[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 13)

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 13]

 

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family, Drama || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Zhang Yixing || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12  

 

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

 

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

 

Hari sudah beranjak sore, seorang gadis dengan langkah kecilnya yang terkesan cepat, berjalan menyusuri hamparan pasir keemasan di bibir pantai. Di belakangnya ada seorang pria yang dengan setia mengikuti setiap tapak kaki gadis itu yang tercetak di pasir.

 

Oppa~ apa yang kau lakukan? Cepatlah! Hari hampir sore, kita harus segera kembali kepenginapan sebelum gelap,” ucap gadis itu setengah berteriak. Sebenarnya dia tak suka gelap.

 

“Hyunhee –ya, tidak bisakan kita disini dulu? Untuk melihat sunset,” tawar pria itu.

 

“Tidak. Oppa –kan tau sendiri, aku tak suka gelap,” akunya.

 

Ya, kedua saudara kembar itu memang tidak suka gelap atau bisa dibilang takut akan kegelapan. Mereka bahkan tidur dengan lampunya menyala, terkadang. Paling tidak, harus ada sedikit peneranganlah, lampu tidur misalnya. Tapi setidaknya Hyunji sedikit lebih pemberani dibanding Hyunhee.

 

“Kau tidak asyik!” cibir Chanyeol. “Pokoknya aku mau melihat Sunset dulu, kalau kau mau pulang, pulang saja duluan,” ucap Chanyeol bersi kukuh, lalu dia mendudukan dirinya diatas pasir. Sebenarnya saat ini dia tengah melempar umpan pada Adiknya itu.

Hyunhee terdiam, dia tengah berpikir saat ini. Namun akhirnya dia menghampiri Oppa –nya itu.

 

“Kenapa berdiri saja? Duduk sini,” ucap Chanyeol sembari menepuk lahan kosong disampingnya.

 

Hyunhee menendang pasir kearah Chanyeol, sehingga tubuh Oppa –nya itu penuh dengan pasir.

 

Chanyeol mendesis dan menatap tajam kearah Hyunhee, dia beranjak bangun lalu membersihkan tubuhnya dari pasir. Sementara itu, Hyunhee tengah menatapnya dengan siaga.

 

“Kau ini,” ucap Chanyeol dengan jarinya yang sudah siap hendak menjentik kening Adiknya yang usil itu. Hyunhee menyipit memejamkan matanya, dia pasrah menerima hukuman.

 

Namun diluar perkiraan gadis itu, ternyata Chanyeol malah mengangkat tubuhnya dan dibawa hingga mendekati batas bibir pantai.

 

Hyunhee meronta minta diturunkan. “Oppa! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku.” Hyunhee memukuli punggung Chanyeol.

 

“Aku akan menceburkan kau kelaut,” jawab Chanyeol.

 

“Ya! Ya! Ponselku … Ponselku … nanti ponselku bisa basah dan rusak,” ucap Hyunhee cepat.

 

Chanyeol menganga, Adiknya ini sungguh ajaib. Dia lebih mengkhawatirnya ponselnya yang basah ketimbang dirinya sendiri.

 

“Nanti Oppa belikan yang baru.”

 

Shireo!! Ponsel ini banyak kenang-kenangannya dan yang terpenting, ponsel ini pemberian Jongin oppa dari gaji pertamanya.”

 

Chanyeol menarik tas selempang yang mengalung pada leher Hyunhee, lalu dia melemparkannya sembarang ke pasir. “Sudah, bukan?”

 

“Tidak! Airnya dingin.” Hyunhee masih meronta.

 

“Ya! Oppa juga akan basah, Paboya!”

 

Hyunhee mengeratkan pegangannya pada Chanyeol dan membuat Chanyeol kesusahan saat akan melempar Hyunhee ke laut. Akhirnya mereka jatuh bersama di laut Jeju.

 

Uhuk! Uhuk!

Hyunhee terbatuk, sesaat setelah muncul di permukaan.

 

Chanyeol melihatnya dengan khawatir juga bersalah. “Gwaenchana?”

 

“Ya! Oppa~ aku tertelan air laut,” sahut Hyunhee masih dengan terbatuk.

 

Detik selanjutnya langsung disambut gelak tawa dari Chanyeol, rasa iba dan bersalahnya telah musnah. “Rasakan. Itu hukuman untukmu, eoh. Heh~ tadi mata Oppa juga kelilipan pasir gara-gara kau.”

