[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 2)

MY POSSESSIF HUSBAND [Chapter 2]

Author    : IFAngel  (Wattpad: @ifangel04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.ka Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

Chapter 1

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

Don’t be silent readers! Please, leave comment after reading.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

This story is mine and my work.

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

London, 02.00 AM

Seorang pria baru saja memasuki ruangan bercat silver dengan dekorasi modern, Kim Jongin atau orang sering memanggilnya Kai. Dia melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya dan dasi yang mencekat lehernya, setelah itu dia lemparkan kesembarang tempat. Sembari berjalan kearah sofa panjang, dia membuka beberapa kancing atas kemejanya dan berakhir dengan menghempaskan tubuhnya di sofa tersebut. Lelah, sangat dia rasakannya saat ini. Perlahan kantuk mulai menguasainya, refleks dia memejamkan mata dan menaruh lengannya disana.

Beberapa menit kemudian dia terbangun dari tidur singkatnya, rasa laparlah yang mendorong dan menuntunnya saat ini menuju dapur. Dia mulai memeriksa beberapa pintu lemari dan kulkas untuk mendapatkan makanan yang akan disantapnya saat ini, tapi pilihan yang tersedia tak cukup banyak. Hanya ada roti tawar, telur, kopi dan susu. Melihat bahan makan yang dia punya saat ini, sungguh membuatnya tak berselera. Jika saja bukan karena dedikasinya pada pekerjaan, mungkin dia sudah memesan tiket menuju Seoul dan menyambangi rumah kekasihnya untuk menyantap makanan buatan calon ibu mertuanya. Tanpa alasan yang jelas, seutas senyuman terlukis di wajah pria itu.

Chagi –ya, aku sangat merindukanmu saat ini,” rancaunya. Bahkan sekarang dia mulai tertawa, tapi tak terdengar lepas seperti tawa orang pada umumnya. “Wah! Sepertinya aku mulai gila,” ucapnya dan setelah itu dia tertawa lagi.

Hal tersebut berlangsung beberapa saat, sepertinya pria itu sangat merindukan kekasihnya yang berada di Seoul. Dan yang kembali menyadarkannya adalah rasa lapar yang sebelumnya dia lupakan. Selanjutnya dia mengambil dua lembar roti tawar, lalu meletakkannya pada pemanggang dan memanaskan susu dalam panci kecil. Setelah selesai, dia melangkahkan kaki meninggalkan dapur sembari membawa roti panggang yang telah dioles mentega dan segelas susu hangat menuju ruang tengah. Dia ruangan tersebut dia berdiri di samping kaca lebar yang memperlihatkan pemandangan kota London di malam hari, ditempat tinggalnya saat ini yang berlantai 10 pada sebuah apartemen.

Tak butuh waktu lama, salah satu tangannya yang tadi memegang roti kini telah berganti dengan ponsel. Dia memandangi layar ponselnya yang sedari tadi hanya dia geser untuk melihat foto-foto, hingga gemarinya berhenti bergerak pada foto seorang gadis dengan pakaian motif bunga-bunga tengah tersenyum manis kearah seseorang yang dia genggam tangannya. Selanjutnya jemari pria itu kembali bergerak, memilih beberapa option pada menu ponselnya dan berakhir menjadikan foto tersebut sebagai wallpaper. Tapi tidak berakhir disana aktivitas jemarinya, bahkan saat ini jauh lebih lincah.

Chagi –ya, kau sedang apa? Jam berapa aku bisa meneleponmu? Bogoshipo… Saranghae…’ Kai mengetikkan beberapa kalimat dan di tambah emoticon heart-kiss diakhir kalimat, lalu mengirim pesan tersebut. Dia tersenyum senang setelah itu.

……..-ooOoo- IFA -ooOoo-……..

Seoul, 09.00 AM

Tampak dua orang gadis masih menggulung diri dalam selimut, di tengah lembutnya buaian mimpi. Ini bukanlah hari libur, tapi mereka masih meringuk di atas ranjang. Sementara anggota keluarga lainnya telah menyelesaikan sarapan dan bersiap-siap menjalani aktivitasnya.

“Apakah anak-anak gadisku berangkat kerja pagi buta?” tanya seorang pria paruh baya yang merupakan kepala keluarga sekaligus seorang ayah dan suami.

“Entah,” jawab ibu sekenanya. Tampaknya wanita paruh baya itu tak tertarik dengan pertanyaan sang suami.

