[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 16)

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 16]

 

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family, Drama and Marriage Life || Rating : PG – 13

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Zhang Yixing || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi   

 

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

 

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

 

 

Matahari sudah hampir naik hingga mendekati puncak kepala, tapi seorang gadis masih saja menggulung diri dengan selimut diatas kasur. Tak masalah jika statusnya masih single, tapi kini dia seseorang yang telah menikah dan bersuami. Pantulan cahaya mulai mengenai wajahnya, membuatnya mau tak mau, terpaksa bangun. Dia sedikit meregangkan bagian tubuhnya yang terasa sedikit kaku, setelahnya dia meraih ponselnya yang ada diatas meja kecil –disebelah ranjangnya. Matanya terbelalak ketika melihat angka yang terterlera pada layar ponselnya, pukul sebelas. Kini dia sadar sepenuhnya, namun keterkejutannya masih berlanjut saat dia melihat kondisi ruangan saat ini tempatnya berada. Ini bukan kamarnya, batin gadis itu.

 

Hyunhee, gadis itu terdiam sekejap, dia sedang berpikir. Dia merasa ada yang hilang, Hyunhee menoleh kesisi sebelah ranjangnya –kosong. Dimana orang itu? Dia mencari keberadaan seorang pria yang kini berstatus sebagai suaminya, Oh Sehun. Tanpa babibu, dia segera turun dari ranjang dan keluar kamar.

 

Saat dia keluar dari kamar, dia mendengar suara berisik dari arah dapur, lantas membuatnya berjalan kesana. Dan sudah dapat dia tebak, siapa orang yang membuat keributan itu.

 

Morning Chagi –ya,” sapa pria itu pada gadis yang baru saja muncul di dapur.

Hyunhee memutar bola matanya malas, panggilan apa lagi itu –dia merinding mendengarnya. “Kenapa kau tidak bangunkan aku?” tanya Hyunhee segera, tanpa menjawab sapaan yang terlontar padanya.

 

“Aku tak tega untuk membangunkanmu, kau tidur sangat pulas,” jawab Sehun tanpa mengalihkan fokusnya dari wajan, dia tengah menggoreng telur.

 

Hyunhee mendengus. Nyenyak apanya? Dia hampir terjaga hingga lewat dari dini hari, semalam. Dan itu semua karena pria itu, Oh Sehun. Bahkan dia tak bisa tidur dengan tenang atau nyaman.

 

“Ayo duduk, aku sudah buatkan sarapan untuk kita. Emmm … ini memang tak banyak dan aku juga tak yakin dengan rasanya, karena ini bisa dibilang kali pertamaku memasak setelah entah kapan itu,” jelas Sehun dan dia mulai menyusun hidangan dan peralatan di meja.

 

Mereka duduk berhadapan di meja makan, dengan hidangan sarapan sederhana yang dia siapkan. Hingga waktu berlalu, salah satu dari mereka belum ada yang menyentuh makanan itu. Membuat Hyunhee bertanya-tanya sekaligus tak nyaman, karena Sehun hanya menatapnya.

 

“Kita jadi makan?” tanya Hyunhee akhirnya setelah begitu banyak waktu terbuang hanya untuk bungkam.

 

“Tentu saja, kau makanlah duluan. Aku ingin dengar komentarmu tentang masakanku,” jawab Sehun.

 

Hyunhee menghela nafas dalam. Pikirnya, apa yang bisa dia komentari atas hidangan yang saat ini tersedia di atas meja makan seperti roti, kopi, selai dan telur dadar goreng. Hanya satu itu yang merupakan masakan Sehun, telur dadar goreng dengan tampilan abstrak dan ada beberapa bagian yang gosong. Hyunhee memberikan tatapan tak berminat pada telur itu, namun dia perlu hargai usaha pria itu yang bangun pagi dan memasak sarapan.

 

Hyunhee mulai menyendok sesuap telur goreng di piring dengan memilah terlebih dahulu dari yang gosongnya, dan mulai memasukan ke gua mulutnya dengan harap-cemas. Saat telur goreng itu menyentuh permukaan lidahnya, ekspresi wajah Hyunhee langsung berubah –jelek. Kejutan rasa menjalar disekujur lidah Hyunhee, asin adalah rasa yang paling mendominasi.

