[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 17)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 17]

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt and Marriage Life

Rating : PG – 17

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi || #16  

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

Warning!!

Chapter ini menyenggol sedikit adegan kekerasan dan dewasa. Jika kalian merasa gak nyaman, bisa di skip dan lambaikan tangan. Dimohon kebijakan dan kesadaran sendiri dari pembaca. Terimakasih. 🙂

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Saat dia membuka mata adalah suatu kenyataan pahit yang harus dialami dari seorang gadis bernama Hyunhee. Belum lagi hari ini, hari dimana dia kembali berstatus menjadi seorang mahasiswi (gadungan). Semua dimulai tepat saat dia selesai berpakaian dan seorang pria datang menghampirinya, lalu menceramahi penampilannya.

Tidak ada yang salah dari penampilan gadis itu, dia mengenakan dress selutut tanpa lengan bermotif garis-garis perpaduan warna abu-abu dan putih, rambut terikat dan sedikit polesan lipstick berwarna soft pink.

Tapi pria yang bernama Oh Sehun itu terlampau mengurusinya hingga menyuruh gadis itu untuk berganti pakaian, bahkan dia mulai menerapkan aturan bagi gadis itu. Seperti harus mengenakan baju lengan panjang dan di bawah lutut hingga menggunakan stocking, tidak boleh mengikat rambut atau memperlihatkan tengkuk, dan dilarang menggunakan lipstick berwarna mencolok. Pada akhirnya Hyunhee hanya menuruti perkataan pria itu, ketimbang harus larut dalam perdebatan sepele.

“Sudah siap?” tanya Sehun saat melihat gadis itu keluar dari kamar.

Hyunhee mendehem sebagai jawaban.

Sehun berjalan menghampiri gadis itu dengan membawa sepiring Roti Isi yang dibuatnya barusan dan menawarkannya pada gadis itu.

Namun dengan senyuman seraya menggeleng, Hyunhee menolaknya. Entah kecewa atau lantaran dia masih lapar, Sehun kembali melahap potongan Roti Isi yang tersisa di piring.

Setelah selesai mengunyah, Sehun menyambat tas kerja dan jas –nya. “Ayo berangkat sekarang,” ajak Sehun.

“Tunggu,” ucap Hyunhee menghentikan langkah kaki pria itu.

Sehun berhenti dan berbalik, Hyunhee berjalan menghampirinya. Kini tersisa beberapa inchi jarak diantara mereka dan semakin menipis saat Hyunhee mulai berjinjit di hadapan Sehun.

“Apa kau selalu berangkat kerja dengan pakaian berantakan seperti ini?” Hyunhee mengomentari dua kancing kemeja Sehun yang tak terpasang dan dasi yang menggantung di lehernya. “Seorang atasan seharusnya memberi contoh yang baik untuk pegawainya. Ch! Apa kau orang yang sama saat menceramahiku soal berpakaian, barusan?” cibir Hyunhee sembari mengancingkan kemeja Sehun sekaligus memakaikan dasinya.

Nafas Sehun seakan tercekak hanya karena berada di dekat gadis yang kini menjadi istrinya. Padahal sebelumnya tak ada masalah saat dirinya yang mendekati gadis itu. Apa hal tersebut berpengaruh sebaliknya saat gadis itu yang mulai mendekatinya duluan?

Hyunhee telah selesai membenarkan pakaian pria itu, tanpa sadar dia mendongak dan matanya saling bertabrakan dengan Sehun. Kegugupan mulai menjalar di tubuhnya. Refleks Hyunhee langsung mundur, namun tangan milik Sehun menahan pinggangnya. Sekarang Hyunhee menyadari jika tindakannya barusan adalah sebuah kefatalan, dia merutuki kebiasaannya tentang kebersihan dan kerapihan.

Wajah Sehun mendekat, bahkan kini kepalanya sudah memiring di depan bibir gadis itu. Namun sebelum bibir mereka saling tertaut, tangan Hyunhee sudah terangkat dan mencegah hal tersebut terjadi. Dengan menggunakan ibu jarinya, gadis itu menyapu salah satu sudut bibir milik Sehun.

“Mulutmu belepotan,” dusta Hyunhee terdengar jelas –kentara bohongnya.

