[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 32)

MY LADY - CHAPTER 29

MY LADY

[ Chapter 32]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31

Jisoo terlihat sibuk membereskan barang-barangnya setelah dengan mendadaknya Sehun memberitahu jika mereka akan pindah ke Seoul. Tidak banyak barang yang dibawanya dari Jeju tapi itu cukup menguras tenaganya saat ia sedang berbenah.

“Kau sudah selesai?” tanya Sehun dari ambang pintu kamar Jisoo sambil memperhatikan kekasihnya itu.

“Sebentar lagi.”

“Kau ingin makan apa? Di lemari pendingin tidak ada makanan jadi untuk hari ini kita pesan saja.”

“Hm….sepertinya jajangmyeon enak.”

“Oke.”

Setelah mengatakan itu Sehun kembali meninggalkan Jisoo sendirian. Jisoo mengusap peluh yang sedari tadi keluar dari tubuhnya. Lalu ia tersenyum senang saat barang-barangnya sudah tersusun rapi di tempat yang diinginkannya.

Bunyi bel pintu terdengar membuat Jisoo melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan bergegas ke arah ruang keluarga di mana Sehun sedang menata makan malam mereka. Sehun tersenyum senang menyadari kehadiran Jisoo di sana.

“Makanlah.”

Dengan senang hati Jisoo menerima mangkuk berisi jajangmyeon yang dipesankan Sehun beberapa waktu yang lalu. Ia langsung memakannya dan mengerang nikmat saat mie saus kacang hitam itu meleleh di mulutnya. Senyum Sehun semakin lebar melihat Jisoo memakan makanannya itu dengan lahap.

Jisoo menghentikan suapannya saat menyadari Sehun hanya memperhatikannya saja. Dengan alis terangkat ia bertanya pada Sehun. “Kau tidak makan?”

Sehun mengacak rambut Jisoo yang ia ikat dan membentuk gulungan bulat di kepalanya itu dengan gemas. “Melihatmu makan seperti itu sudah membuatku kenyang.”

Jisoo mendengus jengah mendengar godaan yang diutarakan Sehun padanya. Ia kembali menekuni makanannya dengan berusaha mengabaikan Sehun yang duduk di sebelahnya. Setelah ia hampir menghabiskan setengah makanannya, barulah Sehun memakan mie pesanannya juga.

“Apa yang akan kau lakukan besok?” tanya Jisoo sesaat setelah ia menghabiskan makanannya.

“Aku akan berangkat bekerja.”

“Kau sudah masuk bekerja? Aku kira ada libur dulu beberapa hari.”

Sehun tersenyum simpul di tengah kunyahannya. “Kau ingin libur bekerja dan menemanimu seharian di rumah?”

“Aku serius.”

“Aku juga serius.”

Jisoo memutarkan matanya jengah. “Terserah.”

Senyum Sehun semakin melebar saat melihat Jisoo terlihat kesal padanya. “Apa yang akan kau lakukan besok?” ucap Sehun balik bertanya pada Jisoo.

“Aku akan berkeliling Seoul sambil mencari pekerjaan, bolehkah?” jawab Jisoo sambil menatapnya penuh harap.

Sehun menatapnya dengan padangan tidak setuju. “Kau yakin?” Jisoo menganggukkan kepalanya dengan semangat mencoba meyakinkan Sehun akan rencana kegiatannya itu. “Kau baru saja pindah dan belum mengenal Seoul seperti apa?”

“Oh ayolah… kita tidak tinggal di hutan antah berantah.”

“Bagaimana kalau kau tersesat?”

“Aku akan mencari taksi dan menyuruhnya mengantarkan aku ke apartemenmu.”

“Bagaimana kalau kau tidak menemukan taksi?”

“Kau terlalu berlebihan.” Ucap Jisoo mulai jengah karena Sehun mengkhawatirkan sesuatu yang ia anggap tidak terlalu penting.

“Jawab saja!” desak Sehun.

“Aku akan menghubungimu untuk menjemputku.”

