[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 4)

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 4]

Author    : IFAngel  (Wattpad: @ifangel04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.ka Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan

Don’t be silent readers! Please, leave comment after reading

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

This story is mine and my work

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

[London, 06.00 PM]

Seorang pria berkulit tan tampak sibuk dengan ponsel, komputer, pena dan kertas-kertas. Tangan kirinya sibuk memegangi ponsel yang dia tempelkan ditelinganya untuk mendengar tiap kata dari lawan bicara dan kemudian dia menjawabnya dengan lugas, sedangkan tangan kanannya begitu multitasking meng –handle tiap pekerjaan mulai dari: menyentuh keyboar mengetikkan huruf per huruf, mengarahkan mouse, membulak-balik lembaran dokumen sembari membacanya dan membubuhkan tinta pena disana. Sesekali dia menggunakan bahunya untuk mengampit ponsel dengan telinganya, sementara disaat itu tangannya sibuk dengan pekerjaan yang lain. Orang yang melihatnya akan berkomentar betapa piawainya dia dalam bekerja. Tapi bagi pria bernama lengkap Kim Jongin, itu sudah jadi rutinitas sehari-harinya sejak dia ditugaskan mengelola cabang Departement Strore tersebut beberapa tahun silam.

Okay, thank you Sir. Just wait a minute, I will call you back again,” dia penyudahi panggilannya dan merilekskan otot tubuh yang tegang dengan bersender pada bantalan kursi yang empuk dan nyaman. Setelah itu, dia meneguk air pada botol hingga tandas.

“Tenggorongakkanmu kering, Tuan?” ucap seorang pria yang merupakan asisten dari Jongin, Do Kyungsoo.

“Eoh … Hyung, sejak kapan kau disana?”

“Cukup lama. Apakah aku ini hantu, sampai kau tak menyadari kedatanganku?” Jongin menaikkan bahunya. “Ya~ seandainya, hubungan asmaramu sama cepatnya seperti kau bekerja, mungkin kau sudah punya anak tiga,” gurau Kyungsoo. Tapi Jongin sama sekali tak merasa itu lucu.

“Kau bicara denganku, Ahjussi?” ucap Jongin meledek. Kyungsoo membelalakkan mata. “Urusi saja dirimu sendiri, kau sudah tiga puluh tahun, tapi masih jomblo. Perlu kucarikan seorang Ahjumma untukmu?” ucap Jongin masih belum lelah meledek Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum kecut, jika saja ada palu ditangannya, mungkin dia sudah melemparnya kearah Jongin. “Jongin –ah, tadinya aku ingin membantu hubungan asmaramu. Jadi berhentilah, sebelum aku malah berbalik dan menghancurkannya,” ucap Kyungsoo dengan suara pelan namun terasa menakutkan saat didengar.

“Kalau begitu bicaralah pada temanmu yang bernama Kim Junmyeon, agar memulangkanku ke Korea,” ucap Jongin terdengar meminta.

“Dia kan Hyung –mu sendiri, kau bicara saja langsung padanya. Sudah, ikut denganku,” ucap Kyungsoo dan pergi.

“Akh … hyung, kau kenapa lagi?” ucap Jongin frustrasi.

“Tak usah banyak tanya, ikut saja denganku.”

Akhirnya tanpa mengetahui apapun, Jongin mengikuti Kyungsoo dan sampai di apartemennya.

Mwoya ige, Hyung? Kenapa malah pulang? Apa kau meninggalkan sesuatu?” Jongin bertanya-tanya.

“Kalau kau ingin mengucapkan terima kasih, cukup transferkan saja beberapa ribu dollar ke rekeningku,” ucap Kyungsoo lalu mendorong Jongin masuk ke apartemennya.

Saat Jongin masuk ke apartemennya, dia merasa aneh. Apartemennya terasa berbeda dari biasanya, yang paling mencolok adalah banyak kelopak bunga yang berserakan di lantai dan lilin aroma yang menyala. Jongin masih terus berjalan, hingga saat dia tiba di dapur, dilihatnya ada begitu banyak masakan Korea juga cake. Jongin menaikkan sebelah alisnya dan menatap penuh tanya kearah Kyungsoo. Tiba-tiba terdengar suara ceret air yang tengah dipanaskan berbunyi, baik Jongin dan Kyungsoo langsung mengalihkan perhatiannya. Kyungsoo berlari untuk mematikan kompor.