Namun Sehun tetap saja ikut menyapu sudut bibirnya, untuk memastikan. Dan tentunya, mulutnya itu sangat bersih tanpa ada sisa noda makanan. Selanjutnya Sehun terkekeh sendiri di buatnya.

“Apa kita jadi berangkat sekarang?” tanya Hyunhee dengan sedikit meninggikan nada suaranya, karena dia sudah berdiri di depan pintu keluar apartemen.

___ __ ___

Hyunhee berdiri memandangi benda beroda empat dengan mulut hampir menganga. Kalian tau kenapa? Karena dibanding semua aturan tentang cara berbusana, yang lebih menjengkelkan bagi Hyunhee adalah saat pria itu menggunakan mobil dengan atap terbuka untuk mengantarnya ke kampus. Alasannya? Agar terlihat keren.

Ya Tuhan, dia pergi ke kampus untuk belajar, bukan tampil bergaya bak model iklan mobil. Terlebih lagi ini masih pagi dan hawanya cukup dingin. Padahal sebelumnya pria itu melarangnya berpakaian terbuka dan mengikat rambut untuk menghindari dirinya masuk angin. Sepertinya itu hanya akal-akal pria bernama Oh Sehun saja, bahkan saat ini dia telah mengenakan kacamata hitam sembari menyetir.

Tepat di depan gedung Fakultas Ilmu Sosial, Sehun menghentikan mobilnya. Hyunhee segera turun dari mobil tanpa dipersilakan terlebih dahulu, dia sudah ngacir menjauh dari pria itu. Sementara Sehun, dia asik melambaikan tangannya –layaknya memberi salam perpisahan pada gadis yang merupakan istrinya itu.

“Yang rajin belajarnya Chagi –ya! Telepon aku saat kau pulang!” seru Sehun panjang. Tapi gadis itu tak sedikitpun menoleh. Biarpun begitu, Sehun terus tersenyum sembari memandangi punggung gadis itu yang perlahan mulai hilang.

Setelahnya, Sehun kembali menyalakan mesin mobilnya dan bertolak menuju kantornya. Ya, dia mulai bekerja hari ini. Padahal jika dia mau, dia bisa ambil cuti hingga berminggu-minggu lamanya. Dan tentunya hal tersebut bukan masalah, dia bos –nya. Tapi Sehun memilih bekerja lantaran dia merasa akan bosan jika hanya tinggal sendiri di apartemen, istrinya sudah masuk kuliah saat ini. Karena biasanya alasan dia pulang adalah untuk istirahat, tapi kalau sekarang adalah untuk beristirahat sekaligus dapat bersama dengan istrinya.

Hyunhee keluar dari balik semak-semak setelah memastikan jejak Sehun tak lagi terlihat olehnya, namun bukannya dia masuk ke kelasnya, Hyunhee malah berbelok menuju kantin kampus. Dia merasa lapar setelah tadi pagi sok sumbar menolak roti isi buatan Sehun, bukan apa-apa, dia hanya kapok makan makanan buatan pria itu. Biarpun yang Sehun buat hanya roti isi pada umumnya dengan potongan Beef, Keju, Daun Selada, Mayonnaise dan saos –entah kenapa baginya itu terlihat seperti makanan yang mengandung racun B3.

Setelah membayar, barulah Hyunhee pergi ke kelasnya sembari membawa Roti Coklat dan Susu Kotak rasa coklat yang di belinya tadi. Sepertinya kebiasaannya dulu saat masih di bangku kuliah belum berubah, kini Hyunhee –pun memilih duduk di bangku paling depan, dekat meja Dosen.

Hyunhee duduk dan mulai makan, sejauh ini dia baik-baik saja sembari menikmat sarapannya. Namun, lambat-laun mulai banyak orang yang datang dan kelas jadi ramai. Beruntungnya, dia telah menyelesaikan makannya. Sebab ada seorang pria yang menghampirinya dan duduk di sebelahnya, lalu mengacaukan mood –nya.

Awalnya pria itu hanya meminta kenalan, baiklah … Hyunhee mengiyakannya. Kini dia mengetahui nama pria itu, Kang Daniel. Namun dia kembali memperkenalkan dua temannya yang lain, Hwang Minhyun dan Ong Seongwoo. Hyunhee tak mempermasalahkan dua temannya Daniel itu, tapi pria itu sendiri.