 

Nappeun Oppa!” seru Hyunhee. “Sudah, aku mau kembali ke penginapan,” ucapnya sembari meninggalkan laut dan berjalan menuju darat.

 

“Kau yang mulai duluan, Hyunhee –ya!” Chanyeol memercikan air ke tubuh Hyunhee, membuat gadis itu berbalik dan membalas.

 

Akhirnya terjadi perang air antara kakak-beradik itu.

 

 

“Kau tidak menyesal, bukan? Sekarang kita dapat melihat sunset yang indah,” ucap Chanyeol pada Hyunhee.

 

Hyunhee hanya mendehem.

 

Setelah bermain air tadi, Chanyeol memaksa Hyunhee untuk menunggu di tepi pantai agar mereka dapat melihat sunset.

 

“Hyunhee –ya,” panggil Chanyeol. “Oppa harap kau selalu bahagia.” Nada suara Chanyeol terdengar lembut. “Sudah cukup Hyunji tak ada saat ini, jangan kau juga bersedih, karena itu menyakiti hati Oppa.”

 

Setelah Chanyeol menyelesaikan ucapannya, Hyunhee berhambur ke pelukan Chanyeol. Wajahnya membenam di dada bidang sang Oppa.

 

“Kami beruntung mempunyai Oppa sepertimu. Oppa, aku menyayangimu. Kuharap kau juga selalu bahagia,” tutur Hyunhee.

 

Chanyeol mengusap puncak kepala Adiknya penuh kelembutan.

 

___ ___ ___

 

Setelah puas melihat Sunset, mereka kembali ke penginapan dan segera berganti pakaian.

 

“Minumlah ini,” ucap Chanyeol sembari menyerahkan secangkir coklat panas pada Hyunhee.

 

Hyunhee menerimanya dengan tangan terbuka. “Gomawoyo Oppa.” Hyunhee mulai menyesap kopi itu.

 

“Hyunhee –ya,” panggil Chanyeol. Hyunhee menoleh. “Apa kau belum mengaktifkan ponselmu lagi?”

 

“Kenapa? Apa Nyonya Oh menghubungi Oppa?” terka Hyunhee.

 

“Ya,” jawab Chanyeol.

 

[Flashback]

Beberapa menit lalu Chanyeol baru saja menyelesaikan mandinya, namun rambutnya masih meneteskan air sehingga membasahi pakaiannya. Dengan menggunakan handuk, Chanyeol mengeringkan rambutnya. Disaat itu, dia melihat layar ponselnya menyala dan dia segera meraihnya.

 

Terdapat beberapa panggilan tak terjawab, itu semua dari Xiumin hyung. Tak lama ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari orang yang sama.

 

Ne. Yeoboseyo Xiumin hyung, waeyo?”

 

Apa kau sedang sibuk?”

 

“Tidak, katakan Hyung ada perlu apa?”

 

Begini Chanyeol –ah,” dari nada suaranya, Xiumin terdengar ragu. “Aku ingin minta tolong, soal Hyunhee,” Xiumin menjeda ucapannya. “Bisakah kau membujuknya untuk datang menemui Sehun.”

 

“Ada apa memangnya, Hyung?” tanya Chanyeol sedikit menyentak.

 

Kondisi Sehun sedang krisis,” jelas Xiumin.

 

Hening, tak ada jawaban dari Chanyeol.

 

Chanyeol –ah, kau masih disana?” panggil Xiumin.

 

“Ya, akan aku sampaikan pada Hyunhee. Tapi aku tak tau, apa dia akan datang atau tidak.”

 

Terima kasih,” ucap Xiumin lalu mengakhiri panggilan teleponnya.

 

[Flashback END]

“Bagaimana menurutmu? Apa kita kembali ke Seoul dan menemui Sehun?” tanya Chanyeol.

 

Dalam diamnya, Hyunhee berpikir. “Tak tau,” ucapnya lalu beranjak dari duduk.

 

“Kau mau kemana?”

 

“Cari udara segar,” jawab Hyunhee singkat.

 

“Malam-malam begini? Yang ada kau bisa sakit. Lagi pula, kau takut gelap.”

 

“Hanya sebentar … dan tidak akan jauh,” dalih Hyunhee.

 

 

Hyunhee menepatinya, dia hanya berkeliling di sekitar penginapan. Lebih tepatnya hanya berputar-putar di tempat, seperti orang kebingungan. Dan setelah dirinya lelah, dia memutuskan untuk duduk disalah satu bangku panjang yang tersedia di halaman samping penginapan.

