Maliciously Missing — Len K [Chapter 05]

 

Maliciously missing

(.n)people who, for whatever reason, decide they simply don’t want to be found

Ponsel Minrin berhasil ditemukan dan Junmyeon menghubungi kenalannya, Daniel Im, untuk membantunya membuka ponsel Minrin yang terkunci. Apa yang akan Junmyeon temukan?

MALICIOUSLY MISSING

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied; I own the plot. This is a work of fiction. Names, characters, businesses, places, events, and incidents are either the product of the author’s imagination or used in fictitious manner. Any resemblance to real persons, living or dead, is unintentional and purely coincidental. No profit taken from this work

 

Starring: Kim Junmyeon – Suho EXO, Choi Minrin (OC), Oh Sehun EXO, etc | Rate: T | Genre: Drama, Mystery

Special thanks to Kak IRISH for the poster and Kak Liana  for being my beta

WARNING!!

Non-canon!AU, possibly OOC, typo(s). Setting take place in Indiana, USA. Rate may changes. Additional casts to be added. I did the research related to missing person’s cases and Indiana state itself, and other things in this fiction, but still, I’m sorry if you find some inaccuracy. A little bit of mature content for this chapter

 

 

 


 

 

“Aku Junmyeon, Kim Junmyeon.” Tangan pria itu terulur. Senyumnya kembali muncul dan saat itu rasanya otak Minrin mengalami korsleting.

                “Minrin, Choi Minrin.” Minrin membalas uluran tangan pria ituJunmyeon. “Kau orang Korea?”

Perkenalan mereka dimulai dengan sederhana. Saling mencuri pandang pada satu sama lain sebelum akhirnya mereka bertemu di pantry Woodland Bowling Center saat memesan makanan dan memulai konversasi sembari menunggu pesanan. Sedikit menjadi rumit karena sebelumnya keduanya tidak punya cukup keberanian untuk mengambil langkah pertama. Beruntung, mereka mempunyai kawan-kawan yang suportif. Jika tidak, mungkin mereka tidak akan menjadi sepasang kekasih.

Dalam konversasi singkat yang sejatinya mereka lama-lamakan, mereka bertukar nomor ponsel. Senyum sumringah mengembang di bibir mereka meski sekembalinya ke kelompok masing-masing, mereka diomeli habis-habisan karena memesan terlalu lama. Apa mereka peduli? Tentu tidak. Euforia yang mereka rasakan mengalahkan segalanya layaknya murid SMA yang kasmaran.

Percakapan mereka selanjutnya yang terjadi melalui bantuan gawai tidak begitu intens. Minrin sibuk dengan restorannya dan Junmyeon sibuk dengan pasiennya. Mereka sama-sama memiliki jam kerja yang padat dan sibuk, tapi ketika ada kesempatan untuk membalas pesan atau sekedar lima menit bertelepon, keduanya memanfaatkan hal itu dengan baik.

Pertemuan berikutnya terjadi pada minggu selanjutnya di tempat boling yang sama. Jika sebelumnya mereka datang bersama teman-teman mereka, kini hanya ada mereka berdua. Bergiliran melempar bola dan mencetak angka seraya menikmati makanan yang mereka pesan, juga sekaligus berusaha lebih mengenal satu sama lain. Mereka bertahan dengan kencan tiap akhir pekan di Woodland Bowling Center selama kurang lebih tiga minggu. Di minggu keempat, Junmyeon memberanikan diri untuk menyuarakan hal yang menganggu pikirannya selama ini, di sela-sela waktu istirahatnya melalui panggilan telepon.

Bagaimana dengan menonton film denganku akhir pekan besok?

Junmyeon menunggu jawaban dari Minrin dengan hati yang berdebar kencang. Diamnya Minrin tidak membantunya tenang.

“Tentu. Jam berapa?” Senyum Minrin menulari Junmyeon walau keduanya tidak bertatap muka secara langsung.

Kepanikan baru menjalari Minrin ketika telepon sudah ditutup oleh Junmyeon dan janji telah dibuat. Sang dokter terpaksa mengakhiri teleponnya dikarenakan ada panggilan mendadak, menyisakan Minrin yang berkelut dengan paniknya. Jadwalnya begitu padat untuk akhir pekan besok; kenapa hal itu tidak terpikirkan olehnya? Head chef itu hanya bisa mengutuki sisi irasionalnya yang terlalu senang karena kencan mereka tidak lagi sekedar makan dan bermain boling. Dasar, oksitosin dan dopamin sialan.

Di tengah kepanikannya, Minrin teringat akan sesuatu. Seringainya mengembang, semakin lebar seiring ia keluar dari ruangannya dan berjalan menghampiri Sehun yang tengah mendiskusikan sesuatu dengan garde manger mereka, Luna Hernandez, di salah satu sudut dapur. Baik alis Sehun maupun Luna sama-sama terangkat. Seringai Minrin menyalakan alarm mereka.

“Apa?” tanya Sehun, terdengar penuh antisipasi.

“Kau masih ingat tiga permintaan yang kudapat jika aku berhasil memperoleh nomor ponsel Junmyeon?”

Tentu, mana mungkin Sehun bisa lupa! Satu dari tiga permintaan itu sukses membuat kantongnya dan yang lain mengering karena Minrin meminta mereka untuk membiayai bensin sang head chef selama sebulan. Setidaknya aku tidak meminta cuti selama sebulan atau liburan ke Alaska. Itu yang diucapkan Minrin saat semua kawannya mengerang kesal.

