[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 1)

MY POSSESSIF HUSBAND [Prolog – Chapter 1]

Author    : IFAngel  (Wattpad: @ifangel04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.ka Kai.

Additional cast :

Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother,

Han Raerim as Chanyeol’s wife,

Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant,

Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother,

Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant,

Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

Don’t be silent readers! Please, leave comment after reading.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

This story is mine and my work.

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

……..-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-……..

[PROLOG]

Seorang pria terlihat berjalan dengan langkah gontai ditengah jalan. Beberapa orang di jalan yang melihatnya hanya berspekulasi tentang pria itu, mungkin saja dia sedang mabuk. Pria itu sungguh tak memperhatikan dimana kakinya berpijak, entah sudah berapa mobil yang meng –klakson agar dia segera menyingkir dari tengah jalan. Tapi sepertinya pria itu memang sedang mabuk, dia tak memperhatikan semua suara bising itu.  Dan terlebih lagi tak ada orang yang terlihat hendak menolongnya dari maut, orang-orang hanya berdiam diri menyaksikan aksi gilanya ditengah jalan. Syukurnya Dewi Fortuna masih berpihak padanya.

Sebuah tangan menarik pria itu ke tepi jalan. “AWAS!!” terdengar teriakan yang merupakan suara seorang gadis.

Brukk …

Mereka jatuh terhempas di trotoar, mungkin gadis itu terlalu kuat menarik dan juga kondisi dari pria itu tak cukup siap, akhirnya mereka berdua limbung dan jatuh ke trotoar.

“Kau bosan hidup, eoh?! Mau mati, begitu?!” teriak gadis itu memarahi pada pria tersebut. Pria itu menjawabnya dengan deheman yang terdengar pilu. Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar setelah mendengar jawaban singkat dari pria itu. “Neo ireumi mwoyeyo?”

“Sehun, Oh Sehun,” jawab pria itu.

“Ouch … kau mabuk rupanya,” ucap gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya ketika bau alkohol mulai menyeruak kedalam rongga hidungnya. “Sehun –ssi, aku tak tau apa masalahmu tapi tindakanmu jelas salah. Bukan hanya akan membahayakan dirimu, tapi juga orang lain,” ucap gadis itu dengan nada yang terdengar seperti sedang menasehati anak kecil.

“Mereka berdua mengkhiyanatiku,” rancau Sehun.

Gadis itu tampak mengkerutkan keningnya, membuat ekspresi bingung dari raut wajahnya. “Siapa?” tanya gadis itu penasaran.

Namun pria bernama Oh Sehun itu tak menjawab rasa keingin tahuan gadis itu, merasa tak mendapat respon akhirnya gadis itu menelisik keadaan pria itu. Padahal sebelumnya dia menjauhkan diri dari pria bernama Oh Sehun, karena bau alkohol yang mengganggunya. Gadis itu mendekat kearah Sehun, agar dapat lebih jelas melihatnya. Saat dia melihat raut wajah dari Sehun, gadis itu tampak cemas.

“Sehun –ssi, gwaenchanayo?” tanya gadis itu terdengar panik. Dilihatnya Sehun memegangi salah satu tangannya, refleks gadis itu langsung meraih tangan Sehun. “Apa ini yang sakit?”

Seketika Sehun langsung mendongakkan kepalanya menatap kearah gadis tersebut. “Eoh … kepalamu berdarah.”

Gadis itu langsung memegangi kepalanya dan meraba setiap sudutnya. Benar saja, kini dia melihat ada darah ditangannya. “Gwaenchana, ini tak sakit.” Lalu gadis itu tampak mengeluarkan ponselnya dan mulai menekan tombol 911 yang merupakan panggilan untuk keadaan darurat. Beberapa saat kemudian gadis itu mulai fokus kembali pada Sehun. “Berikan ponselmu, aku akan menelepon wali mu. Karena sepertinya kau perlu dibawa ke rumah sakit, kondisi tanganmu cukup serius,” tutur gadis itu.

Tanpa babibu, Sehun langsung memberikan ponselnya.  Setelah menerima ponselnya, gadis itu langsung mengotak-atik isi ponsel tersebut. Dia membuka daftar riwayat panggilan pada ponsel milik Sehun, terdapat beberapa panggilan terakhir atas nama ‘Xiumin hyung’. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung menelepon nomor dengan ID tersebut.

Sehun masih tampak kesakitan dan berangsur-angsur tingkat kesadaran Sehun mulai menurun hingga akhirnya dia pingsan.

°°°

“Eung …,” lenguh Sehun ketika kesadarannya mulai kembali. “Xiumin hyung? Bagaimana bisa ada kau?” tanya Sehun heran.

“Bodoh! Apa saja yang kau lakukan sampai terluka seperti ini?!” ucap Xiumin setengah berteriak namun masih terdengar kekhawatiran.

“Bagaimana aku bisa di sini Hyung?” tanya Sehun bingung, sepertinya dia tak ingat mengenai kejadian yang baru saja dialaminya. Hingga matanya menangkap hal aneh pada tangan kirinya. “Eoh! Tanganku di gips.” Cukup lama Sehun memandangin tangannya yang dibalut oleh gips, hingga ada sesuatu yang ditangkap oleh pikirannya. “Hyung, dimana gadis itu?”