 

Disaat Hyunhee tengah melamun, dia merasakan tepukan dibahunya. Diikuti suara seorang pria yang memanggilnya, “Hyunji –ya?”

 

Hyunhee menoleh. “Nuguseoyo?”

 

“Akh … maaf, sepertinya saya salah orang. Saya pikir, Anda seseorang yang saya kenal,” ucapnya terdengar kikuk. “Kalau begitu saya permisi.” Pria itu berbalik dan pergi.

 

Hyunhee beranjak bangun. “Tunggu,” panggilnya menghentikan langkah pria itu. “Apa Tuan mengenal Hyunji?” tanyanya sembari menghampiri pria itu.

 

“Ya … Saya sempat mengobrol dengannya beberapa saat,” jawab pria itu.

 

“Kapan itu, tepatnya?” tanya Hyunhee.

 

“Emm~ sudah cukup lama. Saat itu saya mengantarnya untuk kembali ke penginapan, karena dia masih di pantai malam hari. Dan keesokan harinya, dia sudah tidak ada.”

 

“Begitu rupanya,” komentar Hyunhee. ‘Jadi pria ini –pun bertemu dengan Hyunji sebelum kecelakaan itu terjadi, sayang sekali,” ucapnya dalam benak. “Terima kasih atas informasinya, Tuan.”

 

“Akh … ya, sama-sama. Tak perlu sungkan untuk bertanya. Tapi kalau boleh, bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’? Maksudku, aku belum cukup tua untuk panggilan itu.” Sepertinya pria itu tampak tak nyaman dengan pembicaraan formal ini.

 

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

 

“Namaku Baekhyun, Byun Baekhyun. Dan kau?”

 

“Maaf sebelumnya aku tak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Park Hyunhee, aku saudaranya Hyunji.”

 

“Jadi kalian kembar?” tanya Baekhyun kali ini terdengar antusias. Hyunhee mengangguk. “Pantas saja, aku sungguh tak mengiranya. Dan kalian sangat mirip, hampir tak bisa dibedakan,” komentarnya sembari memperhatian setiap inci garis wajah Hyunhee.

 

“Ya, itu sering terjadi. Bahkan untuk orang yang sudah melihat kami beberapa kali masih kesulitan untuk membedakan kami.”

 

“Lalu, dimana Hyunji? Bukankah harusnya dia menemuiku, jika kembali berkunjung ke Jeju? Dia sudah berjanji saat mendapatkan makanan gratis dariku,” ucap Baekhyun dengan narsisnya.

 

Seketika raut wajah Hyunhee berubah murung. “Sebenarnya aku datang kesini untuk mencarinya?”

 

“Ya?!” pekik Baekhyun seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Maksudmu Hyunji hilang? Di Jeju?”

 

“Ya. Seperti yang kau katakan, kalau Hyunji keesokan harinya sudah tak ada di Jeju, mungkin saat itu kekasih datang untuk menjemputnya. Lalu di perjalanan terjadi kecelakaan dan mobil yang mereka tumpangi jatuh kelaut,” jelas Hyunhee.

 

“Aku turut bersedih atas kehilangannya. Aku sungguh tak menyangka, kalau kecelakaan mobil jatuh yang sempat aku dengar itu adalah Hyunji. Lalu bagaimana dengan kekasihnya?”

 

“Dari yang aku dengar, kondisinya saat ini kritis karena suatu alasan.”

 

“Malang sekali~ Semoga Hyunji dapat segera ditemukan dan kondisi kekasihnya membaik.”

 

“Terima kasih, Baekhyun –ssi.”

 

“Kalau begitu, aku pamit. Kau kembalilah ke penginapanmu, ini sudah malam dan dingin,” ucap Baekhyun hendak untuk diri. Hyunhee mendehem.

 

 

“Baru saja aku hendak menyusulmu keluar, baguslah kau sudah datang,” ucap Chanyeol hanya berbasa-basi, dia bahkan tak beranjak dari sofa dan masih fokus pada ponselnya. “Dari mana saja kau? Kenapa lama sekali?”

 

“Tadi aku bertemu seseorang yang mengenal Hyunji,” jawab Hyunhee dan segera mendapatkan perhatian dari Oppa –nya.

 

“Siapa? Lalu apa katanya?”