Hyung, bisa kau jelaskan. Sebenarnya ini apa? Semua ini apa kau yang menyiapkan?” Jongin menarik kursi di meja makan dan duduk. “Bunga, lilin aroma dan makanan. Ini tidak seperti dirimu. Apa kau sedang merayuku?” Jongin mulai memasukkan beberapa makanan ke gua mulutnya.

Pada saat itu, tiba-tiba seorang gadis dengan handuk di kepalanya muncul. Gadis itu terpaku saat melihat dua orang pria ada di dapur. Salah seorang pria disana juga tak kalah terkejutnya saat melihat gadis itu, makanan yang sedang dia nikmati sebelumnya hampir tak tertelan.

“Aish …. Kyungsoo oppa!” teriak gadis itu tertahan.

Kyungsoo membeku, dia menyadari kesalahannya. “Maaf, Hyunhee –ya. Apa aku terlalu cepat membawa Jongin pulang? Kau belum siap rupanya,” ucapnya penuh sesal.

“Harusnya Oppa kabari aku dulu,” ucap Hyunhee lalu melesat pergi ke kamar sembari menutupi wajahnya.

Jongin menghela nafas. “Jadi ini kejutan untukku? Ya~ Hyung, kau jahat sekali telah menghancurkannya, padahal pacarku sudah susah-susah menyiapkannya.” Jongin berdecak sembari menggelengkan kepala dan melipat tangan didada.

“Sebaiknya kau susul Hyunhee,” ucap Kyungsoo mengalihkan pembicaraan. Jongin berjalan kearah kamarnya sembari masih berdecak, dia bermaksud membuat Kyungsoo lebih merasa bersalah dan terbebani.

Saat Jongin masuk ke kamar, dilihatnya seorang gadis duduk diranjang dengan menekuk lutut sembari membenamkan kepalanya disana. Jongin menghampiri gadis itu dan duduk disebelahnya. Setelah itu dia membawa gadis itu pada dirinya dan memeluknya.

Gomawo Hyunhee –ya.” Jongin mengecup puncak kepala gadis itu. “Dimana wajah cantik gadisku, aku ingin melihatnya,” godanya. Hyunhee mendongakkan kepalanya, memperlihatkan cairan bening dari matanya yang mengalir menuruni kulit wajahnya. Jongin menangkupkan telapak tangannya di wajah Hyunhee dan kemudian mencium kelopak mata gadis itu. “Aigoo … kau sudah bekerja keras, sekarang berhentilah,” ucap Jongin bicara pada mata gadis itu sembari mengusapnya untuk menghapus jejak air mata yang sempat mengalir. Hal itu membuat sebuah senyum merekah di bibir Hyunhee. “Nah~ seperti itu. Tersenyumlah, itu yang ingin kulihat.” Jongin menghampiri bibir Hyunhee, membuat gadis memejamkan matanya. “Bogoshipo,” ucapnya setelah mengakhiri salam singkat nan dalam dibibir mereka.

Nado,” jawab Hyunhee. “Saranghaeyo Oppa,” sambungnya.

Nado,” balas Jongin dan menampilkan senyumannya. “Ayo lanjutkan yang tadi,” ucap Jongin dan membuat Hyunhee mengerutkan keningnya bingung. “Makanannya bisa dingin, maksudku,” ucapnya mengoreksi.

Jongin menuntun Hyunhee keluar menuju dapur. Disana, Kyungsoo masih dengan setia menunggu  kedatangan sepasang kekasih itu. Jongin menarik kursi untuk Hyunhee dan gadis itu duduk, baru setelah itu Jongin dan diikuti Kyungsoo.

“Kyungsoo oppa, kau masih disini?” celetuk Hyunhee, membuat Kyungsoo tersentak. Jongin menahan tawanya, membuat tulang pipinya tampak naik. Kyungsoo beranjak dari duduknya. “Mau kemana? Kyungsoo oppa tak mau makan dulu?” tanya Hyunhee dingin. Kyungsoo kembali duduk dengan perlahan.

