One and Only – SLICE #7 — IRISH’s story

irish-one-and-only-2

Author : IRISH

Tittle : One and Only

Main Cast : EXO’s Baekhyun, Red Velvet’s Yeri

Supported : EXO, Red Velvet, Twice, and SMRookies Members

Genre : Romance, Life, Fantasy, Sci-fi

Rate : PG-16

Disclaimer : This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO, Red Velvet, Twice and SMRookies Members belong to their real-life.

Previous Chapter

Prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6

  ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Yeri’s Eyes..

“Apa mimpi itu membuatmu takut?”

“Aku sangat takut..”, lirihku.

“Mimpi tentang Irene?”, tanyanya membuatku menatapnya.

“Bagaimana kau tahu?”

Baekhyun tersenyum, walaupun tatapannya lekat tertuju pada jalanan.

“Dia adalah Humanoid yang sudah mengambil keluargamu, sudah pasti dia adalah kenangan terburuk bagimu.”

Benar. Ucapannya benar. Rasa benciku pada Irene sebanding dengan ketakutanku padanya. Terutama pada ucapannya bahwa semua orang akan kembali meninggalkanku.

“Aku juga bermimpi tentangmu..”, ucapku pelan.

“Aku?”, ulangnya dengan nada tak percaya.

Aku mengangguk pelan, tak yakin Baekhyun akan melihat anggukanku, tapi aku kemudian berucap.

“Aku bermimpi kau meninggalkanku, Baekhyun-ah.”

“Benarkah?”

Aku lagi-lagi mengangguk, “begitu juga dengan yang lainnya. Irene bilang bahwa semua orang akan meninggalkanku.”

“Aku tak akan meninggalkamu.”, ucap Baekhyun.

Aku tertawa lirih mendengar ucapannya.

“Kau akan meninggalkanku.”, ucapku.

“Kenapa kau bicara seperti itu?”, tanya Baekhyun.

“Seorang gadis bernama Son Wendy, berusia 21 tahun dan tinggal di Lyon. Kyungsoo memberitahuku dia adalah Owner-mu.”, ucapku.

Baekhyun diam selama beberapa lama.

“Benarkah?”, ucapnya dengan nada tenang yang membuatku bertanya-tanya tentang maksud ucapannya.

“Kau mengenalnya?”, tanyaku.

Baekhyun mengangguk.

“Kakak dari Sara. Wendy dan Sara tidak pernah dekat. Wendy-lah yang selalu memanggilku ‘Grey’, tapi Sara bilang bahwa nama ‘Baekhyun’ lebih cocok untukku.”

“Kurasa kau bilang Owner-mu dan keluarganya sudah dibunuh.”

Baekhyun mengangguk pelan.

“Kupikir begitu. Informasi yang kudapatkan seperti itu. Tapi jika Wendy masih hidup.. aku merasa lebih baik.”

Kenapa? Karena Ia akan menemukan gadis itu? Mobil ini akan pergi ke Lyon bukan? Ia merasa lebih baik? Tapi kenapa aku tak merasa seperti itu? Kenapa aku merasa seolah ucapan Irene sekarang menjadi teror untukku?

Karena Baekhyun akan benar-benar meninggalkanku?

“Tapi aku tidak mengerti, bagaimana bisa aku berpikir mandiri jika Owner-ku nyatanya masih hidup?”, ucapan Baekhyun menyadarkanku bahwa Ia sama sekali tak menyadari bahwa aku tengah terpuruk.

“Aku juga tidak tahu, mungkin dengan menemuinya kau akan tahu,”

“Menemui Wendy? Ah.. Kau benar.”

Benar? Ya. Aku tahu aku benar. Aku sekarang tengah membuat jalan utama yang berujung pada kesendirianku.

Baekhyun akan meninggalkanku segera setelah Ia menemui Wendy.

“Setelah kau bertemu dengan Wendy, bisa kau membantuku satu hal?”, tanyaku pada Baekhyun.

“Apa itu Yeri?”

“Ucapanmu dihari pertama kita bertemu, bahwa aku bisa mencuri seorang Humanoid dan memprogramnya menjadi Humanoid-ku. Bisa kita dapatkan satu Humanoid untukku?”

“A-Apa? Tapi Yeri, aku akan—”

“Aku ingin punya seorang Humanoid, dan tak lagi hidup menyedihkan.”

Baekhyun dan aku sama-sama terdiam selama beberapa saat.

“Baiklah.. Kita akan mencuri satu untukmu.”

Aku mengalihkan pandanganku, dan kusandarkan kepalaku dijendela mobil. Aku menatap jalanan kosong di luar, berharap bisa menghapus rasa sedih yang kurasakan seorang diri ini.

Bayangan wajah sempurna Irene kembali membangkitkan rasa takutku, apa yang akan terjadi padaku jika aku bertemu dengannya lagi?

