[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 23)

my-lady-chapter-22

 

MY LADY

 [ Chapter 23]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22

Baekhyun menatap tajam wanita yang sedang berjalan ke arahnya dengan masih senyuman yang seakan tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Baekhyun. Ingin sekali ia berlari keluar dari gereja saat ini, tapi semuanya ia urungkan saat kata-kata sang ayah terngiang-ngiang di otaknya.

Jika kau menghancurkan acara ini, maka jangan harap kau bisa menemukan keluarga dari orang yang kau cintai itu akan bebas menghirup udara.

Baekhyun mengepalkan tangannya saat mendengar kata-kata ancaman itu dari orang yang tidak ingin ditemuinya saat ini. Sudah Baekhyun duga, kedatangannya di acara pernikahannya saat ini membuat Baekhyun curiga, karena tidak pernah sekalipun ayahnya itu akan peduli pada kehidupan pribanya. Tapi sekarang semuanya berubah, dan Baekhyun membencinya.

Sebelum Shannon tepat berdiri di depannya, tidak lupa Baekhyun memberi isyarat pada Kai untuk mencari di mana keberadaan calon istrinya yang asli, bukan yang sekarang sedang berjalan ke arahnya saat ini. Kala Shannon sudah berdiri beberapa langkah di depannya, Baekhyun masih saja tidak melangkahkan kakinya untuk menyambut calon pengantinnya itu. Sebuah suara deheman yang cukup keras menyandarkan Baekhyun dari lamunannya yang penuh amarah.

Dengan berat hati, Baekhyun melangkahkan kakinya menuju mempelainya. Melihat Shannon tersenyum lebar membuat Baekhyun muak seketika, tapi demi menjaga kesopanan Baekhyun menahan itu semua. Ia uluran tangan yang diberikan oleh ayah Shannon agar Baekhyun dapat menggantikannya untuk menggenggam tangan Shannon.

“Jagalah putriku baik-baik.”

Baekhyun hanya menunjukkan senyum sopannya sebagai jawaban. Baekhyun berbisik ke telinga Shannon saat ia sudah berada di sampingnya. “Batalkan pernikahan ini sekarang juga atau kau akan menyesalinya seumur hidupmu.” Desis Baekhyun penuh amarah sebelum mereka sampai di depan pendeta.

“Aku tidak akan pernah membatalkannya.” Jawab Shannon sambil berbisik membuat Baekhyun menggeram marah.

Lalu mereka berdiri di depan pendeta yang akan saksi janji suci pernikahan antara Shannon dan Baekhyun. Dengan muka dinginnya, Baekhyun mengikuti segala macam rangkaian acara pernikahan tersebut. Baekhyun mengucapkan janji sucinya dengan nada paling dingin yang pernah ia ucapkan, dan Shannon menyadari itu. Sekuat kuat tenaga ia tetap tersenyum walaupun dalam hati ia juga terluka karena suaminya tidak menginginkan keberadaannya.

Baekhyun sedikit mengucapkan syukur saat ia harus memasangkan cincin di jari manis Shannon, karena cincin yang digunakannya bukan cincin yang ia persiapkan untuk Sena. Cincin dengan mata berlian yang cukup besar itu melekat cantik di jari lentik milik Shannon tapi tetap saja tidak bisa meruntuhkan dinding es di hati Baekhyun. Dengan enggan Baekhyun menyerahkan jari manisnya untuk dipasangkan cincin oleh Shannon. Lagi-lagi Baekhyun bisa bernapas lega karena cincin yang digunakannya saat ini bukan cincin pernikahannya dengan Sena.

Setelah acara pertukaran cincin itu, beberapa tamu undangan yang hadir meneriaki agar Baekhyun dan Shannon saling berciuman karena pendeta juga sudah mengizinkan Baekhyun untuk mencium istri barunya. Ia menatap tajam Shannon yang sedang merona malu karena semua orang meneriakinya untuk berciuman dengan Baekhyun.

