[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 26)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 26]

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt and Marriage Life

Rating : PG – 15

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi || #16 || #17 || #18 || #19 || #20 || #21 || #22 || #23 || #24 || #25

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Chapter ini memiliki alur maju – mundur cantik 😀

||

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Sudah beberapa hari Hyunhee tinggal di kediaman Keluarga Kim, tentunya hal itu membawa kesenangan bagi sepasang kekasih itu –Jongin dan Hyunhee. Bagaimana tidak, ketika pagi mereka hendak sarapan maka mereka akan bertemu. Lalu saat Jongin pulang, Hyunhee menyambut kekasihnya itu dan kemudian menghabiskan waktu bersama sampai jam tidur tiba.

Dan hingga saat ini pun tak ada seseorang yang mengusik mereka, mungkin belum –sebut saja Oh Sehun. Tampaknya pria itu belum mengetahui keberadaan Hyunhee ataupun terpikirkan jika Hyunhee ada bersama Jongin. Ya, semoga saja Sehun tak pernah menemukan Hyunhee.

Namun hari ini, saat jam makan siang Jongin mendapat panggilan dari Park Chanyeol. Sudah dapat dia tebak tujuan dari pria itu meneleponnya, sayang Jongin tak dapat mengabaikannya mengingat pria itu nantinya akan menjadi Kakak Iparnya.

“Ada apa, Hyung? Aku sedang makan siang,” jawabnya terdengar malas.

Hyunhee bersamamu, bukan?” tanya Chanyeol to the point.

Jongin mendengus. “Bukannya Hyung bilang Hyunhee dibawa pergi oleh pria itu, aku juga bertanya sebelumnya? Kenapa sekarang Hyung tanya padaku? Tanya padanya!” balas Jongin sengit. “Jangan bilang pria itu tak becus menjaga Hyunhee? Ch!”

Ya … Hyunhee tak ada bersama Sehun, entah di mana anak itu. Belum juga Hyunji ditemukan, kini Hyunhee juga demikian,” erang Chanyeol frustrasi. “Jongin –ah … aku mohon padamu, jika kau tau keberadaan Hyunhee. Tolong katakan, Iya,” pinta Chanyeol. “Kami cemas, Jongin –ah.”

Terdengar helaan nafas dari Jongin, sepertinya dia tak dapat terus merahasiakannya dari Chanyeol hyung. “Ya, Hyunhee ada bersamaku,” akunya.

Ya Tuhan … Kim Jongin, kau benar-benar!” sentak Chanyeol yang dapat memekakan telinga. “Bawa kembali Hyunhee!”

“Tidak! Tidak akan pernah!”

Jangan membantah, kau hanya akan mendatangkan masalah lainnya!” seru Chanyeol.

“Tidakah Hyung sadar sudah membuat Hyunhee menderita?!”

Itu kami lakukan karena terpaksa, nyawa seseorang menjadi taruhannya.”

“Siapa? Pria tak waras itu?” olok Jongin.

Ya. Silakan kau bilang Sehun tak waras, tapi dia hanya terlalu mencintai dan tak siap kehilangan,” jelas Chanyeol.

“Lantas karena dia, kalian menggadaikan kebahagiaan Hyunhee?!” tuduh Jongin tajam. “Tak akan kubiarkan, meskipun kalian keluarganya. Demi Tuhan, dia gadis yang sangat kucintai!” tekan Jongin lalu memutuskan sambungan teleponnya pada Chanyeol.

Jongin terlihat sedang mengatur nafasnya yang memburu, dia sungguh tak terpikir akan meluapkan emosi pada Kakak dari kekasihnya, bodoh! Namun pada akhirnya hanya tawa hambar yang terdengar. Ahh~ sekarang posisinya tak lagi aman sebagai calon menantu yang baik di keluarga calon mertuanya.

Oh Sehun keparat! Pria sakit jiwa itu hanya modal nekad saja untuk mendapatkan gadisnya. Padahal dirinya yang susah payah menunggu untuk dapat melamar Hyunhee.

Jongin memijit kepalanya yang terasa berdenyut. Dan sialnya, dering ponsel kembali mengganggunya. Sebuah panggilan dari nomor tak di kenal.