“Chanyeol –ah, coba kau periksa mereka di kamar,” titah sang ayah pada putra sulungnya.

Tanpa banyak bicara, pria jangkung yang dipanggil Chanyeol itu segera melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar adiknya yang ada dilantai dua. Saat dia membuka pintu sebuah kamar, tampak dua gundukan besar di atas ranjang. Dia menatapnya geram, dengan langkah panjang dia menghampiri ranjang dan langsung menarik kasar selimut yang menutupi dua gundukan besar itu.

“Kalian tak bekerja?” teriak Chanyeol.

“Tidak. Aku memecat atasanku, kemarin,” jawab Hyunji lebih dulu. Gadis itu kembali menarik selimut.

Chanyeol menghela nafasnya kasar. “Dan kau kenapa tak bekerja, Hyunhee –ya? Sakit, eoh?” kali ini nada suara lebih pelan dari sebelumnya.

“Tidak, aku dipecat,” jawab Hyunhee datar.

“Apa?! Kau bilang apa barusan?” tanya Chanyeol tak percaya mendengar jawaban dari Hyunhee, adik yang dianggapnya jauh lebih baik dari adik yang satunya. “Bagaimana bisa?” tanya Chanyeol lagi.

“Aku melawan atasanku,” jawab Hyunhee dengan penuh penekanan disetiap kalimat.

“Wah~ aku tidak percaya ini. Tidakkah cukup kalian membuat masalah? Dan sekarang juga jadi pengangguran, sungguh mengecewakan.” Chanyeol meninggalkan kedua adik perempuannya itu.

Baik Hyunhee maupun Hyunji hanya berdiam diri, membungkam satu sama lain hingga terjadi keheningan seisi ruangan tersebut.

“Masalahnya tidak sesederhana itu, bukan?” Hyunji kembali membuka percakapan dengan topik sebelumnya, dia penasaran dan merasa ada yang ganjal.

“Urus saja urusanmu sendiri,” jawab Hyunhee dingin. Lalu dia beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.

Sepertinya dia masih marah padaku,’ guman Hyunji sedih.

Lima belas menit kemudian, Hyunhee keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono dan rambut yang basah. Dia berjalan kearah lemari pakaian dan memilah-milih baju, sementara Hyunji hanya memperhatikan gerak-gerik saudara kembarnya dari atas ranjang. Setelah itu, dia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan saat keluar dia telah berpakaian lengkap. Kini Hyunhee duduk di meja rias, dia terlebih dahulu mengeringkan rambutnya, menyisir, menggunakan make up dasar dan terakhir menyemprotkan parfum, dia telah siap.

“Mau kemana? Rapi sekali. Bukannya kau sudah dipecat?” tanya Hyunji. Dari nada suaranya, jelas dia bermaksud mengejek.

Hyunhee menghela nafasnya. “Ke butik Eomma, kenapa? Kau mau ikut?” Ekspresi wajah Hyunji tampak berubah, dia terlihat senang. “Kau berharap aku bilang begitu?” ucap Hyunhee dibarengi dengan senyum smirk –nya. Dan itu sukses mendatangkan kekecewaan buat Hyunji. “Kau tidak bekerja?” kini giliran Hyunhee yang melayangkan pertanyaan. Mulut Hyunji tampak terbuka hendak memberi alasan, tapi Hyunhee lebih dulu memotong ucapannya. “Kalau tidak, yasudah. Aku hanya tanya.”

Menjengkelkan!’ batin Hyunji geram.

○○○

Hyunhee saat ini sedang di halte, sembari menunggu bus datang dia hendak mendengarkan musik. Namun saat dia membuka ponselnya, ada sebuah pesan masuk. Mata gadis itu tampak berbinar melihat nama dari pengirim pesan tersebut, ‘Jongin oppa’ dengan simbol heart.

Oppa, maaf aku baru membalas pesanmu… karena aku belum pegang ponsel sejak semalam… kau bisa meneleponku sepanjang hari, aku sedang libur… Ku tunggu, ya~ Bogoshipo… Saranghae…[Kirim]

Hyunhee itu tak bisa menahan senyumnya yang semakin lebar, dia bahkan menghentak-hentakkan kakinya dengan riang. Hingga bus nya datang dan naik, dia masih tak dapat mengontrol suasana hatinya yang terlampau senang. Sesekali dia terkekeh dan membuat seorang Ahjumma yang duduk disebelahnya menatap aneh kearah dirinya.