Tapi bayangan menyedihkan bahwa dalam beberapa jam lagi aku tak lagi akan bisa bicara atau bahkan menyebut nama Baekhyun dalam ketakutanku.. entah mengapa lebih membuatku merasa takut.

Kenapa denganku? Kenapa aku begitu tak ingin Ia meninggalkanku?

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku terbangun saat kepalaku terbentur cukup keras. Aku segera menatap sekitarku, mulutku terbuka hendak menyebut satu nama yang selalu kupanggil saat aku merasa takut, tapi aku segera menahan diriku.

“Kau terbangun Yeri?”

Aku menoleh, dan mendapati Momo duduk disebelahku, wajahnya tampak tersenyum, sementara Ia bersenandung pelan sambil memperhatikan jalanan.

“Hmm, ya, kurasa kepalaku terbentur jadi aku terbangun,”, gumamku pelan, tanpa sadar aku memandang ke belakang, mencari-cari sosok Baekhyun.

“Apa kau bertengkar dengannya?”, tanya Momo.

“Apa?”, aku terkesiap mendengar ucapannya.

“Ia terus berdiam dari tadi, dan tampaknya ada hal yang membebani pikirannya. Apa kau dan dia baru saja bicara hal serius?”

Fakta bahwa Ia akan segera menemui Owner-nya dan mencarikanku seorang Humanoid bisakah dikatakan sebagai hal serius?

“Tidak juga,”, ucapku akhirnya.

“Benarkah? Kukira kalian bertengkar, atau semacamnya,”

“Humanoid mengerti tentang bertengkar?”, ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan Momo.

“Tidak, itu istilah yang kalian gunakan saat dua orang saling mengabaikan.”, ucap Momo membuatku tertawa pelan.

Mereka menganalisis semuanya dari yang mereka lihat, tanpa tahu bahwa bahkan tanpa saling mengabaikanpun beberapa orang bisa dikatakan bertengkar.

“Kalian tidak terlihat seakrab di Yanke.”

“Benarkah?”, tanpa sadar mulutku menyahuti ucapan Momo.

“Hmm, saat di Yanke, aku sangat salut pada kalian. Kalian bisa terlihat benar-benar akrab, aku hampir berpikir kalian sudah lama saling mengenal, padahal nyatanya kalian belum lama mengenal.

“Dan melihat bagaimana Ia terus mengira aku akan melakukan hal jahat padamu, aku benar-benar terkejut. Ia seperti Humanoid yang akan melindungi Owner-nya.”

Mendengar kata Owner membuatku tersenyum kecut. Ia tak akan bertindak seperti itu lagi setelah ini.

“Benarkah? Kenapa?”

Aku tersadar saat mulut ini dengan lancang bicara.

“Tidak, lupakan saja,”, ucapku segera menetralisir ucapanku, aku tak ingin membahas masalah ini lebih jauh dengan Momo.

Baekhyun bisa saja mendengarnya. Dan entah mengapa aku tak ingin membicarakan tentang Baekhyun saat Ia ada dijarak dengarnya.

“Oh, ayolah, kalian benar-benar bertengkar.”, gumam Momo dengan nada geli.

Sangat lucu memang bahkan bagi diriku sendiri saat membayangkan manusia dan Humanoid bertengkar. Tapi aku dan Baekhyun benar-benar tidak bertengkar. Kami hanya bicara.

Pembicaraan yang entah bagaimana bisa membuat baik aku, maupun Baekhyun, bisa sama-sama terusik dan akhirnya saling berdiam diri.

“Ah.. Lyon.”, aku menoleh, mendapati Sally tengah membungkuk diantara aku dan Momo, tatapannya tertuju pada plang besar bertuliskan nama kota terbesar kedua di Paris ini.

Kami sudah sampai di Lyon.

Lampu-lampu berkelip tampak menyala dan berpendar lembut diantara cahaya remang yang diciptakan bumi saat matahari mulai merangkak naik.

Dini hari, aku kembali mengingatkan diriku.

“Rumah..”, Baekhyun berucap, aku mengenali suaranya dengan sangat mudah.

Ya. Rumahnya. Wendy. Sekarang aku menahan diriku untuk berhenti merasa penasaran pada sosok Wendy—yang dalam pendengaran dan pendapatku Ia adalah yeoja dengan tubuh sejenis dengan Irene, dengan senyum manis yang sanggup membuat siapapun berpikir Ia adalah orang baik.

Tidak. Terlebih lagi, dalam bayanganku sosok bernama Wendy ini akan punya wajah malaikat yang akan membuat semua orang dimobil ini menyukainya, kecuali aku.

Tidak. Tidak Yeri. Sejak kapan aku bisa memutuskan hal seperti ini? Aku tak ingin berpendapat aneh tentangnya.

Aku tak ingin terlihat buruk.

Sosok-sosok gadis berpenampilan khas Prancis segera menyambut tatapanku saat aku melemparkan pandangan keluar. Mereka tampak sibuk bersama Humanoid mereka.

