[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 24)

MY LADY - CHAPTER 24.jpg

MY LADY

[ Chapter 24]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23

“Bagaimana keadaannya?” tanya Sehun kepada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.

“Nyawanya masih bisa kami selamatkan,tapi tidak dengan janinnya. Ia meninggal sebelum kami bisa memberikan pertolongan padanya. Walaupun kondisinya sudah selamat, kita masih belum bisa bernapas lega karena masa kritis dari pasien masih belum terlewati. Kita hanya bisa berdo’a semoga ia bisa melewati masa-masa kritis tersebut dengan baik. Untuk saat ini hanya bisa itu saja yang bisa saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi dulu.” Jelas dokter tersebut dengan masih menggunakan jubah operasinya.

Setelah menjelaskan hal itu, dokter laki-laki itu berjalan entah kemana. Meninggalkan Sehun sendirian yang masih bergeming di depan ruang operasi. Ia terlalu terkejut dengan apa yang dijelaskan oleh dokter tadi hingga pada akhirnya ia hanya bisa diam berdiri menatap kosong ke arah perginya dokter yang telah menolong Sena.

Sebuah tepukan pelan di bahunya kembali menyadarkan Sehun dari lamunannya. Ia menolehkan wajahnya untuk menatap Kyungsoo yang telah menepuk bahunya. “Bagaimana keadaannya?” tanya Kyungsoo pada Sehun karena ia tidak sempat mendengarkan apa yang dijelaskan oleh dokter tadi.

“Untuk saat ini dia berhasil selamat, tapi ia masih harus melewati masa kritisnya.” Ucap Sehun sambil mengingat-ngingat penjelasan dokter.

“Baguslah kalau begitu.”

Lalu mereka berdua kembali terdiam. Hanyut akan pikiran masing-masing sampai Sehun bersuara untuk memecahkan keheningan di antara mereka. “Bagaimana hasil penyelidikan yang telah kau lakukan, hyung?”

“Aku yakin kau akan tercengang jika mendengar bagaimana hasilnya.”

“Tidak usah berbelit-belit, hyung.”

Kyungsoo menghembuskan napasnya dalam sebelum ia menjawab pertanyaan Sehun.Aku sudah menyuruh Joonmyun untuk menyelidiknya ke seluruh penjuru pulau ini, dan aku menemukan kejanggalan.” Sehun memfokuskan pikirannya pada setiap ucapan yang akan dilontarkan Kyungsoo.

“Berdasarkan hasil penyelidikan Joonmyun, tidak ada pernikahan pada hari ini yang batal karena mereka kehilangan calon pengantin wanitanya. Bahkan aku sudah menyuruhnya untuk mencari ke berbagai tempat yang biasa dijadikan sebagai tempat untuk pre-wedding dan jawabannya juga sama. Mereka tidak kehilangan calon mempelai wanitanya. Padahal sudah jelas sekali jika wanita yang kau tabrak itu memakai sebuah gaun pernikahan, bukan sebuah gaun biasa saja. Bukankah itu aneh?”

Sehun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Kyungsoo. Kemudian mereka kembali terdiam, sebelum Kyungsoo melanjutkan perkataannya. “Tadi sore aku sempat mendapat laporan bahwa ada seorang pria memakai stelan jas rapi mencari korban kecelakaan.”

“Apakah petugas rumah sakit memberitahunya?”

“Tentu saja tidak. Kau sendiri yang melarangku untuk memberitahu siapapun itu yang mencari wanita itu di rumah sakit ini.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Kau tahu sendiri kalau aku tidak pernah meragukan instingmu itu.”

“Terima kasih, hyung.”

“Sebaiknya kau bersihkan dirimu terlebih dahulu. Kau terlihat seperti seseorang yang habis terkena badai.” Ucap Kyungsoo sambil meninggalkan Sehun kembali sendirian.

