[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 49)

MY LADY

[ Chapter 49]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACKPINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : PG + 17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31 -> CHAPTER 32 -> CHAPTER 33 -> CHAPTER 34 -> CHAPTER 35 -> CHAPTER 36 -> CHAPTER 37 -> CHAPTER 38 -> CHAPTER 39CHAPTER 40 –> CHAPTER 41 -> CHAPTER 42 -> CHAPTER 43 -> CHAPTER 44 –>CHAPTER 45 -> CHAPTER 46 – > CHAPTER 47 -> CHAPTER 48

Setelah melalui perdebatan yang cukup alot akhirnya Sena mau dibawa ke rumah sakit oleh Soojung. Dengan langkah tertatih ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat poli klinik berada. Soojung yang berjalan di samping Sena berusaha menjadi penyangga di saat Sena mencoba untuk terus berjalan. Padahal tadi ia sudah menyarankan agar Sena memakai kursi roda yang menjadi salah satu fasilitas gratis yang ditawarkan rumah sakit jika mengingat keadaan Sena saat ini.

Namun dengan keras kepalanya, Sena menolak hal itu karena ia merasa masih bisa berjalan seperti orang normal pada umumnya walau dengan sedikit tertatih. Di sampingnya Soojung terus saja menggerutu dengan sikap keras kepala Sena. Bukannya ia tidak tulus menolong Sena, hanya saja jika ada sesuatu yang mempermudah jalan mereka, kenapa tidak dimanfaatkan dengan baik saja bukannya malah mencari jalan yang sulit.

“Kau duduk di sini, dan jangan ke mana-mana!” ucap Soojung sedikit kesal begitu mereka sampai di ruang tunggu. Sena mencekal pergelangan tangan Soojung sebelum sahabatnya itu meninggalkannya sendirian di sana.

“Kau mau ke mana?”

Soojung membuang napasnya secara berlebihan mendengar pertanyaan Sena. “Kau tidak lihat jika keringatku bercucuran sampai sebesar biji jagung?” Soojung menunjuk keningnya yang dipenuhi keringat, dan Sena mengikuti arah tunjukkan itu. “Aku mau membeli minum. Kau mau pesan sesuatu?” lanjut Soojung begitu ia melihat Sena juga kelelahan sama seperti dirinya.

“Air putih saja.”

Setelah mendengar jawaban dari Sena, Soojung pun pergi ke arah kantin rumah sakit. Sena menatap punggung sahabatnya itu dengan rasa bersalah. Jika saja ia sedikit membuang egonya, maka ia dan Soojung tidak akan kelelahan seperti saat ini.

Dialihkannya pandangan Sena ke arah pergelangan kakinya yang masih membengkak dan berdenyut nyeri. Sepintas kejadian semalam kembali hadir dalam benaknya. Bagaimana ia berlari dan berteriak seperti orang gila saat Baekhyun meninggalkanya begitu saja. Hingga ia terjatuh dan tidak bisa melakukan apapun lagi selain menangisi kebodohannya selama ini.

Tanpa sadar air matanya kembali menetes dari pelupuk matanya. Hatinya sakit, tubuhnya juga sakit. Tapi Sena sadar, yang paling terluka di sini adalah Baekhyun, dan ia bertekad untuk memperbaiki semuanya. Ia tidak sanggup jika harus kehilangan Baekhyun begitu saja. Bagaimanapun caranya ia akan berusaha untuk kembali ke samping pria yang dicintainya itu.

Tubuh Sena sedikit tersentak saat ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Refleks Sena pun mendongak untuk melihat apa yang menyebabkan ia tersadar dari lamunannya itu. Detik selanjutnya Sena kembali menundukkan wajahnya saat tahu Soojung lah penyebabnya. Sena segera menghapus air matanya karena ia tahu Soojung akan marah jika melihatnya lemah seperti ini lagi.

“Kau menangis lagi?” tanya Soojung yang lebih mirip penyataan dari pada sebuah pertanyaan. Sena menggelengkan kepalanya berusaha menyangkal apa yang ditanyakan Soojung walau Sena tahu semua itu percuma karena Soojung sudah terlanjur melihatnya.

Soojung menghembuskan napasnya lelah sambil mendudukkan dirinya di samping Sena. Ia menyodorkan sebotol air mineral dingin ke arah Sena tanpa melihatnya sama sekali. Pandangannya menatap kosong ke arah depan. Sangat susah menasihati seseorang yang sedang dimabuk cinta, pikir Soojung.

Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya. Soojung sudah terlalu lelah dan bosan menasihati Sena sehingga ia memilih diam untuk kali ini. Hingga tidak lama kemudian, seorang perawat memanggil nama Sena. Soojung membantu Sena untuk berjalan menuju ruangan dokter untuk memeriksakan kaki Sena.

Dengan teliti dokter tersebut memeriksa keadaan Sena. Mulai dari denyut jantung dan tekanan darahnya, sampai pemeriksaan suhu tubuh pun dilakukan oleh dokter tersebut. Setelah itu, ia menyarankan Sena agar melakukan tes MRI untuk memastikan pergelangan kaki Sena hanya keseleo semata tidak sampai mengalami retak ataupun pergeseran pada tulangnya.

Magnetic resonance imaging (MRI) atau pencitraan resonansi magnetik adalah alat pemindai yang memanfaatkan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh. MRI dapat memberikan informasi struktur tubuh yang tidak dapat ditemukan pada tes lain, seperti X-ray, ultrasound, atau CT scan.

Butuh waktu yang sedikit lama untuk melihat hasil pemeriksaan dari MRI. Bagi Sena, pemeriksaan yang sedang dijalaninya itu sungguh berlebihan. Ia hanya mengalami keseleo tapi dokter itu menyarankan agar dirinya diperiksa lebih lanjut dengan MRI seperti orang yang sedang mengalami patah tulang saja. Bukan tanpa alasan Sena menganggap ini semua berlebihan, karena sebagai seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di bidang kedokteran ia tentu tahu apa tujuan dari tindakan yang diambil dokter yang memeriksanya tadi.

Sedangkan Soojung memiliki pendapat yang berbeda dengan Sena mengenai hal ini. Ia menganggap semua tindakan itu adalah hal yang wajar, karena sebagai seorang dokter tidak bisa memutuskan suatu tindakan hanya berdasarkan praduga saja. Butuh data yang akurat untuk menentukan suatu tindakan agar tidak keliru saat mengambil keputusan. Ia pun menerapkan hal yang sama pada pasien-pasiennya. Sekalipun itu seekor hewan.

Penantian panjang Sena dan Soojung pun akhirnya berakhir. Seorang perawat kembali memanggil mereka untuk melihat hasil pemeriksaan sebelumnya. Sena dan Soojung duduk berseberangan dengan dokter yang sedang menangani Sena. Dokter tersebut terlihat masih berkonsentrasi pada dokumen yang ada di depannya. Dokumen yang tidak lain adalah catatan kesehatan Sena saat ini. Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya ia mendongakkan wajahnya untuk menatap Sena yang sedang menunggunya. Senyuman simpul tercetak di wajah tua dan lelahnya.

“Seperti diagnosa awal, kaki anda tidak apa-apa, nona Lee. Dua sampai tiga hari lagi bengkaknya akan hilang. Untuk mengurangi rasa sakitnya, saya akan meresepkan obat anti nyeri dan vitamin,” ucapnya sambil menuliskan sebuah resep obat pada kertas di hadapannya. Sena dan Soojung sedikit paham obat apa yang sedang ditulis oleh dokter di depannya itu. “Tapi ada sesuatu yang mengganjal karena saya tidak bisa benar-benar memastikannya.”

Sena dan Soojung menatap bingung pria paruh baya di depannya ini mengenai apa yang tengah dibicarakannya saat ini. Debaran jantung Sena tiba-tiba berpacu dengan cepatnya menunggu kelanjutan dari pernyataan yang menggantung itu. Takut sesuatu yang tidak diinginkan dideritanya.

“Saya menyarankan anda untuk menemui dokter kandungan. Walau samar, saya bisa merasakan jika detak jantung anda seperti wanita yang tengah mengandung.”

Tubuh Sena dan Soojung langsung membeku seketika. Perkataan dokter tersebut sukses membuat Sena dan Soojung semakin terbungkam. Tidak tahu harus menanggapi seperti apa karena keduanya terlalu terkejut dengan berita ini.

“Jika anda mau, saya bisa mendaftarkan nama anda saat ini juga,” tawar dokter itu menunggu respon Sena.

Soojung adalah orang pertama yang sadar dari keterkejutannya. Ia menoleh ke samping untuk menatap Sena yang masih bergeming di tempatnya bagaikan sebuah patung. Soojung kembali mengalihkan tatapannya ke depan. Ia bisa melihat jika dokter tersebut sedang menunggu jawaban atas tawarannya itu. Soojung menarik napas dalam, dan menghembuskannya secara perlahan untuk mencari ketenangannya.

