[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (CHAPTER 20)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 20]

Author    : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt and Marriage Life

Rating : PG – 15

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi || #16 || #17 || #18 || #19

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Noona,” panggil Sehun. Raerim mendehem, sembari menoleh. “Aku masih menunggu penjelasanmu soal Yerim,” sambung Sehun.

Helaan nafas berat keluar dari mulut Raerim. “Kau mungkin tidak akan percaya, Sehun –ah. Terutama jika kukatakan, penyebab Yerim meninggal adalah kau,” tutur Raerim hati-hati.

[Flashback]

Suasana kafetaria dari sebuah perusahaan tampak sangat ramai, sebab saat ini merupakan jam makan siang. Para pegawai berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut untuk mengisi perut kosong mereka, antrian mengular –pun menjadi pemandangan yang biasa dilihat.

Satu-satunya yang sibuk saat ini, tentunya petugas kafetaria yang melayani pesanan para pegawai itu.

“Raerim –ah,” panggil seorang wanita paruh baya pada seorang gadis.

“Ya … ada apa, Ahjumma?” tanya Raerim sembari menghampiri wanita paruh baya yang merupakan rekan kerjanya.

“Yerim tidak masuk lagi hari ini, kenapa dia?”

“Saya tidak tau Ahjumma, Yerim hanya bilang ada urusan,” jawab Raerim.

“Permisi,” ucap seorang pemuda dengan pelan dan mengintrupsi pembicaraan Raerim dengan Ahjumma.

“Ahhh … ya, maaf.” Raerim segera menyendokan lauk ke piring pemuda itu. Setelah mendapatkan makanannya, pemuda itu segera bergeser. “Maaf Tuan, apakah kau yang bernama Oh Sehun?” tanya Raerim.

“Iya, benar,” jawab pria itu pelan.

“Tunggu sebentar,” ucap Raerim lalu pergi ke belakang, menuju dapur. Selanjutnya dia kembali dengan membawa telur goreng dalam piring kecil. “Ini untukmu.”

“Ya?” Pria bernama Sehun itu tampak bingung sampai alisnya naik. Namun dia tetap menerimanya. “Kamsahamnida,” ucapnya.

Seakan ada yang mengganjal dalam benak pria itu, dia masih berdiri di dalam antrian.

“Ada sesuatu yang kau perlukan?” tanya Raerim.

“Tidak … hanya saja, apa Yerim tidak datang bekerja hari ini?” tanya Sehun.

“Ya, dia ada urusan,” jawab Raerim.

“Ohhh .. begitu. Baiklah, terima kasih.”

Percakapan singkat antara Raerim dengan Sehun hari ini, merupakan awal dari berkembangnya hubungan mereka. Raerim yang seorang pekerja lepas di perusahaan itu dengan posisi pelayan dapur dan Sehun seorang pegawai tetap dari perusahaan milik keluarganya, tapi tidak ada sesorangpun yang tau statusnya sebagai anak dari pimpinan.

Selanjutnya, setiap kali Yerim absen bekerja, maka Raerim –lah yang akan memberikan telur goreng pada Sehun. Namun hingga saat ini, Raerim masih belum mengetahui alasan khusus rekan kerjanya itu sering absen. Bahkan dalam sebulan ini, Yerim sudah absen lebih dari apa yang perusahaan tentukan mengenai batas absensi pekerja lepas.

Hal tersebut membuat Raerim khawatir dan akhirnya mendesak gadis itu dengan bertanya. Barulah Raerim menjawab jika dia tengah dalam masa pengobatan, tapi tidak bilang mengenai penyakit yang sedang diidapnya.

Sedikit keterbukaan dari Yerim, membuat Raerim kembali memberanikan diri untuk bertanya perihal hubungan gadis itu dengan seorang pegawai yang bernama Oh Sehun. Gadis itu tampak perhatian sekali pada orang tersebut dengan terus menitipkan Raerim untuk membuatkan telur goreng ataupun hal lainnya.

Yerim menjawab, mereka sedang berpacaran. Sejak kapan? Sudah setahun, itu membuat Raerim terkejut. Selanjutnya Yerim bercerita awal dia menjalin hubungan dengan Sehun.

