[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 10)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 10]

 

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family, Drama || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.ka Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9

 

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

 

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kini pagi-pagi Hyunhee sudah bangun dan tampak berpakaian rapi. Dia keluar dari kamarnya dan menuju kamar sang Oppa. Hyunhee terlebih dahulu mengetuk pintunya, namun dia tak mendapat sahutan dari penghuni kamar, akhirnya Hyunhee masuk. Dilihatnya sang Oppa masih meringkuk diatas kasur, lantas Hyunhee menghampirinya. Dia menarik selimut yang menggulung tubuh Chanyeol.

Chanyeol melenguh sembari meregangkan tangannya. “Kenapa?” tanyanya dengan mata masih terpejam.

Ireona Oppa.”

“Jam berapa sekarang?”

“Pukul lima,” jawab Hyunhee.

“Aish! Matahari saja belum terbit,” omel Chanyeol dan kembali menarik selimutnya.

“Aish!” Hyunhee mendesis. “Ireona Oppa, palli!” Hyunhee mengguncang-guncangkan tubuh Chanyeol.

“Kau itu memang mau kemana?”

“Kantor.”

“Ini masih terlalu pagi untuk ke kantor, belum ada yang datang,” jawab Chanyeol malas.

“Justru karena itu, makanya aku ingin berangkat sekarang,” ucap Hyunhee meminta.

Chanyeol menghela nafas. Dia mengerti maksud adiknya itu, karena Hyunhee tak ingin menjadi bahan pembicaraan orang lagi, lantaran dia bekerja di perusahaan keluarganya sendiri. Kalian tau sendiri bagaimana orang-orang berbicara disaat mereka mungkin merasa iri, bahkan kita tak berbuat salah –pun, masih ada orang yang tak suka pada kita. Dan seperti itulah yang Hyunhee rasakan.

Sekitar satu atau dua tahun lalu, entahlah.  Hyunhee tak ingat jelas kapan itu, tapi sepertinya tepat pada saat dia baru saja meraih gelar sarjana. Hyunhee masuk ke perusahaan keluarganya dan langsung menempati posisi cukup tinggi di kantor pusat, itu adalah awal dia mulai menjadi bahan pembicaraan.

“Baiklah, aku bangun. Kau puas?” ucap Chanyeol beranjak dari tempat tidurnya. Hyunhee tersenyum. “Kalau begitu, sementara aku mandi, kau siapkan pakaian dan berkasnya,” titah Chanyeol. Tanpa banyak bicara, Hyunhee langsung melakukan yang diperintahkan Chanyeol.

Sepuluh menit kemudian Chanyeol telah selesai, dengan rambut dan tubuh yang basah dia keluar dari kamar mandi, handuk terlilit menutupi bagian pinggang hingga lututnya, namun masih memperlihatkan bagian otot perut, dada bidang dan lengannya yang kekar.

“Sudah siap?” tanya Chanyeol yang memecah keheningan.

Hyunhee menoleh karena merasa dipanggil, namun beberapa saat kemudian dia refleks menelungkupkan wajahnya diantara dua tangannya. “Aish! Oppa, pakai bajumu!” protes Hyunhee.

Tampak Chanyeol menyunggingkan senyum di salah satu sudut bibirnya, dia tengah menyeringai. “Memangnya kenapa?” tanyanya sembari menghampiri Hyunhee.

Namun gadis itu masih belum menyadarinya, lantaran wajahnya masih membenam. Hingga sepasang tangan menyentuh pundaknya. Hyunhee mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakang, dilihatnya sang Oppa tengah menyengir padanya. Menyeramkan, batin Hyunhee. “Ya! Byuntae!!” teriak Hyunhee lalu dia mendorong tubuh Chanyeol hingga terjungkal ke belakang.

“Akh …,” Chanyeol meringis sembari memegangi pinggangnya. “Yasudah, sana kau keluar! Aku mau pakai baju,” omelnya.

Hyunhee meninggalkan kamar Chanyeol sembari cemberut.

