[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 19)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 19]

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt and Marriage Life

Rating : PG – 13

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi || #16 || #17 || #18

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Raerim meninggalkan Hotel setelah urusannya selesai dengan Hyunhee, tapi dia masih terus berjalan hingga ke jalan besar lantaran hendak naik kendaraan umum dari halte. Alasannya? Dia hendak membelikan obat dulu untuk Hyunhee. Biarpun saat ini Raerim dalam trisemester pertama, dia masih cukup mampu berjalan. Ckckck … ibu hamil yang satu ini memang tangguh, ya. Semoga anak dalam kandungannya juga sama tangguhnya.

○○○

Sehun melajukan mobilnya menuju Hotel tempat istrinya berada, setelah tiga hari dia menahan rindu karena hanya dapat melihat sosok gadis itu dari jauh, maka saat ini Sehun melancarkan niatnya. Bermodalkan informasi dari orang suruhannya, Sehun mendapatkan lokasi sekaligus aktivitas gadis itu setiap saatnya. Ya. Sehun memata-matai gadis itu. Kalian tau? Hal tersebut bukan perkara sulit bagi Sehun, mengingat besarnya kekuasaan yang pria itu miliki dan Sehun cukup cerdas menebak langkah Xiumin.

Namun diperjalanan, Sehun menghentikan laju mobilnya lantaran melihat sosok seorang perempuan yang tampak familiar baginya. Sehun menepikan mobilnya dan keluar seraya menghampiri orang tersebut.

“Raerim noona!” panggil Sehun dan orang tersebut menoleh bersamaan dengan terbitnya ekspresi terkejut dari raut wajahnya. “Lama tak jumpa, bagaimana kabarmu?” sapa Sehun bersahabat diiringi dengan senyum pria itu.

Seakan masih mengontrol keterkejutannya, Raerim terlambat merespon. Dirinya sungguh menyadari, jika lambat laun dia akan bertemu dengan Sehun. Tapi tetap saja, di saat ini –pun dia tak siap. “Baik,” jawab Raerim singkat.

“Hanya itu?” Sehun mempertanyakan jawaban dari Raerim yang terlampau singkat, menurutnya. “Kau tidak penasaran denganku, Noona?” Sehun dengan narsisnya sengaja memancing Raerim untuk mengulik hidupnya.

Raerim terkekeh menanggapi sikap narsis Sehun. “Kau bukan selebriti, Hun –ah. Jadi aku tak penasaran akan hidupmu,” balas Raerim. Lebih dari apapun, sebenarnya dia cukup banyak tahu tentang Sehun. Dia punya seseorang yang dengan sukarela berbagi cerita, suaminya –Park Chanyeol.

Dan Sehun –lah yang tak tau apapun tentang dirinya, termasuk hubungan mereka saat ini yang menjadi satu keluarga.

Jika melihat interaksi Sehun dengan Raerim saat ini, mereka terlihat baik-baik saja, bukan? Bahkan tampak akrab. Tapi siapa yang tau akan sesuatu yang pernah terjadi diantara mereka. Hal itu sudah lama berlalu dan mereka telah menyelesaikan masalah tersebut, termasuk melupakannya. Namun terkadang, sisa-sisa dari masa lalu kembali muncul dan menimbulkan pertanyaan.

Raerim menatap sendu Sehun. “Hun –ah,” panggil Raerim dan menghentikan kicauan panjang Sehun.

Sehun menoleh. “Ya, ada apa?”

“Apa kau saat ini bahagia?” tanya Raerim yang menanggapi pembicaraan Sehun sebelumnya, lantaran pria itu terus membahas soal pernikahannya.

Sudut bibir Sehun tertarik membentuk senyuman, bahkan sorot matanya –pun memperihatkan betapa dia bahagia saat ini. “Ya, tentu saja. Biarpun saat ini aku sedang terlibat pertengkaran dengan istriku.”

Raerim membulatkan matanya –tak percaya. Pikirnya, apa yang Sehun perbuat hingga terjadi pertengkaran dengan istrinya itu, Hyunhee. Adik iparnya sungguh malang, bukan saja harus menanggung hidup sebagai orang lain dan menikahi pria lain yang bukan seseorang yang dia cintai. Tapi setelah semua itu –pun, rumah tangganya tak berjalan baik.

