[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44)

MY LADY - CHAPTER 41

MY LADY

[ Chapter 44]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACKPINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : PG + 17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31 -> CHAPTER 32 -> CHAPTER 33 -> CHAPTER 34 -> CHAPTER 35 -> CHAPTER 36 -> CHAPTER 37 -> CHAPTER 38 -> CHAPTER 39CHAPTER 40CHAPTER 41 -> CHAPTER 42 -> CHAPTER 43

Warning! Kalau kalian pusing tempat-tempat yang bakal aku sebutkan nanti, lihatlah peta benua Asia. SELAMAT BINGUNG kembali! ^^

Sehun terlihat mengantri untuk membeli tiket nonton film di salah satu bioskop yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di daerah Gangnam. Ia memesan kursi di sudut paling kanan atas agar tidak terlalu menarik perhatian penonton yang lain. Nomor kursi ini sering digunakannya jika ketua tim Kim ingin bertemu langsung dengannya.

Biasanya nomor kursi paling atas ini jarang diminati oleh orang-orang yang ingin menonton film, kecuali mereka-mereka yang ingin berbuat mesum tanpa ketahuan oleh penonton lainnya. Sehun tidak hanya memesan satu buah kursi buat dirinya sendiri, tapi ia juga memesan dua buah kursi lainnya, sehingga total kursi yang ia pesan ada tiga. Karena ia tidak ingin pembicaraannya dengan ketua tim Kim akan terdengar oleh orang lain.

Setelah selesai, ia ke loket makanan ringan. Sekedar untuk membeli popcorn dan cola untuk mengusir rasa bosannya. Kemudian ia berjalan ke arah ruang teater yang ditujunya. Keadaan ruangan masih terang benderang. Selagi Sehun melangkah menuju tempat duduknya, ia juga mengamati keadaan sekitarnya. Berpura-pura menjadi nomor kursinya.

Ruangan yang terlalu penuh mendatangkan keuntungan tersendiri bagi Sehun. Film genre roman yang dipilihnya tidak terlalu menarik banyak perhatian pengunjung kecuali beberapa pasang muda yang sedang kencan, dua kumpulan gadis remaja labil yang tengah suka-sukanya dengan hal-hal yang berbau roman.

Sehun pun duduk di kursinya, dan masih mengamati keadaan sekitarnya lewat sudut bibir gelas colanya. Sebisa mungkin ia tidak mengundang banyak perhatian. Sehun mengalihkan tatapannya pada pintu masuk ruang teater. Melihat siapa saja yang masuk setelahnya. Beberapa menit berlalu, dan orang yang ditunggu Sehun masih belum juga sampai.

Lampu ruang teater dimatikan, lalu layar besar di depan sana menampilkan beberapa teaser dari film-film lainnya sebagai iklan sebelum beranjak ke film yang ditunggu. Beberapa orang pun masih terlihat memasuki ruang teater walau Sehun tidak melihatnya secara jelas, hanya bayangannya saja.

Siluet tubuh seseorang terlihat menghampirinya, lalu duduk di kursi yang masih satu baris dengan Sehun. Tempat duduk mereka hanya terpisahkan oleh sebuah kursi kosong yang memang dibiarkan begitu saja. Tanpa melihat secara jelas pun Sehun tahu siapa dia.

Bertepatan dengan layar yang memutar film, Sehun merasakan ada panggilan pada jam tangan ponsel yang digunakannya. Ia menekan tombol hijau, lalu memasang earphone. Suara dari film yang memekakan telinga tidak terlalu mengganggu Sehun karena ia masih bisa mendengar dengan jelas suara di earphonenya.

“Pelajarilah!” ucap suara di sampingnya tapi hanya Sehun yang bisa mendengarkannya. Sehun mengalihkan tatapannya pada sebuah map yang ada di kursi kosong di sampingnya.

“Apa ini?” tanya dengan dahi mengerut, Sehun tetap mengambil map tersebut dan memasukkannya ke dalam kantung yang ada di dalam jaketnya.

“Itu adalah informasi terbaru mengenai transaksi yang akan dilakukan oleh mafia B.S. dengan mafia Meksiko sekitar satu bulan lagi. Tapi sayangnya kita masih belum mengetahui dengan jelas di mana letak tepatnya transaksi itu akan dilakukan.”

“Berapa besar keuntungan yang akan mereka dapatkan jika transaksi ini berhasil?”

