[EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 27)

MY LADY - CHAPTER 27.jpg

MY LADY

[ Chapter 27]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya : Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13 -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25 – CHAPTER 26

 

Jisoo dan Bomi memandang takjub pada bangunan yang ada di depannya itu. Bangunan yang bergaya modern dengan begitu megahnya berdiri kokoh di depannya. Secara tidak sadar, baik Jisoo maupun Bomi hampir meneteskan air liurnya dengan mata tidak pernah berkedip sekalipun.

Jisoo yang sudah sadar keterpesonaannya segera menelan ludahnya untuk melembabkan tenggorokannya yang seakan kering. “Kau yakin dengan ini?” tanyanya tanpa menoleh sedikit pun pada Bomi yang masih belum sadar dari lamunannya.

Bomi yang mendengar suara Jisoo pun segera berdehem sebelum ia menjawab. “Menurut alamat yang diberikan oleh pamanku, memang benar ini tempatnya.” Jawab Bomi sambil membaca kembali kertas kecil yang bertuliskan alamat villa yang dimaksud.

Sebelum mereka kembali bersuara, dari arah gerbang muncul seorang laki-laki berjalan ke arah mereka dengan tatapan waspadanya. Jisoo dan Bomi pun langsung menegang seketika di tempat mereka berdiri.

“Apa yang kalian lakukan disitu?” tanyanya sambil menghentikan langkahnya tidak jauh dari Jisoo dan Bomi.

Dengan susah payah Jisoo dan Bomi menelan ludahnya mendengar nada dingin dari pria asing tersebut. “K-kami pelayan baru di villa ini.” Jawab Bomi yang tidak bisa menutupi rasa takutnya.

Pria di depan mereka mengerutkan alisnya berpikir sambil menilai tampilan kedua wanita di depannya. “Siapa yang memerintahkan kalian untuk bekerja di sini?”

“Paman Yoon. Ah-maksudku Tuan Yoon Seungho.” Jawab Bomi.

“Kalian berdua ikut aku.”

Pria asing itu membuka pintu gerbang lebih lebar sebelum ia berbicara dengan satu rekannya yang lain yang bertugas sebagai penjaga pintu gerbang. Jisoo dan Bomi menghembuskan napasnya lega saat mereka diperbolehkan masuk ke dalam area villa itu tanpa banyak pertanyaan lagi.

Jisoo dan Bomi kembali dibuat terperangah dengan keindahan bangunan yang ada di depannya itu. Sebuah taman bunga beraneka ragam yang lumayan luas dan hijaunya padang rumput yang terawat sempurna di depan villa membuat mereka kembali terpesona. Pemandangan indah di balik pagar tinggi itu seakan tidak pernah bosan untuk dilihat oleh mereka yang pertama kali masuk ke halaman villa itu.

Sesaat setelah Jisoo dan Bomi hampir memasuki bagian teras villa, entah kenapa sekelebat bayangan muncul di dalam kepala Jisoo. Bayangan tentang seorang wanita yang dirangkul mesra oleh seorang pria saat memasuki pintu di depannya itu membuat Jisoo menghentikan langkahnya dan langsung memegang kepalanya.

Bayangan itu membuat kepalanya sakit dan saat Jisoo mencoba untuk melihat wajah dari wanita dan pria itu, kepala bertambah sakit. Wajah keduanya tertutupi kabut sehingga Jisoo tidak bisa melihatnya. Bomi yang baru sadar Jisoo tidak berada di sampingnya segera menoleh ke belakang dan mendapati Jisoo sedang mengerang sambil memegangi kepalanya.

“Jisoo-ya, kau baik-baik saja?” tanya Bomi begitu khawatir dari atas tangga.

Jisoo segera membuka matanya dan berusaha tersenyum ke arah Bomi agar sahabatnya itu tidak usah khawatir padanya. “Nde, gwaencahana.” Jisoo tetap mempertahankan senyumannya walaupun ia tahu senyumannya itu tidak sampai ke matanya.

“Kau terlihat kesakitan.”

“Tadi aku hanya sedikit pusing. Aku hanya sedikit kelelahan.” Bohongnya sambil berusaha meredakan rasa sakit kepalanya dengan tidak memikirkan bayangan itu.

“Kau yakin?”

“Hm. Tentu saja. Kau tidak usah khawatir.”

“Apa kalian akan tetap berdiri di sana sebagai patung dan melupakan tujuan kalian datang kemari?” sela pria asing yang tadi mengantar Jisoo dan Bomi untuk memasuki area villa.

Jeoseonghamnida.” Ucap Jisoo dan Bomi berbarengan.

Lalu mereka kembali melanjutnya langkah kaki mereka menuju ke area belakang dari villa dimana letak dapur berada. Sepasang suami istri yang merupakan paman dan bibi Bomi menyambut kedatangan Jisoo dan Bomi. Jisoo dan Bomi mendapatkan pelukan hangat sebagai ucapan selamat datang.

Setelah itu paman dan bibi Bomi menjelaskan apa saja yang harus dikerjakan oleh Jisoo dan Bomi selama mereka bekerja di villa tersebut. Jisoo dan Bomi mengangguk patuh saat mendengarkan penjelasan itu.