Sehun memandangi tubuhnya yang dipenuhi bercak-berccak darah yang sudah mengering hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kecut. Sebelum ia beranjak dari tempat itu untuk membersihkan dirinya, ia dapat melihat sebuah tas kertas yang Sehun yakin di dalamnya terdapat pakaian ganti yang dapat digunakannya.

“Kau memang yang paling mengerti aku, hyung. Terima kasih.” Lirih Sehun sambil mengambil bingkisan tersebut dan melenggang pergi menuju ke arah toilet berada.

***

Baekhyun memijit pelan pelipisnya saat ia mendengar laporan Kai bahwa ia masih belum bisa menemukan keberadaan Sena sampai saat ini. Terhitung sudah tiga hari sejak menghilangnya Sena dan sampai saat berbagai cara telah ia lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali.

“Berengsek!!” umpat Baekhyun untuk yang ke sekian kalinya. Ia lalu meneguk segelas penuh vodka yang sudah menjadi temannya beberapa hari terakhir ini. Efek samping dari vodka itu berhasil membuat Baekhyun sejenak dapat melupakan masalahnya dari menghilangnya Sena.

“Apakah hanya sampai disitu saja kemampuanmu, Kai?”

“Maafkan aku.” ucap Kai sambil menundukkan kepalanya saat menjawab pertanyaan dingin yang dilontarkan Baekhyun padanya.

“Taeyong-a, mulai saat ini tugas mencari keberadaan Sena aku limpahkan padamu.”

Iye, algeuseumnida.”

“Sedangkan kau, Kai, aku minta kau untuk mengawasi Shannon dua puluh empat jam. Aku yakin ia ada hubungannya dengan menghilangnya Sena.”

“Aku mengerti.”

“Kalian berdua bisa keluar dari ruanganku.” Ucap Baekhyun sambil memutar kursi kerjanya untuk menatap lautan yang terbingkai jelas melalui jendela ruang kerjanya saat ini. Bunyi dentuman dari pintu ditutup membuat Baekhyun menghela napasnya dalam sambil memejamkan kepalanya.

Sesungguhnya kepalanya berasa akan pecah saat ini juga jika ia mengingat keberadaan Sena yang belum ditemukan sama sekali. Ia terus memikirkan bagaimana keadaan Sena. Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia sudah makan? Bagaimana keadaan calon bayi mereka? Apa yang dilakukannya sampai-sampai ia tidak menghubungi Baekhyun hingga saat ini? Dan pikiran tentang paling buruk sekalipun terus berputar-putar di kepala Baekhyun.

Baekhyun merogoh handphone dari saku celananya. Ia menyentuh layar benda canggih tersebut hingga menampilkan sosok yang begitu dirindukan sekaligus dikhawatirkannya saat ini. Melihat sosok Sena yang sedang tersenyum bahagia sambil menggendong Jaehyun dipelukannya membuat hati Baekhyun menghangat seketika.

Ia mengelus layar handphone itu seakan-akan ia juga sedang mengelus pipi Sena secara langsung. Tanpa sadar Baekhyun tersenyum simpul sambil memperhatikan wajah cantik itu.

Aku harap di mana pun keberadaanmu saat ini, kau akan selalu baik-baik saja. Aku sangat merindukanmu, my lady.

***

Tidak terasa waktu sudah berjalan sejak Sena menutup matanya karena peristiwa kecelakaan yang dialaminya di hari pernikahannya dengan Baekhyun. Dan selama itu pula, Sehun dengan setia mengurus dan menjaga Sena yang masih belum sadar dari komanya. Demi merawat Sena di pulau Jeju, Sehun pun mengajukan mutasi kerja ke daerah yang sama di mana Sena dirawat.

Sehun tidak menyesali keputusannya ini walau sebagian orang akan menghinanya dengan sebutan bodoh karena lebih memilih bekerja di daerah terpencil dari pada di pusat kota. Ia bahkan mengabaikan amarah orangtuanya yang melarang keras kepindahannya itu. Bahkan Miju selaku tunangannya pun tidak didengarkan oleh Sehun saat ia mengajukan keberatannya dengan keputusan Sehun yang sepihak itu.