Dan Raerim merasa buruk, lantaran tak menyadari atau bertanya tentang penderitaan Hyunhee. Padahal sebelumnya dia bertemu gadis itu dan melihat sendiri kondisinya yang sedang sakit.

Sehun menghembuskan nafasnya.

“Apa kau masih saja bersikap posesif?” terka Raerim dengan nada bicara yang kini meninggi. “Jebal … Sehun –ah, berhentilah,” mohon Raerim. “Jangan sampai kejadian seperti Yerim terulang kembali!” sentak Raerim lantaran sudah emosi.

Sehun mengepalkan tangannya, ketika sebuah nama yang tak asing –dia dengar kembali. “Noona, bisakah kita tak membahas wanita rubah itu saat ini?!” ucap Sehun sarkastis.

“Oh Sehun! Jaga ucapanmu! Siapa yang kau sebut rubah?!” Lagi. Raerim masih tak dapat mengontrol nada suaranya, yang kini bahkan sudah jauh meninggi dan syarat akan amarah.

Nonna, hingga saat ini –pun kau masih membela dan mengaggap dia yang benar, lalu menyalahkanku?” tanya Sehun tak percaya. “Sadarlah Noona, dia itu memang licik. Dia mendekatiku hanya demi harta, dan setelah mendapatkannya dia pergi dengan pria lain.”

“Kau sangat salah, Sehun –ah!” hardik Raerim. “Dan berhentilah berkata hal buruk pada orang yang telah tiada!”

Mata Sehun membulat ketika mendengar penuturan Raerim. Dan melihat reaksi Sehun itu, Raerim dapat menyimpulkan bahwa pria itu tak mengetahui hal tersebut.

“Kapan? Bagaimana bisa?” tanya Sehun masih dengan rauh wajah terkejutnya.

Raerim menghela nafasnya dalam, menceritakan tentang Yerim seperti membuka luka lamanya kembali.

Noona, kenapa hanya diam saja? Katakan padaku,” pinta Sehun sembari menggenggam pergelangan tangan Raerim.

“Akan aku ceritakan, hanya saja tidak sekarang, karena aku harus pergi ke suatu tempat,” dalih Raerim. Namun sebenarnya dia enggan.

Noona mau kemana? Biar aku antar, dengan begitu kau dapat ceritakan selama diperjalanan,” ucap Sehun masih mendesak Raerim untuk menceritakan tentang Yerim.

“Hun –ah,” panggil Raerim pelan pada pria itu, bermaksud agar orang tersebut mengerti keengganannya.

“Raerim eonnie!” seru seorang gadis memanggil namanya dan dengan begitu Raerim terselamatkan.

Raerim dan Sehun yang sedang berbincang langsung menoleh saat mendengar suara milik seorang gadis yang mereka kenal.

Eonnie, ponselmu ketinggalan,” ucap Hyunhee dan memberikan ponsel milik Raerim.

“Terima kasih,” jawab Raerim.

Hyunhee hanya bicara dengan Raerim dan mengabaikan seorang pria yang terus menatapnya dengan sendu –Oh Sehun.

“Hyunji –ya,” panggil Sehun yang sepertinya sudah tak tahan diabaikan oleh gadis itu.

Hyunhee tak menanggapi panggilan Sehun dan masih bicara pada Raerim. “Eonnie, apa kau akan naik bus? Sudah naik saja taksi, ya.”

Sehun menarik tangan gadis itu untuk mendapatkan perhatiannya.

“Kenapa?!” sentak Hyunhee sembari menepis tangan Sehun.

Nggggg …

Hyunhee merasakan telinganya berdengung dan rasa pusing mulai menderanya, Hyunhee refleks memegangi kepalanya dan selanjutnya dia limbung terjatuh –tak sadarkan diri. Sehun lantas menangkap tubuh gadis itu sebelum jatuh.

“Ya Tuhan … Hyunhee –ya,” seru Raerim menyebut nama milik gadis itu sembari ikut berjongkok hendak membantu.

Sepertinya Sehun lebih sibuk mengurusi gadis yang tengah tak sadarkan diri itu dalam yang berada dalam dekapannya, hingga tak memperhatikan seseorang yang salah menyebut nama. Sehun lantas bangun dan menggendong gadis itu, lalu dia membawanya masuk ke mobilnya.

___○– IFA –○___

Sesampainya di Hotel dan menuju kamar, Sehun segera membaringkan tubuh Hyunhee di ranjang dan dibantu Raerim untuk membukakan sepatu gadis itu.