“Kami sangat menghargai kebaikan anda, dokter,” ucap Soojung sambil berusaha tersenyum setulus mungkin walau ia yakin saat ini senyumannya lebih seperti senyuman kaku penuh keterpaksaan dari pada sebuah senyuman tulus. Tapi untungnya dokter itu tidak mempermasalahkan senyuman Soojung dan malah memanggil asistennya. Ia memberikan beberapa intruksi agar asistennya itu mendaftarkan Sena sebagai pasien yang akan memeriksakan kandungannya.

“Saya sudah mendaftarkan nona Lee. Kalian bisa langsung ke poli kandungan untuk memeriksakannya. Semoga kabar baik yang akan kalian dapatkan,” ucapnya setelah asistennya itu pergi keluar dari ruangan itu.

“Terima kasih. Kalau begitu kami permisi dulu,” jawab Soojung karena Sena masih saja terdiam. Soojung sedikit menyentak Sena agar tersadar dari lamunannya. Lalu ia memapah Sena kembali untuk keluar dari ruangan itu setelah ia sedikit membungkukkan badannya, pamit pada dokter yang telah memeriksa Sena. Sena masih terlalu terkejut dengan keadaannya saat ini sehingga ia hanya pasrah menerima setiap perlakuan Soojung padanya. Sesampainya di luar, Sena masih saja belum mengeluarkan suaranya. Ia seperti orang bisu bahkan setelah mereka sampai di depan poli kandungan.

“Untuk apa kita ke sini?” tanya Sena seperti orang bingung setelah ia sedikit tersadar dari rasa terkejutnya sambil melihat keadaan sekitarnya.

“Kau tidak dengar jika dokter tadi menyuruhmu untuk memeriksakan kehamilanmu?”

Sena menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Soojung padanya. Pikiran Sena terlalu kacau hingga tidak terlalu menyimak perkataan dokter umum yang baru beberapa saat lalu ia temui. Berita tentang kemungkinan ia tengah hamil membuat pikirannya semakin runyam dan Sena merasa saat itu juga telinganya tidak bisa mendengar dan otaknya tidak mampu untuk berpikir.

Sena menundukkan wajahnya untuk menatap perutnya sambil mendudukkan dirinya di atas kursi ruang tunggu. Seakan tidak mempercayai keadaannya saat ini, Sena pun bertanya,“Hamil? Bagaimana bisa?”

“Tentu saja bisa jika kau dan Baekhyun sering melakukannya,” jawab Soojung setengah kesal dengan pertanyaan Sena yang orang bodoh saja dapat menjawabnya dengan mudah.

“Tapi… aku tidak merasakan…”

“Mungkin karena dia masih kecil,” potong Soojung sambil menunjuk perut Sena dengan dagunya saat ia mengerti ke mana arah pembicaraan sahabatnya itu. Walau ini bukan kehamilan pertama Sena, tapi tidak menutup kemungkinan jika Sena belum menyadari keberadaan janinnya yang masih sangat kecil itu.

“Nyonya Lee Sena,” panggil seorang perawat membuat Sena dan Soojung mau tidak mau beranjak dari tempat duduknya itu.

Seorang dokter wanita yang masih sangat cantik di usia hampir setengah abadnya menyapa keduanya. Ia memberikan beberapa pertanyaan mendasar tentang gejala kehamilan pada Sena, seperti kapan terakhir kali ia menstruasi dan kapan terakhir kali ia berhubungan intim, dan lain sebagainya. Dokter itu pun menyuruh Sena untuk berbaring di sebuah bangkar pemeriksaan. Ia menyingkap dress Sena ke atas hingga memperlihatkan perutnya dan menyelimuti tubuh bagian bawah Sena dengan sebuah selimut yang sudah disediakan.

Tidak lama kemudian Sena bisa merasakan sebuah gel dingin dioleskan di perut bagian bawahnya. Dengan perasaan campur aduk, Sena menanti sambil menatap layar hitam yang ada  di sebelah kanannya. Entah ia harus bahagia atau sedih saat Sena mendengar detak jantung dari janin yang ada di perutnya. Layar hitam pun berubah dengan menampilkan sebuah gambar hitam putih yang samar memperlihatkan bentuk janinnya itu.

Tatapan mata Sena terus menatap lekat gambar di sampingnya. Penjelasan dokter yang sedang memeriksanya saat ini tidak lagi didengarnya. Telinga seolah tuli karena euforia yang dirasakannya saat ini. Sedikit banyak ia mengetahui jika janinnya baru berusia satu bulanan. Setetes air mata jatuh dari matanya. Entah apa yang kali ini ia tangisi. Kabar ini terlalu mengejutkannya. Jika saja ia lebih peka dan tidak bertindak gegabah, mungkin saat ini bukan Soojung yang tengah menemaninya, tapi ayah dari janinnya.