Xiumin masih bergeming, belum menjawab pertanyaan yang terlontar padanya. “Owh~ gadis yang membawamu kerumah sakit?” Sehun masih menatap Xiumin, menunggu Hyung –nya itu untuk melanjutkan ucapannnya. “Dia sudah pergi. Akh … padahal aku belum mengucapkan terima kasih,” rutuk Xiumin.

“Namanya … siapa namanya?” tanya Sehun lagi.

“Entahlah … aku tak ingat,” jawab Xiumin.

“Aku mau kau menemukannya, Hyung!” titah Sehun.

……..-ooOoo-Story Begin-ooOoo-……..

Matahari telah terbit di ufuk timur, tampak seorang gadis telah rapi dengan setelan formal yang saat ini dia kenakan layaknya seseorang yang hendak melakukan wawancara kerja. Tapi memang itu maksud dari dia berpakaian seperti itu. Hyunhee, panggil saja nama gadis itu begitu. Hari ini dia akan memenuhi panggilan wawancara dari sebuah perusahaan penerbitan majalah terkait berkas lamaran yang dia kirim beberapa waktu lalu untuk menjadi seorang editor dari perusahaan tersebut.

Setelah dirasa penampilannya sudah cukup rapi dan tak lupa dia membenarkan sedikit posisi kacamatanya, Hyunhee beralih dari cermin besar yang tadi digunakan dan menyambat tas selempang sebelum dia meninggalkan kamarnya. Namun saat dia hendak membuka pintu untuk keluar, perhatiannya teralih pada seonggok makhluk yang masih menenggelamkan diri dalam alam mimpi. Hyunhee kembali dan menghampiri ranjang tidurnya.

“Hyunji –ya! Palli ireona!!” teriak Hyunhee sembari menyenggol tubuh makhluk yang dipanggilnya dengan nama Hyunji dengan kakinya. “Ireona! Ireona!” ucap Hyunhee masih berusaha membangunkan Hyunji yang merupakan kembarannya itu, namun kali ini dia mulai kesal. Itu terdengar dari nada bicaranya. Tapi sayangnya Hyunji masih belum bangun juga, bahkan tak ada tanda-tanda gadis itu akan bangun. Akhirnya Hyunhee terpaksa mengambil cara lain, dia berjalan kearah kamar mandi dan kembali dengan gayung berisi air, lalu Hyunhee mulai menyipratkan air kewajah kembarannya itu.

“Yaa! Keumanhae … Hyunhee –ya! Aku  bangun, kau puas?!” ucap Hyunji seraya mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya dari cipratan air.

“Cepat turun, kita sarapan,” ucap Hyunhee masih dengan tangan yang memegang gayung, dia bahkan tampak akan menyiramkan seluruh air itu. Hyunji menjawabnya dengan deheman, lalu dia turun dari tempat tidur. “Nih, bawa juga gayungnya,” ucap Hyunhee menyerahkan gayung tadi pada Hyunji. Dengan membawa serta gayungnya, Hyunji berjalan ke kamar mandi. Namun tak lama kemudian, Hyunji sudah keluar lagi.

Saat ini Hyunhee tengah membereskan salah satu  sisi tempat tidur yang tampak berantakan, tepatnya pada sisi bagian Hyunji.  “Kau tak mandi?” tanya Hyunhee heran.

“Nanti saja, yang pentingkan sudah gosok gigi dan cuci muka. Lagian aku cuman dirumah,” jawab Hyunji sekenanya.

Mendengar jawaban kembarannya itu, Hyunhee hanya mendesah malas. Setelah selesai membereskan tempat tidur, Hyunhee lalu mengekor Hyunji yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan kamar mereka menuju ruang makan yang ada dilantai satu.

Sementara dibawah sudah ada ayah, ibu dengan Chanyeol yang sudah siap dimeja makan. Sang ayah dan kakak laki-laki tertua dari dua gadis kembar itu tampak rapi dengan kemeja yang sudah terpasang dasi.

“Yaa~ lihat. Beauty and the Beast,” celoteh Chanyeol saat melihat saudara kembar tersebut turun beriringan dari tangga. Penampilan mereka sangat kontras.

“Siapa yang kau panggil Beauty and the Beast? Kedua putri Eomma cantik,” sanggah Ny. Park

“Emmm ….” Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan posisi  tangan dilipat di dada. “Tidak untuk yang satunya,” ucap Chanyeol sembari menunjuk kearah Hyunji yang berjalan sambil menguap seperti kudanil dan menggaruk-garuk kepalanya seperti monyet. “Perpaduan yang serasi antara kudanil dan kera,” celetuk Chanyeol mengutarakan apa yang dia deskripsikan tentang kelakuan Hyunji dalam pikirannya tadi.

“Terserah kau mau mengataiku apa, yang penting beberapa bulan depan aku sudah menikah,” ucap Hyunji lalu menjulurkan lidahnya pada sang Oppa. “Timbang Hyunhee, masih digantung,”sambungnya lagi sembari menarik kursi untuk duduk.