“Entahlah. Belum ada konfirmasi pasti, yang jelas nilai dari transaksi ini miliyaran won.”

“Dari mana mereka mendapatkan barangnya itu?”

“Kemungkinan dari pabrik mereka yang ada di Asia Tenggara atau yang ada di Afghanistan.”

“Asia Tenggara?”

“Ya, jangan kau kira mereka tidak bisa menghasilkan berton-ton narkoba dalam satu tahun. Tapi kita juga masih belum mengetahui di mana letak prabrik mereka, karena terlalu banyak pabrik yang diperebutkan dengan mafia China. Bahkan Yakuza Jepang juga memiliki pabriknya sendiri. Sumber daya manusia yang rendah dan tuntutan ekonomi membuat mereka mencari jalan pintas dengan merusak orang lain.”

“Jika memang transaksi ini akan terjadi, mereka tidak mungkin menggunakan jalur udara karena pengawasan di bandar udara sangat ketat. Mungkinkah mereka menggunakan jalur perairan?”

“Itu bisa saja terjadi. Tapi jalur darat juga memungkin terjadi jika mereka melakukannya di perbatasan-perbatasan antar negara. Untuk sementara kita belum bisa memastikan dari mana asalnya, dan jika kita sudah menemukannya, kita bisa menentukan langkah selanjutnya.”

“Tidak biasanya mafia Meksiko memesan barang dari daerah Asia. Apa mafia Kolombia sudah tidak memproduksi kokain lagi?”

“Mungkin mereka kekurangan barang dari jenis yang lainnya.” Seakan tersadar sesuatu, mereka terdiam beberapa saat. “Awasi negara yang menghasilkan narkoba yang biasa dipakai di Meksiko. Kalau perlu, kau hubungi pihak kepolisian sana untuk melakukan kerja sama ini.”

Selama hampir setengah film itu mereka habiskan dengan diskusi mengenai rencana mereka selanjutnya. Menentukan langkah mana saja yang harus mereka ambil ke depannya.

“Apakah aku tidak bisa bertemu langsung dengan agen bayangan yang telah memberikan informasi ini?”

“Tidak. Hidupnya dalam bahaya jika menemuinya langsung. Sudah cukup aku kehilangan kakakmu karena kebodohanku dulu.”

“Memang apa yang terjadi?”

“Mereka sangat kejam. Mereka tidak akan segan-segan membunuh sekecil apapun pengkhianatan yang telah dilakukan. Dan aku tidak mau melakukan hal yang sama.”

“Apakah dulu kakakku juga dibunuh karena itu?”

“Untuk hal itu aku tidak bisa mengelaknya. Seorang agen lapangan sepertimu dan dirinya harus siap mati kapan pun dalam keadaan sebagai pengkhianat negara atau pengkhianat dari organisasi yang tengah kau selidiki.”

“Maka dari itu kau tidak mengizinkanku untuk menyusup secara langsung?”

“Dan membalaskan dendammu? Jangan konyol. Nyawamu terlalu berharga jika memang hanya itu tujuanmu.” Ketua Kim terlihat memandang kosong ke arah layar yang sedang menampilkan adegan romantis dari sepasang kekasih, tapi pikirannya melayang ke masa-masa di mana ia dan kakaknya Sehun, Oh Sanghun, sedang memadu kasih. Ketua Kim yang memiliki nama asli Kim Namjoo itu tersenyum kecut saat mengingatnya. Ia pun berkata, “Kakakmu sangat keras kepala dan bertekad kuat.”

Sehun yang mendengarnya pun memilih diam. Mendengarkan cerita dari mantan kekasih kakaknya itu tanpa berniat menyelanya sedikit pun. Pertemuan mereka yang tidak sengaja karena berada di divisi yang sama, membuat Sehun dan Namjoo tanpa sadar menjadi akrab seketika. Namjoo sudah menganggap Sehun sebagai adiknya sendiri, sebagaimana pesan dari Sanghun dulu.

“Dia memulai penyelidikan klan mafia itu dari titik nol. Dari anggota terbawah, hingga akhirnya ia diangkat menjadi pelatih tembak karena kepiawaiannya. Ia berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya pemimpin dari klan mafia tersebut, agar lebih mudah menghancurkannya. Tapi semuanya berubah setelah ia mengetahui siapa sebenarnya pemimpin yang ia cari dan ia ketahuan identitas aslinya. Aku tidak tahu siapa pastinya, yang jelas Sanghun pernah bercerita jika pemimpin tersebut ada hubungannya dengan Yakuza di Jepang.