Baekhyun tersenyum kecut menatap Shannon yang juga sedang menatapnya, lalu meraih pinggang Shannon untuk lebih mendekat padanya. “Welcome to the hell, my wife.” Bisik Baekhyun dingin membuat tubuh Shannon menegang seketika sebelum ia merasakan manisnya bibir Baekhyun yang menciumnya dengan ciuman kasar. Memperlakukannya seperti wanita murahan yang biasa melayani siapa saja yang datang padanya.

 

 

***

 

Tubuh Sehun membeku saat melihat tubuh yang terkulai lemas di depannya tidak bergerak sama sekali. Kelebatan bayangan kejadian dulu membuat dada Sehun sesak seketika, tapi itu berlangsung lama. Panggilan kemarahan Kyungsoo menyadarkannya dari lamunan dan membuatnya sekuat tenaga harus menekan traumanya dalam-dalam.

“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Kyungsoo saat Sehun berjalan dengan enggan ke arahnya.

Tubuh Sehun semakin menegang saat ia memperhatikan wajah penuh darah itu, dan seketika ia mengutuki kebodohannya karena tidak langsung menghampirinya.

“Apakah kau akan menjadi patung terus sambil memperhatikannya meregang nyawa?” ucapan Kyungsoo kembali menyadarkan Sehun dari rasa keterkejutannya. “Denyut nadi semakin lemah dan napasnya juga semakin melemah.” Terang Kyungsoo saat Sehun sudah ikut berjongkok di depan wajah yang semakin lama semakin pucat.

“Aku akan menghubungi ambulan.” Ucap Sehun saat suaranya sudah kembali lagi.

“Kau hanya akan membuatnya mati dalam keadaan menunggu.” Sehun mengernyitkan keningnya bingung tapi ia tetap tidak mengeluarkan suaranya. “Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit sekarang juga.”

“Dengan menggunakan apa?”

“Tentu saja mobil kita. Kau kira kita akan membawanya dengan berjalan kaki?”

“Tapi bukankah itu akan membuat luka dalamnya semakin parah?”

“Itu jika kau tidak mengangkatnya dengan hati-hati.”

“Lalu siapa yang akan mengangkatnya?”

“Tentu saja dirimu. Tenagaku tidak akan sanggup membopongnya sendirian, ditambah dia memakai gaun pengantin yang terlihat sangat berat. Hanya kau yang sanggup membopongnya sendirian.” Jelas Kyungsoo membuat Sehun membulatkan matanya tidak percaya. “Aku akan membawa mobilnya ke sini.” Sebelum Sehun mengungkapkan protesannya, Kyungsoo segera berjalan ke arah mobil yang terparkir cukup jauh untuk membawanya mendekati tubuh wanita yang telah mereka tabrak.

Selepas kepergian Kyungsoo, Sehun kembali memperhatikan wajah terlelap itu. Hatinya teriris sakit saat mengenali siapa yang ia tabrak tadi. Dibelainya wajah tersebut dengan sangat lembut, takut ia akan tambah menyakitinya jika ia sedikit menekannya saja. Dengan hati-hati Sehun meletakkan tangannya di sekitar pundak wanita itu dan tangan satunya Sehun letakkan di bawah lututnya. Sehun menyandarkan kepala wanita itu di dadanya karena ia takut ada beberapa tulang di lehernya yang patah jika ia membiarkannya terkulai lemah.

Sebisa mungkin Sehun mengangkatnya dengan pelan-pelan agar tidak semakin membuatnya terluka parah. Jika bukan karena stamina dan kekuatan fisik Sehun yang prima, bisa dipastikan Sehun tidak akan sanggup membopong seorang wanita pingsan dengan tambahan beberapa kilo dari gaun yang digunakannya. Sesaat setelah Sehun berhasil untuk dapat berdiri tegak, ia kembali dikejutkan dengan muntahan darah yang dikeluarkan dari bibir yang selalu didambakannya itu. Sehun bertambah panik saat helaan udara panas yang keluar dari hidung wanita itu semakin samar untuk dirasakannya.

Sehun segera memasukan tubuh lemah itu ke dalam mobil yang sudah Kyungsoo parkirkan dengan tempat ia berdiri. “Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.” Perintah Sehun dengan nada yang penuh kekhawatiran. Tidak pernah sekalipun ia merasa khawatir seperti ini selama hidupnya, dan Sehun benci merasakannya karena itu membuatnya tidak nyaman.