Sehun menghembuskan nafasnya berat melihat kondisi sang Istri yang sedang terbaring tak sadarkan diri dan tengah sakit itu. Hal tersebut kembali membuatnya teringat akan tindakan brengseknya tempo hari pada gadis itu dan Sehun merutuki kesalahannya yang mungkin saja menjadi penyebab buruknya kondisi gadis itu.

Sembari menunggu datangnya Dokter, Sehun duduk di pinggir ranjang –disebelah Istrinya terbaring. Begitu juga dengan Raerim yang ikut menunggu Hyunhee, dia duduk di bangku dekat nakas.

Noona, jadi kau mengenal Istriku?” tanya Sehun pada Raerim.

Raerim harus bilang apa, tentu saja –iya. Bahkan mereka itu satu keluarga.

Sehun menatap tak percaya akan penjelasan Raerim. Haruskah dia bilang jika ini adalah suatu kebetulan dan dunia ini sangat sempit.

“Kenapa aku tidak tau jika Noona menikah dengan Chanyeol hyung? Kapan kalian menikah? Aku tak diundang?” tanya Sehun retoris.

Raerim menanggapinya dengan senyuman kecil.

“Eungg …,” suara lenguhan dari seorang gadis mengintrupsi pembicaraan Sehun dan Raerim.

“Hyunji –ya, kau sudah sadar?” tanya Sehun dan menggenggam tangan gadis itu.

Hyunhee yang masih setengah sadar, dia langsung menarik tangannya dari Sehun dan menjauh –alarm tanda bahayanya bereaksi cepat terhadap keberadaan Sehun.

Sehun menatap sendu kearah gadis itu, lalu dia beranjak bangun dari ranjang. “Sepertinya aku perlu menghubungi Dokter kembali. Kenapa sampai sekarang belum datang?” gerutu Sehun sembari keluar dari kamar.

Raerim mendekati ranjang sembari membawa segelas air dan memberikannya pada Hyunhee. “Minumlah dulu.” Hyunhee menerima gelas tersebut dan segera menandaskan isinya. Raerim menerima gelas kosong itu. “Mau ku ambilkan minum lagi?” tawar Raerim.

“Tidak, terima kasih Eonnie,” tolak Hyunhee halus.

Raerim menyentuh kening Hyunhee dengan telapak tangannya, panas. “Apa yang kau rasakan saat ini?” tanya Raerim memastikan kondisi Adik Ipar –nya itu.

“Tidak jauh berbeda dari sebelumnya, masih tetap pusing dan terasa mual,” jawab Hyunhee.

Raerim menghembuskan nafasnya. “Kalau begitu kenapa tadi kau malah keluar?” omel Raerim.

“Untuk mengembalikan ponsel Eonnie yang tertinggal,” awab Hyunhee sekenanya. “Lalu kenapa Eonnie ada di halte tadi? Bukannya naik taksi dari Hotel saja. Eonnie ~ perhatikan kondisimu yang saat ini sedang hamil.” Kali ini giliran Hyunhee yang mengomel pada Kakak Ipar –nya itu.

“Aku mau membelikan obat untukmu,” jawab Raerim dan langsung membungkam Hyunhee, gadis itu kali ini terharu karena perhatian sang kakak ipar.

Hyunhee langsung berhambur kepelukan Raerim. “Terima kasih Eonnie, kau masih peduli padaku. Senang rasanya aku, ada kau disini,” tutur Hyunhee dan  dia menitikan air mata bahagianya.

Raerim membalas pelukan Hyunhee dan memberikan tepukan lembut dipunggung gadis itu. “Semua orang peduli padamu, sayang. Jangan menganggap dirimu sendiri. Pertama, kau berbaikanlah dengan Chanyeol oppa.”

Hyunhee melonggarkan pelukannya dan menatap Raerim. “Baiklah, aku akan berbaikan dengan Chanyeol oppa dan Eonnie temani aku,” jawab Hyunhee meminta.

Raerim terkekeh. “Dia Oppa –mu.”

Lihat? Gadis itu mudah sekali dibujuk. Sebelumnya dia menolak, kini dia menurut.

