[EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 33)

MY LADY - CHAPTER 33.jpg

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya : Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13 -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25 – CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31 -> CHAPTER 32

“Kita berjumpa lagi, My Lady.” sapa Baekhyun sambil menyunggingkan bibirnya untuk tersenyum semanis mungkin. Beberapa orang yang melihat senyuman itu sedikit terpekik kaget. Tidak jauh beda dengan apa yang dirasakan Jisoo saat ini.

Ia hanya bisa mematung di tempatnya berdiri seperti orang bodoh sambil menatap Baekhyun terpesona. Senyuman Baekhyun semakin bertambah lebar melihat reaksi yang diberikan Jisoo padanya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun sedikit khawatir karena Jisoo tidak menampakkan respon apapun terhadapnya.

Jisoo yang tertegun segera tersadar dan merutuki kebodohannya yang kembali terpesona kepada pria gila di depannya ini. Ya, pria gila yang telah melecehkannya, dan sekarang beralih profesi menjadi penguntitnya. Melalui tatapannya Jisoo seakan bertanya ‘mau apa kau datang ke sini?’

Baekhyun yang mengerti pun hanya bisa tersenyum sambil menatap Jisoo. “Kau tidak mau menunjukkan meja yang kosong?” tanya Baekhyun sambil mengamati keadaan kafe yang lumayan penuh sesak. “Perutku sangat lapar.” Tambah Baekhyun sambil memegangi perutnya ketika pandangannya ia alihkan kembali pada Jisoo.

Jisoo hanya bisa mendengus kesal, karena sebagai pelayan, ia tidak bisa sembarangan mengusir pelanggan untuk keluar dari kafe tempat ia bekerja walaupun ia yakin tujuan pria itu ke sana bukan hanya untuk makan. Itu hanya kamuflase semata.

“Silahkan ikuti saya.” Jawab Jisoo berusaha seramah mungkin dengan menunjukkan senyumannya yang terlihat sangat dipaksakan.

Baekhyun mengikuti ke mana Jisoo membimbingnya. Dipilihnya sebuah meja di dekat jendela, dan Baekhyun langsung mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia. Dengan sedikit kasar Jisoo menyerahkan buku menu kepada Baekhyun, tapi itu tidak dipermasalahkan sedikit pun oleh Baekhyun.

Dengan sabar Jisoo menanti pesanan Baekhyun di saat pria itu hanya membolak-balikkan buku menu tanpa menaruh minat sama sekali. “Saya akan memberikan anda waktu untuk memilih makanan apa yang akan anda makan. Saya per…”

“Kau bisa merekomendasikan makanan apa yang harus aku makan?” tanya Baekhyun memotong ucapan Jisoo yang hendak pergi meninggalkannya.

Jisoo kembali mendengus kesal karena Baekhyun tidak berniat membiarkan ia pergi. ‘Seharusnya kau bertanya dari tadi, pria gila!’ rutuk Jisoo dalam hati. Tapi Jisoo kembali tersenyum ke arah Baekhyun yang sedang menunggunya menjawab pertanyaan yang diajukan Baekhyun. “Menu spesial hari ini adalah Foie Grass, merupakan hati bebek yang di roasted dan diberi potongan buah dan diberi orange glaze.” Jelas Jisoo.

 

Baekhyun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Baiklah. Aku pesan itu.” Lalu ia membalikkan menu selanjutnya dan melihat daftar minuman saat Jisoo sedang sibuk menuliskan makanan yang dipesan Baekhyun. “Untuk minumannya, aku pesan ChΓ’teau de Rolland.”

 

Jisoo menghentikan gerakan menulisnya saat ia mendengar pesanan Baekhyun. Ia mengernyitkan keningnya memikirkan apa yang dipesan Baekhyun sebagai teman makanannya. “Kau tidak berniat mabuk di siang hari kan?” tanya Jisoo melupakan sikap formalnya.

“Tentu saja tidak.”

Jawaban Baekhyun masih belum bisa diterima oleh Jisoo. Bagaimana pun Baekhyun jelas-jelas memesan sebotol wine berjenis Sauternes yang memiliki warna keemasan menyerupai teh dan diproduksi di daerah Sauternes, Perancis. Wine jenis tergolong mahal karena diproduksi hanya dari butiran anggur yang diserang jamur botritis canerea yang mengubah strukturnya menjadi lebih kental dan manis.