Sekarang tinggal tersisa dua permintaan lagi. Seringai yang betah menempel di bibir Minrin memberi Sehun dan Luna perasaan tidak enak. Pikiran keduanya segera menerka-nerka, kira-kira permintaan macam apa yang akan diminta oleh head chef mereka itu? Keringat dingin mulai muncul di tengkuk Sehun.

“Ya, tentu aku masih ingat,” jawab Sehun yang tiba-tiba tercekat.

“Aku ingin menggunakan satu permintaan!”

Benar kan, tebakan Sehun?

“Oke, katakan saja.” Luna mengambil alih. Dia juga bagian dari kesepakatan konyol ini dan penyesalannya sekarang semakin bertambah.

“Aku akan pulang awal, benar-benar awal, di akhir pekan besok,” kata Minrin.

Kontan saja Sehun dan Luna menggerutu keras. Sehun yang paling keras hingga chef-chef yang lain melihat ke arah mereka ingin tahu. Absennya Minrin berarti semua tanggung jawab dapur jatuh ke tangannya. Jika saja Minrin tidak meminta akhir pekan besok dan cukup mendadak seperti ini, kemungkinan besar Sehun akan menjawab tidak masalah. Kali ini justru jadi masalah karena akan ada acara besar di restoran mereka akhir pekan besok. Semua staf sibuk tujuh keliling dan pusing. Persiapan memang sudah selesai, hanya memantapkan saja, tapi tetap saja Sehun tidak terima! Sous chef itu berharap atasannya bisa berbagi rasa lelah dengannya, bukannya melimpahkan semua padanya. Beberapa umpatan lirih keluar dari mulut Sehun, juga Luna.

“Ayolah, kawan-kawan, jangan seperti itu!” rajuk Minrin.

How can we, Minrin? Technically, you ditch us before the war starts!” Sehun berseru lirih, tidak ingin menarik lebih banyak perhatian.

“Aku minta maaf, sungguh, dan aku akan berusaha untuk menebusnya.” Sehun menatap datar Minrin. Percaya-tidak percaya dengan ucapan sang atasan. “Junmyeon just asked me for a movie date, guys. Ini sebuah perkembangan yang bagus dan kalian tidak mau membantuku?”

Ekspresi Sehun mulai melunak. Dia kenal Minrin lebih baik daripada staf lain di Provision. Kehidupan cinta sang head chef tentu bukan lagi rahasia baginya. Perempuan yang sama-sama memiliki darah Korea itu tidak begitu tertarik dengan hubungan romantis, cenderung dingin malah. Entah sudah berapa kali kencan buta yang berakhir sia-sia, ditambah lagi Minrin punya permasalahan komitmen dan merasa insecure terhadap dirinya sendiri. Saat atasannya itu berhasil mendapatkan nomor ponsel Tuan Asia atau Junmyeon, dan hubungan mereka menunjukkan progres, Sehun merasa senang. Ada rasa hangat yang menjalari hatinya setiap Minrin bercerita soal Junmyeon, setiap senyum Minrin jadi makin lebar setelah hanya lima menit mengobrol dengan Junmyeon. Sehun tahu bahwa setiap orang berhak mencintai dan dicintai; Minrin bukanlah pengecualian.

“Oke, permintaanmu terkabul.”

God, Sehun, I love you!” Minrin menghambur untuk memeluk sous chef-nya dan memberinya kecupan singkat di pipi.

“Hei, simpan ucapan dan ciumanmu itu untuk Junmyeon,” goda Sehun.

Oh, please!” Minrin memutar kedua matanya dan baik ia, Sehun, maupun Luna tertawa bersama.

Saat akhir pekan tiba, Junmyeon memutuskan untuk menjemput Minrin di tempat kerja sang head chef. Tentu Minrin sudah berganti baju dan mandi kilat di toilet karyawan. Tidak mungkin ia pergi kencan sementara ia masih bau bawang, minyak, atau saus tomat, kan? Sorakan dan siulan sempat memenuhi dapur saat Luna melongokkan kepalanya ke dalam dapur dan memberitahukan bahwa ‘Dokter Junmyeon Kim sudah siap menjemput Head Chef Minrin Choi untuk acara kencan mereka malam ini’. Bahkan Paul dan Chris sempat-sempatnya memparodikan adegan sepasang kekasih yang berciuman disertai bunyi kecupan yang keras dan menjijikkan—mereka tidak benar-benar berciuman asal kalian tahu.

“Kau sudah bawa pengaman?” Alice Rivera si patissier meraih lengan atas Minrin, menghentikan langkah perempuan bermarga Choi.

“Alice! Kami hanya akan menonton film, demi Tuhan!” Suara Minrin meninggi. Ujung telinganya memerah dan hal itu sukses membuatnya jadi bahan tertawaan.

“Siapa tahu?” Alis Alice bergoyang-goyang dan Minrin membenci itu.

“Terserah. Aku pergi dulu, mis amigos!” Tangan Minrin terangkat dan tungkainya bergegas bergerak keluar sebelum ia jadi bulan-bulanan lagi.

“Semoga Dokter Kim membawa lebih dari satu pengaman dan pelumas!” Seruan Chris membuat Minrin menggerutu. Rekan kerjanya yang satu itu memang terkenal suka menghabiskan malam di klub atau tempat-tempat di mana cinta satu malamnya terjadi. Red district expert, begitu label yang melekat pada flamboyan satu itu.

Setibanya di luar restoran, satu pemandangan yang menyambut Minrin membuatnya tersipu. Junmyeon berdiri di samping mobil, tidak menyandarkan tubuhnya di mobil seraya melihat arloji, lalu mengangkat kepala dan tersenyum melihat dirinya seperti skenario klise kebanyakan. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu memang berdiri di samping mobil, tapi dengan memunggunginya, tangan dimasukkan saku dan gumaman kecil terdengar dari mulutnya.