Setelahnya aku mencoba untuk menelusuri hal itu. Keluarga mana yang berhubungan dengan Yakuza Jepang. Tapi tidak ada satu pun data yang menunjukkan adanya pernikahan antara mafia B.S. dengan keluarga Yakuza Jepang. Semuanya terlalu gelap, dan aku ingin kau lebih hati-hati lagi.”

Lampu ruang teater pun kembali menyala bertepatan dengan berakhirnya ucapan Namjoo. Terlihat orang-orang berduyun-duyun mengantri menuju pintu keluar dari ruangan. Namjoo membereskan barang bawaannya, lalu berdiri. Tanpa berbalik menatap Sehun, ia pun berkata, “Kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Dan aku tidak ingin kehilangan salah satu keluargaku lagi.”

Sambungan telepon pun terputus sesaat setelah Namjoo mengatakan itu dan melangkah meninggalkan Sehun sendirian termenung. Ia bergabung dengan penonton lainnya yang akan keluar dari ruang teater. Sedangkan Sehun hanya bisa menatap sendu ke arah punggung Namjoo yang semakin menjauh. Sehun simpati sekaligus kagum dengan wanita itu. Ia bisa terlihat kuat dan rapuh disaat bersamaan. Dan hal itu berhasil menumbuhkan semangat Sehun untuk menghancurkan orang-orang yang telah membuatnya dan Namjoo menderita selama ini.

***

Baekhyun melangkah ke dalam perusahaannya dengan tergesa-gesa. Ikatan simpul dasi yang awalnya rapi, sudah ia longgarkan bertepatan dengan ia menginjakkan kaki di perusahaannya. Tidak ada yang berani menyapanya membuat Baekhyun bisa lebih cepat sampai di depan lift.

Taeil yang mengekori di bekalangnya sedikit kesusahan untuk mengejar langkah kaki Baekhyun yang cepat. Secepat ia melangkah, ia pun segera menekan tombol lift sebelum Baekhyun yang melakukannya. Beberapa detik kemudian, pintu lift pun terbuka dan membawa mereka ke lantai tiga puluh. Lantai yang diperuntukan hanya untuk Baekhyun, Kai, dan Chanyeol.

Begitu pintu lift terbuka, Baekhyun melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Kai. Langkah Baekhyun terhenti sesaat di depan pintu masuk. Tanpa berbalik ia pun berkata, “Ada sesuatu yang harus aku diskusikan dengan Kai. Kau kembalilah ke meja kerjamu.” Setelah mengatakan hal itu, Baekhyun langsung membuka pintu ruang kerja Kai tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Sedangkan Taeil menuruti apa yang diperintahkan oleh Baekhyun dan Jinwoo, asisten pribadi sekaligus sekretaris Kai tidak dipedulikan keberadaannya oleh Baekhyun.

“Tidakkah kau  memiliki tangan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu?” tanya Kai dengan suara dinginnya tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya saat ini.

“Tanganku terlalu malas untuk digerakan,” jawab Baekhyun tak kalah dingin sambil berjalan ke arah sofa putih yang ada di ruangan Kai. Mendengar siapa yang menjawabnya, seketika itu juga Kai merutuk dalam hati. Bisa-bisanya ia tidak menyadari siapa yang biasanya masuk sembarangan ke ruangannya jika bukan Baekhyun, Chanyeol, ataupun Shannon. Dan mengenai Shannon, sungguh pikiran Kai masih tertuju pada wanita itu. Walau matanya tertuju pada berkas-berkas di atas mejanya, tapi pikirannya penuh dengan Shannon. Terlalu banyak pikiran yang berkelana di benaknya tapi tidak bisa ia ungkapkan satu pun. Dan itu sungguh mengganggu.

“Kau melamun?”

Hah?” Sial! Rutuk Kai saat ia ketahuan tengah tidak fokus. Bukan Kai yang biasanya.

“Apa yang menggangu pikiranmu?”

“Tidak ada.” Bohong Kai karena ia tidak bisa mengungkapkan apa yang telah terjadi yang sebenarnya pada Baekhyun. Walaupun Kai sangsi Baekhyun tidak akan peduli sama sekali sekalipun ia mencerita malam panasnya secara detail dengan istrinya itu.