Selama kelas berlangsung, Daniel terus mengajaknya mengobrol hingga kelas usai dan tak heran dia menjadi sasaran Dosen yang sedang menerangkan materi di depan kelas. Topik pembicaraannya bervariasi, tapi intinya mendefinisikan sosok Daniel itu seorang Play Boy. Sebab belum genap sehari dia kenal pria itu, Hyunhee sudah mendapat ajakan mulai dari pulang bersama hingga kencan dia akhir minggu. Gila! Haruskan Hyunhee bilang, jika dia seorang gadis yang telah bersuami?

Hyunhee buru-buru mengemasi bukunya ke dalam tas dan meninggalkan kelas, namun tetap saja langkahnya terkejar oleh pria bernama Kang Daniel itu.

“Kenapa kau buru-buru sekali, Hyunji –ssi?” tanya Daniel tanpa melepas fokus matanya pada sosok gadis itu.

“Aku sedang di tunggu seseorang,” jawab Hyunhee dengan ketus. Dia berharap, semoga pria itu segera pergi. Dia sudah terang-terangan menolak ajakan pulang bersama pria itu, bukan?

“Dimana kau menunggu orang itu?” tanya Daniel lagi seakan tak ingin melepaskan gadis itu.

“Bukan urusanmu,” jawab Hyunhee masih dengan nada ketus.

Hyunhee tidak tahu lagi harus berbuat apa pada pria itu, Daniel masih terus mengikutinya bahkan menunggu dirinya yang sedang berdiri di halte selama lebih dari dua puluh menit.

“Mana orang yang kau tunggu? Belum kelihatan tuh,” ujar Daniel yang duduk di motor sport –nya yang berwarna biru. “Sudah, ikut saja denganku. Aku akan mengantarmu kemanapun kau mau.”

Hyunhee diam saja, tak menanggapi ucapan Daniel. Dia yang sedari tadi memegangi ponsel, terus saja melihat layar ponselnya untuk mengecek jam atau melihat apa ada sebuah notifikasi dari seseorang yang berjanji akan menjemputnya.

Tiiiinnnn….

Bunyi klakson terdengar bersamaan dengan sebuah mobil yang terparkir di depan halte, hal tersebut otomatis membuat semua orang yang sedang ada di halte tersebut menoleh, tak terkecuali Hyunhee dan Daniel. Dari mobilnya, Hyunhee sudah tau siapa orang tersebut. Namun lagi-lagi, sang pengendara membuka atap mobilnya dan nampaklah orang tersebut. Siapa lagi jika bukan Sehun.

Tapi apa kalian tau? Rasanya baru kali ini Hyunhee merasa lega dapat melihat pria itu, menurutnya saat ini bersama Sehun lebih aman ketimbang dengan teman sekelasnya –Daniel. Tanpa menunggu, Hyunhee langsung saja menghampirinya dan naik ke mobil.

“Ayo jalan,” titah Hyunhee cepat.

Sehun menuruti dan segera menginjak pedal gas –nya.

“Maaf lama, tadi aku masih ada rapat,” ucap Sehun sembari masih fokus menyetir.

“Tak apa,” jawab Hyunhee tanpa menoleh pada Sehun.

“Apa kau sudah makan?”

“Belum,” jawab Hyunhee apa adanya.

“Bagus, karena aku juga lapar dan ingin makan makanan buatanmu,” ucap Sehun terdengar antusias.

Hyunhee menatap tak percaya pada orang di sebelahnya. Dia pikir, Sehun bertanya lantaran hendak mengajaknya makan di luar. Hyunhee menghela nafasnya kasar, Sehun tak selamanya perhatian. Dia lelah setelah seharian kuliah, tapi saat pulang malah di suruh memasak.

_____________

♦––○ IFA ○––♦

_____________

Belum sepekan Hyunhee menjalani masa kuliahnya, tapi dia sudah merasakan betul lelahnya, di tambah juga karena urusan rumah (tangga) nya. Bahkan hingga hari semakin larut, dia masih di sibukan dengan tugas kuliahnya. Hyunhee bersama dengan empat teman sekelompoknya, mereka sedang berada di sebuah kafe.

