[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 14 – A)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 14 – A]

Author    : IFAngel

(Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family and Drama

Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Zhang Yixing || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, hari ini Sehun diijinkan pulang. Bersama kedua orang tuanya dan Xiumin, dia diantar pulang ke apartemennya.

“Sehun –ah, kau yakin tidak mau tinggal di rumah? Eomma sangat khawatir padamu,” ucap Nyonya Oh pada anaknya. Tapi Sehun hanya diam sembari berjalan menuju ranjangnya. “Baiklah, kau istirahat. Kami pulang,” sambung Nyonya Oh.

Sesaat setelah mereka keluar dari kamar Sehun.

“Xiumin –ah, boleh Eomeoni minta tolong padamu?” ucap Nyonya Oh.

“Ya, silakan katakan saja Eomeoni,” jawab Xiumin.

“Bisakah kau tinggal disini, menemani Sehun. Eomeoni sangat khawatir, takut dia berbuat macam-macam dan membahayakan dirinya.”

Xiumin diam, dia tampak ragu.

“Xiumin –ah, kau bilang kalau Sehun sudah seperti adik bagimu. Tidak bisakah kau menjaganya kali ini,” desak Nyonya Oh.

Yeobo, aku yakin Xiumin bukannya tak mau. Tapi dia –kan juga punya keluarga yang harus diurus. Mengertilah,” ucap Tuan Oh.

“Kalau begitu kita saja yang tinggal disini,” pinta Nyonya Oh pada suaminya.

Tuan Oh menghela nafas. “Sehun mau tinggal sendiri, itu alasan dia memilih di apartemen dibanding dirumah,” jelas Tuan Oh. “Lagi pula, kita mau tidur dimana? Hanya ada satu kamar disini.”

“Kau ini memang tidak mengerti perasaanku, Yeobo!” ucap Nyonya Oh kesal lalu dia pergi meninggalkan Suaminya dan Xiumin keluar apartemen Sehun.

“Xiumin –ah, Abeoji minta maaf karena telah merepotkanmu. Kalau begitu kami pulang,” ucap Tuan Oh.

“Tidak sama sekali, Abeoji. Ya, hati-hati di jalan.”

Chagi –ya, kau sedang apa?” tanya seorang pria dengan manisnya pada seseorang yang sedang dia telepon. “Kapan kau pulang, eoh? Bogoshipo, Raerim –ah.”

Tertangkap sudah pemilik suara itu, Park Chanyeol. Dan ya, dia sedang menghubungi istrinya saat ini.

Aku hanya sedang berbaring saat ini,” jawab sang lawan bicara dengan suara lembut dan terkesan lemah.

“Kau sakit? Kenapa suaramu begitu?” tanya Chanyeol yang tampaknya menangkap kejanggalan hanya dari suara istrinya yang terdengar berbeda di telinganya.

Raerim mendehem.

“Sejak kapan, eoh?” tanya Chanyeol terdengar cemas.

Kemarin.”

“Sudah berobat?”

Belum. Tenanglah Yeobo, aku hanya tak enak badan. Istirahat sehari juga cukup.”

“Aish! Tetap saja aku tak tenang, aku tak ada di sampingmu untuk merawatmu.”

Jangan berlebihan, aku tidak sendirian disini, ada rekan kerjaku.”

“Baiklah, aku akan mempercayakanmu pada mereka. Tapi kau tetap dalam pengawasanku, Raerim –ah. Jika kau tidak sembuh besok, aku akan bilang pada atasanmu untuk memulangkanmu. Atau jika tidak, aku yang akan mendatangimu.”

Terserah padamu, Tuan cerewet,” ejek Raerim. “Bagaimana kabar yang lain?” tanyanya kali ini.

Eomma, Appa dan aku baik. Tapi kalau kau tanya Hyunhee, dia sedang dalam kegamangan. Dan Hyunji, belum ditemukan,” jawab Chanyeol lalu terdengar dia menghela nafas.

Hening, tak ada sahutan dari Raerim. Dan Chanyeol tau jika istrinya itu juga sedang bingung memikirkannya.

“Tak usah cemas, disini ada aku, suamimu yang sangat dapat diandalkan. Yang terpenting, kau jagalah kesehatan. Mendengar kau sakit, itu mempengaruhi kejernihan pikiranku.”

Tentu saja suamiku dapat diandalkan, kau yang terbaik,” jawab Raerim dengan nada ceria.