 

Sehun yang memperhatikan raut wajah gadis itu yang berubah, langsung memberikan secangkir kopi yang telah dia buat tadi. Hyunhee yang masih tak dapat mengontrol kejutan rasa dilidahnya, segera meraih cangkir itu tanpa mengetahui isinya.

 

Uhuk!

Hyunhee terbatuk dan selanjutnya dia menjulurkan lidah keluar. Lagi! Dia kembali mendapatkan kejutan dari seteguk minuman yang meluncur masuk dan tertelannya. Hyunhee segera melihat isi dari cangkir yang ada dalam pegangannya, KOPI HITAM!! Selanjutnya Hyunhee mendongakan kepalanya dan menatap penuh kilat pada pria yang ada di hadapannya.

 

Sementara Sehun hanya membalasnya dengan tatapan bingung, dengan menaikan kedua alisnya.

 

Ingin rasanya Hyunhee meneriakan umpatan pada pria itu, bahkan belum sehari dia bersama dengan pria itu, tapi sudah membuatnya merasa di neraka dunia. Dia tidak tahan.

 

“Kenapa?” tanya Sehun.

 

Dia tanya, ‘kenapa!’. Haruskah Hyunhee bilang jika sarapannya benar-benar hancur? Pertama, telur goreng itu rasanya seperti campuran Air Laut, Cuka dan rasa lain yang tak dapat dia definisikan. Kedua, dia tak begitu suka Kopi, terlebih Kopi Hitam dan Kopi Hitam yang Sehun berikan itu benar-benar pahit.

 

“Kau coba saja sendiri!” ucap Hyunhee pada Sehun yang terdengar seperti tantangan.

 

Sehun mulai menyendok dan menyuapkan telur goreng yang dia buat, ekspresi tak jauh berbeda dari Hyunhee sebelum juga turut dia tampilkan dan Sehun buru-buru mengambil cangkir lainnya yang berisi kopi. Lagi! Sama seperti Hyunhee, Sehun juga terbatuk dan menjulurkan lidahnya keluar. Biarpun dia suka minum Kopi Hitam, tapi saat ini dirinya tak siap dengan perubahan rasa yang dia terima.

 

“Bagaimana rasanya?” tanya Hyunhee penuh penekanan. Namun pria itu malah memberikan senyuman kuda padanya dan membuat Hyunhee kembali menghela nafasnya. “Sebenarnya apa yang kau campurkan dalam telur ini?”

 

“Aku memasaknya sesuai resep yang kucari di internet,” jawab Sehun. Tapi seakan tak puas dengan penuturan Sehun, Hyunhee masih menatap pria itu dan membuat Sehun kembali bicara. “Telur, Garam dan Yogurt.”

 

Hyunhee mengusap keningnya, tak habis pikir dengan pria itu. Orang aneh apa yang memasukan Yogurt untuk campuran telur dadar goreng, jawabannya orang semacam Sehun. “Kau berniat meracuniku dengan mencampur Yogurt dalam telur?” tanya Hyunhee sarkastis.

 

“Tidak ada Susu, jadi aku menggantinya dengan Yogurt,” dalih Sehun.

 

Oke, Sehun sangat jenius. Hyunhee mengesampingkan soal telur goreng itu dan lanjut bertanya mengenai kopinya. “Ini kopi apa?” tanya Hyunhee sembari mengangkat cangkir yang berisi Kopi Hitam.

 

Espresso.”

 

Meskipun Hyunhee tak begitu menyukai kopi, tapi setidaknya dia mengetahui beberapa jenis kopi. Dan Sehun memberikan kopi Espresso yang merupakan 100% murni ekstrak kopi tanpa tambahan perisa apapun seperti Gula atau Susu. Bisa dibayangkan betapa pahitnya itu bagi dirinya.

 

Tak membiarkan dirinya berlarut-larut karena emosi, Hyunhee beranjak dari duduknya dan menuju dapur. Dia perlu makan demi kelangsungan hidupnya dan yang terpenting, dia perlu energi untuk menghadapi pria itu. Hyunhee terlebih dahulu memeriksa isi kulkas, dan lagi-lagi dia terkejut dengan kondisi kulkas tersebut –kacau! Terdapat beberapa makan yang tersimpan dalam wadah tertutup, namun saat Hyunhee mengeceknya, hampir semua isinya basi. Belum lagi buah dan sayur yang telah membusuk. Tak ada isi dari kulkas yang layak untuk di cerna, kecuali Bir dan Soju. Tapi tidak mungkin mereka sudah akan mabuk disaat perut kosong, terlebih lagi Hyunhee bukan orang yang suka minum dan daya tahannya terhadap alkohol sangat lemah.