Tahun lalu, Oh Sehun masihlah seorang pemagang di perusahaan tersebut. Pria itu mendatangi kafetaria dengan wajah gelisah, tampaknya pekerjaannya tidak mudah. Sementara itu, Yerim dengan senyuman memberikan telur goreng di piring pria itu seraya menyemangatinya.

Sebuah perhatian kecil membuat hati seorang pria muda tersentuh dan tampaknya juga jatuh cinta.

Raerim memberikan sebuah tepukan di bahu gadis itu, dan berkomentar ‘manis sekali’ seraya tertawa geli.

Namun setelah perbincangan itu, Yerim semakin sulit dihubungi. Dan ini sudah minggu ke- 2 Yerim tidak masuk kerja. Sementara Sehun, pria itu jadi semakin sering mendatangi Raerim untuk menanyakan keberadaan kekasihnya. Tapi apa yang dapat Raerim katakan pada pria itu, terlebih Yerim juga memintanya untuk tak memberitahu jika gadis itu sedang dalam masa pengobatan.

Hingga suatu hari, Sehun tak lagi mendatangi Raerim untuk bertanya soal Yerim dan itu terus berlanjut dalam beberapa hari kedepan. Entah pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya yang semakin banyak lantaran dia baru saja naik jabatan atau karena hal lainnya.

Namun di saat berakhirnya jam kerja Raerim hari ini, dia mendapat sebuah pesan dari Sehun yang memintanya untuk datang ke rooftop. Tanpa mengetahui alasannya, Raerim pergi ke rooftop sesuai permintaan pria itu.

Ketika Raerim membuka pintu rooftop, dilihatnya punggung milik seorang pria yang sedang menatap kearah tenggelamnya matahari.

Raerim memanggil pria itu, seraya bertanya. “Sehun –ah … ada apa?”

Pria bernama Sehun itu menoleh dan menyunggingkan senyuman.

Raerim berdiri di sebelah Sehun. “Jadi sebenarnya ada apa kau memanggilku ke sini?” tanya Raerim lantaran pria itu masih saja sibuk memandangi langit senja.

Noona, kau tau siapa aku?”

Raerim berdecak, tentu saja dia tau siapa pria itu. Oh Sehun, bukan? “Sehun –ah, berhentilah bertanya hal-hal aneh seperti ini.”

“Aku anak dari Ketua Empire Group, kau tau?”

Seakan masih menganggap perkataan Sehun sebagai candaan, Raerim sempat terkekeh. Namun saat melihat raut wajah pria itu, Raerim membisu sembari menatap lekat pria yang berdiri di sebelahnya.

Sudut bibir Sehun tertarik keatas. “Aku ini keren, kan? Tampan, kaya dan seorang pewaris. Lalu kurangku apa? Sampai dia meninggalkanku?” Sehun tertawa getir. Dia berbalik dan menatap Raerim. “Noona, kau mau jadi pacarku?” tanya Sehun dengan nada serius yang terkesan dingin.

Lidah Raerim tampaknya sudah mati rasa, dia tak dapat menanggapi ucapan Sehun. Hanya otaknya saja yang bekerja, berpikir apa pria itu sedang mengerjainya atau apapun.

Ditengah semilir angin senja yang bertiup, tiba-tiba pintu akses masuk ke roof top tersebut terbuka. Melihat seseorang datang, lantas Sehun langsung mencium wanita yang jadi lawan bicaranya –Raerim.

Gadis yang tak lain adalah Yerim –kekasih Sehun– menyaksikan kekasihnya yang tengah mencium gadis lain, itu  membuat matanya memanas dan lidahnya terasa kelu. “Se … Sehun –ah,” ucap Yerim terbata. “Bagaimana bisa kau lakukan ini padaku?”

Karena mendengar sebuah suara, maka Raerim langsung melepaskan tautan bibirnya dari Sehun.

Seakan tertancap dua bilah pisau di jantungnya, Yerim tersebut tak kalah terkejut saat melihat wajah wanita yang barusan di cium oleh Sehun. “Ka … kau?” ucapnya kembali terbata-bata. Tanpa banyak bicara dia segera pergi meninggalkan roof top.