Kai memutuskan untuk ikut bergabung dengan Baekhyun di sofa setelah sebelumnya ia mengambil sebotol wine merah di lemari penyimpanannya. Kedatangan Baekhyun yang tidak biasa ke ruangannya, ditambah dengan wajah kusutnya membuat Kai memperkirakan jika sahabatnya itu tengah dirundung masalah.

Mengabaikan tatapan menyelidik Baekhyun, Kai pun membuka tutup botol wine tersebut lalu menuangkannya pada masing-masing gelas yang telah ia bawa.

“Kau tidak seperti Kai yang biasanya?” tanya Baekhyun dengan alis naik sebelah menyadari ada yang berubah dari sahabatnya itu. tapi Baekhyun tidak tahu pastinya itu apa. Sedangkan Kai sendiri, langsung mematung di tempat duduknya.

Apakah ada sesuatu yang salah dengan diriku? Tapi aku merasa tidak ada yang berubah sama sekali. Pikir Kai.

“Wajah seperti seseorang yang terpuaskan tapi juga menyesal disaat yang bersamaan.”

Kai tertawa sumbang mendengar pernyataan Baekhyun mengenai dirinya yang tepat sasaran, tapi sebisa mungkin ia menutupinya. “Bercandamu tidak lucu sama sekali,” ucap Kai sambil meneruskan tawanya dan sesekali menyesap winenya.

Baekhyun sendiri hanya terkekeh ringan tapi matanya tidak tertawa sama sekali. “Aku harap apapun yang telah terjadi padamu, hal itu tidak akan merusak kinerjamu saat ini,” ucap Baekhyun datar dengan pandangan pada wine yang sedang diputar-putar di dalam gelas di genggaman tangannya. Tawa Kai pun terhenti seketika. Tidak biasanya Baekhyun memperingatkannya seperti ini. “Hubungi Chanyeol dan suruh dia datang ke sini,” tambah Baekhyun sambil menyesap winenya.

Sesuai dengan perintah dari Baekhyun, Kai pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Chanyeol agar ke ruangannya sekarang juga. Lima menit kemudian, ia datang dengan wajah kusutnya. Tatanan rambutnya sudah tidak rapi lagi. Bahkan ada dua kancing teratasnya sudah terlepas begitu saja. Dan beberapa noda lipstik merah terlihat di sekitar rahang hingga leher Chanyeol. Wajah memberenggutnya membuat Kai menyeringai tipis.

Chanyeol yang sedang kesal pun langsung meneguk sisa wine di gelas Kai tanpa permisi dan mendudukan dirinya di samping Kai. “Aku harap ini benar-benar pertemuan penting karena kalau tidak Byeollie akan membunuhku saat ini juga,” ucap Chanyeol karena ia melihat Baekhyun dan Kai diam saja.

“Kau terlalu berisik, Park Chanyeol.” Tegur Baekhyun dengan nada dinginnya.

Ada apa dengannya? Tanya Chanyeol lewat tatapan matanya dan dibalas dengan gelengan kepala oleh Kai. Hal itu tentu saja membuat Chanyeol bungkam seketika. Tidak baik mengganggu singa yang tengah mengamuk. Itu namanya cari mati.

“Transaksi kita kali ini dengan mafia Meksiko tidak boleh gagal sedikit pun karena itu akan mempengaruhi reputasi kita,” ucap Baekhyun memulai diskusi mereka.

“Tentu saja kita tidak boleh gagal atau kita akan kehilangan milayaran won kita begitu saja,” jawab Chanyeol santai tidak terpengaruh dengan ucapan Baekhyun yang kelewat dingin.

“Dan aku mau kita segera menangkap pengkhianat itu sebelum para orang tua itu bertingkah.”

“Jika memang kau menginginkan itu, kita harus memiliki beberapa rencana,” timpal Kai ikut masuk dalam diskusi mereka.

“Aku punya dua rencana.” Baekhyun menaruh gelas di tangannya ke meja. Menatap serius ke arah Chanyeol dan Kai. “Kali ini ia harus masuk dalam perangkap kita, dan untuk sementara jika kita ingin diskusi mengenai transaksi ini, kita akan membahasnya di ruang kerja Kai atau Chanyeol karena aku perkirakan ada seseorang yang telah menaruh alat penyadap di ruanganku. Tapi sesekali kita tetap harus membahas mengenai transaksi ini di ruanganku. Entah itu di rumah atau di perusahaan.”

