[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 26)

my-lady-chapter-24

MY LADY

[ Chapter 26]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25

“Kau dari mana saja?” tanya sebuah suara dari kegelapan sesaat setelah Baekhyun membuka pintu rumahnya. Baekhyun yang sudah hafal suara siapa itu hanya mendengus jengkel dan tidak menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting itu.

“Kau menemuinya lagi?”

Lagi, Baekhyun tidak mempedulikannya dan terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Seakan tidak ada suara yang bertanya padanya saat ini.

“Aku bertanya padamu, Byun Baekhyun!” jeritnya begitu frustasi karena orang yang ditanyanya tidak menanggapi setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dengan kesabaran yang sudah berada di ambang batasnya, ia pun segera menarik lengan Baekhyun yang akan memasuki kamarnya dan berhasil menghentikan gerakan dari pria tersebut.

“Berhenti mengabaikanku seolah-olah aku tidak ada di hadapanmu!”

Baekhyun memutarkan tubuhnya untuk melihat orang yang sedang menahannya itu. Lalu ia tersenyum sinis menatap mata yang sedang berkaca-kaca itu di tengah keremangan malam karena satu-satunya yang menjadi sumber cahaya adalah lampu tempel yang berukuran kecil.

Minimnya sumber cahaya tidak membuat Baekhyun buta karena ia masih bisa melihat siluet tubuh indah dari wanita di depannya itu. Shannon. Gaun tidur yang dikenakannya tidak mampu untuk menyembunyikan betapa indahnya tubuhnya. Namun sayangnya itu membuat Baekhyun menjadi tertarik sama sekali padanya.

“Kau menemuinya lagi?” tanya Shannon dengan suara seraknya menatap Baekhyun yang sedang menatapnya datar.

“Kenapa? Kau cemburu?”

“Tidak cukupkah hanya aku saja yang menjadi wanitamu saat ini?”

“Kurasa itu bukan urusanmu.”

“Saat ini itu semua menjadi urusanku juga karena aku adalah istrimu.”

“Sepertinya kau perlu diingatkan akan suatu hal.” Baekhyun menjulurkan tangannya yang terbebas untuk membelai pipi Shannon dengan lembut sebelum mencengkram rahangnya dengan kuat hingga Shannon sedikit meringis menahan sakit akibat perbuatan Baekhyun itu. “Kau memang istriku sahku, tapi sepertinya kau lupa jika dari dua tahun lalu aku sudah mengajukan surat perceraian kita.”

Shannon membelalakan matanya menatap wajah Baekhyun yang tidak jauh dari wajahnya. “Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menandatangi surat sialan itu.” jawab Shannon sedikit bergetar sambil menahan sakit.

“Kalau begitu jangan pernah campuri urusanku. Nikmati saja gelar yang kau damba-dambakan itu tapi kau jangan berharap aku akan berubah walaupun itu seratus tahun lagi, Nyonya Byun.” Ucap Baekhyun sambil menyentak wajah cantik Shannon untuk menjauh dari wajahnya. Baekhyun kembali membalikkan tubuhnya, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar Shannon kembali bersuara.

“Wanita sialanmu itu sudah mati, jadi untuk apa kau…..” ucapan Shannon terpotong saat ia merasakan sebuah tangan mencekik lehernya dengan sangat kuat.

Air mata Shannon mengalir dengan deras saat rasa sakit mendera paru-parunya karena pasokan udara diputus dengan sengaja. Shannon mencoba memberontak saat Baekhyun tidak juga mengendurkan cengkramannya pada lehernya. Ia tidak pernah menyangka jika Baekhyun akan melakukan semua ini.

Selama dua tahun tinggal bersama Baekhyun, tidak pernah sekalipun ia mendapatkan perlakuan kasar seperti saat ini. Kata-kata kasar dan sinis Baekhyun sudah menjadi santapan sehari-harinya, tapi perlakuan kasar adalah sesuatu yang baru baginya. Dan itu membuat hatinya sakit karena Baekhyun tidak berbelas kasih padanya.

Baekhyun yang mulai menguasai dirinya lagi dari amarah segera melonggarkan cengkramannya dan langsung mendapatkan dorongan dari Shannon pada tubuhnya. Shannon jatuh terduduk di lantai yang dingin sambil terbatuk-batuk. Lehernya seakan patah jika Baekhyun tidak segera melepaskannya.