“Hyunhee –ya, ini semua kau yang memasaknya?” tanya Jongin.

“Tidak … ini masakan Eomma, aku cuma memanaskannya. Masih bagus bukan?” jawab Hyunhee lalu dilanjutkan dengan bertanya. Jongin mengangguk sembari terus memakan. “Kyungsoo oppa, apa rasanya enak?”

Kyungsoo terdiam sejenak dan menaruh sendoknya terlebih dahulu sebelum bicara. Entah kenapa pria itu bersikap sangat sopan pada gadis yang lebih muda darinya. “Ya … terima kasih atas makanannya. Sampaikan salamku pada Ibumu.”

“Tapi ini tidak gratis, Kyungsoo oppa.”

“Ya, aku tau,” Kyungsoo memaksakan senyumnya. “Jadi berapa yang harus ku bayar?”

“Jika saja Kyungsoo oppa tak mengacaukan kejutanku, mungkin oppa dapat makan dengan leluasa. Nanti kita pikirkan berapa harga yang harus Oppa bayar, sekarang kita makan dulu,” ucap Hyunhee dengan santainya.

Padahal dari tadi siapa yang terus bicara dan mengganggu waktu makan,” batin Kyungsoo kesal.

“Kyungsoo oppa,” panggil Hyunhee pelan.

Lagi? Gadis ini benar-benar tak memberiku kesempatan untuk makan dengan tenang,” gerutu Kyungsoo dalam benaknya. “Ya? Kenapa Hyunhee –ya?” Kyungsoo mencoba bicara dengan nada normal.

“Kyungsoo oppa, tinggal dimana? Apakah bersama dengan Jongin oppa? Disini cuman ada satu kamar, kalian tidur bersama?” tanya Hyunhee dengan tempo cepat.

Uhuk!

Jongin tersedak, sementara Kyungsoo bengong.

“Tidak. Kyungsoo hyung tidak tinggal disini,” jawab Jongin dengan masih terbatuk. Hyunhee menuangkan air untuk kekasihnya itu, Jongin menerima air dari Hyunhee dan segera meminumnya untuk melancarkan kerongkongannya. “Kyungsoo hyung menyewa apartemen di lantai satu.”

“Syukurlah kalau begitu,” jawab Hyunhee dengan nada senang, dia tersenyum dan melanjutkan makannya.

Sekitar pukul sepuluh malam Kyungsoo pulang, dia pergi dengan perut kenyang dan rasa melayang, setelah menghabiskan sebotol Wine. Mau tak mau, Jongin mengantarnya dan meninggalkan Hyunhee sendiri di apartemennya. Gadis itu menatap keseliling apartemen, benar-benar berantakan. Dia menarik nafas panjang sebelum meregangkan otot-ototnya dan mulai membereskan sisa-sisa kekacauan.

“Aish! Kenapa aku pake menabur bunga dan menyalakan lilin banyak sekali,” gerutunya pada diri sendiri. Saat ini Hyunhee tengah meniup satu per satu lilin-lilin itu dan setelah itu dia menyapu kelopak bunga yang berserakan di lantai. Ruang tengah selesai, dia beralih ke dapur. Mencuci peralatan makan dan terakhir mengelap meja makan.

“Fuuhh~ selesai juga.” Hyunhee menarik kursi pada meja makan dan duduk disana. Kepalanya dia tangkupkan di meja. Tak lama setelah itu, Jongin datang. “Oppa, kenapa lama sekali?”

“Iya, Kyungsoo hyung benar-benar mabuk. Aku kesulitan membawanya, belum lagi aku tak tau password apartemennya,” jelas Jongin.

“Terus dimana Kyungsoo oppa –nya, kalau apartemennya tak bisa di buka?”

“Owh … aku meminta pihak keamanan untuk membukakannya,” jawab Jongin. “Kau sedang apa disitu? Sudah malam, bukannya tidur. Masih mau makan?” tanya Jongin karena Hyunhee masih betah duduk di balik meja makan.