“Lalu apa rencana A dan B mu saat ini?” tanya Chanyeol setelah Baekhyun mengakhiri penjelasannya. “Kau tahu, selama ini kita selalu memeriksa cctv di ruang kerjamu dan tidak ada yang aneh di dalamnya.”

“Karena itu kita harus memperketatnya. Mengamati secara detail siapapun yang masuk ke dalam ruanganku.”

“Kita memang tidak boleh kehilangannya kali ini, karena itu akan sangat merugikan bagi kita.”

“Aku setuju dengan Chanyeol,” ucap Kai.

Baekhyun menyeringai ke arah kedua sahabatnya itu. “Seperti kataku tadi, aku punya dua rencana. Rencana A adalah rencana kita yang sesungguhnya untuk melancarkan transaksi ini dan kita akan membahasnya di sini atau di ruang kerja Chanyeol. Sedangkan rencana B, adalah sebuah pengalihan saja dan bisa dibilang ini sebagai rencana untuk menjebaknya.”

“Ayolah tidak usah berbelit-belit. Langsung saja pada rencananya. Kau membuatku tidak sabar saja,” gerutu Chanyeol yang dibenarkan Kai di dalam hati.

Baekhyun mendengus kesal karena Chanyeol tidak sabaran sama sekali. Ia pun kembali melanjutkan ucapannya, “Karena mafia Meksiko memesan mariyuana atau ganja dan opium atau heroin, otomatis ladang kita di Indonesia dan Afghanistan akan melakukan panen besar. Tapi ada satu masalah yang sama di kedua tempat itu. Di Indonesia sedang gencar-gencarnya dilakukan operasi narkoba karena negera itu sedang darurat narkoba, dan aku tidak ingin ladang perkebunan kita yang ada di Aceh terciduk oleh kepolisian. Untuk mensiasatinya, kita tidak bisa memanennya secara serempak. Karena itu kau, Kai, hubungi pihak mafia Meksiko jika kita akan mengirimkan barangnya secara berkala.”

Kai mengangguk mengerti. Beberapa rencana terbesit di benaknya seketika mendengar perintah Baekhyun.

“Dan untuk Afghanistan, karena ladang bunga poppi kita masih diawasi ketat oleh pemerintahan yang baru, dengan terpaksa kita mengeluarkan barang kita yang ada di Burma atau Myanmar. Segitiga emas antara Myanmar, Kamboja, dan Laos memudahkan kita untuk menyelundupkan narkoba lewat jalur darat ke dekat perbatasan Thailand. Maka dari itu, untuk sementara kita hentikan dulu pengiriman heroin ke Malaysia dan Indonesia. Kita fokus dulu ke Meksiko.”

“Bagaimana cara kita mengangkut semua itu? Jalur udara tidak memungkinkan karena otoritas bandar udara sangat ketat dalam hal barang bawaan yang dibawa penumpang atau paket kiriman,” ucap Chanyeol karena semuanya tidak segampang dengan apa yang dipikirkannya.

“Ambilkan tab-mu,” perintah Baekhyun pada Kai. Dengan perasaan bingung Kai mengambil tab-nya dan memberikannya pada Baekhyun. Jemari lentik Baekhyun digerakan untuk membuka beberapa aplikasi, lalu setelah ia menemukan apa yang ia mau, ia pun menunjukkannya pada Kai dan Chanyeol. Di layar tab itu sudah terpangpang peta benua Asia, khususnya Asia Timur hingga Asia Tenggara. “Tentu kita akan mengambil jalur laut.” Perhatian Kai dan Chanyeol sekarang tertuju pada layar tab itu.

“Kalian lihat, jalur darat tidak memungkinkan untuk dilalui dalam traksaksi kali ini. Karena itu, kita harus mempersiapkan satu kapal kargo kita untuk ke Indonesia. Dalam hal ini kita banyak diuntungkan karena bertepatan dengan waktu kita melakukan pengiriman barang ke sana. Pertama kita akan mengekspor bahan-bahan setengah jadi atau suku cadang dari alat elektronik dari pelabuhan Busan menuju Indonesia melalui pelabuhan Tanjung Priok yang ada di Jakarta.

Karena Aceh berada di ujung, kapal kita tidak bisa singgah di pelabuhan Malahayati, Aceh. Untuk itu kita akan menunggu kapal pengangkut barang kita dari Aceh di sekitar perairan Singapura dan Malaysia yang merupakan jalur pelayaran internasional. Samarkan ganja-ganja kering itu dengan kopi yang akan dibawa ke Korea.