Baekhyun hanya menatap Shannon datar tanpa ada keinginan untuk menolongnya atau bahkan meminta maaf atas apa yang telah lakukan tadi, karena sesungguhnya ia tidak menyesal sama sekali. Shannon mendongakkan wajahnya untuk menatap mata Baekhyun. “K-kau k-keterlaluan.” Ucapnya terbata-bata antara menahan rasa sakit dan takut di saat bersamaan.

“Itulah risiko jika kau menikah dengan orang yang tidak mencintaimu. Apakah sekarang kau menyesal?” tanya Baekhyun membuat Shannon sadar jika Baekhyun tidak menyesali perbuatannya tadi. Shannon mengepalkan tangannya dan membuang jauh-jauh rasa sakit dan takutnya.

Ia menatap Baekhyun balik dengan tatapan tajamnya sebelum ia tersenyum sinis ke arah Baekhyun. “Tidak akan pernah.”

“Bagus. Karena aku tidak akan segan-segan lagi padamu jika kau kembali menghina wanitaku.” Baekhyun berbalik memunggungi Shannon, tapi sebelum ia menutup pintu kamarnya, ia kembali menoleh ke arah Shannon yang masih terduduk di depan kamarnya. “Wanitaku masih hidup karena aku masih bisa merasakannya, dan jika aku tahu kau terlibat akan insiden dua tahun lalu, akan aku pastikan kau merasakan neraka secepat mungkin. Camkan itu!”

Baekhyun membanting pintu kamarnya saat ia menutupnya dan seketika itu juga air mata jatuh di pipi Shannon. Ucapan Baekhyun beberapa saat lalu terus berputar-putar di kepalanya. Kehidupan pernikahan yang manis lenyap sudah di khayalan Shannon. Semuanya terasa mencekam, tapi Shannon tekadkan dalam hatinya jika tetap bahagia dengan kehidupan pernikahannya ini asalkan itu dengan Baekhyun. Ya, asalkan dengan Baekhyun.

***

“Selamat pagi…” ucap Jisoo sebelum ia mengecup pipi Sehun yang sedang mengoleskan selai pada rotinya.

Sehun tersenyum cerah melihat Jisoo segera duduk di depannya dan mengambil roti yang sudah diberinya selai tadi. “Selamat pagi…” Jisoo pun ikut tersenyum saat melihat Sehun sedang tersenyum padanya.

Dua tahun bersama Sehun terlewati dengan begitu cepat. Pada awalnya Jisoo memang tidak terlalu merasa nyaman dengan pria yang ada di depannya ini karena ia merasa tidak mengenal Sehun. Tapi Seiring dengan berjalannya waktu, semua perasaan tidak nyaman itu sirna dan digantikan dengan perasaan nyaman dan tenang saat ia menatap wajah tampan pria di hadapannya itu.

“Kau akan ke perkebunan?”

“Hm. Hari ini waktunya panen jeruk di perkebunan.”

“Jangan bekerja terlalu keras. Aku masih bisa menghidupi kebutuhanmu selama sebulan ini.”

Jisoo menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan ucapan Sehun. “Aku tahu. Tapi aku tidak ingin terus menyusahkanmu. Jangan biarkan aku menjadi wanita manja yang hanya bisa menguras dompetmu saja.”

“Tapi aku memang suka melihat kau menggunakan uang yang aku berikan padamu.”

“Aku bukan istrimu, Tuan Oh. Jadi berhentilah merecokiku dengan uangmu itu. Aku masih punya badan sehat yang bisa aku gunakan untuk menghasilkan uang.”

“Kau memang bukan istriku, tapi akan menjadi istriku.” Koreksi Sehun membuat pipi Jisoo seketika merona saat ia memikirkan kejadian beberapa hari lalu saat Sehun tiba-tiba melamarnya di kala matahari akan kembali keperaduannya.

“Kalau begitu biarkan aku bekerja di perkebunan sebelum aku menjadi istrimu.”

“Kalau begitu kita menikah hari ini juga biar kau tidak kembali bekerja di sana.”

Jisoo memutarkan bola matanya saat mendengar jawaban Sehun dan sebaliknya pria yang ada di hadapannya itu sedang menyeringai geli melihat respon yang diberikan Jisoo. “Terserah. Berdebat denganmu tidak akan pernah selesai.” Ucap Jisoo menyerah membuat Sehun tergelak senang karenanya.