 

Hyunhee menutup kulkas dengan pasrah, dan meninggalkan dapur untuk menuju kamar. Sehun masih di bangku berdiam diri. Dan selanjutnya Hyunhee keluar dengan telah berganti pakaian dan mengenakan mantel.

 

“Kau mau kemana?” tanya Sehun.

 

“Sepertinya aku harus berbelanja,” jawab Hyunhee dengan suara datar.

 

“Aku ikut denganmu,” ucap Sehun bukan terdengar meminta, tapi memaksa.

 

Hyunhee tak mengiyakan atau melarang pria itu untuk ikut dengannya, dia hanya diam sembari berjalan menuju rak sepatu. Dan Sehun, dia berlari ke kamar untuk berganti pakaian.

 

____ ____ ____

 

Sehun bersama Hyunhee berjalan memasuki Super Market. Sebelum mulai berbelanja, Hyunhee mengambil sebuah troli, namun Sehun segera mengambil alih troli itu dari Hyunhee dan mendorongnya.

 

“Biar aku saja,” ucap Sehun.

 

Hyunhee tak menanggapi pria itu, terserahnya saja mau berbuat apa –Hyunhee sudah lelah dengan Sehun. Namun berbeda dengan Hyunhee yang tampak tak bersemangat, Sehun sungguh merasa senang. Sembari mendorong trolinya, dia berjalan dengan menggandeng lengan gadis itu dan memasukan beberapa barang ke dalam troli. Tapi semua barang itu berakhir kembali ke dalam rak, karena menurut Hyunhee itu tak terlalu diperlukannya.

 

Setelah lewat dari satu jam mereka berbelanja, kini mereka sudah selesai termasuk membayar, dapat dilihat sekitar lima kantung belanjaan besar kembali memenuhi troli.

 

Sehun kembali mendorong troli dan Hyunhee berjalan di sampingnya, mereka sekarang sedang berjalan menuju basement tempat Sehun memarkirkan mobilnya. Saat sudah menemukan mobilnya, Sehun membuka pintu bagasi dan mulai memasukan semua belanjaan. Selanjutnya Sehun mendorong troli yang sudah kosong dari belanjaannya itu ke suatu tempat yang menampung troli di basement dan dia kembali lagi ke mobil. Hingga saat ini, semua lancar-lancar saja.

 

Saat sudah sampai di kawasan apartemen mereka, tentu saja belanjaan perlu di keluarkan dari bagasi mobil. Namun saat itulah terjadi percek-cokan Sehun dengan harga dirinya, tepatnya saat Hyunhee hendak membawakan sebagian belanjaan dan Sehun dengan keras menolaknya.

 

Terserah, Hyunhee melepaskan begitu saja kantung belanjaan yang sebelumnya ada di tangannya pada Sehun. Seketika Sehun langsung merasakan urat dan otot di kedua lengannya tertarik, bahkan rasanya lebih berat dari saat dia angkat barbel untuk latihan meningkatkan massa ototnya di pusat kebugaran. Ditambah dia harus membawanya hingga ke apartemen mereka dan tanpa bantuan troli seperti sebelumnya saat masih di Super Market.

 

“Taruh saja belanjaannya dibawah,” ucap Hyunhee dengan nada dingin pada Sehun saat mereka telah memasuki lift.

 

Sehun menghembuskan nafasnya lega.

 

Ting.

Pintu lift terbuka. Tanpa aba-aba Hyunhee langsung mengambil dua buah kantung belanjaan dan segera keluar lebih dulu dari lift. Namun Sehun dengan refleks –nya menahan tangan gadis itu.

 

“Biar aku saja, lagi pula sudah dekat,” ucap Sehun.

 

“Tak usah sok kuat … aku tahu, tanganmu sudah cukup pegal,” jawab Hyunhee terdengar seperti meremehkan Sehun. Tapi bagi Sehun, itu artinya gadis itu perhatian padanya –Sehun tersenyum.