“Kau janji?”

“Kau benar-benar menyebalkan.” Jisoo langsung meninggalkan Sehun yang masih duduk bergeming di sofa ruang keluarganya.

“YA! Kau belum menjawab pertanyaanku!” teriak Sehun saat Jisoo sudah memasuki kamarnya lagi.

“Aku sudah menghapus nomormu dari handphoneku!” balas Jisoo berteriak kesal. Sedangkan Sehun hanya terkekeh senang. Ia tahu Jisoo tidak benar-benar melakukannya, ia hanya kesal karena Sehun terlalu mengkhawatirkannya.

Sehun membereskan sisa makan malam dengan Jisoo sebelum ia memasuki kamarnya sendiri yang gelap gulita. Ia menyalakan saklar lampu dan berjalan ke arah jendela yang tidak terlalu besar yang menampakkan pemandangan Seoul di malam hari.

Ia mendengar suara dering dari handpohenya dan segera meraih benda persegi panjang itu. Sehun menggeser tombol hijau sebelum ia mendekatkan handphone itu ke telinganya. Tanpa ada sapaan terlebih dahulu, orang di seberang sana langsung bertanya padanya.

“Kau sudah sampai?”

“Ya.” Jawab Sehun singkat.

“Kau akan pergi bekerja besok?”

“Tentu saja.

“Bagus, karena aku memiliki sebuah informasi tentang pria yang kau kirimkan fotonya padaku beberapa waktu yang lalu.” Sehun terdiam tidak menyahuti perkataan Kyungsoo. “Kau masih di sana?”

“Hm.”

“Baiklah, aku tutup teleponnya. Sampai jumpa besok.” Kyungsoo langsung menutup sambungannya setelah mengatakan hal itu pada Sehun.

Sehun menggenggam handphone itu di telapak tangannya, dan pandangannya kembali menatap kosong ke arah pemandangan malam di depannya. Pikirannya menerka-nerka informasi apa yang akan diungkapkan Kyungsoo padanya. Ia sungguh tidak sabar menanti hari esok yang akan datang kurang dari dua belas jam lagi.

Seperti yang sudah direncanakannya, Sehun pergi bekerja dan Jisoo pergi menyusuri Seoul sambil mencari pekerjaan. Ia butuh sedikit berdebat dengan Sehun saat menentukan kapan ia pulang. Dengan sedikit paksaan akhirnya Sehun mengizinkannya untuk pulang malam walaupun itu boleh lebih dari jam delapan malam.

Dengan perasaan yang antusias, Jisoo berjalan kaki menelusuri Seoul. Ia menatap kagum gedung-gedung pencakar langit yang jarang ia temui selama ia tinggal di Jeju. Ia memasuki satu per satu toko yang ia anggap menarik saat sedang berjalan-jalan. Sambil sesekali ia melihat lowongan pekerjaan yang bisa dilakukannya selama ia tinggal di Seoul.

Jisoo tidak terlalu berharap pekerjaan yang tinggi menimbang ia tidak mengingat masa lalunya semenjak dua tahun lalu. Kecelakaan yang merenggut segala ingatannya, dan Jisoo membenci itu karena ia merasa menjadi bayi lagi yang tidak tahu apa-apa.

Saat Jisoo melewati sebuah kafe keluarga yang sedang mencari karyawan, Jisoo menghentikan langkahnya dan bergerak untuk mendekat. Ia membaca syarat-syarat yang tertera di brosur sebelum ia mengajukan dirinya untuk melamar pekerjaan. Senyuman Jisoo mengembang setelah membacanya.

Ia lalu bergerak untuk membuka pintu kafe yang membuat lonceng tanda pintu dibuka berbunyi. Jisoo berjalan mendekati salah satu karyawan yang tersenyum ke arahnya. Lalu ia mengutarakan niatnya untuk bekerja di sana pada manajer kafe tersebut. Setelah wawancara yang singkat terjadi, akhirnya manajer kafe setuju untuk mempekerjakan Jisoo sebagai salah satu karyawannya.