“Hei.”

Suara Minrin tidak keras juga tidak pelan. Namun, agaknya sapaan itu dan sebuah tepukan di pundak mampu mengejutkan Junmyeon. Pria Korea itu berseru kaget dalam bahasa ibunya sebelum membalikkan tubuh dan tertawa karena kekonyolannya sendiri. Tangannya bergerak mengusap wajahnya yang mulai memerah. Minrin mau tidak mau ikut tertawa dan ia berharap Junmyeon tidak berfokus pada telinganya yang juga memerah.

“Maaf, maafkan aku. Kurasa aku gugup.” Junmyeon berkata jujur apa adanya.

“O, syukurlah. Bukan hanya aku yang gugup rupanya.” Netra Minrin dan Junmyeon bertemu. Sedetik kemudian, keduanya sudah tertawa bersama.

Shall we?” Junmyeon membukakan pintu untuk Minrin.

What a gentleman,” puji Minrin seraya masuk ke kursi penumpang Chevrolet Malibu warna putih milik Junmyeon.

Pria bermarga Kim itu tertawa canggung mendengarnya. “Kudengar kesan itu penting dan perempuan suka diperlakukan seperti itu, jadi aku berusaha meninggalkan kesan yang baik untukmu. Temanku Peter yang menyarankannya karena yah, aku cukup payah dalam hal seperti ini.”

Minrin mengernyitkan dahi akan jawaban Junmyeon yang kelewat jujur. Rasanya geli. “Kuakui aku terkesan, tapi di lain kesempatan kau tak perlu melakukannya untukku. I have hands for reasons.”

Okay.”

Movie date pertama mereka resmi dimulai.

 

 

 

“Kau harusnya bilang padaku jika kau tidak suka film horor,” kata Junmyeon sekeluarnya mereka dari studio bioskop. Kini, ia dan Minrin ada di lobi bioskop, memilih salah satu sudut untuk ditempati setelah memesan peach tea dengan krim kocok untuk keduanya. Minrin tidak langsung menyahut. Diseruputnya minuman di tangannya terlebih dahulu sebagai bentuk usaha kecil untuk menenangkan jantungnya yang berkali-kali hampir melompat keluar selama kurang lebih dua jam menonton film.

Mimik wajah Junmyeon menyiratkan rasa bersalah. Selama menonton film, teman kencannya itu tidak henti-hentinya berseru kaget setiap ada adegan menyeramkan atau menegangkan. Pundak dan lengan kanannya pada akhirnya jadi korban walau awalnya Minrin tidak pernah meraih tangannya saat takut. Well, hingga saat ini Junmyeon bahkan masih bisa merasakan bagaimana tangan Minrin yang mencengkeram pundak dan lengannya erat-erat dan mungkin akan meninggalkan bekas nantinya.

Bukannya Junmyeon keberatan. Ia bahkan merasa senang dengan kontak fisik kecil itu. Mau tidak mau Junmyeon tersenyum kecil kala mengingat kejadian itu seraya menunduk, tidak ingin Minrin melihatnya dan berpikir ia semacam pria oportunis yang memanfaatkan kelemahan wanita.

Tunggu, jadi apakah itu alasan mengapa Peter bersikeras memberinya dua tiket untuk menonton film horor dan berkata bahwa ia akan menyukainya?

Tampaknya Junmyeon bukan pria yang cerdas dalam hubungan percintaan, eh? Sejak Peter memberikan tiket itu dan berkata bahwa ia akan menyukainya, ia menentang perkataan kawannya. Siapa yang akan menyukai film horor? Dirinya bahkan lebih memilih untuk tidak melihat film horor. Argumen Junmyeon terbukti kala ia melihat wajah pucat Minrin sekeluarnya mereka dari studio dan langsung menyumpahserapahi kawannya dalam hati. Apanya yang ‘ia akan menyukainya’ ketika dengan jelas teman kencannya tidak bisa menikmati filmnya? Baru sekarang, pria Korea itu paham dengan apa yang dimaksud Peter dan berusaha menahan hasrat untuk tidak membenturkan kepalanya di meja seraya mengumpat. Film horor dapat membawa banyak kontak fisik. Namun, melihat Minrin yang masih pucat—walau sedikit—membuat Junmyeon merasa bersalah juga. Peter telah membuatnya seperti orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Yeah, tapi kau punya tiket premiere filmnya yang tidak mudah untuk didapat. Rasanya sayang sekali jika tidak digunakan,” balas Minrin pada akhirnya.

“Tidak.” Junmyeon menggeleng. “Aku tidak peduli apakah itu tiket premiere sebuah film yang sangat diantisipasi publik atau tidak. Apa yang kau ingin lihat jauh lebih penting. Seharusnya aku juga bertanya padamu terlebih dahulu. Bodohnya aku.”

“Yah, aku cukup menikmati filmnya. Bagus untuk olahraga jantung, kau tahu?”

“Kau membuatku terlihat seperti orang yang kejam,” gumam Junmyeon. Sejenak, keduanya menikmati minuman mereka. “Bagaimana kalau kucoba untuk menebus kencan kita yang gagal ini? Kau bisa memilih untuk menonton film apapun di kencan kita selanjutnya.”

Perempuan di hadapannya terdiam dengan ekspresi yang membuat Junmyeon kikuk: pupil melebar, kedua alis naik, dan mulut yang terbuka sedikit. Di saat Junmyeon bertanya-tanya apakah ia telah membuat kesalahan, Minrin justru terbahak seraya bertepuk tangan, membuat Junmyeon terheran-heran. Apa kali ini ia telah melakukan suatu hal konyol?