“Buatkan aku sarapan,” ucap Chanyeol sebelum Hyunhee menutup pintu kamarnya.

“Akh! Oppa ini banyak maunya,” sahut Hyunhee.

___ _­­__ ___

Dan disinilah Hyunhee berada, di dapur, tengah berdiri melihat isi kulkas. Lima menit telah berlalu, tapi belum ada satu –pun bahan yang disentuhnya. Padahal di dalam kulkas terdapat banyak bahan makanan yang dapat dia gunakan untuk di masak, namun pada akhirnya Hyunhee hanya mengambil telur. Dia membuat telur dadar gulung.

Lima belas menit kemudian Chanyeol turun dan pergi menuju dapur, disana sudah ada Hyunhee yang duduk di balik meja makan dengan masakannya yang telah tersaji.

“Ya~ ini menu sarapan tersederhana yang pernah –ku makan,” komentar Chanyeol saat melihat nasi, Kimchi dan telur dadar gulung yang ada diatas meja. “Mari kita tunggu Eomma saja,” putus Chanyeol akhirnya.

Andwae! Kalau menunggu Eomma butuh waktu satu jam, kantor sudah banyak yang datang. Sudah, makan saja yang –ku masak,” omel Hyunhee. “Oppa bersyukurlah, setidaknya Oppa masih bisa makan nasi dan ini hanya sesekali. Sarapan Jongin oppa bahkan lebih memprihatiankan, hanya roti tawar dan secangkir kopi,” sambungnya lagi.

Akhirnya Chanyeol makan tanpa banyak berkomentar.

Sementara itu, Sehun yang merasa bosan terus di kamar, dia memilih keluar untuk berjalan-jalan. Dengan kursi roda dia menyusuri tiap lorong rumah sakit dan berhenti di lobi, dia bermaksud menunggu seseorang, dan ketika orang itu datang, dia bisa menyambutnya.

Tapi sepertinya rencana Sehun tidak berjalan lancar, sudah lebih satu jam dia menunggu di lobi, dan tidak ada tanda-tanda orang tersebut akan datang. Sehun merogoh saku bajunya, mengambil ponsel dan selanjutnya menempelkan benda kotak itu di telinganya.

Yeoboseyo.” Suara lembut milik seorang gadis terdengar di telinga Sehun.

“Hyunji –ya, kau tidak ke rumah sakit untuk menjenguk –ku hari ini?”

Maaf, aku sibuk.”

“Akh … begitukah?” sahut Sehun tak bersemangat.

Kututup ya, teleponnya. Aku harus kembali bekerja.

Setelah gadis yang dihubunginya mengakhiri panggilan telepon, Sehun kembali menaruh ponselnya disaku dan dia pergi dari lobi rumah sakit.

–––♦○°○__ IFA __○°○♦–––

Sudah beberapa hari berlalu sejak Sehun menghubungi Hyunhee, dan sejak itu pula tak terdengar kabar darinya. Bukannya Hyunhee mengharapkan Sehun untuk menghubunginya, hanya dia merasa aneh saja. Sehun yang biasanya dalam sehari bisa menghubunginya lebih dari hitungan jari, kini satu panggilan –pun tak ada. Dalam benaknya, Hyunhee berharap semoga pria itu baik-baik saja.

“Hyunhee –ya, ayo kita makan siang,” ajak Chanyeol.

“Bawakan saja makanannya ke sini,” ucap Hyunhee terdengar memerintah.

“Merepotkan saja!” sahut Chanyeol. “Sudah, cepat ikut denganku makan di kantin kantor.”

Shireyo. Lagi pula aku –kan, bukan karyawan disini,” tolak Hyunhee.

“Kau ini keras kepala sekali. Kalau mereka bicara macam-macam tentangmu, akan Oppa beri peringatan.”

“Biarpun begitu, aku tetap tidak mau,” tolak Hyunhee lagi.

“Terserah kau sajalah.”

○○○

Sepeninggalan Chanyeol, Hyunhee hanya berbaring di sofa panjang sembari memainkan ponselnya. Hingga ada sebuah panggilan masuk, itu dari Nyonya Oh.