Jisoo keluar dari kafe itu perasaan berbunga-bunga. Mulai besok ia akan bekerja di kafe tersebut sebagai salah satu pelayannya. Tidak apa. Jisoo tidak merasa kecil hati dengan pekerjaan yang akan ia lakukan nantinya. Kemudian ia meneruskan langkahnya untuk kembali menyusuri Seoul. Mencoba berbagai macam makanan jalanan yang ia temui, hingga ia pergi berbelanja ke sebuah pasar tradisional yang berada di pinggiran kota.

Satu hal yang tidak disadarinya selama ia mengelilingi Seoul. Sebuah mobil sedan hitam terus mengikutinya sejak ia menginjakkan kakinya keluar dari apartemen Sehun. Bahkan hingga kembali ke tempat tinggalnya itu, mobil tersebut masih setia mengikutinya.

Seseorang yang berada di dalam mobil itu segera mengeluarkan handphonenya dan langsung menekan panggilan cepat nomor satu untuk menghubungi seseorang di seberang sana. Tidak menunggu waktu yang lama, karena setelah dering pertama berlalu, sebuah suara langsung menyapa telinganya.

“Saya punya informasi untuk anda.”

“Apa itu?”

“Saya sudah mengetahui di mana nona Lee Sena tinggal dan di mana ia akan bekerja. Saya akan mengirimkan alamat lengkapnya ke email anda.”

“Bagus. Terus awasi dia dan jangan sampai ketahuan, Taeyong-a.”

“Iye.”

Setelah itu, ia kembal fokus pada objek yang menjadi tugasnya saat ini. Taeyong segera menyembunyikan tubuhnya saat mengenali sebuah mobil masuk ke dalam kawasan apartemen itu. Ia tidak ingin tugasnya kali ini gagal jika sampai ia ketahuan, maka dari itu ia harus berhati-hati. Apalagi pada pria yang memakai mobil audi R8 hitam itu.

***

Sehun yang baru memasuki apartemennya langsung bernapas lega saat melihat sosok yang menjadi pusat pikirannya selama seharian ini sudah berada di dalam apartemennya tanpa ada yang kurang sedikit pun padanya.

Jisoo menolehkan wajahnya saat ia merasakan ada seseorang selain dirinya di apartemen itu. Dengan senyum mengembang ia membalas menatap Sehun yang juga otomatis membalas senyumannya. “Kau sudah pulang?”

Sehun menggerakkan tubuhnya dan berjalan ke arah Jisoo yang sedang sibuk mengiris sayuran. “Bagaimana harimu?” tanya Sehun setelah ia mengecup singkat pipi Jisoo.

“Menyenangkan.” Jawab Jisoo saat mengingat perjalannya tadi siang. “Aku punya kabar menggembirakan buatmu.” Sehun terdiam menatap penasaran ke arah Jisoo yang terlihat sangat bahagia. “Aku sudah mendapat sebuah pekerjaan.” Pekik Jisoo bahagia sambil menubrukkan tubuhnya untuk memeluk Sehun bahagia.

“Selamat.” Ucap Sehun sambil balas memeluk Jisoo dan mengecup kepalanya. Ia bahagia jika Jisoo juga bahagia. “Kapan kau akan mulainya?”

“Besok.” Jawab Jisoo sambil melepaskan pelukannya dan bergerak kembali untuk meneruskan masakannya yang tertunda.

“Secepat itu? Tidakkah kau ingin mengeliling Seoul terlebih dahulu?”

“Tentu saja tidak. Kau saja langsung bekerja, kenapa aku tidak?”

“Jisoo-ya….”

“Sudahlah Oh Sehun, biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan, hm?”

Kalau sudah begini, Sehun tidak bisa menolaknya. “Baiklah, tapi jangan terlalu lelah.”