Jeosonghamnida,” ucap Hyunhee sembari membungkuk. Lantas dia membungkam mulutnya dengan tangan. ‘sepertinya pengaruh alkohol semalam belum hilang,’ gumam Hyunhee.

Hyunhee turun di halte tujuannya, di perlu berjalan beberapa meter untuk sampai di butik Ibunya. “Haruskah aku beli sesuatu?” ucapnya pada diri sendiri.

Dia memutuskan untuk membeli minuman dan kudapan kecil, sebuah Coffee Shop di pinggir jalan dia sambangi. Hyunhee memesan beberapa Ice Coffee dan Cookies. Setelah dia menerima pesanannya, Hyunhee segera menuju butik Ibunya yang tak jauh dari Coffee Shop tadi.

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu.” Sambutan ramah dari seorang penjaga butik perempuan menyapa Hyunhee saat dia masuk.

“Saya ingin bertemu …,” sebelum Hyunhee menyelesaikan kalimatnya, seseorang datang dan menghampiri mereka.

“Eoh, Hyunhee –ya, kau datang?” ucap seorang wanita saat melihatnya. “Dia putrinya Ny. Park,” jelas wanita itu pada penjaga butik yang pertama menyapa Hyunhee saat dia datang. “Hyunhee –ya, Ibumu ada diatas,” sambungnya lagi.

“Akh ya … kamsahamnida Eonnie.” Hyunhee segera menuju anak tangga, tapi kemudian dia berbalik lagi. “Eonnie, aku beli terlalu banyak jadi ambillah dan silakan dinikmati,” ucap Hyunhee sembari menyerahkan Ice Coffee dan Cookies yang dibelinya tadi.

Ne, gomawo ….”

“Manajer, apa dia artis? Aku seperti pernah melihatnya di TV,” ucap penjaga butik itu dengan nada seperti berbisik.

“Bukan. Nah, minumlah,” ucap Manajer dan memberikan kopi yang diberikan Hyunhee tadi.

“Benar kok, aku pernah melihatnya.”

“Mungkin saudaranya yang lain,” jawab sang Manajer. “Sudah cepat habiskan minummu dan kembali bekerja.”

___ ___ ___

Eomma!” teriak Hyunhee saat memasuki ruang kerja Ibunya.

“Akh! kau bikin kaget Eomma saja,” ucap Ny. Park sembari memegangi dadanya. “Ada apa? Tumben kemari?” tanya sang Ibu dengan nada cuek.

“Kenapa? Memang tak boleh kalau aku menemui Eomma? Bogoshipoyo …,” ucap Hyunhee manja sembari menghampiri sang Ibu lalu mencium pipinya.

“Baiklah … Jadi apa maumu, Nona?” tanya sang Ibu seakan tau gelagat manja dari putrinya.

Eomma, aku ingin menikah dengan Jongin oppa.”

“Ye?!” pekik Ny. Park kaget saat mendengar lontaran kalimat dari putrinya itu. “Ada apa ini? Bukannya waktu itu kau yang bilang kembaranmu kebelet kawin?”

“Tak, aku cuman bilang saja.”

Aigoo … putriku yang itu mau membatalkan pernikahannya dan sekarang putriku yang ini mau segera menikah. Apa dosaku?”

“Tapi sepertinya aku sangat merindukan Jongin oppa,” sambung Hyunhee.

Ny. Park terkekeh mendengar celotehan sang putri. “Apa itu masalahnya?” Hyunhee mendehem lemas. “Kalau kau begitu rindu dengan pacarmu, temui saja dia,” jawab Ny. Park terdengar santai.

“Benarkah? Jadi aku boleh menemui Jongin oppa di London?” tanya Hyunhee antusias.

“London?” tanya Ny. Park lagi seakan tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

“Ya,” jawab Hyunhee cepat. “Ayolah Eomma, masa keberadaan calon menantumu saat ini saja tidak tau.” Hyunhee terdengar merajuk.

“Kalau Eomma tak masalah kau ingin menemui pacarmu, tapi tak tau dengan Appa –mu memberi ijin atau tidak.”

“Kalau begitu mari temui Appa,” ucap Hyunhee kini bersemangat kembali. “Ayo Eomma!” Hyunhee menarik tangan Ibunya, sementara itu Ny. Park hanya dapat pasrah.

