtama liat co berbadan gelap sudah lngsung kepikiran sikamjong..dan benar saja itu adalah kamjong wkakakakakakkakaka
    fighting!!!:)

  3. Ku suka ku suka thor😊 tolong panjangin lagi ya tiap chapternya terus jangan lama* soalnya aku nungguin banget kelanjutan ceritanya😘 semangat thor💪

  4. Aku suka banget nih thor sama jalan ceritanya. Tapi kalo boleh saran+minta tolong dipanjangin lagi ya tiap chapternya😊 terus semangat thor😍 aku bener* nunggu kelanjutan ceritanya jadi mohon lekas next untuk chapter berikutnya😙 jangan lama* thor bisa mati penasaran aku😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s