“Apakah ini strategimu?” tanya Minrin setelah berhasil menguasai tawanya.

“Strategi apa?” Sungguh, otak cerdas Junmyeon jadi sia-sia.

“Strategi untuk mengajakku ke kencan yang lainnya.”

Kemampuan berpikir deduksi Junmyeon yang cemerlang segera membuat pria Kim itu menyadari korelasi antara semuanya dan, o, Tuhan, apakah Peter juga sudah memprediksi ini semua? Akan sangat mengerikan jika jawabannya adalah ya.

Jentikan jari Minrin yang datang berkali-kali membuyarkan kereta berpikir Junmyeon. Sialan, sekarang ia tidak tahu harus berkata apa. Hal-hal seperti ini tidak pernah ia temui dalam buku-buku kuliahnya yang tebal dan penuh istilah Latin anatomi tubuh manusia.

“Ti-tidak. Sungguh, bukan. A-aku … tidak … ugh!” Junmyeon membawa tangannya ke wajahnya, berusaha menutupi rona merah yang ia rasa mulai menjalar.

Minrin melipat tangan di atas meja. Dengan sengaja ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Sebenarnya, aku tidak begitu peduli apakah ini semua adalah strategimu atau bukan …”

“Apa?”

“Karena bagaimana pun, selamat Tuan Kim, kau berhak mendapatkan tiket untuk kencan berikutnya.”

“Apa?”

Minrin menendang kaki Junmyeon pelan. Lawan bicaranya sudah bengong cukup lama. “Apa aku kurang jelas? Kupikir kau adalah pria cerdas.”

Ekspresi kaget di wajah Junmyeon masih sama, tapi kali ini sang dokter sudah menyadari apa yang baru saja terjadi. Junmyeon menengadah, mengusap wajahnya, serta menghela napas. Tawa kecil lolos dari bibirnya. “I’m suck at this thing, so yeah….

Movie date selanjutnya berjalan lebih lancar. Minrin memilih sebuah film sains-fiksi dan tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Junmyeon selain melihat senyum dan betapa antusiasnya Minrin mengoceh setelah film selesai.

 

 

***

 

 

Tidak perlu dijabarkan lebih lanjut, baik Minrin maupun Junmyeon sama-sama menyadari bahwa pekerjaan mereka menyita cukup banyak waktu mereka. Waktu luang untuk diri sendiri ataupun dihabiskan berdua bisa dibilang adalah suatu bentuk kemewahan yang tidak bisa mereka nikmati setiap saat. Tentu zaman sudah berkembang dan komunikasi saat ini lebih mudah dilakukan dengan bantuan gawai berteknologi terkini. Namun, berkomunikasi melalui gawai tentu akan berbeda dengan bertatap muka.

Harus Junmyeon akui pula bahwa hubungan mereka cenderung berjalan lambat. Junmyeon tidak mau menggunakan istilah ‘jalan di tempat’ karena terdengar begitu stagnan dan tidak ada harapan. Kontak fisik yang terjadi antara keduanya masih sebatas bergandengan tangan, berpelukan, dan ciuman di pipi—jika Junmyeon beruntung. Pria Korea itu bukannya tidak pernah mencoba untuk mencari kejelasan status mereka pada Minrin. Tetapi setiap kali ia bertanya, hanya senyum manis yang ia dapatkan sebelum Minrin mengalihkan topik pembicaraan.

Hal itu membuat Junmyeon bertanya-tanya, apakah dirinya adalah sebuah mainan? Pelarian? Apa Minrin tidak serius dengannya? Apa perasaannya kali ini bertepuk sebelah tangan—lagi? Sungguh, Junmyeon amat meragukan dirinya sendiri dan apa yang tengah ia jalani saat ini. Namun, pada suatu malam di sebuah bar, Junmyeon terlibat suatu obrolan empat mata dengan Oh Sehun mengenai hubungannya dengan Minrin dalam bahasa ibu mereka.

“Minrin jelas-jelas tertarik padamu,” kata Sehun saat itu setelah dua teguk mojito.

“Kau terdengar yakin,” balas Junmyeon seraya memanggil bartender untuk mengisi lagi gelasnya yang kosong dengan kesukaannya, margarita.

“Tentu saja!” Kedua bola mata Sehun berputar, mengejek. “Kau pikir siapa aku? Aku sudah mengenal Minrin sejak hari pertama kami menjejakkan kaki di Le Cordon Bleu.”

Junmyeon terdiam, tapi sisi rasionalnya menyetujui apa yang dikatakan Sehun. “Ya, kau benar, tapi apa yang membuatmu begitu yakin?”

Hyung!” Sehun mengerang. “Kalau Minrin tidak tertarik padamu, mana mungkin ia menyetujui semua ajakanmu untuk berkencan? Atau yang lebih valid, mana mungkin ia jadi yang pertama untuk mengajakmu kencan di beberapa kesempatan? Aku bersama Minrin sejak lama, tentu aku mengenal dia. Kau juga sudah sedikit banyak dapat gambaran orang seperti apa Minrin itu.” Sehun mengoceh, gemas melihat Junmyeon yang ragu. “Kau bisa pegang perkataanku, Hyung.”

“Lalu, kenapa hubungan kami hanya … begini-begini saja? Aku ingin membawa hubungan kami ke jenjang berikutnya, tapi kenapa seolah-olah ia mendorongku untuk menjauh?”