Mereka memulai pekerjaan tersebut keesokan harinya, karena sehari setelahnya sang pemilik villa akan datang. Banyak sekali pekerjaan yang mereka kerjakan, mulai dari membersihkan setiap interior villa, sampai memasak beragam jenis makanan pun mereka lakukan pada hari itu walaupun itu dikerjakan tidak hanya oleh Jisoo dan Bomi saja. Ada sekitar delapan orang lainnya yang seumuran Jisoo dan Bomi yang bekerja di sana sebagai pelayan.

Penjagaan di sekitar villa mulai diperketat. Hampir di setiap sudut villa ada seorang penjaga yang memakai stelan jas hitam putih dan kaca hitam berlalu lalang. Awalnya Jisoo dan Bomi merasa risih dengan itu semua, tapi lama-kelamaan mereka terbiasa juga.

Saat-saat yang ditunggu pun akhirnya tiba. Jisoo tidak tahu berapa jumlah mobil yang terparkir di depan halaman villa dan ia juga tidak bisa memperkirakan berapa banyak orang yang datang. Suasana villa menjadi riuh rendah dari pagi hingga petang menjelang.

Hari itu menjadi salah satu hari tersibuk Jisoo semenjak ia bekerja di sana. Bahkan ia sampai melupakan makan siangnya sendiri padahal selama seharian penuh ia berada di dalam dapur. Memotong sayur, mengiris daging, mengupas buah hingga mencuci piring terus ia lakukan seperti tidak ada habisnya.

Sesekali Jisoo mendengar suara pekikan dari beberapa pelayan wanita yang bertugas mengantar makanan ke bagian dalam villa. Mereka membicarakan betapa mengagumkannya para pria yang ada di villa itu seakan-akan mereka tidak tahu siapa sebenarnya identitas dari orang yang dikagumkannya itu. Tapi memang kenyataannya mereka tidak tahu siapa mereka sebenarnya.

Saat malam mulai beranjak larut dan makan malam sudah selesai dihidangkan, Jisoo pun bisa bernapas lega. Ia Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena seharian ini ia bekerja keras. Rasa lapar sudah hilang dari dalam perutnya dan yang terasa hanya rasa lelah yang amat sangat menderanya.

Ia menuangkan air putih ke dalam salah satu gelas lalu meneguknya sedikit demi sedikit sambil berjalan ke arah jendela yang menghubungkan langsung dengan kolam renang. Sesaat setelah ia berdiri di depan jendela tersebut, ia melihat siluet punggung seseorang yang sedang berdiri di tepi kolam renang yang langsung menghadap lautan dalam keremangan malam.

Jisoo menurunkan gelas yang digunakannya guna melihat lebih jelas dari siluet tubuh itu. Setelah memperhatikan beberapa lama, entah kenapa ia seperti merasakan apa yang dirasakan oleh punggung itu. Sedih, sakit, dan rindu. Tapi perasaan rindulah yang paling mendominasi dari semua yang terlihat oleh mata Jisoo.

Entah sudah berapa lama ia hanya berdiam diri saja memandang punggung itu seakan ia tidak pernah bosan untuk memandanginya saja. Sebuah tepukan dipundaknya menyadarkan Jisoo dari lamunannya akan punggung itu.

“Kau melihat apa?” tanya Bomi memuat Jisoo menolehkan wajahnya.

“Tidak ada.”

“Kalau begitu sebaiknya kita istirahat sekarang juga karena aku yakin besok kita punya pekerjaan yang sangat banyak.”

Lalu Jisoo dan Bomi beranjak menuju kamar pelayan yang ditempati mereka untuk sementara. Secara bergantian mereka berganti pakaian dan membersihkan tubuh mereka di kamar mandi yang terdapat di dalam kamar mereka. Setelah selesai membersihkan diri, Jisoo dan Bomi naik ke atas ranjang mereka masing-masing. Menarik selimut sampai sebatas dada lalu mematikan lampu. Bersiap untuk tidur.

“Kau mengenal pria itu?” tanya Bomi sebelum rasa kantuk menyerangnya.

“Hm?” Jisoo yang tidak siap dengan pertanyaan Bomi hanya bisa menolehkan wajahnya ke arah tempat tidur Bomi yang berada di sebelah kirinya.

“Pria yang berdiri di tepi kolam renang itu.”

“Kau melihatnya?”

“Tentu saja aku melihatnya walaupun tidak terlalu jelas. Aku melihat kau terus memandanginya sampai-sampai kau tidak sadar jika aku sudah berada di belakangmu.”

“Aku kira kau tidak menyadarinya.”

“Kau terlihat sangat sedih saat memandangnya. Apa kau mengenalnya?” tanya Bomi lagi sebelum ia menguap dengan lebarnya.

“Entahlah. Aku merasa seperti mengenalnya, tapi aku juga tidak mengenalnya. Aku hanya merasa aku juga bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan saat menatap kegelapan malam. Aku merasa ia sedang merindukan seseorang tapi aku tidak tahu siapa orang itu. Bomi-ya…” ucapan Jisoo terhenti saat ia dapat merasakan jika Bomi yang sedang diajak bicaranya itu sudah tertidur pulas.