Rambut jagung mereka tampak menjadi pemandangan monoton.

“Yeri-ah, rambut mereka sepertimu.”

Aku tersadar jika Baekhyun memaksa untuk mengubah warna rambutku karena kami berpura-pura berasal dari Lyon. Nyatanya, gadis-gadis Lyon memang kebanyakan berambut jagung.

“Berhenti disini.”, tiba-tiba saja Baekhyun berucap.

Aku jadi orang pertama yang paling terkejut saat Ia tiba-tiba saja meminta untuk berhenti padahal kami baru saja memasuki perbatasan kota Lyon.

Voilà! Sudah kuduga tempat ini masih sama persis.”

Aku menyernyit ketika Baekhyun mulai mengucapkan bahasa yang tak kupahami.

“Ada brasserie—sejenis café yang menyediakan makanan sederhana dan cepat saji—disekitar sini, tunggulah aku disana, dan ada chėrie—tempat penginapan kecil, sejenis motel—juga yang bisa kalian gunakan untuk bersembunyi.”

Baekhyun tampak sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam saku jaket kulit gelap yang dikenakannya. Sementara Ia terus bicara.

“Aku akan kembali sebelum matahari tenggelam, Kyungsoo dan Momo, kalian pasti menguasai bahasa Prancis dengan baik bukan? Jangan biarkan Chaeyeong dan Tzuyu bicara.”

“Tzuyu?”, ucapku bingung.

“Sally sudah mengubah namanya beberapa bulan lalu, namamu Chou Tzuyu sekarang bukan?”, ucap Baekhyun dijawab dengan anggukan oleh Sally.

“Ya, Kyungsoo sudah membantuku mengganti identitasku.”, ucapnya.

Sementara aku masih jadi satu-satunya orang yang kebingungan. Mengapa Ia tak bicara satu hal pun tentangku? Ia sengaja melakukannya sebagai bukti bahwa Ia mengabaikanku?

Atau Ia ingin aku sadar bahwa aku harus memikirkan nasib ku sendiri? Ugh. Kenapa sekarang aku bahkan berspekulasi buruk tentang—

“Dan juga, Yeri, kau ikut denganku?”

Apa? Sekarang Ia menawariku untuk ikut dengannya yang sudah jelas akan pergi untuk mencari gadis bernama Wendy itu?

Jika aku ikut dengannya itu artinya aku harus merelakan diriku untuk melihat bagaimana nantinya reaksi Baekhyun ketika menemui Owner nya itu bukan?

Apa Baekhyun berpikir aku sanggup untuk melihat itu semua? Aku tak ingin membayangkan gadis bernama Wendy itu lagi. Sungguh tidak ingin. Dan lebih lagi, aku tak ingin terlibat dalam usaha Baekhyun untuk menemukannya.

Bagaimana mungkin Ia tega menawarkan hal yang sudah jelas tak kuinginkan?

Sungguh..

“Aku ikut.”

Aku tak pernah bisa menolaknya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Entah mengapa mulut ini menyahut ya saat Baekhyun menawarkan hal yang sangat tidak kuinginkan itu. Tapi apa boleh buat, ekspresinya terlihat begitu cerah ketika aku mengatakan aku akan ikut.

“Yeri, tunggu sebentar.”, Baekhyun menatapku yang tengah mengganti sepatuku dengan sepatu boot kain tebal berwarna putih yang dibelinya—setahuku Ia hanya membeli chip-chip saja di Yanke, aku tak menyangka beberapa dari chip itu bisa berubah menjadi benda saat terkena air.

Hebatnya, walaupun sepatu ini tampak tidak seukuran dengan kakiku, sepatu ini seolah memiliki kecanggihan lain, menyesuaikan ukuran dengan pemiliknya. Sekarang aku mengerti kenapa semua orang tak merisaukan ukuran tubuh mereka pada kebutuhan pribadi karena semua kebutuhan itulah yang menyesuaikan dengan tubuh mereka.

Sangat mengesankan.

Aku memandang Baekhyun, memperhatikan apa yang tengah Ia lakukan. Dan dari sebuah chip, Ia kembali menciptakan sebuah jaket wool tebal berwarna merah muda yang tampak sangat cantik. Juga mengubah chip lain menjadi dress tebal sebatas lutut dengan warna senada.

“Pakailah ini,”, ucapnya sambil mengulurkan benda-benda mewah itu padaku.

Aku sempat terperangah saat menyentuh pakaian bagus—mengingat bahwa aku terus dan terus mencuri selama ini aku tak tahu jika pakaian pun berasal dari chip itu—yang diberikan Baekhyun, dan akhirnya melangkah ke bagian belakang mobil.

Tak ada tempat berganti pakaian yang tertutup disini, dengan sigap Sally melangkah ke arahku, diikuti dengan Momo yang mengerti apa yang kulakukan.

“Kau dan Kyungsoo sebaiknya berbalik arah dan jangan menatap kemari.”, ucap Momo membuat Baekhyun mengerjap beberapa kali.