Sehun membenahi posisi duduknya hingga tubuhnya menghadap ke Junmyeon sepenuhnya. “Kuncinya adalah persistensi. Batu saja bisa hancur karena tetesan air yang jatuh terus-menerus. Kau juga tidak boleh menyerah, Hyung. Aku tahu ini berat, mungkin membuatmu frustasi juga, tapi jangan berhenti. Tidak ketika Minrin jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya padamu. O, sayang sekali kau tidak bisa melihat ekspresi Minrin saat ia mulai membicarakanmu.”

“Ekspresi apa?”

“Kau tahu, seperti orang kasmaran pada umumnya. Senyum lebar—ear to ear, teeth showing—lalu rona merah, dan sebangsanya. Minrin sangat suka membicarakanmu, Hyung, asal kau tahu. Selain itu, aku dan chef-chef lain di Provision berhutang budi padamu.”

“Hutang budi?”

Sehun mengangguk. “Ya, hutang budi. Pernah suatu ketika keadaan dapur begitu kacau dan Minrin berubah ke dalam mode head chef dengan dua tanduk di kepala dan napas api sebelum keluar untuk mengambil waktu istirahatnya. Tidak ada dari kami yang berani mendekatinya saat itu atau sekedar keluar dari dapur untuk beristirahat. Kemudian, waktu aku dan Chris mencoba menyusulnya, Minrin sudah melakukan panggilan video denganmu sepanjang waktu istirahatnya. Saat kembali ke dapur, ia sudah secerah mentari musim panas yang membawa angin sejuk musim semi. Kau adalah moodbooster-nya, Hyung. Itu terjadi tidak hanya sekali-dua kali.”

Junmyeon mengangguk-angguk sembari tersenyum. Ia ingat saat Minrin berbicara mengenai bagaimana harinya begitu menyebalkan karena kekacauan di dapur. Hatinya terasa hangat mendengar cerita Sehun, mengetahui bahwa sebuah panggilan video darinya bisa membuat mood Minrin membaik. Pipinya memerah sekarang, entah karena pengaruh alkohol atau cerita yang dilontarkan Sehun.

See? Kau paham sekarang, kan, Hyung?” Junmyeon mengangguk pada pertanyaan Sehun. “Aku berani bersumpah aku belum pernah melihat Minrin menyukai seseorang seperti ia menyukaimu, jadi jangan menyerah.”

“Tapi apa yang membuat Minrin merasa insecure?” tanya Junmyeon tidak paham. Sehun pernah menyinggung soal hal ini dalam beberapa kesempatan, namun hingga sekarang, Junmyeon tidak paham mengapa. Yang ada ia menjadi makin tidak paham. Minrin cantik, punya karir bagus, wawasan luas yang membuatnya bisa mengobrolkan apa pun tanpa canggung, tipe perempuan alfa yang bisa mengintimidasi perempuan lain. Lalu mengapa pula Minrin punya commitment issue? Apa ia pernah terluka di masa lalu?

“Aku tidak tahu,” Sehun mengedikkan bahu cuek, “Minrin tidak pernah mengatakan lebih lanjut padaku.”

Baru saja Junmyeon akan bertanya satu-dua hal lainnya pada Sehun, tiba-tiba seorang perempuan menghampiri mereka. Perempuan itu adalah orang yang jadi objek pembicaraan kedua pria tersebut dalam beberapa menit terakhir.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Minrin penuh keingintahuan.

Nothing. You won’t be interested anyway,” jawab Sehun. Namun, Minrin justru memicingkan matanya curiga pada Sehun. “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Kau pasti berbicara buruk soal aku.”

God, Minrin, meskipun aku membongkar kelakuan-kelakuan busukmu pada Junmyeon-hyung, aku yakin dia tetap akan menyukaimu. Berani jamin.”

Ucapan Sehun membuat Minrin menggerutu karena malu dan Junmyeon tertawa karena yang dikatakan Sehun memang benar apa adanya. Junmyeon sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada perempuan bermarga Choi itu.

“Apa yang membuatmu kemari? Kau sudah lelah menari?” Junmyeon bertanya pada Minrin.

Muka masam Minrin sudah hilang, tergantikan oleh senyuman lebar dan mata berbinar yang hanya ditujukan untuk Junmyeon. “Sebenarnya, aku ingin menyeretmu ke lantai dansa, Dokter Kim. Kau tahu, duduk terlalu lama itu tidak baik untuk kesehatan.”

“Aku bukan penari yang handal.”

Who cares?” Minrin sedikit berseru. Tangannya menggamit Junmyeon, menyeretnya ke lautan manusia yang memenuhi lantai dansa. Percuma saja Junmyeon mengirim sinyal bantuan melalui matanya pada Sehun. Pemuda bertubuh jangkung itu justru menyeringai lebar dan mendorongnya—membantu upaya Minrin untuk menyeret Junmyeon ke lantai dansa.

Pada akhirnya, Junmyeon tidak kuasa melawan. Dirinya sudah berada di lantai dansa. Lagu Treasure milik Bruno Mars masih diputar dan Junmyeon mematung.

Minrin mendekatkan dirinya pada Junmyeon dan bertanya cukup keras pada rungu sang dokter. “Kenapa kau tidak menari?”

Junmyeon menggeleng. “Aku tidak bisa! Aku tidak tahu bagaimana caranya!”

Just move, don’t think!

Serius, rasanya Junmyeon ingin kembali saja ke bar untuk beberapa gelas margarita. Mungkin ia juga akan mencoba dry martini atau moscow mule. Namun, melihat Minrin yang terus menari dan tanpa henti mengajaknya, akhirnya ia menyerah. Ia mulai menari, awalnya hanya mengikuti gerakan Minrin sebelum mulai melakukan improvisasi kecil-kecilan. Junmyeon tahu gerakannya pasti terlihat konyol. Jika tidak, mana mungkin Minrin tergelak hebat? Mungkin ini terdengar gombal, tapi Junmyeon akan melakukan apapun untuk membuat perempuan berambut hitam itu bahagia.