Destinasi selanjutnya adalah Thailand. Barang dari Myanmar akan kita selundupkan melalui perbatasan antara Myanmar dan Thailand, lalu kita bawa ke pelabuhan Laem Chabang. Melalui pelabuhan itu, kita akan kembali menyamarkan opium kita dengan ekspor gula dari Thailand yang menuju Indonesia. Untuk bongkar muatan ini, kita akan bertemu di atas laut Natuna yang dekat dengan laut China Selatan. Jalur pelayaran internasional ini juga sangat menguntungkan kita.

Setelah semua barang terkumpul, kita akan membawanya ke laut China Timur sebelum sampai di Korea. Tapi sebelum itu, kita akan kembali memindahkan semua barang kita ke kapal lainnya di Laut Filipina yang dekat dengan Jepang. Untuk itu aku akan menghubungi pamanku yang ada di Jepang yang akan menyediakan kapal untuk kita.”

“Pamanmu? Aku yakin para Yakuza itu pasti akan meminta imbalan yang mahal untuk ini, apakah kau sanggup untuk membayarnya?” tanya Kai pada Baekhyun.

“Jika itu memang bisa mengamankan transaksi ini, maka aku tidak keberatan walaupun kita harus kehilangan dua puluh persen dari total semuanya.”

“Baiklah kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu.”

“Tunggu dulu,” Chanyeol menyela perbincangan Kai dan Baekhyun. “Bagaimana caranya kita mengirimkannya ke Meksiko? Tidak mungkin kan kalau kau menyuruh orang-orang pamanmu untuk mengarungi samudra pasifik begitu saja?”

“Sayangnya memang benar itu yang bakal terjadi.”

“Maksudmu?”

“Seperti sebelumnya, kita akan menyamarkan barang kita dengan barang yang akan diekspor Jepang ke Meksiko. Kapal yang dari Jepang ini yang akan membawa barang kita langsung ke tangan mafia Meksiko. Dan untuk kapal awal akan tetap berlabuh di pelabuhan Busan. Kapal yang membawa kopi ini akan menjebak siapa sebenarnya pengkhianat itu. Jika rencana ini gagal, maka kemungkinan pengkhianatnya adalah di antara kalian berdua.”

Mwo? Kau tidak percaya pada kami?” sembur Chanyeol karena merasa tersinggung dengan ucapan Baekhyun.

“Bukannya tidak percaya, tapi ini untuk memastikan saja.”

“Wah…Aku sungguh menyesal telah menjadikanmu sahabatku selama ini,” guman Chanyeol penuh dengan drama yang dibalas gelengan kepala oleh Baekhyun dan Kai.

“Pembagian tugasnya?” tanya Kai mencoba mengakhiri drama yang dibuat Chanyeol.

“Kau menghubungi orang-orang kita yang ada di Indonesia, sedangkan Chanyeol menghubungi orang-orang yang ada di Myanmar. Pada saat hari yang sudah ditetapkan, aku ingin kau menerima barang di Busan, sedangkan Chanyeol di Jepang.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan pada saat itu?” tanya Chanyeol.

“Tidak ada. Aku hanya akan mengamati dari jauh, di pelabuhan Busan.”

“Wah… ternyata otakmu cukup picik juga,” sindir Chanyeol sambil bertepuk tangan atas jawaban yang diberikan Baekhyun, dan sahabatnya itu membalasnya dengan tersenyum miring ke arahnya.

“Itulah gunanya kehadiran kalian berdua sebagai tangan kanan dan kiriku.”

“Tsk, jika saja aku memegang pistol, sudah aku lubangi otak picikmu saat ini juga.”

Perdebatan tidak penting Chanyeol dan Baekhyun terhenti saat Kai mengeluarkan suara. “Jika untuk memancing pengkhianat itu di pelabuhan Busan, berarti kita harus siap kehilangan ladang perkebunan kita di Indonesia.”

“Itu adalah risiko yang harus kita tanggung. Asalkan jangan ladang perkebunan kita di Myanmar dan Afghanistan, kehilangan satu ladang perkebunan tidak akan membuat masalah besar.”

“Kapan kita akan memulai rencana ini?”