Yeoboseyo,” jawab Jongin seiring dengan perubahan raut wajahnya yang tampak mengeras.

Panjang umur, si keparat Oh Sehun yang meneleponnya. Dan jangan bilang, jika Chanyeol hyung memberitahunya.

Jongin lantas saja memutuskan panggilan tanpa membiarkan waktu terbuang hanya untuk meladeni pembicaraan Sehun. Namun belum lama setelah panggilannya yang terakhir, ponselnya kembali berdering.

Jongin menggeram, ingin dia lempar saja ponselnya yang berisik itu.

Malas-malas dia mengangkat panggilan tersebut, ternyata itu panggilan dari rumah –Nara noona.

Kakak iparnya memberitahukan jika ada seorang pria yang datang ke rumah dan mencari-cari Hyunji, dapat Jongin tebak jika itu adalah Sehun.

Benar-benar tidak waras! Beraninya Oh Sehun datang kerumahnya! Cari mati rupanya dia. Amarah Jongin semakin naik ke ubun-ubun, uratnya pun tampak menonjol di permukaan kulitnya.

Dia segera meninggalkan kantor, tak peduli dengan makan siangnya yang masih tersisa, seleranya sudah menguap sedari tadi. Bahkan dia mengabaikan teriakan Kyungsoo, lantaran sebentar lagi masuk jam kerja kembali.

○●○

Sementara itu di kediaman keluarga Kim, seorang pria sedang mencoba menerobos masuk. Siapa lagi jika bukan Oh Sehun.

Dia terus saja kekeh mencari Hyunji, tapi apa mau dikata? Gadis bernama Hyunji di rumah tersebut memang tidak ada, kecuali jika dia mencari kembarannya. Nyonya Kim dan Nara tidak sepenuhnya berbohong, bukan?

Aksi Sehun segera berakhir seiring dengan layangan tinju yang mendarat di wajahnya, Kim Jongin adalah sang pelaku yang menorehkan luka di sudut bibir milik Sehun.

“Pergi kau!” usir Jongin.

“Tidak! Sebelum kau serahkan Hyunji padaku!”

“Siapa? Hyunji?” tanya Jongin jelas mengejeknya. “Sadarlah dari kebodohanmu, Tuan. Dan cari sendiri gadismu!” Jongin mendorong Sehun lalu dia membawa Ibu juga Kakak iparnya masuk kerumah.

Sementara itu, seorang gadis yang sedari tadi berada di dalam kamar mondar-mandir tak tenang –Hyunhee. Saat dia mengetahui jika Sehun datang, ketakutan langsung menyergapnya. Tak pernah terpikir jika Sehun akan menghampirinya ke kediaman Keluarga Kim, Hyunhee pikir dia akan aman di sini.

Hingga sebuah ketukan dan panggilan lembut mengalun dari balik pintu, Hyunhee bergegas membukakannya. Dia langsung menabrak tubuh yang muncul dari balik pintu itu dan memeluknya.

Gwaenchana Hyunhee –ya, dia sudah pergi,” tenang Jongin.

Jongin masih memeluk Hyunhee, hingga gadis itu melepaskan sendiri pelukan mereka.

“Apa kita pindah saja, ya?” tanya Jongin. Hyunhee mendongak menatapnya. “Aku khawatir jika dia datang lagi dan berbuat nekat membawamu pergi,” jelasnya.

“Aku ikut saja, apapun keputusanmu. Karena aku tau, itu pasti juga untuk kepentinganku,” jawab Hyunhee dengan senyumannya.

Good girl.” Jongin kembali memeluk Hyunhee. “Saranghae Park Hyunhee.” Dia mengecup puncak kepala gadisnya.

Namun meski Kim Jongin sedang bersikap manis, siapa tau isi pikirannya yang sedang mencurigai seseorang. Sedari tadi Jongin terus berpikir, siapa yang memberitahu keberadaan Hyunhee pada Sehun. Nama Chanyeol terus mengusiknya, biarpun enggan dia percaya. Semoga saja perasaannya benar, jika bukan Chanyeol yang telah lepas bicara.