Saat mobil mulai melaju meninggalkan tempat itu, tanpa sengaja Sehun bersitatap dengan seorang pria yang sedang berdiri di pinggir jalan dengan menggunakan stelan hitam dan sebuah kaca mata hitam untuk menyembunyikan wajahnya. Walau hanya beberapa detik saja saling berpandangan, hal itu berhasil membuat Sehun merasakan firasat yang tidak enak. Sehun menolehkan kepalanya untuk menatap wajah wanita yang sudah ditabraknya sebelum ia kembali memfokuskan perhatiannya ke jalan yang ada di depannya. Berusaha menyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Sesekali Sehun akan menengokkan kepalanya untuk melihat keadaan wanita yang tergeletak di jok belakang mobil yang digunakannya. “Tak bisakah kau mengemudikannya dengan lebih cepat? Ia bisa meninggal sebelum kita sampai di rumah sakit.” Protes Sehun dengan cara mengemudi Kyungsoo yang menurutnya seperti siput.

“Kau diamlah. Aku sedang berusaha untuk berkonsentrasi, bodoh!!” rutuk Kyungsoo membuat Sehun kembali terdiam.

Kyungsoo memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk IGD dan langsung bergegas untuk mencari petugas yang berjaga di sana. Sehun membuka pintu belakang mobil agar para petugas yang datang bisa dengan mudah membopong tubuh wanita itu keluar dari dalam mobilnya. Sehun kembali meringis saat melihat mulut yang sudah pucat pasi itu kembali mengeluarkan darahnya sesaat setelah ia di baringkan di sebuah bangsal rumah sakit.

Gaun pengantin putih bersihnya benar-benar sudah berubah warna menjadi warna sepekat darah. Tidak ada lagi yang tersisa dari warna putihnya. Beberapa orang yang sedang berada di IGD mengerubungi di sekitar bangsal itu karena mereka begitu penasaran dengan apa yang terjadi. Beberapa dokter jaga ikut berdesakan untuk melihat rekannya yang sedang berjuang untuk menyelamatkan seorang pengantin wanita itu.

Seorang perawat menutup tirai untuk menutupi bangsal itu agar semua orang tidak memperhatikan apa yang akan mereka lakukan sebagai tindakan pertolongan pertama. begitu tirai ditutup, semua orang membubarkan diri mereka masing-masing karena menyadari bahwa di dalam sana ada seseorang yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya untuk tetap bernapas.

Setelah semua orang membubarkan diri, sekarang hanya tinggal Sehun yang menatap kosong ke arah tirai di depannya. Pikirannya begitu kosong, bahkan untuk berdo’a sekalipun. Mendadak semuanya seakan menghilang dari dunianya, meninggalkanny sendirian mematung di sana. Suara-suara dokter yang silih berganti berusaha untuk menyelamatkan nyawa wanita yang sudah ditabraknya tidak bisa di dengar oleh Sehun. Semuanya terasa gelap bagi Sehun.

Tapi semua itu lenyap saat ia merasakan sebuah tepukan halus di pundaknya menyadarkan ia kembali pada kenyataan di hadapannya. Perlahan ia menoleh untuk melihat siapa yang telah menepuknya. Tatapan kebingungan ia dapatkan sesaat setelah ia bersitatap dengan mata bulat Kyungsoo.

“Aku sudah mengurus administrasinya.” Ucap Kyungsoo yang dijawab anggukkan kepala oleh Sehun. Lalu mereka kembali terdiam sampai seorang perawat keluar dari balik tirai dengan keringat membasahi wajahnya. Memperlihatkan betapa ia sudah bekerja keras untuk menyelamatkan satu nyawa yang sedang ditanganinya saat ini.

“Apakah anda keluarga dari pasien korban kecelakaan ini?” tanyanya dengan napas terengah-engah seakan-akan ia habis lari marathon.

“Bu…”

“Iya, kami keluarganya.” Jawab Sehun cepat, memotong perkataan Kyungsoo yang akan menyanggahnya.