°°°

Golden Garment, Seoul.

Golden Garment merupakan salah satu perusahan besar yang memproduksi pakaian jadi di Korea, bahkan sudah di ekspor ke berbagai negara. Sebagai perusahaan yang telah berdiri lebih dari belasan tahun, perusahaan tersebut terbilang baik dalam mempertahankan eksistensinya. Bukan saja dengan kualitas, tapi juga mode pakaian yang diproduksi terus mengikuti kesesuaian tren, jaman dan selera konsumen.

Seorang wanita paruh baya dan gadis muda baru saja memasuki gedung perusahaan tersebut, beberapa karyawan yang mereka lewati tampak membungkuk hormat. Berbeda dengan wanita paruh baya yang terlihat biasa saja saat berjalan, gadis muda itu terlihat kurang nyaman dengan perlakuan karyawan yang terus bersikap formal dan hormat. Gadis muda itu berpikir tindakannya salah mengajak wanita paruh baya itu bersamanya ke tempat ini, yang tak lain adalah Ibunya sendiri. Jika saja hanya dirinya yang datang sendiri, mungkin tak akan semencolok ini karena tak banyak yang mengenal dirinya di perusahaan tersebut.

Perasaan itu berhasil gadis itu lewati setelah memasuki lift, kini hanya dia dan Ibunya yang berada dalam kotak yang bergerak vertikal itu. Beberapa waktu diperlukan untuk dapat sampai di lantai tujuan mereka, pasalnya mereka hendak menemui pimpinan dari perusahaan yang berada di lantai teratas dari gedung tersebut. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, terlebih dahulu mereka mendatangi meja resepsionis untuk menanyakan perihal keberadaan orang yang hendak mereka temui. Tanpa menunggu, mereka dapat segera masuk keruangan tersebut. Saat mereka memasuki ruangan, terdapat dua orang pria paruh baya disana. Seorang sedang duduk dibalik meja kerja dan berhadapan dengan beberapa kertas yang dia baca, sementara yang satunya sedang berdiri di samping meja sembari memegang map.

Appa,” panggil gadis itu pada seseorang.

Merasa mengenali suara tersebut, dia langsung mendongakkan kepalanya. Sebuah senyuman terlihat dari wajah pria paruh baya itu. “Eoh … putriku, kau datang?” ucap pria paruh baya itu lalu segera beranjak dari meja kerjanya menghampiri putrinya dan memberikan pelukkan hangat.

“Presdir, kalau begitu saya permisi,” ucap pria paruh baya yang merupakan sekretarisnya.

“Iya, terima kasih Pak Lee,” ucap sang Presdir pada sekretarisnya itu. “Kau datang sendiri?” tanyanya kini kembali memerankan sosok ayah.

“Tidak, aku bersama Eomma. Masa Appa tak lihat?” tanya gadis itu heran. Dia berbalik badan memastikan keberadaan Ibunya. “Itu Eomma!” serunya.

“Dimana?” tanya sang Ayah lagi sembari mencari kesekeliling. “Ouh … disitu rupanya istriku,” ucap sang Suami sembari terkekeh. “Sepertinya kau kurusan, jadi aku tak melihatmu,” goda sang Suami.

Aigoo … Liat siapa yang sedang bicara? Seorang pria tua menggodaku,” jawab sang Istri menimpali ucapan sang Suami dengan canda. Lalu dia memeluk suaminya itu. “Yeobo, sepertinya kau mulai rabun, bagaimana bisa kau tak melihat kedatangan istrimu yang cantik ini?” Kini nada suara Ny. Park terdengar merajuk.

“Maafkan aku, Istriku. Kau perlu bersuara supaya aku tau kau datang,” jawab Tn. Park.

“Tidak akan kumaafkan,” ucap Ny. Park judes sembari melipat tangannya di dada.

Eomma sudah, maafkan saja Appa. Sebenarnya ini salahku, karena aku lebih cantik jadi Eomma tidak kelihatan,” ucap Hyunhee menimpali perdebatan orang tuanya, tapi lebih terdengar menyombongkan diri.

“Anak ini, benar-benar,” ucap Ny. Park geram sembari menjewer telinga putrinya. “Memangnya siapa yang membuatmu jadi cantik? Itu karena cinta Eomma dan Appa.”

