[EXOFFI FREELANCE] My Lady — Chapter 4

MY LADY - CHAPTER 3

MY LADY

[ Chapter 4 ]

 

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo, Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Kim Yura (GD), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Cerita sebelumnya : Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3

 

 

 

 

“Aku pulang…” ucap Sena senormal mungkin menahan gemeletuk giginya akibat dingin saat memasuki rumahnya.

Sena langsung membuka sepatunya di dekat pintu masuk, dan menggantinya dengan sandal rumahan yang sudah tersedia di sana. Dengan langkah perlahan Sena memasuki rumah dan berharap ibunya ataupun adiknya tidak melihat keadaannya saat ini, terlebih lagi ayahnya.

Sebenarnya yang Sena khawatirkan bukan pakaiannya, tapi wajahnya yang sedikit lebam. Sena bingung harus mengutarakan alasan apa yang masuk akal tentang luka lebam itu, karena tidak mungkin dirinya jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Semua usaha Sena runtuh saat Sena mendengar panggilan ibunya kala dia sedang menaiki tangga menuju lantai dua.

“Kau sudah pulang?” sapa ibunya begitu lega saat melihat puteri pertamanya sudah berada di rumah.

“Hm..” jawab Sena masih tidak mau membalikkan badannya untuk menghadap sang ibu. Tanpa dia sadar menggigit bibir bawahnya karena gugup dan menahan dingin. Tanganya terkepal saat sang ibu terus memperhatikannya.

“Kau melupakan payungmu lagi?” tanya ibu Sena khawatir saat melihat keadaan Sena yang basah kuyup.

“Hm..” jawab Sena lagi sambil menganggukkan kepalanya. Sena terus berdo’a dalam hati semoga ibunya tidak menyuruhnya untuk menghadapnya, dan mewawancarai dirinya tentang apapun.

“Seharusnya kau menghubungi Kang ahjussi untuk menjemputmu.” Balas ibu Sena yang semakin heran dengan kelakuan sang puteri yang masih belum berani berbicara sambil menatapnya langsung.

Jeosonghamnida.” Ucap Sena meminta maaf.

“Kau harus berjanji pada eomma untuk tidak mengulanginya lagi, arrachi?”

Nde.” Ucap Sena sambil memejamkan matanya karena sang ibu masih betah mengintograsinya.

“Kalau begitu cepat mandi dan ganti pakaianmu dengan pakaian yang masih kering. Eomma tidak ingin kau masuk angin.”

Nde.” Jawab Sena lemah. Kemudian tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Dan Sena tidak menyukainya karena hal itu akan semakin membuat sang ibu curiga padanya.

“Aku ke kamar dulu.” Ucap Sena kaku untuk memecahkan keheningan di antara mereka.

Eoh.” Jawab ibu Sena sedikit terkejut dengan ucapan puterinya itu. Lalu Sena melangkahkan kakinya menuju lantai dua dari rumahnya, menuju kamarnya.

“Kalau sudah selesai cepat turunlah, kita makan malam bersama.” teriak Ibu Sena pada Sena yang sudah berada di ujung tangga.

“Hmm…” jawab Sena seadanya. Setelah berada di lantai dua rumahnya, buru-buru Sena menuju kamarnya dan langsung menguncinya ketika dia sudah berada di dalamnya.

Dengan kasar Sena meletakkan tas sekolahnya serampangan. Sena berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Menatap pantulan dirinya di depan cermin sesaat setelah dia memasuki kamar mandi tersebut.

Tangannya secara perlahan terulur untuk mengusap luka lebam yang terdapat di wajahnya. Sebegitu keraskah Baekhyun memukulnya hingga menimbulkan luka seperti itu di wajahnya?

Napeun neom!!” umpat Sena kesal karena luka di wajahnya itu.

Dengan tangan bergetar Sena melepaskan semua pakaiannya dan langsung menuju ke bawah shower untuk membilas badannya. Guyuran air dari shower sedikit meredakan rasa dingin yang dirasakan tubuhnya saat ini.

Karena tidak ingin berlama-lama di bawah guyuran air, Sena pun segera menyudahi acara mandinya. Berpakaian rumahan seperti biasanya untuk membuat tubuhnya tetap hangat. Sena langsung beranjak ke tempat tidurnya dan menenggelamkan wajahnya di tumpukan bantal yang ada di sana.

Dirinya terlalu lelah untuk sekedar turun ke bawah dan makan malam bersama keluarganya, hingga dia memilih untuk tertidur saja. Entah kenapa matanya kembali memanas saat mengingat kejadian tadi sore.