“Aku habis bebenah Oppa, tidakkah kau melihat apartemenmu sudah lebih rapih?”

Jongin menoleh ke sekeliling ruangan. “Eoh! Kenapa kau bereskan semuanya sendiri? Biarkan saja.”

“Aku tak betah melihat ruangan berantakan.”

“Apa kau itu misofobia?” Hyunhee menggeleng. “Setidaknya kau tunggu aku, biar kita bereskan bersama, jadi kau tidak terlalu lelah,” ucap Jongin lembut sembari merapikan anak rambut Hyunhee yang berantakan. “Sudah, sekarang kau tidurlah.”

Jongin menuntun Hyunhee ke kamar sampai ke tempat tidur dan menyelimutinya.

Oppa, kau mau kemana?” tanya Hyunhee saat melihat Jongin keluar kamar dengan membawa bantal dan selimut.

“Aku tidur diluar, kenapa? Kau mau tidur denganku?” goda Jongin. Hyunhee menarik selimutnya hingga sebatas hidung. “Kalau tidak, jangan menggodaku Nona.” Jongin menutup pintu kamar setelah keluar. Tak lama dia kembali masuk ke kamar. “Mau dimatikan lampunya?” Hyunhee mengangguk, Jongin menekan saklar lampu untuk mematikan lampu. “Sebaiknya kau kunci pintunya, aku tak bertanggung jawab jika kau kehilangan pakaianmu saat bangun,” ucap Jongin pelan, tapi Hyunhee masih bisa mendengarnya. Tampak salah satu sudut bibir Jongin tertarik keatas, Hyunhee bergidik ngeri.

…-ooOoo-IFA-ooOoo-…

Disebuah gang kecil nan gelap yang merupakan celah diantara dua bangunan besar yang berdiri di sisinya, tampak tiga orang pria tengah berseteru, satu diantaranya bertindak sebagai penengah.

Hyung, kenapa kau lakukan ini padaku?!” teriak seorang pria sembari mencengkeram kerah baju dari seseorang yang dia panggil dengan sebutan ‘Hyung’.

Pria yang tengah berada dalam cengkeraman itu mendengus sembari mengeluarkan senyum smirk –nya. “Melakukan apa? Dia yang datang sendiri padaku,” jawabnya santai. “Tapi tak buruk juga, dia sangat lihai. Apa kau sering bermain hingga dia menjadi begitu lihai, Sehun –ah?”

“Berhenti bicara kau, brengsek!!” marah pria yang bernama Sehun itu. Dia melepaskan cengkeramannya di kerah baju lalu melayangkan tinjunya berkali-kali.

“Sehun –ah, berhenti. Kita pergi,” ucap pria lainnya menengahi perkelahian itu dan menarik Sehun.

Pria yang dihajar Sehun dengan tinjunya tadi, tampak babak-belur. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, pria itu mengusapnya lalu bangun. “Kalau kau sudah bosan, berikan saja padaku,” ucap pria itu seakan tak ada lelahnya memancing emosi dari Sehun.

Sehun yang belum stabil emosinya, kembali menghampiri pria kurang hajar itu. Namun sebelum dia melayangkan tinjunya kembali, pria yang tadi menariknya untuk pergi telah lebih dulu menghentikannya. “Lepaskan aku, Xiumin hyung! Atau kau juga akan kuhajar,” berontak Sehun. Tapi pria bernama Xiumin itu tak melepaskannya.

“Hajar saja aku!” balas Xiumin sembari menatap tajam kearah Sehun.

“Baiklah, kalau itu mau –mu hyung,” ucap Sehun seakan sudah hilang akal dan menghajar Xiumin.

Buughh!!

Seketika Sehun tersadar, membuka matanya dan terbangun dari tidurnya. “Akh … sial! Kenapa aku memimpikannya lagi,” ucap Sehun sembari meremas rambutnya.

Sehun mengambil gelas berisi air yang terletak diatas meja kecil di sebelah tempat tidur dan meminumnya hingga tandas. Setelah itu dia berjalan kearah kamar mandi. Beberapa saat kemudian, terdengar suara percikan air dari dalam sana. Sepuluh menit dia berada di kamar mandi, keluar dengan rambut basah dan tubuh terlilit handuk hingga sebatas pinggang, menampilkan bagian perut yang tampak berotot dan dada bidangnya.