“Akh … Akh … Eomma appo,” ringis Hyunhee sembari memegangi telinganya yang masih kena jewer. “Arraseo … Arraseo … aku salah, aku minta maaf, aku tak akan mengulanginya dan kutarik ucapanku. Eomma neomu-neomu-neomu yeppeo.” Setelah begitu banyak permintaan maaf dan pujian, barulah telinga Hyunhee lepas dari jerat penjepit. Namun bekas merah masih tertinggal disana.

“Sudah, panggil Oppa –mu sana,” titah Ibu.

Ne,” jawab Hyunhee pelan. Dia berjalan sembari memegangi sebelah telinganya yang merah. Saat tiba di depan ruangan sang Oppa, dia terlebih dahulu mengetuk pintu. “Chanyeol oppa, ini aku Hyunhee. Kau ada di dalam? Apa kau sibuk?” ucapnya setengah berteriak.

“Masuklah,” jawab sang Oppa dari dalam ruangannya.

Setelah mendapat persetujuan, Hyunhee masuk keruangan tersebut. “Heol! Aku kira kau sedang sibuk, tak ku sangka kau begitu santai,” ucap Hyunhee saat melihat keadaan Oppa –nya yang sedang tiduran di sofa panjang sembari melihat majalah.

“Aku sibuk beberapa menit yang lalu, tapi berkat kejeniusanku semua telah selesai,” ucapnya menyombong. Hyunhee menjulurkan lidahnya keluar, dia tak setuju dengan celotehan Oppa –nya barusan. Chanyeol bangun dari posisi berbaringnya tadi, dan duduk. “Ada apa kau kemari? Tumben sekali. Apa karena sudah dipecat, jadi kau punya waktu bebas?” ada maksud lain dibalik kata-kata yang dilontarkan Chanyeol.

Oppa, kau sedang mengejekku sekarang?” selidik Hyunhee.

“Bingo!” ucap Chanyeol sembari menjentikkan jarinya. “Kau datang sendiri? Dimana saudara sepengangguranmu?”

Tampak Hyunhee menggigit bibirnya, dia tengah menahan kekesalan saat ini. “Oppa –ku tersayang, aku datang bukan untuk berdebat denganmu. Jadi tolong jangan memancing emosiku, dan ikut saja ke ruangan Appa,” ucap Hyunhee dengan suara manis yang dibuat-buat.

Tanpa banyak bertanya, Chanyeol mengekori adik perempuannya.

“Eoh … Putraku!” seru Ny. Park saat melihat Chanyeol masuk. “Kau sudah makan?” tanyanya kali ini.

“Belum, aku sangat sibuk. Baegopa Eomma,” jawab Chanyeol dengan nada manja.

“Dusta!” celetuk Hyunhee.

Shhhfff!!” desis Chanyeol sembari menatap tajam adiknya. Sementara Hyunhee malah memelototkan matanya. “Anak ini!” Chanyeol menarik telinga Hyunhee. Kali ini Hyunhee tak tinggal diam, karena lawannya bukanlah sang Ibu. Dia melawan dan menyerang balik dengan mencubit pinggang Chanyeol. Refleks membuat Chanyeol melepaskan capitannya di telinga Hyunhee, tapi gadis itu masih bertahan menyerang pinggang Oppa –nya. “Ya! Ya! Lepaskan!” teriak Chanyeol heboh.

Kali ini sang Ayah ikut melibatkan diri dalam persaingan kakak-adik itu, sepertinya Ayah sudah kehabisan kesabaran. Dia menjewer telinga kedua anaknya. Saat mereka mula merengek, barulah Ayah melepaskan jewerannya. Baik Chanyeol maupun Hyunhee, keduanya memegangi telinga mereka yang merah.

“Belum hilang bekas jeweran Eomma, ditampah Oppa dan Appa ikut menjewerku. Lama-lama telingaku akan panjang seperti Chanyeol oppa,” gerutu Hyunhee.

Eomma juga menjewermu?” tanya Chanyeol. “Wah~ Jackpot!”

“Itu karena anak ini meledek Eomma,” ucap Ny. Park gemas dan menjewer telinga Hyunhee lagi.

“Akh … Eomma, appo,” jerit Hyunhee. “Oppa tau? Eomma dan Appa tadi benar-benar sesuatu,” ucap Hyunhee terdengar seperti sedang mengadu. “Mereka bermesraan di depan aku. Ouh … membuatku iri saja, jadi semakin ingin cepat menikah.”