“Eughhh …,” suara lenguhan dari seorang pria disertai sedikit peregangan otot, lantaran dia merasa pegal karena sudah duduk berjam-jam. “Tolong … jika besok mau kerja kelompok lagi, jangan di tepat umum seperti ini. Punggung, kaki dan bokongku pegal,” keluhnya –Kang Daniel.

Ya, Hyunhee lagi-lagi harus berurusan dengan pria itu, bahkan dalam hal tugas kelompok. Kang Daniel, pria itu seenak jidatnya sendiri menarik dirinya masuk ke dalam kelompoknya. Sementara anggotanya yang lain adalah temannya sendiri; Hwang Minhyun, Ong Seongwoo dan seorang gadis –Jung Yoomi yang merupakan kekasih dari Hwang Minhyun.

“Kang Euigeon~ kalau dari tadi ada yang bersedia rumahnya dijadikan tempat untuk kita kerja kelompok, kita juga tak akan repot-repot mengerjakan tugas di kafe ini!” ucap Seongwoo geram.

“Kalau begitu di rumahmu saja,” balas Daniel pada Seongwoo.

“Kau ini benar-benar cari ribut ya! Kitakan tinggal barengan, bego!” ucap Seongwoo yang sudah mengeraskan rahangnya.

Sementara Hyunhee mulai menatap aneh pada dua pria yang hadapannya, kini ekspresinya itu tertangkap basah oleh Yoomi yang duduk di sebelahnya.

“Mereka nge –kos,” ucap Yoomi memberi klarifikasi.

Hyunhee ber –oh ria.

“Oppa –ya … kenapa kita tidak mengerjakannya di rumahmu saja?” ucap Yoomi di sertai nada dan ekspresi imut.

“Aku tidak masalah, Chagi –ya,” jawab Minhyun lembut pada pacarnya. Namun selanjutnya dia langsung melempar tatapan tajam dan menunjuk dua pria di hadapannya. “Tapi mereka itu orangnya jorok, aku tidak rela rumahku yang suci jadi ternodai,” jawabnya sarkastis pada Daniel dan Seongwoo.

“Minhyun –ah, tenang saja … nanti kami akan bertanggung jawab karena telah menodai rumahmu yang suci,” balas Seongwoo dan Daniel manggut mengiyakannya.

Sementara yang lainnya saling tunjuk dan melempar pendapat soal rumah siapa yang akan di gunakan untuk kerja kelompok, Hyunhee hanya diam menyimak. Hingga sebuah suara manis menyapanya.

“Hyunji –ya, bagaimana dengan rumahmu?” tanya Yoomi. Seketika Hyunhee menjadi objek perhatian seluruh anggota kelompoknya.

Hyunhee tersenyum kikuk menanggapi pertanyaan mendadak dari Yoomi. “Hah? Ahhh … di rumahku sepertinya juga tidak bisa, karena ada seseorang yang sangat cerewet, rese’ juga pengganggu,” dalih Hyunhee.

Akhirnya keputusan kembali jatuh pada pilihan pertama, rumah Minhyun. Meskipun sang empu sebenarnya masih sangat keberatan. Jelas saja, dia itu pria pecinta kebersihan dan dua temannya itu sampah yang suka membuang sampah sembarangan. Dan pembicaraan mereka selesai sampai di situ, selanjutnya satu-persatu dari mereka undur diri.

°

Semilir angin malam menyapu permukaan kulit seorang gadis dan membuatnya mendekap erat tubuhnya sendiri untuk menghalau dingin. Hyunhee masih menunggu Sehun untuk menjemputnya, sebab dia tak di ijinkan pulang sendiri dengan kendaraan umum seperti bus atau taksi. Dan ditengah lamunannya, sebuah klakson berbunyi hingga mengagetkan Hyunhee.

“Hyunji –ya, kau masih di sini?”

Hyunhee menatap malas sekaligus heran pada seorang pria yang menyapanya barusan, Kang Daniel. Bukankah dia sudah pulang lebih dulu darinya? Tapi kenapa dia masih saja bertemu dengan pria itu saat ini.