“Jenis wine ini tidak dijual dalam bentuk gelas, anda harus membelinya satu botol.”

“Apakah ada masalah?” tanya Baekhyun lagi saat Jisoo tidak juga menuliskan pesanan winenya.

Jisoo dan Baekhyun saling bersitatap selama beberapa menit sebelum akhirnya Jisoo berkata, “Tidak ada.” Jawab Jisoo berlagak tak acuh sambil menuliskan pesanan Baekhyun. “Mohon tunggu sebentar.” Lanjutnya lagi setelah mengecek pesanan Baekhyun dan berjalan ke arah bagian belakang untuk memberikan pesanan Baekhyun pada koki.

Setelah menyerahkan kertas pesanan Baekhyun, Jisoo kembali ke posisinya dan tanpa sadar, ia terus memperhatikan apapun yang dilakukan oleh Baekhyun. Baekhyun yang menyadari tatapan Jisoo terarah padanya berusaha sekuat tenaga untuk bertidak acuh tidak acuh akan sikap Jisoo itu. Ia ingin Jisoo penasaran padanya terlepas dari apa yang telah terjadi di antara mereka.

Lima belas menit kemudian, makanan Baekhyun sudah matang dan siap disajikan. Jisoo yang awalnya menolak untuk menyajikan makanan tersebut pada akhirnya menyajikannya juga. “Selamat menikmati.” Ucap Jisoo setelah ia meletakkan semua pesanan Baekhyun.

“Terima kasih.” Jisoo menyunggingkan senyuman sekadarnya sebelum ia kembali meninggalkan Baekhyun.

“Tidakkah menurutmu ia sangat tampan?” tanya Luna begitu Jisoo berdiri di dekatnya. Jisoo yang melihat pandangan memuja Luna segera mengikuti ke mana arah pandangan itu tertuju. Dan saat Jisoo tahu ke mana muara itu, tanpa sadar raut wajah Jisoo berubah menjadi masam. Entah kenapa ia tidak suka ada wanita lain yang memandang wajah rupawan itu dengan tatapan memuja seperti apa yang sedang Luna lakukan saat ini.

“Biasa saja.”

“Aku penasaran apakah ia sudah memiliki kekasih atau belum?” lanjut Luna tidak seakan tidak peduli dengan tanggapan Jisoo yang sedikit dingin terhadapnya.

“Memangnya kenapa?” tanya Jisoo berusaha menyembunyikan nada tidak sukanya.

“Tentu saja aku akan mendekatinya dan berusaha menjadikannya kekasihku.” Jawab Luna percaya diri yang dijawab decakan meremehkan dari Jisoo yang syukurnya tidak sampai ke telinga Luna.

“Mimpimu terlalu tinggi.”

“Apa salahnya dengan bermimpi? Kau sungguh tidak asyik.” Kesal Luna saat mendengar jawaban Jisoo mengenai keinginannya. Luna segera beranjak dari sana saat ia melihat seorang pelanggan masuk ke dalam kafe. Meninggalkan Jisoo dengan segala rasa kesalnya.

Selepas kepergian Luna, terbesit dipikiran Jisoo membayangkan Luna menjadi kekasih pria gila itu dan hal itu sukses membuat Jisoo bergidik ngeri, seakan ia tidak rela dan cemburu saja. Cemburu? Jisoo mengulang kata itu di dalam pikirannya. Kenapa pula ia harus cemburu akan kehidupan percintaan orang lain? Tanya Jisoo lebih kepada dirinya sendiri yang tiba-tiba menjadi aneh.

Jisoo menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir semua pemikiran aneh yang tiba-tiba hinggap di kepalanya bersamaan dengan munculnya pria gila itu. Pria gila menyebalkan yang entah kenapa tidak bisa dibencinya walaupun ia ingin membencinya.

Di sisi lain, sepanjang hari itu Baekhyun berusaha untuk tidak tersenyum lebar saat menyadari tatapan tidak suka Jisoo akan mata wanita-wanita yang ada di dalam cafe tersebut. Baekhyun bukanlah orang buta yang tidak bisa merasakan tatapan kesal Jisoo padanya maupun pada wanita yang terang-terangan mengaguminya. Untuk itu, sebisa mungkin ia menyibukkan dirinya sendiri dengan bekerja sebagai pengisi waktu luangnya sambil menjaga Sena, atau wanita yang mirip dengan Sena.