“Yerim –ah,” panggil Raerim pada Yerim yang telah meninggalkan rooftop. “Oh Sehun! Apa kau sengaja melakukan hal ini?! Brengsek kau!!” maki Raerim dengan menatap tajam Sehun dan berlari mengejar Yerim.

___ __ ___

Raerim mengejar Yerim, tapi sayang tak terkejar, gadis itu sudah naik taksi dan pergi.

Beberapa hari berselang setelah kejadian di rooftop, tak ada kabar dari Yerim. Namun tiba-tiba saja, sebuah berita duka sampai pada Raerim –Yerim telah meninggal.

Dengan pakaian hitam, Raerim menghadiri acara penghormatan terakhir bagi Yerim. Suasana sangat menyesakan bagi Raerim, lantaran melihat orang yang hadir sangatlah sedikit –dapat dilihat dari jumlah tangkai bunga yang terletak dibawah foto gadis itu. Terlebih Yerim anak yatim piatu, itu semakin menambah rasa penyesalan bagi Raerim. Kejadian tempo hari di rooftop bersama dengan Sehun, membuat Raerim berpikir betapa jahat dirinya lantaran menyebabkan perpisahan pasangan kekasih itu, meskipun itu bukan murni kesalahannya.

Setelah selesai melakukan penghormatan, Raerim beranjak untuk pulang. Namun ada seorang pria berperawakan imut menghampirinya.

“Raerim –ssi?” panggil pria itu terdengar ragu.

“Ya. Siapa?” tanya Raerim lantaran tak mengenali pria tersebut.

Tanpa menjawab, pria itu langsung menyerahkan secarik amplop putih pada Raerim dan pergi.

Raerim menerima amplop itu dengan bingung.

[Flashback End]

Sehun mendecih setelah mendengar penuturan Raerim. “Jadi dimana letak kesalahanku pada gadis itu?” tanya Sehun dengan arogannya.

“Kau masih tidak sadar juga?” tanya Raerim miris. “Yerim saat itu sedang sakit keras, tapi kau malah meninggalkannya di saat dia sangat memerlukan dukungan,” imbuh Raerim.

Noona tau?! Dia yang lebih dulu meninggalkanku. Perempuan itu, hanya memanfaatkanku dan di belakangku dia menjalin hubungan dengan pria lain!!”

“Aku yakin, kau tidak mendengarkan penjelasannya lebih dulu,” selidik Raerim.

Raerim beranjak dari duduknya dan pergi menuju kemarnya, namun beberapa saat kemudian dia kembali. Selanjutnya Raerim menyerahkan sebuah amplop yang sudah tampak usang di hadapan Sehun.

“Itu surat dari Yerim, kau bacalah,” pinta Raerim.

Dengan acuh tak acuh, Sehun mengulurkan tangannya untuk mengambil surat itu dan kemudian membacanya.

= Raerim eonni, ini aku Yerim. Maaf aku mengatakannya dengan cara seperti ini, aku hanya tak tau harus cerita dari mana.

Sebenarnya selama ini aku mengidap gagal ginjal kronis, itu alasanku sering absen. Aku harus cuci darah dan setiap hari semakin memburuk hingga aku perlu dirawat intensif. Karena itu juga aku berpikir, aku sudah tak memiliki harapan dan berniat mengakhiri setiap hubungan –termasuk dengan Sehun.

Namun ditengah keputus asaanku, aku mendapat kabar jika aku mendapat pendonor. Itu kembali membuatku berharap. Akhirnya aku menelepon Sehun untuk dapat bertemu dengannya, sekaligus menjelaskan yang selama ini dia tanyakan.

Sayangnya, pertemuan kami tak berjalan baik. Sehun pergi begitu saja setelah melihatku, sepertinya telah terjadi kesalahpahaman diantara kami lantaran saat itu aku bersama seseorang dan juga mengenai pembicaraan kami. Dan setelah hari itu, aku tak dapat menghubungi Sehun hingga suatu hari aku mendapat pesan darinya untuk bertemu –rooftop perusahaan.

Dan yang terjadi disana, itu memang sangat menyakiti hatiku, sampai rasanya aku ingin mengakhiri hidup saat itu juga. Namun aku tau, jika Eonnie tak mungkin melakukannya untuk menyakitiku, karena itu aku menulis surat ini agar Eonnie tidak menyalahkan diri sendiri.