“Hey! Sepertinya jemputanmu datang terlambat lagi. Mau ku antar pulang?” tanya Daniel dengan senyumannya. Namun selanjutnya pria itu langsung mengaduh lantaran terantuk helm di bagian belakang kepalanya.

“Kalau kau mengantarnya pulang, aku dengan siapa?” protes seseorang yang duduk di belakang Daniel, Seongwoo.

“Kau ini, tidak pengertian sekali! Seorang gadis sedang sendirian menunggu di halte, bagaimana jika ada orang jahat yang mengganggunya?” omel Daniel menasehati temannya itu.

“Kalau begitu beri aku ongkos untuk naik taksi,” pinta Seongwoo sembari menengadahkan tangannya pada Daniel.

“Aku tidak punya uang.” Daniel menepis kasar tangan Seongwoo. “Lagian kenapa malah minta uang ke aku? Kan kau yang mau pulang sendiri. Pake naik taksi pula, kebanyakan gaya!”

“Kang Euigeon~ kalau jam segini masih ada bus yang beroperasi, aku juga gak bakal minta naik taksi! Ampun ya … minta dihajar?!” balas Seongwoo yang sudah emosi.

Hyunhee geleng-geleng kepala menyaksikan percekcokan antara dua pria yang saling berteman itu. Namun dalam benak Hyunhee, mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Menggelikan.

“Aku tidak perlu diantar. Sudah kubilang –kan, aku akan dijemput. Kalian pulanglah,” ucap Hyunhee bermaksud menghentikan pertengkaran mereka sekaligus mengusirnya.

“Tidak. Tidak. Aku bukan pria yang berhati batu sehingga tidak peduli pada seorang gadis malang,” ucap Daniel sembari turun dari motornya dan menghampiri Hyunhee. “Aku akan menunggu bersamamu hingga orang yang menjemputmu datang.” Kini Daniel sudah duduk di samping Hyunhee.

Hyunhee menghela nafasnya –pasrah.

Bersama Daniel yang duduk di sebelahnya dan Seongwoo yang masih setia duduk di jok motor milik Daniel, Hyunhee menunggu kedatangan seseorang yang hendak menjemputnya. Sekitar tiga puluh menit berlalu, barulah orang tersebut datang. Kali ini dia menggunakan mobil jenis SUV, Hyundai Tucson. Hyunhee bahkan sudah tak dapat mengiranya lagi, sebab pria itu sering berganti-ganti mobil setiap hari. *Syukurlah bukan ganti pacar tiapa hari. #Eh .. o_O

Pria itu turun dari mobilnya dan menghampiri Hyunhee, bersamaan dengan Hyunhee yang beranjak dari duduknya –Daniel juga ikut berdiri. Namun Daniel langsung menghalau jalan pria itu, yang merupakan Sehun.

“Tuan, kau benar-benar keterlaluan. Kau tau, berapa lama dia menunggu? Hampir satu jam! Sendirian ditengah malam dengan udara dingin, bisa kau bayangkan mungkin saja dia ketakutan? Dan aku bukan pertama kali melihatnya menunggumu. Jadi jika kau tak bisa menjemputnya tepat waktu, biarkan dia pulang sendiri,” omel Daniel pada seorang yang tak lain adalah Sehun.

Setelah Daniel selesai bicara, Sehun tampak maju dan menarik kerah jaket milik Daniel. Baik Hyunhee maupun Seongwoo yang melihat hal tersebut langsung memisahkan mereka, agar tidak terjadi perkelahian.

“Sudah, berhenti!” sentak Hyunhee sembari menahan dada Sehun. “Daniel –ah ; Seongwoo –ya, aku pulang dulu. Terima kasih sudah menemaniku,” ucap Hyunhee dengan nada suara sopan. “Maafkan juga dia,” kali ini Hyunhee berucap sedikit berbisik. Hyunhee benar-benar merasa tak enak dengan dua temannya itu yang telah baik menemaninya, tapi Sehun malah emosi hendak menghajar.

Dan di mobil, saat Sehun berkali-kali memanggil gadis itu –Hyunhee mendiaminya. Bahkan hingga mereka sampai di apartemen, Hyunhee masih tak acuh pada Sehun.