Kalau sampai, Iya. Jangan salahkan Jongin, jika dia membawa pergi Hyunhee jauh dari keluarganya sendiri.

Hoh! Sekarang, kalian bisa lihat sikap posesif Jongin. Smirk.

Oh Sehun, dia mengabulkan permintaan Jongin untuk mencari gadisnya sendiri. Lihat saja, bagaimana usahanya untuk mendapatkan kembali gadisnya.

___○– IFA –○___

Beberapa hari setelah kedatangan Sehun di kediaman Keluarga Kim, kini semua berjalan seperti biasa –tenang. Hingga suara dari televisi yang tengah menayangkan berita mengejutkan seisi rumah tersebut.

Seorang penyiar wanita tengah memaparkan perihal pernikahan seorang konglomerat dan dilanjutkan dengan berita hilangnya istri dari konglomerat tersebut yang disertai pemberian hadiah bagi yang dapat menemukan istrinya itu.

Suasana rumah keluarga Kim sejenak hening, mereka melempar tatap pada seorang gadis yang menjadi objek dari pembicaraan sang penyiar di televisi –Hyunhee.

“Dia benar-benar sudah gila!” hardik Jongin.

Setelah berita heboh itu disiarkan, tentu saja membuat Jongin tak tenang lantaran saat ini mungkin saja sudah banyak orang yang mulai mencari-cari keberadaan Hyunhee. Dan gadis itu sendiri, dia hanya dapat pasrah berdiam diri di kediaman Keluarga Kim. Namun hal tersebut tak lantas membuatnya tenang, pikiran Hyunhee dipenuhi kekhawatiran.

Gwaenchana Hyunhee –ya?” tanya Nara eonnie.

“Aku merasa pusing, lemas dan nyeri badan, Eonnie,” aku Hyunhee lantaran percuma kalau dia berbohong mengenai kondisinya saat ini, jadi dia mengaku saja.

“Kau sudah makan?”

“Ya, saat sarapan.”

Nara tampak menghela nafasnya. “Itu sudah beberapa jam yang lalu, Hyunhee –ya. Kau bahkan hanya makan sedikit saat sarapan tadi –aku lihat,” omelnya. Nara menuntun Hyunhee menuju dapur dan mendudukannya di depan meja makan. “Kau mau makan apa? Akan aku masakan.”

Hyunhee melambaikan tangannya, menolak. “Tidak usah, Eonnie. Aku juga belum kepengen makan.”

Nara menghampiri Hyunhee dengan bertolak pinggang, lalu tangannya menyentuh kening gadis itu. “Kau sedikit hangat,” ujarnya. “Dengar Hyunhee –ya, saat ini kau sedang mengalami masa sulit. Jadi setidaknya, kau harus jaga kesehatanmu.”

“Baiklah, aku makan,” jawab Hyunhee sembari mengulurkan tangan mengambil selembar roti tawar dan selai coklat. Nara tampak meliukkan alisnya dan hendak protes. “Ini saja cukup, aku tak sanggup jika makan nasi dan lauk.”

Nara menggeleng, lalu kembali menambahkan dua lembar roti tawar di hadapan Hyunhee. “Dimakan!” tekan Nara.

Hyunhee tersenyum kikuk di sela-sela makannya.

Pada akhirnya Hyunhee menghabiskan tiga lembar roti tawar karena Nara eonnie terus mengawasinya.

“Istirahatlah.”

“Ya Eonnie.” Hyunhee beranjak dari duduknya dan hendak membereskan peralatan makan, namun Nara mencegahnya.

“Apa kau tidak dengar yang aku bilang tadi? Istirahat. Bukankah kau merasa pusing? Ini biar aku saja yang bereskan.” Nara mengambil alih peralatan makan.

“Tidak usah, biar aku saja. Eonnie kan sedang hamil.”

“Aku memang sedang hamil, tapi aku sehat. Sudah, sana istirahat.”

Hyunhee masih bergeming di belakang Nara yang sedang merapikan peralatan makan. “Kau butuh sesuatu?”

“Apa ada obat sakit kepala?”

“Entahlah, disini jarang menyetok obat,” jawab Nara. “Kau mau minum obat?”