“Ya! Kenapa aku dibawa-bawa dalam perdebatan kalian? Dan aku tidak digantung oleh Jongin Oppa,” balas Hyunhee tak terima. “Memangnya dirimu, baru kenal beberapa bulan langsung minta menikah. Seperti sudah kebelet saja.”

“Memangnya kau, sudah menjalin hubungan bertahun-tahun terus digantung dan belum lagi ditinggal pergi keluar negeri. Apa kau tak takut kalau dia disana kepincut sama bule?” Kini giliran Hyunji yang membalas ucapan Hyunhee.

“Dengar, ya … kalau aku mau, aku bisa langsung memintanya menikahiku. Tapi kan kau tahu, aku ingin mengembangkan karir ku dulu. Dan kau tidak perlu khawatir tentang Jongin Oppa akan meninggalkanku lalu pergi dengan bule, aku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Bukan dalam hitungan bulan,” ucap Hyunhee dengan nada menyombong dan terselip ejekan diakhirnya.

“Ck! Klise. Kan masih bisa berkarir setelah menikah, tapi itu tergantung bagaimana suamimu nanti. Kalau Sehun Oppa, dia mengijinkanku.” Hyunji ikut berlaga menyombongkan diri.

“Bagaimana kalau kebablasan dan hamil, lalu punya anak. Pikirkan, kuliahmu saja belum selesai.”

Mendengar bait terakhir yang Hyunhee ucapkan, itu seperti kekalahan telak bagi Hyunji dan seketika dia membungkam. Namun setelah itu disusul suara tawa membahana dari Chanyeol.

Oppa, kau pun sama. Raerim eonnie meninggalkanmu dan sibuk bekerja, bagaimana jika dia kepincut bule?” ucap Hyunji kini menunjuk pada Chanyeol.

Ya, memang benar jika Chanyeol juga sering ditinggal bekerja oleh istrinya. Tapi itu sudah resikonya karena menikahi seorang pramugari.

“Setidaknya aku sudah mengenal Raerim bertahun-tahun, bukan dalam beberapa bulan,” ucap Chanyeol mengikuti ucapan Hyunhee sebelumnya. Dan setelah itu pasangan kakak beradik tersebut saling ber –tos ria. Dan sekali lagi Hyunji merasa diasingkan.

“Memangnya kau dapat memastikan, kalau nantinya kau tidak ditinggal oleh suamimu?” tanya Hyunhee menggoda kembarannya.

Hyunji berpikir sejenak, mungkin yang dikatakan kembarannya itu ada benarnya. Dia belum dapat memastikan hal tersebut, pasalnya Sehun adalah seorang pemimpin dari perusahaan yang cukup besar dan bukan tak mungkin jika juga harus ditinggal untuk urusan bisnis. Terlebih lagi dirinya memang belum lama mengenal sosok calon suaminya itu, dia baru bertemu dalam beberapa bulan belakangan ini dan pria itu langsung melamarnya. Jadi Hyunji belum dapat memastikan watak calon suaminya itu.

“Boleh kami merayakannya lagi?” tanya Chanyeol pada Hyunji dengan maksud mengejeknya. Hyunji hanya diam. “Hyunhee –ya, hi five!” seru Chanyeol. Hyunhee menyambut tangan sang Oppa.

○○○

Hyunhee beberapa belas menit yang lalu telah berangkat untuk melakukan sesi wawancara, sementara Chanyeol sedang menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya untuk rapat hari ini. Dia sedikit kerepotan, karena biasanya kalau ada Raerim maka dialah yang akan menyiapkan  semua keperluannya dan dia hanya tinggal menyuruh istrinya saja.

Tiba-tiba Hyunji muncul dikamar Chanyeol, namun dia masih segan untuk masuk jadi Hyunji hanya menyembulkan kepalanya dibalik pintu.

Chanyeol yang merasakan kehadirannya, langsung bertanya. “Kenapa?”

Oppa, kau kelihatannya sibuk. Barang kali ada yang bisa kubantu?” ucap Hyunji. Namun sebenarnya dia hanya berbasa-basi.

“Katakan saja apa tujuanmu, tak usah berlagak basa-basi,” ucap Chanyeol seakan tau perangai Hyunji. “Memangnya kau mengerti semua berkas ini? Menyentuhnya saja kau tak pernah, yang ada kau akan menyusahkanku. Lebih baik aku mengerjakannya sendiri atau minta tolong pada Hyunhee, jika dia ada.”

Oppa sepertinya mengenalku dengan baik.” Hyunji tertawa kecil. “Boleh aku ikut ke kantor?” tanya Hyunji dengan nada memohon. Maksudnya dia ingin menumpang angkutan.

“Bukankah kau tak ada jadwal pemotretan hari ini?”

“Memang, tapi aku bosan hanya dirumah.”

“Baiklah. Cepat bersiap-siap, setelah aku selesai menyusun berkas-berkas ini kita akan berangkat,” titah Chanyeol.

“Oke,” jawab Hyunji singkat lalu langsung melesat keluar kamar Oppa –nya. Namun beberapa saat dia kembali. “Emmm … kau yakin tak ada  yang perlu kubantu?” tanya Hyunji sekali lagi.

