[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37)

MY LADY - CHAPTER 34

 

MY LADY

 [ Chapter 37]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31 -> CHAPTER 32 -> CHAPTER 33 -> CHAPTER 34 -> CHAPTER 35 -> CHAPTER 36

 

Mulai sekarang Jisoo namanya balik lagi ke Sena, tapi nanti bakal tetep aku selipin nama Jisoo.

***

Di salah satu sudut tempat fitnes yang ada di rumahnya, Baekhyun tengah melakukan gerakan dip untuk melatih otot-otot bagian bahu, lengan dan dadanya. Sudah hampir empat puluh lima menit ia berada di sana, dan ini merupakan alat ketiga yang dipakainya setelah treadmiil dan sit up bench. Tidak hanya ada Baekhyun, tapi juga ada beberapa anak buahnya yang juga ikut melakukan fitnes di sana. Ia mengenakan sebuah kaos ketat tanpa lengan dan sebuah celana olah raga pendek yang menampilkan otot-ototnya.

Saat di tengah olah raganya, Taeil yang merupakan pengawal pribadinya datang menghampiri. Ia membungkuk hormat sebelum menyodorkan ponsel milik Baekhyun yang menampilkan nama Kai tengah berusaha menghubunginya. “Tuan Kai mencoba untuk menghubungi anda.”

“Keraskan suaranya.” Jawab Baekhyun tanpa menghentikan kegiatannya. Setelah menerima perintah itu, Taeil langsung melaksanakannya tanpa banyak bicara. “Ada apa?” ucap Baekhyun begitu sambungan telepon mereka tersambung.

Shannon terlibat dalam sebuah kecelakaan.”

Baekhyun menghembuskan napasnya kasar. “Jika kau menghubungiku hanya karena masalah tidak penting, sebaiknya kau persiapkan hidungmu yang akan patah hari ini juga karena aku tidak menggajimu untuk melaporkan hal-hal seperti ini.” Geram Baekhyun.

Bukan itu inti masalahnya.”

“Lalu apa?”

Orang yang ditabrak Shannon.” Kai menjeda ucapannya. “Dia adalah Sena.”

“Berengsek!” Baekhyun langsung turun dari dip bar, menyambar ponselnya dari tangan Taeil. “Bagaimana keadaannya?” tanya Baekhyun tanpa menutupi perasaan khawatirnya.

“Dia hanya pingsan. Dokter yang memeriksanya mengungkapkan dia tidak mengalami luka yang berat. Hari ini juga ia bisa pulang jika ia sudah siuman dan setelah menjalani pemeriksaan lanjutan untuk lebih memastikan keadaannya.”

Baekhyun menghembuskan napasnya lega setelah mendengar penuturan Kai tentang keadaan Sena. Ia menyugar rambutnya ke belakang masih merasa sedikit tidak tenang sebelum ia melihatnya secara langsung. “Berikan aku alamat rumah sakitnya.”gumannya gusar.

Setelah itu Kai mengatakan alamat rumah sakit di mana Sena sedang di rawat. Baekhyun memutuskan sambungan teleponnya, lalu meninggalkan tempat fitnes itu dengan diikuti oleh Taeil di belakangnya.

Jika sesuatu terjadi pada Sena, maka Shannon akan mendapat balasan yang tidak akan pernah terbayangkan olehnya. Baekhyun akan pastikan itu.

***

“Aku membencimu!!”

“Aku membencimu!!” ulangnya sambil menatap Baekhyun dengan penuh kebencian di matanya.

“Aku sungguh membencimu!!” ucap Sena kembali membuat Baekhyun menatapnya dengan pandangan nanarnya. Setelah itu ia meninggalkan Baekhyun yang tidak sempat mengatakan apa-apa sebagai permintaan maafnya. Bahkan ia tidak pernah bertemu lagi dengan laki-laki itu.

**

“Kau merindukannya?” tanya Soojung yang langsung membuat Sena menundukkan wajahnya menatap perutnya yang besar, lalu mengelusnya perlahan.

“Kau pasti sangat merindukannya.” Sena hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pernyataan yang dilontarkan Soojung padanya.

Setelah berperang dengan egonya, akhirnya Sena tidak bisa lagi menutupi semuanya dan memilih untuk menyerah. “A-ku…s-sangat…me-merindukannya.” Ucapnya tersendat-sendat menahan gejolak perasaannya sendiri.

**

“Eo-mmah, kapan Jay bisa bertemu appa?” tanyanya dengan mulut penuh makanan karena Sena sedang menyuapinya.

“Kunyah dulu makanannya baru berbicara, Jaehyun-na.” Tegur Sena yang membuat Jaehyun mengerucutkan bibirnya kesal. Sena yang tidak tahan pun akhirnya menyerah. “Besok. Tapi Jaehyun harus makan yang banyak dan tidak lupa minum obat, arrachi?”