 

Hyunhee menaruh belanjaan di atas meja makan, diikuti Sehun. Lalu dia mengeluarkan semua belanjaan dari kantung dan mulai membereskannya dengan memasukan dalam kulkas dan lemari tempat menyimpan makanan yang menempel pada dinding bagian atas. Pada saat itulah Hyunhee mengalami kesulitan, lemari itu terlalu tinggi baginya –dia mendengus kasar. Dan sepertinya suaranya mendengus cukup keras hingga Sehun yang sedang berdiri di dekat meja makan sampai menoleh kearahnya.

 

“Kenapa?” tanya Sehun seraya menghampiri gadis itu.

 

“Aku tidak sampai,” jawab Hyunhee sembari menunjukan barang yang dipegangnya kearah lemari yang tinggi itu.

 

Namun … alih-alih Sehun menaruh sendiri barang itu ke lemari, dia malah menggendong gadis itu. Tentu saja Hyunhee terkejut, bahkan hingga berteriak.

 

“Ya! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku,” ucap Hyunhee meninggikan nada suaranya.

 

“Kau bilang tidak sampai,” jawab Sehun tanpa merasa aneh akan hal itu.

 

Hyunhee berdecak kesal. Sehun sungguh pria kelewat jenius, bisa-bisanya dia memikirkan hal lain diluar nalar. “Tapi bukan berarti kau harus menggendongku! Turunkan aku,” titah Hyunhee masih dengan meninggikan suaranya. Sehun menuruh. “Kau taruh ini disana.” Hyunhee menyerahkan barang itu pada Sehun, lalu Hyunhee beralih membereskan meja.

 

Setelah semua belanjaan sudah tersusun rapi di tempatnya, Hyunhee kembali memulai aksi memasaknya. Ingat? Mereka belum sarapan.

Hyunhee mengambil tiga bungkus Mie Ramyeon instan, dua butir telur, daun bawang dan bawang bombai dari dalam kulkas. Dia terlebih dahulu memotong-motong kecil bawang bombai dan mengiris tipis daun bawang. Semua bahan telah siap, Hyunhee beralih memanaskan panci dan menuangkan sedikit minyak di atasnya, lalu saat minyak sudah panas, dia memasukan bawang bombai dan daun bawang untuk di tumis hingga harum.

 

Indra penciuman Sehun tentu masih sangat berfungsi, dapat dilihat kini dia beranjak dari meja makan dan menghampiri Hyunhee yang tengah memasak.

 

“Kau masak apa?” tanya Sehun penasaran, kini dia telah berdiri di samping gadis itu sembari memperhatikan dengan seksama.

 

“Lihat saja,” jawab Hyunhee sekenanya.

 

Hyunhee masih menumis dua bahan itu, saat sudah tampak matang –Hyunhee memasukan air kedalam pancinya dan selanjutnya menunggu hingga air mendidih. Saat air mendidih, Hyunhee memasukan tiga keping Mie Ramyeon instan beserta bumbunya dan dua butir telur, lalu menunggunya hingga matang. Tidak lebih dari lima menit, masakannya sudah matang. Hyunhee mengangkat panci tersebut untuk di letakannya di atas meja makan. Dan saat itulah kembali terjadi cek-cok antara dirinya dengan Sehun.

 

“Biar aku saja yang menaruhnya di atas meja,” ucap Sehun hendak menolong.

 

Hyunhee menatap Sehun garang. “Tidak usah,” tolak Hyunhee cepat. Itu bukan akan membantu dirinya, tapi malah merepotkannya. “Kau siapkan saja peralatan makannya,” titah Hyunhee dan Sehun menurut.

 

Sehun sedang memandangi sepanci penuh Mie Ramyeon instan, entah pada yang ada di pikirannya saat menatap makanan itu. Yang pasti, ini adalah pertama kalinya entah sejak kapan dia makan Mie Ramyeon instan terlebih sebagai –sarapan di tengah hari. Ingat, telah banyak waktu berlalu sejak Hyunhee bangun menjelang siang hari dan mereka juga sudah pergi berbelanja.