Tepat saat Junmyeon mulai merasa lelah, musik berganti ke lagu bertempo lambat: I Don’t Wanna Miss A Thing milik Aerosmith. Instingnya membawanya untuk mendekat pada Minrin, melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping sang perempuan. Bisa Junmyeon rasakan tubuh Minrin yang semula menegang karena sentuhannya, perlahan-lahan mulai rileks. Sama seperti Junmyeon, Minrin juga mengikuti instingnya untuk melingkarkan tangannya pada leher Junmyeon. Tubuh mereka bergoyang ke kanan-kiri mengikuti irama lagu.

“Kau lelah?” tanya Minrin lirih.

Di detik ini, Junmyeon merasa dirinya bisa kehilangan kontrol. Jarak mereka kelewat dekat dan ia bisa merasakan napas Minrin pada lehernya.

Kepala Junmyeon tertunduk hingga dahi mereka bersentuhan. “Cukup lelah setelah seharian bekerja. Kau beruntung aku besok masuk shift malam.”

Minrin tersenyum. “Lucky me, then.

Keduanya kembali terdiam. Membiarkan musik terus mengalun mengisi keheningan di antara mereka. Kemudian Junmyeon bergerak, sedikit menundukkan kepala dan membawa wajahnya mendekat ke wajah Minrin hingga bibir mereka hampir bertemu. Namun, kemudian Junmyeon berhenti, merasa ragu apakah ia harus lanjut atau mundur? Napas mereka yang saling bertemu, ketegangan yang mereka berdua rasakan membuat jantung Junmyeon jumpalitan.

Sebelum sisi rasional membuatnya mundur, Junmyeon memilih sisi irasionalnya yang memacu adrenalin, memejamkan matanya, lalu mempertemukan bibirnya dengan bibir Minrin. Sejenak, Junmyeon berpikir ia telah melakukan sebuah kesalahan karena ia bisa merasakan tubuh Minrin yang mematung dan bibir Minrin yang tidak membalas ciumannya. Gerakan dansa mereka terhenti. Dalam hati, Junmyeon mengutuk tindakannya yang tiba-tiba. Harusnya ia bertanya terlebih dahulu apa aku boleh menciummu? Tapi, demi Tuhan, bagaimana bisa ia melakukan itu ketika ia sendiri sudah hampir kehilangan akal?

Baru ketika Junmyeon akan menarik kembali bibirnya dan mengucapkan kata maaf sebanyak yang ia mampu, bibir Minrin menyambut ciumannya, memerangkap bibir bawahnya dengan cepat, dan memangkas jarak di antara mereka. Sial, sial, sial. Junmyeon rasa ada ribuan kembang api yang meledak-ledak dalam dirinya sekarang ini. Bibir Minrin terasa begitu lembut, ada sedikit rasa bourbon yang berpadu dengan sisa mint julep. Ciuman mereka berlangsung lambat namun dalam. Mencoba untuk menikmati dan mengingat detail-detail kecil. Junmyeon membawa Minrin makin erat dalam rengkuhannya. Tangan Minrin bermain di leher Junmyeon dan mulai mencengkeram lembut rambut sang dokter. Kepala mereka saling miring berlawanan arah agar pagutan bibir mereka semakin dalam.

Tautan bibir mereka terlepas setelah entah berapa lama hingga nafas mereka memburu. Senyum dan tawa kecil lepas dari keduanya. Dengan dahi yang saling bersentuhan, satu “I love you” terucap dari mulut Junmyeon dan ia tidak ambil pusing mengenai apa yang akan didapatkan sebagai balasan. Baginya, tangan Minrin yang mendekapnya erat sudah cukup. Dari kursinya, Sehun merekam kejadian tadi dengan senyum seringai miliknya sebelum diseret oleh Luna menuju lantai dansa.

 

 

***

 

 

Pagi ini, mobil Junmyeon tidak langsung menuju ke rumah sakit. Jam kerjanya belum akan dimulai dalam waktu dekat, tapi mobilnya melaju cukup cepat di jalanan kota Indianapolis. Mobil yang dikemudikannya kemudian berhenti di depan sebuah bangunan berlantai lima dengan tembok beraksen bata berwarna coklat. Junmyeon menatap bangunan itu sebentar, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengetik sebuah pesan.

Aku sudah sampai di depan.

Junmyeon masuk ke dalam bangunan tersebut dan mulai menaiki tangga untuk menuju ke lantai empat. Olahraga pagi yang cukup membakar kalori baginya. Bibirnya tanpa sadar menggumamkan angka apartemen yang akan ia tuju sembari matanya mencari-cari pintu mana yang harus ia ketuk. Tungkai Junmyeon berhenti di pintu paling ujung dan tanpa menunggu lama, Junmyeon mengetuk pintu itu.

“Hei.” Sebuah senyum segera menyambutnya begitu pintu terbuka. “Masuklah.”

Junmyeon segera masuk dan berhenti sejenak untuk menangkan gugupnya.

“Langsung saja ke dapur, oke? Makan paginya sebentar lagi akan siap.” Sang pemilik apartemen, Minrin, melangkah terlebih dahulu menuju dapur.

“Oke,” balas Junmyeon, mengekor Minrin. Rasa gugupnya semakin menjadi saja. Dirinya sudah beberapa kali singgah di apartemen Minrin, bahkan pernah bermalam, tetapi kali ini situasinya berbeda. Kencan kali ini tidak seperti coffee date, movie date, atau roadtrip date mereka terdahulu. Kali ini adalah waktunya breakfast date—karena lunch date atau dinner date sudah begitu umum. Berbagai skenario domestik yang beputar-putar di kepala Junmyeon sejak semalam membuat Junmyeon tidak bisa tenang.

