[EXOFFI FREELANCE] MY LADY [Chapter 35]

 

MY LADY - CHAPTER 34

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

 

Credit poster by RAVENCLAW

 

 

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31 -> CHAPTER 32 -> CHAPTER 33 -> CHAPTER 34

 

Warning!! Bagi yang masih di bawah umur harap nanti di skip adegan dewasanya ya! Ini semua demi kebaikan bersama. Terima kasih. Hampir tiga per empat bagian chapter ini sama kayak chapter kemarin namun dari sisi Jisoo. Selamat membaca.

***

Jisoo menggerutu kesal saat suara dering dari handphonenya menganggu tidur lelapnya. Jisoo mengabaikan suara panggilan tersebut dan lebih memilih mengeratkan selimut yang dipakainya. Menyembunyikan tubuh mungilnya dibalik selimut yang membungkus hangat tubuhnya.

Namun seakan tidak menyerah, suara dering panggilan kembali mengalun ditengah pagi buta itu. Dengan kesal Jisoo menyibakkan selimutnya, meraba ke arah nakas. Keningnya mengernyit saat membaca siapa yang terus menghubunginya. Mau apa pria gila itu menghubunginya di pagi buta begini? Pikirnya.

“Yeobeoseyeo?”

“Yeobeoseyeo?”

“Apakah ini dengan istri dari Tuan Byun Baekhyun?”

 “Nde?” Istri? kenapa terdengar seperti suara orang lain?

“Tuan Byun meminta anda untuk menjemputnya di Galaxy Club sekarang juga.”

Menjemput? Siapa dia yang harus aku jemput di tengah malam seperti ini? Di club? Sedang apa dia di club? Jisoo terdiam sambil memikirkan semua perkataan pria yang menghubunginya. Dijauhkannya handphone tersebut dari telinga untuk mengecek siapa yang menghubunginya. Dilayarnya tertera nama pria gila yang membuat Jisoo penasaran, tapi suara yang terdengar di telinganya bukan suara dari pria itu.

Saya mohon, nyonya.”

Suara di seberang sana menyadarkan Jisoo dari lamunannya lagi. Jisoo mendekatkan kembali handphone tersebut ke telinganya untuk menjawab. “Tapi aku tidak bisa dan aku tidak mau datang ke sana. Suruh saja dia pulang dengan pengawalnya.” Ucap Jisoo penuh kekesalan.

Tapi jawaban yang didengar dari seberang sana membuat Jisoo menghembuskan napas dalam. Apa pedulinya? Perkelahian berdarah tak kan membuatnya mati karena saat ini ia tidak ada di sana. Guman Jisoo dalam hatinya. Tapi saat mengingat aura menakutkan yang sering ditebarkan Baekhyun membuat Jisoo berpikir ulang. Jika malam ini ada nyawa yang melayang, maka ia yang harus di salahkan.

Nyonya?”

“Apakah aku harus benar-benar menjemputnya?” tanya Jisoo sambil menggingit kuku jarinya karena ia merasa tidak yakin dengan apa pertanyaannya sendiri.

“Tentu saja, nyonya. Tuan sudah mulai tidak sadarkan diri.”

Jisoo menghembuskan napasnya dalam saat ia tidak punya pilihan lainnya. “Baiklah. Aku akan ke sana.” Jawab Jisoo membuat orang di seberang sana menjawabnya dengan nada yang bahagia. Lalu ia menutup sambungan telepon tersebut.

Jisoo bangkit dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya, lalu memandang ke arah jam dinding di kamarnya. Jam menunjukkan pukul dua dini hari, dan Jisoo hanya bisa mengkerucutkan bibirnya kesal. Ia beranjak dari tempat tidur sambil menguap lebar karena masih merasakan kantuk.