“Hyunji –ya, aku benar-benar minta maaf. Aku hanya takut kau –,” sebelum Sehun menyelesaikan ucapannya, Hyunhee mengintrupsinya.

“Berhentilah berpikiran buruk tentang orang lain!” Tersulut sudah emosi Hyunhee, kini dia menyahut dengan nada suara tinggi. “Yang dikatakan Daniel itu benar, aku bahkan sangat takut tadi saat menunggumu datang.” Lagi. Hyunhee kembali menitikan air matanya, itu adalah perasaan tertahannya. Selama beberapa hari Sehun terus membuatnya menunggu sendirian disaat gelap dan sepinya malam.

Sehun menghampiri gadis itu hendak memeluknya, tapi Hyunhee lebih dulu berbalik dan melangkahkan kaki menuju kamar lalu terdengarlah bunyi dentuman pintu yang keras.

___ __ ___

Tampaknya tidak ada seorang –pun lagi yang ada disisi Hyunhee, itulah yang tengah gadis itu rasakan saat ini. Sebab saat dia terbangun pagi ini, Sehun sudah tak ada di apartemennya. Tampaknya pria itu berangkat ke kantor pagi sekali, karena Hyunhee saja pukul lima sudah bangun. Akhirnya Hyunhee pergi ke kampus sendiri dengan menggunakan bus.

Bahkan hingga kegiatannya berakhir hari ini, tak ada kabar dari Sehun. Bukannya Hyunhee mengharapkan perhatian dari Sehun, hanya saja dia tak suka jika merasa sendiri. Haruskah jika dirinya pulang ke rumah orang tuanya saja? Akan dia lakukan jika dirinya sudah merasa baikan dengan Chanyeol oppa.

“Kau menunggu jemputan lagi?” tanya Daniel yang baru keluar dari rumah Minhyun sehabis beberes rumah.

“Tidak sepertinya,” jawab Hyunhee terdengar ragu. “Bisa kau mengantarku?” tanya Hyunhee kali ini, dia tengah meminta.

Mata Daniel langsung membentuk eyes smile, lalu dia menghampiri motornya untuk mengambil helm ekstra dan memberikannya pada Hyunhee. “Ayo,” ajak Daniel.

Hyunhee masih hanyut dengan pikirannya, hingga dia perlu ditarik oleh Daniel agar segera naik ke motor.

°

Tampaknya Dewi Fortuna lagi-lagi tak berpihak pada Hyunhee. Di saat gadis itu sampai di kawasan apartemennya bersama dengan Daniel, tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh dengan kilatan kemarahan yang memancar dari sepasang matanya –Oh Sehun.

Pria itu melangkah dalam senyap menghampiri dua orang yang tampak sedang mengobrol akrab. Dengan sekali tarikan di pergelangan tangan, Sehun membawa paksa gadis itu menjauh dari pria yang tengah berbicara dengannya. Dan refleks pria yang menjadi lawan bicara gadis itu langsung menahan sebelah tangan gadis yang terjuntai.

“Ya! Tuan. Bisakah kau bersikap lembut pada seorang wanita?!” teriak Daniel meluapkan kekesalannya.

“Lepaskan tangan kotormu dari istriku!” balas Sehun tak kalah garang sembari menepis tangan Daniel, namun Daniel masih menahannya –meskipun sebelumnya dia sempat terkejut saat Sehun menyebutkan kata ‘istri’. “Ck! Siapa kau, berani ikut campur mengurusi rumah tangga orang lain?” Sehun memandang rendah Daniel dengan sorot matanya.

“Tuan, aku memang tidak tahu tentang urusan rumah tangga, tapi setidaknya aku tau bagaimana memperlakukan wanita dengan baik, tidak sepertimu,” balas Daniel dengan nada suara lebih pelan namun terkesan merendahkan bagi Sehun.

“Daniel –ah, gwaenchana. Kau pulanglah, ini sudah larut,” ucap Hyunhee lembut disertai tatapan teduhnya.

Daniel melonggarkan genggaman tangannya di lengan Hyunhee, hingga gadis itu dapat dibawa pergi oleh pria yang berstatus suaminya itu.

Sehun menghempaskan begitu saja tangan gadis itu sesampainya mereka di dalam apartemen.

