One and Only – SLICE #8 — IRISH’s Story

irish-one-and-only-2Author : IRISH

Tittle : One and Only

Main Cast : EXO’s Baekhyun, Red Velvet’s Yeri

Supported : EXO, Red Velvet, Twice, and SMRookies Members

Genre : Romance, Life, Fantasy, Sci-fi

Rate : PG-16

Disclaimer : This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO, Red Velvet, Twice and SMRookies Members belong to their real-life.

Previous Chapter

Prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7

  ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Yeri’s Eyes..

“Wendy?”

Seluruh syaraf di tubuhku seolah lumpuh saat Baekhyun mengucapkan nama itu. Yeoja yang tadi berteriak pada kami benar-benar seperti yang kuduga, postur seperti Irene, dengan rambut berwarna pirang terang, dan wajah malaikat yang membuat siapapun pasti menyukainya.

“G-Grey?” ucap yeoja itu lirih, sepasang matanya segera tampak berkaca-kaca. Sementara aku masih berada dalam tahap kehancuran yang tak kumengerti.

“Ya.. Ini aku Wendy.” ucapnya.

“Grey!” pekik yeoja bernama Wendy itu sambil berlari ke arah Baekhyun, hentakannya pada tubuh Baekhyun membuat cekalan Baekhyun terlepas dariku.

Aku sekarang berdiri seolah patung penonton disana, melihat bagaimana yeoja bernama Wendy ini memeluk erat Baekhyun, dan menangis tersedu-sedu. Sementara Baekhyun mengusap-usap kepalanya lembut.

Ugh, kenapa aku merasa kesal melihat hal mengharukan semacam ini?

“Oh Wendy, kau sudah tumbuh besar.”

“Aku sangat merindukanmu Grey, aku sungguh ingin mati saat Daddy mengasingkanmu ke Seoul,” ucap Wendy, masih menangis.

Aku segera mengalihkan pandanganku, merasa berdosa saat aku harus menyaksikan adegan melepas rindu ini sementara aku sendiri merasa marah, dan kesal.

Tatapanku sekarang tertuju pada yeoja yang tadinya menarik perhatianku dan Baekhyun, sekaligus membuat Wendy berteriak.

Nafasku seolah terhenti saat nyatanya Ia sudah membuka matanya, dan tatapannya tertuju padaku. Logam nano yang berputar lembut di sepasang matanya segera memberiku peringatan keras untuk menjauh.

Aku baru saja akan melangkah mundur saat Ia nyatanya tersenyum padaku.

Senyum yang.. menular.

Entah mengapa aku membalas senyumannya walaupun aku tengah merasa aneh dan canggung karena euforia dari dua orang yang sekarang bersamaku.

Perlahan, kuulurkan tanganku padanya, dan ragu-ragu, Ia meraih tanganku.

Segera kualihkan perhatianku dari celotehan girang Wendy pada Humanoid-nya, dan kuputuskan untuk menaruh perhatianku pada Humanoid ini.

Ia terlihat masih muda, seperti anak-anak, tapi Ia seorang Humanoid. Seorang Humanoid tak pernah bertambah tua, aku sedikit heran memikirkan alasan Servicer menciptakan Humanoid yang terlihat sangat muda sepertinya.

“Seoul?” tanyanya dengan aksen Prancis yang sangat kental.

Aku mengangguk pelan, membuatnya memejamkan matanya sejenak sebelum Ia kembali membuka mulut.

“Siapa namamu?” tanyanya padaku dengan bahasa korea yang sangat fasih, suaranya, seperti yang kukatakan, suara Humanoid bisa menirukan semua frekuensi suara, dan Ia memiliki suara sangat indah.

“Yeri, bagaimana denganmu?” ucapku sementara Ia tampak berusaha menemukan fungsi semua anggota tubuhnya.

“Dahyun,” jawabnya lirih.

“Kenapa.. kau ada disini? Dimana Owner-mu?” tanyaku.

Ia menggeleng pelan.

“Aku seorang Humophage.” ucapnya membuatku menyernyit.