Yeoboseyo Eomeoni,” jawab Hyunhee. “Maaf Eomeoni, sepertinya aku tak bisa ke rumah sakit, aku masih ada pekerjaan.” ––– “Tidak. Sungguh. Kami tidak sedang bertengkar.” ­­­––– “Ne,kamsahamnida Eomeoni.”

Hyunhee menghela nafas panjang, setelah dia mengakhiri panggilan dengan Nyonya Oh. Selanjutnya dia hanyut dalam pikirannya sendiri.

Apakah jelas terlihat kalau aku dan Sehun sedang bertengkar? Akh … tidak, kami memang tidak bertengkar kok. Cuman sedikit canggung saja sejak …,’ Hyunhee terdiam, dia tak melanjutkan gumamannya. Ya, kecanggungan diantara mereka tercipta saat Sehun yang tiba-tiba menciumnya. Tapi Hyunhee memilih untuk tidak memikirkannya lebih lanjut. Namun tetap saja, saat dia teringat akan kejadian itu, sebuah perasaan tak nyaman muncul dalam hatinya.

Pada saat itu Chanyeol muncul dengan hebohnya, dia mendorong pintu cukup kuat hingga membuat suara dentuman, Hyunhee yang ada di ruangan itu berlonjak kaget.

Waeyo?!”

“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Chanyeol lalu mengambil mantel –nya yang tergantung.

Shireyo.”

“Ya! Tadi Nyonya Oh menghubungi Oppa, beliau bilang kalau Sehun keluar rumah sakit hari ini,” jelas Chanyeol.

“Lalu?” Hyunhee menjawab pertanyaan Chanyeol dengan dingin –nya.

Chanyeol mendesah. “Kalian sedang bertengkar, eoh?”

“Tidak. Kenapa Oppa menyimpulkan begitu?” tanya Hyunhee.

“Karena tidak biasanya kau menolak permintaan orang. Katakan, pasti ada alasan di balik sikap –mu ini,” selidik Chanyeol. Hyunhee diam. Chanyeol masih menunggu jawabannya dan terus menatap kearah Hyunhee.

Merasa terintimidasi, Hyunhee terpaksa menoleh ke arah Chanyeol untuk melihat ekspresi dari Oppa –nya itu, lalu dia kembali memalingkan wajahnya. “Aish … jinja jjajeungna!” Hyunhee membenamkan kepalanya di bantalan sofa. “Dia menciumku!” Hyunhee meneriakkan kekesalannya.

Mwo?!” Chanyeol bereaksi berlebihan. “Lalu apa kau menghajar atau menamparnya setelah itu?” tanyanya kali ini.

“Tentu saja tidak, aku ini bukan gadis beringas yang suka menghajar pria,” sahut Hyunhee ketus.

“Oke, baiklah … itu bagus. Aku kira, kau enggan menemui Sehun lantaran telah berbuat salah dan merasa malu,” ucap Chanyeol terdengar santai.

Oppa ini ada dipihak siapa, sebenarnya? Yang berbuat salah itu dia!” marah Hyunhee.

“Kalau begitu, kenapa seperti kau yang tampak telah berbuat salah?”

“Akh … Molla!” sentak Hyunhee. “Sudah, kalau Oppa mau ke rumah sakit, pergi saja. Tapi aku tak akan mau pergi.” Hyunhee enggan meladeni ocehan Oppa –nya lagi, dia berbalik memunggungi Chanyeol.

“Kau yakin?” tanya Chanyeol terdengar seperti menggoda Adiknya itu.

Hening. Namun akhirnya Hyunhee menjawab. “Tidak,” ucapnya lirih. Lalu Hyunhee berbalik lagi, menghadap Chanyeol.

Chanyeol terkekeh melihat tingkah Hyunhee yang tengah dilanda dilema itu. “Aigoo~ kasihan sekali Adikku ini.” Chanyeol mencubit pipi Hyunhee gemas.