Berjalan ke arah kamar mandi bermaksud untuk membasuh wajahnya agar lebih segar lagi. Setelahnya ia berjalan ke arah lemari pakaian. Mengeluarkan sebuah celana jeans, kaos putih pendek, dan sebuah sweater rajut warna krem. Jisoo mengucir rambut hitamnya sambil mengamati suasana apartemen yang sangat sepi.

Merasa keadaan aman, Jisoo berusaha berjalan tanpa menimbulkan suara karena ia takut Sehun bangun dan mengetahui kepergiannya. Dengan hati-hati Jisoo menekan password pintu keluar, lalu membukanya dengan perlahan. Setelah ia berhasil keluar dari apartemen tanpa ketahuan Sehun, tanpa sadar Jisoo menghembuskan napasnya lega. Entah kenapa ia merasa adrenalinnya sedang terpacu saat ini.

Jisoo berjalan cepat ke arah lift, menunggu dengan sedikit cemas karena lift yang ditunggunya tak kunjung datang. Suara pintu lift terbuka menggema di lorong apartemen yang sepi dan langsung dimasuki oleh Jisoo. Jisoo menekan tombol lantai satu begitu berada di dalam lift. Setelah pintu tertutup, lift bergerak menuju lantai yang ia tuju. Selama perjalanan, Jisoo merasa lift bergerak lebih lambat dari biasanya.

Sesampainya di lobby, sebuah taksi sudah menunggunya di depan pintu yang sebelumnya sudah ia pesan. Jisoo setengah berlari saat menghampiri taksi tersebut. Membuka pintu penumpang taksi, dan langsung mengatakan alamat yang ditujunya.

Di dalam taksi, Jisoo mengetuk-ngetukkan kakinya karena perasaan gugup yang dirasakannya saat ini. Mempertanyakan kembali apa yang sedang dilakukannya saat ini. Kenapa juga ia harus repot-repot menjemput pria yang bukan siapa-siapa di hidupnya?  Tapi tidak ada jawaban yang pasti yang keluar dari benaknya. Pertanyaan itu terus terulang di otaknya sampai-sampai ia tidak sadar jika taksi sudah berhenti di tempat yang ditujunya.

“Nona, kita sudah sampai.” Ucap supir taksi menyadarkan Jisoo dari lamunannya.

“Terima kasih.” Ucap Jisoo sambil menyerahkan beberapa lembar uang sebagai bayaran untuknya.

Jisoo bergegas keluar dari taksi, dan memandang ke arah bangunan mewah di depannya. Sebuah tulisan ‘Galaxy Club’ bertengger dengan gagahnya di atas pintu masuk ke sana. Dua orang penjaga dengan tubuh kekar dan wajah seram siap siaga di depan pintu masuk.

Sesaat Jisoo merasa takut saat menatapnya. Ia menggigit bibirnya sambil memandang ke sekeliling. Ia memperhatikan ke sekelilingnya dengan seksama. Satu hal yang dapat disimpulkannya adalah tidak semua orang bisa masuk ke dalam club tersebut. Dengan sedikit ragu, Jisoo mendekati pintu masuk club. Apa ia harus mencoba masuk? Toh kalau tidak diizinkan, ia bisa pulang kembali. Gumamnya.

Jisoo mencoba bersikap biasa dengan menenangkan perasaannya yang berdebar kala ia akan melewati penjaga tersebut. Hembusan napas kasarnya ia keluarkan saat kakinya berhasil menginjak lantai loby club mewah tersebut. Ia sedikit heran karena kedua penjaga itu tidak menahannya sama sekali. Tapi untuk saat ini Jisoo tidak mau memikirkannya karena ada satu hal yang harus dilakukannya sebelum ia kembali ke dalam selimut hangatnya.

Suara musik yang berdetum keras mulai menyapa indera pendengarannya saat ia semakin memasuki club. Jisoo membulatkan matanya melihat keadaan di depannya. Mulutnya menggumam tanpa suara. Oh My God!