“Mungkin kau bisa nyalakan mesin mobilnya,” jawab Chanyeol.

“Siap BOS!” ucap Hyunji seraya meletakan telapak tangannya dikepala, seperti seorang tentara memberi hormat pada atasannya.

Kalau soal mobil, Hyunji lebih paham baik ketimbang Hyunhee. Karena terakhir kali Hyunhee mulai mengendarai mobil dan setelah itu mobilnya langsung masuk bengkel.

……..-ooOoo- IFA -ooOoo-……..

Hari sudah beranjak senja, Ny. Park sedang menunggu ketiga anaknya pulang. Namun tak perlu waktu lama, kini mereka telah datang.

Eomma …,” ucap ketiga anak dari keluarga Park tersebut memanggil ibunya ketika membuka pintu dan mendapati ibunya sudah setia menunggu. Mereka berhamburan kepelukan ibunya.

“Kok kalian bisa pulang bersama?” tanya Ny. Park.

“Tadi kami janjian,” jawab Hyunhee.

“Kami juga belanja,” ucap Hyunji sembari mengangkat tas belanjaannya untuk menunjukannya pada sang ibu.

OMO!! Banyak sekali, apa saja yang kalian beli?” tanya Ny. Park kaget saat melihat begitu banyak bawaan yang dibawa ketiga anaknya itu.

Cake,” jawab Hyunhee.

Make up, baju dan sepatu,” jawab Hyunji.

“Ayam dan soju,” jawab Chanyeol.

“Apa ada pesta?” tanya Ny. Park heran dengan begitu banyak barang yang dibeli anak-anaknya.

“Begitulah. Eomma tau?! Hari ini aku dapat kontrak pemotretan dengan aktor Zhang Yi Xing. Dan Hyunhee, dia diterima sebagai sebagai editor,” jelas Hyunji.

“Aku lebih suka dengan Xi Luhan,” sela Hyunhee.

“Ya! Lihat saja nanti, aku juga akan melakukan pemotretan dengan Xi Luhan,” balas Hyunji. “Dan aku akan pamer kemesraan dengannya,” sambung Hyunji lagi.

“Ya! Jangan menggodaku. Awas saja kau genit-genit dengannya!” ucap Hyunhee memperingatkan.

“Sudah kalian jangan berdebat, bukankah seharusnya kita mulai pestanya?”  sela Chanyeol.

“Akh … geurae, aku juga lapar. Ayo kita makan!” seru Hyunji.

“Tapi Eomma, Appa dimana?” tanya Hyunhee saat menyadari ketidak hadiran sang ayah.

“Tadi setelah menerima telepon, Appa pergi,” jawab Ny. Park.

“Kira-kira kapan Appa akan pulang? Sayang sekali kalau kita merayakan pesta ini, tapi Appa tidak ikut bergabung,” ucap Hyunhee lesu.

“Baiklah, Eomma akan menelepon Appa kalau begitu.”

“Biar aku saja Eomma yang telepon Appa. Tapi Eomma buatkan nasi goreng kimchi, ekstra telur mata sapi,” ucap Hyunji meraih tangan sang ibu yang hendak memegang gagang telepon.

Eomma … apa ada susu, stroberi dan es krim? Aku mau buat Milkshake,” teriak Hyunhee dari dapur.

“Cari saja di kulkas,” jawab Ny. Park.

°°°

Tak butuh waktu lama untuk menyiapkan semua makanan diatas meja, kini hidangan sudah tertata rapi dan siap dinikmati. Kali ini mereka hanya tinggal menunggu kedatangan sang ayah.

“Kau akan minum Milkshake? Mana cocok dengan pesta ini, Soju yang terbaik,” ucap Hyunji sembari menunjuk gelas berisi Milkshake yang terletak tak jauh dari Hyunhee.

“Aku tidak kuat minum sepertimu, lagi pula susu lebih baik,” jawab Hyunhee.

“Benar itu, seharusnya kau juga minum susu agar otakmu ada nutrisi untuk menyelesaikan kuliah dengan segera,” sela Chanyeol sembari mengetukkan sendok kekepala Hyunji.

“Kalau begitu Oppa saja yang minum susu dan jangan coba-coba untuk menyentuh Soju, karena aku tak akan memberikannya,” protes Hyunji mengambil semua botol soju ke dalam dekapannya.

“Kenapa aku tak boleh? Aku sudah lulus kuliah,” ucap Chanyeol lalu menjulurkan lidahnya untuk mengejek adik perempuannya itu.

“Hyunji, berikan piringmu padaku,” titah Hyunhee. Lalu Hyunhee menaruh telur mata sapi yang telah dia pisahkan bagian kuningnya ke piring Hyunji. Kini giliran telur mata sapi di piring Hyunji, dia memperlakukannya sama. Hanya saja menyisakan putih telurnya dan kuning telurnya dia taruh di piringnya.

Chanyeol yang melihat aksi saudara kembar itu memprotes tindakan mereka. “Kalian ini suka sekali pilih-pilih makanan, makan saja yang ada dipiring kalian.”

