[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43)

MY LADY

[ Chapter 43]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACKPINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : PG + 17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31 -> CHAPTER 32 -> CHAPTER 33 -> CHAPTER 34 -> CHAPTER 35 -> CHAPTER 36 -> CHAPTER 37 -> CHAPTER 38 -> CHAPTER 39CHAPTER 40CHAPTER 41 -> CHAPTER 42

Shannon mengerjapkan matanya kala sinar matahari menembus melalui jendela kamar yang tidak tertutup gordennya. Beberapa kali ia mengedipkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya. Tubuhnya terasa remuk redam. Berbagai kilasan ingatan berkelebat di benaknya saat ia menyadari ada seseorang yang sedang memeluk pinggangnya.

Sialan!

Hembusan napas dalam keluar dari hidungnya. Perlahan ia menjauhkan tangan yang sedang memeluknya erat itu untuk beranjak dari tempat tidur. Tanpa mempedulikan ketelanjangannya, ia berjalan menuju kamar mandi. Namun baru saja melangkah, Shannon langsung meringis kesakitan. Shannon mengerang dalam hati karena sesuatu yang selama ini ia jaga mati-matian hanya untuk suaminya, sekarang hilang hanya karena emosi sesaatnya.

Setelah menarik napas dalam berulang kali, Shannon kembali mencoba untuk melanjutkan langkahnya. Walaupun harus menahan sakit, akhirnya ia pun sampai di kamar mandi. Shannon menatap pantulan dirinya di cermin. Mengamati dengan seksama penampilannya saat ini. Lalu setelahnya ia kembali mengerang frustasi.

Bagaimana tidak, penampilannya sangat mengerikan. Rambut yang seperti rambut singa, bibir bengkak, dan jangan lupakan beberapa bercak merah di sebagian tubuhnya. Ia hanya bisa mengutuk dalam hati menyadari apa yang telah ia lakukan semalam. Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya agar ingatan itu hilang dari benaknya, tapi ia tidak bisa kecuali jika ia benar-benar hilang ingatan.

Dengan langkah gontai, Shannon berjalan menuju jacuzzi, memenuhinya dengan air hangat dan tidak lupa aroma terapi untuk menyegarkan pikirannya. Sebelum ia masuk untuk berendam, terlebih dahulu Shannon mengguyur tubuhnya di bawah shower. Berendam adalah salah satu cara yang ia gunakan untuk menenangkan diri. Memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan ke depannya.

Empat puluh lima menit kemudian, Shannon pun memutuskan untuk mengakhiri acara berendamnya. Ia membalut tubuh telanjangnya dengan sebuah bathrobe yang telah disediakan pihak hotel. Sambil mengeringkan rambutnya ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat ia melihat Kai sedang duduk di sofa telah rapi dengan pakaiannya sedang menunggu dirinya.

Pandangan mata mereka bertemu. Tidak ada yang berani memulai berbicara sehingga menciptakan suasana yang begitu canggung di antara mereka. Karena tidak tahan dengan suasana yang menyelimuti mereka, Kai pun berdeham  untuk memecahkan keheningan. Shannon yang tersadar pun kembali melanjutkan kegiatan mengeringkan rambutnya yang sempat terhenti. Ia kembali melangkah menuju ke meja rias tanpa mempedulikan keberadaan Kai.

“Shannon…”

“Jika kau ingin membahas kejadian semalam, sebaiknya kau tutup mulutmu karena aku tidak ingin membahasnya sekarang,” ujar Shannon dingin memotong perkataan Kai. Ia sungguh belum siap jika harus meluruskan apa yang telah terjadi di antara mereka.

Helaan napas dalam Kai keluarkan melihat sikap yang tidak bersahabat dari Shannon. Sebenarnya ia merasa sangat bersalah atas kejadian yang telah terjadi. Tapi apa mau dikata, semuanya telah terjadi.

“Aku membawakan baju ganti untukmu,” ucap Kai mencoba untuk mengganti topik pembicaraan.