–♦

––

♦–

Sehun memandangi dengan lekat setiap sudut dari ruangan yang menjadi kamarnya itu, pasalnya telah cukup lama dia meninggalkan rumahnya dan memilih tinggal sendiri di apartemen. Kini dia kembali, pulang kerumahnya. Itu adalah permintaan sang Ibu, Nyonya Oh meminta anak semata wayangnya itu tinggal bersama selama masa pemulihan. Dia hanya seorang Ibu yang khawatir tentang kondisi kesehatan anaknya, dan Sehun tak mungkin menolak meskipun dia ingin.

“Kau istirahatlah,” ucap Xiumin yang baru datang sembari menaruh sebuah tas besar, yang merupakan tas yang berisi pakaian Sehun selama di rumah sakit.

Ne, gomawoyo Hyung,” balas Sehun.

Sepeninggalan Xiumin, Sehun menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Menghirup oksigen dalam-dalam sembari memandang lurus kearah langit-langit kamarnya, selanjutnya dia menjadikan salah satu tangannya sebagai bantal. Beberapa menit kemudian, dia mulai terbuai kantuk dan terlelap.

°°°

“Sehun –ah, ireona.” Sebuah suara lembut dari seorang wanita paruh baya membuat Sehun membuka matanya.

“Eoh … Eomma,” ucap Sehun setelah berhasil mengenali wajah orang tersebut. “Waeyo?”

“Kita makan malam,” ucap Nyonya Oh.

“Iya.” Sehun beranjak bangun dari tidurnya. “Aku akan membasuh wajahku dulu,” ucapnya dan berjalan ke kamar mandi.

“Baiklah. Cepat. Sebab Ayahmu sudah menunggu,” ucap Nyonya Oh mengingatkan, lalu pergi.

Sehun menarik kursi dari meja makan dan duduk disana.

Nyonya Oh menuangkan sup ke dalam mangkuk dan memberikannya pada Sehun. “Makanlah yang banyak, kau perlu tenaga untuk segera pulih.”

Aigoo~ ketika anakmu pulang, aku jadi diabaikan,” ucap Tuan Oh.

“Maaf Suamiku, ini sup untukmu,” ucap Nyonya Oh lalu memberikan mangkuk berisi sup pada suaminya.

“Terima kasih Istriku tersayang,” balas Tuan Oh.

Sehun terkekeh menyaksikan interaksi kedua orang tuanya. Jika dipikir, dia sudah lama tidak merasakan suasana hangat seperti ini. Dan juga, makan yang di sajikan Ibunya.

Sehun beranjak dari duduknya setelah menyelesaikan makannya. “Terima kasih atas makanannya, masakkan Eomma enak sekali. Aku akan kembali ke kamar.”

“Ya, kau istirahatlah lagi. Ya Tuhan … sekalinya kau pulang ke rumah, kerjamu hanya makan dan tidur,” ucap Tuan Oh. Sehun menyengir mendengar ucapan Ayahnya.

“Jangan lupa minum obatmu,” ucap Nyonya Oh mengingatkan.

Sehun kembali menghampiri meja makan, dia meraih gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Setelah itu dia kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ada di lantai dua dengan membawa air minum bersamanya.

Namun beberapa saat kemudian, terdengar teriakan dari atas, yang tak lain adalah Sehun. “Eomma, ditaruh mana obatnya?”

“Ada di laci kamar Eomma, cari saja,” jawab Nyonya Oh dengan berteriak pula.

Sehun melangkahkan kakinya menuju kamar orang tuanya dan menghampiri sebuah meja kecil yang terletak di samping tempat tidur, lalu membukanya. Setelah Sehun mendapatkan obatnya, di menutup kembali laci meja tersebut. Namun sebelum itu, perhatiannya teralih pada secarik kertas, maka Sehun mengambilnya.

Itu sebuah amplop, Sehun membuka dan mengeluarkan kertas di dalamnya yang ternyata sebuah surat. Dia melihat sebentar surat itu, tapi saat ekor matanya tertuju pada kata terakhir dalam surat, Sehun memilih membacanya.