“Apakah anda ingin mencetak fotonya?” tanya dokter tersebut membuyarkan lamunan Sena. Pertanyaan itu Sena jawab dengan anggukkan kepala. Hari ini ia merasa menjadi orang bisu karena tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun, meskipun itu hanya sekedar mengucapkan ‘iya’ saja.

“Ini.” Sena menerima sodoran foto hasil USG-nya dengan tangan gemetar. “Saya turut berbahagia dengan kabar baik ini,” tambah dokter wanita itu yang bisa melihat betapa Sena sangat berbahagia saat ini.

“Terima kasih,” ucap Sena setelah ia menemukan kembali suaranya yang sempat hilang beberapa saat yang lalu. Ia merapikan kembali pakaiannya, dan tanpa menunggu dokter itu, Sena kembali ke ruangan di mana Soojung sedang menunggunya.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Soojung begitu penasaran dan segera menghampiri Sena. Membantunya untuk kembali duduk di tempat semula sambil menunggu dokter kandungan itu keluar dari ruangan pemeriksaan. Untuk pertama kalinya Sena bisa tersenyum ke arah Soojung setelah apa yang dialaminya. Sebelum Sena bisa menjawab pertanyaan Soojung, dokter yang telah memeriksa Sena muncul dan duduk di kursi kerjanya lagi.

“Usia kehamilan anda masih sangat muda, jadi saya harap anda bisa menjaganya dengan baik. Jangan terlalu stres, perbanyak istrirahat, dan terapkan pola makan sehat. Jika perlu, konsumsilah tambahan suplemen tubuh seperti vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. Tapi vitamin yang baik tetap vitamin yang kita dapatkan secara alami contohnya buah-buahan.”

Sekaranag giliran Soojung yang terdiam saat mendengar penjelasan dokter tersebut. Semuanya terlalu mendadak dan mengingat keadaan Sena saat ini Soojung tambah dilema harus menyikapinya seperti apa. Demi Tuhan, ia ikut bahagia mendengar kabar ini, tapi di sisi lain ia juga sedih karena ayah dari bayi yang dikandung sahabatnya itu lagi-lagi tidak ada di samping sahabatnya.

Setelah mendengarkan beberapa petuah yang sama sekali tidak masuk di telinga Sena maupun Soojung, mereka pun memutuskan untuk pulang. Selama perjalanan pulang tidak ada yang berani untuk mengeluarkan suaranya. Mereka membiarkan keheningan membungkus keduanya. Bukan dalam artian keheningan yang mencekam, hanya saja mereka terlalu bingung harus bersikap seperti apa.

Soojung yang sudah tidak tahan pun memutuskan untuk bertanya pada Sena sesaat setelah mereka sampai di apartemen Soojung. “Apa yang akan kau lakukan ke depannya?”

Sena mengendikkan bahunya, lalu berkata, “Entahlah. Semuanya terlalu mendadak.” Lalu ia terlihat berpikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Mungkin aku akan berusaha untuk memperbaiki hubunganku lagi dengan Baekhyun.”

“Kau gila? Ia sudah mencampakkanmu dan kau masih ingin kembali padanya?”

“Kau benar. Aku sudah gila. Tapi untuk kali ini, akulah penyebab ia mencampakkanku dan aku sendiri yang harus memperbaiki semuanya,” ucap Sena dengan nada lirihnya sambil mengusap lembut perut ratanya.

“Dengan cara kau akan kembali padanya?”

“Entahlah.”

Jawaban Sena yang terlihat ragu membuat Soojung mengerang kesal. “Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian sampai ia begitu teganya mencampakkanmu? Setahuku selama Baekhyun begitu tergila-gila padamu.”

“Aku tidak bisa memberitahumu.”

“Apakah masalah laki-laki lain?”

“Bukan.”

“Restu orang tua?”

“Tidak juga.”

“Harta?”

“Baekhyun tidak akan marah sekali pun aku membeli beberapa buah pulau pribadi.”

“Lalu apa?”

Sena terlihat menimang-nimang jawaban apa yang harus ia ucapkan pada Soojung tanpa membongkar semuanya. “Hidup?” ucap Sena sedikit ragu karena ia tidak menemukan kata yang pas untuk keadaannya saat ini.

What?” Sena memilih diam setelah ia melihat tanggapan Soojung. “Bagaimana bisa hanya karena hidup, hubungan kalian berakhir begitu saja?”

“Kau tidak akan mengerti, Jungie-ya.”