̥

Dokter telah datang dan segera melakukan pemeriksaan pada Hyunhee, sementara Sehun dan Raerim berdiri tak jauh dari ranjang sembari mendengarkan dengan seksama penjelasan sang Dokter mengenai kondisi gadis itu –tak terkecuali yang juga ikut mendengar penjelasan Dokter tentang kondisinya.

Dokter hanya bilang, itu hanya deman biasa dan tidak ada indikasi penyakit serius –sebab Sehun sudah sangat heboh dan panik sendiri saat gadis itu sakit. Bahkan Sehun meminta gadis itu mengikuti medical check-up.

Selanjutnya Dokter menambahkan, timbulnya penyakit tersebut dapat disebabkan oleh tekanan pikiran dan pola makan yang tidak teratur –Hyunhee manggut, mengiyakan ucapan Dokter tersebut.

Setelah melakukan pemeriksaan dan sedikit penjelasan, sang Dokter langsung meresepkan obat untuk gadis itu dan memberikan suntikan vitamin sebelum obat ditebus. Tentu itu bukan hal yang mudah, sebab Hyunhee sudah berdiri dan melompat dari ranjang saat Dokter mengeluarkan alat suntik.

Perlu usaha ekstra untuk membuat Hyunhee mau disuntik dan Hyunhee berakhir dipelukan Raerim saat Dokter mulai menyuntikan cairan mengandung vitamin itu. Setidaknya sedikit ringisan keluar dari mulut gadis itu.

°

Waktu menunjukan pukul sebelas malam, artinya sekitar satu jam lagi akan menuju tengah malam dan pergantian hari. Oh Sehun, dia masih terjaga dalam posisi duduk di ranjang sembari memegangi lembaran dokumen pekerjaannya. Di sebelahnya terbaring lelap seorang gadis dengan handuk basah diatas keningnya, sebagai kompres.

Disela-sela kegiatan membacanya, Sehun membasahi kembali handuk kecil itu untuk mengompres demam dari Istri –nya. Tak jarang juga Sehun mengusap lembut puncak kepala atau wajah gadis itu tatkala mendengar suara lenguhan atau rancauan tak jelas dari gadis itu. Mengigau memang biasa terjadi ada seseorang yang sedang mengalami demam.

Gadis itu memanggil-manggil anggota keluarganya, bahkan hingga namanya sendiri –Hyunji. Cukup aneh pikir Sehun. Namun ada sebuah nama yang membuat benak Sehun tak nyaman –Jongin Oppa.

Itu nama seorang pria, bukan? Jelas-jelas dia memangginya ‘Oppa’. Sehun mencoba mengingat-ingat, sepertinya dia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi siapa? Sehun tidak menemukan titik terang.

Selanjutnya Sehun memilih menaruh lembaran dokumennya dan tidur seraya merengkuh tubuh gadis itu. Sebuah kecupan lembut dia jatuhkan disalah satu kelopak mata gadis itu, sebelum dia menutup mata dan terlelap.

_____________

♦––○ IFA ○––♦

_____________

Sinar mentari mendesak masuk melalui celah tirai jendela, cahayanya menusuk indra penglihatan seorang gadis dan memaksanya untuk bangun dari buaian mimpi. Hyunhee, gadis itu menerjapkan mata dengan malas. Sedikit peregangan dia lakukan sebelum bangun.

Sebuah handuk kecil dia temukan mendarat dipangkuannya saat dia memposisikan duduk dari tidurnya, lantas dia mengambil handuk tersebut dan menaruhnya pada wadah yang terletak diatas nakas.

Hyunhee turun dari tempat tidur, dia merapihkan terlebih dahulu ranjang yang merupakan singgasananya semalam dan bergegas keluar dengan membawa wadah berisi air juga handuk itu keluar kamar.

Ditemukan seorang pria sedang duduk di sofa berhadapan dengan televisi yang menyiarkan berita, Oh Sehun. Detik selanjutnya mata mereka beradu tatap –terjadi keheningan sejenak.

“Kau sudah bangun,” ucap Sehun pada gadis yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamar, sembari bangun dan menghampiri gadis itu.

“Ya,” jawab Hyunhee singkat.

Sehun meraih wadah yang dipegang Hyunhee. “Biar aku saja yang bawa,” ucap Sehun dan mengambil wadah itu. Lalu menggandeng pergelangan tangan Hyunhee dan menuntun gadis itu menuju dapur. “Sekarang kau harus makan, setelah itu minum obatmu,” ucap Sehun seperti sebuah titah.