“Oh, maaf Yeri,”, ucapnya, aku tak tahu mengapa Ia berucap maaf padahal Ia belum melakukan hal yang salah.

Merasa tak nyaman karena berganti pakaian ditempat seperti ini, aku melakukannya dengan cepat. Seperti ucapanku, semua pakaian yang kukenakan menyesuaikan diri dengan ukuran tubuhku.

Dan jadilah, pakaian ini sangat pas ditubuhku.

“Aku selesai,”, ucapku, tak sampai setengah detik, Baekhyun berbalik, padahal aku masih sibuk merapikan rambutku.

“Kau terlihat sangat cantik Yeri.”, ucapnya membuatku menyernyit, Ia sekarang bisa berpendapat juga.

Tapi aku tak ingin berdebat tentang ‘hal manusia yang tak diakuinya’ sekarang. Kami harus bergegas.

Baekhyun keluar lebih dulu dari mobil, dan aku tak menyesali keputusan berganti pakaianku karena walaupun matahari tampak dengan gagah bersinar, suhu di Lyon sangatlah dingin.

Aku segera mengeratkan jaket yang kukenakan.

“Kami akan segera kembali.”, ucap Baekhyun sebelum Ia menarik kedua tanganku, dan tanpa seizin siapapun Ia memasangkan sepasang sarung tangan tebal berwarna merah muda disana.

“Semua yang kukenakan berwarna merah muda,”, ucapku memperhatikan sarung tangan yang berhasil mengurangi kedinginanku.

“Kau tidak suka warna merah muda?”, tanyanya sambil menatapku.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak, aku suka.”

“Lalu kenapa dengan warna merah muda?”

Benar juga, kenapa mulut ini harus berkomentar aneh dan mengundang pertanyaannya?

“Tidak, hanya saja—”, aku terhenti saat Baekhyun memasang topi wool dikepalaku, lagi-lagi tanpa seizin siapapun.

“Kau terlihat cantik Yeri, tidak akan ada orang mengira bahwa kau Outsider.”, ucapnya pelan sebelum Ia meraih tanganku, membawaku berjalan menyusuri jalanan Lyon yang mulai dipenuhi kegiatan.

Berbeda dengan kesibukan di Sentral Seoul yang terkesan monoton dan membosankan, Lyon memberiku kesan berbeda.

Manusia disini bicara dengan Humanoid-nya, maksudku, mereka memang tak mengerjakan apapun, tapi setidaknya mereka menemani Humanoid-nya. Sungguh pemandangan berbeda yang terlihat aneh.

Aku dan Baekhyun yang berjalan menyusuri jalanan Lyon dengan jarak sangat rapat pun tak menarik perhatian mereka sedikitpun. Mereka pasti berpikir aku sama saja seperti mereka.

“Ah, aku sangat senang melihat rumah lagi.”, Baekhyun bergumam sementara Ia terus melangkah melewati jalan-jalan yang sepertinya sudah sangat dikenalnya.

Aku mengikutinya dalam diam, tak berniat mengusik nostalgianya sedikitpun. Tidak tertarik, dan tidak ingin. Sungguh tidak ingin.

Tapi aku lebih senang memperhatikan sekitarku, dunia yang tak pernah kulihat sebelumnya. Gedung-gedung yang tampak kuno di Lyon, suhu dingin menusuknya yang tak sinkron dengan teriknya cahaya matahari.

Pembicaraan bernada rendah antara manusia dan Humanoid-nya..

“Apa aku boleh bicara?”, bisikku pelan pada Baekhyun.

Ia menggeleng.

“Kau dengar sendiri mereka bicara dengan bahasa Prancis bukan? Aku bisa saja bicara dengan lancar, lalu bagaimana denganmu?”

“Ah.. Benar juga..”, aku akhirnya kembali diam.

Kami mulai berjalan melalui jalanan panjang serupa lorong, yang ada ditengah-tengah sebuah gedung besar.

“Kau pernah mendengar tentang Mademoiselle Louvie, Yeri?”, aku tersadar saat Baekhyun menyebut namaku dalam gumaman nostalgianya.

Ia sedari tadi sibuk bergumam dalam bahasa yang tak kumengerti.

Mademoiselle Louvie? Lukisan kuno itu?”

Baekhyun mengangguk.

“Kau mau masuk ke dalam museum yang menyimpan lukisan itu?”, Baekhyun mengarahkan pandangannya ke satu tempat, dan aku segera menatap ke arah yang sama.

Sebuah gedung menjulang tampak kusam dan tidak terawat diujung jalan yang kami susuri sekarang. Tak ada pengamanan apapun, atau gerbang apapun. Gedung itu ditinggalkan.

Aku pernah membaca Museum Louvie di buku sejarah abad ke-20. Tapi tak pernah benar-benar menyangka bahwa aku akan melihat gedung aslinya.