“Ya, rasa sakitnya sedikit mengganggu.”

“Sepertinya tidak ada, Hyunhee –ya. Mau kubuatkan air Jahe saja?” ucap Nara setelah mengecek kotak P3K.

Kening Hyunhee mengernyit saat mendengar tawaran Nara eonnie tentang air Jahe. “Emmm … aku pergi beli obat saja kalau begitu.”

“Kau yakin? Kita panggil Dokter saja, ya.”

Hyunhee tertawa hambar, dia sedikit anti dengan Dokter. Sebab terakhir kali dia sakit, bukan saja obat yang dia dapat, tapi juga suntikan.

“Suruh Jongin saja untuk membelikanmu obat.”

Hyunhee menggigit bibirnya. “Tidak perlu Eonnie, aku tak mau merepotkan Jongin oppa. Dia sudah terlalu banyak pikiran dan sibuk dengan pekerjaan, jika diberitahu aku sakit maka dia akan cemas. Toh ini cuman sakit kepala saja,” jelas Hyunhee.

“Baiklah,” jawab Nara menyerah pada akhirnya.

Hyunhee pergi dengan pergi dengan menggunakan taksi dari kediaman Keluarga Kim menuju Apotek, tapi setelah dia mendapatkan obatnya –Hyunhee tak segera pulang. Dia tertarik dengan Tteokbokki yang dijajakan di pinggir jalan, lantas Hyunhee menghampirinya dan memesan.

Suatu keanehan baginya yang seorang penggemar rasa manis, sebab dia sudah menghabiskan dua porsi Tteokbokki pedas. Tapi tak buruk juga, rasa sakit di kepalanya telah teralih dengan rasa terbakar di rongga mulutnya hingga mata dan hidungnya mengeluarkan air.

Tanpa terasa hari beranjak senja, Hyunhee beranjak hendak pulang. Dia menunggu di halte untuk menyetop taksi. Setelah mendapat taksi dan menyebutkan alamat tujuannya, Hyunhee duduk dengan tenang di jok penumpang hingga dia menyadari sesuatu –ini bukan arah yang dia tuju.

Apa ini? Sekarang bahkan belum terlalu gelap, tapi supir taksi membawanya entah kemana. Apakah dia sedang diculik (lagi)?

“Kemana kau mengemudi? Ini bukan jalan ke tempat tujuanku!” sentak Hyunhee pada sang supir taksi yang terbilang masih muda itu.

Namun Hyunhee tak mendapat jawaban, hingga taksi berhenti di suatu tempat yang asing baginya.

_______________

♦––○ IFA ○––♦

_______________

Sebuah mobil SUV hitam terparkir di halaman kediaman Keluarga Park dan seorang pria berpakaian kasual keluar dari mobil tersebut, dengan langkah panjang dan cepat dia berjalan menuju pintu lalu memencet bel.

Pintu rumah kediaman Park terbuka dan menampilkan wanita yang sedang hamil.

Noona, dimana Hyunji?” tanya pria itu lebih dulu.

Wanita hamil yang merupakan seorang menantu dari rumah tersebut –Raerim– tampak bingung, namun dia segera paham dengan maksud pria itu. “Bukankah Hyunji pergi denganmu, Sehun –ah?” Raerim menjawab dengan pertanyaan dan keheranannya.

“Jangan membohongiku Noona, dengan menyembunyikan beradaaan Hyunji.” Sehun menerobos masuk ke dalam rumah tersebut. Mencari gadis itu ke semua penjuru, nihil. “SHIT!!” umpat Sehun dan segera berbalik –pergi.

Oh Sehun, setelah dia mengetahui ketidak beradaan sang Istri di Maladewa, dia lekas kembali ke Korea. Mengunjungi rumah gadis itu adalah pemikiran pertamanya, namun tenyata tak dia temukan. Kim Jongin adalah seseorang yang selanjutnya dia curigai, tanpa menunda dia segera tancap gas.

Di perjalanan, Sehun tampak menggunakan Handsfree untuk menghubungi seseorang sembari mengemudi, tak lama panggilannya dijawab. Namun baru satu patah kata yang Sehun ucapkan, panggilannya sudah diputus.