“Humophage?”

Dahyun mengangguk.

“Aku tidak punya Owner. Aku terbangun saat Servicer ingin memprogram ulangku. Dan aku melarikan diri.. Tapi mereka memburuku. Mereka tahu ada Humanoid lain yang sepertiku, jadi mereka memburu kami, Humophage.”

Tunggu. Jika Ia tidak punya Owner.. Itu artinya Ia bisa berpikir mandiri seperti Baekhyun.. Seperti Momo.

Tapi tunggu..

“Kau bilang Servicer memburu Humophage?” tanyaku terkesiap.

“Ya.. Mereka akan melakukan Blackout pada kami.” ucap Dahyun, rautnya sekarang berubah takut.

“Kau takut?” tanyaku.

Ia mengangguk.

“Aku sangat takut Yeri.. Aku tidak ingin mati. Aku ingin hidup seperti kalian semua. Aku juga ingin punya kehidupan seperti yang lainnya.”

Tidak.. Ini aneh. Bagaimana bisa Dahyun dengan tegas menyatakan bahwa Ia merasa takut?

Ini.. tidak seharusnya.

Tapi bukankah Baekhyun dan Momo sebenarnya punya Owner?

“Baek..” ucapanku terhenti saat sadar aku tak lagi bersama Baekhyun, Ia pasti sudah bersama Wendy, entah kemana.

“Mereka ada diatas,” ucap Dahyun menatap langit-langit gelap ruangan tempat kami berada.

“Ayo kita ke atas.” kataku akhirnya.

Dahyun menggeleng, “Aku takut, bagaimana jika mereka menangkapku?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

Ini lebih jadi pemandangan aneh bagiku. Apa Ia ingin menangis?

“Tidak.. Kami ada disebuah perjalanan, dan kami mencari Humophage lainnya.” ucapku membuat Dahyun menyernyit.

“Apa kalian juga ingin melakukan Blackout pada kami?”

“Tidak, kami mencari Humophage, untuk membiarkan mereka hidup bebas, seperti yang manusia lakukan dimasa lalu.”

Mendengar ucapanku, Dahyun tersenyum cerah. Pipinya bahkan memerah karena tersenyum. Sungguh manusia..

“Benarkah?” tanyanya dengan nada meninggi.

“Ya, kau mau ikut bukan?” tanyaku membuat senyum Dahyun kembali lenyap, “Aku takut, bagaimana jika mereka melukaiku?” tanyanya.

“Aku dan yang lainnya akan melindungimu,” ucapku menjanjikannya.

Dahyun kembali tersenyum, kali ini Ia memelukku, membuatku terkejut, Ia memperlakukanku seolah.. Ia adalah seorang adik yang meminta perlindungan kakaknya.

“Aku suka kau Yeri.. Kau sangat baik..” ucapnya.

Aku membalas pelukannya, tanpa sadar tersenyum mendengar ucapannya, bagaimana bisa seorang Humanoid berucap seperti ini?

“Ayo kita ke atas,” ucapku.

Ia mengangguk, dan bergerak memeluk lenganku. Seolah aku merasa aku benar-benar harus menjaganya, aku membimbing langkahnya. Membiarkannya ada dibelakangku sementara aku mencoba setiap langkah yang akan kami susuri.

Kudengar pembicaraan rendah dari lantai atas. Tak perlu kutebak lagi siapa yang tengah bicara, Baekhyun, dan Owner-nya, Wendy.

Ia bahkan tak merasa terusik karena kehadiranku dan Dahyun, dan aku juga tak ingin mengusiknya, percuma.

“Yeri, apa kau dan teman-temanmu punya makanan ditempat kalian?” tanya Dahyun membuatku menatapnya bingung.

“Ya, tentu saja, memangnya kenapa?”

“Aku sangat lapar,” katanya pelan.

Lapar? Bagaimana mungkin Ia..

“Kau bisa makan seperti kami?” tanyaku.

“Ia makan dan minum seperti manusia. Dia Humanoid yang berbeda.” aku diam menatap Dahyun saat mendengar seseorang menyahut.