Dan lukisan kuno legendaris yang dikatakan punya aura magis—entah mengapa dimasa lalu manusia mempercayai hal ini—tentang seorang wanita itu membuatku selalu penasaran.

“Kita bisa kesana?”, mulut bodoh ini berucap.

“Tentu saja, ayo.”, Baekhyun menarik lenganku, bergerak membawaku mendekati gedung itu, tapi aku menahan lengannya.

Ada banyak hal yang lebih penting daripada sekedar melihat lukisan.

“Ada apa?”, tanya Baekhyun.

“Kurasa kita bisa kesana lain kali. Yang lainnya pasti menunggu kita, lagipula, bukankah lebih baik untuk cepat menemukan petunjuk tentang semua ini?”, tanyaku pada Baekhyun.

“Tapi Yeri, kau tahu lukisan itu—”

“Ayo Baekhyun-ah, kita harus cepat kembali ke mobil.”, potongku cepat.

Baekhyun awalnya menatapku, menyernyit bingung, dan aku untuk kesekian kalinya tak bisa mengartikan arti tatapannya, tapi Ia kemudian mengangguk.

“Baiklah, kita ke Là Guellà, aku tinggal disana.”, ucap Baekhyun sambil melanjutkan langkahnya.

Aku masih mengikuti dibelakang Baekhyun, diam-diam memperhatikan gedung kumuh itu, rasa penasaranku terpaksa harus kutelan kembali. Aku tak bisa mengutamakan keinginanku saat kami terdesak seperti ini.

Kira-kira sekitar tiga puluh menit berjalan, aku dan Baekhyun sampai dikawasan apertemen minimalis bertingkat. Aku melihat tulisan Là Guellà besar di sebuah plang besi tertancap diujung jalan besar yang kami masuki.

Dan sekarang Baekhyun terhenti didepan sebuah gedung apertemen dengan cat berwarna cream namun sudah mengelupas hampir seluruhnya itu. Warna cream nya bahkan sudah berubah menjadi coklat kehitaman.

“Rumah..”, Baekhyun berucap pelan.

Ia melangkah mendekati pintu yang sudah terbuka setengahnya, tak ada tanda-tanda yang membuatku berpikir bahwa tempat ini masih dihuni manusia. Bahkan Humanoid-pun pasti enggan menyinggahi tempat tak terawat ini.

Tapi kenapa tempat ini ditinggalkan?

“Yeri?”, aku tersadar saat Baekhyun memanggilku, Ia sekarang berdiri didepan pintu, menatapku, “ayo masuk,”, sambungnya sambil mengulurkan tangannya padaku.

Aku mengabaikan uluran tangannya dan berusaha melompati jalan berlubang besar yang bagian bawahnya membuatku bisa melihat aliran air gelap beberapa meter dibawah jalanan ini.

Dengan beberapa usaha keras aku sampai ditempat Baekhyun berdiri. Ia menatapku—dengan tatapan itu—dan aku balas menatapnya.

“Ayo.”, ucapku membuatnya mengangguk pelan dan melangkah masuk ke dalam melalui celah kecil yang diciptakan pintu itu.

Dengan ringan Ia menarik pintu kayu tua disana, memberiku celah lebih besar untuk masuk. Tanpa bicara apapun aku masuk ke dalam, dan Baekhyun segera mengeluarkan lighter dari dalam saku jaket gelapnya.

Lighter itu menyala memancarkan cahaya tidak menyilaukan dalam radius lima ratus meter. Dan saat benda itu menyala, aku bisa melihat keseluruhan lantai tempat kami berdiri.

“Aku harus kebawah, catatan Greek pasti ada ditempat kerjanya.”, ucap Baekhyun sambil melangkah pelan.

Suara langkah kami menggema dilantai kayu—yang kuyakini tak begitu kuat untuk menopang bobot tubuhku dan Baekhyun—sementara Baekhyun serius menatap setiap celah disana.

“Apa tempat ini sudah tidak digunakan lagi?”, tanyaku.

“Sekarang aku bisa mengakses informasi lebih banyak. Greek dan keluarganya dibunuh saat Pembersihan. Karena mereka hidup diapertemen ini tanpa Humanoid, Sentry menganggap mereka Outsider.

“Dan ternyata, seisi daerah ini juga hidup tanpa Humanoid. Jadi Sentry melemparkan sebuah Nuclear Cells disini, membuat tempat ini tak lagi bisa ditempati oleh manusia.”

Aku menyernyit mendengar penjelasannya.

“Kenapa tidak bisa ditempati oleh manusia?”, tanyaku.

Baekhyun mengeluarkan benda lain dari dalam kantongnya, dan Ia mengulurkannya padaku.

“Telan ini.”, ucapnya.

“Apa ini?”, aku menyernyit melihat kapsul berisi cairan biru cerah yang ada ditanganku.