“Nah begitu … baiklah, aku tutup teleponnya. Kau istirahatlah, nanti –ku telepon lagi.”

Setelah memutuskan panggian dengan istrinya, Chanyeol pergi keluar dan berjalan ke kamar adiknya. Dia hendak mengecek kondisi Hyunhee. Tapi sayang, pintunya terkunci.

Chanyeol turun ke bawah, mencari ke dua orang tuanya.

Di ruang makan, ke dua orang tua sedang mengobrol sembari menikmati sarapan.

Eomma, dimana kunci cadangan?” tanya Chanyeol.

“Buat apa?” Nyonya Park bertanya balik.

“Pintu kamar Hyunhee terkunci,” jawab Chanyeol.

“Ya Tuhan, apa yang di lakukan anak itu dengan pintu terkunci. Tidak biasanya,” komentar Tuan Park. “Cari di laci meja telepon,” sambung Tuan Park.

Chanyeol mencari sesuai petunjuk Ayahnya, dan ketemu. Lalu dia segera naik ke kamar adiknya.

Saat dia memasuki kamar tersebut, seorang gadis sedang berbaring di ranjang dengan wajah tertutupi oleh buku, lantas Chanyeol menghampirinya.

“Hyunhee –ya,” panggil Chanyeol pada adiknya. Tapi gadis itu tak menjawab.

Chanyeol menarik buku yang tengah di pegang Hyunhee, dan sekarang tampak gadis itu sedang menangis.

Aigoo~ kau menangis lagi. Apa matamu tidak lelah?” Chanyeol naik keranjang dan memeluk Hyunhee. “Maafkan Oppa, tapi kita bisa apa? Jika ada orang yang sangat putus asa dan ingin bunuh diri.”

Hyunhee mendorong Chanyeol, hingga pelukannya terlepas.

Oppa, aku ingin sendiri. Keluarlah,” ucap Hyunhee pelan.

“Baiklah, tapi kau harus ikut denganku sekarang,” tawar Chanyeol.

“Kemana?” tanya Hyunhee malas.

“Sarapan,” jawab Chanyeol singkat sembari menarik tubuh Hyunhee. “Oppa janji, setelah ini tak akan mengganggumu.” Chanyeol menautkan kelingkingnya pada jari Hyunhee.

___ ___ ___

Hyunhee menarik kursi dari meja makan dan duduk.

Ibu menaruh piring di hadapan Hyunhee. “Kau ingin makan dengan apa?”

“Tak usah Eomma, aku minum susu saja,” jawab Hyunhee tak bertenaga.

“Kau ini, bagaimana mau kuat menghadapi hidup yang keras,” ucap Chanyeol dan menyendokan nasi untuk Hyunhee.

“Aku –pun tak bertenaga untuk mengunyah makanan,” dalih Hyunhee.

Chanyeol menaruh nasi tersebut ke piringnya. “Baiklah … habiskan susumu,” ucapnya geram.

Ditengah keheningan, ponsel Chanyeol yang ada di dalam saku berdering. Dia beranjak dari duduknya untuk menjawab panggilan.

Beberapa saat Chanyeol kembali.

“Siapa yang menelepon, Chanyeol –ah?” tanya Ibu.

Hyunhee ikut menatap kearah Chanyeol. “Iya, siapa? Dan kenapa wajahmu begitu, Oppa?”

¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯

♦––○ IFA ○––♦

____________

Seorang wanita paruh baya berjalan sendiri dengan sebuah tas jinjing yang dia bawa, dan memasuki sebuah gedung apartemen, selanjutnya dia menaiki lift untuk menuju lantai yang hendak dia sambangi.

Saat pintu lift terbuka, wanita paruh baya itu melihat sebuah siluet seorang pria.

“Sehun –ah,” panggilnya. Tapi pria yang dia panggil tak menoleh dan terus berjalan memasuki lift di sebelahnya.

Lantas dia berlari keluar dengan cepat untuk menghampiri pria itu. Tapi pintu lift lebih dulu tertutup. Wanita paruh baya itu merogoh ponsel dan mengeluarkan ponselnya.

“Sehun –ah, tolong jawab teleponnya,” ucapnya cemas.

Nyonya Oh menjauhkan ponsel dari telinganya sesaat setelah mendengar sebuah suara, teleponnya baru saja  ditolak oleh anaknya. Dan rasa cemas semakin menyelimutinya.