Jisoo segera bangkit dari kursinya setelah ia menghabiskan dua potong roti dan menghampiri Sehun yang duduk di seberangnya. Sehun mengikuti pergerakan Jisoo yang mendekat ke arahnya sambil menjelaskan kegiatannya hari ini tanpa sedikit pun memutuskan kontak mata di antara mereka. “Hari ini mungkin aku akan pulang lebih sore dari biasanya. Jeruk-jeruk yang matang akan dimakan kelelawar jika tidak segera dipetik dan para pekerja Tuan Song banyak yang tidak masuk dan kami akan dibuat kerepotan akan hal itu.”

Setelah mengatakan hal itu, Jisoo segera mengecup bibir Sehun lalu sedikit berlari ke arah pintu keluar karena ia sudah merasa sangat terlambat. “Sampai ketemu nanti sore.” Ucapnya lagi sebelum ia menutup pintu rumah mereka. Namun baru beberapa detik pintu itu kembali terbuka dengan Jisoo yang menyembulkan kepalanya di daun pintu.

“Aku harap nanti malam kau memasak Saengseon gui. Aku lihat para nelayan baru pulang melaut dan mereka membawa banyak ikan-ikan segar. Terima kasih jika kau mau memasakannya untukku.” Ucapnya dengan senyuman tidak pernah terlepas dari wajahnya.

Daun pintu kembali terbuka sesaat setelah Jisoo menutupnya. Jisoo menunjukkan deret giginya saat ia kembali muncul dan membuat Sehun menatapnya bingung. “Aku lupa membawa bekal makan siang. Maukah kau membuat kimbap dan mengantarkannya nanti?” jelas Jisoo dengan aegyonya karena ia tahu Sehun akan marah padanya.

NEO!!”

Jisoo sedikit meringis saat mendengar teriakan Sehun akan dirinya. “Saranghae, Oh Sehun.” Ucapnya sebelum buru-buru menutup pintu rumah dan kabur dari amukan Sehun hanya karena ia melupakan bekalnya. Hari sudah siang dan ia tidak sempat membuat bekal. Salahkan Oh Sehun yang datang ke kamarnya dan membuatnya hampir tidak tidur semalaman karenanya.

Di sisi lain, Sehun tetap bergeming di tempatnya setelah Jisoo meninggalkannya sendirian di rumah. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat saat ia kembali memutar memori kala Jisoo mengatakan cinta padanya. Walaupun itu bukan kali pertama ia mendengarnya, tapi efek yang ditimbulkan dari kata-kata itu tetap sama. Tidak berubah sejak dulu.

Perlahan sudut-sudut bibir Sehun tertarik ke atas menandakan ia sedang sangat bahagia saat ini. Melupakan kekesalannya karena Jisoo melupakan bekalnya, dan menggantinya dengan perasaan bahagia karena kekasihnya itu.

Sehun membereskan sisa-sisa sarapan mereka sambil bersenandung riang. Sikapnya ini tidak mencerminkan seorang pria dewasa tapi ia tidak peduli karena orang lain tidak akan merasakan perasaan bahagia seperti yang saat ini ia rasakan.

Kegiatan Sehun yang sedang membereskan rumah terhenti saat ia mendengar sebuah panggilan masuk ke handphonenya. Begitu Sehun melihat nama yang tertera di layar handphonenya, keningnya mengerut samar. Tapi tidak lama kemudian ia segera mengangkat telepon tersebut.

Yeobsaeyo.”

Kami punya tugas baru untukmu.”

“Apa itu?”

“Akhir minggu ini kelompok mafia yang sedang kita awasi akan mengadakan sebuah pesta besar di pulau Jeju. Walaupun itu terlihat seperti pesta biasa tapi kita harus tetap mengawasinya.”

“Baiklah.” Jawab Sehun sedikit lesu karena rencana akhir pekan ini harus batal lagi hanya karena ia mendapat tugas lagi dari atasannya.

“Kyungsoo akan menemanimu.”

Nde.”

Berhati-hatilah.”

Setelah itu sambungan diputus secara sepihak dari seberang telepon membuat Sehun mendengus kesal. Kewajiban sebagai seorang agen yang merangkap sebagai seorang polisi membuatnya kadang harus melewatkan waktu-waktu berharganya dengan orang-orang yang disayanginya.

Padahal baru tadi malam Sehun menyelesaikan misinya dan langsung kembali ke pulau untuk menemui Jisoo yang sudah ia tinggal selama seminggu lebih, dan sekarang di saat ia sejenak ingin menikmati waktu berharganya dengan sang kekasih terpaksa harus tertunda lagi karena misinya yang tidak bisa tinggalkan. Sial. Umpatnya dalam hati.