Sejauh mata memandang, Jisoo hanya melihat lautan manusia yang sedang menggerakkan badannya untuk berdansa, ada juga yang sedang asyik bercumbu tanpa tahu malu, dan ada juga yang hanya duduk-duduk saja menikmati minuman di tangannya.

Semakin Jisoo melangkah ke dalam club, semakin panas juga suasana di dalam sana. Jisoo berjalan dengan hati-hati agar tidak menyenggol badan siapa saja yang dapat menarik perhatiannya. Mata Jisoo menjelajahi setiap sudut untuk menemukan orang yang dicarinya. Begitu mata Jisoo menangkap sosok tersebut, ia segera melangkahkan kakinya menuju ke arahnya.

Jisoo menggelengkan kepalanya tatkala melihat Baekhyun yang sudah mabuk tapi masih saja menenggak minuman alkohol di depannya. Tepat sebelum Baekhyun akan menenggak minumannya, tangan Jisoo langsung menahannya. Baekhyun membalikkan tubuhnya, menatap dingin dan tajam ke arah Jisoo. Namun di detik selanjutnya, pandangannya pun luruh. Berubah menjadi lembut dan memancarkan kebahagiaan.

“Kau sudah datang?” tanya Baekhyun dengan senyumannya yang amat lebar hingga membuat Jisoo mengernyit bingung.

“Kau sungguh merepotkan. Kenapa juga kau harus menghubungiku padahal kita tidak saling mengenal sama sekali?” teriak Jisoo di dekat telinga Baekhyun untuk menyaingi suara musik yang menurutnya semakin lama semakin bertambah keras saja.

Baekhyun terkekeh senang mendengar teriakan Jisoo di depannya ini. “Karena kau adalah istriku.” Racaunya membuat Jisoo berdecakan kesal namun tersamarkan oleh suara musik yang keras.

“Kau sudah gila, dan kau benar-benar sudah mabuk.”

“Ya, aku memang mabuk.” Sebelum Jisoo mengeluarkan kata-katanya lagi, Baekhyun menaruh tangannya di pinggang ramping itu dan menariknya agar lebih merapat pada tubuh Baekhyun. Baekhyun bisa merasakan tubuh Jisoo yang berubah menjadi tegang akibat perbuatannya ini. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Jisoo, lalu berbisik dengan sedikit keras, “Aku mabuk karena terlalu merindukanmu.”

Jisoo terdiam di tempatnya karena sungguh tidak tahu harus menjawab apa perkataan Baekhyun padanya. Ada rasa senang hinggap di hatinya, tapi ia juga resah di sisi lainnya. Dapat dirasakannya sebuah kecupan lembut mendarat di telinga, dan seketika itu pula Jisoo merasa tubuhnya meremang.

Belum sempat Jisoo tersadar dari keterkejutannya, tubuh Baekhyun tiba-tiba terkulai lemah membuat tangan kecil Jisoo refleks memeluknya. Menyangga tubuh Baekhyun dengan tubuh kecilnya. Jisoo mengerjapkan matanya, dan berusaha menormalkan detak jantungnya yang berpacu cepat.

Jisoo berdeham sejenak untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa tercekat. “Selain mabuk, kau juga sangat menyusahkan.” Gerutu Jisoo mencoba mengalihkan perasaan gugupnya. Ia merangkulkan tangan kecilnya ke pinggang Baekhyun, dan merangkulkan tangan Baekhyun pada pundaknya.

Ia merasa tidak tega jika harus meninggalkan Baekhyun dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam club walaupun ia bisa melakukannya dengan alasan tidak mengenal Baekhyun. Jisoo membawa tubuh Baekhyun keluar dari club dengan agak sedikit menyeretnya. Tanpa sadar ia menghembuskan napas dalam sesaat setelah ia berhasil membawa Baekhyun keluar club.