Jaehyun pun tersenyum dan mengangguk penuh semangat ke arah Sena. Tidak pernah dilihatnya Jaehyun sesemangat seperti saat ini. Bahkan dijanjikan untuk bisa bermain bola pun tidak sampai sesemangat seperti sekarang. Sementara Jaehyun begitu semangat menantikan hari esok, di lain sisi Sena berusaha menguatkan hatinya untuk menghadapi hari esok.

**

“Bola! Appa bola!” seru Jaehyun begitu semangat saat melihat beberapa mahasiswa sedang bermain sepak bola.

“J-Jaehyun, ingin bermain bola?” tanya Baekhyun.

“Nde. Appa temani Jaehyun bermain, eoh?” Melihat binar kebahagiaan dalam nada suara anak yang ada di gendongannya membuat Baekhyun tidak kuasa untuk menolaknya. Dan Sena hanya bisa mengamati semuanya dari kejauhan dengan perasaan yang campur aduk. Antara bahagia tapi ia juga merasa sedih.

**

“Eomma, Jaehyun capek.” Keluhnya sambil mengeratkan pelukkannya pada Sena dan dibalas dengan pelukkan erat juga oleh Sena.

“Tidurlah. Eomma akan memelukmu selama Jaehyun tidur.”

“Jaehyun sayang eomma dan mommy. Jaehyun juga sayang appa.”

“Eomma juga sayang Jaehyun. Tidurlah.” Sena lalu menepuk-nepuk punggung Jaehyun,  berusaha menidurkannya. Helaan napas teratur Jaehyun dirasakannya membuat Sena sesekali mengecup kening Jaehyun. Wajah Jaehyun begitu pucat, keringat dingin bercucuran dari wajahnya, dan Sena dapat merasakan detak jantung Jaehyun yang berdetak tidak normal. Dan semakin bertambahnya waktu, ia sadar, ia telah kehilangan putra kesayangannya. Byun Jaehyun.

**

“Itu bukan kewajibanmu untuk menjagaku.”

“Dengar. Kumohon dengarkan aku baik-baik, karena aku tidak akan mengulangnya. Mulai saat ini, aku akan menjagamu sekuat yang aku bisa. Bukan karena kewajiban aku menjagamu, tapi karena aku ingin menjagamu. Bukan sebagai pria yang membayarmu untuk tidur denganku, tapi sebagai pria yang jatuh cinta pada seorang wanita. Sebagai seorang pria yang ingin menjaga kekasihnya. Untuk itu, maukah kau menjadi kekasihku?”

**

“Baek?”

“Hm.”

“Dapatkah aku bertanya sesuatu?”

“Katakan saja.”

Sena kembali terlihat menimang-nimang apakah dia akan jadi bertanya atau tidak. Namun, rasa penasarannya mengalahkan segalanya, sehingga dia memberanikan dirinya untuk bertanya lebih jauh pada Baekhyun. “Apakah kau sering meniduri banyak wanita?”

Baekhyun tersenyum simpul membuat Sena menatapnya bingung. “Jika kau mengkhawatirkan aku yang sering tidur dengan banyak wanita, maka jawabannya adalah tidak. Hanya kau wanita yang pernah menjadi teman tidurku.Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Tidak ada wanita yang aku inginkan selain dirimu. Dan itu akan berlaku selamanya.”

“Sebegitu besarkah kau menyukaiku?” tanya Sena yang entah kenapa dipenuhi rasa bersalah pada Baekhyun.

“Bukan hanya menyukaimu, tapi aku sangat mencintaimu. Dan itu tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, karena saking besarnya rasa cintaku padamu.” jawab Baekhyun tulus membuat hati Sena tersentuh dengan kata-katanya.

“Apakah aku bisa bergantung padamu?” tanya Sena dengan suara yang bergetar karena menahan isakannya. Sebisa mungkin Sena menyembunyikan air matanya dari mata Baekhyun.

“Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang belum pasti kepadamu. Namun, satu hal yang perlu kau tahu, kau bisa mengandalkan dan menggantungkan hidupmu padaku. Aku akan menjaga dirimu segenap kekuatanku, dan tidak akan pernah melepaskan tanganmu lagi seperti dulu.”

 “Aku janji. Tidak akan ada wanita selain dirimu.” Ucap Baekhyun dengan senang hati menyanggupi tuntutan Sena.

**

“Aku mendengar detak jantungnya. Dug dug dug dug dug…ketukannya seirama dan aku suka mendengarkannya.” Ucap Baekhyun begitu antusias saat ia mendengarkan detak jantung janin yang berada di rahim Sena. “Aku tak sabar untuk melihatnya di dunia ini.” Kecup Baekhyun untuk kesekian kalinya pada perut Sena.