 

“Kenapa belum di makan?” tanya Hyunhee tanpa menatap Sehun dan terus makan Mie Ramyeon instan yang dia masak tadi. “Tak mau?” tanya Hyunhee lagi. “Tak masalah, aku bisa habiskan semuanya,” jawab Hyunhee. Gadis itu tak perduli jika Sehun akan makan atau tidak Ramyeon buatannya, dia masak bukan untuk pria itu –khususnya, tapi karena dirinya lapar.

 

“Tidak, aku akan makan,” jawab Sehun lalu mengambil sumpitnya dan menjepit Ramyeon untuk di nikmati. Seketika, saat tektur panjang Ramyeon itu menyentuh lidahnya –mata Sehun langsung terbuka sembari menatap gadis yang ada di hadapannya. “Ini sangat enak,” komentar Sehun.

 

Hyunhee hanya menatap sekejap ekspresi pria itu, lalu kembali fokus pada Ramyeon –nya. Dalam batinnya, Hyunhee berpikir Sehun itu seperti spesies baru di bumi. Ayolah, apakah ini pertama kalinya dia makan Mie Ramyeon instan?

 

Mungkin bukan pertama kali, tapi sepertinya Sehun sudah lupa rasa Mie Ramyeon instan itu.

 

“Aku rela seumur hidupku, makan ini,” ucap Sehun.

 

Hyunhee tak menanggapi ucapan Sehun, namun sebenarnya dia menyetujui gagasan itu. Dan siapa orang yang tidak menyukai jenis makanan instan itu? Ya, mungkin beberapa orang –tapi bukan Hyunhee juga Sehun. Hanya saja, mereka tetap tidak bisa makan Mie Ramyeon instan di sepanjang sisa hidup mereka, bukan? Kecuali kau tidak memikirkan kesehatanmu.

 

Hyunhee telah menyelesaikan makannya, dia beranjak dari duduk dan berjalan ke wastafel dengan membawa serta peralatan makan yang dia gunakan tadi. Setelahnya, Sehun juga selesai makan dan mengekori gadis itu. Kali ini Sehun tidak merecoki Hyunhee yang sedang mencuci piring dengan memaksa biar dia saja yang melakukannya. Sehun hanya diam, berdiri di samping gadis itu sembari memperhatikannya.

 

Lagi. Sehun kembali mengekori Hyunhee yang telah menyelesaikan cucian piring kotornya dan menuju kamar. Hyunhee duduk di ranjang, begitu juga dengan Sehun. Hyunhee menghela nafasnya kasar.

 

“Kau ingin disini?” tanya Hyunhee.

 

Sehun tak segera menjawab, dia tampak berpikir. “Ya,” jawabnya terdengar pasti.

 

“Baiklah, kalau begitu aku akan di depan menonton,” ucap Hyunhee setelah mendengar jawab Sehun, dia tak nyaman jika harus berdua dengan pria itu.

 

Namun lain dengan Sehun, pria itu baru saja merasa ditipu. Dan dengan menatap sendu punggung gadis itu yang hilang di balik pintu, Sehun menghempaskan tubuhnya kasar di atas ranjang.

 

Sementara itu, Hyunhee yang sudah menempati posisi nyaman di sofa dengan berselonjor kaki, dia mulai mencari-cari siaran televisi yang hendak dia tonton. Dan pilihannya jatuh pada sebuah serial kartun yang menayangkan seekor Pinguin beserta teman-temannya. Hyunhee tertawa menyaksikan tingkah lucu dari karakter yang tengah dia tonton, dan mungkin suaranya terdengar hingga ke kamar. Dapat dilihat saat ini Sehun sedang berdiri di pintu kamarnya sembari melihat kearah gadis itu, dan entah sejak kapan Sehun sudah duduk di sofa. Hyunhee sendiri tidak menyadari itu dan sempat kaget saat menoleh.

 

“Kenapa kau disini? Bukankah kau bilang ingin di kamar?” tanya Hyunhee mempertanyakan konsistensi ucapan pria itu sebelumnya.

 

“Memang sih … tapi aku bosan di kamar, karena aku tidak biasanya hanya berdiam diri di rumah,” jawab Sehun apa adanya. Ya, itu karena dia selalu bekerja. “Lalu aku mendengar kau tertawa, aku jadi penasaran,” jawab Sehun mengaku.