Semua berkas perusahaannya ia baca melalui email yang dikirimkan Kai atau pun Chanyeol padanya atau ia akan menyuruh salah satunya datang sendiri ke sana untuk menyerahkan berkas yang perlu Baekhyun tanda tangani. Tekadnya untuk menjaga wanita yang mirip dengan Sena secara langsung membuat ia harus bekerja sambil mengamatinya.

Memori saat-saat dulu Sena merengek padanya untuk mengizinkan ia agar bisa bekerja berputar di kepalanya. Dan pekerjaan sebagai pelayan kafe lah yang dipilih Sena sebagai mata pencahariannya. Padahal Baekhyun bisa membeli sepuluh kafe sekaligus dan menyerahkannya pada Sena untuk dikelolanya dari pada ia harus bekerja sebagai pelayan. Namun sayangnya, kekeraskepalaan wanitanya itu membuat Baekhyun pun tidak bisa berkutik untuk tidak mengabulkan keinginannya.

Baekhyun tersenyum simpul saat mengingatnya. Ia tidak menyangka bahwa ia akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah ia lakukan dulu, yaitu mengamati wanita yang mirip Sena selama ia bekerja, dan itu tidak bisa membuat Baekhyun bosan sama sekali. Perasaan rindunya selama dua tahun belakangan ini akan ia tebus dengan cara mengamati wanita itu sampai ia kembali pada Baekhyun.

Baekhyun yakin ia adalah Sena tapi Baekhyun tidak mau ambil risiko kehilangan Sena lagi saat mengingat sikap Sena padanya beberapa minggu yang lalu. Penolakan dan sikap Sena yang seakan tidak mengenal Baekhyun membuatnya harus lebih berhati-hati dan perlahan-lahan untuk mendekati Sena lagi.

Cara kekerasan tidak akan membuat Sena kembali padanya, dan itu sudah dibuktikan oleh Baekhyun saat di pulau Jeju. Baekhyun harus mengganti strategi agar ia bisa mendapatkan wanitanya kembali. Apapun itu caranya.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Waktu terasa berputar dengan sangat cepat karena Baekhyun terlalu fokus pada pekerjaannya. Baekhyun mengedarkan pandangannya, dan matanya langsung berbinar cerah saat melihat Jisoo sedang tidak terlalu sibuk. Tanpa disangkanya, Jisoo menolehkan wajah ke arahnya tanpa Baekhyun harus memanggilnya terlebih dahulu.

Baekhyun menjentikkan jemarinya sebagai isyarat agar Jisoo mendekatinya. “Tolong ambilkan tagihannya.” Pinta Baekhyun begitu Jisoo berada di sampingnya.

Jisoo berjalan ke arah meja kasir untuk meminta tagihan meja Baekhyun, lalu ia kembali lagi untuk menyerahkannya pada Baekhyun tanpa banyak bicara. Baekhyun melihat tagihannya, mengeluarkan beberapa lembar uang sebagai bayarannya.

“Terima kasih.” Ucap Jisoo setelah menerima uang dari Baekhyun. Namun sebelum Jisoo beranjak dari sana, suara panggilan Baekhyun membuatnya dengan enggan membalikkan badannya lagi.

“Tunggu sebentar.” Jisoo memperhatikan Baekhyun yang seakan sedang panik mencari sesuatu.

“Apakah ada yang bisa saya bantu?”

“Bisakah kau meminjamkan handphonemu padaku?” Jisoo mengerutkan keningnya seakan bertanya ‘untuk apa?’. Baekhyun yang mengerti pun segera melanjutkan perkataannya. “Aku lupa menaruh di mana handphoneku sedangkan aku harus menghubungi rekan bisnisku saat ini juga.” Jawab Baekhyun sambil berusaha mencari benda persegi itu di sekitar tubuhnya.

Jisoo mengamati Baekhyun untuk mencari kebohongan dalam ucapannya itu. Tapi saat melihat betapa paniknya Baekhyun, mau tidak mau Jisoo pun mengeluarkan handphonenya untuk diberikan pada pria di depannya itu.