“Kau bisa menaruhnya di atas ranjang. Setelah itu kau bisa tinggalkan aku sendiri,” jawab Shannon masih tidak ingin menatap langsung pada Kai.

Kai menaruh paperbag berisi pakaian ganti untuk Shannon yang baru ia beli beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya Kai ikut terbangun saat Shannon melepaskan pelukannya, tapi Kai memilih untuk berpura-pura masih tidur karena ia merasa keadaan akan sangat canggung melebihi saat ini.

“Aku pergi,” ucap Kai sambil menatap punggung Shannon yang masih bergeming di tempatnya tanpa mau repot-repot untuk melihatnya. Walau berat Kai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Ia terus berjalan dengan pikiran melayang kemana-mana. Sungguh ia sangat khawatir dengan Shannon saat ini, tapi saat melihat sikap dari wanita itu, Kai tahu jika ia sedang ingin sendirian saat ini.

Kai terus berjalan tanpa tentu arah hingga tanpa sadar ia sudah berjalan jauh dari hotel tempat ia menginap semalam. Kai mengedarkan pandangannya, dan saat ia melihat sebuah restoran korea, perutnya pun berbunyi. Kai ingat jika semalam ia belum memakan makanan apapun. Ia pun memutuskan untuk sarapan di restoran yang ada di depannya itu.

Pengunjung restoran memang tidak terlalu banyak, tapi tidak bisa disebut sepi juga. Seorang pelayang menghampirinya, memberikan buku menu, dan menunggu Kai untuk menyebutkan pesanannya.

“Saya pesan satu porsi haejangguk.”

“Mohon tunggu sebentar,” ucap si pelayan setelah ia menuliskan pesanan Kai.

Sambil menunggu pesanannya tiba, Kai mengecek ponselnya takut ada sesuatu yang penting. Sepuluh menit kemudian, pesanannya pun datang. Kai memakannya dengan lahap seakan ia tidak pernah makan selama berhari-hari. Rasa sup yang enak dan hangat membuat pikiran Kai segar seketika walau ia belum mandi sekalipun.

Dalam bahasa Korea, haejangguk berarti rebusan untuk menyembuhkan mabuk. Meskipun ada banyak variasi haejangguk di seluruh Korea, hidangan ini biasanya terbuat dari kaldu sapi, kubis, tauge, lobak, telur dan potongan darah sapi beku. Selain dapat memberi rasa hangat di perut, makanan ini juga mengobati rasa pusing karena mabuk.

Heol…”

Sebuah suara terdengar membuat Kai menghentikan kunyahannya. Lalu ia mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang sudah berani-beraninya mengganggu acara sarapannya. Begitu melihat siapa yang tengah berdiri di depannya sambil melipat tangannya, kening Kai pun mengernyit dalam.

Mau apa dia ada di sini?

“Kenapa di antara jutaan laki-laki yang ada di bumi ini aku harus selalu bertemu denganmu?”

Apa maksudnya?

Alis Kai terangkat sebelah mendengar ucapan wanita yang ada di depannya. Wanita yang selalu meninggalkan kesan menyebalkan disetiap pertemuan mereka. Siapa lagi jika bukan Jung Soojung. Wanita cantik tapi sangat menyebalkan.

“Apakah kau seorang stalker?”

“Uhhukk… uhhuukk….”

Kai langsung terbatuk-batuk saat mendengar tuduhan Soojung. Setelah reda, Kai segera mengambil air minum yang telah disediakan sebelumnya. Satu gelas air putih langsung tandas diminumnya untuk melancarkan kerongkongannya yang sempat tersendat. Kai menatap tidak percaya wanita yang ada di depannya.

“Kau sedang bercanda?” tanya Kai yang dijawab dengan mengendikkan bahu oleh Soojung.

“Aku hanya menebaknya,” jawab Soojung tak acuh.

“Kau pikir aku tidak punya pekerjaan hingga harus menguntitmu setiap hari?”

“Siapa tahu kau memang berniat seperti itu.”