 

“Kalau begitu carilah kegiatan lain di luar rumah,” balas Hyunhee seakan sedang mengusir pria itu dengan cara halus.

 

“Kau mau jalan-jalan denganku,” ajak Sehun tiba-tiba.

 

Apalagi ini?’ batin Hyunhee. “Tidak,” tolak Hyunhee mentah-mentah.

 

Seketika Sehun langsung bungkam setelah ajakannya di tolak oleh gadis itu. Sementara Hyunhee kembali melanjutkan tontonannya tanpa memperhatikan perubahan ekspresi wajah Sehun yang tampak kecewa. Tapi seakan tak kehilangan akal, Sehun kembali mengajak bicara gadis itu dan topik pembicaraan yang dia pilih cukup membuat gadis itu tampak bingung.

 

“Hyunji –ya, apa kau setelah ini akan kembali bekerja di perusahaan keluargamu bersama Chanyeol hyung atau kau ingin menjadi ibu rumah tangga saja –mengurusiku dan anak-anak kita kelak?” tanya Sehun dengan suara lembutnya.

 

Oh! Tuhan … Hyunhee benar-benar tak memikirkan itu, soal kelangsungan hidupnya ke depan, karena yang selalu dia pikirkan adalah hari dimana dia dapat mengakhiri hubungan (palsu) nya dengan pria itu. Tapi jika dipikir-pikir benar juga perkataan Sehun, dia tak mungkin akan terus tinggal di rumah, dirinya akan mati karena bosan. Apa lagi menjadi ibu rumah tangga yang mengurusi pria itu dan anak –TIDAK! Dirinya pun enggan membayangkannya.

 

Tapi jika dia bekerja kembali dengan Oppa –nya, itu juga tidak mungkin, mengingat perang dingin antar saudara yang terjadi diantara mereka. Ya, hubungan Hyunhee dengan sang Oppa tidak terlalu baik saat ini, Hyunhee masih tak dapat menerima keputusan Oppa –nya yang menyerahkan dirinya begitu pada Sehun.

 

Dan kalaupun misalnya dia bekerja di perusahaan lain, Hyunhee harus bersikap sebagai dirinya sendiri atau berpura-pura menjadi kembarannya. Sungguh, situasi ini membuatnya sangat bingung. Namun yang paling aman, dia harus menyembunyikan jati dirinya dan berpura-pura menjadi Hyunji. Lagi! Semua lagi-lagi karena pria itu dan statusnya yang saat ini adalah istrinya. Tapi pertanyaan kembali muncul? Pekerjaan apa yang dapat dia lakukan sebagai Hyunji dengan ijazah terakhir adalah tamatan sekolah menengah atas. Meskipun Hyunji memiliki banyak penghargaan di bidang modeling, tapi dirinya tidak cakap dalam hal itu. Jadi pekerjaan yang mungkin Hyunhee dapatkan adalah dari kerja paruh waktu. Sial! Ijazah S2 –nya sungguh sia-sia dan tak berguna saat ini.

 

Karena tak mendapat respon dari gadis itu, Sehun lantas mengganti pertanyaannya. “Hyunji –ya, apa kau tidak ingin melanjutkan kuliahmu yang tertunda?” tanya Sehun dan berhasil mendapatkan atensi gadis itu. “Kau berjanji padaku akan kembali kuliah, jika kita sudah menikah,” sambungnya.

 

Hyunhee tercengang dengan laporan tiba-tiba Sehun yang mengatakan jika dia punya hutang janji, padahal dia tak pernah mengatakannya –jelas saja.

 

“Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke kampusmu untuk mengurus perkuliahanmu kembali,” ucap Sehun terdengar halus namun dia tengah memaksa gadis itu.

 

Hyunhee harus bilang apa? Menolak? Tapi bahkan, sebelum sempat Hyunhee menolak, pria itu telah menarik tangannya. ‘Ya Tuhan, masalah apa lagi ini?’ batin Hyunhee menjerit.

 

 

Seorang gadis sedang duduk di bangku, dia menoleh dan melihat seorang pria yang duduk di sebelahnya, Oh Sehun. Dan begitu juga saat gadis itu melihat ke depan, seorang pria paruh baya dengan kaca mata duduk di depannya sembari membulak-balik beberapa lembar kertas.