***

“Hai…” sapa seorang wanita yang sudah menjadi teman Jisoo selama ia bekerja di perkebunan milik Tuan Song, Yoon Bomi.

“Hai…” balas Jisoo sambil tersenyum pada Bomi yang baru ditemuinya menjelang makan siang karena mereka memetik jeruk di tempat yang sedikit berjauhan walaupun masih di perkebunan yang sama.

Bomi tersenyum penuh rahasia ke arah Jisoo yang masih sibuk dengan pohon jeruk di depannya. “Kau ingin dengar ceritaku?”

“Apa itu?” jawab Jisoo tanpa mengalihkan pandangannya.

“Aku tahu satu tempat yang dapat menghasilkan uang yang banyak dalam waktu singkat.” Jisoo langsung menolehkan wajahnya untuk menatap Bomi yang sedang tersenyum bahagia ke arahnya.

“Benarkah?” Bomi menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias sebagai jawabannya. Tapi tak berapa lama kemudian semua pergerakan Jisoo terhenti untuk menatap gadis yang berdiri di sampingnya itu. Lalu menatap Bomi dengan curiga karena Bomi tidak juga menjelaskan tempat apa yang dimaksudnya tadi. “Jangan bilang…”

Seakan mengerti apa yang ada di pikiran Jisoo, Bomi pun segera menggelengkan kepalanya sambil mengibaskan tangannya di depan tubuhnya. “Oh, tidak-tidak. Bukan tempat seperti yang ada di kepala cantikmu itu.”

Jisoo mengerutkan keningnya dalam saat mendengar jawaban Bomi dan kembali membuatnya bingung. “Lalu?”

“Sebuah Villa.”

“Ya Tuhan, itu lebih buruk dari sebuah bar sekali pun.”

“Tidak, bukan seperti bayanganmu.”

Jisoo bertambah kesal karena Bomi menjawabnya dengan perkataan yang menurutnya begitu berbelit-belit. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu menatap Bomi yang masih tersenyum geli ke arahnya. “Lalu pekerjaan seperti apa yang kau maksudkan itu hingga bisa menghasilkan uang begitu banyaknya dalam waktu singkat?” tanya Jisoo tidak sabaran dengan sikap Bomi yang semakin lama semakin menyebalkan saja.

“Pelayan.”

“Apa? Kau gila?” Jisoo membulatkan matanya mendengar jawaban Bomi yang menurutnya terlalu santai saat mengatakan itu semua.

“Dengarkan penjelasanku dulu, Kim Jisoo.” Ucap Bomi karena Jisoo membentaknya dan mengatainya gila. “Pekerjaan ini memang hanya sebagai pelayan, tapi ini memang benar-benar menjadi pelayan bukan menjadi pelayan dalam artian yang lain.”

Tanpa sadar Jisoo menghembuskan napasnya lega mendengar hal itu. “Tapi bagaimana bisa ada orang yang membayar seorang untuk menjadi pelayan dengan harga yang mahal? Itu tidak masuk akal.”

“Itu karena mereka orang kaya yang kelebihan uang dan tidak tahu harus menghabiskan uangnya bagaimana.” Jawab Bomi asal membuat mereka berdua tergelak karena lelucon yang diucapkan oleh Bomi.

“Berapa bayarannya?”

“Dua lima puluh ribu won dalam sehari.”

“Kau pasti bercanda.”

“Tentu saja tidak. Mereka akan benar-benar membayarmu dengan harga segitu asalkan kau menutup mata dan mulutmu saat bekerja di sana.”

“Orang seperti apa yang menyuruh pelayannya harus seperti itu?”

“Aku akan memberitahumu satu rahasia lagi. Mendekatlah!” Bomi mengedarkan pandangannya ke segela arah berharap tidak ada orang lain yang akan mendengar ucapannya. “Itu karena mereka anggota mafia.”

Jisoo langsung menutup mulutnya dengan tangannya setelah ia menjauhkan telinganya dari wajah Bomi. “Kau tahu dari mana?”

“Paman dan bibiku bekerja di villa itu. Sudah dua tahun villa itu tidak pernah dikunjungi oleh pemiliknya dan sekarang pemiliknya itu akan datang berkunjungi ke villa itu lagi. Kata pamanku, pemiliknya akan mengadakan sebuah pesta besar di sana dan membutuhkan banyak orang untuk menjadi pelayannya di sana.”