Seakan kekeraskepalaan sudah mendarah daging tubuhnya, maka semua bentuk protes yang diterima Sehun tidak diindahkannya sama sekali. Keputusannya sudah bulat, dan semua orang tidak bisa mempengaruhinya untuk menarik semua keputusannya itu.

Sehun tersenyum kecut saat memikirkan semua yang telah terjadi padanya selama tiga bulan terakhir ini. Ia tidak dapat mempercayai dirinya sendiri yang dapat melepaskan segalanya dengan begitu mudahnya hanya karena seorang wanita yang begitu dicintainya.

Sehun kembali menekuri wajah cantik yang sedang tertidur itu. Wajah yang dulunya selalu berseri karena adanya kehidupan sekarang seakan lenyap. Kehidupan seakan jauh dari dirinya. Wajahnya yang putih semakin putih karena sakitnya.

Bibir yang selalu merah merona itu sekarang hanya menyisakan bibir pucat dan pecah-pecah karena entah kapan terakhir kalinya ia minum air. Wajah yang dulunya tirus, semakin bertambah tirus saja. Jika saja alat pemantau detak jantung tidak berbunyi, maka sudah bisa dipastikan siapapun yang melihatnya akan mengira wanita yang sedang tertidur itu sudah meninggal dunia.

Sehun mengelus pelan pipi tirus itu seakan takut ia akan menyakitinya jika diberi tekanan sedikit saja. Tidak hanya sampai disitu saja, jemari Sehun mengelus gurat wajah Sena dengan perlahan. Mencoba merangkum wajah cantik yang pernah dijumpainya dan selalu menghantuinya disetiap malam.

Entah sudah ke berapa kalinya Sehun seperti ini jika ia menjaga Sena di rumah sakit. Keputusan untuk menyembunyikan Sena dari dunia luar tidak akan pernah disesalinya. Sehun terus menguatkan dalam hatinya jika yang ia lakukan ini semata-mata untuk melindungi Sena dan akan berakhir jika Sena sudah sadar dari komanya.

Anggaplah Sehun sangat egois dengan memisahkan Sena dari pria yang menjadi calon suaminya, karena memang itulah yang terjadi sekarang ini. Dan Sehun tidak peduli dengan hal itu karena memang ini hanya sementara. Walaupun hanya sementara, bagi Sehun itu sudah lebih dari cukup.

Saat Sehun sedang asyik mengamati wajah Sena, ia dikejutkan dengan gerakan samar yang ia rasakan saat memegang tangan Sena. Tidak lama setelahnya, ia dapat melihat gerakan lemah saat Sena mencoba untuk membuka matanya.

Mata Sehun membulat sempurna begitu mata mereka saling bertubrukan. Tidak ada yang mencoba untuk memutuskan kontak mata tersebut. Sehun seakan tersihir begitu ia memandang manik mata hitam kecoklatan itu. Namun satu hal yang Sehun sadari ketika ia menatap manik indah tersebut. Tatapan kosong dan bingung begitu menyentaknya hingga ia menyadari ada yang tidak beres dengan Sena.

Tidak menunggu lebih lama lagi, Sehun segera memutuskan kontak dan langsung menekan tombol panggilan agar perawat ataupun dokter segera datang ke ruangan itu. Setiap gerakan yang dilakukan Sehun tidak lepas dari mata Sena. Ingin sekali Sena menggerakkan badannya, tapi apalah daya saat ia akan menggerakkan anggota tubuhnya rasa sakit dan ngilu langsung mendera seluruh tubuhnya.

Tubuhnya begitu kaku karena ia tidak tahu sudah berapa lama ia tidak menggerakkan tubuhnya. Seingatnya ia baru tidur beberapa saat lalu, tapi mengingat tubuhnya yang sakit dan tidak bisa digerakkan, Sena berpikir jika ia sudah tertidur sangat lama.