Setelah membaca surat tersebut, Sehun tampak mengeluarkan ponselnya dan selanjutnya dia mendekatkan ponselnya itu di telinga.

Yeoboseyo,” suara seorang gadis menjawab panggilan dari Sehun.

“Hyunji –ya, apa kau berniat meninggalkanku? Kau tidak pernah menghubungiku lagi sejak hari itu,” ucap Sehun terdengar memburu. Namun orang yang jadi lawan bicara Sehun itu, tak lantas menjawab dan membuat Sehun memanggil namanya kembali. “Hyunji –ya!” sentak Sehun.

Tidak sama sekali, itu karena aku sibuk.”

“Benarkah?” tanya Sehun terdengar seperti meragukan jawaban yang di dengarnya. “Taukah kau, jika selama ini aku menunggumu? Aku berpikir, kalau aku telah berbuat salah padamu lantaran aku mencium –mu saat itu. Jadi aku merasa ragu untuk menghubungimu lebih dulu.”

Maafkan aku, itu karena aku terlalu terkejut. Dan alasan aku tidak menghubungimu, itu karena aku juga merasa ragu.”

Sehun menengadahkan kepala sembari meremas rambutnya. “Ya Tuhan~ jadi selama ini kita terjebak dalam pikiran masing-masing.”

Sepertinya begitu.”

Terdengar suara tawa Sehun, sebelum akhirnya dia berhenti dan menghela nafas. “Syukurlah kalau begitu, aku sudah takut jika kau meninggalkanku. Aku berpikir, mungkin saja aku bisa mati karena tak sanggup kehilanganmu,” ucap Sehun terdengar seperti sedang bercanda.

Tapi bagi orang yang menjadi lawan bicaranya, itu terdengar serius dan membuatnya gugup. “Oppa, ini sudah malam. Kau istirahatlah.”

“Akh … ya, kau juga istirahat. Kau pasti lelah karena selalu sibuk,” balas Sehun.

Kalau begitu, kututup teleponnya.”

Chakkaman!” tahan Sehun. “Kapan kira-kira waktumu senggang?”

Weekend. Kenapa?”

“Tidak, aku cuman tanya,” jawab Sehun berdalih.

Seutas senyuman tampak terukir di wajah Sehun setelah dia mengakhiri panggilannya. ‘I will give her surprise,’ guman Sehun.

[TBC]

 

Kira-kira kejutan apa yang akan diberikan Sehun kepada kekasih (palsunya) a.k.a Hyunhee?

 

°

°

°

 

Annyeong! Kalian apa kabar? Aku balik nih, setelah minggu kemaren gak update. Adakah yang kangen atau nungguin aku? Kkkkk~    *abaikan saja orang gak jelas ini dia sedang dalam masa pemulihan kewarasan. 😛

–––

Btw … gak kerasa ya, udah chapter 10 aja. Tapi untuk sebuah chapter pengantar dari FF yang seharusnya bergenre Marriage Life (dilihat dari judulnya yang bahkan merujuk kesana –My Possessive Husband), belum ada yang nikah tuh tokoh utamanya 😀 Kkkk~ aku juga gak tau atau mengira, kalau bakal sepanjang ini. Menurut kalian, alur FF –nya ini terlalu lama kah?

Udah, segitu aja. –sekian.

Dear readers –ku tercinta, jangan segan untuk tinggalkan komentar setelah baca FF –nya ya, aku gak gigit kok. Dan aku terbuka dengan setiap komentar kalian, selama itu untuk membantuku dalam memperbaiki/meningkatkan penulisanku.

 

See you next chapter

#XOXO

 

33 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 10)”

  1. Aku hanya rindu hyunji. Hahaha
    Hyunji ada dan kirim tuh surat tapi kemana dia selama ini? Ditolong baekhyun?? Hahaha…
    Eeh isi suratnya gajelas kaak.