“Hyunji –ya, bukankah aku sudah memperingatkanmu agar kau tidak dekat dengan sembarang pria?! Aku tak suka!” bentak Sehun.

Oh Tuhan~ Hyunhee tak suka mendengar bentakan, karena itu dia saat ini menundukan wajah untuk menyembunyikan kekalutannya.

“Oh Hyunji! Tidakah kau dengar aku sedang bicara denganmu?! Dimana tata kramamu saat orang tengah bicara denganmu? Tatap aku!”

Lagi. Sehun bicara dengan membentaknya kembali, Hyunhee takut. Namun dia tetap mengikuti perkataan pria itu dan menatapnya, tentu dengan mata yang sudah menggelinang dengan cairan bening.

Sehun meremas rambut –frustrasi. Dia melihat gadis itu menangis, dan dia membenci itu. “Kenapa kau jadi cengeng sekali, eoh?!” marah Sehun.

Hyunhee mengatupkan bibirnya rapat-rapat, guna menahan isakannya agar tidak keluar dan terdengar oleh pria itu. Sungguh, dia bahkan sebelumnya tak pernah menerima kemarahan seperti ini dari anggota keluarganya.

Hyunhee menarik ucapannya tentang Sehun yang rela berkorban untuk mencari Hyunji atau betapa dia mencintai kembarannya itu. Yang ada dibenaknya sekarang adalah Sehun pria yang sangat buruk dan dia pantas ditinggalkan oleh Hyunji.

Hyunhee bahkan menyesali keputusannya membantu pria itu dan mulai berpikir jika dia tak membantunya maka pria itu mungkin sudah ada di bawah gundukan tanah atau menjadi abu, paling tidak lumpuh karena terjun dari atap, sehingga dirinya tak akan semenderita ini karena pria itu.

Tapi penyesalan, hanya tinggal penyesalan. Waktu tak dapat diputar mundur. Dan kita hanya dapat melangkah maju sembari memperbaiki kesalahan yang telah terjadi dan belajar agar tidak terulang melakukan kesalah yang sama. Itulah hidup. –IFAngel.

Seakan kehilangan akal sehatnya, Sehun secara membabi buta meraup kasar bibir milik gadis itu, dan bergerak semakin liar melumat, menghisap hingga menggigitnya –nafsu telah menguasainya. Bahkan sepertinya Sehun tak memikirkan ciumannya yang kini bercampur rasa asin akibat tetes air mata gadis itu.

Sementara Hyunhee terus mendorong tubuh Sehun dengan sisa tenaganya, tapi Sehun mengunci tubuhnya terlalu erat. Disela-sela bibirnya yang masih gencar diburu oleh Sehun, Hyunhee meringis karena pria itu baru saja menggigit bibirnya hingga dia merasakan perih.

Namun keterkejutannya tidak berhenti sampai disitu, mata Hyunhee terbelalak saat dia merasakan jemari kekar menyusup masuk ke dalam kemejanya hingga menyentuh permukaan kulit punggungnya. Marah? Jelas. Hyunhee sangat marah lebih dari apapun. Perlakuan Sehun sudah di luar batas menurutnya, bukan saja marah, Hyunhee juga merasa dirinya begitu hina dan terlecehkan oleh pria itu.

“Oh Sehun, je … jebal, hentikan,” ucap Hyunhee dengan sudah payah.

Tapi seakan tuli, Sehun terus mengabaikan ucapan memohon dari gadis itu dan terus mencumbunya. Hingga tubuh gadis itu yang sebelum terus dirasa bergetar, kini telah tenang tanpa ada pemberontakan lagi.

Awalnya Sehun tak memperdulikannya, dia malah berpikir jika gadis itu mungkin telah menerimanya. Namun detik selanjutnya, dia menyadari kejanggalan. Sehun merasakan beban yang tiba-tiba jatuh di tubuhnya, Sehun lantas melepaskan kungkungannya pada tubuh gadis itu. Sungguh tak dapat di percaya, ternyata gadis itu sudah terkulai lemas dan tak sadarkan diri.

Penyesalan langsung menyergap diri Sehun, tapi tak lantas membuatnya kalut. Sehun segera menggendong gadis itu dan di bawa ke kamarnya untuk di baringkan di ranjang.