“Lebih cepat lebih baik. Untuk menjebak pengkhianat itu, kita akan melakukannya tiga hari dari sekarang. Ingat, jangan sampai dia bisa lolos kali ini!”

Ya, karena setelah semuanya terungkap, Baekhyun tidak akan meloloskannya begitu saja. Tidak akan lagi.

~ tbc ~

—————————————————————————————

Makin bingung? Kalau iya, biar kita sama-sama bingung. Adilkan? Aku bingung, kalian yang baca juga bingung. /hahaha/

Sebenernya aku agak kecewa sama reader yang ada disini. Tahukah kalian, jika kalian terhibur dengan cerita seorang author, maka author itu juga secara tidak langsung akan terhibur jika kalian mau berkomentar akan tulisannya. Walau itu hanya sebuah kalimat ‘next thor’, bagiku sebagai author itu adalah sebuah ucapan semangat untuk terus melanjutkan cerita. Tapi disisi lain aku juga sadar, kalau aku tidak bisa memaksa kalian untuk berkomentar, dan aku tidak akan memaksa kalian untuk melakukan itu. Itu hak kalian. Biasakan berkomentarlah dicerita author mana pun, karena itu akan menjadi penyemangat bagi author itu sendiri.

Maafkan aku jika kata-kataku tadi agak menyinggung kalian.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

30 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44)”

  1. Busetdahhhhh gue kok ngerasa Baek udah curiga sama seseorang ya? Entah kenapa juga gue ngerasa kalo pengkhianat itu si Kai? Hmmmmmm ini pertanyaanku sekarang. Apa mungkin Ketua Kim dan Kai itu punya hubungan? Ato cuma gue doang ya yg mikirnya kejauhan😂

    Demi apa gue salut bener sama strategi Baek yg lo susun thor. Kenapa lo bisa bikin sebegitu detailnya sih? Lo cita2nya jd Mafia Narkoba ya *eh maapin becanda 😂😂😂😭

    Ps: diawal gue pikir Ketua Kim itu cowo taunya cewe 😂

  2. Masih lumayan ngerti sih tentang pelajaran petanya hehe.. ips gw gak buruk buruk banget hehet…..
    Apa cuman gw yg ngerasa udah tbc aja yaaaaa huhuhuhu tetp ditunggu kelanjutannya kak azalea 😘

  3. Ini partnya para laki-laki yaa thor, cast ceweknya gada yg keluar 😂
    Good job thor kepikiran buat rencana penyelundupan kyk gitu👍👍👍

  4. Bentar, biarkan aku mengapresiasi author.
    Dear author, kenapa kamu pinter bisa mikir skenario ky gitu… itu rumit. Alurnya ganti2 tau… harus lewat sini, lewat sana. Atau jgn2 author ada jiwa2 distributor black market gitu wkwkwk bercanda… hmm makin penasaran lanjutannya. Kirain yg sama sehun td cowo wkwk. Makin kesini makin bikin penasaran… semangat author-nim!!

    1. Dan aku mau berterima kasih juga karena kamu udah mengapresiasi ceritaku dg komentar
      Omoo… Jiwa distributor black market?? Mungkin aku terlalu terbawa suasana pas nulis… Aku bener2 meras otak lho.. Aku emang lg belajar buat beberapa alur dlm satu chap…. Tdnya yg mau ketemuan sama sehun tuh cowo, tp kok jd aneh ya nonton roman tp sama cowo,, jd aku ganti

  5. Lanjit thor.. Keren sihh.membingungkan juga.lebih lagi bingung gimana kamu nulisnya.gak keriting rambutnya?hahaha tpi sumoah keren banhet. Kayak lagi nntn film barat gitu. Hh lebay abaikan ya..

  6. Aku bingungbingung jujur aja,,heheh
    Dan aku takut salah satu dri mrk saling bunuh,(Baekhyun dan sehun),,bisakah mrk hidup saja akhirnya ???,,wkwkwkw
    Ku kira awalnya namjoo itu cowok dan sanghun itu cewek,,trnyata salah heehe
    Mm walaupun agak bingung tp ttep bagus,,
    Next chap jgn lama² yaa he

    1. Maafkan aku udah bikin kamu bingung…
      Awalnya namjoo emang mau aku buat cowo, tp aku ngga menemukan benang merah antara mereka

    1. Kok tau…
      Tp sayangnya aku ngga punya atlas, jd aku bolak balik antara google sama google map… Dan itu pusing

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s