Sehun menarik kursi untuk gadis itu duduk, setelahnya dia beralih menuju microwave dan tampak memasukan sesuatu ke dalam sana. Sekitar tiga menit Sehun kembali mendatangi gadis itu dengan semangkuk bubur dan segelas air mineral, lalu dia duduk di hadapan gadis itu.

Hyunhee memandangi mangkuk berisi bubur itu, lalu bergantian menatap Sehun.

“Kenapa tidak dimakan? Tenang saja, ini bukan masakanku. Aku membelinya tadi pagi,” jawab Sehun seakan mengetahui jalan pikiran gadis itu.

Hyunhee mulai mengambil sendok, namun selanjutnya menaruhnya kembali –membuat Sehun menatapnya bingung.

“Kau sudah makan?” tanya Hyunhee.

“Belum.”

Hyunhee menghela nafas. “Bubur ini terlalu banyak untukku, kita makan berdua saja, bagaimana?” tanya Hyunhee.

Sehun tersenyum sumringah. Pikirnya, gadis itu sangat memperhatikannya. Selanjutnya Sehun berpindah duduk di sebelah gadis itu.

Kini giliran Hyunhee yang bingung dengan tingkah pria itu.

“Kenapa masih belum dimakan? Mau –ku suapi?” tanya Sehun.

“Tidak! Bukan begitu,” jawab Hyunhee cepat dengan suara sedikit menyentak. “Kau kenapa duduk disini?”

“Kau bilang mau makan berdua.”

Hyunhee menaikan alisnya. Sungguh, bukan itu maksudnya. Ya Tuhan … pria itu lagi-lagi mengartikan lain tentang ucapan Hyunhee. “Maksudku bukan makan sepiring berdua, tapi dibagi dua. Kau ambil piringmu sendiri dan makan sendiri,” jelas Hyunhee dengan nada menekan.

Sehun tersenyum kecut, dirinya terlalu percaya diri. Lalu dia beranjak duduk dan mengambil piring. Hyunhee mulai membagi buburnya ke piring Sehun, setelahnya dia mulai makan.

“Apa ini yang namanya dibagi dua?” tanya Sehun yang melihat isi piringnya lebih banyak. “Aku sengaja membelinya untukmu,” protes Sehun kali ini. Dan sepertinya akan terjadi percekcokan diantara mereka.

“Inipun, aku tak dapat menghabiskannya,” sahut Hyunhee seraya menunjukan mangkuknya. “Lidahku terasa pahit.”

“Setelah ini kau harus minum obatmu, Hyunji –ya,” balas Sehun tak mau kalah. “Makanlah sedikit lebih banyak.”

“Sudah kukatakan, lidahku terasa pahit!”

“Jangan kekanak-kanakan, Hyunji –ya!” sentak Sehun.

Hyunhee terkejut mendengar bentakan dari pria itu, dia terdiam dan menundukan kepala.

Sehun menghela nafasnya kasar seraya mengusap wajahnya. “Hyunji –ya, maafkan aku. Aku tak bermaksud membentakmu.” Kali ini Sehun bersuara lembut. “Itu karena aku sangat khawatir dengan kondisimu dan ingin kau segera sembuh. Kuharap kau mengerti, Hyunji –ya,” jelasnya.

“Ya,” jawab Hyunhee pelan tanpa menoleh pada Sehun. Dia mulai makan kembali, termasuk yang ada di piring Sehun.

Disela-sela gadis itu makan, mulai terjadi keheningan. Namun selanjutnya, Sehun mulai angkat suara. Dan sebenarnya, ini adalah hal yang sudah lama ingin dia utarakan pada gadis itu.

“Hyunji –ya,” panggil Sehun. “Aku minta maaf karena aku sudah menyakitimu tempo hari,” terdengar penyesalan dari nada suara Sehun.

Hyunhee masih menyendokan bubur ke gua mulutnya, bukannya dia tak mendengarkan Sehun, hanya saja dia cukup tak nyaman saat pria itu kembali membahas masalah tersebut.

“Hyunji –ya,” panggil Sehun lagi karena tak mendapat respon. “Kau mau bukan, memaafkanku?” kali ini Sehun memohon.

Hyunhee menaruh sendoknya, bergeming.