“Dengar nona, sepertinya kau terlalu percaya diri. Jika aku tahu akan bertemu denganmu di sini, maka aku tidak akan memilih restoran ini untuk sarapan. Dan asal kau tahu juga, aku memiliki banyak pekerjaan yang lebih penting dari pada harus menguntit wanita gila sepertimu. Permisi.”

Kai langsung beranjak dari tempat duduknya setelah mengatakan hal itu tanpa menunggu jawaban dari Soojung karena rasa laparnya menguap entah kemana. Bertemu dengan Soojung memang selalu bisa membuatnya naik darah, dan tidak bisa mengontrol emosinya seperti sekarang ini. Selalu membuatnya keluar dari kebiasaannya selama ini, dan Kai tidak suka akan hal itu.

Soojung merupakan wanita yang berbahaya. Pikir Kai.

***

Baekhyun menghela napas dalam kala ia membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat sang ayah sedang berdiri menghadap jendela yang langsung menampakkan pemandangan taman bunga di halaman belakang rumahnya.

“Kau sudah datang?” tanya ayah Baekhyun tanpa membalikkan badannya.

“Ada masalah apa sampai ayah memanggilku ke sini?” tanya Baekhyun tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan dari sang ayah.

“Selalu tidak sabaran,” ucap sang ayah tersenyum miring dan membalikkan badannya. Ia dapat melihat Baekhyun sudah duduk di salah satu sofanya, menatap malas ke arahnya. “Bagaimana kabarmu, nak?” tanya ayah Baekhyun seraya berjalan ke arah sofa yang berhadapan langsung dengan sang putra.

“Tidak usah basa-basi. Tanpa menjawab pun ayah sudah tahu bagaimana keadaanku sekarang ini,” jawab Baekhyun dengan malas.

Terdengar kekehan ringan keluar dari mulut sang ayah. “Dan tidak ada yang salah jika orang tua menanyakan kabar anaknya langsung walaupun ia sudah tahu apa jawabannya.”

Baekhyun memutarkan matanya karena sikap ayahnya itu. “Sangat baik jika itu jawaban yang ingin ayah dengar.”

“Kau sudah sarapan?”

“Sudah,” jawab Baekhyun setengah malas karena ia tahu seperti apa sifat dari ayahnya. Selama ia belum menjawab pertanyaannya, maka selama itu pula ia akan terus bertanya pada Baekhyun. Sedangkan Baekhyun saat ini sedang tidak ingin menghabiskan waktunya terlalu lama di rumah orang tuanya. Pekerjaan di kantornya tengah menunggunya karena ia tidak ingin pulang telat.

“Bagaimana kabar Shannon?”

“Kurasa ia baik.”

“Bersikap baiklah padanya. Aku tidak ingin Tuan William marah karena kau tidak memperlakukannya dengan baik.”

Untuk ucapan ayahnya yang satu ini Baekhyun malas menjawabnya. Jadi ia memilih diam tidak menanggapi apapun karena sekalipun ia berbohong telah memperlakukan Shannon dengan baik, ayahnya pasti akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Melihat Baekhyun tidak menanggapi ucapannya, ayah Baekhyun pun mengalihkan topik pembicaraannya. “Bagaimana pekerjaanmu?”

“Pekerjaan yang mana?” tanya Baekhyun sarkastis karena ia menjalani dua pekerjaan sekaligus.

“Hotel dan kasinomu.”

“Semua masih berjalan normal. Kita mendapatkan kenaikan pendapatan di kasino yang ada di Hongkong dan Osaka.”

Ayah Baekhyun terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Lalu ia menyesap kopi yang memang sudah tersedia sebelumnya di atas meja. “Bagaimana perkembangan proyek pengembangan kasino yang ada di Macau?”

“Tender pembangunannya baru akan di buka dua bulan lagi. Sepertinya kita akan mengeluarkan banyak uang untuk proyek kita kali ini.” Baekhyun menjeda ucapannya untuk memperhatikan bagaimana reaksi dari sang ayah kala ia melaporkan hal ini. “Mafia China dan Rusia juga menginginkan proyek ini.”