**

“B-baek…” ucap Sena gugup saat Baekhyun menggenggam tangannya.

“Aku tahu jika aku bukanlah seorang pria yang baik untukmu, tapi asal kau tahu saja, selama bersamamu, aku akan selalu berusaha menjadi pria terbaik untukmu. Aku bukanlah pria yang sempurna, tapi di depanmu aku akan berusaha menjadi yang paling sempurna. Tak terhitung sudah ke berapa kalinya aku membuat kesalahan padamu, tapi sejauh apapun aku berusaha menjauh darimu, hatiku selalu terikat padamu. Dan aku berharap jika hatimu juga terikat padaku. Hidup tanpamu selama tujuh tahun terakhir ini terasa hampa. Semuanya kosong, dan hambar. Tapi saat Tuhan mempertemukan kita kembali, aku merasa napas kehidupanku telah kembali, dan aku bertekad untuk tidak melepasmu untuk yang kedua kalinya lagi.” Baekhyun menjeda kalimatnya dengan mengambil napas dalam sebelum kembali melanjutkan perkataannya. “Untuk itu,  maukah kau menikah denganku?”

**

Sena kembali mematut dirinya di depan cermin. Memperhatikan setiap detail perubahan yang terjadi padanya hari ini. Senyuman bahagia terus tercetak di bibirnya disamping debaran jantungnya yang tidak bisa ia kendalikan. Antara bahagia dan cemas terus menghantuinya saat ini. Suara pintu di buka membuat Sena mengalihkan tatapannya.

“Apa pesonaku telah menyihirmu menjadi sebuah patung, my lord?”

“Kau bukan hanya telah menyihirku menjadi patung, my lady, tapi kau juga telah menyihirku untuk terus jatuh cinta pada dirimu, sayangku.” Jawab Baekhyun sambil melangkahkan kakinya menuju Sena. Baekhyun merangkul pinggang Sena, membawa semakin merapat ke tubuhnya. “Aku tidak sabar untuk melepaskan gaun ini dari tubuhmu, my lady.” Bisik Baekhyun sambil mengelus pipi Sena dengan lembutnya.

“Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan itu nanti malam, my lord.”

“Akan kuingat selalu janjimu itu, my lady.”

**

“Tundukkan kepalamu, nona.” Ucap Yuta membuat Sena kembali menoleh ke depan. “Kumohon tundukkan kepalamu, nona.” Perintah Yuta lagi karena Sena masih saja bergeming di tempatnya. Ia merasa menjadi lambat dalam memahami situasi yang sedang terjadi saat ini.

“NONA!!” teriak Yuta lagi membuat kesadaran Sena sepenuhnya pulih. “MENUNDUKK!!” seketika itu juga Sena menundukkan, dan tepat saat Sena menundukkan terdengarlah bunyi letusan senjata api yang berhasil memecahkan kaca jendela yang berada tepat di samping Sena.

**

Ketakutan begitu mencekamnya saat suara tembakan seperti menghantuinya membuat ia tanpa sadar terus memanggil nama orang yang tidak ada bersamanya di sana. Baekhyun. Perasaan takut yang dideranya membuat Sena merasakan sedikit tendangan dari janinnya. Sena menghentikan langkahnya sejenak menahan rasa sakit akibat dari tendangan itu.

Sebuah timah panas pada kiri Sena dan seketika itu juga tubuh Sena jatuh terduduk akibat tembakan itu. Rasa sakit langsung menjalari seluruh tubuhnya, membuat Sena berpikir akan menyerah saja. Tapi seakan Tuhan masih menginginkannya hidup, tendangan di perut Sena menyadarkan Sena untuk tidak menyerah sekarang, karena itu Sena bangkit berdiri untuk kembali melanjutkan langkah kakinya.

**

Sena menolehkan kepalanya kala mendengar suara decitan ban yang dipaksa berhenti saat kecepatannya sedang tinggi. Sebelum dapat mengelak, tubuhnya sudah terpental ke atas karena tidak bisa menghindari benturan itu. Sepersekian detik berikutnya tubuh Sena sudah terjerembap di atas permukaan aspal. Sena tidak bisa merasakan tubuhnya saat ini. Rasa sakit seakan hilang dari tubuhnya. Tapi satu hal yang dirasakannya, sesuatu yang terus mengalir dari dalam tubuhnya.