Sebenarnya, jika melihat perlakuan Sehun terhadapnya, maka Hyunhee enggan untuk memaafkan pria itu. Tapi setelah semua bentuk perhatian pria itu yang merawat dirinya yang tengah sakit kali ini, itu cukup membuat hatinya luluh.

“Ya,” jawab Hyunhee datar.

“Benarkah? Ahh~ syukurlah.” Sehun lega mendengarnya.

“Tapi aku tak akan memaafkanmu dua kali, aku masih tetap meragukanmu. Jadi, jika kau menyentuhku lagi, jangan harap aku akan berdiam diri,” imbuh Hyunhee terdengar seperti ancaman.

Sehun mengangguk berat.

Keheningan kembali terjadi, hingga Hyunhee menyelesaikan makannya.

“Terima kasih atas makanannya,” ucap Hyunhee beranjak dari duduknya sembari membawa peralatan makan kotornya.

“Biar aku saja yang bereskan,” ucap Sehun dan mengambil alih piring kotor itu. “Minum obatmu dan kembali beristirahat.”

Hyunhee mendehem, mengiyakannya.

___ __ ___

Hyunhee menghempaskan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamar tanpa minat. Sesekali helaan nafas keluar. Dia baru saja bangun, haruskah dia tidur lagi.

Tak lama, pintu kamar terbuka. Sehun masuk dan duduk di pinggir ranjang, Hyunhee jadi ikut terduduk.

“Kenapa bangun? Istirahatlah.”

“Beberapa menit lalu aku baru saja bangun, ingat?” keluh Hyunhee.

Sehun tampak berpikir, kegiatan apa yang dapat dilakukan gadis itu tapi tidak menguras energinya. “Mau nonton?” tawar Sehun. Hyunhee menggeleng. Penolakan gadis itu, kembali membuat Sehun harus berpikir. Tangan pria itu sudah menempel di dagu, layaknya pose orang yang sedang berpikir.

“Bagaimana kalau kita ke rumahmu?”

Ke rumahku?’ batin Hyunhee mulai menimbang-nimbang tawaran pria itu. Itu bukan ide yang buruk, selain itu ada hal yang harus dia selesaikan dengan Oppa –nya, Chanyeol. Hyunhee menyetujui saran Sehun.

“Baiklah,” jawab Sehun terdengar antusias. Dirinya juga memiliki kepentingan dengan Raerim noona. “Kira-kira kita harus bawa apa?”

“Beli saja makanan, semacam camilan atau buah,” jawab Hyunhee.

Sehun mengangguk, paham. Selanjutnya mereka mulai bersiap.

°

°

°

Sehun membuka sabuk pengaman sesampainya di kediaman Keluarga Park, namun saat dia melihat seseorang yang duduk di sebelahnya, Sehun menghela nafas –gadis itu tertidur. Kebimbangan menghampirinya, antara membiarkan gadis itu tertidur atau membangunkannya. Pada akhirnya, Sehun menunggu gadis itu bangun dan menunggu di dalam mobil.

Beberapa menit terlewati dengan dirinya yang masih menunggu gadis itu yang tertidur, Sehun hanya memainkan ponselnya –bukan dalam arti sebenarnya, dia membaca berita tentang bisnis. Namun sebuah ketukan di jendela mobil mengalihkan perhatiannya, Sehun menoleh –itu Chanyeol hyung. Sehun keluar dari mobinya.

“Sedang apa? Kenapa tidak masuk?” tanya Chanyeol.

“Ah … itu Hyung,” ucap Sehun dengan suara pelan, dia sedikit bergeser dari pintu mobil. “Hyunji tertidur.”

Chanyeol sedikit membungkuk untuk melihat ke dalam mobil, dia mendengus. “Kenapa kau tampak bingung sekali? Bangunkan saja dia,” ucap Chanyeol dan masuk ke dalam mobil. Tangan Chanyeol mengarah pada bahu gadis yang sedang tertidur itu, hendak membangunkannya.

Namun sebelum hal itu terjadi, tangan Sehun lebih dulu menarik tangan Chanyeol. “Jangan Hyung, biarkan saja dia tertidur. Hyunji sedang sakit,” jelas Sehun.

Mulut Chanyeol merespon seperti melafalkan huruf ‘O’ yang panjang. Dan selanjutnya Chanyeol keluar dari mobil, namun masih tetap menghampiri gadis yang tengah tertidur itu, hanya saja kali ini dari sisi pintu yang lain.