Saat Sena ingin membuka suaranya, ia harus merasakan perihnya tenggorokan dan bibirnya akibat ia sudah lama tidak minum air putih. Alhasil, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Semuanya terasa kering dan menyakitkan. Sekuat tenaga menahan perih, ia kembali menutup mulutnya dan berusaha menelan ludahnya yang juga terasa kering.

Pada akhirnya Sena hanya bisa menitikan air matanya karena ketidakberdayaannya ini. Semuanya terlalu menyakitkan, dan ia tidak bisa menanggungnya lebih lama lagi. Tubuhnya terasa menjadi lebih sensitif terhadap rasa sakit walaupun itu hanya sedikit goncangan pada tubuhnya.

Sehun yang melihat Sena begitu kesakitan hanya bisa merutuk dalam hati karena ia lah menyebab dari semua kesakitan itu. Tangisan dalam diam Sena sangat menyakitkan bagi Sehun. Ia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti wanita yang dicintainya itu, bahkan ia ingin melindunginya.

Seakan tahu apa yang diinginkan Sena, Sehun pun berbisik pelan di dekat telinga. “Apakah kau haus?” tanya Sehun sambil menyeka air mata yang terus mengalir dari sudut mata Sena.

Sena yang pada awalnya menutup mata, kembali membuka matanya. Walaupun buram, tapi ia masih melihat wajah pria yang menawarinya minum itu. Dengan gerakan pelan, melalui matanya ia mengisyaratkan pada Sehun jika ia memang haus.

Sehun yang melihat respon itu hanya bisa tersenyum lembut ke arah Sena. “Tunggu sebentar.” Jawabnya sambil sedikit menjauh dari tubuh Sena.

Lalu Sehun mengambil sebuah gelas yang ada di atas nakas dekat tempat tidur Sena. “Aku tidak bisa melakukan hal lain yang lebih dari ini karena aku tidak tahu apakah kau sudah boleh atau tidaknya makan ataupun minum apapun saat ini.” Ucap Sehun sambil sedikit demi sedikit membasahi bibir Sena dengan air. Meskipun hal itu tidak akan bisa memuaskan dahaganya, Sena masih mengucap syukur karena setidaknya penderitaannya sedikit berkurang.

Saat Sehun sedang berusaha membasahi bibir Sena, tiba-tiba pintu kamar inap itu terbuka dengan sedikit keras. Rombongan dokter dan perawat yang dipanggil Sehun beberapa saat yang lalu terlihat menghela napas lega saat melihat pasien yang mereka rawat selama tiga bulan terakhir ini sudah terbangun dari komanya.

Dengan langkah santai, mereka mendekati tempat tidur Sena. Raut bahagia tercetak jelas diwajah mereka, tidak seperti beberapa detik yang lalu ketika mereka sampai di ruangan itu. Sehun menaruh kembali gelas yang berada di tangannya ke atas nakas, dan langsung memundurkan tubuhnya untuk memberi ruang agar dokter dan perawat yang datang dapat memeriksa Sena dengan leluasa.

Tidak lebih dari sepuluh menit, dokter dan perawat itu pun keluar lagi dari kamar inap Sena setelah ia memeriksa tubuh Sena dan menanyakan beberapa pertanyaan yang akan dijawab anggukkan atau gelengan lemah oleh Sena.

“Istirahatlah.” Ucap Sehun sambil membelai kepala Sena setelah hanya menyisakan mereka berdua di kamar inap itu. Sena yang merasa tubuhnya sangat lelah pada akhirnya jatuh tertidur juga.

Melihat Sena yang sudah kembali tertidur membuat Sehun merasa sangat bahagia. Mungkin tiga bulan lalu ia akan sangat sedih saat melihat Sena tertidur, tapi sekarang semua itu berbeda. Hanya perasaan bahagialah yang ia rasakan karena penantiannya selama ini tidak sia-sia.