Sesampainya di halaman, Jisoo bingung harus membawa Baekhyun ke mana. Ke rumahnya? Detik selanjutnya Jisoo mengkerucutnya bibirnya kesal karena jawaban Baekhyun yang tidak jelas saat ditanya di mana alamat rumahnya. Ke apartemen di mana ia dan Sehun tinggal? Jisoo langsung menggelengkan kepalanya karena ia tahu Sehun pasti akan marah besar melihatnya membawa seorang pria asing yang mabuk dan tidak ia kenal.

Jisoo mendengus kesal karena pikirannya sendiri. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitaran club. Matanya langsung berbinar senang saat melihat sebuah bangunan hotel berdiri kokoh di seberang club. Dengan susah payah, ia berjalan sambil membawa Baekhyun untuk menyebrangi jalanan menuju hotel yang dilihatnya itu.

Jisoo kembali bernapas lega saat resepsionis di hotel itu tidak terlalu mempertanyakan keadaan Baekhyun yang masih belum sadarkan diri di rangkulannya. Seakan mereka sudah terbiasa dengan tamu hotel yang seperti dirinya. Sebuah kamar suite ia pesan, karena ia yakin, pria yang dibawanya ini bukan tipe orang yang menyukai sesuatu yang murahan.

Perjuangan Jisoo masih belum berakhir karena ia masih harus membawa Baekhyun ke kamar hotel yang sudah dipesannya itu. Ia menempelkan kartu kunci kamar, lalu terdengar suara klik tanda pintu sudah tidak dikunci lagi. Jisoo mendorong pintu terbuka lebar agar ia bisa segera merebahkan tubuh Baekhyun di atas ranjang.

Mulut Jisoo membulat sempurna saat memasuki kamar hotel tersebut. Dekorasi mewah benar-benar diberikan oleh hotel ini saat ia meminta kamar suite. Tidak ingin terlalu lama menikmati kemewahan kamar, Jisoo segera membawa tubuh Baekhyun ke ruangan lain yang terdapat ranjang putih besar di tengah-tengah ruangan.

Tubuh Baekhyun langsung Jisoo hempaskan ke arah ranjang putih dengan sekali hentakan. Tangannya benar-benar sakit dan kebas saat harus membopong Baekhyun yang terasa begitu berat di saat ia sedang tidak sadarkan diri.

Jisoo mengamati tubuh Baekhyun yang tertidur terlentang di atas ranjang tersebut dengan kaki menjuntai di pinggiran ranjangnya. Ada rasa kasihan saat melihatnya tidur seperti itu, ditambah dengan racauan tidak jelas keluar dari mulut Baekhyun. Setelah berpikir beberapa saat, Jisoo pun memutuskan untuk membuka sepatu yang digunakan Baekhyun agar pria itu bisa tidur lebih nyaman lagi.

Jisoo berjongkok di depan kaki Baekhyun yang tersampir di lantai. Dengan hati-hati ia membuka satu persatu sepatu yang digunakan Baekhyun. Setelah ia melepaskannya, Jisoo pun langsung berdiri lagi. Betapa terkejutnya Jisoo saat melihat Baekhyun sedang duduk sambil menatapnya lekat.

Tiba-tiba Jisoo merasa gugup dengan keadaannya saat ini. “A-aku…” belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Baekhyun langsung menarik tangan Jisoo yang saling terjalin hingga menyebabnya Jisoo terjatuh menimpa Baekhyun di atas kasur. Belum sempat Jisoo melepaskan rangkulan Baekhyun, pria sudah membalikkan badannya membuat tubuh Jisoo berada di bawah Baekhyun. Terpenjara di bawah tubuh kekarnya.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Jisoo dengan suara yang bergetar saat menyadari posisinya saat ini. Mata coklat itu membulat sempurna menatap mata hitam yang sedang menatapnya intens.

Tangan Baekhyun terulur untuk menyentuh wajah Jisoo dan mengelusnya dengan lembut. “Bisakah kau temani aku malam ini?”