Aku ingin berbalik dan mengatakan padanya bahwa aku tak mengharapkan jawaban darinya karena aku menunggu jawaban dari Dahyun.

Aku berbalik, menatap yeoja itu, sementara Ia merangkulkan lengannya erat dilengan Baekhyun.

“Ah.. Begitu rupanya.”

Semua kata-kata yang sudah kuharapkan untuk keluar dari mulutku nyatanya lenyap. Aku tak sanggup mengutarakannya. Aku tak sanggup berkata sejahat itu padanya.

“Grey, siapa dia?” tanyanya kemudian seolah baru saja menyadari bahwa Baekhyun tak datang sendirian untuk mencarinya.

“Dia Yeri, dia yang sudah membuat chip-ku aktif saat aku di Seoul.” ucap Baekhyun menjelaskan.

“Dimana Humanoid-nya?” tanyanya dengan alis berkerut menatapku.

“Dia Outsider.”

“Oh, Outsider.” ulang Wendy, menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan.. oh sungguh, apakah hanya aku yang merasa bahwa Ia menatapku seolah meledekku karena aku Outsider?

“Ya, aku seorang Outsider.” ucapku akhirnya.

Wendy yang tadinya sudah akan bicara pada Baekhyun kini menatapku.

“Aku tahu, kau tidak perlu mengatakannya lagi.”

Aku mengalihkan pandanganku. Kenapa mulut bodoh ini harus berucap hanya untuk mendapatkan kalimat penghinaan itu darinya?

“Yeri?” ucap Dahyun menyadarkanku, “Ya?” kataku menatapnya.

Dahyun menatapku dengan tatapan sedih, aku tahu jelas kesedihan itu tergambar diwajahnya, tapi Ia kemudian tersenyum.

“Kurasa kau terlalu erat memegangku,” katanya pelan.

Aku segera sadar cekalanku pada Dahyun berubah erat saat entah sejak kapan. Kurasa karena Wendy ini. Apa aku tengah merasa marah?

“Yeri, ayo kembali ke mobil.” ucap Baekhyun sambil memasukkan beberapa barang ke dalam ransel yang dikenakan Wendy.

“Dahyun juga ikut?” tanyaku sadar bahwa Ia akan membawa Wendy juga dalam perjalanan ini.

Baekhyun menatapku, menyernyit.

“Kita tidak bisa membawa orang asing.”

Hatiku mencelos mendengar ucapannya.

“Tapi dia juga orang asing.” balasku tak mau kalah.

“Apa?” kali ini Wendy juga ikut angkat bicara.

“Yeri, dia bukan orang asing. Aku mengenalnya.” ucap Baekhyun.

“Dahyun juga bukan orang asing. Setidaknya aku mengenalnya.” balasku lagi-lagi tak mau kalah pada perdebatan ini.

“Tidak Yeri, kita sudah terlalu banyak membawa orang asing.” ucapnya.

“Kalau begitu kembalilah ke mobil bersamanya.” ucapku akhirnya.

“Apa?” sekarang Baekhyun yang berucap, “jangan bercanda.” sambungnya.

“Aku akan bersama Dahyun.” tegasku.

Baekhyun mengalihkan pandangannya, tapi kemudian Ia menatapku.

“Kenapa manusia selalu saja memaksakan keegoan mereka..” rutuknya sambil memasangkan ransel Wendy.

Untuk kedua kalinya hatiku mencelos. Ini pertama kalinya kudengar Baekhyun menghina manusia selama perjalanan ini.

“Grey, kenapa kita tidak pergi saja dan meninggalkannya?” yeoja bernama Wendy itu angkat bicara.

“Jika Dahyun orang asing bagimu, maka bagiku yeoja itu juga orang asing, Baekhyun.” ucapku akhirnya membuat Wendy melengos dan menghembuskan nafas kesal.

“Grey, sampai kapan kita akan membuang waktu? Kita harus ke London untuk menemukan lembar penelitian Daddy yang lain.” ucapnya tak senang.