Seminggu sudah semenjak Sena kembali terbangun dari komanya. Perlahan tapi pasti, kondisi kesehatannya mulai membaik. Ia sudah bisa duduk di atas tempat tidur walaupun masih belum bisa berjalan seperti orang pada umumnya. Otot-otot kakinya masih terlalu lemah untuk menopang berat tubuhnya membuatnya harus mengikuti berbagai proses terapi untuk mengembalikan fungsi kakinya. Tidak hanya itu, ia juga sudah mulai bisa berbicara lagi walau masih terbata-bata. Ia bagaikan seorang balita yang sedang belajar berbicara dan berjalan.

Selama seminggu itu pula Sehun masih setia mendampingi Sena mengikuti setiap terapinya dan menjaga Sena selama ia tertidur. Sehun melupakan tanggung jawabnya lain karena terlalu fokus pada proses pemulihan Sena.

Setiap pagi selama tiga terakhir ini, Sehun selalu membawa Sena ke atap rumah sakit untuk membantu proses penyembuhan Sena. Seperti sekarang ini, Sehun memberhentikan kursi roda Sena di tempat biasanya mereka menghabiskan waktu pagi. Tidak ada perbincangan di antara mereka.

Hingga pada akhirnya Sena mengeluarkan suaranya untuk memecahkan keheningan di antara keduanya. “Ada satu hal yang begitu membuatku penasaran dan ingin menanyakannya padamu.”

Sehun membuka matanya dan menoleh ke arah Sena yang sedang menatapnya lekat. “Selama aku bisa menjawabnya, kau bisa bertanya apapun yang kau mau.”

Sena menghela napasnya sejenak sambil mempertimbangkan apakah ia akan bertanya atau tidak. “Apakah kau mengenalku?” tanya Sena setelah beberapa saat ia hanya terdiam. “Kau tahu, selama seminggu ini kau terus menjaga dan merawatku, tapi tidak sekali pun kau memanggil namaku dan aku juga tidak tahu namamu.” Akunya yang langsung membuat mata Sehun membulat sempurna mendengar hal tersebut.

“K-kau tidak ingat namamu?” tanya Sehun hati-hati setelah ia mendapatkan kembali kesadarannya akan rasa terkejut yang tiba-tiba melandanya.

Sena menggelengkan kepalanya perlahan. “Setiap kali aku mencoba untuk mengingat siapa namaku, seperti apa kehidupanku dulu, kepalaku langsung sakit luar biasa dan aku merasa dunia ini seakan berputar.”

Sehun tidak bisa menanggapi apapun yang diucapkan Sena saat ini. Sena yang melihat Sehun hanya diam saja terpaksa ia melanjutkan kembali ucapannya. “Kupikir kau mengenalku karena kau selalu menjagaku.” Ucapnya begitu lirih hingga beranggapan kalau Sehun tidak mendengar suaranya.

“Kau sungguh tidak mengingatnya?” tanya Sehun lagi sekedar untuk memastikan jika pendengarannya masih berfungsi dengan baik.

“Aku sudah mencobanya, tapi semuanya sia-sia. Ingatanku seakan tersedot ke dalam lubang hitam dan tidak bisa kembali. Semuanya begitu gelap, dan aku tidak menemukan titik terang sedikit pun. Karena itulah, kupikir kau pasti mengenalku.”

Mendengar hal itu semua membuat Sehun kembali terdiam. Ia berpikir keras untuk menjawab semua pertanyaan Sena padanya. Haruskah ia mengatakan jika ia tahu siapa nama wanita di sebelahnya ini atau ia berbicara sebaliknya. Sehun sangat bingung.