 

“Park Hyunji –ssi,” panggil pria paruh baya berkaca mata itu. “Jadi Anda sudah cuti kuliah selama empat semester berturut-turut, sesuai dengan peraturan Universitas maka Anda akan diberi teguran berupa surat peringatan sebanyak tiga kali. Apabila Anda sudah diberi surat peringatan sebanyak tiga kali dan tidak memenuhi surat panggilan itu, maka status Anda sebagai mahasiswa di Universitas ini akan dicabut atau dengan kata lain Drop Out,” jelas pria paruh baya itu yang merupakan pegawai Administrasi dari Universitas tersebut.

 

Baik Sehun maupun gadis itu, mereka tak percaya akan yang pihak Universitas itu katakan. Drop Out? Sungguh malang bagi gadis bernama Hyunji itu, jika dia sampai dikeluarkan dari Universitas maka artinya dia harus mengulang dari semester awal sebagai mahasiswa baru. Dan gadis itu yang merupakan kembaran dari Hyunji, dia mengetahui jika Hyunji tidak suka belajar dan lemah dalam belajar.

 

Hyunhee, gadis itu menghela nafasnya dalam. Hidupnya yang berpura-pura sebagai kembarannya itu terlalu sulit untuk dia hadapi.

 

Sehun menepuk pundak gadis itu, lalu tangannya mengibas seolah memberitahu agar gadis itu mendekat padanya. Hyunhee mengikuti titahnya dan mendekat pada Sehun.

 

“Jadi sudah berapa kali kau menerima surat peringatan?” tanya Sehun sambil berbisik.

 

“Beruntung Nona Hyunji baru menerima dua kali surat peringatan dan datang saat ini, padahal sebelumnya kami hendak mengirim kembali surat ke tiga yang berisi pencabutan status mahasiswa,” jawab pria paruh baya itu seakan mendengar percakapan kecil Sehun. Meskipun penampilannya sudah tampak senja, tapi pendengarannya masih sangat baik.

 

Sehun dan Hyunhee menghela nafas lega.

 

“Jadi, apakah Nona Hyunji akan mendaftar kembali untuk perkuliahan di semester ini?” tanya pria paryh baya itu.

 

“Ya?” Hyunhee menerjapkan matanya, memberikan ekspresi penuh tanya pada pria paruh baya di hadapannya.

 

“Ya, tentu saja,” jawab Sehun.

 

Hyunhee langsung mengalihkan tatapannya pada pria yang duduk di sebelahnya. ‘Apa-apaan dia? Seenaknya saja bilang, IYA,’ batin Hyunhee tak terima.

 

“Baiklah … kalau begitu, formulir ini silakan diisi dan dikembalikan pada saya. Lalu lakukan pembayaran di bagian keuangan dan setelahnya pergi ke bagian ke mahasiswaan untuk menjadwalkan jam perkuliahannya,” jelas pria paruh baya itu sembari menyerahkan lembar formulir.

 

Sehun menerima formulir itu. “Terima kasih banyak,” ucap Sehun.

 

___ ___ ___

 

Hyunhee menghempaskan tubuhnya kasar ke atas ranjang seakan sebagian nyawanya telah hilang. Dia terpaku menatap langit-langit kamar. Masalah terus berdatangan, seperti tak ada habisnya. Dan sekarang, dia kembali menjadi mahasiswa. Masalah semakin bertambah besar saja, kini dia juga berbohong mengenai statusnya sebagai mahasiswa di Universitas tersebut. Hyunhee tidak tahu dia harus berdoa dan meminta pengampunan sebanyak apa pada Tuhan, karena terus membohongi banyak orang hanya demi pria itu –Oh Sehun. Hidupnya sungguh gila! Belum lagi ditambah dia juga harus mengulang beberapa mata kuliah di semester sebelumnya, karena di transkip nilai milik kembarannya terdapat beberapa nilai ‘D’. Sebenarnya apa yang dilakukan kembarannya saat di bangku kuliah sampai dapat nilai seburuk itu.

 

Gwaenchana Hyunji –ya, jika ada materi yang sulit kau bisa tanyakan padaku,” ucap Sehun sembari mengusap puncak kepala gadis itu.

 

Hyunhee menatap sinis pada Sehun. ‘Semuanya salahmu!’ teriak Hyunhee dalam benaknya.