Oppa, inikan bukan pertama kalinya kau melihat kami bertukar makanan. Kenapa masih saja di protes?” ucap Hyunji.

Kedua saudara kembar itu memang memiliki keunikan masing-masing, salah satunya selera yang berbeda soal makanan. Hyunji menyukai putih telur dan Hyunhee menyukai kuning telur. Tapi jika dibuatkan telur dadar mereka tak akan sungkan memakannya. Pertanyaannya, bagaimana cara memisahkan putih dan kuning telur pada telur dadar?

°°°

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, sang ayah tercinta sudah pulang. Kedua saudara kembar itu langsung berhambur kepelukan ayah mereka dan menarik sang ayah menuju meja makan.

Appa, ayo kita makan. Aku sudah lapar,” ucap Hyunji dengan nada manja.

Suasana makan di keluarga Park terasa hangat, terjadi perbincangan ringan di keluarga ini. Bahkan terdengar suara canda dan tawa diantara mereka.

“Mari kita mulai pestanya,” ucap Hyunji semangat. Lalu dia meletakan Soju, cake dan ayam diatas meja.

“Hyunji –ya, habiskan dulu makananmu,” ucap Ny. Park.

“Biar Hyunhee yang habiskan,” jawab Hyunji sekenanya.

“Ye?!” Hyunhee tersentak atas ucapan kembarannya barusan. “Kau pikir aku ini tempat sampah? Seenaknya saja mengalihkan makanan sisa padaku!” ucap Hyunhee kesal.

“Ayolah~ Hyunhee –ya, kau tau kan …,”

Sebelum Hyunji menyelesaikan ucapannya, Hyunhee telah mengintrupsinya. “Kau itu model karena itu harus menjaga pola makan, begitu maksudmu?” ucap Hyunhee penuh penekanan.

“Itu kau tau, kembaranku sayang,” ucap Hyunji sembari mengelus lembut bagian bawah dagu Hyunhee.

Hyunji tak berhenti bertingkah sampai disitu, dia melucuti kue dari krim –nya dan ayam dari kulitnya lalu menaruhnya kembali di piring Hyunhee.

“Ya! Hyunji –ya, Keumanhae!!” teriak Hyunhee kesal. Lalu dia meranjak meninggalkan meja makan dan naik kekamarnya yang ada dilantai dua.

“Ck! Hyunji –ya, kau membuatnya marah lagi. Cepatlah minta maaf padanya, kalau tidak mau terjadi perang dingin diantara kalian,” ucap Chanyeol memberi saran.

“Nanti saja Oppa, aku tak ingin melewatkan ini,” ucap Hyunji sembari menuang Soju ke gelasnya.

“Terserah kau sajalah,” ucap Chanyeol seakan pasrah untuk meladeni adiknya itu.

-oOo- IFA -oOo-

Perkataan Chanyeol terbukti benar, ini sudah beberapa hari Hyunhee mendiami Hyunji. Dan hasilnya Hyunji sendiri yang mengalami imbasnya, dia tak dapat berkutat tanpa Hyunhee. Pasalnya Hyunhee lah yang selalu menolongnya dalam setiap aktivitasnya mulai dari bangun sampai tidur. Bahkan hari ini dia kesiangan untuk berangkat kerja, padahal ini adalah hari besarnya. Ya, pemotretan Hyunji dengan Aktor Kim Woobin.

Hyunji menuruni tangga dari lantai dua menuju dapur untuk sarapan. Sepi, dia sarapan sendiri pagi ini karena sebagian besar keluarganya sudah pergi melakukan aktivitas masing-masing. Hyunji mengambil susu, roti dan selai.

“Mau dibuatkan telur goreng, Hyunji agasshi?” tanya seorang wanita paruh baya yang merupakan bibi pembantu di kediaman keluarga Park.

“Tidak, terima kasih Ahjumma,” tolak Hyunji sembari mengoleskan selai pada roti.

“Telur pun kena imbas pertengkaran kalian, Agasshi. Tidak ada yang memakan telur-telur itu selama beberapa hari,” keluh Shin ahjumma lalu pergi.

Hyunji menghela nafas panjang, sepertinya dia harus segera berbaikan dengan kembarannya itu. Tapi tidak mudah jika itu dengan Hyunhee, terlebih lagi dirinya sendiri juga ber –ego besar. Hyunji mengakhiri sarapannya dan bergegas pergi dengan mobilnya menuju lokasi pemotretan.

Tak butuh waktu lama bagi Hyunji untuk menyelesaikan sesi pemotretan, dia sudah expert di bidang itu. Dan sekarang adalah waktunya beristirahat, Hyunji berjalan keluar gedung tempatnya melakukan pemotretan tadi dan menuju sebuah cafe. Sesampainya disana dia mulai memesan.

“Satu Ice Vanilla Latte dan cake low fat,” ucap Hyunji ketika berdiri didepan meja kasir untuk memesan.

“Tambahkan satu Espresso,” ucap seorang pria yang suaranya terdengar dari belakang punggung Hyunji.

Hyunji berbalik untuk melihat orang yang ada dibelakangnya, ekspresi wajahnya menunjukkan betapa terkejutnya dia. “Yi Xing –ssi!” seru Hyunji.