“Kalau begitu kami membutuhkan persetujuan anda untuk menandatangi surat-surat yang kami perlukan sebelum operasi dilaksanakan.”

“Operasi?”

“Iya, kami harus segera mengeluarkan peluru yang menembus pundaknya. Selain itu juga kami harus mengeluarkan janin yang dikandungnya karena itu akan membahayakan hidupnya. Pendarahan akibat keguguran cukup banyak menguras darahnya dan ini tidak baik jika kita terus membiarkannya seperti ini.”

“Janin?” tanya Sehun begitu terkejut dengan fakta yang didengarkannya saat ini.

“Iya, janin. Saya rasa belum mengetahui kehamilan istri anda ini.” Jawab perawat tersebut saat memperhatikan penampilan Sehun yang sedang memakai sebuah stelan jas dan kemeja putih yang sudah berubah warna menjadi merah darah.

“Kami membutuhkan persetujuan anda secepatnya, tuan.” Ucapnya lagi membuat Sehun kembali tersadar dari keterkejutannya.

“Lakukan apapun untuk menyelamatkannya.” Jawab Sehun pada akhirnya. Lalu setelah itu, perawat itu pergi entah kemana karena sesaat kemudian ia telah kembali lagi dengan membawa setumpuk berkas-berkas untuk memulai operasi. Dengan perasaan campur aduk, Sehun menandatangi surat-surat tersebut.

Setelah selesai dengan semua administrasi pelaksaan operasi, tirai yang menutupi bangsal yang Sehun tunggui akhirnya terbuka. Hati Sehun kembali berdenyut nyeri saat ia melihat berbagai alat kesehatan untuk menunjang hidup seseorang terpasang di tubuh wanita itu. Selang infus dan selang transfusi darah melekat di tangannya. Gaun pengantin yang digunakannya pertama kali saat masuk ke IGD ini sudah teronggok tidak berharga di lantai.

Selepas bangsal itu di dorong menuju ruang operasi, Sehun berjalan mendekat ke arah tumpukkan gaun merah itu. Ia mengelus perlahan pada potongan kain yang sengaja digunting untuk menyelamatkan nyawa pemakainya. Sebuah tepukan lagi di pundaknya membuat Sehun kembali sadar.

“Kau yakin dengan semua ini? Kita bahkan tidak tahu di mana keluarganya berada?” tanya Kyungsoo yang berdiri tepat di belakang Sehun.

“Aku akan lebih menyalahkan diriku sendiri jika sampai tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Setidaknya aku sudah berusaha untuk menyelamatkannya.” Jawab Sehun masih memandangi gaun yang ada di tangannya dengan perasaan sedih.

“Baiklah, jika itu memang keinginanmu.” Kyungsoo lalu berbalik untuk berjalan ke arah ruang operasi berada, tapi langkah kakinya terhenti seketika saat Sehun memanggilnya.

Hyung, bisakah kau merahasiakan keberadaannya di rumah sakit ini?”

Kyungsoo mengernyit bingung dengan permintaan Sehun yang menurutnya ambigu. “Apa maksudmu?”

“Jika ada yang bertanya tentang keberadaannya, bisakah kau menjawabnya bahwa kau tidak mengetahuinya? Aku merasa ia sedang terancam dan entah kenapa aku tidak ingin siapa pun mengetahui keberadaannya di rumah sakit ini.”

“Bagaimana kalau yang bertanya adalah keluarganya?”

“Jawab saja kau tidak tahu.”

Kyungsoo memandang Sehun selama beberapa detik sebelum kembali membalikkan badannya tanpa mengiyakan atau menolak permintaan tersebut. Tapi lagi-lagi langkahnya harus terhenti saat Sehun kembali memanggilnya.

“Bisakah kau mengecek daftar siapa saja orang yang menikah di pulau ini? Dan kalau kau menemukan ada pernikahan yang gagal karena hilangnya pengantin wanita, maka beritahu jika pengintan wanita itu ada di rumah sakit ini.”