Selain itu, aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada Eonnie yang telah banyak membantuku selama ini. Semoga Eonnie selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. =

Setelah membaca surat tersebut, Sehun melipat kertas itu dan kemudian menaruhnya dengan tak acuh diatas meja. Dia duduk santai dengan bersandar seraya melipat kakinya.

“Aku masih tak mengerti dimana letak kesalahanku, bahkan setelah membaca surat itu,” tutur Sehun dengan nada datarnya.

Raerim menatap nanar pria dihadapannya. “Ternyata selama ini aku sudah salah menilaimu, sia-sia saja aku bicara,” balas Raerim dan pergi meninggalkan Sehun.

Sementara itu di dalam kamar, sepasang kakak-beradik tampak dengan akrab mengobrol. Sepertinya mereka sudah dapat mencairkan es yang selama ini menyelimuti mereka.

“Oh Sial! Apa perlu dia kuhajar?” umpat sang Kakak, Park Chanyeol. “Beraninya dia membuat Adikku menangis,” sambungnya.

Oppa hajar –pun dia tak akan sadar, hanya buang tenaga saja,” balas si Adik, Hyunhee.

“Tenang saja, Oppa akan selalu menjaga dan melindungimu.”

“Seharusnya itu Oppa lakukan dari awal,” sanggah Hyunhee.

“Kau mulai mengungkitnya lagi, Hyunhee –ya.” Chanyeol merajuk.

Tanpa kakak-beradik itu sadari, ada seseorang di balik pintu yang memperhatikan mereka dengan tersenyum –Raerim.

“Mereka hanya perlu dikurung di ruangan yang sama,” ucap Raerim dengan senang. Selanjutnya dia memasuki kamar tersebut. “Kalian, kalau sudah baikan lagi pasti berisik dan lupa waktu,” komentar Raerim. “Ini sudah sore.”

“Apa aku sedang diusir?” tanya Hyunhee sedikit murung.

Raerim gelagapan untuk menjawab Adik Ipar nya. “Ohhh … bukan begitu maksudku.”

“Hahah … iya Eonnie, aku tau.” Ternyata Hyunhee sengaja mengerjain Kakak Iparnya.

“Kau!” Chanyeol menghadiahi sebuah sentilan di dahi Hyunhee dan membuat gadis itu mengaduh sembari mengusap cepat keningnya.

“Baiklah … baik, aku akan pulang,” jawab Hyunhee setengah terpaksa. “Tapi aku mau bawa bekal.”

“Eoh … maaf sayang, masakan Eonnie belum jadi.”

“Kau dari tadi masak belum matang juga?” tanya Chanyeol heran pada Istrinya.

Raerim melayangan tatapan tajam pada Suaminya. “Karena siapa aku jadi telat memasak?”

“Hehe … maaf, aku akan pergi ke swalayan sekarang,” ucap Chanyeol beranjak dari tempat tidur.

_____________

♦––○ IFA ○––♦

_____________

Meskipun sebenarnya Sehun melarang, Hyunhee kembali berkuliah setelah hampir seminggu absen. Dan yang terjadi adalah tugas-tugasnya menumpuk, bahkan tugas kelompoknya belum selesai. Hyunhee menghela nafas.

“Maaf Hyunji –ya, sepertinya kita harus lembur untuk menyelesaikan tugas ini,” ucap Yoomi dengan raut wajah bersalah.

“Kami tak dapat menyelesaiannya tanpamu,” dalih Daniel dan disetujui Seongwoo.

“Akh … kalian saja yang susah diatur dan malas,” omel Minhyun.

Hyunhee menghela nafasnya dan kemudian tersenyum tipis –untuk menyembunyikan kekesalannya saat ini. “Sudah, kalau terus berdebat kapan akan mengerjakan dan selesai,” ucap Hyunhee melerai.

Diluar perkiraan, tugas telah selesai lebih awal. Terima kasih kepada orang konsisten yang mengetuai kelompok tersebut. Namun satu-persatu anggota kelompok tampak mulai tumbang, bukan karena tugas tapi terlalu banyak minum.