Aku mulai merasa frustasi pada keadaan dimana aku tak bisa melawan yeoja itu dengan sama menyakitkannya.

Baekhyun menatapku, lama, dan akhirnya Ia menarik lengan Wendy.

“Jangan tertinggal dibelakang kami.” ucap Baekhyun padaku, baiklah, itu artinya Ia setuju untuk membawa Dahyun dalam perjalanan ini.

Walaupun Ia mengucapkannya dengan cara yang menyakitiku, lagi.

Aku tersenyum pada Dahyun, dan menggenggam erat lengannya sementara kami sekarang berjalan keluar dari rumah kumuh ini.

Baekhyun tampak sibuk mendengarkan celotehan yeoja itu, dan aku tak ingin ambil pusing. Keadaan Dahyun sungguh membuatku bertanya-tanya.

“Bagaimana mungkin kau terbangun tanpa Owner?” tanyaku.

“Aku tidak tahu Yeri, aku hanya.. merasa ingin terbangun. Kau tahu? Sebenarnya kami semua sudah terbangun walaupun tidak diaktifkan. Hmm, seperti saat manusia sedang koma, kami mendengarkan semuanya.. Tapi tidak melihatnya.

“Dan saat mendengar manusia bicara tentang dunia luar, aku begitu ingin tahu, aku ingin melihatnya.. Satu hari aku terbangun begitu saja.” katanya riang.

Seperti Momo, Dahyun membawa euforia kebahagiaan aneh.

“Kenapa kau bisa makan seperti kami?” tanyaku.

“Tentu saja karena aku ingin seperti kalian. Aku ingin seperti manusia. Jadi aku makan dan minum.” jelasnya.

Aku sejenak terdiam. Jika semua Humanoid berpikiran seperti Dahyun, bukankah mereka akan jadi seperti Dahyun? Maksudku.. Membutuhkan hal yang sama seperti manusia?

“Saat aku menggenggam tanganmu dengan erat tadi, apa kau merasa sakit?” tanyaku pada Dahyun.

Ia mengangguk pelan.

“Sakit, itulah mengapa aku memberitahumu.” ucapnya.

Ia bahkan bisa merasakan sakit? Kenapa.. Kenapa Dahyun berbeda?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kami sampai dimobil, tapi aku tidak menemukan siapapun. Mereka mungkin ada ditempat-tempat yang Baekhyun ucapkan tadi.

“Aku dan Wendy akan menjemput mereka, tunggulah dimobil.” ucap Baekhyun kusahuti dengan anggukan pelan.

Aku membawa Dahyun masuk ke dalam mobil, sementara Ia tampak sangat senang melihat home-car ini.

“Kau suka?” tanyaku.

“Ya! Aku sangat suka! Whoah.. Sangat cantik..” ucapnya sambil terus menatap berkeliling.

Aku menutup pintu home-car, dan menatap kepergian dua orang itu, rasa sesak kembali melingkupi dadaku. Membuatku merasa tidak nyaman.

“Yeri, bisa aku bertanya sesuatu?” tanya Dahyun membuatku menatapnya.

“Tentu saja, apa itu?”

Dahyun tersenyum tak yakin padaku, tapi Ia akhirnya membuka mulut.

“Aku tidak yakin.. tapi menurutku ini aneh. Sama anehnya dengan kemunculan Humophage.. Apa kau tidak merasa aneh karena jatuh cinta pada Humanoid?”

“Apa?” aku tersentak, jantungku segera terpompa dengan kencang, dan darahku seolah mengalir dengan tidak normal.

Dahyun tersenyum kecut, dan tatapannya tertuju pada dua orang yang masih berada dalam jarak pandang kami berdua.

“Humanoid itu.. kau menyukainya?”

“Tidak. Tidak seperti itu.” bantahku cepat.

“Yeri, walaupun aku Humanoid, aku seorang Humophage sekarang. Aku bisa merasakan yang manusia rasakan, dan aku mengerti tentang keadaanmu. Kau merasa sakit dan sesak sedari tadi karena melihat mereka berdua.