Detak jantung Jisoo semakin menggila saat mendengar permintaan Baekhyun yang menurutnya gila, hingga pada akhirnya ia malah membentak Baekhyun untuk menutupi perasaan gugup yang begitu mendominasinya saat ini. “ Kau gila!” Tidak pernah sekalipun ia diperlakukan sebegitu intimnya oleh seorang pria, termasuk oleh Sehun sekalipun. Sehun? Mengingat nama itu, Jisoo pun berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Baekhyun. Tapi semua usahanya sia-sia karena Baekhyun tidak bergerak sedikit pun dari posisinya.

“Tidakkah kau kasihan padaku?” nada suara Baekhyun yang terdengar sedih itu membuat tubuh Jisoo berhenti meronta seketika. Ia tertegun saat melihat wajah Baekhyun yang begitu kesakitan dan tersiksa. Menyadari Jisoo yang sudah tidak berontak lagi, Baekhyun pun melanjutkan ucapannya. “Tidakkah kau tahu bahwa aku begitu merindukanmu?” tubuh Jisoo lemas seketika saat mendengarnya. Ia tidak tahu kenapa pria di atasnya ini sering berkata betapa ia merindukannya dan pikirannya selalu buntu saat memikirkan pria itu.

Jantung Jisoo semakin berdegup kencang menunggu Baekhyun melanjutkan ucapannya. “Kenapa kau begitu senang menyiksaku, hm? Tidak cukupkah tujuh lalu kau meninggalkanku begitu saja? Kenapa kau harus menambahnya lagi dengan dua tahun terakhir ini?” tanpa disadarinya air mata sudah mulai menggenang di sudut-sudut mata Baekhyun. Pria arogan di atasnya ini tiba-tiba berubah menjadi lemah dan Jisoo tidak pernah melihatnya seperti ini.

“A-aku tidak mengerti apa maksudmu.” Ucap Jisoo dengan nada tercekatnya mengungkapkan ketidakpahamannya akan ucapan yang dilontarkan Baekhyun padanya.

“Tidakkah kau melihat betapa aku mencintaimu? Kenapa kau harus meninggalkanku lagi selama dua tahun?”

“Baek….”

“Apa yang harus aku lakukan agar dapat membuatmu tetap berada di sisiku? Aku sungguh mencintaimu, Lee Sena. Istriku. Cintaku. Belahan Jiwaku.” Setetes air mata jatuh di pipi Jisoo membuatnya tersentuh seketika.

Entah keberanian dari mana, Jisoo mengulurkan telapak tangannya untuk merangkum wajah Baekhyun dan mengusap sisa air mata yang menetes di sana dengan lembut. Hatinya juga sakit saat melihat mata tajam itu begitu terluka saat melihatnya. “A-aku bukan Lee Sena yang kau maksud. Aku Kim Jisoo.”

Baekhyun kembali mengeluarkan suaranya untuk menyangkal perkataan Jisoo dengan bersikukuh jika Jisoo adalah Sena-nya. Jisoo yang merasa lelah dengan perdebatan tidak berartinya memutuskan untuk menanggapi semua perkataan Baekhyun. “Apa buktinya jika aku adalah Lee Sena yang kau maksudkan itu?”

“Tatto yang ada di dadamu. Tatto kupu-kupu yang aku buat hanya untukmu.”

Jisoo kembali menegang mendengar jawaban Baekhyun, namun sebuah ingatan hinggap di benaknya saat ia berada di pulau Jeju. Sebelum ia mengenal siapa pria di atasnya ini. “Tapi kau sudah melihatnya dulu saat di Jeju, dan itu tidak membuktikan apapun jika aku adalah orang yang kau panggil itu.”