“Kantong oksigen. Nuclear Cells membuat kadar oksigen berkurang 30% dan manusia hanya bisa bertahan sekitar lima sampai sembilan menit ditempat ini. Telan kapsul itu, kantong oksigen nya akan melapisi paru-parumu jadi kau bisa bernafas dengan normal walaupun menghirup kurang dari 30% oksigen.”

Aku akhirnya menuruti ucapan Baekhyun. Rasa sesak melandaku sesaat setelah aku menelan kapsul itu, tapi setelahnya? Aku merasa seolah udara disekitarku sangat menyegarkan.

“Whoah..”, gumamku pelan.

“Jangan terlalu merasa senang karena berpikir udara yang kau hirup udara bersih. Kapsul itu hanya bertahan menyaring 78 liter oksigen. Kalau kau merasa sesak lagi, katakan padaku.”

“Aku mengerti,”, ucapku mengangguk pada Baekhyun.

Baekhyun menatapku, lama, membuatku menyernyit.

“Ada apa?”, tanyaku.

Baekhyun meraih pergelangan tangan kiriku, dan menggenggamnya erat, membuatku berjengit kaget.

“Baekhyun..”

“Aku hanya ingin memastikan kau akan aman.”, ucapnya sambil melanjutkan langkahnya.

Tentu saja tindakannya membuatku tak melangkah dalam jarak lebih jauh dari dua kaki. Saat melewati celah sempit tubuh kami seolah benar-benar berhimpit. Dan sungguh, kukatakan jantungku melompat lebih abnormal lagi saat jarak kami begitu dekat.

“Apa kau takut?”, tanya Baekhyun, ugh, Ia pasti menyadari perubahan tanda vitalku bukan?

Sekarang apa yang harus kukatakan padanya?

“Tidak, aku hanya merasa terkejut karena tempat ini terasa asing.”, sahutku.

Baekhyun tertawa pelan, dan kami sekarang menuruni tangga rapuh menuju ruangan kecil dibawah tanah.

“Tempat ini sudah sangat kukenal. Tiga puluh tahun aku tinggal disini bersama Greek.”

“Seperti apa Owner-mu itu?”, tanyaku.

“Dia seorang scientist dan seluruh waktunya Ia habiskan di tempat kerjanya dibawah sini. Terakhir kali, kudengar Greek tengah mengerjakan proyek besar untuk Uni Soviet. Ia menyebutnya HmP-I, aku juga tak begitu mengerti. Greek tak banyak menceritakan penelitiannya padaku.

“Seringkali Ia menggunakanku sebagai bahan percobaannya. Ia hidup mandiri, tidak bergantung padaku, tapi Ia selalu membutuhkanku. Um, sedikit rumit menjelaskannya.

“Ia tak membutuhkanku untuk melakukan semua pekerjaan yang manusia limpahkan pada Humanoid-nya, tapi Greek menjadikanku rekannya. Seperti itu. Kecuali setelah Ia menemukan keluarganya dan membuang semua penelitiannya, aku jadi tak berguna.”

“Kurasa Ia ingin menghabiskan waktu tuanya bersama keluarganya,”, ucapku.

“Entahlah. Aku tidak suka masa-masa itu.”, ucap Baekhyun.

“Kau kecewa padanya,”, ucapku membuat Baekhyun menggeleng pelan, “Aku tak bisa kecewa, Yeri.”

Aku hanya tersenyum kecil mendengar sanggahannya. Kapan Ia akan sadar bahwa Ia bisa merasakan hal semacam itu?

Kami masuk ke dalam sebuah ruangan, Baekhyun sejenak melepaskan cekalannya padaku karena Ia mulai sibuk dengan kertas-kertas lusuh yang ada diatas meja. Sementara aku mulai merasa canggung karena tak melakukan apapun.

Aku mulai menatap kertas-kertas di meja itu juga, tak jauh dari Baekhyun. Banyak diantaranya tak begitu kumengerti, tapi sebuah tumpukan kertas yang terikat dengan bilah bambu tipis menarik perhatianku.

Walaupun samar, aku tahu ada gambar sketsa dikertas itu.

Aku membuka paksa ikatan bambunya, walaupun harus melukai tanganku karena ikatan tajamnya, aku begitu penasaran. Dan aku tak ingin berdiam.

Aku mengusap sisa debu yang menutupi bagian atas tumpukan kertas lusuh itu. Aku membuka tiap lembarnya, dan sadar bahwa tiap lembarnya berisi sketsa-sketsa yang berbeda.

Perlahan, aku memahami sketsa itu, tapi aku tersentak.

“Baekhyun..”, ucapku pelan.

“Ya Yeri?”, ucapnya sambil melangkah menghampiriku.

“Astaga..”, kudengar Baekhyun bergumam pelan, sangat samar, sama sepertiku, Ia juga terperangah tak percaya.

Aku merasa terkejut pada gambar-gambar sketsa itu, sementara Baekhyun, sudah kupastikan Ia bisa membaca setiap tulisan dikertas itu.