[TBC]

Bagaimana kelanjutan hubungan Sehun-Hyunhee setelah ini?

°

Oh My God!! Igeo mwoya?! Sehun. Neomu sekiya!!! Nappeun namja!!

Hahahhahhh … I think, I was crazy. Oh God

Sumpah, aku gak ngira karakter Sehun jadi seberingas ini … Emosi aku ngalir begitu aja seiring ide yang masuk ke pikiran aku dan semua aku tumpahkan dalam tulisan …

Pas ak baca ulang, aku ngerasa aneh sendiri. Tapi mau di apus, sayang.. Kkkk~

Aku minta maaf kalau ini terlalu vulgar dan membuat kalian gak nyaman atau merasa tercemari otaknya. Couse I feels.

Dan … Hmmmmm~ rasanya baru chapter sebelumnya (16) aku buat Sehun jadi ada manis-manisnya kayak L* Min*ral, tapi sekarang udah balik lagi jadi The Beast dalam kartun Beauty and The Beast. Sabar ya, kalian … dengan karakter Sehun yang roller coaster itu.

♥♥ Special thank to … Kang Daniel, Ong Seongwoo dan Hwang Minhyun (Wanna One) atas kehadirannya di chapter ini. Semoga di chapter selanjutnya bisa ketemu kalian lagi. ♥♥

Honor kalian akan kubayar saat aku bisa ketemu kalian secara langsung –dengan pelukan hangat penuh cinta. 😀

°

See you next chapter

#XOXO

27 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 17)”

    1. Sebut saja Sehun itu angsa atau soang yg demen nyosor xD
      Jongin suatu saat bakal balik .. Kita pantau aja Suho, jitak kalo gak nepatin janji buat balikin Jongin .. 😀

  1. Hayoooo loh..thor..sehun kenapa jadi bener2 “bad” haha…,kayaknya bakal ada yang mulai nurut sama sehun tar nih…thor g lupa kan kalo masih ada pemeran utama lagi “Hyunji”..wkwk

    1. Hahhah .. Kenapa ya? 😀 kamu boleh salahkan otakku yg sepertinya saat itu koslet jadi imbasnya ke karakter Sehun ..
      Siapa yg nurut? Hyunhee? Hmmm .. dia memang begitu.. tipe seseorang yang lain diucap, lain tindakan. Bilang nolak/gak, tapi tetap dilakuin atau nurut.
      Nggk donk, aku gak bakal lupa sama Hyunji ..
      Dia selalu tersimpan dihatiku ❤

  2. Makin kasian sama Hyunhee, jangan sampe Sehun menyentuhnya dia milik Jongin 😥 Gak rela. Sehun kyaknya bener2 buta deh, dia gk bisa bedain pacar sendiri dengan sdr kembar pacarnya, padahal karakter mereka berbeda. Hyunji gk lemah dan gk cengeng, di bentak dikit bakal langsung ngelawan sedangkan Hyunhee bakal nangis. Hyunji dan Jongin gada rencana muncul gitu buat nolongin Hyunhee?? 😦

    1. Di wanti-wanti aja tuh Sehun.. Ini aja dia udah macam-macam U_U Sepertinya Sehun memang buta .. Dia cuman liat fisik yg serupa .. Maklum, baru kenal berapa bulan langsung lamar .. Butuh PDKT dia biar kenal .. Tapi ini malah sama Hyunhee >o<
      Mereka akan muncul kok .. *.*

  3. Hidup sebagai hyunji bener2 berbanding terbalik buat hyunhee.. aku ko masih ngrasa ngga suka aja gtu ngliat sehun sama hyunji. Apa sehun ngga ngrasain perbedaannya, mngkiN klo hyunji yg di bentak2 dia akan nglawan dan malah balik marah. Nah kalo hyunhee kan beda.. heh cepet kembaliin hyunji deh authornim, udh ngga tahan rasanya liat kebohongan ini 😪😥

    1. Gak suka liat Sehun sama Hyunji? Maksudnya Hyunhee?
      Aku gak memaksamu buat suka kok >o< Ikuti saja kata hatimu… Jiah~
      Hehehe … pasti aku baikin kok Hyunji nya .. 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s