 

“Tak ada, dia hanya kenal Hyunji. Sudah … aku lelah, aku mau tidur.” Hyunhee berjalan menuju kamar dengan menyeret kakinya.

 

“Ya~ cepatlah tidur, karena besok kita akan kembali ke Seoul,” jelas Chanyeol.

 

Waeyo?!” protes Hyunhee.

 

“Nyonya Oh meneleponku tadi.”

 

“Apa Oppa sungguh-sungguh saat mengatakan ingin aku bahagia?!” Hyunhee mulai tersulut emosi dan Chanyeol melihat itu, terutama mata Adiknya yang sudah tampak memerah dan berair. “Bertemu lagi dengan pria itu, sama saja membunuhku secara perlahan. Aku selalu merasa tercekik saat di dekatnya, bahkan hanya sekedar mendengar namanya!” Hyunhee berlari menuju kamarnya dengan air mata yang sudah tak terbendung. Tak lama setelah itu, suara dentuman pintu terdengar keras.

 

Chanyeol menghela nafasnya dalam. “Maafkan Oppa, Hyunhee –ya.”

 

––♦

––○ IFA ○––

♦––

 

Tampak seorang pria berkulit tan dengan tidak bersemangatnya hanya mengaduk-aduk makanan yang ada dihadapannya.

 

“Berhenti bermain-main dengan makanan! Kau masih punya dokumen yang harus diperiksa,” ucap seorang pria bermata bulat dihadapannya dengan nada tajam.

 

“Kyungsoo hyung, dengan makan –pun aku tak dapat memulihkan tenaga. Kau tau? Sudah beberapa hari aku tak dapat menghubungi Hyunhee, pesan dariku juga tak dibacanya.”

 

Jebal Jongin –ah, jangan libatkan aku dalam kemelut masalah cintamu itu,” pinta Kyungsoo. “Memikirkan pekerjaan saja, sudah membuat kepalaku mau pecah.”

 

Hyung … itu karena kau tak mengerti perasaanku! Coba saja kau punya seseorang yang kau cintai, dan kalian berpisah jarak-waktu.”

 

“Aku juga punya seseorang yang kucintai dan tak bisa bertemu dengannya,” protes Kyungsoo.

 

“Bernarkah? Siapa?” tanya Jongin seakan terkejut dengan pernyataan yang baru saja dia dengar.

 

Eomma dan Appa –ku di Korea! Aku juga ingin segera pulang, tau!” Kyungsoo ikut mengotot. “Ya! Apa kau itu bodoh? Kekasihmu itu bukan sebatang kara, kau hubungi saja keluarganya.”

 

Hyung! Aku bukannya tidak usaha, tapi aku menghubungi ponsel kembarannya –pun juga tak mendapat jawaban,” jelas Jongin.

 

“Chanyeol hyung?” tanya Kyungsoo seakan sedang meng –absen Keluarga Park.

 

“Bisa-bisa aku dikira membuat masalah dengan Hyunhee dan berakhir putus dengannya. Tidak!”

 

Eomeoni?” lanjut Kyungsoo.

 

“Aku tak ingin terlihat buruk di mata calon mertuaku.”

 

“Mati saja kau sana!” ucap Kyungsoo tajam lalu meninggalkan Jongin dengan membawa nampan makannya.

 

Hyung~ tidak bisakah kau menolongku?” Jongin merengek, namun Kyungsoo terlalu cuek dan mengabaikannya.

 

 

Sudah beberapa belas menit pria jangkung itu berdiri di depan sebuah pintu sembari mengetuk perlahan dan memanggil nama pernghuni kamar tersebut.

 

“Hyunhee –ya, buka pintunya. Oppa mau bicara denganmu,” ucap Chanyeol.

 

Hening, tak ada sahutan dari penghuni kamar tersebut.

 

“Hyunhee –ya.”

 

“Masuk saja, pintunya tak di kunci.”

 

Doeng!

Chanyeol memutar bola mata malas sembari mendorong gagang pintu untuk masuk ke kamar tersebut.

 

“Kenapa tidak bilang dari tadi? Kakiku sudah kesemutan,” omel Chanyeol.

 

“Aku sedang mandi tadi, jadi tak dengar,” jawab Hyunhee tanpa merasa bersalah. Chanyeol tampak sudah geram. “Kenapa?” tanya Hyunhee dan menyadarkan Chanyeol kembali akan tujuannya.