Baekhyun yang melihat Jisoo mengulurkan handphonenya tanpa pikir panjang langsung mengambilnya dan dibukanya handphone tersebut. Ia lalu menekan beberapa digit angka yang dihafalnya di dalam kepala. Detik berikutnya sebuah suara dering telepon terdengar di telinga keduanya.

Baekhyun merogoh saku dalam jas yang ia sampirkan di kursi yang di dudukinya, lalu mengeluarkan benda yang dicarinya itu. “Ketemu.” Jawab Baekhyun sambil menggoyang-goyangkan handphonenya. Lalu ia menggeser tombol warna merah membuat panggilan tersebut terputus.

Sebelum Baekhyun mengembalikan handphone Jisoo, ia menekan beberapa tombol dan menyimpan nomor Baekhyun tanpa persetujuan dari Jisoo. Jisoo membulatkan matanya melihat sikap Baekhyun itu. “Apa yang kau lakukan?”

“Menyimpan nomorku.” Jawab Baekhyun tidak menatap Jisoo sama sekali.

“Siapa yang mengizinkanmu?”

“Tentu saja diriku sendiri.” Baekhyun menjauhkan handphone Jisoo saat wanita itu hendak mengambilnya secara paksa. “Terima kasih.” Lanjut Baekhyun sambil menyerahkan benda tersebut kepada pemiliknya tanpa menyembunyikan perasaan bahagianya karena ia mengetahui nomor handphone Jisoo.

Jisoo hanya bisa menatap tidak percaya saat sadar dengan trik yang dipakai Baekhyun. “Kau mencoba menipuku?”

“Tidak.” Jawab Baekhyun yang sedang memasukkan nomor handphone Jisoo ke dalam kontaknya. “Kau menanggapinya terlalu berlebihan, Jisoo-ssi.” Ucap Baekhyun sedikit menekan nama Jisoo di akhir kalimatnya.

“Bagaimana kau bisa tahu namaku?”

Baekhyun menunjuk papan nama yang digunakan oleh Jisoo di bajunya dengan menggunakan dagunya, dan seketika itu juga Jisoo merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Tentu saja ia tahu namamu, bodoh! Tapi perasaan aneh kembali menyelubungi tatkala Baekhyun memanggil namanya. Ia merasa asing dengan nama sendiri, tidak seperti saat orang lain memanggilnya.

Tanpa banyak bicara lagi, Jisoo pergi meninggalkan Baekhyun yang masih bergeming di tempatnya. Jisoo melirik handphone digenggamannya dan melihat layar yang menampilkan nama pria gila yang baru saja menjebaknya. Byun-Baek-Hyun. Rapal Jisoo saat membaca tulisan itu. Langkah Jisoo tiba-tiba berhenti setelah merapalkannya. Lidahnya seakan akrab dengan nama itu tapi ia tidak tahu dimana ia pernah mengucapkan nama itu.

Jisoo membalikkan badannya lagi untuk menatap Baekhyun yang ternyata masih menatapnya. Pandangan mata mereka bertemu, dan Jisoo seakan terkunci oleh pandangan mata tajam Baekhyun. Ia seperti terkena sihir dan hanyut ke dalam pesona mata tajam itu. Tajam tapi sanggup membuat Jisoo merona saat itu juga. Degup jantung Jisoo kembali menggila. Siapa dirimu sebenarnya?

Hari-hari berikutnya Baekhyun kembali mendatangi kafe tempat Jisoo bekerja, dan seperti biasa, ia akan memesan makanan lalu ia juga akan mengerjakan pekerjaannya di sana. Hampir setiap hari ia melakukan hal yang sama. Bahkan terkadang ia mengadakan rapat bisnis di sana dengan menyewa seluruh kafe selama beberapa jam saja.

Seperti hari ini, Baekhyun sedang membicarakan masalah bisnisnya dengan Kai di kafe tempat Jisoo bekerja. Kedatangan bawahan Baekhyun itu membuat hampir semua orang terpekik kaget, karena satu lagi pria mengesankan muncul di kafe tersebut.