“Hyunji –ya, kau bisa pulang lebih dulu sebelum hari terlalu malam dan tidak ada angkutan umum,” saran Minhyun yang saat ini sedang membereskan peralatan makan.

“Tidak, nanti saja,” jawab Hyunhee sembari menyapu. Setidaknya dia perlu membantu sang pemilik rumah untuk membereskan kekacauan yang terjadi saat ini.

Setelah kegiatan berberesnya selesai, tentu saja Hyunhee segera pamit untuk pulang. Minhyun dengan baik hati menawarkan untuk mengantar gadis itu pulang, tapi Hyunhee menolak lantaran terpikir kembali tentang Sehun –pria itu bisa saja mengamuk lagi. Akhirnya Minhyun hanya mengantar Hyunhee ke halte dan tentunya menunggu gadis itu sampai dapat angkutan umum.

“Terima kasih, Hyunji –ya. Kau hati-hati di jalan dan segera hubungi aku jika ada sesuatu atau setelah sampai di rumah,” ucap Minhyun mewanti-wanti.

“Eum … sama-sama, sampai jumpa besok,” balas Hyunhee dan menaiki taksi.

Selama di perjalanan biasanya Hyunhee selalu melihat kearah luar jendela, namun kali ini dia memilih mendengarkan musik melalui earphone –nya. Tanpa terasa alunan musik yang keluar dari earphone –nya telah berhenti, Hyunhee baru menyadari jika perjalanan untuk sampai kediamannya terasa sangat lama. Akhirnya Hyunhee melepaskan earphone –nya termasuk menaruh ponsel kedalam tas dan bertanya pada sang supir taksi.

“Maaf Pak, apa masih jauh?” tanya Hyunhee.

“Tidak sebentar lagi sampai,” jawab sang Supir terdengar tenang.

Hyunhee sedikit bergeser mendekati jendela mobil dan membuka kacanya, gelap. Dia tak tau jika jalanan Seoul bisa segelap ini, hanya beberapa lampu jalan redup yang menyala. Seketika rasa khawatir dan takut langsung menyergap Hyunhee, dia mulai menggigit bibirnya.

“Pak, kau yakin ini jalan yang benar?” tanya Hyunhee dengan suara bergetar.

Namun tak ada sahutan dari sang supir, hanya sebuah seringai dari sudut bibir pria itu yang dapat Hyunhee lihat dari kaca spion yang terletak di depannya.

Kini Hyunhee menyadari jika saat ini dirinya benar-benar dalam bahaya, dengan pikiran yang dipenuhi kekalutan dia mengambil ponselnya dan mencari kontak untuk menghubungi seseorang.

Terdengar bunyi tut-tut-tut dari lubang speaker ponselnya, Hyunhee masih mencoba menghubungi orang tersebut yang tak lain adalah Sehun. Dan dering ketiga berbunyi, dia dapat mendengar sahutan.

“Se … Sehun –ssi.” Suara Hyunhee terdengar parau disertai terbata.

Sehun yang menjadi lawan bicara tentu sudah dapat menebak dari suara gadis itu, jika ada yang tak beres. “Kau dimana? Kirimkan lokasimu segera!

Atas arahan dari Sehun, Hyunhee segera me –minimize layar panggilannya dan beralih pada GPS dan mengirimkan lokasinya saat ini.

Namun sang supir yang sepertinya mengetahui tindakan Hyunhee, dia menghentikan mobilnya dan segera beranjak dari bangku kemudi untuk merampas ponsel yang ada di tangan Hyunhee. Tentu Hyunhee sebisa mungkin menahannya, dia hanya perlu menekan tombol kirim.

Dan sial, ponsel telah lepas dari genggamannya –berakhir naas dibanting oleh sang Supir dan dibuang ke sembarang tempat.

Keadaan tersudut kini di hadapi Hyunhee, pasalnya sang Supir sudah berpindah menuju kursi penumpang di belakang. Satu-satunya yang ada dipikiran Hyunhee adalah dia harus keluar dari mobil ini dan berlari. Hyunhee memanfaatkan tas dan beberapa buku yang dibawanya untuk melempari sang Supir. Itu  cukup berhasil untuk menghalangi sang Supir dan dirinya bisa keluar dari mobil, kini dia hanya perlu berlari sekencang mungkin dan mencari pertolongan.