“Kim Jongin sialan!” umpatnya sembari melepas kasar Handsfree yang terpasang di telinganya.

Baiklah, jika pria itu tak mau menerima panggilannya. Maka dirinya sendiri yang akan membuatnya datang.

Untuk yang kedua kalinya, Sehun kembali berjumpa dengan wanita hamil di kediaman Keluarga Kim.

“Maaf, ada perlu apa Tuan?”

Sehun memang tak kenal dengan wanita hamil yang bertanya padanya itu, tapi dia cukup baik untuk menebak jika wanita itu adalah istri dari Kim Junmyeon. “Saya datang untuk membawa kembali Hyunji!” Sehun melihat raut wajah terkejut dari lawan bicaranya, dia memicingkan matanya dan semakin menaruh curiga.

Hingga seorang wanita paruh baya datang dari dalam dan menghampiri mereka. “Siapa yang datang, Nara?”

“I … itu, Eomeoni.” Nara bicara gagap.

Ekspresi wanita paruh baya itu juga terkejut saat bertatap wajah dengan Sehun, namun segera dia kontrol kembali menjadi sambutan yang ramah. “Selamat siang Tuan Oh, ada perlu apa datang kemari?” Nyonya Kim sebelumnya pernah bertemu dengan Sehun, tepatnya saat hari pernikahannya.

Meskipun Nyonya Kim sudah beramah-tamah, nyatanya Sehun masih saja bermuka keras. “Saya datang untuk membawa kembali istri saya yang dibawa oleh anak Anda.” Nada bicaranya sedikit melembut, meskipun masih terdengar menekan.

“Istri?” Nyonya Kim mengulang kata ‘istri’ dengan sedikit memekik. “Untuk apa istri Tuan Oh ada di sini?” ucapnya masih dengan tersenyum. “Dan anak saya, apa hubungannya?”

“Tolong jangan menyembunyikannya dari saya, karena saya tahu dengan pasti.” Ada kekesalan yang tertahan dari ucapan Sehun.

“Tidak sama sekali, jadi saya minta tolong pada Tuan Oh untuk meninggalkan rumah saya. Karena orang yang Anda cari tidak ada,” usirnya masih terdengar nada rendah.

“Tidak sebelum saya memastikannya sendiri.” Biarlah Sehun terlihat lancang hendak menerobos rumah orang, tapi dia benar-benar tak percaya.

Nyonya Kim tak tinggal diam, dia menghalangi Sehun yang hendak masuk. Dia ingin melindungi Hyunhee, bukan saja karena gadis itu kekasih dari anaknya. Tapi Nyonya Kim sudah sayang pada gadis itu dan tak ingin Hyunhee menderita lagi.

Oh Sehun bukan tak kuat melawan wanita paruh baya yang menghalangi jalannya, dia masih punya rasa hormat pada orang tua. Hingga pada akhirnya ada sebuah tangan yang meraih pundaknya dan tinju yang mendarat di wajahnya.

Sehun mendongak setelah dia dibuat tersungkur karena tinju yang mampir tanpa permisi itu, Kim Jongin berdiri dengan amarah yang tercetak jelas di wajahnya.

“Pergi kau!” usir Jongin.

“Tidak! Sebelum kau serahkan Hyunji padaku!”

“Siapa? Hyunji?” tanya Jongin jelas mengejeknya. “Sadarlah dari kebodohanmu, Tuan. Dan cari sendiri gadismu!” Jongin mendorong Sehun lalu dia membawa Ibu juga Kakak iparnya masuk kerumah.

Sehun masih bergeming memandangi pintu yang tertutup itu, sudut bibirnya tertarik membentuk seringai. “Akan kudapatkan kembali apa yang menjadi milikku.”

Sehun tak tanggung-tanggung untuk menemukan gadis itu, dia sampai menyiarkannya dalam berita hingga pemberian hadiah yang menggiurkan. Bukan itu saja, bahkan sampai situs internet dan billboard.

Cekrek!

Suara jepretan kamera disertai kilatan flash yang berasal dari sebuah mobil yang terparkir di depan sebuah rumah terdengar seiring keluarnya seorang gadis. Perlahan, mobil itu melaju bersamaan perginya gadis itu dari kediamannya.