Jisoo tersenyum senang ke arah Sehun sebelum ia mengecup pipi Sehun. “Terima kasih.” Ucap tulus. Setelah itu mereka makan malam bersama dengan percakapan ringan mengisi waktu mereka. Menceritakan apa yang terjadi pada siang harinya menjadi topik yang mereka ambil saat itu. Siang hari yang begitu sibuk membuat mereka tidak memiliki waktu hanya untuk bercengkerama bersama, untuk itu moment malam bersama adalah waktu yang pas untuk lebih mendekatkan mereka berdua.

Keesokkan harinya Jisoo berangkat ke kafe yang menjadi tujuannya saat ini. Ia memulai pekerjaannya sebagai seorang pelayan dengan baik. Di tempat kerjanya ia mendapat beberapa teman baru yang begitu ramah menyambutnya. Sekitar ada sepuluh orang karyawan yang bekerja di sana, mulai dari koki sampai pelayan seperti dirinya.

Hari demi hari berlalu seperti biasa, hingga pada suatu hari seorang pelanggan wanita membuat Jisoo penasaran akan dirinya. “Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” sapa Jisoo saat menghampiri meja tempat di mana wanita duduk.

“Omoo….” ucapnya begitu terkejut saat melihat Jisoo berdiri di sampingnya sambil memegang buku menu. “Sena?”

Jisoo mengernyit bingung menatap wanita itu. “Maaf, anda tadi memanggil saya siapa?”

“Sena.”

“Sepertinya anda salah mengenali orang.” Jawab Jisoo sambil tersenyum tidak enak hati.

Sekarang giliran wanita itu yang mengernyit bingung akan jawaban Jisoo. “Aku tidak mungkin salah orang.” Jisoo kembali terdiam sambil menatapnya lekat. “Kita sudah bersahabat selama tujuh tahun, bagaimana bisa kau tidak mengenaliku?”

“Nde? Saya semakin tidak mengerti dengan apa yang anda bicarakan.”

“Apakah Baekhyun telah mencuci otakmu hingga membuatmu tidak mengingatku? Aku Soojung, Jung Soojung. Kau ingat?”

“Baekhyun? Siapa Baekhyun?”

Kernyitan di kening wanita yang menyapa Jisoo, Jung Soojung semakin dalam. “Apakah telah terjadi sesuatu padamu yang tidak aku ketahui selama dua tahun terakhir ini?”

Jisoo yang mematung di tempatnya berusaha mengingat kembali wajah cantik di depannya yang menyebutkan namanya Jung Soojung dan mengaku sebagai sahabatnya. Ia juga berusaha mencari tahu siapa sebenarnya orang yang Soojung katakan bernama Baekhyun itu. Kenapa rasanya kepalanya berdenyut sakit saat ia berusaha mengingatnya?

“Aarrgghh….” Jisoo langsung memegangi kepalanya dan seketika membuat Soojung bergerak panik melihat wanita di depannya itu mengerang panik.

“Kau baik-baik saja?” tanya Soojung panik yang dijawab Jisoo dengan erangannya saja sebelum ia jatuh pingsan karena rasa sakitnya. Semua orang yang berada di kafe itu tidak kalah paniknya dengan apa yang Soojung rasakan.

Lima belas menit kemudian sebuah mobil ambulan berhenti di depan kafe untuk memberi Jisoo pertolongan dengan membawanya ke rumah sakit terdekat. Soojung merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi Jisoo saat ini. Ia terus menangis sambil memegang erat tangan Jisoo yang berubah menjadi sangat dingin.

Beberapa dokter dan perawat langsung menghampiri Soojung dan Jisoo saat mereka sampai di IGD rumah sakit. Jisoo langsung mendapat pertolongan dan Soojung dengan perasaan cemas berjalan bolak-balik di depan ruang Jisoo. Walaupun ia seorang dokter, bukan kapasitasnya untuk menangani Jisoo yang tergolek lemah karena ia seorang dokter hewan. Bukan dokter untuk menangani manusia.

Tidak lama seorang dokter jaga di IGD keluar menghampiri Soojung yang masih setia menunggun. “Apakah anda keluarganya?”

“Ya.”

“Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, pasien jatuh pingsan karena tubuhnya tidak bisa menahan lebih lama rasa sakit yang dideritanya. Saya menemukan beberapa bekas luka yang cukup dalam di kepalanya dan menurut pendapat saya, kepala pasien pernah mengalami benturan yang cukup keras hingga bisa membuatnya seperti ini.”

“Benturan? Di kepala?”

“Ya, sepertinya itu luka lama. Apakah ada keanehan lainnya yang dialami oleh pasien?”

“Apakah benturan itu bisa menyebabkan dia lupa ingatan?”

“Itu mungkin saja. Kita bisa melakukan pemeriksaan selanjutnya untuk mengetahui bagaimana keadaan pasien yang sebenarnya. Jika anda tidak keberatan.”

“Lakukanlah. Beri penanganan terbaik untuknya.”

“Kalau begitu anda bisa ke bagian administrasi untuk mengurus beberapa syarat yang diperlukanya. Saya permisi dulu.”

Setelah mengatakan hal itu, dokter yang menangani Jisoo pun pergi dan menyisakan beberapa perawat yang sedang sibuk memasang selang infus pada tubuh Jisoo. Soojung menatap nanar Jisoo saat mengetahui fakta yang baru dipaparkan dokter padanya. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Sena-ya?”

Tanpa sepengetahuan Jisoo, Soojung melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan pada tubuh Jisoo. Berbagai macam tes kesehatan di jalani Jisoo mulai dari MRI sampai dengan tes darah pun dilakukannya.

Dua jam berlalu dengan sangat cepat. Jisoo mengerjapkan matanya perlahan saat ia melihat seberkas cahaya masuk ke dalam penglihatannya. Kepalanya masih berdenyut sakit saat ia berusaha bangun dari tempat tidurnya.

“Kau sudah bangun?” tanya suara seorang wanita membuat Jisoo menghentikan gerakannya. “Jangan banyak bergerak. Tubuhmu perlu istirahat.” Ucap Soojung tersenyum pada Jisoo.

“A-aku ada di mana?”

“Kau ada di rumah sakit.” Jawab Soojung sambil membenarkan letak selimut Jisoo.

“Bagaimana bisa aku ada di sini?”

“Semua ini salahku. Seharusnya aku tidak memaksamu mengingat sesuatu yang tidak kau ingat jika pada akhirnya akan seperti ini.”

Jisoo bisa menangkap rasa bersalah dalam ucapan Soojung padanya. “Bagaimana bisa kau tahu keadaanku?”

“Dokter yang memberitahunya.”

“Oh.”

“Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa.”

“Aku sungguh minta maaf membuatmu menjadi seperti ini. Maukah kau memaafkanku?”

“Aku sudah memaafkanmu. Terima kasih sudah menolongku.”

“Itu kewajibanku untuk menolong sesama.” Lalu Soojung dan Jisoo terdiam dan saling melempar senyum. Soojung berdehem sebelum memulai kembali percakapannya. “Karena sudah seperti ini, maukah kau berteman denganku? Namaku Jung Soojung. Aku tahu ini terlalu cepat buatmu, tapi aku tulus ingin berteman denganmu.” Soojung mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Jisoo yang masih terbaring lemah.

“Namaku Jisoo, Kim Jisoo.” Jisoo membalas uluran tangan Soojung.

“Senang berkenalan denganmu, Jisoo-ya.”

Walaupun awalnya penuh dengan insiden, tapi Jisoo senang ia bisa mendapat teman baru. Dan di sisi lain, Soojung sedang berusaha menyembunyikan air matanya yang siap menetes saat itu juga. Masih terngiang-ngiang di kepala saat dokter menjelaskan keadaan wanita di depannya ini setelah ia melakukan pemeriksaan lanjutan.

Dalam hati ia menyesali ketidakhadirannya di saat Sena dulu mengundangnya ke acara pernikahannya dengan Baekhyun jika keadaannya akan menjadi seperti ini. Soojung tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sena nanti jika ingatannya kembali dan ia sadar jika calon anak keduanya telah meninggalkannya untuk selamanya.