Hal itu menandakan selama ia bercerita, Bomi tidak mendengarnya sama sekali. Jisoo mengerucutkan bibirnya kesal. Padahal yang mengajak bicara terlebih dahulu adalah Bomi, tapi pada akhirnya ia yang ditinggal tidur duluan.

Jisoo memposisikan tubuhnya untuk miring ke arah Bomi. Lalu ia mulai membuka suaranya lagi, melanjutkan apa yang sempat tertunda lagi. “Kau tahu Bomi-ya, entah kenapa hatiku merasa sakit saat melihat punggung itu. Tapi di sisi lain jantungku berdebar sangat kencangnya saat menatapnya. Merasa begitu tenangnya dan aku menyukai punggung itu. Aku begitu takut karena aku belum pernah merasakan perasaan sakit tapi juga senang disaat berasamaan, Bomi-ya. Bahkan dengan Sehun sekalipun aku tidak pernah merasa demikian. Bukankah aku aneh, Bomi-ya?

Suara dengkuran halus dari orang yang diajak bicaranya itu membuat Jisoo kembali berhenti untuk berbicara. Ia tersenyum kecut dengan apa yang baru saja ia lakukan beberapa saat lalu. “Kuharap kau tidak mendengar apa yang aku katakan tadi. Selamat malam, Bomi-ya.”

Setelah mengatakan itu, Jisoo pun mencoba menutup matanya. Hanya butuh beberapa menit setelahnya sampai Jisoo tertidur. Ia terlalu lelah hari ini, dan yang dibutuhkannya adalah istirahat.

 

~

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya seorang wanita sambil memeluk punggung dari pria yang sedang berdiri menghadap lautan sambil menunggu waktu matahari tenggelam.

“Aku hanya sedang memikirkan betapa bahagianya hidupku saat ini.” Jawabnya sambil mengelus tangan wanita yang sedang memeluknya itu.

“Aku tidak sabar dengan hari esok.” Ucap si wanita sambil mengeratkan pelukannya yang sedikit terhalang oleh perutnya yang membuncit karena kehamilannya.

Terdengar kekehan renyah dari pria yang dipeluknya itu sebelum ia membalikkan wajahnya untuk menghadap si wanita. “Percayalah, sayang, aku lebih tidak sabar daripada apa yang kau rasakan saat ini. Butuh waktu tujuh tahun agar kita bisa bersama seperti ini, dan aku tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk menjadikanmu sebagai bagian dari keluargaku.”

Setelah mengatakan hal itu, si pria mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir dari wanitanya dengan mesra. Ia menciumnya penuh kelembutan. Menyalurkan betapa ia sangat mencintai wanita yang ada di pelukannya itu.

Pria itu menarik diri dari bibir wanitanya. Ia membelai lembut pipi wanitanya membuat wanita itu memejamkan matanya meresapi setiap perlakuan yang diterimanya dari pria yang ia cintai juga. “Aku mencintaimu, my lady.”

~

Jisoo langsung membuka matanya seakan ia dipaksa untuk bangun saat itu juga. Ia mengatur napasnya yang terasa memburu setelah mendapatkan mimpi itu. Mimpi yang sangat aneh. Jisoo mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyadarkan dirinya jika saat ini ia ada di dunia nyata.

Setelah beberapa menit berlalu, Jisoo kembali memikirkan mimpi yang baru saja dialaminya. Mimpi yang terasa nyata tapi juga terasa seperti ilusi. Saat Jisoo mencoba untuk mengingat wajah pria di mimpinya itu, tapi yang didapatkannya hanyalah bayangan semu semata. Wajah yang berusaha diingatnya terhalangi oleh sinar matahari karena ia berdiri dengan membelakangi matahari sehingga yang terbentuk hanya bayangannya saja.

Semakin ia berusaha mengingatnya, semakin terasa samar juga bayangan mimpi itu dan ia benci akan hal itu.

 

~ tbc ~

 

Pertemuan antara Jisoo atau Sena sama Baekhyun tak pending dulu ya…

Maafkan aku semuanya, soalnya kalau aku tulis sekarang, chapter ini bakal panjang banget…aku takut kalian lelah membacanya kalau chapter ini terlalu panjang. Apalagi kalau bacanya dari hp

Sampai jumpa minggu depan

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

 

Iklan

101 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 27)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 48) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – Chapter 47 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 46) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 45) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 44) | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 43) | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (CHAPTER 42) | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 41) | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Side Story-Kai) | EXO FanFiction Indonesia

  10. Hhuuaaa hhuuuaaa itu baekhyuuuunn ahhhhhhhhh gila gila gila kirain tadi jisoo bukan mimpi ternyata mimpi haduhhh baper baperr

  11. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] my lady – chapter 40 | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 39) | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 37) | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 36) | EXO FanFiction Indonesia

  15. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] MY LADY  [Chapter 35] | EXO FanFiction Indonesia

  16. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] My Lady – (Chapter 33) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s