“Apa ini.. penelitian yang kau bicarakan itu? HmP-I?”, tanyaku pelan.

“Ya.. Tapi.. Apa penelitian ini.. Ah..”, Baekhyun membaca tiap lembarnya dengan cepat, dan kudengar bunyi ‘klik’ samar setiap kali Baekhyun membuka lembarannya.

“Apa yang kau lakukan?”, tanyaku pada Baekhyun.

“Memotret setiap lembarannya, bisa saja lembaran ini hilang.”, ucap Baekhyun.

Ah, jadi Ia bahkan bisa memotret menggunakan indera penglihatannya?

SRAK!

“Baekhyun!”, aku tersentak saat mendengar suara aneh didekatku.

Kurasakan lengan Baekhyun mencekal lenganku, menarikku ke belakangnya, dan dengan sigap tanganku yang lain membereskan kertas-kertas itu, memasukkannya ke dalam jaketku, melindunginya.

Baekhyun mengarahkan sebuah pipa kecil yang mengeluarkan cahaya seperti suar ke arah sumber suara yang bisa ditemukannya dengan tepat.

Aku hampir saja memekik saat tatapanku tertuju pada seorang yeoja yang memejamkan matanya dan tersandar didalam sebuah kardus kecil. Wajahnya sangat pucat, dan Ia menggigil kedinginan.

“Baekhyun.. Dia kedinginan..”, ucapku pelan.

“Dia bisa jadi bahaya.”, ucap Baekhyun, Ia menarikku pelan, membawaku melangkah mendekati sosok yeoja itu.

“Tidak! Jangan sentuh dia!”, aku kembali tersentak saat mendengar teriakan keras tepat saat Baekhyun mengarahkan suarnya ke arah yeoja itu.

Sontak aku menoleh ke arah sumber suara, begitu juga dengan Baekhyun.

Hal pertama yang kupandang adalah matanya. Gelap. Ia manusia. Dan aku bisa bernafas lega. Setidaknya Ia bukan Huma—

“Wendy?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

86 tanggapan untuk “One and Only – SLICE #7 — IRISH’s story”

  1. mgkn mksd Irish museum louvre x y Rish & painting itu Monalisa kah? pho itu apa y? /maklum kaga gaul, sudah terlalu tuir, ketinggalan perkembangan bahasa gaol kekinian/ kenapa tetiba ada si wendy? dy stay di rmh’ny kah? kan udah berkurang bnyk kadar oxygen di area situ?? apa slh 1 hsl xperimen bpk’ny wendy bs bikin dy stay dgn kadar oxygen yg sdkt itu? baekhyun jd humanoid yg memiliki emosi manusiawi gegara semasa hdp’ny si Owner jd-in dy bhn xperimen2ny trnyt.. keren!! si chaeyoung di previous chap jg keren bs upgrade si d.o smp bs akses ttg owner baekhyun & mo2 yg bhkn 2 humanoids tu ga tw sblmny /apa cm baekhyun aja yg blm tw, klo si mo2 mah ‘mgkn’ tau?/

  2. Aduh yeri yg sabar ya, walawala kenapa ada wendy sih di situ,. Aelah pan kesian kalo yeri mesti di tinggal ama baek.. Huhuhu kak rish mint tisu *plak,lebay lu padahal pan gak ada sad scanenya*.. jangan ya baek jangan tinggalin yeri demi wendy ya.. Ah dari pada terus penasaran, aku lanjut ya kak rish..

  3. Aduh,sedih banget ya pas baek ngucapin nama wendy?? Nggak kebayang jadi Yeri. Kyaknya ada sesuatu dibalik sesuatu nih..tentang programnya gree ownernya baek.
    Oke2 kak irish,aku nggak kaget ama ff mu.semua selalu buat aku ngfans ama kak irish

  4. semoga baek engga ninggalin yeri, kan kasihan yeri-nya hiks..
    ohh iya,, ini sehun munculnya kapan?? atau dia cuman numpang nama doang?? hehe

  5. Annyeong..
    Oenni.. I’m a new your story reader dan cerita inilah yang pertama kali ku baca dari semua cerita yang kau punya. Kapan “One and Only” chapter 8 akan keluar??? Aku sangat penasaran membacanya. Palliwa!!!

    Anyway. Nan jongmal joha your story 🙂
    Hwaiting!