Gerakan-gerakan resah dapat ia rasakan dari perutnya. Seperti sesuatu mencari jalan keluar, dan Sena kenal perasaan itu. Ingin rasanya ia mengusap lembut perutnya untuk menenangkan bayinya, tapi ia tidak bisa. Ia seperti orang lumpuh yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Napasnya memberat dan ia dapat merasakan sesak yang begitu mencekik paru-parunya. Gerakan dari bayinya pun semakin lama semakin lemah seiring dengan semakin lemahnya tubuh Sena. Hal terakhir yang diingatnya sebelum menutup mata adalah prianya yang sedang menunggunya di altar.

“Baek….hyun….”

***

 

“Baekhyun!!” Sena langsung membuka matanya. Ia menatap kosong ke langit-langit ruangan sebelum kesadaran kembali menghantamnya. Sena meraba pipinya yang basah akan air mata. Kilasan masa lalunya membuatnya tanpa sadar menitikan air matanya di tengah ketidaksadarannya.

Sena meraba perutnya yang rata. Hatinya kembali sakit saat ia mengingat telah kehilangan calon anak keduanya. Kejadian yang mencekam membuatnya harus merasa kehilangan untuk kedua kalinya. Bahkan ia belum sempat melihatnya lahir ke dunia, tapi Tuhan sudah kembali mengambilnya. Sena menutup bibirnya dengan menggunakan telapak tangannya untuk meredam isak tangisnya.

Ingin sekali ia berteriak untuk meringankan rasa sakitnya, tapi ia tidak bisa. Dadanya sungguh sesak. Ia merasa Tuhan begitu tidak adil akan hidupnya. Setelah ia kehilangan bayinya, ia juga harus kehilangan ingatannya. Bukankah itu sungguh tidak adil? Kenapa ia tidak bisa mengecap sedikit saja kebahagiaan bersama orang-orang yang dicintainya? Kenapa ia harus dipisahkan lagi dengan orang-orang yang dicintainya?

Di saat semua pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya, seorang perawat masuk ke dalam ruangan Sena untuk memeriksa keadaannya. Begitu terkejutnya ia saat melihat Sena sudah sadar tapi dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Menangis dengan memilukannya. Membuat siapa saja yang melihatnya dapat merasakan betapa sakitnya ia.

“Anda baik-baik saja?” tanya perawat itu sambil menyentuh lengan atas Sena. Sena menggelengkan kepalanya tanpa menghentikan tangisannya. “Saya akan panggilkan dokter untuk memeriksa anda.” Ucap perawat itu lagi sebelum ia meninggalkan Sena kembali sendirian di dalam kamar inapnya.

Namun, sebelum dokter dan perawat itu tiba, Sena langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia mengabaikan pusing yang masih di dera kepalanya. Mencabut secara paksa jarum infus sebelum melangkah keluar dari kamar tersebut. Tetesan darah keluar secara terus menerus dari urat nadi Sena yang terluka karena jarum infus yang dilepas secara paksa.

Sena berjalan di lorong rumah sakit dengan terpogoh-pogoh, dan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir dari matanya. Beberapa orang yang berpapasannya dengannya hanya bisa menatap Sena iba karena setiap ditanya, Sena menjawabnya dengan sebuah gelengan kepalanya saja. Membuat semua orang bingung harus bersikap seperti apa padanya.

Saat ia sudah menginjakkan kakinya di lobby, pemandangan di depannya membuat hatinya semakin sakit. Jiwanya yang terluka, semakin tersakiti kala melihatnya walaupun ia tahu jika itu hanya akal-akalan si wanitanya saja untuk membuatnya semakin menderita.

Pandangan matanya bertemu dengan manik mata yang kembali mengingatkannya pada perasaan bahagia, merasa begitu dicintai, tapi juga memberikan rasa sakit yang begitu dalam. Betapa ia merindukan mata itu. Mata yang selalu menatapnya setiap hari. Mulai dari membuka mata, sampai ia kembali menutup matanya lagi.

“Baek…hyun…” lirihnya disertai setetes air mata turun dari mata indahnya. Nama pria yang begitu dibencinya tapi juga begitu dicintainya. Sampai dadanya sesak karena terlalu mencintainya. Dari dulu, sekarang, dan di masa depan. Bahkan disaat ia tidak mengingat pun, hatinya tetap memilihnya sebagai pria yang dicintainya.

~ tbc ~

Chapter ini lebih banyak flashbacknya. Kenapa? /Jawabannya karena aku ingin aja./hehe Flashbacknya kejauhan? /Biarin. Suka-suka aku. Toh yang nulis aku./hehe

Tuh, Sena nya udah aku buat inget lagi. Jangan tanya aku lagi kapan Sena inget, ya. /reader : kapan Sena balik sama Baekhyun? /Me : hadeuh

Sampai jumpa di chapter selanjutnya :-*

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

Iklan

67 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 42) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 41) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s