Nyonya Oh terus-menerus menekan tombol pada pintu lift, sembari memperhatikan lantai dimana lift itu berhenti. Dia juga menghubungi suami serta Xiumin, tapi tak terjawab. Beberapa saat kemudian, dia baru teringat jika suaminya sedang menghadiri rapat dan ditemani Xiumin. Lantas, Nyonya Oh segera menghubungi nomor lain.

Yeoboseyo Eomeoni, ada perlu apa?” suara seorang pria keluar dari speaker ponselnya.

OMO!! Sehun –ah, apa yang kau lakukan di rooftop?” ucap Nyonya Oh terdengar panik, dia tak sadar jika teleponnya telah terhubung dan membuat lawan bicaranya terus memanggilnya.

Mianhae Chanyeol –ah, bisakah kau datang ke apartemen Sehun. Saat ini dia pergi ke rooftop, entah apa yang akan dia lakukan disana. Eomeoni sangat khawatir.”

Ya, aku akan datang segera. Eomeoni tenanglah. Dan minta bantuan dengan pihak keamanan setempat,” ucap Chanyeol.

Sesampainya Nyonya Oh di rooftop bersama dengan petugas keamanan, dia melihat anaknya sudah berdiri di ujung batas bangunan.

SEHUN –AH, ANDWAE!!” teriak Nyonya Oh histeris. Sehun menoleh. “Apa yang kau lakukan?! Turun!!” Air mata Nyonya Oh tumpah karena menyaksikan tindakan anaknya yang hendak mengakhiri hidup. “Sehun –ah, kenapa kau melakukan ini? Apa kau sudah tidak sayang lagi pada Eomma dan Appa?”

“Hatiku sudah hancur, Eomma!! Tak ada gunanya lagi.”

“Sehun –ah, masih banyak gadis lain diluar yang akan mencintaimu. Jadi turunlah,” ucap Nyonya Oh membujuk anaknya.

“Tidak! Mereka semua sama saja, mereka akan meninggalkanku!” jawab Sehun pesimis. “Tidakah Eomma ingat, hingga saat ini aku sudah menjalin hubungan berapa kali? Tapi apa? Semuanya berakhir dengan buruk!!”

“Sehun –ah, kau jahat sekali pada Eomma. Apa kau tega meninggalkan Eomma?” tanya Nyonya Oh retorik. “Kalau begitu, Eomma juga akan ikut denganmu,” ucap Nyonya Oh dan melangkah mendekati Sehun.

Eomma, berhenti disana! Atau aku akan lompat sekarang!!” ancam Sehun.

“Eoh … Nyonya!! Apa yang kau katakan? Apa kau juga akan ikut lompat?” tanya sang petugas gelagapan, sangking paniknya. “Jangan Nyonya!!” sang Petugas menarik tangan Nyonya Oh.

Brakk!!

Seorang pria baru saja masuk dengan mendobrak pintu.

“Sehun –ah, apa yang kau lakukan disana?! Turun!!” teriak pria yang baru datang itu sembari melangkah menghampiri Sehun.

“Berhenti Hyung!!” teriak Sehun.

Nyonya Oh berlari menghampiri pria tersebut. “Chanyeol –ah,” ucap Nyonya Oh lirik sembari menatap Chanyeol penuh harap.

“Tenanglah Eomeoni,” jawab Chanyeol.

Chanyeol mengedarkan pandangannya ke sekeliling, seperti sedang mencari seseorang. “Dimana anak itu?” Lalu dia pergi.

Dibalik pintu, Chanyeol menemukan orang yang dicarinya. “Kenapa kau disini, Hyunhee –ya?” Chanyeol menarik tangan Adiknya.

“Tidak Oppa, aku tidak mau,” tolak Hyunhee sembari memegangi gagang pintu.

Chanyeol melepaskan tangannya. “Situasinya sedang genting, mengertilah,” bujuk Chanyeol.

“Kenapa kalian semua seperti ini padaku?” Hyunhee mulai terisak.

ANDWAE!!!” terdengar kembali teriakan Nyonya Oh.

Chanyeol kembali keluar untuk melihat. “Aish!” erang Chanyeol frustrasi.

Sementara itu, Hyunhee yang masih berdiam diri di balik pintu dan enggan keluar. Dapat kita lihat, kini sekujur tubuhnya sudah bergetar hebat hingga dia tak sanggup berdiri lagi dan jatuh terduduk di lantai.

Namun akhirnya Hyunhee bangun, meski dengan hati dan pikiran yang kacau.