    1. Halohaaaa aulia sayang XD thanks banget udah nyempetin waktunya buat baca fanfict absurd ini hoho~ terutama karena genre nya cukup ‘berat’ dan alur nya mungkin membingungkan hiks, ohooo~ tunggu saja kapan dia akan ku publish huhu~

  6. KAAAAAAK , maapin aku jadi silent readers dari chap 3- sampe 7 ini. soalnya sekali baca. Weeeiiihh ketagihaaaaaaaaan . KEREEEEEEEEEEEEN!! DITUNGGU NEXT CHAP NYA ASLI!! LANJUT YA KAAAAAKK, NTAR NTAR GA SILENT LAGI DEEEEH :3333

    1. XD haaaaiiii pertama2 thanks banget karena udah ga jadi silent readers lagi XD keren? Aaahh thankyouuu pdhl aku kirain bakalan aneh cerita ini XD thanks komennya yaa tunggu next chap darikuu

  7. yeri takut kehilangan baekhyun~ dan aku juga bisa ngerasain suasana yang ada di ff ini, yang yeri alami ><
    hmm akhirnya mereka udah ketemu wendy, kelanjutannya bakal gimana nih??
    makin keren aja deh ff satu ini (Y)
    ditunggu ya slice selanjutnya 😀

    1. XD hahahahaha iya niihh yeri emang takut ditinggal baek XD hohoho keadaannya emg gampang dipahami kok XD eheemm tunggu ya next nya XD thanks komennya

  8. Aiih, aiih mereka ketemu. Kesyan Yeri sendirian. Kenapa tiap kali aku baca ff ini selalu deg deg an ya.-. /abaikan ini\ OKEYY THOR DITUNGGU CHAPTER 8 YUHHUU~~~🎊💕💕

  9. KEPOTONG SIALAN :)))
    eanjir udah sampe chapter 7 aja nih. gue ketinggalan banyak gara2 ga bisa buka laptop sama spazzingan si Jojo :))
    LUHAN KITA APA KABAR?? :””””

    1. KEPOTONG COY KOMENNYA KEPOTONG SUBHANALLAH 😂😂😂
      BEGINI NIH KLO KOMEN DI OPERA MINI TRUS KEPOTONG GARA2 EMOT >>> 😂 KAN SIALAN BANGET WKWKWKWK

      iyaa ngikutin dari balik layar hohoho

    2. KAMU GA BISA DI LINE KU KUDU OTOKEH 😭😭😭😭😭
      KIRIM CHAP 1NYA KE GUE CEPET GEPEEL 😂😂
      TAPI GUE LUPA JALAN CERITANYA ANJEEER WKWKWKWKWK

    3. SIWALAN KAMU YAAA 😂😂
      KAPAN BISA NGELANJUTIN SUBHANALLAH 😂😂
      PANTES AJA DI LINE GA DIBALES HUFT BATJOK JUGA NIH 😂😂

  10. Aaaaaaa makin penasaraan 😆
    Gak tau mau komentar apa lagi. . 😃, udah pada ada d komen2 sebelumnya hehe, mkin kren lah pokknya 😉
    Cepetin post next chap ya IRIsH . . . Hahaha mian maksa #✌
    Keep writing 😘

  11. Aaaa kaga sabar nunggu kelanjutannya kak >< makin seru aeee e.e moga ae si wendy kaga jadi PHOnye Baekhyun ama yeri , semangat yaa buat next chapnya kak irish , Fighting !!

  12. Ka iriiiiiiiiiissssss.-.
    Aku juga baru sempet baca epep kaka yang ini, telat banget aku baru tahu ada epep ini XD
    Ceritanya kereeeennnnn, bisa banget sih buat epep genre fiksi gini. Aku aja gabisa-_-
    Ditunggu chap next nya yaaaaa, wendy jangan jadi pho ih. Udah fiks baek sama aku bhaq XD

    1. XD haihaaaii deaa wkwkwk sejak kapan dirimu membaca ff ini wkwkwkwk
      Keren apaan absurd gini kok hahaha XD
      XD thanks deaaaaa XD kamu rajin sangat sampe ngebaca ff kuu XD

    2. Baru kemaren langsung baca semuanya sehari kaaa wkwkwk XD
      Ih menurut aku keren kaliiii, daripada aku yang gabisa buat epep fiksi-_-
      Lagi nggak ada kerjaan kan liat liat blog trus ketemu epep ini yaudah aku baca wkwkwk XD

  13. Yeri..knp kamu naif banget…tinggal bilang km gk mau di tinggalim baek. Kasihan wendy, tp kata baekhyun di situ udh gk bisa di huni manusia, tapi ko wendy busa bertahan sih?? Aku bingung jadinya. Keren kakkk…keep writing

  14. Yeri..knp kamu naif banget…tinggal bilang km gk mau di tinggalim baek. Kasihan wendy, tp kata baekhyun di situ udh gk bisa di huni manusia, tapi ko wendy busa bertahan sih?? Aku bingung jadinya. Keren kakkk…keep writing

  15. woah wendy muncul !!! asek asek trus baek ke wendy gitu? apa ntar baek masih sama yeri kak jgn lama up date nya apalagi ff IL ugghhh kak seneng banget ama ff itu lanjutt kak semangat ngetik nya ya 😀

  16. jangan-jangan baekhyun yang berbeda dari humanoid lain itu karena penelitian grek ya???
    makin penasaran sama hubungan yeri dan baekhyun setelah ketemu wendy deh..
    next chap aku tunggu

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s