Baekhyun terdiam sambil berpikir jika ucapan Jisoo ada benarnya juga. Ia sempat melihat tatto tersebut dan itu masih belum membuktikan jika Jisoo adalah Sena-nya. Lalu ia teringat akan sebuah tatto lagi yang dimiliki Sena di tubuhnya. “Kau punya tatto lain di tubuhmu, dan hanya bisa dilihat jika kau menanggalkan seluruh pakaianmu.” Baekhyun menjeda ucapannya. “Tatto itu terletak di perut bagian bawahmu, tepat dimana rahimmu berada. Tatto itu ditulis dalam bahasa Armenian, Այստեղ աճում պտուղը մեր սիրո, մեր փոքրիկ հրեշտակ, եւ մենք պետք է պահել այնքան ժամանակ, մինչեւ որ նա կարող է դիմակայել աշխարհը, առանց մեր պաշտպանության (Aystegh achum ptughy mer siro, mer p’vok’rik hreshtak, yev menk’ petk’ e pahel aynk’an zhamanak, minch’yev vor na karogh e dimakayel ashkharhy, arrants’ mer pashtpanut’yan) yang artinya ‘disini tumbuh buah cinta kami, malaikat kecil kami, dan kami akan menjaganya sampai ia bisa menatap dunia tanpa perlindungan kami.’”

Tubuh Jisoo bergeming bagai patung saat Baekhyun mengecup perut ratanya yang masih tertutupi sweater rajutnya tepat dimana tatto tersebut berada. Bahkan Sehun saja tidak tahu jika ia memiliki tatto. Kenapa ia bisa tahu aku mempunyai tatto yang tidak aku ingat kapan aku membuatnya? Guman Jisoo dengan mata terus memperhatikan pergerakan Baekhyun.

“Maukah kau memberiku satu kesempatan lagi?” tanya Baekhyun begitu wajah mereka kembali sejajar.

“S-siapa kau sebenarnya?” lirih Jisoo sambil menatap lekat pemilik mata hitam itu.

“Aku adalah orang dari masa lalumu.” Jawab Baekhyun mengecup sudut mata Jisoo yang memunculkan setitik air mata yang siap berulir di pipinya.

“Tapi aku tidak bisa mengingatmu.” Ucap Jisoo mengungkapkan kegusarannya saat ini.

Tubuh Baekhyun mematung sejenak sebelum tubuh itu kembali rileks. “Maka dari itu, biarkan aku membantumu untuk mengingatku.”

“T-tapi…”

“Ssttt….” Baekhyun meletakkan jari telunjuknya di bibir Jisoo untuk menghentikan ucapannya. “Berikan hatimu kesempatan untuk mengingatku walaupun pikiranmu tidak bisa mengingatku.” Jisoo terdiam mendengarkan penjelasan Baekhyun. Sesungguhnya ia juga bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini. Semuanya terlalu mendadak, dan ia perlu waktu untuk mencernanya.

“Maukah?” tanya Baekhyun mengalihkan kembali perhatian Jisoo. Jisoo menatap manik mata hitam itu selama beberapa menit. Seakan tersihir karenanya, ia pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang ditawarkan Baekhyun padanya.

“Terima kasih.” Balas Baekhyun sambil mengecup lembut ujung hidung Jisoo lalu turun ke bibir Jisoo. Menumpahkan segala perasaannya selama ini. Ia tidak terburu-buru saat mencium Jisoo karena ia ingin Jisoo menerimanya sepenuh hati. Tanpa ada paksaan sedikit pun.

Udara dingin yang keluar dari AC tidak membuat suasana menjadi dingin seketika, malah Baekhyun dan Jisoo merasakan sebaliknya. Ditariknya sweater Jisoo oleh Baekhyun melewati kepalanya hingga membuat ciuman mereka terhenti sejenak. Baekhyun dan Jisoo memanfaatkannya dengan mengambil udara sebanyak-banyaknya karena dada mereka terasa sesak akan gairah yang begitu menggelora.

Setelah sweater berhasil terlepas, Baekhyun melemparkannya ke sembarang arah. Ia kembali memanggut bibir Jisoo seakan tidak akan ada hari esok untuk mereka berdua. Tangan Jisoo tidak tinggal diam. Ia membantu Baekhyun melepaskan jasnya, dan menyisakkan kemeja hitamnya saja.