Teriakan sang Supir yang menyuruhnya untuk berhenti terus terdengar di telinga Hyunhee, rasanya lebih menakutkan dari gonggongan anjing yang dia dengar di sepanjang jalan yang dia lalui saat ini sambil berlari. Peluh sudah membasahi hingga ke baju luar Hyunhee, nafasnya –pun kian terasa sesak. Tapi sang Supir masih terus mengejarnya, meskipun dia berbadan sedikit tambun. Hal tersebut membuatnya tak punya pilihan selain terus berlari walau kaki juga sudah terasa lemas, setidaknya dia berbadan ringan sehingga bisa selangkah di depan.

Bersamaan dengan setitik cahaya yang tampak, harapan Hyunhee mulai terbit. Setelah berlari jauh tanpa arah dan penerangan yang cukup, kini sebuah permukiman mulai terlihat. Hyunhee mengumpulkan sisa kekuatannya untuk dapat berlari lebih kencang.

Rumah pertama Hyunhee sambangi, namun pintu pagar yang terkunci menghalanginya masuk.

“Aish … Jinjja! Kenapa tidak terbuka?” rancau Hyunhee yang sudah panik. Bahkan air mata yang sejak tadi tak keluar lantaran sibuk berlari, kini sudah tumpah membasahi pipinya.

Grep!!

Sebuah tangan besar mendarat di bahu Hyunhee, karena takut dia enggan menoleh.

Hyunhee berteriak meminta tolong, namun Supir itu membekap mulutnya sembari menarik tubuhnya. Hyunhee meronta untuk dapat melepaskan mulutnya dari sekapan supir itu, lalu dia menggigit tangan sang supir.

Supir itu berteriak kesakitan dan melepaskan tangannya, Hyunhee kembali berteriak meminta tolong sembari berpegangan pada pagar rumah.

“Gadis sialan! Beraninya kau!” marah Supir itu dan tampak melayangkan tangannya. Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Hyunhee hingga membuat gadis itu tersungkur ke tanah. Selanjutnya sang Supir berjongkok dan menarik rambut Hyunhee.

Sebuah seringai tampak kembali di sudut bibir Supir itu. “Lihat? Mau kau berteriak sekencang apapun tak akan ada yang keluar menolongmu.” Supir itu kemudian meludahi Hyunhee. “Kau itu cantik, tapi susah sekali diatur. Jika kau bisa tenang dan menurut, aku tak akan melukaimu,” ucap Supir itu lalu menyentuh lembut wajah Hyunhee yang tampak memerah.

Selanjutnya Supir itu membuka ikat pinggangnya dan mulai melilitkannya pada tangan juga kaki Hyunhee hingga tubuhnya menekuk 90°. Lalu Supir itu menggendong Hyunhee dan membawanya pergi.

DughBugh

Seperti sebuah suara keras yang menghantam benda keras dan diiringi suara benda jatuh. Ternyata itu adalah suara sebuah batu yang mengenai kepala seseorang dan jatuhnya orang tersebut.

Hyunhee yang juga ikut jatuh lantaran si Supir yang jatuh dan sudah tak sadarkan diri di sebelahnya itu tampak kaget juga bingung. Selanjutnya dia melihat seorang Nenek berdiri di hadapannya.

“Kau baik-baik saja, Agasshi?” tanya Nenek itu seraya membuka ikatan ditangan dan kaki Hyunhee.

Hyunhee harus jawab apa? Tentu saja dia tidak dalam kondisi baik-baik saja. “Terima kasih sudah menolongku,” jawab Hyunhee masih dengan nada bergetar.

“Ya, sama-sama.” Nenek itu yang kini tampak sibuk menarik tubuh sang supir. “Nak, apa kau akan diam saja disitu? Bantu aku,” titah Nenek pada Hyunhee.

Hyunhee segera tersadar dan membantu Nenek menarik Supir yang tak sadarkan diri itu pada sebuah pohon berbatang sedang. Selanjutnya  mengikat si Supir dengan ikat pinggang miliknya, layaknya apa yang dia lakukan pada Hyunhee.