°

°

°

“Hyunji –ya,” ucap Sehun ketika melihat sosok seorang gadis yang keluar dari balik pintu. Seketika, semua perhatian orang yang ada disana teralihkan dan menatap kearah gadis itu.

Gadis itu berjalan menghampiri Sehun, dengan tetes air mata yang terus mengalir membasahi permukaan kulit wajahnya.

“A … aku akan lakukan yang kau mau,” ucap gadis itu parau disela-sela isakannya. “Aku tidak akan meninggalkanmu dan selalu bersamamu,” sambungnya.

“Menikahlah denganku!” balas Sehun seakan tak merasa cukup, jika gadis itu hanya berjanji akan disisinya.

Hyunhee menatap nanar kearah Sehun, dia tampak menghela nafasnya dalam, sebelum akhirnya menjawab, “Baiklah, aku akan menikah denganmu,” jawabnya seakan putus asa.

Baik Sehun, Nyonya Oh maupun Chanyeol menatap tak percaya kearah gadis itu.

“Benarkah, yang kau katakan itu?” tanya Sehun memastikannya kembali. Mengikuti nalurinya, dia berjalan menghampiri gadis itu.

“Ya. Tapi setelah itu … kau tak berhak menuntut apapun dariku, karena aku masih memiliki keraguan padamu,” jawab Hyunhee dengan mengajukan penawarannya.

“Baiklah,” jawab Sehun cepat. “Dan mari kita menikah dalam dua hari kedepan, karena aku juga memiliki keraguan kalau kau akan mengingkarinya,” sambung Sehun tak mau kalah.

Hyunhee mendongakan kepalanya dan memejamkan matanya kuat, menekan keluar air matanya hingga surut. Sementara tangannya tampak mengepal. “Ya, baiklah,” jawab Hyunhee penuh penekanan.

Jika beberapa saat sebelumnya dia berkata ‘Ya’ lantaran takut dan khawatir tentang pria itu, namun yang terakhir karena dia terlalu lelah untuk berdebat dan marah.

Hyunhee berbalik dan meninggalkan rooftop, tak sedikitpun dia menoleh meski sang Oppa terus memanggilnya.

Hingga pada saat Hyunhee hendak memasuki lift, Chanyeol menarik lengan Hyunhee untuk menahannya. Seketika Chanyeol merasakan dingin dan getaran yang ikut menjalar pada permukaan kulitnya, dan saat dia membalik tubuh Hyunhee agar dapat menatapnya, muncul perasaan sakit dan penyesalan dalam benak Chanyeol.

“Maafkan Oppa, Hyunhee –ya,” ucap Chanyeol lirih sembari membawa Hyunhee dalam dekapannya dan masuk ke dalam lift.

Semoga hari esok tak pernah ada. Itu adalah pengharapan dari orang-orang yang pesimis akan hari esok, salah satunya Hyunhee. Tapi sayangnya, matahari telah bersinar dan kini tengah menyambutnya dari balik celah tirai jendela kamarnya.

Hyunhee membuka matanya enggan, belum lagi karena matanya yang bengkak dan itu semakin membuat ingin kembali menenggelamkan dirinya di alam mimpi –kenyataan terlalu berat untuknya. Namun suara ketukan pintu mengganggunya.

“Hyunhee –ya.” Itu suara Ibunya yang memanggil.

“Masuk saja Eomma, pintunya tidak di kunci,” sahut Hyunhee tak jelas karena dia menutupi wajahnya dengan bantal.

Nyonya Park masuk, menghampiri ranjang dan duduk di sana. Lalu dia menarik bantal yang menutupi wajah putrinya itu, dan lantas memeluk Hyunhee sembari mengelus surai hingga punggungnya. Cukup lama Nyonya Park melakukan hal tersebut, guna menenangkan putrinya.

“Hyunhee –ya,” panggil Nyonya Park. “Maaf mengatakan ini, tapi Sehun dibawah menunggumu,” ucap Nyonya Park.

“Ya, aku akan menemuinya,” jawab Hyunhee setengah hati.

Setelah beberapa belas menit Hyunhee turun. Dan benar, pria itu ada di rumahnya tengah mengobrol dengan Ayah dan Oppa –nya. Sehun terlihat kikuk, Hyunhee menghembuskan nafasnya kasar sembari menatap kearah mereka.

“Berangkat sekarang?” tanya Hyunhee dengan nada malas.

Sehun segera menoleh. “Akh … iya,” jawabnya cepat. Dalam benaknya dia merasa lega dapat terbebaskan dari tatapan tajam dua orang pria yang merupakan keluarga dari gadis tersebut.