“Kau sungguh merepotkan.” Rutuk Kyungsoo sebelum pergi meninggalkan IGD untuk memenuhi permintaan Sehun. Ia segera menghubungi Joonmyun untuk dimintai tolong mencari pernikahan yang gagal itu, sedangkan ia sendiri mengunjungi setiap bagian administrasi untuk dimintai kerjasama agar tidak membocorkan adanya korban kecelakaan yang masuk ke rumah sakit saat itu.

Sehun melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ruang operasi. Ia mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi. Hati sungguh gundah saat wanita yang tanpa sadar dicintainya sedang berjuang di ruangan tersebut. Sehun kembali memutar semua kejadian yang pernah terjadi antara dirinya dengan wanita tersebut, sampai pada ingatannya kembali memutar perkataan yang diucapkan oleh seorang perawat beberapa saat lalu yang mengatakan jika wanita yang dicintainya itu sedang mengandung.

Melihat wanita itu sedang memakai gaun pengantin saja sudah membuat hati Sehun remuk seketika, apalagi ditambah dengan fakta bahwa ia sedang mengandung anak dari pria yang tidak jelas asal usulnya. Sehun mengepalkan telapak tangannya tanpa sadar. Ia membenci semua fakta yang didapatnya hari ini. Ia membenci semuanya.

Sehun menatap nanar pintu ruang operasi yang tertutup rapat itu sambil berucap di dalam hatinya. Kenapa takdir begitu kejam dengan mempertemukan kita kembali dalam keadaan seperti, cintaku. Lee Sena. 

 

 

***

 

“Bagaimana hasilnya?”

“Kami telah berhasil menembaknya dan ia telah ditabrak oleh sebuah mobil yang kebetulan sedang lewat. Tapi sayang, pengemudi mobil itu membawanya ke rumah sakit dan kami tidak bisa memastikan keadaannya seperti apa karena pengemudi itu terus bersamanya.”

“Untuk sekarang semuanya tidak akan menjadi masalah, asalkan Baekhyun tidak mengetahui keberadaannya.”

“Kami akan berusaha untuk menyembunyikannya.”

“Bagus. Jika ia sudah sadar, bunuh ia langsung. Jangan biarkan ia hidup.”

“Baik. Saya mengerti.”

 

***

 

Baekhyun berjalan dengan sangat cepat menuju kamar pengantinnya, sedangkan Shannon terseok-seok berjalan di belakangnya. Gaun dipakainya tidak memungkinkan untuknya berjalan secepat yang Baekhyun lakukan. Setelah pesta kebun sebagai perayaan atas pernikahannya, Baekhyun segera meninggalkannya untuk kembali ke dalam villa tanpa repot-repot menunggunya.

Shannon tersenyum bahagia mengingat momen beberapa jam terakhir ini. Semuanya seakan mimpi yang menjadi kenyataan dan Shannon tidak mau terbangun dari mimpi indahnya itu. Tapi semua lamunan Shannon kembali buyar saat ia mendengar suara bantingan pintu yang berjarak beberapa meter di depannya.

Dengan langkah cemas ia mendekati pintu yang dibanting itu dan membukanya secara perlahan. Shannon tidak dapat menemukan Baekhyun di dalam kamar pengantin mereka dan hanya menemukan jas yang digunakan Baekhyun tergeletak begitu saja di atas ranjang pengantinnya. Mengingat ini adalah malam pertama mereka, membuat pipi Shannon merona merah membayangkan hal-hal apa saja yang akan dilakukan Baekhyun di malam pertamanya ini. Jantungnya bergedup kencang tapi itu tidak membuat Shannon merasa tidak nyaman. Malah sebaliknya, Shannon begitu menantikan momen-momen indah itu sepanjang hidupnya.

Lamunan Shannon kembali buyar saat ia mendengar sebuah dentuman keras dari pintu yang ditutup oleh Baekhyun. Shannon mengalihkan pandangannya untuk menatap suami tercintanya itu, tapi balasan yang diberikan oleh Baekhyun tidak jauh dari tatapan dingin yang biasa ia berikan pada Shannon. Bahkan saat ini tatapan tajam nan dingin itu terasa lebih berkali-kali lipat setelah Shannon menjadi istrinya. Tidak seperti dulu, dan Shannon tahu apa penyebabnya tapi ia berusaha untuk tidak peduli. Karena asalkan ia tetap bersama Baekhyun, maka semuanya akan baik-baik saja.