    1. Hyunji, gak ingat pulang apa kamu, nak? Banyak yg kangen kamu tuh.. 😆😆
      Nah loh, kmn Hyunji?

      Hahah.. masih rahasia isi suratnya .. tapi menurut kamu, isinya kabar baik atau buruk? -melihat dari reaksi Sehun..

  2. Author kapan Hyunji balik? Kangen sama tu anak yg kelakuannya bringas, yng cerewet. Takutnya Sehun jatuh cinta sama Hyunhee, dan sebaliknya. Gimana nasib Kai nanti?? 😥

    1. Sabar ya, jika sudah waktunya Hyunji juga bakal balik kok..
      Btw -kan, sehun gak tau klo itu Hyunhee. Jadi dia ngiranya itu Hyunji aja & pastinya begitu juga perasaannya.
      Klo Hyunhee suka Sehun? Emmm … tenang, Hyunhee masih setia sama Kai ❤

  3. Thoorrrrr..kangen..wkwk..sekalinya udah update,aq yg g sempet,sibuk..(sibuk ngeliatin jajanan bukaan..wkwk). Hyunhee..pagi2 semangat kerja,giliran dah dikantor malah mainan hp..hadeuhh.., sehun diabaikan..haha..,author g amnesia juga kan????soalnya si hyunji lama banget nih ngilangnya..jangan2 thor lupa.ato asik pacaran ama misoa aka baekhyun..wkwk..

    1. Daku -pun kangen dgn cicitan kalian. #jiah xD
      Hyunhee itu rajin kok, makanya dia bisa main, karena pekerjaannya udh selesai. #alasan 😛
      Gak dong, aku blm nenek-nenek, jadi masih inget.. Hihi~
      Hyunji ku simpan dulu, di hatiku. #jeojang *salah lapak 😀
      Kamu masih ya, usaha nyomblangin Hyunji sama Baekhyun.. >0< Fighting! Fighting!

  4. Kangen hyunji, sama sifat2nya yg sekarang kayak menular ke hyunhee…
    Penasaran juga sama isi suratnya….
    Gag kepanjangan sihcuman bikin geregetan selaluaja ada yg bikin penasaran tiapchapter.

    1. Ya, kayaknya sifat Hyunji sekarang ini sedikit banyaknya jadi nular ke Hyunhee. Mungkin Hyunhee terbawa suasana, secara mereka selalu berdua. Belum lagi sekarang, Hyunhee juga bergaul dgn Sehun. Jadi suka ngomel, teriak. Tapi masih tetap Hyunhee yg cengeng, penurut, sensitif dan terkadang cuek dan pendiam.
      Isi suratnya bakal di kasih tau kok, tenang aja. Semua teka-teki akan terjawab seiring alur.
      Ahhh~ terimakasih. Syukurlah FF ini masih memiliki daya greget dan buat penasaran >o<

  5. Kok aku ngerasa nggak ada yang peduliin hyunji ya thoor,apalagi keluarga.x merka menganggap seakan akan hyunji udah mati,nda yang brusaha dgn keras untuk cari hyunji..trus si hyunhee,x malah sibuk banget sma abang sehun si abang kai d anggurin..miris bnget. Kai+hyunji..
    Itu hanya pendapat.q aja sih thorr..
    Aku nunggu banget d saat hyunji balik lagi d khidupan.x abang sehun..
    D chap selanjut.x thor..

    1. Terima kasih atas masukkannya.
      Aku memang kurang dlm menjelaskan kondisi keluarga Park terkait hilangnya Hyunji, tapi bukan berarti mereka gak perduli atau menganggap Hyunji mati kok. Di chapter selanjutnya akan aku jelaskan lebih rinci, kenapa alasannya. termasuk hubungan mereka berempat. Semoga gak ada kesalah pahaman ttg FF ini. 🙂

    2. Kenapa minta maaf? Aku gak ngerasa ada yg salah tuh.
      Tolong jgn sungkan gitu.. Setiap saran dan kritik itu hal wajar, dan aku sadar itu.
      Malah aku berterima kasih sama kamu, soalnya udah diingatkan.. Mungkin pembaca lain juga ada yg sama bingungnya..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s