“Ye?!” Chanyeol bingung, dia mengkerutkan dahinya. Terlebih kata ‘bermesraan’ yang diucapkan Hyunhee membuatnya terdengar ambigu bagi dirinya, seorang pria dewasa yang telah menikah. Terlepas dari itu, ada hal lain yang menjadi pertanyaan besar baginya. “Kau ingin segera menikah? Apakah kau sefrustrasi itu karena dipecat?”

“Eoh … ayolah Oppa, bisakah kau berhenti mengatakan pecat padaku?” ucap Hyunhee dengan menekankan intonasi suaranya pada kata ‘pecat’. “Aku lelah mendengarnya.”

“Kalau kau semenyesal itu karena dipecat, kenapa tidak kau pikirkan dulu konsekuensi dari tindakanmu,” Chanyeol memburu Hyunhee dengan kata-katanya.

Mereka kembali berdebat, tak peduli jika mereka tengah disaksikan oleh kedua orang tuanya masing-masing. Sementara Tuan dan Nyonya Park hanya menyaksikannya, selama tak melewati batas dan tak saling menyakiti diantara saudara.

Hyunhee memejamkan matanya, tampak bibirnya juga dia gigit. “Itu semua bukan kemauanku, tapi karena Hyunji,” ucap Hyunhee kini mulai terisak. Matanya memerah, air mata yang sejak tadi dibendungnya sudah tak tertahan dan jatuh begitu saja seperti anak sungai yang melewati setiap senti kulit pipinya.

Baik Chanyeol maupun kedua orang tuanya tak menyangka kalau Hyunhee seemosional ini, terlebih belum diketahui dengan jelas keterkaitan Hyunji dengan pemecatan Hyunhee, seperti yang mereka dengar tadi.

Hyunhee melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut, sementara Chanyeol dan orang tuanya masih hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.

“Chanyeol –ah, kejar adikmu,” ucap Ayah.

Chanyeol mengejar Hyunhee yang telah pergi lebih dulu, tapi sayang tak terkejar karena Hyunhee telah menaiki taksi.

°

°

Hyunhee menatap kosong keluar jendela dari dalam taksi yang ditumpanginya, pikirannya sedang kacau saat ini. Dia tak dapat mengontrol emosinya tadi, hingga kelepasan bicara.

Agasshi, kita sudah sampai,” suara supir taksi menyadarkan Hyunhee kembali dari lamunannya.

Kamsahamnida,” ucap Hyunhee setelah menyerahkan uang pembayaran taksi.

Hyunhee menarik nafas panjang sebelum memasuki rumahnya. ‘Aku hanya perlu masuk kamar dan segera tidur,” gumamnya. Dia bermaksud menghindari anggota keluarganya. Hyunhee menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.

Saat dia membuka pintu kamarnya, dilihatnya siluet seseorang yang dia kenal. Hyunhee mengurungkan niat untuk masuk ke kamarnya.  “Sial! Kenapa ada dia?” gerutu Hyunhee dalam benaknya. Hingga tanpa diduga, mata mereka saling beradu tatap. Dengan cepat Hyunhee menutup pintu kamarnya dan kembali menuruni anak tanggal. Namun langkahnya kembali terhenti, saat dia melihat Oppa dan orang tuanya memasuki rumah, terlebih sedang menuju kearahnya. Tanpa pikir panjang Hyunhee langsung berlari menuju halaman belakang rumah. Hyunhee berada dibalik pintu luar, dia menunggu untuk dapat keluar setelah keluarga masuk ke kamar masing-masing. Tapi pada saat itu juga, pintu tersebut seperti ada yang mendorong. Hyunhee mundur perlahan.

“Disini kau rupanya,” ucap orang yang mendorong pintu tersebut, yang tak lain adalah sang Oppa. Hyunhee tampak terkejut, tubuhnya merosot dan jatuh terduduk di lantai. Dengan lembut Chanyeol membantu adiknya kembali berdiri. “Ada apa? Kau ada masalah? Cerita saja pada Oppa,” ucap Chanyeol sembari menuntun Hyunhee menuju ayunan yang ada di halaman belakang, mereka naik ke ayunan tersebut dan duduk disana.

Chanyeol masih menunggu adiknya untuk bicara, sesekali dia menepuk-nepuk bahu Hyunhee, bermaksud memberikan ketenangan pada adiknya. “Hyunhee –ya … apa kau juga akan mendiami Oppa? Kalau begitu Oppa minta maaf karena telah menjahilimu.”