Untuk meredam isakannya, Sena memilih untuk membungkam mulutnya dengan bantal yang ada. Perlahan tapi pasti, Sena pun jatuh tertidur. Melupakan sejenak rasa sakit yang dialaminya. Waktu berjalan dengan sangat cepatnya.

Saat Sena membuka matanya, sinar matahari pagi sudah menerpa wajahnya yang menelusup lewat celah dari gorden kamarnya. Dengan enggan Sena mencoba untuk bangun dari tidurnya, tapi itu semua Sena urungkan saat dia merasakan sakit di kepalanya.

Sena kembali berbaring untuk meredakan rasa sakit itu. Perlahan tangannya menyentuh keningnya untuk mengecek suhu tubuhnya. Dan benar saja seperti dugaannya, tubuhnya panas. Seakan mengetahui apa penyebab dari penyakitnya ini, Sena pun berdecak kesal.

Menyebalkan! Umpat Sena dalam hati. Sena memposisikan tubuhnya untuk kembali berbaring dengan nyamannya. Matanya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Sena terus saja memandang lukisan langit malam yang ada di langit-langit kamarnya. Memperhatikan gugusan-gugusan bintang yang menghiasi langit kamar itu.

Mungkin terdengar kekanakan, tapi memang Sena menyukainya. Sena melukis langit-langit kamarnya dengan gambar langit malam anak kecil, berbanding terbalik dengan suasana di kamarnya yang simpel seperti anak laki-laki karena memang tidak ada pernak-pernik yang menandakan bahwa itu kamar perempuan.

Saat Sena sedang asyik memandang lukisan di langit-langit kamarnya, sebuah ketukan di pintu kamar Sena menyadarkan Sena dari lamunannya. Menariknya kembali ke dunia nyata.

“Na-ya, kau tidak mau bangun? Kau bisa terlambat sayang.” Teriak ibu Sena di depan pintu kamar Sena.

Nde.” Ucap Sena lemah. Sebenarnya dia merasa tidak enak badan, tapi karena hari ini dia ada ulangan matematika, membuatnya mau tidak mau harus masuk sekolah.

Sena kembali mencoba untuk bangun, dengan gontai Sena berjalan menuju kamar mandi. Sena kembali menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi itu. Wajahnya pucat, matanya sedikit bengkak, dan luka lebamnya masih ada.

Sena hanya bisa menghela nafas dalam saat menyadari betapa mengerikannya penampilannya saat ini. Sena kemudian membasuh wajahnya dengan air berharap wajahnya akan terlihat sedikit segar. Tapi harapan hanya sebuah harapan saja, karena bilasan air pada wajahnya sama sekali tidak membantunya.

Tubuh Sena malah semakin menggigil saat terkena air. Sena mengurungkan niatnya untuk mandi dan memilih untuk langsung berganti pakaian dan berangkat ke sekolah. Untuk menutupi mata bengkaknya, Sena memakai kaca matanya. Sebuah masker langsung Sena kenakan untuk menutupi wajahnya.

Setelah dirasa penampilannya rapih, Sena pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju tangga. Rambut hitam bergelombangnya dia biarkan tergerai begitu saja. Sena semakin mengeratkan coat yang digunakannya saat hawa dingin menerpa tubuhnya.

“Kau tidak sarapan dulu, sayang?” tanya ibu Sena saat melihat Sena yang berjalan menuju ruang tamu tanpa mampir dulu ke ruang makan untuk sarapan.

“Tidak eomma. Aku bisa terlambat.” Jawab Sena.

“Kenapa penampilanmu seperti itu? Kau tidak baik-baik saja kan?” tanya ibu Sena semakin khawatir saat meneliti penampilan Sena yang tidak biasa.

“Aku baik-baik saja eomma. Hanya sedikit pusing, mungkin karena kemarin aku kehujanan.” Jawab Sena enteng sambil tersenyum dipaksakan untuk meyakinkan ibunya jika dia baik-baik saja, tapi itu tidak berhasil.

“Ya ampun, kau sangat panas.” Ucap ibu Sena saat dia memegang kening Sena tiba-tiba. Sebenarnya Sena juga sangat terkejut dengan perlakuan ibunya itu, tapi mau bagaimana lagi, ibu Sena terlanjur mengetahui jika Sena sedang sakit.

“Aku baik-baik saja.” Ucap Sena.

“Kau sedang tidak baik-baik saja, sayang.” Ucap Sena sedikit kesal karena Sena berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.

“Tapi…”

“Tidak ada kata tapi-tapi, sayang. Kembali ke kamarmu dan istirahat. Eomma akan menghubungi wali kelasmu jika hari ini kau tidak bisa masuk sekolah.” ucap ibu Sena tegas dan tidak terbantahkan.