Ini tidak seperti dia yang kemarin dengan lancar mengancam gadis itu untuk menikah dengannya, saat ini dia merasa tercekak nafasnya lantaran bertemu langsung dengan keluarga sang gadis setelah apa yang dia lakukan kemarin.

Sehun memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah butik, mereka hendak fitting baju pernikahan. Sehun dengan cepat melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil, dia hendak membukakan pintu untuk gadisnya, tapi gadis itu lebih dulu keluar sebelum Sehun sempat membukakan pintu untuknya.

“Selamat datang,” sambut seorang wanita pagawai butik tersebut. Lalu dia membawa Sehun dan Hyunhee untuk berkeliling melihat koleksi baju pengantin butik tersebut.

Namun sebelum itu, Sehun mengatakan jika sebelumnya mereka telah milih baju pengantinnya. Maka setelah itu, mereka diajak untuk melihat baju pengantin yang telah di pesan.

Hyunhee memandang penuh binar kearah gaun pengantin yang di bawa oleh sang pegawai butik tersebut, tentu saja karena gaun pengantin itu sangat indah.

“Anda bisa mencobanya kembali, Nyonya,” ucap pegawai butik tersebut.

Hyunhee menerjapkan matanya.

“Ya … cobalah lagi Hyunji –ya, kau perlu mencocokannya lagi, karena aku rasa kau sedikit kurusan,” ucap Sehun bicara dari tempat duduknya.

Seketika Hyunhee menyadari sesuatu, ini adalah gaun yang saudaranya pilih dan tak mungkin dia yang memakainya.

“Tidak, aku akan pilih yang lain,” tolak Hyunhee pelan.

Tapi tampaknya sang pegawai butik itu tidak mendengarkan ucapan Hyunhee, dan dia mendorong Hyunhee untuk masuk keruang ganti bersama dengannya dan gaun pengantin tersebut.

Beberapa menit kemudian Hyunhee keluar.

“Tuan … sepertinya kalian perlu memilih gaun baru, karena gaun ini kebesaran untuk Nyonya, terutama di bagian dada,” jelas sang pegawai butik pada Sehun.

Sehun yang mendengarnya sempat merasa heran, hingga tampak dahinya berkerut. “Benarkah?” tanyanya memastikan. “Baiklah.” sambungnya sembari berdiri dan menghampiri gadisnya. “Hyunji –ya, bagaimana ini bisa terjadi?” tanyanya.

Hyunhee memilih mengikuti sang pegawai butik untuk menghindari pertanyaan Sehun.

Setelah selesai memilih baju pengantin, selanjutnya mereka bertolak lagi ke tempat lain. Kali ini mereka mendatangi Wedding Organizer untuk mengurus pernikahannya mulai dari dekorasi tempat hingga hidangan makanan, karena Sehun tak mau repot-repot mengurus semua itu sendiri. Terlebih lagi besok adalah hari pernikahannya, ya … besok!!

Dan karena itu, bukan saja aku yang menjadi gila karenanya, tapi pihak Wedding Organizer dibuat terperangah. Kebanyakan orang mempersiapkan pernikahan itu dengan pertimbangan waktu yang lama, bisa berbulan-bulan. Tapi ini, akh … sudahlah. Ajaibnya, pihak Wedding Organizer itu menyetujuinya. Ya, itu tentu saja mudah bagi pria itu.

“Setelah ini kita kemana lagi?” tanya Sehun pada gadis yang sedang berdiri disampingnya. “Apa kau ingin pergi ke salon?”

“Tidak, pulang saja. Aku lelah,” jawab Hyunhee bicara sesuai dengan keadaannya saat ini. Ya, dia benar-benar lelah.

“Ya … baiklah, tentu kau perlu istirahat karena besok kita menikah. Kau harus dalam kondisi yang prima, jangan sampai kau jatuh sakit dan pernikahan kita harus tertunda,” tutur Sehun sembari membelai surai gadisnya.

Seakan menemukan oasis ditengah gurun, Hyunhee mengangguk dengan tersenyum. Kalian tahu apa yang gadis itu pikirkan? Sakit. Ya, dia harus sakit besok.

___ ___ ___

Sehun mengantarkan gadisnya hingga di depan gerbang rumahnya, itu keinginan gadis itu. Dari dalam mobil Sehun melambaikan tangannya sembari tersenyum, semacam salam perpisahan. Tapi sayangnya dia diabaikan, Hyunhee berjalan begitu sama memasuki rumahnya setelah turun dari mobil Sehun tanpa menoleh lagi kebelakang.