Annyeong Hyunji –ssi. Sedang istirahat makan siang? Bagaimana kalau kita makan bersama,” tawar pria bernama lengkap Zhang Yi Xing itu.

Hyunji mengiyakan ajakan rekan kerjanya itu dan mereka saat ini mulai mengobrol. Pembicaraan mereka tampak menyenangkan, sesekali terdengar tawa baik Hyunji maupun Yixing. Orang yang melihat mereka mungkin akan mengira jika mereka itu akrab satu sama lain atau sebagai sepasang kekasih. Namun disela-sela pembicaraan mereka ada seorang pria yang tengah memperhatikan mereka dari balik kaca cafe yang transparan itu, menatap dengan intens disertai kilatan kemarahan. Lalu pria tersebut segera masuk kedalam cafe dengan tergesa-gesa dan menghampiri meja dua orang yang sedang asik mengobrol itu.

“Ikut denganku,” titah pria tersebut sembari menarik lengan Hyunji. Gadis itu tampak kaget saat lengannya ditarik tiba-tiba, begitu juga dengan Yixing yang menjadi teman bicara Hyunji saat itu.

Yixing menahan tangan pria itu. “Siapa kau? Tidakkah kau lihat, kami sedang bicara?” ucap Yixing dengan nada suara yang cukup tinggi hingga membuat mereka menjadi perhatian pengunjung kafe tersebut.

“Bukan urusanmu!” balas pria itu menepis kasar tangan Yixing dari tangannya dan pergi dengan masih menarik tangan Hyunji.

Yixing bangun dari kursinya dan menghalangi jalan pria yang hendak membawa Hyunji pergi. “Tuan … kalau kau tak tahu sopan santun, setidaknya jangan kasar pada wanita!”

Gwaenchana, Yixing –ssi. Aku kenal dengannya,” ucap Hyunji.

“Kau yakin?” tanya Yixing memastikan.

Hyunji mengangguk pelan.

Karena Yixing tak kunjung bergerak dari tempatnya, akhirnya pria itu mendorongnya. “Minggir.”

Yixing hanya berdecak kesal.

°°°

Saat ini Hyunji tengah berada di dalam mobil bersama dengan pria yang menyeretnya tadi. Tercipta atmosfer mencekam di dalam mobil, mereka saling membisu dan itu adalah suasana yang paling Hyunji benci. Berlama-lama hanya diam sembari memperhatikan jalan dari balik kaca mobil membuat Hyunji bosan, tapi dia juga gengsi untuk memulai pembicaraan. “Oppa, tidakkah kau berpikir kalau yang kau lakukan tadi salah?” Hyunji membuang ego –nya, dia tak ingin berakhir menjadi perang dingin seperti halnya dengan dia dan kembarannya. Tapi lawan bicaranya ini benar-benar membuatnya naik pitan sama seperti kembarannya, Hyunji diabaikan. Karena kesal, akhirnya Hyunji menarik kemudi ke sisi jalan dan membuat pria itu menge –rem mobil mendadak agar tak menabrak pembatas jalan.

“Apa yang kau lakukan?! Kita bisa saja celaka!” teriak pria itu.

“Aku sungguh tak tahan dengan sikap Oppa tadi, dia itu rekan kerjaku!” balas Hyunji tak mau kalah.

“Bukankah sudah kuperingatkan padamu, aku tak suka kau dekat dengan pria lain!”

“Memangnya kau siapa, melarangku?!” ucap Hyunji.

“Aku ini atasanmu. Jika bukan karena persetujuanku, kau tidak akan mendapat projek pemotretan dengan pria itu.”

“Atasan? Oke, kalau begitu aku berhenti dari pekerjaanku,” ucap Hyunji sekenanya.

“Aku ini calon suamimu! Haruskan kuingatkan itu?!” ucap pria itu lagi. Dia sungguh tak menyangka akan mengucapkan hal tersebut pada gadis itu.

“Tuan Oh Sehun, kau itu baru calon suamiku bukan suamiku.” Ucap Hyunji terdengar datar namun terasa menyakitkan bagi pria bernama Sehun itu. “Kau tau apa artinya? Artinya aku bisa saja membatalkan pernikahan.”

Tidak. Dia tak bisa kehilangan sosok wanita yang dia cintai lagi, kali ini.’ pikir Sehun. “Tidak! Aku tegaskan padamu, kau tak akan bisa pergi dariku barang sedikitpun,” ancam Sehun.

“Terserah! Tapi aku sudah muak padamu.” Hyunji sudah kehabisan kesabaran untuk meladeni pria yang akan menjadi calon suaminya itu. Sebelum pertengkaran mereka menjadi lebih rumit lagi, Hyunji memilih meninggalkannya. Dia keluar dari mobil dan segera men –stop taksi.

Saat Hyunji hendak masuk ke dalam taksi, namun Sehun mencegahnya dengan menarik tangan Hyunji.

“Hyunji –ya, jebal. Dengarkan aku dulu. Aku salah, aku minta maaf padamu.” Sehun menggenggam tangan Hyunji.