Soojung bertekad akan menjaga Sena atau Jisoo selama ia masih belum mengingat siapa dirinya sebenarnya. Ia akan menyembunyikan fakta itu hanya untuk dirinya sendiri. Soojung tidak mau memaksa Jisoo untuk mengingat lagi, karena itu akan menyakiti Jisoo dan secara tidak langsung akan menyakitinya juga.

Saat malam menjelang, Soojung mengantarkan Jisoo pulang ke apartemen yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Jisoo yang memaksa pulang dari rumah sakit tidak kuasa untuk Soojung tolak keinginannya. Keesokan harinya Jisoo berangkat bekerja seperti biasa. Ia sengaja tidak memberitahu Sehun jika kemarin ia sempat dilarikan ke rumah sakit.

Beberapa kali Soojung datang ke kafe saat makan siang tiba. Letak klinik hewan yang dikelolanya berada tepat di depan kafe tempat Jisoo berkerja sehingga hampir setiap siang ia pergi ke sana. Dengan sendirinya Soojung dan Jisoo berteman akrab. Seperti sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu. Tapi memang seperti itulah kenyataan yang sebenarnya.

“Selamat datang.” Ucap Jisoo refleks saat ia mendengar suara lonceng tanda pintu kafe dibuka. Ia menghentikan kegiatannya yang sedang membersihkan meja dan berbalik untuk menghadap pelanggan yang baru masuk itu karena posisinya yang saat ini sedang berada dekat dengan pintu masuk.

Tubuh Jisoo langsung menegang saat ia melihat sebuah senyuman menyapanya. Ia memandang lekat wajah pria di depannya ini. Degup jantungnya kembali berdetak cepat saat ia dan pria itu saling mengukur kedalaman manik mata masing-masing.

“Kita berjumpa lagi, my lady.”

Suaranya yang begitu dalam membuat tubuh Jisoo lemas seketika. Entah kenapa setiap kali berhadapan dengan pria di hadapannya ini, tubuhnya selalu lemah. Seakan ia bertekuk lutut di depan pria itu. Dan Jisoo benci harus merasakan perasaan asing itu. Perasaan yang selalu mengingatkannya akan sesuatu yang tidak bisa diingatnya.

~ tbc ~

Iklan

30 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 32)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 49) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 48) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – Chapter 47 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 46) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 45) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44) | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43) | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 42) | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 41) | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Side Story-Kai) | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] my lady – chapter 40 | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 39) | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37) | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 36) | EXO FanFiction Indonesia

  15. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY  [Chapter 35] | EXO FanFiction Indonesia

  16. Huuhh…gimana tuh kelanjutanya???..gimana kalo Jisoo ingatanya udah kembali???..sempet lupa sama Soojung..yang pas dia bilang udah kehilangan anak keduanya baru inget…next bacanya!!!😁😊😃

  17. Akhirnya setelah sekian lama menunggu keluar juga ffnya😂😂.. Akhirnya soojung muncul kembali senang banget jadinya.. Dan baek juga udah mulai berani muncul didepannya sena.. Wah makin seru nih kayaknya. Mantap banget thor..

  18. Huh kirain setelah jisoo sadar langsung jadi sena ternyata masih tetap jisoo #dikira sena wonder women bisa berubah 😀
    Disini gak ada moment baekhyun-sena ,, dituggu moment nya yaa thorr . Lanjut next capter thor !!

  19. Oke enough! Aku mulai berpikir ini pendek banget>< sorry kak author.. I didn't mean hehe.. I'm just talking to my self,
    Aku kira rasa kangen ku ke ff ini ga sebanding sm kangen baekhyun ke sena *hiks
    Kok soojung seakan menutupi sih ?? Ahh dia pasti karakternya sahabat yg baik, yg lebih mementingkan keadaan sahabatnya. Oke sena-ssi ditunggu kembali ingatannya hahaha btw, baekhyun baru nongol dan udah tbc ajah *kasianbaek

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s