Nde…” ucap Sena sedikit lesu. Selalu saja seperti ini. Jika dia atau Semi sakit, ibunya akan berubah menjadi sangat overprotektif, dan Sena tidak menyukainya.

Sena berjalan kembali ke kamarnya dengan menyeret kakinya. Begitu sampai di dalam kamar, dia segera membuka masker dan kacamata yang dia gunakan. Kemudian melepas tas beserta coat yang digunakannya. Mengganti kembali seragamnya dengan baju tidurnya, lalu memposisikan tubuhnya untuk tidur kembali di tempat tidur.

Sena sengaja tidur ke samping untuk menutupi luka lebamnya yang masih sedikit kelihatan. Rasanya sungguh nyaman, dan Sena menyukainya. Sebenarnya Sena sedikit bersyukur karena tadi ibunya menyuruh dia untuk kembali ke kamar dan beristirahat kembali. seandainya saja dia tadi memaksa untuk pergi ke sekolah, Sena tidak bisa membayangkan bagaimana semakin parahnya sakit yang dia alami.

Tidak lama kemudian pintu kamar Sena terbuka, dan tanpa melihat siapa yang membukanya saja, Sena sudah tahu siapa itu. Sena bisa merasakan gerakan perlahan pada sisi tempat tidurnya yang menandakan ibunya sedang duduk di sana. Sebuah tangan hangat kembali menyentuh keningnya untuk mengecek suhu tubuh Sena.

Eomma sudah menghubungi dr. Kim. Sejam lagi dia akan datang. Beristirahatlah. Eomma akan memasakkan bubur untukmu.” Ucap Ibu Sena yang tidak ditanggapi apapun oleh Sena. Sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya, dan setelah itu ibu Sena meninggalkan kamar Sena.

Merasa ibunya sudah pergi, Sena membuka matanya dan menghela nafas dalam. sena bisa merasakan nafas yang dia hembuskan juga panas. Sebuah handuk kecil dingin sudah bertengger manis di keningnya. Dingin. Sena kemudian mengeratkan selimutnya saat merasakan tubuhnya kembali menggigil kedinginan. Sena menutup kembali matanya saat tidak tahu harus berbuat apa sambil menunggu dokter keluarganya tiba. Dan kesadarannya pun perlahan-lahan hilang.

Di saat yang sama tapi di tempat yang berbeda, lebih tepatnya di kelas 3-a SMA Han Young High School seseorang sedang melamun sambil menatap keluar jendela yang berada di sebelah kirinya. Pikirannya melayang ke kejadian kemarin sore dimana dia tidak sengaja memukul gadis yang paling digilainya.

Perasaan menyesal terus saja menghantuinya. Kejadian itu terjadi begitu cepatnya hingga dia tidak sadar telah melakukan tindakan bodoh itu. Bodoh. Ya, dia terus merutuki dirinya sendiri dengan kata-kata bodoh.

Lamunannya terpotong saat seorang guru masuk ke dalam kelas itu. Awalnya dia hanya menatap tidak minat pada guru tersebut, namun saat guru tersebut mengumumkan sesuatu di depan kelas, tiba-tiba fokusnya beralih pada guru tersebut.

“Hari ini Lee Sena tidak bisa membersamai kita dikarenakan dia sakit. Mari kita do’akan salah satu teman kita yang sedang tertimpa musibah itu agar cepat sembuh dan berkumpul bersama kita lagi.” Ucap guru tersebut yang langsung membuat mata Baekhyun membulat sempurna. Sena sakit? Tanyanya dalam hati.

Nde.” Ucap seluruh murid berbarengan kecuali Baekhyun. Pikirannya terlalu kacau. Perasaan bersalah semakin mendominasi hatinya saat ini. Jangan-jangan dia yang menyebabkan Sena sakit? Kemungkinan negatif itu seakan menghantamnya dengan keras saat sekelebat kejadian kemarin sore terlintas dipikirannya.

Baekhyun langsung berdiri dari tempat duduknya yang menimbulkan suara deritan kursi dan membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Seisi kelas memandang Baekhyun bingung termasuk guru yang ada di depan kelas.

Tanpa pikir panjang, Baekhyun langsung berlari keluar kelas tanpa menghiraukan teriakan guru tersebut yang terus memanggil namanya untuk menyuruh Baekhyun kembali ke kelasnya. Tapi telinga Baekhyun seakan tuli, karena yang ada dipikirannya saat ini hanya Sena.

Baekhyun berlari sekencang yang dia bisa. Langkah larinya terhenti saat dia sudah mencapai bagian sisi sekolah yang terdapat tembok pembatas dengan dunia luar. Baekhyun mengedarkan pandangannya untuk meneliti situasi di tempat itu. Baekhyun dapat melihat sebuah kursi yang tidak terpakai tergeletak begitu saja di dekat dinding bangunan sekolah.