“Apakah ada seorang idol datang ke sini?” tanya Soojung kepada Jisoo saat ia mengamati suasana kafe yang sedikit ramai akan bisik-bisik pengunjung yang sedang mengagumi seseorang terdengar jelas di telinga Soojung.

Jisoo yang sadar akan keberadaan Soojung mengalihkan pandangannya. “Bukan idol, tapi hanya ada kumpulan pria-pria tampan.” Jisoo mengendikkan bahunya lalu melanjutkan ucapannya, “Menurut sebagian wanita di sini.”

“Dan kau tidak termasuk di dalamnya?” goda Soojung membuat Jisoo mendengus keras.

“Baiklah, aku juga termasuk di dalamnya.” Akunya membuat Soojung kekeh geli. Soojung mengikuti arah pandangan hampir semua orang dan saat itu juga napasnya tercekat. Ia mengenali siapa orang itu. Pria yang menjadi pusat perhatian itu. Ia mengenalnya karena dulu hampir selama seminggu lebih ia terus mengamatinya sebagai permintaan dari Sena.

Detik selanjutnya bibir Soojung pun melengkung membentuk sebuah senyuman bahagia. Ah,ternyata kau sudah mengetahuinya. Guman Soojung dalam hati. Sebuah tangan menyentak Soojung dari lamunannya. Lalu ia menolehkan kepalanya pada Jisoo yang sedang menatapnya bingung.

“Kau tidak mendengarkanku?”

Soojung mengerjapkan matanya bingung karena ia tidak menyimak ucapan Jisoo. “Mianhae. Kau tadi berkata apa?

Jisoo memutarkan matanya kesal karena ucapannya tidak disimak oleh Soojung. Aku bertanya, selama seminggu ini kau ke mana saja? Aku tidak melihatmu datang ke sini.”

“Oh, seminggu kemarin aku ada sebuah konferensi di Busan. Maaf tidak mengabarimu.” Soojung melirik jam tangannya. “Sepertinya aku harus segera kembali. Sampai jumpa besok.” Lanjutnya lagi sebelum meninggalkan kafe tersebut.

“Kau tidak memesan sesuatu terlebih dahulu?”

“Tidak. Aku datang hanya untuk menyapamu, dan aku sudah makan.” Bohongnya saat berada di depan pintu keluar kafe.

Sedangkan Jisoo hanya bisa menatap kepergian Soojung dengan bingung. ‘ada apa dengannya?’ Selang beberapa detik setelah Soojung keluar dari kafe, Jisoo melihat Sehun berjalan memasuki kafe. Wajah Jisoo otomatis tersenyum melihat Sehun juga tengah tersenyum ke arahnya. Dengan masuknya Sehun ke dalam kafe tersebut, membuat semua orang kembali terpekik kaget karena satu lagi pria tampan menjadi pengunjung kafe itu.

“Ada dengan kafe ini? Kenapa tiba-tiba banyak pria-pria tampan masuk ke sini?” ucap Luna tanpa bisa menahan pekikkannya saat Sehun berjalan ke arah di mana ia dan Jisoo sedang berdiri.

“Hai.” Sapa Sehun kala ia sudah berdiri tepat di depan Jisoo.

“Hai.” Jawab Jisoo salah tingkah karena Luna menatapnya dan Sehun bergantian dengan pandangan mata tidak percaya. Jisoo berdeham sedikit untuk mengabaikan tatapan Luna padanya yang seakan meminta penjelasan padanya. “Kau tidak bekerja?” lanjut Jisoo.

“Aku hanya mampir sebentar karena sedang ada urusan di sekitaran sini.”

“Kau sudah makan siang?”

“Kalau aku sudah makan siang, aku tidak mungkin mengunjungi kekasihku yang bekerja di kafe hanya untuk sekadar menyapanya.”

Jisoo tersenyum ke arah Sehun dengan begitu lebarnya mendengar jawaban Sehun tanpa menyadari di salah satu sudut ruangan itu ada yang terbakar cemburu karenanya. Jisoo yang merasakan ada seseorang yang sedang menatapnya intens langsung menurunkan bibirnya dan menolehkan wajahnya ke arah pria yang hampir selama seminggu ini selalu duduk di tempat yang sama dan selalu mengamatinya dengan lekat.