“Maka dari itu buat aku mengerti agar aku bisa membantumu.”

Sena menggelengkan kepalanya karena merasa tidak ingin melibatkan Soojung lebih jauh lagi. Sudah cukup ia selalu menyusahkan sahabatnya ini, tidak untuk sekarang. Di sisi lain, Soojung bertambah gemas karena lagi-lagi Sena seakan menggantungkan ucapannya.

“Kalau begitu terserah. Aku tidak akan membantumu memperbaiki hubunganmu dengan Baekhyun.” Soojung dan Sena kembali terdiam. Soojung memilih untuk tidak mendebat Sena. Ia membiarkan Sena tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai ia mendengar Sena memanggil namanya.

“Jungie…” Soojung tidak menyahuti panggilan Sena karena sesungguhnya ia masih kesal pada sahabatnya itu tapi ia tetap mendengarkan perkataan Sena selanjutnya. “Jika kau dihadapkan dengan dua pilihan antara memilih kewajibanmu sebagai warga negara atau demi kebahagiaanmu, kau akan pilih yang mana?”

Soojung berdecak sebelum menjawab pertanyaan Sena yang dianggapnya sangat aneh. “Pilihan macam apa itu? Sungguh tidak berbobot sama sekali,” protesnya.

“Jawab saja. Kau pilih yang mana?” tanya Sena sambil menghadapkan wajahnya ke samping untuk menatap Soojung secara langsung.

“Jika aku harus memilih, maka aku akan memilih kebahagiaanku. Tidak selamanya menjadi warga negara yang baik itu akan membuatmu bahagia.”

Sena terdiam setelah mendengar jawaban Soojung. Ia bertanya hanya untuk menguatkan tekadnya untuk meraih kebahagiaannya walaupun itu harus mengkhianati negaranya sendiri. Sebenarnya ia sudah berencana untuk melepas posisinya sebagai seorang agen bayangan. Tapi kejadian dua tahun lalu membuatnya mengurungkan niatannya karena ia hilang ingatan. Dan di saat ia akan berhenti, Baekhyun sudah terlebih dulu mengetahui siapa dirinya hingga semuanya menjadi berantakan seperti sekarang ini.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Soojung kala melihat Sena hanya diam. Sahabatnya itu menjadi lebih pendiam dan Soojung sangat khawatir akan hal itu.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya penasaran saja,” bohong Sena dibuat semeyakinkan mungkin agar Soojung tidak curiga.

“Dasar aneh,” ucap Soojung yang tidak menaruh curiga sedikit pun akan pertanyaan yang dilontarkan Sena padanya.

Sena kembali menatap perutnya saat Soojung menggerutu tentang pertanyaannya tadi. Sena mengelus perutnya sayang sambil bergumam terima kasih yang tidak akan didengar Soojung karena Soojung sudah beranjak dari tempat duduknya menuju dapur. Sena lalu mengambil ponselnya, dan mengetikkan sebuah pesan singkat pada atasannya tanpa sepengetahuan Soojung kemudian segera menghapus isi pesan singkat itu setelah ia menerima konfirmasi jika pesan tersebut sudah diterima.

Penyamaranku sudah terbongkar. Aku mundur dari misi ini dan untuk selamanya. Maafkan aku.

~ Tbc ~

20 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 49)”

  1. Author tersayang gada niatan buat ngelanjut ff ini kan? Aku udh berbulan bulan nungguin dan selalu ngecek loh, ayolah dilanjut ffnya banyak yg nunggu nih. Semangat ya thor😘

  2. Astaga Baek 😭😭😭 rada kesel sih sama Sena. Berarti informan Sehun si Sena. Apa mereka masih berhubungan? Atau Sehun juga gk tau kalo Sena udah jadi agen bayangan? Yg tau sena agen bayangan cuma bosnya aja? Arrggggghh ditunggu kelanjutannya kak ><

  3. Astaga Baek 😭😭😭 rada kesel sih sama Sena. Berarti informan Sehun si Sena. Apa mereka masih berhubungan? Atau Sehun juga gk tau kalo Sena udah jadi agen bayangan? Yg tau sena agen bayangan cuma bosnya aja? Arrggggghh ditunggu kelanjutannya kak ><

  4. Wah kali ini kayakx sena yg bakal butuh tenaga buat dapet maafx baekhyun,,poor sena
    Kalo aq du posisi baekhyun jg kayakx bakal ngelakuin hal yg sama,,menjauhh
    Penghianatan itu menyakitkann,,hihihi
    Next chap jangan lama² ya thor
    Fightingg

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s