Baekhyun melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana Shannon berdiri tanpa memutuskan kontak mata di antara mereka. Begitu Baekhyun berdiri tepat di depan Shannon, ia merasa semua udara tersedot oleh kehadiran Baekhyun dan Shannon dibuat sesak napas olehnya. Wajahnya semakin merona malu tatkala Baekhyun memperhatikannya dari jarak yang begitu dekat ini. Semua rasa gugup Shannon hilang saat ia mendengar kata-kata dingin Baekhyun yang begitu menusuk hatinya.

“Jika kau membayangkan aku akan membawa ke atas ranjang itu dan menidurimu sebagaimana mestinya, maka pikiranmu itu salah besar. Karena tidak akan ada satu wanita pun yang akan aku bawa ke ranjangku kecuali Sena. Bahkan dengan berubahnya statusmu sekarang ini tidak akan mempengaruhiku sampai kapan pun. Camkan itu, istriku.”

Tubuh Shannon begitu menegang setelah Baekhyun mengatakan hal itu dan meninggalkan dirinya sendirian di kamar pengantinnya. Suara dentuman dari pintu yang ditutup membuat Shannon jatuh terduduk seketika. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa sakit yang ditorehkan Baekhyun saat mengungkapkan secara terang-terangan jika ia menolak Shannon sebagai istrinya. Air mata itu tidak bisa lagi ditahannya hingga akhirnya mengalir di kedua pipinya.

Sekuat tenaga ia terus membesarkan hatinya bahwa semua ini tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Shannon tidak akan menyerah begitu saja dengan penolakkan Baekhyun ini. Ia sudah terbiasa akan penolakkan dari pria tersebut, dan kali ini, ia juga tidak akan menyerah. Ia akan bertahan dan berharap suatu hari nanti Baekhyun akan menerimanya. Melupakan wanita yang dicintainya dan berbalik menjadi mencintainya. Cinta bisa datang karena terbiasa. Dan Shannon akan membuat Baekhyun terbiasa dengan kehadirannya hingga benih-benih cinta itu tertanam di hatinya. Shannon akan bersabar untuk menunggu itu semua.

Di ruangan lain, Baekhyun sedang meminum whisky dengan rakusnya. Hari seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya menjadi hari yang paling buruk yang pernah terjadi padanya. Calon istrinya hilang, dan digantikan oleh wanita lain yang begitu dibencinya. Ancaman dari ayahnya untuk tidak menggagalkan pernikahan ini membuat Baekhyun marah bukan main. Semuanya begitu buruk karena sampai saat ini ia masih tidak mengetahui bagaimana keadaan wanita yang sangat dicintainya itu.

PRAANGG….

Baekhyun melemparkan gelas yang berisi whisky di tangannya itu ke arah dinding hingga membuatnya menjadi serpihan kecil-kecil yang tersebar di lantai ruangan yang di tempatinya saat ini. Ia lalu meneguk cairan whisky lainnya langsung dari botolnya, berharap semua yang terjadi hari ini hanya mimpi buruknya dan saat keesokkan hari ia akan terbangun dari mimpi buruknya ini. Baekhyun menutup matanya sambil menggenggam erat botol yang ada di tangannya.

Suara pintu dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu membuat mata Baekhyun kembali terbuka untuk menatap ke depan. Ia mendengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya, dan tanpa Baekhyun menolehkan kepalanya ke belakang pun Baekhyun tahu siapa orang itu.

“Aku ingin kau menyiapkan sesuatu untukku saat ini juga.”

“Apa itu?”

“Buatkan aku sebuah surat cerai.”

Orang yang dimintai tolong oleh Baekhyun itu berdiam selama beberapa saat. Ia berpikir keras untuk menyetujui permintaan gila dari sahabatnya itu atau ia akan menolaknya mentah-mentah. Tapi dilihat dari betapa tertekannya ia saat ini, membuatnya tidak kuasa untuk menolak permintaan gila tersebut.