“Maaf? Lebih baik kau simpan maafmu untuk Yixing,” balas Hyunji.

“Baiklah, aku akan minta maaf padanya. Tapi kita bicara dan luruskan ini dahulu,” ucap Sehun memohon, kini nada suaranya terdengar melembut.

“Lepaskan tanganku!” Hyunji menepis dangan Sehun kasar. “Kau dengar ya, setelah ini aku tak ada niat melanjutkan hubungan denganmu. Cukup kau tau saja, aku sudah tak tahan dengan sifatmu itu. Awalnya kupikir kau bersikap seperti itu lantaran menjagaku, tapi kau semakin berlebihan dan menggangguku. Jadi mari kita akhiri ini dan tidak saling bertemu satu sama lain,” Hyunji menyelesaikan ucapannya dalam satu tarikan nafas dan setelah itu masuk ke dalam mobil taksi.

Sehun hanya dapat memandangi kepergian Hyunji, dia tak berniat untuk mengejar gadis itu karena menurutnya tak akan berhasil, mereka sama-sama sedang dalam keadaan emosi. Jadi Sehun berpikir untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu dan selanjutnya dia akan memikirkan cara terlebih dahulu untuk dapat berbaikan dengan gadis itu. Meskipun dia tak yakin, karena dia tahu dirinya adalah orang yang keras kepala.

○○○

Taksi yang ditumpangi Hyunji berhenti di depan kediamannya. Setelah membayar argo taksi, Hyunji masuk kerumahnya dan segera naik kelantai dua menuju kamarnya. Rumahnya saat ini tampak sepi, karena ini masih cukup siang untuk pulang kerumah bagi mereka yang bekerja. Tapi itu tak masalah bagi Hyunji untuk sendirian dirumah, justru itu menguntungkannya. Dia saat ini benar-benar butuh waktu sendiri, terutama untuk menyembunyikan masalah dan juga matanya yang bengkak karena menangis.

Sepanjang hari dia habiskan di dalam kamar, sembari mengompres matanya. Sesekali dia mengecek ponselnya, menunggu sesuatu yang dianggapnya mustahil. Panggilan atau mungkin pesan dari orang yang menyebut dirinya calon suami, tak lain adalah Oh Sehun. Tapi nihil, bahkan hingga hari beranjak sore tak ada tanda-tanda dari ponsel berbunyi. Hingga akhirnya Hyunji tertidur disaat masa penantiannya.

Kring … Kring…  

Itu ponsel milik Hyunji yang berdering, Hyunji bergejolak kaget saat mendengar dering ponselnya. Tanpa melihat nama penelepon, Hyunji segera mengangkat panggilannya.

“Ya, Oppa,” ucap Hyunji.

Ini Eomma,” ucap orang yang merupakan lawan bicaranya ditelepon.

Hyunji menjauhkan teleponnya dari telinga dan melihat layar ponselnya untuk memastikan nama sang penelepon. Benar saja, itu ibunya yang menelepon. “Eoh … Kenapa Eomma?”

Kapan kau pulang?” tanya sang ibu.

“Aku sudah pulang, Eomma.”

Ye?! Kapan kau pulang?”

“Sejak tadi siang.”

Tumben sekali kau pulang cepat. Ada apa ini? Putri Eomma yang biasa pulang malam, ternyata saat ini ada dirumah. Tapi putri yang selalu pulang sebelum senja, belum pulang juga,” ucap Ny. Park terdengar heran dengan perubahan antara kedua putrinya itu. “Sudah, cepat kau turun. Kita akan makan malam,” ucap Ny. Park lalu memutuskan panggilannya.

Hyunji menuruti permintaan sang Ibu untuk makan malam bersama, namun sebelum itu dia membasuh mukanya dahulu. Meskipun sebenarnya dia enggan untuk bertemu orang saat ini, tapi rasa lapar mengalahkannya.

°°°

“Siapa ini yang kulihat sekarang?” ucap Chanyeol aneh melihat adiknya yang satu ini. “Kau dipecat, eoh?” tanya Chanyeol sekenanya.

“Ya,” jawab Hyunji datar.

Respon yang diberikan Hyunji benar-benar diluar dugaannya dan membuat Chanyeol tercengang. Tapi dia menyembunyikan ekspresi kagetnya. “Apa kalian bertengkar sampai kau dipecat?”tanya Chanyeol lagi. Namun kali ini dia mulai terbawa suasana dan di rundung rasa penasaran.

“Ya.” Hyunji menjawab masih dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. “Tapi bukan aku yang dipecatnya, melainkan aku yang memecatnya,” ucap Hyunji kali ini terdengar sinis disertai dengan dengusan kesal.

Tuk …

Chanyeol mengetukkan sendoknya kekepala Hyunji, gadis itu hanya dapat meringis kesakitan sembari mengusap kepalanya.

“Itu artinya kau yang bodoh!” teriak Chanyeol mengatai adiknya itu. “Biar kutebak, yang membuat masalah pasti kau?”

“Enak saja! Dia yang mulai duluan,” sanggah Hyunji cepat. “Saat aku tengah mengobrol dengan rekan kerjaku, dia langsung menarikku dan membuat keributan,” jelas Hyunji.

