TOY – [03] Chanyeol’s – Shaekiran

toycoverr.jpg

TOY

A Fanfiction By Shaekiran

Chanyeol x Irene

romance | hurt | campus life

Chaptered | PG-17

Disclaimer

standard disclaimer applied. Don’t copy  or plagiarism without permisson. Happy reading.

.

Previous Chapter

Prolog |Chapter 1 |Chapter 2 |[NOW] Chapter 3

.

[PLAY]

—CHAPTER 03—

“Chanyeol, kau mau tidur bersamaku?”

DEG.

Apa yang baru saja dikatakan Irene?!

Hm? Kenapa kau diam saja, sayang? Kau tidak mau tidur bersamaku?” Chanyeol meneguk ludahnya kasar ketika merasakan deru nafas Irene semakin dekat dengannya. Dan benar saja, kini kulit Irene sudah menempel sempurna dengan kulitnya. Irene memeluk Chanyeol dengan sangat erat dan juga seduktif.

“Rene, aku…. bukankah itu…ah, tidak, Rene, aku….” Seperti orang bodoh Chanyeol tergagap sendiri. Lelaki itu menutup matanya dalam-dalam ketika merasakan sentuhan Irene di jemari tangannya. Astaga, Chanyeol bisa benar-benar menjadi gila hanya karega gadis satu ini.

Tenang Chanyeol, tenang, kau harus bersikap tegas, batin Chanyeol dalam hati memantapkan diri. Akhirnya lelaki bermarga Park itu pun membuka matanya perlahan, lalu setelah netranya menangkap sosok badan ramping Irene yang masih merengkuhnya dengan cara yang membuat Chanyeol ingin segera melempar gadis itu ke tempat tidur dan menerkamnya, Chanyeol segera memegang kedua bahu Irene dan memaksa gadis itu sedikit menjauh dari tubuh sucinya.

“Irene, dengarkan aku.” Mendengar nada tegas Chanyeol, Irene pun mengedip-kedipkan matanya beberapa kali, lalu tersenyum penasaran. Dia bahkan lupa rasa marahnya karena Chanyeol menjauhkan tubuhnya dengan paksa. Ya, gadis itu benar-benar peansaran bagaimana reaksi Chanyeol akan sikap agresif yang sekarang sedang gadis itu gunakan.

“Kau benar-benar ingin tidur dengan seorang pria? Maksudku, apa kau serius ingin—“

“—Memangnya kenapa?” potong Irene dengan cepat sambil memangku tangannya di depan dada.

“Chanyeol, dengar ya, cepat katakan apa jawabanmu. Jangan mengulur-ngulur waktu dengan percakapan tidak penting semacam ini. Cukup katakan kau mau tidur bersamaku atau tidak.”

Chanyeol mengacak rambutnya dengan sedikit frustasi. Sungguh, bagaimana bisa dia jatuh cinta pada gadis semacam Irene? Semacam tidak ada gadis lain saja sehingga Chanyeol jatuh hati pada Irene yang jelas-jelas bukan gadis baik-baik. Tipe Chanyeol itu gadis yang cantik, murah senyum, baik hati, polos, dan rajin beribadah. Benar-benar tipe gadis rumahan yang akan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Irene? Astaga,dia tidak masuk tipe sama sekali—pengecualian untuk kata cantik. Murah senyum juga sih, sayangnya senyum yang Chanyeol inginkan itu senyum gadis ramah, bukannya senyum gadis penggoda lelaki.

“Rene, begini saja, kalau kau capek kita tidak usah pergi ke restoran. Kita bisa kencan lain kali. Atau kalau kau mau, kau bisa mengganti pakaianmu menjadi pakaian yang sedikit sopan dan kita berangkat ke restoran.”

Irene memutar matanya malas. Chanyeol benar-benar polos, pikir gadis itu seketika.

“Kau ini tipe lelaki polos, ya?” bukannya menjawab pertanyaan Chanyeol, Irene malah melontarkan pertanyaan lain yang membuat Chanyeol harus mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” tanya balik Chanyeol dengan heran.

“Ya aneh saja. Kau tidak tertarik dengan tubuhku? Rata-rata lelaki yang menjadi kekasihku mendamba-dambakan masa ketika aku menawari mereka naik ke atas ranjangku.” Dengus Irene sambil berdiri dari posisi duduknya dan berkacak pinggang. “Hei, katakan padaku. Sudah berapa kali kau pacaran?” tanyanya kemudian pada Chanyeol yang masih duduk diam di tempatnya semula.