“Channie?”

“Baiklah. Akan aku buatkan apa yang kau minta kurang dari satu jam, Byunnie.”

“Terima kasih.”

“Sudah seharusnya aku menolongmu.” Ucapnya sebelum ia pergi meninggalkan Baekhyun sendirian di ruangan itu. Ia akan melakukan apapun untuk membuat Baekhyun kembali tersenyum, bahkan jika ia harus membunuh seorang sekalipun.

Selepas kepergian Chanyeol, Baekhyun menghubungi Kai yang sampai saat ini belum mengabarinya perihal keadaan Sena. Pada dering kedua, Kai mengangkat panggilan Baekhyun membuatnya mendesah lega.

“Bagaimana?”

“Aku punya kabar baik dan kabar buruk mengenai Sena.”

“Tidak usah berbelit-belit, Kai. Aku ingin mendengar semuanya.”

“Baiklah. Kabar baiknya aku menemukan lokasi kecelakaan mobil yang ditumpangi Sena.” tanpa sadar Baekhyun semakin mengeratkan cengkramannya dan mulut terkatup rapat saat mendengar mobil yang dikendarai Sena mengalami kecelakaan. “Dan mobil itu hangus terbakar.”

“Berengsek!!!” umpat Baekhyun membuat tubuhnya seketika dipenuhi buliran keringat dingin karena tidak sanggup membayangkan keadaan Sena yang tubuhnya terbakar bersamaan dengan mobil yang ditumpanginya. “Bagaimana keadaan Sena?” lanjutnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Di seberang sana Kai menghembuskan napasnya dalam sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun. “Kabar buruknya adalah aku tidak menemukan tubuhnya.” Jawab Kai yang membuat Baekhyun kembali rileks dari ketegangan yang ia ciptakan sendiri. “Aku tidak bisa memastikan jika ia masih hidup atau sudah meninggal. Aku sudah mencarinya ke setiap rumah sakit ataupun klinik yang ada di pulau Jeju tapi hasilnya tetap nihil. Tubuhnya seakan hilang di telan bumi. Seakan seseorang sedang menyembunyikannya dari kita.”

“Mereka akan kubuat menyesali perbuatannya karena telah berani-beraninya menyembunyikan Sena dariku.” Ungkap Baekhyun dengan penuh tekad dalam setiap ucapannya. “Terus kau cari Sena sampai kau menemukan titik terang di mana keberadaannya. Entah itu dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal, aku ingin melihat tubuhnya dengan mata kepalaku sendiri.”

“Aku akan berusaha semaksimal mungkin.”

“Bagus. Aku tunggu kabar selanjutnya darimu, Kai.”

Setelah itu Baekhyun mengakhiri panggilan dengan Kai. Ia lalu meneguk botol minumannya dan membenturkannya dengan keras ke arah meja marmer di depannya hingga botol tebal itu seketika pecah karena begitu kuatnya Baekhyun menghantamkannya. Serpihan-serpihan kaca menggoreskan luka di telapak tangannya, tapi Baekhyun tidak peduli. Karena rasa sakit di hatinya akibat kehilangan Sena lebih besar dari rasa sakit di telapak tangannya tersebut.

Ia mengepalkan tangannya dan menggeram marah saat ia memikirkan kembali semua perkataan Kai. Seseorang sedang berusaha mencelakai wanitanya dan Baekhyun tidak menyukainya. Siapa saja yang mencoba mencelakai wanitanya itu, maka ia telah salah memilih lawan. Karena mereka telah membuat singa di dalam tubuh Baekhyun bangun dari tidurnya.

Aku akan membunuh siapa saja yang telah berani melukaimu, sayang. Tunggu saja pembalasan dariku, karena mereka akan kubuat mati perlahan-lahan hingga mereka akan mengemis agar segera dicabut nyawanya saat itu juga dari pada lebih lama menahan siksaan dariku. Aku akan membalas mereka semua. Semuanya. Janji Baekhyun di dalam hatinya.

 

~ tbc ~

52 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 23)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s