“Tapi bukankah jika bekerja dengan mereka sangat berbahaya?”

“Maka dari itu, paman menyuruh kita untuk menutup mata dan mulut kita.”

“Aku tidak yakin dengan ajakanmu itu.”

“Kau tenang saja, kita tidak akan bersinggungan langsung dengan mereka. Kita hanya akan membantu tugas-tugas di dapur, tidak lebih dari itu.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja. Aku juga akan menolak pekerjaan itu jika saja aku harus bertemu langsung dengan mereka. Membayangkan wajah mereka pasti menyeramkan dan perilaku mereka sangat kasar saja membuatku bergidik ngeri apalagi harus berinteraksi langsung dengan mereka.”

“Lalu kenapa kau menerimanya?”

Bomi menundukkan wajahnya saat memikirkan alasan yang membuatnya harus menantang maut dengan bekerja pada para mafia yang menurutnya sangat berbahaya. “Aku membutuhkan uang untuk biaya perawatan Jong jin.”

Jisoo langsung terdiam saat ia mengingat kembali pada adik Bomi yang sedang di rawat di rumah sakit karena penyakit jantung bawaan lahir. Ibu Bomi meninggal setelah melahirkan Jong jin yang terlahir prematur.

Entah kenapa Jisoo juga bisa merasakan rasa sakit yang begitu dalam saat ia mengingat Jong jin, seakan ia juga pernah di posisi Bomi yang akan mengusahakan apa saja agar orang yang dicintainya itu selalu sehat. Tanpa sadar Jisoo pun menitikan air matanya dan sedetik kemudian langsung ia hapus karena takut Bomi menyadari perubahan perasaan itu.

“Aku akan menerima tawaran untuk menjadi pelayan itu.” Ucap Jisoo membuat Bomi mendongakkan kepala untuk menatap temannya itu. “Kau bisa menggunakan gajiku nanti untuk menambah biaya perawatan Jong jin.”

Bomi menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ucapan Jisoo. “Kau tidak usah melakukannya. Aku masih bisa mencari biaya pengobatan Jong jin. Jikalau kau memang mau menerima tawaran pekerjaan itu, sebaiknya gaji yang akan kau terima nanti untuk menambah biaya persiapan pernikahanmu dengan Sehun saja.”

Jisoo tersenyum lemah saat mendengar Bomi menolak bantuannya. “Kau tidak usah khawatir. Apa kau lupa kalau Sehun itu siapa?” Jisoo menjeda ucapannya saat ia melihat perubahan ekspresi Bomi. “Gaji yang didapatnya sebagai polisi selama ini masih cukup untuk kami gunakan sebagai tambahan biaya persiapan pernikahan kami. Lagi pula, kami tidak berencana membuat sebuah pesta yang sangat mewah saat pernikahan kami nanti.”

“Jisoo-ya…”

Biarkan aku membantumu semampuku.” Ucap Jisoo menenangkan Bomi yang mulai terisak. “Tapi bolehkah aku minta satu hal darimu?”

“A-apa itu?”

“Jangan beritahu Sehun tentang pekerjaan ini karena aku yakin ia tidak akan menyetujuinya sama sekali. Apalagi pekerjaan ini berhubungan langsung dengan salah satu musuh Sehun, kau janji?”

Kau memang teman yang bisa diandalkan. Terima kasih. Aku janji tidak akan memberitahunya.” Jawab Bomi sambil mengusap tetesan air matanya lalu tersenyum ke arah Jisoo. Jisoo yang sebenarnya sedikit ragu dengan keputusannya ini berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya agar Bomi tidak mengetahuinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri jika mafia yang akan dihadapinya kali ini tidak seperti mafia-mafia yang sering ia tonton di film-film. Semoga saja.

~ tbc ~

Maafkan aku yang baru nongol lagi setelah beberapa waktu yang lalu ngga update apa-apa. Keadaan yang tidak memungkinkan aku untuk mengirim ff ini ke exo ff indo. Semoga kalian masih ingat dengan jalan cerita dari ff ku ini dan tidak pernah berhenti untuk menunggu kelanjutannya.

Semoga saja kalian suka dengan cerita ku di chapter ini. Dan untuk bocoran, di chapter selajuntnya Baekhyun dan Sena atau Jisoo bakal ketemu lagi. Mau main tebak-tebakan? Bakal seperti apa ya saat mereka ketemu lagi? Terus kejadian apa yang bakal menyebabkan mereka ketemu? Atau saat seperti apa pertemuan mereka nantinya?