 

“Apa kau masih marah pada Oppa?” tanya Chanyeol hati-hati.

 

“Tidak,” jawab Hyunhee singkat.

 

Ada perasaan lega yang baru saja lepas dari benak Chanyeol.

 

Suasana kembali hening.

 

“Apa Oppa hanya akan bertanya itu saja?”

 

“Tidak,” jawab Chanyeol cepat. “Jadi … apa kita akan kembali ke Seoul hari ini?”

 

Hyunhee tampak menghela nafas.

 

 

Dengan langkah ragu, seorang gadis tampak memasuki sebuah kamar. Baik langkah maupun hatinya terasa berat untuk terus maju, dia ingin berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Namun sebuah suara menghentikan langkahnya untuk pergi.

 

“Hyunji –ya, kau datang?” Banyak makna yang terdengar hanya dari sebuah kalimat yang dilontarkan seorang pria yang kini sedang terbaring di ranjang dengan selang infus yang terpasang di lengannya. Rasa bahagia, tak percaya, harapan dan penyesalan.

 

Gadis itu berbalik dan menghampiri pria itu dengan mulutnya yang seakan terkunci rapat dan ekspresi tak ramah.

 

“Hyunji –ya,” panggil pria itu lirih, seakan dia menyadari perubahan suasana yang tengah melanda mereka.

 

“Sehun –ssi, haruskah kau bertindak sejauh ini,” ucap gadis itu dengan suaranya yang bergetar namun syarat akan amarah yang terkesan tertahan.

 

“Maaf,” jawab pria bernama Sehun itu dengan nada sendu. “Tapi tidak bisakah kita memulainya kembali? Seperti dulu.”

 

“Apanya yang seperti dulu? Aku –pun bukanlah Hyunji yang kau kenal, aku hanya tampak luarnya sama, tapi tidak di dalamnya,” ucap Hyunhee tersirat. Sebenarnya, Hyunhee tadi sedang mengaku jika dia bukanlah Hyunji, tapi itu semua kembali pada pemahaman Sehun. Jika Sehun cukup pintar untuk mengerti maksud perkataannya, maka akan lebih mudah bagi dirinya.

 

“Tak masalah, kau masih tetap Hyunji bagiku. Meskipun kau telah berubah dan tak sama,” jawab Sehun keras kepala tapi terdengar seperti putus asa.

 

Hyunhee memejamkan matanya, setitik likuid bening tampak keluar di sudut matanya. Itu bukan jawaban yang dia harapkan. Ya, setidaknya Sehun harus menaruh curiga padanya, sehingga dia bisa mengatakan kebenarannya, yaitu dirinya bukan Hyunji dan Hyunji saat ini masih hilang.

 

Dan yang sekarang terjadi adalah, Hyunhee sungguh tak kuasa dan berdaya. Hatinya berkecambuk antara peduli dan mengabaikan pria itu.

 

“Terimalah kenyataan, kalau kita tak bisa bersama,” ucap Hyunhee pilu.

 

“Tidak bisa, aku terlalu mencintaimu!” teriak Sehun penuh emosi, bahkan dirinya saat ini tak dapat menahan bendungan air mata dan gemuruh dalam benaknya. “Lebih baik aku mati, jika kau tak disisiku.”

 

“Kuatkan dirimu, Oh Sehun!” sentak Hyunhee.

 

“Kau adalah sumber kekuatanku, Hyunji –ya. Dan kau tau itu.” Kali ini suara Sehun melemah. “Tapi jika kau masih meninggalkanku … aku bisa apa? Itu semua karena aku tak sanggup kehilanganmu.”

 

“Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?!” teriak gadis itu. Pertahanannya sudah runtuh, dia tak sanggup lagi menahan sesak dan desak air matanya.

 

“Aku mencintaimu!” Sehun terus mengulang kalimat itu berkali-kali.

 

“Itu bukan cinta! Tapi keegoisanmu!” tangisnya kini pecah. “Karena cinta seharusnya tidak memaksa,” ucap Hyunhee lalu dia berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.

 

“Kau mau kemana?! Diam disana!” sentak Sehun. “Selangkah lagi kau maju … dan meninggalkanku, maka aku akan lakukan hal yang sama,” Sehun menjeda ucapannya, hendak melihat respon gadis itu. Tapi Hyunhee seakan tak gentar dengan ucapan Sehun. “Meninggalkanmu dan dunia ini,” sambung Sehun. “Aku tak main-main dengan ucapanku,” ucap Sehun menguatkan kalimat ancamannya.