“Hm… ini bukan hal yang mengejutkan lagi. Macau merupakan tempat yang strategis untuk membangun sebuah kasino. Pastikan kau mendapatkan tender tersebut bagaimana pun caranya karena aku yakin China dan Rusia juga menginginkan hal yang sama.”

“Akan aku usahakan.”

“Bagaimana dengan transaksi yang akan kita lakukan bulan depan?”

“Ada sedikit masalah dengan perkebunan kita yang di Indonesia.”

“Jelaskan.”

“Kepolisian di sana sedang gencar-gencarnya menggagalkan berbagai transaksi narkoba. Entah bagaimana caranya, kepolisian sana bisa menangkap kapal pengangkut satu ton sabu dari China. Padahal aku yakin mafia China tidak akan sebodoh itu untuk menyerahkan pundi-pundi uang mereka secara sukarela pada kepolisian.”

“Sepertinya ada penghianat di organisasi mereka.”

“Sepertinya memang begitu.”

“Apakah perkebunan kita juga sudah mulai dicurigai oleh mereka?”

“Sampai saat ini belum, tapi kita belum bisa memanennya dalam waktu dekat. Mungkin masih bisa, tapi tidak semuanya sedangkan klan mafia Meksiko menginginkan ganja bukan poppi. Tapi sedikit demi sedikit kita bisa memenuhi permintaan mereka asalkan tidak ada pengkhianat di dalam organisasi kita.”

“Kau harus lebih hati-hati. Transaksi kali ini sangat penting karena akhirnya mafia Meksiko mau memesan barang dari kita setelah sekian lama mereka hanya memesan dari mafia Kartel Kolombia.”

“Aku yang akan menangani langsung transaksi kali ini dan memastikan semuanya berjalan lancar.”

“Aku yakin kau bisa lebih cerdik dari pada polisi itu, tapi apakah kau yakin tidak ada pengkhianat di dalam selimutmu sendiri?”

“Apa maksud ayah?”

“Untuk kali ini jangan pernah percaya pada siapapun karena ini menyangkut miliyaran dolar.”

“Aku masih tidak mengerti.”

“Apa kau sudah lupa? Kau sudah beberapa kali hampir mengalami kegagalan saat transaksi besar. Tidak adakah orang yang kau curigai selama ini?”

Baekhyun mengerutkan keningnya mengingat-ingat peristiwa yang hampir merugikannya. “Aku masih mencari siapa pengkhianat itu.”

“Dan ayah harap kali ini kau bisa menangkapnya, karena kalau, tidak ayah sendiri yang akan mengurusnya dengan cara ayah.”

“Aku pastikan hal itu tidak akan terjadi, karena aku sendiri yang akan menangkapnya.”

“Bagus, karena para tetua mulai mempertanyakan kredibilitas kepemimpinanmu selama ini. Kau terlalu halus untuk menjadi seorang pemimpin mafia. Jika bukan karena kau anakku dan pamanmu di Jepang, para tetua sudah mencopotmu sejak dulu.”

Baekhyun mengepalkan telapak tangannya mendengar penuturan ayahnya tersebut yang telah berhasil menyulut emosinya. Baekhyun sungguh kesal. Padahal ia hanya sedang bermain aman, tidak bertindak ceroboh hingga membuat badan intelijen mengetahui siapa dirinya. Walaupun ia sangsi jika mereka tidak tahu siapa sebenarnya Baekhyun.

“Akan kubuat para tetua itu untuk menarik kembali ucapannya.”

“Ayah pegang ucapanmu.”

“Jika sudah tidak ada yang ingin ayah bicarakan, aku pergi.”

“Kau tidak ingin menyapa ibumu terlebih dahulu?”

Baekhyun langsung terdiam di tempatnya. Pertanyaan ayahnya sukses menyulut emosi yang dipendamnya. Rasa sakit hati yang dikuburnya kembali terbuka. Tanpa menatap ayahnya, Baekhyun pun menjawab, “Seingatku ibuku sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu.”