“Aku yakin, jika bukan karena kau yang berulah pasti Sehun tak akan marah. Karena dari yang kulihat, Sehun bukan orang yang seperti itu,” ucap Chanyeol.

“Memangnya sudah seberapa jauh Oppa kenal dia? Apa lebih lama dariku?” Hyunji mulai emosi.

“Tak penting sudah sejauh apa aku kenal Sehun, intinya kau harus minta maaf padanya. Kau itu sebentar lagi akan menikah dan menjadi istrinya,” ucap Chanyeol tegas.

“Siapa yang mau menikah dan menjadi istrinya? Aku?” ucap Hyunji sembari menunjuk dirinya. “Lebih baik aku mati saja!” ucap Hyunji sarkastis.

Chanyeol bangun dari duduknya dan menggebrak meja makan saat mendengar perkataan Hyunji yang menurutnya tidak pantas. Namun dibanding Chanyeol yang hanya menggebrak meja, apa yang sang ibu lakukan lebih membuat anggota keluarga yang lain terkejut.

Plak

Sebuah tamparan mendarat di pipi Hyunji, bukan saja Hyunji yang kaget mendapat tamparan dari ibunya. Chanyeol dan sang ayah yang saat itu berada diruang makan juga sama kagetnya. Tak menyangka, jika ibunya yang selama ini lembut, penuh kasih sayang dan penyabar dapat melakukan itu pada putrinya.

“Tidakkah kau berpikir dahulu sebelum membuka mulutmu itu?! Eomma sudah menamparmu, jadi sekarang kau tidak mau menjadi putri Eomma dan mati saja, begitu?!” nada suara Ny. Park meninggi, namun syarat akan kepedihan.

Hyunji mematung setelah mendapat tamparan secara fisik dan batin. Tn. Park sebagai kepala keluarga dan suami mencoba menenangkan sang istri. “Hyunji –ya, kau naiklah kekamarmu sekarang dan renungkan kesalahanmu,” ucap sang ayah.

Hyunji menuruti perkataan ayahnya dan meninggalkan ruang makan untuk naik kelantai dua menuju kamarnya. Akh … bahkan Hyunji pergi sebelum sempat makan malam.

11.00 PM

Hanya satu jam lagi sebelum waktu menunjukkan pukul tengah malam. Seorang wanita paruh baya sedang berdiri diambang pintu dengan raut wajah cemas, hingga seorang pria muda datang menghampirinya.

Eomma, masuklah. Biar aku saja yang menunggu Hyunhee,” ucap Chanyeol.

Eomma sangat cemas, Chanyeol –ah. Tak biasanya anak itu pulang hingga selarut ini. Bahkan ponselnya tidak aktif saat Eomma meneleponnya,” ucap Ny. Park.

Baik Chanyeol maupun sang Eomma masih menunggu di depan rumah, hingga ada taksi yang berhenti di depan gerbang rumah. Mereka menghampirinya, seorang gadis turun dari pintu penumpang dengan linglung, dengan sigap Chanyeol menangkap tubuh gadis itu.

“OMO!! Hyunhee –ya, kau kenapa?” ucap Ny. Park histris melihat keadaan putrinya yang tampak setengah sadar itu. “Chanyeol –ah, cepat bawa adikmu masuk ke dalam,” titah Ny. Park.

Chanyeol menuruti perkataan sang Ibu, dia segera membopong Hyunhee di punggunggnya. Tak lupa Ny. Park membayar argo taksi yang ditumpangi putrinya barusan.

°°°

Hyunhee dibawa kekamarnya oleh Chanyeol, lalu membaringkan di ranjang dan membuat seseorang yang tengah tidur diranjang tersebut ikut bergejolak karena terkejut, yang tak lain adalah Hyunji.

“Akh!! Bau apa ini?” keluh Hyunji, dia membuka matanya untuk melihat keadaan.

“Kau urus dia,” titah Chanyeol pada Hyunji.

Ketika Hyunji melihat kearah yang ditunjukkan oleh Oppa –nya, ada Hyunhee tengah terkapar disebelahnya. “Ya! Berapa banyak yang kau minum sampai mabuk begini?” ucap Hyunji heboh. “Kau kan tidak kuat minum, bodoh!” Hyunji mengacak-ngacak rambutnya frustrasi.

[TBC]

Bagaimanakah kelanjutan hubungan Hyunji baik dengan keluarganya ataupun dengan calon suaminya (Sehun)?

See you next chapter :***

Visit my account to read another fanfictions:

Wattpad: @ifangel04

Meskipun belom banyak yang aku post disana, karena akun baru dan masih gaptek buat mengoprasikannya 😛

42 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 1)”

  1. Pertanyaannya? Bagaimana cara memisahkan putih dan kuning telur pada telur dadar? : Aku juga bingung thor😂😂
    Btw,ceritanyaa kerenn bingitzz♡ditunggu next chapternya💐fighting!

    1. ya, aku usahakan update teratur. soalnya sudah mulai kembali berutintas.. *(gak ada yg nanya)
      Istrinya yeol gak pulang karena lupa daratan, kebanyakan terbang.. kkkk~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s