 

Dan benar, Hyunhee menghentikan langkahnya. Selanjutnya dia berbalik dan menghampiri Sehun dengan langkah cepat.

 

Plak!!

Sebuah tamparan mendarat di kulit wajah Sehun yang putih pucat itu, namun kini sudah berubah warna menjadi kemerahan.

 

Pupil mata Sehun membulat, dia menatap tak percaya kearah manik mata gadis yang ada di hadapannya sembari memegangi pipinya yang terasa perih dan panas.

 

“Berhenti mengancamku dengan mengatakan kau akan bunuh diri, karena itu membuatku muak!!” sentak Hyunhee sembari menatap tajam kearah Sehun dengan jari menunjuk wajah pria itu.

 

Sehun masih menatap wajah gadis dihadapannya, hingga salah satu tangannya mencengkram tangan gadis itu.

 

“Lepaskan!” ronta Hyunhee.

 

Tapi Sehun masih mencengkram tangan gadis itu. Tentu saja Hyunhee tidak tinggal diam.

 

Plak!!

Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Sehun. Dan kini, tangan Hyunhee sudah bebas.

Hyunhee melangkahkan kakinya pergi, dan Sehun hanya dapat melihat punggung gadis itu menghilang di balik pintu.

 

[TBC]

 

Akankah Sehun benar-benar akan bunuh diri?

 

°

 

Gimana? Semakin memanaskah suasananya? >o<

Kesal dengan Sehun yang terlalu ngotot?

Greget dengan Hyunhee yang sikapnya seperti kapal di ombang-ambing ombak?

Atau … kesal sama aku, karena Hyunji // Jongin belum balik? 😀

Sabar Chingu –ya, pahlawan biasanya muncul belakangan dan langsung bawa dampak fantastis. Kkkkk~ 😛 #prett

 

°

 

 

See you next chapter

#XOXO

 

21 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 13)”

  1. Ku mau jadi adiknya chanyeol😂#panas banget thorrr.. hot hot gimanaa gitu #kesel-_- #terombang ambing dilautan #btw, aku kangen jonginnya muncullll thor #gwenchana kok thor.. aku padamu(aku menunggumu😂)

  2. Haiii..author-nim
    Ternyata si tiang walaupun jadi kakak, tetap ada manis2nya ya? Padahal hyunhee itu adiknya kan? Kalau diriku yg jadi adeknya, pasti langsung kena brother complex ! Hehe..
    Dan, ini kedua kalinya dirimu memberitahuku klau dada chan itu bidang. Ugh..Udah tahu kak, udah tahu.. Astaga ! Nggak sadar komen dan sepanjang ff. MIANHAE..!!
    Keep writing, fighting..dan ditunggu hyunji sama bangKai nya muncul..

    1. Hooo!! Mungkin ini rasanya kalau ada Author FF lain yang ikut komen di FF kita *terlampau senang juga gak nyangka >//<
      Kalau bisa liat langsung si abang caplang aja udah girang bukan main, apalagi bisa jadi saudara atau dinikaninnya.. -oke, khayalan aku sudah sangat jauh *segera sadar
      Dada bang CY emang bidang kok, aku pernah (mungkin sering) liat. #eh? o_O ahhahah.. Biarpun gak langsung, cuman di timeline 😛
      Oke, tunggu aja ya JongJI -nya.. 😉
      Makasih sudah baca & berkomentar. :* ❤

  3. Dasar Oh Sehun si kepala batu, makin kesel aja sama lu Hun. Nyiksa Hyunhee 😦 si Jongin juga kapan baliknya, udh kayak bang Toyib gak balik balik 😀
    Oke sekarang tinggal nunggu pahlawannya keluar, biar berdampak makin gregett 😀
    Semangat ya!! ^_^

  4. Nah kan..sehun bertingkah deh..kalo “plak” g mempan sini aq jitak biar sadar..wkwk,kasian hyunhee. Jongin wes balik ke korea jemput hyunhee.author syantik makasih my baekhyun di kasih lewat..wkwk..

    1. Mungkin bukan saja hati sehun yg keras, tp juga kulit wajahnya.. jadi meskipun berkali-kali kena *plak* gak sadar.
      Ya, sama-sama.. Kkkk~ Tenang saja, Baek masih akan muncul kok di beberapa part selanjutnya..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s