“Rein memang sudah meninggal, tapi Yeonseo akan sedih jika tahu kau datang dan tidak mengunjunginya, Tat – “

“Berhentilah memanggilku dengan nama itu!” bentak Baekhyun memotong ucapan sang ayah. Napas Baekhyun berubah menjadi memburu. Selalu seperti ini. Jika bukan karena rasa hormat pada ayahnya yang tinggal sedikit, sampai mati pun ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah ini.

“Aku pergi,” ucap Baekhyun datar setelah keheningan yang mencekam menyelimuti mereka. Detuman keras dari pintu yang tertutup tidak dipedulikan oleh Baekhyun. Ia berjalan dengan tergesa-gesa. Wajah dinginnya membuat siapa pun tidak berani menyapanya. Sebagai gantinya hanya sebuah anggukkan kepala dalam dari beberapa pelayan dan penjaga rumah apabila berpapasan dengan Baekhyun.

Sesampainya di luar rumah, Taeil segera membukakan pintu penumpang untuk Baekhyun. Lalu dia sendiri berjalan ke arah kursi pengemudi. Mesin mobil menyala, kemudian mobil pun berjalan ke arah gerbang utama rumah dengan diikuti oleh satu mobil lainnya di belakang sebagai bentuk pengawalan terhadap Baekhyun. Melihat atasannya hanya duduk diam tanpa berbicara sedikit pun dengan aura mencekamnya membuat Taeil tidak berani untuk sekedar berdeham sekalipun.

Sedangkan Baekhyun sendiri memilih untuk mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Selalu seperti ini jika sudah bertemu dengan ayahnya. Perang dingin antara dirinya dengan sang ayah tidak pernah benar-benar berakhir. Semuanya berawal dari kejadian dua puluh tahun lalu, dimana semua ini berawal. Kejadian yang begitu membekas dalam ingatan Baekhyun kecil hingga terbawa sampai saat ini. Apalagi setelah kejadian dua tahun lalu dimana Baekhyun yakin jika sang ayah terlibat dengan kejadian menghilangnya Sena. Bukti memang belum sepenuhnya terkumpul, tapi ia masih menyelidiki motif apa dibaliknya. Dan itu cukup membuatnya frustasi.

Berengsek!!

***

“Kau terlambat,” ucap Kyungsoo saat ia melihat Sehun baru saja datang setelah dia menunggu selama dua puluh menit.

“Maaf, semalam aku tidak bisa tidur sama sekali,” kilah Sehun.

Kyungsoo tidak menanggapi ucapan Sehun dan malah menyodorkan map yang ada di depannya ke hadapan Sehun. “Bacalah,” tambahnya sebelum menyesap kopi yang sudah dipesannya. Seorang pelayan terlihat menghampiri Sehun untuk menanyakan makanan atau minuman apa yang ingin dipesan Sehun. Sehun hanya menjawab untuk menyamakan pesanannya dengan Kyungsoo, dan setelahnya pelayan itu pun pergi.

Selepas perginya pelayan, Sehun langsung membuka map yang ada di tangannya. Keningnya sesekali akan mengernyit kala membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di berkas itu. Sedangkan Kyungsoo lebih memilih mengalihkan pandangannya untuk menatap ke sekeliling restoran. Mengamati keadaan restoran takut ada yang memata-matai mereka saat ini.

Lima belas menit berlalu, dan Sehun langsung menutup map di tangannya setelah ia selesai membaca semuanya. Ia menatap menyelidik ke arah Kyungsoo yang masih duduk dengan santainya, tidak terganggu dengan tatapan Sehun.

Waeyo?” tanya Kyungsoo karena Sehun tidak kunjung juga mengeluarkan suaranya.

“Kau yakin dengan semua data ini, hyung?”

“Kau meragukanku?”

“Tidak. Hanya saja, aku tidak menyangka mereka melakukan hal ini.” Sehun kembali membuka map itu seakan tidak percaya dengan apa yang telah dibacanya.

“NIS tidak pernah memberitahumu akan hal ini?”

“Mereka hanya menyuruhku untuk mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh klan itu. Sedangkan tentang tatto aku hanya pernah membacanya sekilas dan itu juga hanya satu foto yang menerangkan bentuk dari tatto itu. Dari mana kau dapat semua data ini?”