 

 [TBC]

 

Bagaimana Hyunhee menjalani kehidupan rumah tangganya sekaligus kuliahnya lagi?

 

°

 

Hai ~

Gimana? Gimana? Setelah kalian membaca (Chapter 15 dan) Chapter ini, akankah perasaan kalian berubah terhadap hubungan Sehun dan Hyunhee? Akankah kalian pindah kapal? Karena sepertinya, Sehun mulai ada manis-manisnya kayak L* Min*ral.

(Atau masih gak terima atas kebenaran yang terungkap dalam semalam antara Hyunhee dan Sehun?)

 

Dan ceritanya jadi semakin runyam, ya~ Hyunhee harus kuliah lagi dengan menggantikan Hyunji. Hah.. Hah … sebenarnya itu karena aku juga bingung harus memposisikan Hyunhee bagaimana di masyarakat.  Gak mungkinkan dia di rumah mulu, kayak Rapunzel #Lah? 😀 Tapi aku mencoba untuk membuatnya menjadi rasional, semoga dapat diterima ya alasannya.. ^^

Jika ada yang menjadi pertanyaan, silakan tanyakan..

 

 

Nah. Buat yang belum baca Chapter 15 karena diproteksi, kalian bisa minta password –nya sama Admin EXOFFI di menu Got Password dan ikuti rules nya. ^^

Aku sangat berharap, kalian dapat membaca keseluruhan ceritanya. Karena itu aku gak membebankan memberikan komentar di chapter sebelumnya, kalian cukup tulis email di kolom komentar.

 

Oh ya, buat reader yang berkomentar di chapter 14B, ada beberapa yang tidak menuliskan emailnya. Aku jadi bingung mau kirim password kemana. Harap di tulis ya~ ^^

 

°

 

See you next chapter

#XOXO

28 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 16)”

  1. Entah kenapa aku ko ttp aja ngga sreg sama hubungan sehun hyunhee yah?? Padahal itu kam takdir yg udh di buat author 😁
    Rasanya tuh pengen bawa hyunji dan jongin ke hadapan mereka trs bilang klo semua itu cuma skenario yg di buat ny.oh.. rasanya gemes bgt gitu ih. Ceritanya makin buat aku penasaran dan greget2 gimana gitu 😂😂 lanjut terus pantang mundur authornim.. aku padamu.. hahahaha fighting!!! 😊

    1. Gwaenchana chingu -ya, aku gak pernah memaksa hrs suka couple ini atau itu. ikuti kata hatimu. Jiah~
      Sabar ya, suatu saat semua tipu daya ini akan terbongkar 🙂
      Haha.. jeongmal gomawo ❤

  2. Aq gak pindah kapal ah..takut terombang ambing..kan ombak lagi gede..wkwk..tetep hyunhee kan milik jongin dari awal jadi sudah seharusnya sehun legowo,dan hyunji..apa kabar itu..lanjut thor..

    1. Kuatkan tekadmu, klo begitu Chingu -ya .. >o<
      Hoho … klo gitu jangan ngelaut klo tau ombak gede, kapal mah pasti goyang terus. *apalahini #gakjelas 😛
      Mungkin Sehun gak paham legowo .. 😀
      Hyunji masih betah petak umpet..

  3. Dan akar dari semua permasalahan ini tak lain dan tak bukan adalah Oh Sehun 😀 kek anak kucing aja lu Hun ngekorin Hyunhee mulu. Wkwkwkk
    Hahahaa was was pindah kapal nih 😀 soalnya sikap Sehun emang mulai ada manis-manisnya 😀 Makin kasian sama Hyunhee, ngadepin Sehun aja udah males musingin ditambah harus ngelanjutin kuliah Hyunji 😀 Ini tuh kayak masalah Sehun-Hyunji malah ditanggung sama Hyunhee. 😀 Tabahkan hatimu Hyunhee-ya!! 😀

    1. Panggil saja Sehun si biang kerok! 😀
      Sehun bukannya sejenis anak ayam, ya? 😛
      Siapkan hati kamu, Chingu -ya.. Sehun bisa kapan saja mengguncang hatimu.. wkwkwk..
      Hyunhee di jadikan kambing hitam.. malang kamu nak.. T^T

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s