“Kau juga merasa kecewa karena dia tidak lagi hanya mempedulikanmu karena sudah ada Owner-nya. Kau.. cemburu bukan?”

Tidak.

“Tidak.”

Tidak. Tidak mungkin.

Ini tidak mungkin.

“Aku tidak jatuh cinta padanya. Lagipula dia bukan manusia.”

Dahyun tertawa pelan, dan tersenyum penuh arti padaku.

“Humanoid bahkan bisa menyadari perasaanmu padanya, kenapa kau tidak sadar kalau kau jatuh cinta pada Humanoid itu, Yeri?”

Aku bungkam mendengar ucapan Dahyun.

“Tidak Dahyun.. Aku tidak jatuh cinta padanya.”

Dahyun tersenyum.

“Ia mungkin tidak menyadarinya,” ucap Dahyun pelan, “karena aku dan dia berbeda.” sambungnya.

“Kenapa berbeda?” tanyaku.

“Aku Aplha 12. Aku punya kemampuan lebih banyak daripada Humanoid lain.”

Aku tersentak.

“Bukankah hanya ada 3 Alpha 12 yang sudah dibuat?” tanyaku dijawab dengan anggukan pelan oleh Dahyun.

“Ada dua Alpha 12 yang dibuat bersamaku, namanya Joy, dan Kai, mereka sama-sama melarikan diri sepertiku.” ucap Dahyun.

“Kenapa mereka melarikan diri?” tanyaku bingung.

“Alpha 12.. Diciptakan dengan perasaan, seperti manusia. Servicer-ku, Yoo Jungyeon, Ia bilang bahwa aku hampir seperti manusia. Aku mendengarnya bicara dengan Servicer lain saat aku masih di laboratorium.

“Jadi aku tidak mau terjebak dalam program, aku tidak mau menuruti perintah siapapun, aku juga ingin hidup seperti manusia. Joy pergi lebih dulu, aku tidak tahu kemana. Tapi Kai..”

Aku menyernyit saat nada bicara Dahyun memelan.

“Kenapa dengannya?”

“Kita akan ke London bukan? Apa kau mau membantuku mencari Kai?” tanya Dahyun dengan nada penuh harap.

“Apa Ia ada di London?”

Dahyun mengangguk.

“Ya, dia ada di London.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Ketiga Alpha 12 punya chip penghubung, milik Joy sudah hancur, tapi milik Kai masih aktif, dia ada di London, selama ini aku tidak bisa menemuinya karena Sentry mengejarku di Paris.”

Mengingat kata-kata pengejaran, aku segera teringat bahwa Ia tadinya bersembunyi dirumah lama Owner Baekhyun, dan tadi Wendy berteriak mencegahku dan Baekhyun untuk tidak mendekati Dahyun.

“Bagaimana kau bisa mengenal Wendy?” tanyaku.

“Ah, dia membiarkanku bersembunyi di rumahnya. Dia bilang dia menunggu Humanoid-nya kembali. Dan karena dia tidak mau Humophage dimusnahkan, dia melindungiku disana.

“Setiap Pembersihan aku akan bersembunyi dirumah itu bersama Wendy. Wendy juga sangat baik padaku, dia selalu menceritakanku banyak hal tentang kehidupan manusia.”

Sudah kukatakan aku yakin Wendy ini bisa bersikap seperti malaikat dan membuat semua orang menyukainya bukan?

Ucapanku terbukti.

Cepat atau lambat, Ia akan mendapatkan perhatian dari semua orang yang berada diperjalanan ini bersama kami.

“Sudah kukatakan bahwa semua orang akan meninggalkanmu Yerim?”

Aku tersentak saat ucapan Irene kembali terngiang dalam pendengaranku.

Apa ucapannya akan benar-benar terjadi? Semua orang akan meninggalkanku?

“Kenapa Yeri? Kau terlihat sangat terkejut,” ucap Dahyun.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” bohongku cepat, aku duduk di sofa kecil yang ada di home-car kami, hanyut dalam pikiranku sendiri.

“Apa kau khawatir tentang Humanoid itu?” tanya Dahyun.