Untuk chapter selanjutnya akan aku usahakan untuk terus update setiap minggunya, entah itu Cuma satu chapter saja atau dua chapter sekaligus. Sampai jumpa di lain kesempatan.

Bye-bye :*

Regards, Azalea

Iklan

51 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 26)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 42) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 41) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Side Story-Kai) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] my lady – chapter 40 | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 39) | EXO FanFiction Indonesia

  8. Wah untung nemu lagi ^^ aku hampir lupa dimana aku baca ini, dan skg chapternya Sdh di update byk sekali! Wah aku ketinggalan, hari ini ku baca habis sampai chapter Plg baru > <

  9. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37) | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 36) | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY  [Chapter 35] | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 33) | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 32) | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 31) | EXO FanFiction Indonesia

  15. Jisoo nya sama baekhyun aja thour aku nggak lera jisoo sama sehun kaya aneh gitu jangan dipisahin ketemuin aja lagi thour , sebel juga sama shannon tiap hari mau diperhatiin terus

  16. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 30) | EXO FanFiction Indonesia

  17. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 29) | EXO FanFiction Indonesia

  18. Sehun gaboleh gtu 😥 jisoo gaboleh nikah ama sehun 😥 sehun gaboleh mesra”an ama jisoo 😥 sehun milikkuuu 😥 😥 #nangisgulung”
    nah, itu psti baekhyun, yakin, psti geng nya baekhyun, ayoo temuin sena ama baekhyun, gemess bgt 😥
    neexxxttt ><

  19. Lama sekali kaa munculnya 😑😑😑😑 btw aku masih berharap baekhyun sama jisoo(lupa nama aslinya) balikan lagi 😍😍😍😍😍😍

  20. aku msih ingat tbc kemarin… heheheee… krna ff ini aku tunggu bnget…
    klau sena ktemu baekhyun gimanaa pernikahan sehun #hah maknae..
    di tunggu chap slanjutnya.. thor.

  21. Baekhyun emang bad boy, bukan tapi mafia. walaupun gitu sikap dia ke istrinya ada asalannya. Mungkin bener yang di bilang Baek Kalu Shannom ikut andil dalam kejadian hilangnya Sena/Jisoo. Walau Sehun baik, entah kenapa ga setuju aja kalau sampai mereka nikah, bukananya Sehun udah tunangan sebelumnya. Tunangan sebelumnya sama keluarganya Sehun gimana ini belum ada kejelasan apa lagikan Sehun udah tinggal sama Jisoo udah 2 tahun. Massa ia keluarganya samma tunangannya ga tau kehidupaan Sehun Di Jeju, dan Jisoo juga ga curiga sama Sehun, tentang keluarganya sehun gitu?
    Waah cant wait buat chapter selanjutnya. Jisoo bakalan ketemu lagi sama Baek, mungkin Jisoo Lupa ingatan dan ga inget sama sekali sama Baek. Tapi hatinya ga mungkin ga ngenalin orang yang dia cintai *asik abaikan*. Mungkinkah cintanya Jisoo ke Sehun cuma karena terbiasa aja, terbiasa akan kehadiran Sehun di sisi Jisoo, tapi hati/cinta ga mungkin kan ninggalin siapa pemilik hatinya *ciee haha* 😀 😀
    Fighting authornim

  22. Kenapa baru nongol kemana Saja kau thor….. Sena sama baekhyun harus ketemuan pokonya, trs ingatan Sena sedikit kembali… Dan akhirnya jiso sama sehun ga jadi nikah hahaha

  23. Kak pertemukan sena sama baekhyun biarkan mereka bersatu lagi. Kasian si baek
    Kalo gini jadi serba salah dan semuanha terluka huhuhuhuhh terharu deh
    Lanjut ya thor aku tunggu kkk

  24. Yatuhan setelah sekian lama kangen bgt sama ff nya ini :” hampir tiap hari ngecek udah update atau blm hihi
    #Buat author : akun wattpadnya apa?

  25. Huuuaaaaaaaaaaa akhir nya my lady update juga setelah menanti lamaaa …
    Semoga sena akan selalu bersama kembali dengan baekhyun …
    Ditunggi next chapter nya yaaa

  26. Jangan bilang nanti Jisoo ketemu Baek? Andwae!! Aku pengen dia sama Sehun aja. Ya meskipun diawali dengan kebohongan tapi aku lebih suka Jisoo sama Sehun aja.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s