“Aku menginginkannya. Memangnya lelaki normal mana yang tidak mau menyentuhmu Bae Irene?”

“Lalu tunggu apa la—“

“—tapi tidak sekarang Irene. Aku masih bisa menahan diri.” Chanyeol menghela nafasnya pelan. “Aku akan menunggu sampai saat aku berdiri bersebelahan denganmu di depan altar dan mengucapkan janji suci.”

Bukannya terharu seperti gadis kebanyakan, Irene malah tertawa terbahak-bahak. Sungguh, Chanyeol adalah lelaki terlucu yang pernah dia kenal. Oh, dan juga lelaki ternaif yang pernah Irene tahu.

“Kau berpikir sejauh itu? Seingatku kita bahkan belum genap 2 hari berpacaran, Park Chanyeol,” kata Irene di sela-sela tawanya yang menggelora. Chanyeol bahkan ikut tertawa sekarang. Tapi hanya sebentar, karena detik berikutnya Chanyeol sudah berdiri dan menggengam bahu Irene dengan sangat erat. Spontan, Irene berhenti tertawa dan menatap Chanyeol dengan bingung.

“Dengarkan aku. Aku tidak tau bagaimana bisa aku jatuh hati padamu Irene, hanya saja mataku sudah terkunci untukmu sejak hari pertama aku masuk kuliah dan bertatap muka denganmu. Aku tau bagaimana tingkah lakumu di kampus dan saat di luar di kampus. Aku tau apa yang selama ini digosipkan mahasiswa-mahasiswa di kampus tentangmu itu benar karena aku juga melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak tau kenapa tapi aku ingin memilikimu meski kita belum lama saling mengenal. Aku hanya merasa aku ingin menaklukkan hati yang sering kau umbar itu padahal aku tau kau pasti bertingkah demikian murahan karena tidak ada yang bisa melelehkan es beku di dalam sana. Aku ingin melelehkanmu Irene. Aku ingin suatu saat kau menciumku bukan karena nafsu tapi karena kau benar-benar jatuh cinta kepadaku seperti aku jatuh cinta kepadamu.”

Bullshit.” Respon Irene santai. Dia menatap Chanyeol dengan pandangan muak. Oh, harusnya dia tidak menerima Chanyeol menjadi kekasihnya meski Chanyeol sangatlah tampan jika diperhatikan secara seksama.

“Terserah, tapi aku akan membuktikannya padamu. Meski kau bilang semua kekasihmu itu hanyalah mainanmu, aku akan menjadi mainanmu. Mainkan aku sesukamu dan lihat bagaimana hebatnya aku bertahan karena aku ingin memilikimu seutuhnya.”

Irene tertawa terbahak-bahak lagi meski sekarang Chanyeol menatapnya dengan sangat intens dan serius. Harusnya Irene percaya —atau paling tidak tersentuh—dengan semua kalimat yang lelaki itu ucapkan padanya, tapi lagi-lagi Irene mengangap semua itu masih sama; hanya seumbar omong kosong belaka.

“Sekarang aku yakin kau tidak sepolos kelihatannya. Ya, kau pasti player juga kan? Pandai sekali kau menggombal, mainan ke-enam,” putus Irene akhirnya setelah puas tertawa. Dia memukul bahu Chanyeol dengan pelan. “Kata-katamu cukup manis, tapi tidak mempan buatku,” lanjutnya kemudian sambil tersenyum sinis.

“Terserah kau menganggapnya bagaimana Bae Irene. Yang pasti aku mengatakan apa yang sebenarnya ingin kukatakan. Aku jujur padamu, dan aku harap suatu waktu nanti kau akan sadar bagaimana aku benar-benar mencintaimu dan tulus ingin melindungimu.”

Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada Irene, lalu dengan perlahan ia mengecup dahi Irene dengan sayang. Tanpa nafsu atau apapun itu, Chanyeol mengecupnya dengan penuh perasaan.

Irene terdiam.

Tidak ada yang pernah menciumnya di dahi seperti yang Chanyeol lakukan padanya. Mereka semua hanya bisa melumat bibir atau leher Irene dan bukannya mengecup dahi seperti pasangan lansia—kalau kata Irene.