“Sebenarnya secara teknis Hyunji bukan penyebab aku dipecat, aku hanya terbawa emosi dan menyalahkannya. Terlepas dari itu, aku juga masih kesal padanya sejak pesta perayaan tempo hari,” ucap Hyunhee mulai bercerita. Chanyeol mendengarkan dengan seksama.

[Flashback]

Wonder Magazine Office.

Wonder Magazine adalah sebuah perusahaan penerbit majalah yang mengulas tentang fashion, setiap artikel yang dimuat selalu menarik minat masyarakat untuk membacanya. Itu menjadi salah satu alasan bagi Hyunhee untuk berkarier disana, selain karena kembarannya. Sebab Hyunji merupakan salah satu model dalam majalah tersebut, dan Hyunhee ingin menulis artikel yang bagus untuk kembarannya dengan bergabung di perusahaan tersebut menjadi tim editor.

Tok … Tok … Tok …

“Permisi ketua tim, aku ingin menyerahkan naskah,” ucap Hyunhee berdiri di pintu ruangan Ketua Tim Editor sembari memeluk beberapa tumpukkan kertas.

Sementara diruangan tersebut bukan saja ada sang Ketua Tim, tapi beberapa orang lainnya. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu yang cukup serius, hingga Hyunhee mulai merasa mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang yang berdiri di seberangnya.

“Hyunhee –ssi, kemari,” ucap Ketua tim. Hyunhee melangkah mendekati meja ketua tim. “Aku baru saja dapat email ini, rencananya akan dibuat sebagai artikel tambahan,” ucapnya lalu menyerahkan hasil print-out dari email.

Hyunhee melihatnya dengan seksama, beberapa saat kemudian manik matanya tampak melebar. ‘Skandal Aktor Zhang Yi Xing dengan Seorang Model’. Sebuah judul artikel bercetak tebal dilanjutkan ulasan artikel dan foto-foto yang memuat Hyunji, sang aktor dan seorang pria yang di kenalnya yang tengah berselisih di sebuah Kafe. Hyunhee mengalihkan pandangannya kembali pada sang Ketua Tim, seolah meminta penjelasan.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Ketua Tim.

“Apakah ini akan diterbitkan?” tanya Hyunhee terdengar lirih.

“Sebab itu kutanya dulu padamu.”

“Kenapa Ketua bertanya padanya? Tentu saja ini harus diterbitkan, itu akan jadi berita eksklusif yang melibatkan aktor besar dan seorang model pendatang baru,” jelas salah seorang staf editor lainnya.

“Bisakah ini tak di terbitkan?” Hyunhee tampak menggigit bibirnya. “Saudaraku bukanlah gadis seperti yang ditulis pada artikel itu, pasti ada kesalah pahaman sehingga mereka berselisih,” jelas Hyunhee. “Ketua Tim, aku mohon padamu. Tolong jangan terbitkan itu,” pinta Hyunhee dengan sangat.

“Ya! Kau itu masih seorang pegawai magang, beraninya!” kali ini Wakil Ketua Tim angkat bicara.

“Ketua Tim, aku mohon padamu,” pinta Hyunhee lagi. Cairan bening nampak diujung pelupuk matanya. “Aku akan terima konsekuensinya, membayar denda atau pemecatan. Apapun, asalkan artikel ini tidak diterbitkan,” Hyunhee mulai memohon dengan berlutut.

“Ya … pecat saja dia, jelas-jelas dia tak punya rasa dedikasi pada pekerjaannya. Mana bisa dia bekerja dengan bertindak subjektif, memangnya ini perusahaan miliknya yang bisa semena-mena dan semaunya,” ucap Wakil Ketua Tim Editor sarkastis.

“Hmmm … sebenarnya artikel ini juga tidak layak, karena tidak sesuai dengan topik pembahasan pada majalah kita. Kalau begitu aku akan bicarakan dulu dengan tim lainnya,” ucap Ketua Tim lalu pergi meninggalkan ruangannya.

Hyunhee berdiri dari posisi berlututnya. “Kamsahamnida, Ketua Tim,” Hyunhee mengucapkan terima kasih berkali-kali sembari menunduk.