Dilihatnya Sena sedang menunggu jawaban seperti apa yang akan diungkapkan Sehun. Melihat manik mata indah itu lagi membuat Sehun memutuskan untuk menjawab seperti apa pertanyaan Sena. Mungkin nanti jika ingatan Sena telah kembali, ia akan langsung membenci Sehun. Tapi untuk saat ini ia ingin menikmati kebersamaannya dengan wanita itu. Melupakan siapa sebenarnya ia, dan memulai hidup barunya sebagai pribadi yang lain.

Sehun menghela napas dalam, menatap lekat mata Sena lalu menguncinya agar tidak berpaling ke arah lain. “Namamu adalah Jisoo. Kim Jisoo. Dan namaku Sehun. Oh Sehun, kekasihmu.” Ucap Sehun penuh ketegasan tapi ia tetap memandang Sena dengan pandangan lembutnya. Bibirnya tertarik untuk tersenyum ke arahnya membuat Sena juga ikut tersenyum karena ia pada akhirnya memiliki nama juga.

“Kim Jisoo. Nama yang cantik.”

Maafkan aku yang telah membohongimu. Semoga keputusan yang aku ambil ini adalah hal yang tepat. Biarkan aku memilikimu sampai kau mengingat siapa sebenarnya dirimu dan setelah itu kau boleh pergi meninggalkanku. Ucap Sehun dalam hati.

~ tbc ~

Mulai chapter ini, nama Sena aku ganti jadi Jisoo ya….

Maafkan aku jika chapter ini kurang memuaskan…

Sampai jumpa di chapter selanjutnya…

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

 

20 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 24)

  1. Yahhhh jadi ilang ingatan si sena… kan sudah ku bilang sena nya jangan Ilang ingatan ntar kasian baekhyun nya huwaaa…tapi tak apalah

  2. Duh Duh sehun –” jangan berbohong! Apalagi sama orang yang amnesia, lebih baik kenyataan daripada kebohongan Duh.. dh 3 bulan berlalu pula, gimana keadaannya baekhyun skg, lebih seru lagi kalau sena jadi lebih kuat dan teguh lalu mulai diungkap perlahan lahan siapa dia.. tapi terserah author, fighting!!! 😄😄😄💕💕💕

  3. kim jisoo?? yaampun sena ilang ingataan ><

    aduh gapapalah jisoo sama sehun dulu. sehun juga kan ganteng wkwkw ^^ ntar klo udah inget, balik lagi sama baekhyun dehh.. duh enaknya jadi sena- eh jisoo. wkqkw *lol* :v:v

  4. omonaaaaa.. ige mwoyaaaa eoh !!!!.
    sehunnn terkutuklahh kauuuu.. itu cewenya mauu baebaekk weehhhh. jangan bohong, bohong ituu dosaaaaaaaa.

    byun baekk yang sabar yaaaa.
    plissss endingnya sena jngan sma sehunnn same baekhyun ajaaa. yaaaaa plisssss.
    tendang aja tuhh si shannon arghhhhhh BAPER + GREGET…

  5. Oh tidak sehun apa yg kau lakukan ???
    Seharusnya sena di kembalikan aja k baekhyun ,,,
    Thor sena jangan lama² donk hilang ingatannya,,,hehehe
    Next thor

  6. whyy knp sena hrs lupa ingatan sih, bisa lm nih baekhyun nemuinnya. trus gmn sm baekhyun thor ??? kasihan si bacon… 🏻:'( 😥
    next thor

  7. Thor sumpahh tolong balikin sena sma baekhyun, udh nyaman bnget liat mrka brdua….
    Arghhh… sumpahh gw sebel bnget sma part iniii >_< knpa sena harus hlng ingatan….Next chapter sena hrs blik sma baekhyun pokoknya… :-\
    Rsanya anehh aja klo sena tbtb jdi sma sehun 😦

  8. Omoooo sena amnesia !?? Ganti cerita sehun sama jisoo , semoga sena dan baekhyun bisa kembali , ditunggu chap selanjut nya , tetap semangat thor !

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s