“Aku membobol server NIS.”

“Bagaimana…?”

“Kau lupa jika aku mantan calon anggota NIS?”

“Bukan begitu. Data yang ada di NIS tidak selengkap dengan data yang baru saja kau berikan padaku.”

“Itu karena ada seseorang yang telah menghapusnya. Ada orang dalam yang telah menghapusnya.”

“Kau benar. Dulu aku hanya membaca sedikit informasi tentang mereka, termasuk tentang tatto ini. Data di NIS hanya menginformasikan bahwa setiap anggota B.S. pasti memiliki tatto kalajengking di bagian tubuhnya, dan juga hanya menginformasikan bahwa ada dua keluarga yang berkuasa di klan mafia tersebut, termasuk berbagai bisnis ilegal mereka. Tidak lebih dari itu.”

“Dan kau harus merasa beruntung karena aku bisa mendapatkan informasi penting ini,” ucap Kyungsoo penuh rasa bangganya yang dibalas dengan dengusan kesal oleh Sehun.

“Ya, kau memang ahli dalam hal ini.”

“Tentu saja, aku ahlinya. Bertahun-tahun aku berusaha mengumpulkan data-data ini, dan klan mereka benar-benar mengerikan. Organasasi klan itu menerapkan sistem kelas sosial seperti saat jaman Joseon, dan siapapun yang ingin masuk ke organisasi itu harus melewati beberapa tes terlebih dahulu.”

“Berarti mereka terdiri dari Raja, bangsawan, pekerja, dan terakhir rakyat biasa.”

“Kemungkinan seperti itu. Dan coba kau perhatikan kembali foto-foto tatto yang ada di map itu.” Kyungsoo kembali menyuruh Sehun untuk mengamati foto yang ada di berkas di tangannya. “Kau ingat lapisan sebuah prajut kerajaan yang akan berangkat perang?” Sehun menganggukkan kepalanya, lalu Kyungsoo melanjutkan ucapannya, “Maka sistem mereka juga seperti itu.

Jika kalajengking dengan sebuah tombak di bagian ekornya adalah rakyat biasa atau anggota klan biasa, lalu kalajengking dengan sebuah pedang di bagian ekornya adalah kau pekerja atau bisa kita sebut pemimpin geng-geng kecil, dan jika ada tatto kalajengking dengan sebuah busur panah di bagian ekornya adalah para bangsawan atau para petinggi klan, maka tatto kalajengking dengan mahkota di ekornya adalah seorang raja.

Jika dugaan kita benar, maka orang yang kau cari benar-benar berbahaya. Walaupun aku belum pernah lihat tatto kalajengking dengan sebuah mahkota kecil, bisa aku asumsikan jika itu memang pemimpin dari klan mafia itu.”

“Tapi di sini juga tidak ada gambar pasti kalajengking dengan sebuah busur panah.”

“Itu hanya asumsiku saja, jika para petinggi klan akan menggunakan busur panah untuk menunjukkan kekuasaan mereka. Hal ini juga ditambah kita belum pernah berhasil menangkap salah satu petinggi mereka. Kau harus ingat, mana ada seorang bangsawan yang langsung turun tangan untuk mengerjakan sebuah pekerjaan rakyat biasa jika ia sudah memiliki budaknya sendiri.”

“Kau benar. Mereka tidak akan repot-repot mengotori tangan mereka langsung jika mereka punya budak setia yang bisa dipekerjakan. Selama ini tidak pernah ada yang tahu siapa saja para petinggi itu. Entah NIS sengaja menutupinya atau ada seseorang yang telah menghapusnya. Apa karena itu kakakku dibunuh langsung oleh pemimpin dari klan itu?”

“Kemungkinan terbesarnya, iya. Kakakmu mengetahui siapa pemimpin dari klan itu.”

“Tapi waktu itu, aku tidak melihat seseorang yang memiliki badan seperti orang dewasa pada umumnya untuk membunuh kakakku. Apa mungkin mereka mengirimkan seorang remaja untuk membunuh seorang agen seperti kakakku? Itu sangat tidak masuk akal.”