Saat Hyunhee berhasil mendaratkan tubuhnya dengan nyaman di ranjang, dia beralih pada ponselnya yang selama ini dia non –aktifkan. Saat ponselnya kembali menyala, dia mendapatkan banyak sekali notifikasi yang masuk. Dan salah satu nama yang tercantum pada notifikasi  menjadi atensinya, Jongin oppa ❤ .

Seketika cairan bening menetes dari sudut matanya, dia menangis dalam senyap sembari memegang erat ponselnya dalam dekapan dada.

[TBC]

Akankah Hyunhee menghubungi Jongin dan memberitahunya perihal masalah yang tengah di hadapinya saat ini?

°

Eotteokhe? Apa kalian masih memiliki minat untuk membaca FF ini atau mulai merasa bosan?  U_U

Karena sejujurnya aku memiliki kekhawatiran ketika menulis beberapa chapter sebelumnya dan kedepan, mungkin karena sebentar lagi akan masuk pada konflik dan mulai terbukanya yang selama ini terkubur.

Aku selalu merasa kurang pas dalam dialog atau narasinya, juga kurang merasakan feel –nya. Ketik – hapus – ketik dan hapus lagi. Semoga kekhawatiran aku ini gak berlebihan, ya. 😀 Dan aku tetap dapat menyajikan cerita yang berkesan baik untuk kalian. ❤

Chapter ini kembali ku buat jadi dua bagian, karena terlampau panjang menurutku. Heheh …

Tetap nikmati cerita ini sewajarnya, jangan sampai kekenyangan apalagi mabok.. 😛 #apasih

♥♥♥

See you next chapter

#XOXO

26 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 14 – A)”

  1. Bolehkah aku membenci sehun sekarang? Apalagi eommanya. Kenapa dia selalu semena². Huuuhhh. Pingin aku jambak rasanya. Hehe mian. Bener² mulai panas rupanya.
    Tunggu!!! Aku pikir selama ini hyunji yang jari orang menatap pas sehun hyunhee jalan². Bukankah hyunji tau jika saudaranya sekarang menderita?? Aaahhh seulpujo. Kasihan si hyunhee.

    1. Hohoh .. kubebaskan kalian untuk sebal sama Sehun dan emaknya.. toh aku juga suka kesel pas nulis ..
      Hmmm .. kok aku bingung ya. Pas chapter berapa ada org yang suka menatap Sehun-hyunhee jalan2? #Amnesia

  2. Alhamdulillah gak sampe kekenyangan justru kurang kenyang bacanya 😀
    Oke aku masih berminta kok bacanya, masih dibikin penasaran sama tempat persembunyian Hyunji dan hubungan Jongin dan Hyunhee bakal seperti apa. So, lanjut terus ya!! Semangaaat!! 🙂

    1. kurang kenyang? ahahha..
      Syukurlah .. ternyata masih ada yang minat.. karena ku pikir, cerita menjadi membosankan U_U
      Tenang saja, Hyunji pasti akan kembali .. begitu juga Jongin .. 🙂

  3. Gapapaaa..ga gampang bikin suatu ceritaaa..ttep smngaattt yaaaaa..klo udh bingung ato ga tahu mau nulis apaa ambil waktu buat refreshing dari kenyataan uri exo yang tak cb cb juga smp detik ini huahahahahahhahahaa
    Fighting!!!!!😊💪

    1. Ku persilakan klo kamu mau memaki mereka xD
      karena aku juga sebal >_<
      Hyunji -ya, cepat pulang – cepat kembali – jangan pergi lagi …
      *terdengar seperti lirik lagu o_O

  4. Thorr..boleh ya aq marah sama..sehun,nyonya oh dan chanyeol..terutama sehun..gimana hyunji g betah deket dia,sehun gitu sifatnya. Kezellllll..,hyunhee ayo keluarkan ide2 mu biar batal nikahnya..wkwk..

    1. Kubebaskan dirimu untuk marah dgn Sehun – Nyonya Oh, tapi klo ke Chanyeol … tahan dulu ya 😀 itu salahku karena membuat kararkternya jadi lemah 😦
      Nah! Ya, begitu dah sikap-sifat jelek dr Sehun yg Hyunji gak suka … Sampe minta buat putus terus kabur..
      Hyunhee mah selalu ada akal, cmn takdir mengijinkan atau gak ..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s