Junmyeon segera duduk di salah satu kursi yang ada di kitchen island. Di sana, sudah tersaji enchiladas, guacamole toast, dan fro-yo. Tampilan dan aroma semua sajian itu membuat Junmyeon menelan salivanya sebelum menetes keluar. Minrin masih tampak sibuk menaruh peralatan kotor di wastafel sebelum kemudian mengambil sekotak susu dari lemari pendingin dan dua gelas berukuran sedang.

“Kelihatannya enak,” puji Junmyeon.

“Tunggu sampai kau mencicipi rasanya.”

“Aku tidak pernah meragukan masakanmu.”

Why, thank you.

Perempuan bermarga Choi itu menyodorkan gelas berisi susu pada Junmyeon, lalu melepas apron hitam yang dikenakannya dan duduk di seberang Junmyeon. Dalam hati, Junmyeon merasa kecewa karena Minrin melepas apronnya. Heck, ia akui Minrin kelihatan lebih menggoda ketika mengenakan apron dan menggelung rambutnya ke atas asal-asalan, menampilkan leher yang seksi di mata Junmyeon.

Jal meokkesseumnida.”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Junmyeon menyuapkan enchiladas ke mulutnya. Baru beberapa detik makanan itu berada dalam mulutnya, Junmyeon mematung. Hal ini membuat Minrin sangsi.

“Enak?” tanya Minrin disertai alis yang terangkat.

Junmyeon mengangguk cepat. Sejurus kemudian ia menelan makanannya lebih dulu sebelum berkomentar, “You don’t say. Ini luar biasa.” Junmyeon tidak pernah berhenti merasa takjub setiap kali mencicipi masakan Minrin.

Thanks.” Minrin tersenyum lega. Bagi sang chef, ia sangat suka ketika melihat orang lain menyukai masakannya. Terlebih jika orang lain itu adalah Junmyeon.

“Harusnya aku yang berterima kasih karena kau sudah memasak ini semua untukku.”

“Bukan masalah.”

Breakfast date yang Junmyeon kira akan jadi canggung tidak benar-benar terjadi, sama seperti kencan-kencan lain yang awalnya ia pikir akan jadi bencana. Seperti biasa, mereka mengobrolkan banyak hal dan tertawa bersama ketika menemukan hal-hal yang lucu sekecil apa pun itu hingga tiba waktu Junmyeon harus berangkat kerja.

“Kau tidak kerja? Aku bisa mengantarmu, kau tahu?” Junmyeon menawarkan diri seraya mengenakan mantelnya. “Aku juga bisa menjemputmu.”

“Mm-mm.” Minrin menggeleng. “Aku harus menemui supplier dulu sebelum pergi ke restoran.”

“O, begitu.” Junmyeon berjalan menuju ke pintu, diantar oleh Minrin. Dirinya tidak langsung membuka pintu dan keluar begitu saja. Bagian dirinya yang tidak ingin pergi membuatnya berdiri di tempat dengan sedikit gelisah. “Terima kasih, sekali lagi, untuk sarapannya. It was truly a good thing to start my day.”

Senyum manis diberikan oleh Minrin. “Bukan masalah, Jun.”

Ada jeda yang melingkupi keduanya di mana Junmyeon tampak meragu untuk pergi, seolah-olah ada sesuatu yang masih mengganjalnya. Sorot matanya menyiratkan bahwa telah terjadi pergolakan di dalam diri pria yang berprofesi sebagai dokter itu.

“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi.” Sebelum Minrin sempat membalas, Junmyeon terlebih dahulu mencium kening Minrin. Dirinya tidak dapat menahan gagasan bahwa apa yang baru saja terjadi—yang mereka lakukan sejak ia menjejakkan kakinya di apartemen Minrin—amatlah domestik layaknya pasangan sungguhan pada umumnya yang sering ditampilkan para aktor dan aktris. Hal itu membuat jantung Junmyeon berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Sampai jumpa lagi,” balas Minrin ketika ia sudah berhasil mengusai keterkejutannya.

Junmyeon tersenyum tipis dan berjalan keluar. Belum ada dua langkah, panggilan Minrin menghentikannya. Pemuda Kim itu berputar dan sebelum ia berhasil mencerna apa yang terjadi, bibir Minrin sudah menempel pada bibirnya.

Have a nice day,” lirih Minrin sembari tersenyum sebelum kembali masuk ke apartemennya, meninggalkan Junmyeon yang mematung di tempatnya disertai rona merah di seluruh wajahnya.

 

 

***

 

 

Karena besok libur, malam ini sengaja Junmyeon habiskan dengan menonton film bersama Minrin di rumahnya. Ruang tengah sudah disulap jadi tempat paling nyaman untuk menonton film. Sofanya ia geser menjauh ke belakang, digantikan dengan tumpukan bantal dan selimut yang kini terlihat lebih seperti sebuah sarang. Di meja kayu berkaki rendah tidak jauh dari mereka sudah tersedia bermacam makanan dan minuman. Tentu berondong jagung dan soda tidak akan pernah absen. Televisi lima puluh lima inci milik Junmyeon sudah menampilkan film biografi perang anti-war bertemakan pasifis yang dipilih Minrin: Hacksaw Ridge. Junmyeon hanya pernah mendengar judulnya saja, belum sempat menonton meski beberapa rekannya sudah merekomendasikan. Salahkan jam kerjanya yang sibuk dan dirinya yang lebih memilih kasur empuk di kamar daripada menonton film beramai-ramai di bioskop. Minrin sempat menatapnya tidak percaya ketika ia bilang belum pernah melihat film tersebut. Giliran Junmyeon menatap Minrin tidak percaya adalah ketika Minrin berkata ia sudah menonton film itu sebanyak lima kali. Ralat, enam kali termasuk saat ini.