“Sudah, ayo kita masuk,” ajak si Nenek.

Hyunhee bersama si Nenek masuk ke rumah yang tadi pagarnya Hyunhee gedor-gedor, rumah yang tampak kecil dan sederhana.

Setelah mempersilakan Hyunhee duduk, Nenek itu kebelakang dan kembali dengan segelas air.

“Diminum dulu,” ucap Nenek.

Hyunhee menerima gelas tersebut dan minum. “Halmeoni, mau kemana?” tanya Hyunhee ketika melihat Nenek itu keluar rumah.

“Apa aku harus bilang padamu kalau aku mau keluar dari rumahku sendiri?” jawab Nenek agak ketus. Hyunhee diam. “Aku mau ke Kepala Desa untuk melapor, kau tunggu saja disini,” imbuhnya.

“ … Emmm, apa aku boleh pinjam teleponnya? Ponselku hilang,” pinta Hyunhee.

“Itu mati, cuman pajangan saja,” jawab Nenek. “Kalau kau mau menelepon, ya sudah ikut denganku ke Kepala Desa dan menelepon disana.”

Hyunhee mengangguk seraya beranjak dari duduk dan mengekor sang Nenek.

___ __ ___

Saat ini Hyunhee sedang menunggu di rumah Kepala Desa, setelah dia dapat menghubungi Sehun untuk memberi tahu keberadaannya.

Butuh lebih dari satu jam Sehun sampai di lokasi dan sesampainya disana, Sehun langsung berhambur ke pelukan Hyunhee ketika dia melihat gadis itu, begitu juga Hyunhee yang membalas pelukan Sehun dengan mengalungkan tangannya di pinggang pria itu. Dengan wajah berpangku di pundak Sehun, titik air mata kembali jatuh membasahi wajah Hyunhee.

Gwaenchana Hyunji –ya, sekarang kau sudah aman, ada aku disini,” ucap Sehun menenangkan Hyunhee seraya menepuk lembut punggung gadis itu.

Pelukan di tubuh Sehun melonggar lantaran Hyunhee mendorong tubuh pria itu dan berganti menyembunyikan diri lantaran melihat pria paruh baya yang merupakan supir taksi yang telah berlaku buruk padanya.

Sehun menoleh, tubuhnya langsung menegang hendak menerjang pria brengsek itu dengan tinjunya namun ditahan oleh Bapak Kepala Desa.

“Tuan, biar penjahat ini pihak berwajib yang urus. Anda dan Nona dapat pulang untuk beristirahat,” ucap Kepala Desa bijak.

Sehun kembali memperhatikan wajah Hyunhee yang sudah tampak sayu. “Baiklah, saya mohon kerjasamanya dan terima kasih.”

Setelah itu, Sehun dan Hyunhee pamit undur diri.

___○– IFA –○___

Setelah insiden malam itu, tentu saja Sehun menjadi lebih protektif terhadap gadis itu. Mulai dari menghubungi Hyunhee tiap beberapa menit sekali, terus terhubung dengan gadis itu adalah hal mutlak. Bahkan Sehun memasangkan kalung yang terdapat alat pelacak pada Hyunhee.

Apa dirinya ini tahanan?

Ohhhh … beberapa orang bodyguard –pun sempat Sehun sewa untuk mengawasinya, tapi Hyunhee menolaknya dengan keras. Itu sudah sangat berlebihan. Kebebasannya terancam.

Namun Hyunhee tak benar-benar yakin jika Sehun telah memberhentikan orang untuk mengawasinya, sebab Hyunhee merasa ada seseorang yang memperhatikannya beberapa hari terakhir.

[TBC]

Jadi, kali ini siapa yang mengawasi Hyunhee?

Happy chapter 20 of My Possessive Husband ❤ ❤ ❤

Gak kerasa ya, udah chapter 20 sejak pertama kali publish di EXOFFI di bulan Maret.

Semoga kalian masih berminat membaca FF ini hingga akhir.

Dan FF ini masih berjalan hingga sekarang, semua tak lepas dari dukungan kalian semua –pembaca yang menunggu dengan setia (termasuk siders) .. Terima kasih banyak 🙂

Sebagai rasa terima kasih aku, ada yang spesial …

Oke … Buat pembaca rahasia MPH, yang malu menunjukan jati dirinya.