“Selamat siang Tuan, saya menghubungi untuk melapor. Target saat ini terlihat keluar dari kediamannya.”

Ikuti dan tetap pantau,” balas lawan bicara menitah.

“Baik.”

Orang tersebut terus mengikuti targetnya mulai dari sebuah Apotek hingga kedai pinggir jalan, hingga selanjutnya dia melihat gadis itu keluar dan menuju sebuah halte. Tangannya kembali meraih ponsel yang ada di sakunya dan menghubungi seseorang.

“Lapor. Target sudah masuk ke dalam Taksi yang telah kita siapkan.”

Bawa dia padaku … dan jangan sampai melukainya.”

Setelah mendapat titah selanjutnya, pria itu keluar dari mobilnya dan pergi menghampiri Taksi yang terparkir tak jauh dari tempatnya berada. Dia membuka pintu belakang penumpang dan manarik tangan milik seorang gadis.

Gadis itu merontak, dia mendekatkan dirinya disisi wajah gadis itu dan berbisik, “Melawan tak akan ada gunanya, tenanglah dan ikut denganku,” ucapnya dengan nada rendah mengintimidasi.

Dia membawa gadis itu masuk ke sebuah hotel melalui pintu belakang dan berakhir di sebuah kamar VVIP, lalu menguncinya dari luar.

Gadis itu menggedor-gedor pintu dan berteriak, namun tak ada jawaban dari luar. Hingga suara muncul dari belakang punggungnya, “Bukankah aku sudah pernah bilang, –jangan pernah pergi dariku, karena aku akan selalu dapat menemukanmu. Istriku.”

Gadis itu berbalik dan terkejut. “Sehun –ssi.”

Oh Sehun, dia menghampiri gadis itu dengan tangannya yang merentang dan senyumnya yang merekah. Sementara tubuh gadis itu beringsut mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.

“Selamat datang, Istriku. Aku merindukanmu. Maaf aku membawamu dengan cara seperti ini,” ucap Sehun lembut saat dia berhasil merengkuh tubuh gadis itu.

“Keterlaluan kau, Oh Sehun!” Hyunhee masih berusaha melepaskan diri dari Sehun dengan air matanya yang telah berderai.

“Tidak … kau yang keterlaluan padaku, sayang. Kau pergi meninggalkanku dan membuatku susah mencarimu.” Sehun melonggarkan pelukannya dan menatap sepasang netra di hadapannya. Tangannya terulur mengusap sungai kecil yang tercipta di wajah gadis itu. “Istirahatlah, kau sedang sakit bukan?”

“Berhentilah berpura-pura seakan kau peduli padaku!” sentak Hyunhee.

“Aku memang peduli padamu.”

Sehun menggenggam tangan sang Istri dan membawanya masuk ke kamar, namun Hyunhee menepisnya. “Jangan menolakku,” ucap Sehun lirih. Lalu dia menggendong tubuh gadis itu –ala bridal syle dan mendudukannya di ranjang. “Aku akan mengambilkan makan untukmu, agar kau bisa minum obat.”

“Tidak perlu, aku sudah makan!” tolak Hyunhee.

“Aku khawatir, Tteokbokki saja apa cukup?”

Hyunhee menatap tajam Sehun. Pria itu tahu dari mana? Dia membuntutinya?!

“Ah~ aku lupa, dua porsi tepatnya,” sambung Sehun dengan kekehannya.

Hyunhee mendengus, dia beranjak bangun.

“Mau kemana?” tanya Sehun.

“Mengambil obat.”

“Biar aku saja.” Sehun mendorong pelan gadis itu untuk kembali duduk di ranjang. Sementara dia keluar.

Tak lama Sehun kembali dengan segelas air dan kantong plastik berisi obat gadis itu. “Apa yang kau cari?” tanya Sehun saat melihat gadis itu sibuk tasnya.

“Kau mengambil ponselku?!” tuduh Hyunhee tajam.

Sehun hanya menampilkan senyum. “Diminum dulu obatnya.” Di telapak tangan kanannya kini terdapat beberapa butir obat, sementara tangan kirinya memegang gelas.