“Kau harus menontonnya, Jun! Film ini keren sekali! Kalau kau tidak tersentuh saat melihatnya, kau patut mempertanyakan empatimu. Sutradara film ini adalah Mel Gibson! Kuulangi, Mel Gibson! Lalu, dengan Andrew Garfield sebagai pemeran utama … God! I can’t! It’s Andrew Garfield, Jun!”

Junmyeon hanya bisa menggeleng-geleng akan tingkah Minrin. Oke, Andrew Garfield memang cukup menarik, tapi tetap saja Junmyeon lebih memilih Milla Jovovich atau Jessica Alba. Akhirnya Junmyeon mengalah. Ia melihat Hacksaw Ridge bersama Minrin dan ia sama sekali tidak menyesali keputusannya. Film garapan Mel Gibson tersebut memang benar-benar bagus, bahkan air mata Junmyeon sempat keluar. Saat ia menyeka air matanya dengan tisu, Minrin melakukan hal yang sama dan keduanya tertawa.

“Filmnya bagus,” komentar Junmyeon ketika film sudah rampung. Layar televisi kini menampilkan deretan nama sebagai bagian dari kredit film tersebut.

See? Apa kubilang!”

“Itu berdasarkan kisah nyata, kan?”

Minrin mengangguk. “Yup.”

“Wow, Desmond Doss benar-benar seorang pahlawan kalau begitu. Apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang sangat mulia.” Junmyeon memuji tokoh yang diperankan oleh Andrew Garfield tersebut.

Indeed. He truly is.” Minrin meraih berondong jagung yang sisa separuh dalam mangkuk kaca besar. “Popcorn?

Junmyeon mengambil berondong jagung tersebut tanpa bicara. Minrin kelihatan sibuk dengan ponselnya. Kepalanya menemukan tempat pada pundak Junmyeon, sedangkan Junmyeon tenggelam dalam pikirannya dengan tangan yang sudah otomatis melingkari pinggang Minrin. Gagasan untuk meminta kejelasan mengenai hubungan mereka tidak pernah bisa lepas dari pikiran Junmyeon. Jika memang hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan, akan lebih baik mengetahuinya sejak awal. Maka Junmyeon memutuskan bahwa saat ini adalah saat yang tepat.

“Jadi … apa pendapatmu soal aku?”

Minrin mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Keningnya berkerut. Pertanyaan Junmyeon cukup mendadak dan ia tidak bisa menebak konteks mana yang dituju Junmyeon. “Kau luar biasa.”

“Tidak. Maksudku, apa pendapatmu soal aku?”

Dahi Minrin berkerut lagi, tidak paham di mana letak perbedaan antara kedua pertanyaan Junmyeon. Bukankah keduanya sama saja?

“Kita sudah mengenal cukup lama dan aku akui, aku merasa nyaman denganmu. Lebih dari itu, seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa perasaanku padamu juga berkembang. Aku ingin membawa hubungan kita ke jenjang berikutnya, tapi aku tahu itu tidak akan bisa dilakukan jika hanya aku yang merasakan hal tersebut. It takes two to tango, you know?

Junmyeon tidak percaya bahwa dirinya bisa mengatakan hal semacam tadi tanpa gugup, tanpa jeda, tanpa terbata-bata. Namun, saat Minrin hanya terdiam menatapnya dengan ekspresi yang sulit ia artikan, rasa cemas mendera Junmyeon. Mungkin kali ini akan bertepuk sebelah tangan lagi. Itu tidak jadi masalah, kan? Ia sudah pernah merasakannya, jadi tentu tidak akan begitu sakit saat ia merasakannya lagi.

“Apa kau baru saja memintaku untuk jadi kekasihmu?”

“Apa?” Junmyeon terlalu larut dalam pikirannya hingga tidak memperhatikan.

“Apa kau baru saja memintaku jadi kekasihmu, Dokter Kim?”

“Mmm … begitulah?”

“Kenapa kau terdengar tidak yakin?”

“Bu-bukan begitu! A-aku—“

“Ya.”

“Apa?”

“Ya, aku mau jadi kekasihmu, Dokter Kim.” Jawaban Minrin membuat Junmyeon terpaku di tempat. “Hei, kenapa kau terlihat tidak senang begitu?”

Tidak ada jawaban terlontar dari mulut Junmyeon. Pria Kim itu segera mengklaim bibir Minrin dengan bibirnya. Satu ‘terima kasih’ dan ‘aku mencintaimu’ lolos di sela-sela ciuman mereka.

 

 

And now those memories are piercing his heart

 

 

A/N:

Menerima lemparan bata ataupun cendol untuk filler di chapter kali ini HAHAHAHAHA

 

 

Maliciously Missing will be updated once every two weeks on Saturday. So stay tune!

 

Find me on

LINE | Twitter | Instagram | Wattpad | Curious Cat

One thought on “Maliciously Missing — Len K [Chapter 05]”

  1. well, trnyt full sm flashback.. kirain ada part ‘present time’ nya
    penasaran sm progress pencarian yg kmarenan udah mulai ada titik terangnya itu.
    hm.. ‘commitment issue’ ya, samaan qt :p
    itu yg narik Sehun ke dance floor Luna Hernandez a.k.a Runa Kwon kah? 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s