Sehun berjalan ke keruang lain, yang merupakan ruangan khusus pakaian dan aksesoris. Lalu dia memilih salah satu setelan yang digantung dan lekas berpakaian. Selanjutnya dia memilih arloji, dasi, ikat pinggang dan sepatu sebagai pelengkap. Setelah rapi, dia keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Mengambil selembar roti dan satu bungkus kopi instan yang dia tuangkan kedalam cangkir bersama air panas lalu mengaduknya. Begitulah sarapan sederhana Sehun setiap hari, sebelum berangkat bekerja. Lima menit berlalu, Sehun menyelesaikan sarapannya dengan kopi yang masih tersisa setengah di cangkir dan pinggiran roti yang tak dia makan. Dia hendak meninggalkan meja makan bersama dengan peralatan yang dia gunakan sebelumnya, tapi Sehun berbalik kembali menuju meja makan dan membereskan peralatan makan, lalu menaruhnya pada wastafel. Sehun menatap malas kearah wastafel yang berisi tumpukkan peralatan makan yang kotor. Tak mungkin dia mencuci piring di saat seperti ini, bajunya bisa saja kotor. Akhirnya Sehun meninggalkan tumpukkan piring kotor itu. Dan begitulah piring kotor terus menumpuk di wastafel.

○○○

Menghadiri rapat, membaca dan menandatangani dokumen adalah pekerjaan yang selalu Sehun lakoni. Hingga waktu makan siang tiba, Sehun masih diruangannya memeriksa dokumen. Dan saat itu Xiumin datang.

“Tinggalkan dulu pekerjaanmu, kita makan siang sekarang.” tutur Xiumin. Hanya tubuh Sehun yang merespon dengan menghampiri Xiumin. “Kau ini kenapa? Sudah seperti mayat hidup saja. Saat rapat, kebanyakkan bengong dan sampai sekarang juga masih.”

“Hanya tak bersemangat,” jawab Sehun lemas.

“Ya, aku bisa melihatnya.” Xiumin mengangguk-angguk. “Masih belum bicara dengan Hyunji?” tebak Xiumin.

“Lebih parah dari panggilanku diabaikannya, sejak semalam panggilan tak tersambung,” jawab Sehun.

“Sudah berapa hari Hyunji tak bisa dihubungi? Kalau begitu, tanya saja pada kembarannya. Bukannya mereka berlibur bersama?”

Sehun menatap Xiumin penuh binar. “Wah~ Hyung! Aku tak kepikiran itu sama sekali.” Sehun menepuk bahu Xiumin cukup kencang, membuatnya sedikit meringis.

Sehun merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan mencari kontak dari Hyunhee.

Yeoboseyo,” suara dari seseorang yang menjawab telepon Sehun terdengar berat, dia menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melihat apakah dia salah menekan kontak. Benar kok, itu kontak milik Hyunhee.

Sehun kembali mendekatkan ponselnya ke telinga. “Nuguseyo?”

Ini Kai, pacarnya Hyunhee. Dia sedang memasak, jadi aku yang angkat teleponnya. Kenapa Sehun –ah?” jawab Kai dilanjutkan dengan bertanya.

“Bisakah kau berikan teleponnya pada Hyunji. Aku ingin bicara dengannya, karena ponselnya tak dapat dihubungi,” ucap Sehun.

Kai mengerutkan keningnya. Pikirnya, apa Sehun sedang mabuk. “Hyunji? Dia tak ada, memangnya dia juga pergi ke London?

Sehun tampak terkejut, setelah itu dia langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan Kai secara sepihak dan membuat Kai terus berteriak ‘halo’. Perasaan dan pikirannya campur aduk saat ini.

“Apa katanya?” tanya Xiumin yang sedari tadi memperhatikan Sehun.

“Hyunji tak pergi ke London,” jawab Sehun.

Mwo? Coba kau hubungi keluarganya yang lain,” ucap Xiumin.