Hyunhee merauk dengan kasar butiran obat itu dan langsung memasukannya ke dalam mulut, namun baru beberapa saat obat itu menyentuh lidahnya –dia tampak kepayahan. Hyunhee berlari ke arah toilet dan memuntahkan obat tersebut ke wastafel.

“Hyunji –ya, kau baik-baik saja?” suara khawatir Sehun terdengar dari punggung Hyunhee.

Gadis itu tak menjawab, dia masih sibuk memuntahkan di wastafel biarpun obatnya sudah dia keluarkan. Hyunhee duduk berjongkok setelah itu, kakinya terasa lemas. Bau obat yang baru masuk ke mulutnya tadi sungguh membuatnya mual.

Sehun kembali menggendong gadis itu dan membawanya duduk di ranjang, Hyunhee tak berontak –dia tak memiliki kekuatan.

“Akan kupanggilkan Dokter.” Sehun mengeluarkan ponselnya.

“Jangan!”

Mendengar penolakan gadis itu, Sehun langsung menoleh sembari memberikan ekspresi bingung.

“Tak perlu,” jawab Hyunhee. Sehun masih memberikan tatapan padanya. “Tolong, jangan,” ucapnya lemah.

Sehun tersenyum, dia mengerti nada bicara gadis itu –dia terdengar takut. “Kau memuntahkan obatmu, lantas bagaimana kau akan sembuh?”

Hyunhee menggigit bibirnya. “Aku takut disuntik,” akunya.

Tawa Sehun pecah, seiring dengan sebuah ingatan yang datang di pikirannya. Mengingat bagaimana gadis itu melarikan diri dari Dokter yang hendak menyuntiknya dan berakhir dengan suara rintihan sakitnya saat jarum tajam menembus kulitnya.

“Baiklah.” Sehun mengusap lembut puncak kepala gadis itu dan membuatnya berbaring. “Sekarang kau istirahat saja kalau begitu.”

[TBC]

Hyunhee dibawa oleh Sehun. Bagaimana dia bisa lepas lagi dari pria itu? Dan Jongin, seperti apa reaksinya saat tahu Hyunhee tak ada?

Bang Sehun segitu hebohnya buat nyari Hyunhee yang disembunyiin sama Jongin. Gimana coba klo dia tau Hyunji ilang dan keberadaannya antah-berantah?

BTW, adakah yang kepincut sama sikap manis Sehun di paragraf-paragraf terakhir tadi? >o<

To Hyunhee: Are you okey, Sister?

See you next chapter

#XOXO

16 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 26)”

    1. Ya, itu adalah pertanyaan yang selalu kalian tuliskan tiap kesempatan ..
      maaf aku terlalu lama menyimpan Hyunji ..
      Hyunji, balik!! kau harus segera selesaikan ke kacauan ini..

  1. Akhirnya update 😍 baru baca kekeke~
    Sikap sehun di akhir manis banget, tapi kesel juga liat sikapnya yg posesif dan gak sadar2 kalau hyunhee bukan hyunji
    Ditunggu kelanjutannya 😍😘❤❤❤

  2. Jangan bilang hyunhee sakit “gejala HM alias Hamil Muda”wkwk,bisa sehun menang banyak nih..hehe, ayo jongin semangat nyari hyunhee..lanjut thor..

  3. bagus sih. tapi ini masalahnya terlalu berlarut-larut. seperti gak ada ujungnya. konfliknya juga cendrung monoton. ko aku heran jadi jongin ikut2an posesif. jika mmg ingin membuat ceritanya berseries panjang tdk masalah tetapi tolong dipersiapkan konflik2 yang lebih bervariatif. sehingga lebih menarik lagi. maaf panjang. semangat thor!!!

  4. Omg …knpa nda ksih tau abang sehun aja sih spaya dia nnati nyari hyunji ..
    Jdi kasian liatin hyunhee ama kai ..
    Jgn berbelit belit thoor

    1. Terkadang bagi sebagian orang itu, bicara terus terang itu tak mudah ..
      Kedepannya akan aku perbaiki alur ini, agar tak terlalu berkelit. terima kasih atas sarannya ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s