Aku menggeleng.

“Tidak, aku tidak memikirkan masalah itu,” sahutku.

“Lalu? Apa kau takut ditinggalkan Humanoid itu?”

“..Kau bahkan tak berani menghadapi hidupmu sendiri. Kau takut ditinggalkan bukan?..”

Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha menghilangkan ucapan Irene yang terngiang dipendengaranku.

“Tidak, bukan itu juga.”

“Lalu apa?”

“Lupakan saja,” ucapku pelan.

“Ah, itu mereka.”

Ucapan Dahyun menyadarkanku, aku segera menatap keluar kaca lebar dibagian depan mobil. Hatiku lagi-lagi mencelos mendapati Wendy tampak sangat akrab dengan Sally dan Momo.

Apa hanya aku satu-satunya orang yang merasa tidak senang pada kehadirannya?

Chaeyeong bahkan bicara pada Wendy, sementara yeoja itu sama sekali tak pernah bicara padaku.

Kenapa sekarang keberadaan Wendy begitu membebaniku?

“Wendy!” Dahyun menyambut kedatangan yeoja itu dengan ceria—tidakkah Dahyun ingat bahwa Wendy tadinya menolak keikut sertaannya dalam perjalanan kami?

Kudengar tawa pelan dari tiga orang—Wendy, Sally, dan Momo—sementara Baekhyun tampak bicara serius bersama Kyungsoo, dan.. seorang yeoja lainnya yang tak kukenal.

“Masuklah Nayeon,” kudengar Chaeyeong bicara.

Apa namanya Nayeon?

Ia tampak menatap sekitarnya dengan tatapan takut, dari penampilannya aku bisa tahu Ia seorang Outsider sepertiku. Aku yakin.

“Pakai ini Nayeon-ah, kau bisa kedinginan.” Wendy mengulurkan jaket yang Ia kenakan.

Bukankah tadi Ia mengucapkan kata ‘Outsider’ dengan nada menghina padaku? Kenapa dengan sikapnya sekarang?

“Oh, Yeri, kami menemukan Nayeon di brasserie yang kami datangi. Ia tampaknya bersembunyi dari Humanoid Pemburu.” ucap Sally menjelaskan.

Ia bahkan tak menanyakan tentang perjalanan sebentar ku tadi. Atau Ia sudah mendengarnya dari Wendy? Kurasa ya. Ia kembali sibuk bicara dengan Wendy. Dan entah mengapa aku mulai merasa lelah pada semua ini.

Kurasa aku akan meninggalkan mereka semua sebelum mereka meninggalkanku.

“Ada Humophage lain yang kudengar lari dari Penahanan. Jika aku tidak salah, Ia pergi ke Barcelona, bersembunyi disana, kenapa kita tidak mencoba ke Barcelona dulu?” Wendy berucap.

Aku tahu Ia dan Baekhyun akan memegang arah perjalanan ini, dan aku hanya tinggal memikirkan dinegara mana aku harus meninggalkan mereka. Cepat atau lambat mereka akan mengabaikan keberadaanku bukan?

“Baiklah, kita ke Barcelona dulu, baru ke London.” ucap Baekhyun akhirnya.

“Bisa kita ke Edinburgh nanti? Kyungsoo bilang bahwa Owner ku ada disana,” Momo angkat bicara.

“Wow wow, tunggu dulu,” Sally menambahi, “ingat bahwa kita seharusnya membuat cerita yang wajar bukan? Sementara ini Momo berpura-pura menjadi Humanoid-ku, dan Wendy bilang Dahyun bisa berpura-pura jadi Humanoid Nayeon, kalau Owner Momo ikut juga, kita akan kekurangan Humanoid.” sambungnya.

Aku terdiam.

Jadi aku tak lagi dihitung dalam perjalanan ini?

Aku menghembuskan nafas pelan, memilih untuk tak berkomentar apapun.

“Ada Alpha 12 sepertiku di London, kita bisa menemukannya nanti.” Dahyun menyambung pembicaraan.

Ya. Dia bicara tentang Humanoid bernama Kai itu bukan?