Chanyeol membuka pintu dimana gadis itu duduk dan mulai mengulurkan tangannya, layaknya seseorang yang hendak menggendong. Sehun tampak terkejut dengan tingkah Chanyeol, dia segera menghampiri pria jangkung itu.

Hyung, apa yang kau lakukan? Hyunji bisa bangun nanti,” jerit Sehun tertahan dan terdengar seperti bisikan yang penuh penekanan.

Gwaenchana,” jawab Chanyeol santai. Dia mulai menyelipkan tangannya pada lutut dan punggung gadis itu.

Sementara itu Hyunhee yang saat ini sudah ada dalam rengkuhan sang Oppa, gadis itu membuka matanya dengan berat. Chanyeol menyunggingkan senyuman pada Adik perempuannya itu. “Gwaenchana, ini Oppa. Kau bisa tidur lagi,” ucap Chanyeol lembut.

Detik selanjutnya, mata Hyunhee kembali terpejam, bahkan kedua tangannya kini mengalung di leher Chanyeol dan kepalanya juga ikut membenam di dada bidang Oppa –nya. Sepertinya obat juga sakitnya saat ini, masih mempengaruhi dirinya.

Sehun tampak menatap dalam diam, pria itu cukup heran. Gadis itu biasanya segera bangun hanya sedang sebuah sentuhan ringan, tapi kali ini cukup tenang. Sehun mengikuti kakak beradik itu dari belakang.

Selanjutnya dia membukakan pintu untuk kakak beradik itu, Chanyeol masuk dan langsung menuju lantai dua, menuju kamar gadis itu.

Sementara itu, Sehun masih berdiri tanpa melakukan apapun di ruang tamu, Chanyeol pun tak kunjung keluar. Ditengah keheningan itu, sebuah suara lembut memanggil Sehun.

“Sehun –ah,” panggil Raerim dari arah dapur sembari memegang spatula. “Kapan kau datang? Kau sendiri?” tanya Raerim lalu kembali ke dapur.

“Beberapa menit yang lalu, Noona. Tidak, aku datang bersama Hyunji, tapi dia sedang ––”

“Ini, diminum dulu,” ucap Raerim dengan membawa secangkir Teh. “Kau bilang apa tadi?” tanya Raerim yang seperti tak dengar perkataan Sehun karena sedang di dapur untuk membuatkan minuman untuk pria itu.

“Jadi mereka sedari tadi di atas? Apa yang dia (Chanyeol) lakukan?” tanya Raerim setelah mendengar jawab Sehun dan kembali bertanya tentang suaminya. “Padahal sedari tadi aku menunggunya, masakanku tidak jadi-jadi karenanya,” omel Raerim kali ini.

Ya, sebelumnya Raerim menyuruh Chanyeol pergi ke Swalayan untuk membeli beberapa bahan, tapi ternyata Suaminya itu tak kunjung datang.

Noona,” panggil Sehun. Raerim mendehem, sembari menoleh. “Aku masih menunggu penjelasanmu soal Yerim,” sambung Sehun.

Helaan nafas berat keluar dari mulut Raerim. “Kau mungkin tidak akan percaya, Sehun –ah. Terutama jika kukatakan, penyebab Yerim meninggal adalah kau,” tutur Raerim hati-hati.

[TBC]

Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana bisa Sehun menjadi penyebab meninggalnya Yerim?

°

Yuhuuu~ jumpa lagi … Maaf belum membongkar rahasia Raerim juga Sehun, ku galau 😀 itu juga kenapa aku gak update minggu lalu T^T Sabar ya kalian ..

Oke … Hyunhee udah baikan lagi sama Sehun, meskipun dengan syarat. Semoga Hyunhee juga bisa segera baikan dengan Chanyeol ya >//<

Dan semoga kalian gak baper, karena kuterus mengaduk-aduk perasaaan kalian dengan karakter roller coaster Sehun –yang setiap saat berubah baik atau jahat .. >o<

°

See you next chapter

#XOXO

16 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 19)”

  1. Hufff…aq pikir si raerim ada masa lalu ama sehun,ternyata tidak..syukur deh…, chapter ini bener2 kaya wahana ontang anting..hehe..sedih liat hyunhee tapi sedih juga liat sehun di abaikan..lanjut dah thor..(btw..thor..punya alamat email?)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s