Selesai mengecup Irene, Chanyeol pun segera memundurkan tubuhnya. Dia memperbaiki letak kimono Irene yang sedikit bergeser dan sedikit memperlihatkan bahu mulus gadis itu, lalu tersenyum tipis. “Tidurlah, aku tau kau pasti kelelahan hari ini. Kencannya batal, mungkin lain kali saja.”

Irene masih terdiam, bingung harus berbuat apa.

“Aku akan menjemputmu besok Irene. Kita ada kelas pagi bersama Proffesor Jung, ingat kan? Pastikan kau tidak terlambat bangun.”

Chanyeol lalu mengacak-acak rambut basah Irene dengan gemas.

“Kalau begitu aku pulang dulu ya sayang, semoga tidurmu nyenyak.”

Irene masih terdiam di tempat. Sungguh, apa yang baru saja terjadi sebenarnya? Bahkan gadis itu baru sadar dari aksi diamnya ketika mendengar deru mesin mobil Chanyeol yang bergerak perlahan meninggalkan arena rumahnya. Ini aneh. Tidak biasanya Irene mendapat mainan sejenis Chanyeol. Laki-laki itu cukup langka.

Heol. Melindungiku? Astaga, dia benar-benar membuat muak. Kata-kata cintanya seperti si brengsek yang ingin menipu gadis saja. Aku baru sadar kalau dia benar-benar tidak menarik,” ucap Irene sambil berpangku tangan melihat pintu rumahnya yang kini tertutup. Gadis itu melirik jam dinding rumahnya. Hampir pukul setengah 10 malam.

“Kita lihat saja sampai kapan kau tahan tidak menyentuhku, bocah,” lanjut Irene kemudian sambil masuk ke kamar dan meraih ponselnya di atas tempat tidurnya. Gadis itu tersenyum miring sambil menekan beberapa tombol di layar ponselnya sebelum akhirnya gadis itu menempatkan ponsel putihnya di sebelah telinga.

“Mino-ku sayang, kau sudah tidur? Belum dong pastinya, iya kan?” sapa Irene genit ketika akhirnya sambungan telfon itu tersambung di dering kedua.

“………….”

“Kau di kelab? Oh itu bagus sekali. Bisa jemput aku sayang? Sepertinya aku butuh hiburan malam ini.”

Dan akhirnya Irene tetaplah Irene.

 

 

To Be Continued

Iklan

11 pemikiran pada “TOY – [03] Chanyeol’s – Shaekiran

  1. Ping balik: TOY – [05] Him – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: TOY – [04] Sleep – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Annyeong eperibadiihh👼👼💃💃
    Akhirnyaaa kita bertemu kembalii👻 setelah kemaren ani belajar keras buat ukk walaupun hasilnya yaa,, lumayan lah Alhamdulillah kkk🔫🔫
    Yaudah lah ya kak, aku gaakan ngoceh panjang lebar karna kak eki tau?? Aku rasa aku sudah kena karma gara gara nyampah di komenan org kkk,, Masa tadi sebelum ini aku kan udh komen, ga panjang amat sih,, *yaahh lumayan lah😂,,, dan itu keapus tiba tiba,, kan gua sedih seketika kak😢
    Jadi aku bertekad mulai sekarang gaakan nyampah lgi😢😢
    Walaupun bagi ani,, bukan ani namanya klo ga nyampah dikomenan org,,, layaknya bukan Irene namanya klo gampang menyerah dengan kebangsatan ceye😔😔 *tetiba dpt hidayah bikin quotes, kkkk *quotes mbah mu🔪🔪

    Trus tau g ka, ak smp garok tmbk+ guling2 smbl triak2 g jls ps bc prt cy nglus rmbutnya irn, smp mama ak nyurh ak ikt ke pk ustad cbaa.. trs ak bilang “mama pkr ak krskan setan ap ma?” & Ka eki tau apa kt mama ak, dgn swagnya mama ngmng ” ohh, msh nrml trnyt” jlb.. kutrcngng,,slh ap cb gua.. 😢
    Ok sekian dr ani, krn ani tau k eki pst udh mual &lelah dg komnan ani :’) :’)
    By by k❤😘
    Sukses sll okeh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s