Sehun menuruti saran dari Xiumin dan segera menghubungi Chanyeol yang merupakan kakak dari Hyunji. Hasilnya sama seperti saat Sehun bertanya pada Kai, tidak tau dan merasa heran.

“Aku harus bertanya pada siapa lagi? Jika keluarganya saja tidak tahu,” ucap Sehun seakan kehilangan harapan.

“Sudah, kita makan dulu. Setelah itu baru pikirkan cara untuk menemukan Hyunji,” saran Xiumin.

Tak terasa hari sudah kembali gelap, Sehun masih duduk dibalik meja kerjanya. Hanya saja, bukan berhadapan dengan setumpuk dokumen, tapi sebotol wine. Saat itu Xiumin kembali menghampiri ruangan Sehun dan melihatnya menenggak botol wine, maka Xiumin langsung mengambilnya dari tangan Sehun.

“Sehun –ah, bisakah kau hentikan kebiasaan minummu setiap kali dirundung masalah?!” Xiumin terdengar marah.

Sehun mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja. “Hyung, aku sudah berkali-kali menelepon Hyunji, tapi hingga saat ini nomornya tak dapat dihubungi. Bisa kau bayangkan seberapa frustrasinya aku?!” teriak Sehun dan hendak membanting ponselnya, namun saat itu ponselnya berdering.

Sehun terdiam sejenak, lalu menatap layar ponselnya. Hyunhee –lah, yang menghubunginya saat ini. Sehun segera mengangkat panggilannya. “Yeoboseyo. Ada apa Hyunhee –ya?” Hyunhee yang menjadi lawan bicara Sehun masih tak menjawab, membuat Sehun kembali mengulangi kalimatnya.

Begini Sehun –ssi, sebelumnya aku minta maaf. Aku tak mengira kalau yang terjadi sampai sejauh itu, Chanyeol oppa barusan meneleponku dan mengatakan tentang Hyunji tak dapat dihubungi. Seharusnya aku tak berpisah dengan Hyunji ataupun mengajaknya pergi ke London, karena dia masih memiliki hal yang harus diselesaikan denganmu. Tapi Hyunji bilang, dia perlu waktu untuk sendiri, itulah alasan kenapa aku tak segera menghubungimu setelah kau menelepon. Jika kau ingin menemuinya, kau bisa pergi ke Jeju. Itupun kalau Hyunji belum pergi ketempat lain,” jelas Hyunhee.

“Akh … ya, kalau begitu terima kasih sudah mengabariku,” ucap Sehun lalu mengakhiri panggilannya.

Sehun mengambil kunci mobilnya. “Kau mau kemana?” tanya Xiumin sembari menahan lengan Sehun.

“Pergi ke Jeju menemui Hyunji,” jawab Sehun.

“Tidakkah kau lihat ini sudah larut? Dan kau mabuk. Tidak! Sekarang kau pulang, aku akan mengantarmu,” ucap Xiumin lalu mengambil kunci mobil dari tangan Sehun.

“Akh … Hyung, bisakah kau tidak ikut campur urusanku?” bentak Sehun.

“Kenapa?! Kau ingin menghajarku?!” balas Xiumin tak kalah.

Sehun menghembuskan nafasnya kasar. “Tolong Hyung, jangan membuatku mengulangi kesalahan yang sama.”

“Kalau begitu, dengarkan aku.”

Akhirnya Sehun mengikuti perkataan Xiumin dan pulang. Namun tidak semudah itu Sehun menurut, bukan?

[TBC]

Sehun sudah mengetahui lokasi Hyunji saat ini berada. Kira-kira apa yang akan dilakukannya?

°°°

Pojok Istilah >> Misofobia: Takut yang berlebihan pada barang-barang yang kotor. –KBBI

[Preview Chapter 5]

Xiumin yang sedari tadi berdiri diluar kamar, akhirnya memutuskan untuk memasuki kamar tersebut dan menemui penghuninya. Saat Xiumin masuk, penghuni kamar tersebut sedang tidur dengan peralatan medis yang terpasang di tubuhnya. Xiumin menghela nafasnya dalam.