Tangannya meraba satu per satu kancing kemeja Baekhyun dari bawah, dan pada saat tangannya sudah berada di kancing yang paling atas, perlahan ia membukanya. Baekhyun menggeram pelan saat merasakan jari-jemari Jisoo berusaha membuka kancing kemejanya dan meninggalkan jejak panas di tubuhnya akibat sentuhannya yang begitu lembut itu.

Setelah kancing kemeja Baekhyun terlepas, tangan Jisoo yang gemetar mengelus perut rata Baekhyun yang mencetak otot-otot yang sangat seksi di tubuhnya. Baekhyun menurunkan ciumannya ke arah rahang Jisoo. Mengecup, menghirup, bahkan ia juga menggigit leher Jisoo sebagai rasa frustasinya karena gairah yang sedang dirasakannya.

Jisoo melenguh manja saat merasakan Baekhyun menggigit kulit lehernya yang tidak hanya sekali. Ia melarikan salah satu tangannya untuk menyusup ke helaian rambut Baekhyun, meremasnya pelan, dan mendesah tertahan karena Baekhyun memberikan kenikmatan yang begitu intim padanya saat ini. Dengan terburu-buru Baekhyun melepaskan kemejanya, lalu ia menarik ujung kaos Jisoo dan membuangnya.

Tangan Jisoo terulur ke arah dada Baekhyun. “Kau mempunyai tatto di dadamu.” Ucap Jisoo sambil menelusuri tatto itu. Baekhyun tersenyum lebar melihat Jisoo begitu fokus pada tatto. “Apa artinya?” tanya Jisoo sambil menatap mata Baekhyun lagi.

“իմ սիրտը արդեն արգելափակված է ձեզ, իմ տիկին (im sirty arden argelap’akvats e dzez, im tikin)artinya ‘hatiku telah dikunci olehmu, my lady’.” Baekhyun kembali mengecup bibir Jisoo lembut. Entah kenapa saat mendengar jawaban Baekhyun, wajah Jisoo merona bahagia. Baekhyun kembali merapatkan tubuh mereka tanpa ada sisa ruang di antara mereka. Jisoo bisa merasakan sebuah benda dingin menyentuh permukaan kulit dadanya. “Apa ini?” “Hm?” Baekhyun kembali menjauhkan sedikit tubuhnya dari tubuh Jisoo. Baekhyun mengikuti arah tangan Jisoo yang sedang memegang kalung berbandul cincin yang sedang digunakannya. “Itu cincin pernikahan aku dengan Sena.” “Kenapa kau tidak memakainya?” tanya Jisoo lagi sambil meraba tekstur cincin itu di jarinya. “Karena aku belum sempat memakaikannya.” Suara Baekhyun berubah menjadi sedih saat mengucapkannya dan Jisoo menyadari perubahan itu. “Apakah dia meninggal?” Baekhyun menggelengkan kepalanya. “Dia menghilang, dan sekarang aku sudah menemukannya lagi.” Lalu Baekhyun mengecup pipi Jisoo sayang. “Tapi bagaimana…” “Sstt….jangan berpikir apapun lagi. Hatiku tidak mungkin salah mengenali belahannya yang lain. Dan bukankah kau sudah memberiku kesempatan untuk membantumu? Jadi biarkan aku membantumu.” Lalu Baekhyun kembali memagut bibir Jisoo, berusaha membuatnya tidak bisa berpikir lagi. Dan itu memang terbukti, setelah Baekhyun menciumnya lagi, Jisoo pun sudah tidak bisa berpikir lagi. Pikiran dan tubuhnya benar-benar takluk pada Baekhyun.  Entah sudah berapa lama mereka terus bergelung dengan kenikmatan yang mereka ciptakan sendiri. Mereka begitu terlena dengan keadaan. Dua tubuh yang berkeringat tidak menjadi penghalang untuk mereka. Lenguhan dan desahan menjadi latar suara betapa panasnya percintaan mereka. Udara yang penuh dengan aroma percintaan tercium sangat tajam bagi siapa saja yang ada di dalam sana. Keadaan kamar yang berantakan menandakan bahwa mereka telah melewati malam yang panas yang tidak akan dilupakan oleh mereka. Namun satu hal yang pasti, tubuh mereka saling mengenal satu sama lain, termasuk hati mereka.  ~ tbc ~ Hai aku kembali lagi. Jika kalian mengharapkan sesuatu yang panas dari chapter ini, maka aku meminta maaf karena tidak bisa menuliskannya. Banyak faktor yang membuatku tidak menuliskannya secara detail karena aku takut ada diantara kalian yang di bawah umur dan tetap baca sampai akhir.Aku tidak tahu chapter ini akan diproteksi atau tidak oleh admin, kalaupun diproteksi aku ngga masalah, kalau pun tidak, aku sudah menghapus beberapa bagian yang sedikit panas sehingga kalian tidak akan membacanya.Sekian coretan aku untuk chapter ini. Sampai jumpa lagi dilain waktuBye-bye :-*Regards, Azalea    