[Flashback END]

Chanyeol mengacak-ngacak rambut Hyunhee. “Good girl,” ucapnya memuji adiknya itu. Tapi tanpa disangka Hyunhee malah menangis, Chanyeol menatapnya bingung. “Aigoo … adikku yang cengeng, sudah jangan menangis. Cup… Cup… Cup….” Chanyeol menghapus jejak air mata di pipi Hyunhee. “Gwaenchana,” ucapnya lagi lalu membawa Hyunhee dalam pelukkannya.

Bukan Hyunhee saja yang sedang menangis saat ini, seseorang yang sedari tadi berdiri dibelakang mereka sembari memperhatikan juga ikut menitikkan air matanya.

“Gadis bodoh. Seharusnya kau abaikan saja aku,” ucap orang tersebut yang tak lain adalah Hyunji.

Suara Hyunji memecahkan momen haru yang sedang berlangsung. Seketika Chanyeol dan Hyunhee segera menengok kearah sumber suara, Hyunji melangkahkan kakinya mendekati ayunan yang tengah dinaiki kakak dan saudara kembarnya.

“Aku juga ingin naik,” ucap Hyunji terdengar seperti anak kecil. Dia menyerobot tempat duduk ditengah dan membuat Chanyeol terpaksa turun dari ayunan karena tidak cukup tempat. “Oppa, kau dorong kami. Yang kencang!” titah Hyunji. Chanyeol mendesis, tangannya mengepal hendak menoyor adik kurang ajarnya itu, tapi dia urungkan dan segera mendorong ayunan untuk adiknya.

Hyunji merengkuh tubuh Hyunhee, memangkas jarak diantara mereka. “Hyunhee –ya, aku minta maaf. Kau mau maafkan aku, kan?” Hyunhee tak segera menjawabnya, membuat Hyunji mencoba lebih keras untuk meluluhkan hati saudara kembarnya itu. Hyunji meraih tangan Hyunji dan menggenggamnya. “Hyunhee –ya…,” panggil Hyunji lagi. Sepasang puppy eyes dia perlihatkan, tapi itu justru membuat Hyunhee menoyor kepalanya.

“Kirimkan $5.000 ke rekeningku, baru aku akan memaafkanmu,” ucap Hyunhee terdengar licik dan begitu juga dengan senyumannya saat ini.

“Kau ini mata duitan sekali!” protes Hyunji.

Ya, begitulah kedua saudara kembar itu akhirnya berbaikan. Kini hubungan Hyunji dengan keluarga telah kembali membaik. Akankah hubungannya dengan sang kekasih juga demikian?

[TBC]

Sedikit aku mau sampaikan, terima kasih admin EXO Fanfiction Indonesia yang sudah mau terima FF picisan aku ini :’) Terima kasih juga pada pembaca atas apresiasi kalian, setiap komentar yang kalian tulis itu bagaikan sumber semangat aku dan artinya cerita aku layak untuk di bagi. Saranghaeyo~   :*

Karena sebelumnya aku juga ragu buat post FF, alhasil banyak FF yang cuma ngendap di draft dan itu entah sudah berapa puluh judul FF. Lebay ya? Tapi emang kenyataannya begitu. 😥

Jadi aku sangat mengharapkan dan menantikan setiap kesan/pesan pengalaman kalian setelah membaca FF aku ini. ^^

See you next chapter

#XOXO

39 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 2)”

  1. Huaah aku dibuat nangis oleh tiga bersaudara ini. Apalagi si kembar.
    Kak author, apa aku terlalu cengeng? Atau aku sangat dapet feelnya? Karena tulisannya bagus? Aku rasa iya.
    Jjang kak author. Oh yaa. Aku bakalan jarang komen kak. Kalo udah ada banyak chapter gini. Mianhae~yo

    1. Mungkin hatimu terlalu lembut, Chingu -ya..
      Tapi boleh gak aku senang, udh buat kamu nangis? 😅
      Terima kasih atas pujiannya .. duh! Bibir aku gatel rasanya, mesem Mulu.
      Gak masalah Chingu -ya.. tetap nikmati ceritanya ya 🤗

    1. Hyunji itu orangnya gak mau terlihat lemah, beda sama Hyunhee yg dikit-dikit mewek. 😀
      Sifatnya itu juga ceria, plus ngeselin.. Kkkk~

  2. Bagus banget thor…, aku suka baca ini. Keluarganya terlihat harmonis walau kadang ada masalah yang tercipta.
    Aduh…jadi pengen punya abang kayak ceye.. :’
    I’ll wait for the next~👉
    Fighting Aunthor-nim😊😁😁😁

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s