Tanpa pikir panjang, Baekhyun kemudian menarik kursi itu dan meletakkannya di samping tembok pembatas sekolahnya. Kemudian Baekhyun menaikinya untuk membantunya memanjat tembok pembatas itu. Temboknya memang tidak terlalu tinggi, tapi sebuah kawat berduri terpasang di bagian paling atas tembok itu.

Namun hal itu tidak menjadi halangan yang berarti bagi Baekhyun karena dia sudah sering melakukan hal seperti ini sebelum-sebelumnya. Dan tidak lama setelah Baekhyun memanjatnya, dia pun sudah berada di luar sekolah.

Baekhyun berlari lagi menuju bangunan tempat dia memakirkan mobilnya. Dari yang masih terbilang jauh, Baekhyun membuka kunci mobilnya dan langsung ke dalamnya saat dia sudah berada di samping mobilnya itu.

Masih dalam keadaan yang terburu-buru, Baekhyun menyalakan mesin mobil dan langsung menginjak pedal gas untuk menuju ke suatu tempat berada di dalam otaknya. Baekhyun membelah jalanan kota Seoul seperti orang gila, karena memang sesungguhnya dia sedang gila.

Tidak sampai satu jam dia sudah sampai di tempat yang ditujunya. Rumah Sena. Jangan tanyakan kenapa dia bisa tahu di mana letak rumah Sena, karena selain Baekhyun bertindak seperti orang gila, Baekhyun juga bertindak seperti seorang stalker.

Hampir setiap hari Baekhyun mengikuti Sena pulang, hingga akhirnya dia mengetahui tempat di mana Sena tinggal. Chanyeol dan Kai merasa jengah dengan perilaku Baekhyun yang menjadi seorang stalker, tapi Baekhyun selalu menolak jika dia dianggap sebagai seorang stalker.

Baekhyun selalu berdalih jika dirinya hanya ingin memastikan Sena pulang dengan selamat. Selalu saja menjawab seperti itu. Memang benar jika Baekhyun ingin memastikan Sena pulang dengan selamat, tapi tujuan yang paling utamanya adalah ingin terus memperhatikan Sena. Karena bagi Baekhyun saat sedang memperhatikan Sena, perasaan tenang dan nyaman selalu dia rasakan.

Seperti saat ini, Baekhyun terus memandang ke arah rumah besar itu berharap Sena akan keluar dari jendela kamarnya dan memastikannya dalam keadaan baik-baik saja. Sebenarnya bisa saja Baekhyun masuk lewat pintu utama dan bertemu dengan orang-orang dalam rumah Sena, lalu mengatakan jika dia teman Sena dan ingin menjenguknya.

Tapi memikirkan kemungkinan dia bertemu dengan orangtua Sena membuat perasaannya bertambah gugup tidak karuan. Dia tidak siap jika harus bertemu dengan salah seorang anggota keluarga dari gadis yang digilainya.

Sebut saja dia pengecut, karena tidak berani menemui keluarga Sena secara langsung. Hingga pada akhirnya Baekhyun hanya bisa menghela nafas dalam merutuki salah satu sifat bodohnya itu. Kemudian pandangannya kembali menatap ke arah dalam rumah, mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

 

~ tbc ~

Iklan

99 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] My Lady — Chapter 4

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 48) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – Chapter 47 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 46) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 45) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43) | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 42) | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 41) | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Side Story-Kai) | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] my lady – chapter 40 | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 39) | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37) | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 36) | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY  [Chapter 35] | EXO FanFiction Indonesia

  15. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 33) | EXO FanFiction Indonesia

  16. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 32) | EXO FanFiction Indonesia

  17. Baek sena gpp cuman sakit.. TAPI ITU NYIKSA SENA BYUNBAEK!! haah baek baek baek kau ada sweetnya di sini~hehehe next chapt.. Gogogo!!

  18. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 31) | EXO FanFiction Indonesia

  19. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 30) | EXO FanFiction Indonesia

  20. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 29) | EXO FanFiction Indonesia

  21. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My – (Chapter 27) | EXO FanFiction Indonesia

  22. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 26) | EXO FanFiction Indonesia

  23. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 25) | EXO FanFiction Indonesia

  24. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 24) | EXO FanFiction Indonesia

  25. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 23) | EXO FanFiction Indonesia

  26. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 22) | EXO FanFiction Indonesia

  27. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 21) | EXO FanFiction Indonesia

  28. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 20) | EXO FanFiction Indonesia

  29. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 19) | EXO FanFiction Indonesia

  30. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 18) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s