 

 

 

 

Iklan

33 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] MY LADY [Chapter 35]

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 42) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 41) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Side Story-Kai) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] my lady – chapter 40 | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 39) | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37) | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 36) | EXO FanFiction Indonesia

  10. Haddduuhh Romantis banget sihh..seru thor ceritanya..semoga aja Jisoo bisa deket lagi ya sama Baekhyun..
    Tapi Sehun gimana???..Penasaran nihh jadinya ditunggu chapter selanjutnya thor…Fighting!!!😘😚😊😉…

  11. Haddduuhh Romantis banget sihh..seru thor ceritanya..semoga aja Jisoo bisa seket lagi ya sama Baekhyun..
    Tapi Sehun gimana???..Penasaran nihh jadinya ditunggu chapter selanjutnya thor…Fighting!!!😘😚😊😉…

  12. Hay aku reader baru yang baru komend di chapter ini karena langsung baca chapter ini, izin baca chapter sebelumnya. Aku suka sama ceritanya apalagi castnya jisoo, ditunggu chapter selanjutnya.

  13. semoga jisoo kembali ingat setelah adegan panas ituu aaais 😂😂😂😂semangat terus thorr aku tunggu di line deh kalo upload chapter 36
    FIGHTING!!!!

  14. Akhir nya jisoo terima baekhyun lagi,tpi klu sena sma baekhyun,sehun nya gimana??jisoo akan pilih siapa?baekhyun atau Sehun??huahh..jdi pnasaran
    ditunggu next chapternya thor

  15. Semoga si sena a.k.a jisoo bisa mengingat baekhyun lagi,, jujur ku ksihan bgt ama mereka berdua yg terus2an dipisahkan oleh author*digampar author* hehehe canda thor jan ambil hati yh hm next thor hwaiting..!!

  16. Kok aku ngerasa chapter ini pendek bgt yaa,,mgkin aq bacax trll memghayati,,hihi
    Tp gk pha”, dah karena Sena udah nerima baekhyun,,moga aja stlah ini sena kembali inget,,hehe
    Lanjut thorrrr

  17. Yaahhh mimin kenapa dipotong ???? Protek ajj klo ada nc nya biar yang di bawah umur gak ikut baca , buat yang cukup umur pasti udah pd tau clue nya … #saran ajj
    Setiap buka ffexo pasti yang di cek pertama kali my lady , udah cinta bgt sama my lady !
    Dditunggu next chapternya yaa thorr

  18. Ih aku baru aja smalem bca chap34 wkwwk, author ngebut atau gimana?hahaha, bagus klo sena akhirnya mau nerima baekhyun lagiiii

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s