“Sehun –ah,” panggil Xiumin pelan. “Seandainya kau mau mendengarkanku dan tidak bertindak gegabah, mungkin kau tidak akan terluka seperti ini,” ucap Xiumin terdengar parau. Xiumin berbalik meninggalkan kamar tersebut dengan sisa-sisa air mata.

°°°

Dikarenakan kurangnya kecermatanku saat membaca kamus, judul FF ini terdapat kesalahan dalam penulisannya. Kata ‘Posesif’ dalam Bahasa Inggris seharusnya di tulis ‘Possessive’ tapi aku malah kutulis ‘Possessife’. Maaf atas ketidak nyamanannya. Aku sudah kasih tahu ke Admin dan sudah diperbaiki, terima kasih pada Admin –nya *^^* Hanya saja untuk cover dan judul dalam chapter sebelumnya yang sudah di –post (1 s/d 3) masih kurang lebih seperti itu. Dan baru pada chapter ini, semuanya kuperbaiki termasuk cover. Haha … sudah segitu aja ☺ ☺ ☺

Terima kasih aku ucapkan sekali lagi pada para pembaca, atas apresiasi kalian. Saranghaeyo~ ❤ dan aku tetap menantikan setiap kesan/pesan pengalaman kalian setelah membaca FF ini. ^^

See you next chapter

#XOXO

35 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 4)”

  1. Thor ,mau nanyak :v Tokoh utama ff ini #JongHee Couple atau #HunJi Couple???Soalnya #HunJi Couple jarang nampak😂😂😆udah.. itu aja .makasih thor♡maaf ngerepoti😂

    1. Hehe .. maaf ff ini membuatmu bingung. Couple/tokoh utama untuk saat ini emang blm jelas. #Jonghee kepisah, karena LDR #Hunji kepisah juga, karena mereka cekcok mulu.
      Tapi intinya, mereka ber -4 maupun masing-masing Couple itu tokoh utamanya. Karena FF ini menceritakan tentang kelangsungan hubungan mereka.
      Seiring berjalannya alur, maka akan keliatan kok 😀
      Smoga kejawab ya pertanyaannya ^.~

  2. Ga bisakah anak ayam internasional ini ga knapa2….😭😭
    Sedih amat byangin ank ayam trbaring tak brdaya tapi ttep minta bgt dipeluk 🤣🤣
    Fighting 😆

  3. Thoorr..cepet banget TBC nya…penasaran tingkat dewa nih, sehunnya kecelakaan ya?..duhh..cepat di post ya thorr..hehe..

    1. mungkin kamu yang terlalu cepat scroll -nya, makanya cepat juga ketemu TBC -nya 😀 *alasan. Sebenarnya memang jumlah halaman per chapter itu, makin lama makin berkurang. itu karena biar kalian gak terlalu lama nunggu updatenya. *PD banget ya? kayak ada yang nungguin aja.
      Sehun kecelakaan? emang iya? duh, semoga baik-baik aja ya dia. tunggu chapter selanjutnya, biar lebih pasti..

  4. Akhirnya thoor..d post jg chap 4 nya.
    Kasian banget sehun,mikirin hyunji trus..si hyunji nya malah cuek.
    Itu si abang sehun kenapa thoor?kecelkaan? Yaa ampuun.
    Sbenar nya hyunji cinta nggak sih ama abang sehun? Mereka ko nda akur2 sih
    Pokok nya di tunggu part slanjut nya
    Fightiiingg thoorr..

    1. Makasih pada Admin EXOFFI yang dengan cepat post FF -ku ini :’) Gara-gara si abang sehun sendiri sih, terlalu mengekang kebebasan Hyunji, jadi kabur kan Hyunji -nya >.< Soal hyunji masih cinta atau gak nya, kita tunggu dia aja ya. biar dijawab langsung sama orangnya. bantu doa juga, biar mereka cepet baikan. O:) #HunJiCouple

    1. masa lalu Sehun tak indah, rupanya yang tamvans 😛 haha..
      tunggu saja ya, kedepannya akan kita korek bersama masa lalu si abang satu ini. Ups! apa ini spoiler? O.O’ nggk kok 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s