Jantung Jisoo berdetak tidak karuan lagi saat melihat tatapan tajam itu tertuju padanya. Walaupun tatapannya tajam dan menusuk, tapi entah bagaimana Jisoo selalu menyukai tatapan mata itu diberikan padanya. Tatapan yang seolah-olah sedang menelanjanginya saat ini, dan itu membuat tubuh Jisoo tegang seketika.

Sehun yang menyadari perubahan raut wajah Jisoo segera mengikuti ke mana arah pandangan kekasihnya itu. Betapa terkejutnya Sehun saat mendapati wajah yang sama yang dulu pernah mengikuti Jisoo dan sekarang sedang duduk santai sambil menatap Jisoo lekat di salah satu sudut di kafe tersebut. Sialan! Ia kalah cepat. Gumam Sehun sambil mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.

Untuk beberapa saat pandangan mata pria itu beralih padanya. Seulas seringaian tercetak jelas dari bibirnya. Mereka saling tatap dengan waktu yang cukup lama seakan berkomunikasi jika mereka sudah tahu siapa dirinya sebenarnya seperti Sehun juga tahu siapa ia sebenarnya.

Dapat dilihatnya pria itu segera bangkit dari duduknya setelah ia berbisik ke arah pria yang duduk di depannya tanpa melepaskan tatapannya dari Sehun. Ia berjalan melewati Sehun tanpa banyak bicara, tapi Sehun tahu, ia sedang dalam bahaya. Ekspresi wajah Baekhyun langsung berubah tatkala ia sudah melewati Sehun. Sehun membalikkan badannya, menatap punggung yang perlahan menjauh itu.

Perasaannya tidak enak menyergap hatinya. Sehun bisa merasakan aura berbahaya telah ditebarkan oleh pria asing itu. Perang dingin yang dilakukannya beberapa saat lalu seakan ia telah mengibarkan gerderang tak kasat mata di antara mereka. Ia harus lebih berhati-hati padanya karena Sehun tahu ia bukan orang sembarangan. Salah langkah, maka ia akan mati dalam sekejap. Ya, harus lebih berhati-hati.

 

~ tbc ~

 

————————————————————————————-

Maafkan aku baru update lagi. Perasaan males itu kembali menguasiku setelah aku kembali ke perantauan. Jika kalian merasa tidak puas dengan chapter ini, aku terima. Karena sesungguhnya aku juga kurang terlalu semangat untuk menulisnya. Aku tahu di chapter ini sepertinya banyak bolong-bolongnya dibeberapa bagian karena aku sendiri kadang lupa jalan ceritaku atau tulisan yang udah aku tulis seperti apa./maafkan aku.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

 

 

Iklan

32 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 33)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 42) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 41) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Side Story-Kai) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] my lady – chapter 40 | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 39) | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37) | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 36) | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY Β [Chapter 35] | EXO FanFiction Indonesia

  11. Aura permusuhan smkin terasa diantara Baekhyun and Sehun…
    Apkh Baekhyun mnydri kebradaan Soojung???
    Gk sbr pngn liat kbrsamaan Sena and Baekhyun lg…

  12. Puas kok thor..πŸ˜€πŸ˜€malahan keren banget…😘😚😊..ditunggu ya chapter selanjutnya…penasaran sama cerita selanjutnya..penasaran sama Sehun dan Baekhyun nya..πŸ˜πŸ˜€πŸ˜Š

  13. Tetep daebak kok thor ,, hadeuhhh malah makin tegang gegara baekhyun udah mulai perang dingin sama sehun . Gimana klo udah perang beneran #ehhhh
    Ditunggu next chapter nya thor ..

  14. Tetep bagus & keren kok, seperti biasa… πŸ˜€
    Keep writing….. πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜‰ πŸ˜‰
    SEMANGAT TERUS…
    BTW aq blum baca chap 28 loh kak
    Bisa kirim password nya di email yg ini
    Rahayusptn19@gmail.com
    Makasih πŸ™‚ πŸ˜‰
    FIGHTING!!!!!!

  15. Tetap keren dan makin bikin betah ngikutin ceritanya kok, Kak.. Penasaran perang seperti apa yang bakal terjadi antara Baek-Hun 😝

    Aku tunggu chapter chapter berikutnya yaaa… Hwaiting!! 😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s