“Mungkin saja pemimpin klan itu memang memiliki tubuh yang kecil. Ingat, sampai saat ini kita belum mengetahui bagaimana rupa dari pemimpin klan itu. Jangan pernah menilai seseorangddari fisiknya, karena fisik seseorang bisa menipu. Walaupun memiliki tubuh kecil, ia bisa saja lebih kejam dari orang bertubuh besar sekalipun.

Dan ada satu hal yang aku lupa beritahu padamu. Seorang anggota bisa naik posisi jika ia bisa membunuh orang yang menduduki posisi yang diinginkannya itu, dan kadang untuk menunjukkan kesetiaannya, seorang anggota akan diberikan misi khusus. Tapi informasi ini masih simpang siur karena saat aku ingin menggali lebih dalam, server NIS keburu menyadari jika ada orang yang sedang mengotak-atik server mereka. Mereka langsung memblokir IP ku, dan aku yakin saat ini mereka tengah  menyelidiku. Kenapa tidak kau saja yang mencari langsung lewat komputer di NIS?” jelas Kyungsoo panjang lebar yang diakhiri dengan rasa kesal karena penyelidikannya harus terhenti.

“Tidak semua orang dapat mengakses data tersebut, dan aku masuk ke dalam kategori tidak,” bela Sehun tidak mau disalahkan begitu saja.

“Merepotkan sekali.”

“Hanya para petinggi dan orang sepertimu yang bisa membuka file tentang klan itu.”

“Seharusnya ini bukan masalah besar buat agen sepertimu.”

“Seharusnya memang seperti itu, tapi aku hanya seorang agen lapangan, dan aku tidak bisa mengakses sembarang data tanpa seizin direktur. Lagi pula aku bukan seseorang yang suka menghabiskan waktunya di depan sebuah layar datar sepertimu.”

Lama mereka terdiam hingga sebuah getaran terasa di ponsel Sehun. Ia mengeluarkan ponsel tersebut dari saku celananya. Dahi Sehun mengernyit saat melihat panggilan tanpa nama di layar ponselnya. Sehun langsung mengangkat panggilan tersebut dan mendekatkannya ke telinganya.

Tempat biasa jam sembilan malam,” ucap seseorang dari seberang sana lalu memutuskan sambungan telepon tersebut sebelum Sehun dapat menjawabnya.

Ada apa lagi ini?

~ tbc ~

Aku tidak yakin dengan apa yang aku tulis kali ini. Maafkan aku jika chapter ini terasa sangat hambar. Terlalu rumit hingga bikin aku pusing sendiri.

Satu harapanku, semoga kalian tetap suka.

Sampai ketemu di chapter selanjutnya.

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

 

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Entah kenapa, yg membunuh kakak sehun kok bukan baekhyun ya, terus selanjutnya apa baekhyun akan tertangkap? Kemudian sena? Aku bahkan gak bisa ngebayangin lebih jauh gimana sengsaranya lee sena thor

  3. Kok soojung nongol didepan kai terus sih?? Ugh dasar mantan 😤
    Jangan jangan yg bunuh kakaknya sehun itu baekhyun.. sebelum dia jadi ketua klan

  4. Kasian amat sih Kai, udh lah lupain aja Shannon cari aja cewek lain Soo jung misalnya dia baik dan lebih perhatian kok jong yakin lah
    Author pliss jangan lama-lama updatenya😂

  5. Oh god makin menegangkan aja,,
    Akhirx shannon sama kai gituan juga hahah
    Syukur dah kalo bisa dia jatuh cinta sama kai aja,,trus gak ganggu hidupx baekna lagee hehe
    Tapi ayahx baekhyun menyebalkan heheh
    Next chap jgn lama” yaa

  6. Huwaahhhh otakku semakin berputar pada teori masalah mereka :”) eta terangkanlah~

    Btw itu kok aku sempet kesell bangett sama shannon :v perasaan dia jga mau semalem -_-
    Kai udh sama krystal, kamu cocok sma dia😆 /maksa/

    Semangat mlanjutkan ff ini authornim😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s