Apa kalian sudah baca chapter 15 yang diproteksi? Belum~

Masihkah kalian penasaran dgn sesuatu yang terjadi di Chapter 15? Masih~

Baiklah~ Aku author titisan malaikat ini mau bagi-bagi berkah ke kalian.. wkwkwkwk.. #uwek 😛

Titisan malaikat dari Hongkong?! #IFAngel

Aku hanya kasih clue ya, jadi kalian kudu pinter-pinter nebak. Oke? Oke~

Nama ibu kota sebuah negara di bagian Eropa >> Dimana Jongin di tugaskan bekerja?

Cukup jelaskan pertanyaannya? Buat yang sudah tau, silakan masukan jawabannya dan selamat membaca Chapter 15 plus dibuat ternganga dengan fakta yang aku suguhkan. Karena 100% yg sudah baca Chapter 15, mereka sama sekali gak pernah menduganya.. *smirk*

Yang masih belum nemu jawabannya, kalian bisa review chapter sebelumnya atau mulai baca buku IPS kalian untuk menemukan kata kunci.

*** aku gak selalu murah hati seperti ini, bagaimanapun aku ini cuman titisan malaikat, bukan malaikat tulen // apasih. Jadi jika di chapter mendatang kembali aku password, gak ada bocoran kayak gini lagi. Kalian harus berani minta password sendiri ke aku atau admin EXOFFI.

Dan aku bukannya plin-plan soal password, chapter yg di proteksi itu karena ada sebuah rahasia (besar) yang mau aku ungkapkan disitu. Dan rahasia di chapter 15 itu, memiliki keterkaitan dgn cerita lainnya. Itu yg jadi pertimbangan aku buat kasih bocoran password, dan syukur-syukur paham dgn clue nya.

–Sekian bacot panjang aku, Terima Kasih. ❤

°

See you next chapter

#XOXO

13 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (CHAPTER 20)”

  1. Mungkin Sehun emang gak Peka sama kesalahannya pada Yerim, tp menurutku Yerim juga salah karena biar bagaimana pun Sehun kan kekasihnya, jd dia harus tahu gimana kondisinya saat itu. Tp yasudahlah~
    Hyunhee merasa ada seseorang yang memperhatikannya beberapa hari terakhir, siapa org itu??
    😱 Gak kerasa udh 20 Chapter, tp si Jongin belum balik dan si Hyunji belum ketemu. Oke sepertinya perjalanan masih panjang. Semangaatt!!😁😁

    1. Yang kamu bilang betul, Chingu .. Hubungan itu perlu saling keterbukaan antar pihak, biarpun mungkin kenyataan itu pahit ..
      Euuuhh … siapa ya? >o<
      Hahah … panjang ya FF ini, sudah chapter 20. Kalau di hitung sama chapter double, ada 23 chapter..
      Terhitung dari terungkapnya masa lalu Sehun-Raerim, itu sudah masuk pra-klimaks .. Jadi tunggu saja ya 😀

  2. Sehun digetok dulu pasti nanti “peka” deh ama kesalahannya.tapi bukan salah sehun juga sih,andai dari awal yerim terus terang.sesuai judulnya “MPH” sehun bener2 posesif,kalung hyunhee aja dikasih alat pelacak.saya mau dong..wkwk..,kayaknya nanti jongin datang,hyunhee bimbang deh..

    1. Entah siapa yang salah, Sehun atau Yerim..
      Tapi Yerim mikir, klo dia gak bakal hidup lama & suatu saat akan meninggalkan Sehun. karena itu juga ya~ Intinya Yerim gak mau ninggalin luka buat Sehun setelah kepergiannya.
      Hahahah … sekarang kita dapat lihat sikap overprotektif dan posesifnya Sehun o.O
      Ahhh … iyakah Jongin yang datang? >//<

    1. Hahhah … nelpon Sehun ternyata.. soalnya Hyunhee sudah cukup mengenal Sehun dan tau dpt Hyunhee andalkan…
      Halmeoni nya gak kuat, tapi batu … Kkkk~ 😀
      Tapi sebut saja Halmeoni tangguh dan berani >o<

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s