“Benarkah? Bagus, sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan.” ucap Wendy bersemangat.

Bisakah aku meninggalkan mereka ditempat ini saja?

“..Kau bahkan tak berani menghadapi hidupmu sendiri..”

Ucapan Irene kembali menghantuiku. Bagaimana jika ucapannya benar? Bagaimana jika aku memang takut untuk menghadapi hidupku sendiri?

Aku menatap buku jariku, tidak, aku tidak takut menghadapi hidupku. Aku terbiasa hidup sendirian tanpa mereka semua sebelum ini. Tanpa perlindungan siapapun.

Kenapa aku merasa seperti ini sekarang?

“Kita akan melanjutkan perjalanannya ke Barcelona dulu, tapi kita mengambil jalur di pantai Marseille karena daerah itu aman dari Pembersihan, baru kita ke Edinburgh, dan melewati Berlin untuk pergi ke London.”

Baekhyun berucap sambil menandai Electric-map yang muncul begitu saja di hadapan mereka—aku tak bisa mengatakan ma itu muncul dihadapanku juga karena nyatanya aku mulai, tidak, aku sudah merasa aku bukan bagian dari perjalanan ini lagi.

Apa Ia tadi bilang Marseille aman dari Pembersihan? Kurasa aku akan meninggalkan mobil ini disana. Aku akan pergi, menjadi Outsider di Marseille.

“Aku akan mengambil kemudi ke Marseille, aku hafal jalurnya dengan baik.” ucap Wendy sambil merapikan rambut pirang terangnya.

“Kau yakin, Wendy?” Baekhyun menatapnya khawatir.

“Ya tentu saja, lagipula apa yang kau khawatirkan?” tanya Wendy

“Bagaimana jika kau kelelahan?” tanya Baekhyun.

Wendy tertawa pelan.

“Kau akan ada disini Grey, aku tak lagi khawatir.” ucapnya membuat Baekhyun akhirnya tersenyum.

“Baiklah, aku akan menggantikanmu jika kau lelah.”

“Terima kasih Grey,” ucapnya sambil memeluk Baekhyun erat.

Untuk kedua kalinya kutemukan diriku mengalihkan pandangan dari pemandangan itu. Aku enggan melihatnya, entah mengapa.

“Kurasa kita butuh home-car yang lebih besar untuk membawa perlengkapan lainnya.” ucap Kyungsoo

“Kalian keberatan untuk menaiki truk? Ada sebuah pabrik truk modifikasi di Marseille. Bagian belakangnya sangat besar dan luas untuk bisa membawa barang-barang dan juga orang.” lagi-lagi Wendy berucap.

Tentu saja, Ia mengenal Eropa, dalam pandangan dan pendapatku.

Kenapa aku harus merasa setidaknyaman ini?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

COMING SOON!

Sunday – 08/11/2015 – 23:59 WIB [Like A Fool Ver. 3]
Wednesday – 11/11/2015 – 00:00 WIB [Irresistible Love – SLICE #9]
Sunday – 15/11/2015 – 00:00 WIB [Kajima – SLICE #4]

140 tanggapan untuk “One and Only – SLICE #8 — IRISH’s Story”

  1. Sabar ya yeri .. aku juga sakit hati ma sikap baek yg berubah 360 derajat celcius .. :v jadi kita sama sama sakit hati karena baek wkwkwk feel nya ngena asli T.T

  2. huh..!! brubah 180 drajad dah sikap’ny Baekhyun ke Yeri =.=” stlh Wendy muncul! yg td’ny dikit2 overprotectiv ke Yeri, eh.. skrg malah menghina manusia dgn bw ‘ego’ sgala! Si Wendy sengaja bgt bikin Yeri terabaikan semua org! dsr..!! gregetan pengen tendang si Wendy jauh2!! bener2 prihatin ma nasib Yeri ~_~ gondok bgt nih ne maeum ma skp’ny Wendy & Baek jg d’others ke Yeri. Iya, Rish kamu blm jlasin ttg prubahan geografis letak kota2ny

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s