[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (CHAPTER 27)

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 27]EXO - MPH

 

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

 

Length : Chapter

 

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt and Marriage Life

 

Rating : PG – 15

 

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

 

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Etc.

 

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

 

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi || #16 || #17 || #18 || #19 || #20 || #21 || #22 || #23 || #24 || #25 || #26

 

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

 

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

 

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

 

Sebuah mobil SUV hitam terlihat berhenti di depan rumah dan menurunkan seorang gadis, setelahnya mobil tersebut kembali melaju meninggalkan rumah beserta gadis itu. Sementara sang gadis berjalan memasuki rumah tersebut. Gadis itu menekan bel rumah, tak lama pintu terbuka dan berdiri seorang pria jangkung.

 

Gadis itu tersenyum pada wanita paruh baya yang membukakannya pintu. “Eomma.”

 

Wanita paruh baya itu sebelumnya terkejut melihat sosok gadis di hadapannya, namun dia segera tersenyum dan memeluk gadis itu. “Anak nakal! Kemana saja kau selama ini?” omel sang Ibu dengan suara sendunya, bahkan air matanya sudah tak terbendung.

 

“Liburanku sangat menyenangkan,” jawab gadis itu.

 

 

Seorang pria tampak duduk di tepi ranjang dengan tangannya memegang sebuah nampan berisi menu lengkap makan siang, nasi dan beberapa lauk lainnya. Itu bukan untuknya, tapi untuk seorang gadis yang tengah berbaring menyembunyikan diri di balik selimut. Dan sudah lebih dari setengah jam pria itu memegang nampan tersebut, bahkan makanan itu mungkin saja sudah dingin.

“Hyunji –ya,” panggilnya dengan mengguncangkan tubuh gadis itu. “Makan dulu, eoh? Kau belum makan sejak kemarin, ditambah kau sedang sakit.” Ada nada khawatir dari ucapannya.

 

“Aku sudah makan,” jawab Hyunhee dengan suara lemahnya.

 

“Jika yang kau maksud itu tiga keping biskuit beberapa saat lalu, itu tidak masuk hitungan karena kau sudah memuntahkannya kembali. Makan nasi, setidaknya beberapa suap.” Sehun sedikit emosi, istrinya ini bertingkah rewel seperti anak kecil.

 

“Aku akan memakannya, jika itu baik-baik saja. Tapi itu bau dan membuatku mual!”

 

Sehun menaruh nampan tersebut di nakas. “Lantas kau mau makan apa?” Dia beringsut mendekati gadis itu, tubuhnya sedikit menyondong pada sang Istri dan mengusap surai hitamnya lembut.

 

“Aku tidak berkeinginan untuk makan apapun saat ini.” Lebih dari untuk makan, Hyunhee merasa dia lebih butuh tidur. Badannya lemas dan kepalanya pusing, bahkan hanya untuk sekedar membuka mata atau meladeni celotehan Sehun itu sudah berat.

 

Sehun menghela nafas sembari memijit keningnya saat mendengar jawaban sang Istri. “Kau tidak bisa seperti ini, hanya karena kau tak ingin makan sekarang. Kau sedang sakit!”

 

“Apa kau tidak bekerja? Ini sudah siang,” ucap Hyunhee terdengar mengusir. Dia bermaksud mengalihkan topik soal makan.

 

“Tidak, kau membuatku tak tenang jika meninggalkanmu,” akunya. “Sudah cepat bangun dan makan.” Sehun menarik tangan gadis itu untuk duduk, dia masih belum menyerah untuk membuat Istrinya makan. “Mau aku suapi?”

 

Hyunhee memutar bola matanya malas, dia mulai mengambil sendok dan memposisikan duduk. “Tidak.”

 

Sendok yang hanya terisi setengah nasi dan seiris daging itu telah berhasil masuk ke gua mulut Hyunhee, namun detik selanjutnya dia beringsut dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi dengan tangan membekap mulutnya sendiri. Hyunhee memuntahkan makanan yang bahkan belum sempat dia kunyah itu ke wastafel.

 

Sehun mengikuti langkah gadis itu menuju kamar mandi –dengan sedikit berlari, setelahnya dia mengurut tengkuk sang Istri. Ini sudah untuk kesekian kalinya gadis itu muntah, bahkan saat tak ada asupan yang dia terima. Jadi hanya cairan bening yang keluar selanjutnya.

 

Hyunhee terduduk di lantai kamar mandi, setelah muntah –dia semakin tak bertenaga. Dan mungkin, dia bisa saja berbaring di dalam kamar mandi jika Sehun tak segera menggendongnya menuju ranjang.

 

“Maafkan aku.” Sesal Sehun sembari menarik selimut untuk gadis itu.

 

Hyunhee tak merespon, dia telah memejamkan matanya.

 

 

Entah berapa lama gadis itu tertidur, dia terbangun karena mendengar suara gaduh. Saat dia membuka matanya, dia melihat Sehun yang sedang mengobrak abrik tumpukan berkas di meja kerjanya. Dan pria itu tampak rapi dengan setelan kemeja. Apakah dia akan pergi? Jika iya, Hyunhee bersorak senang.

 

“Kau akan pergi?” tanya Hyunhee buka suara.

 

Sehun menoleh sebentar dan kembali fokus dengan berkasnya. “Ya, ada masalah di perusahaan.”

 

Hyunhee beranjak dari ranjang dan menghampiri pria itu. “Apa yang kau cari?”

 

Sehun kembali menoleh. Melihat sang Istri yang kini ada di hadapannya, dia meninggalkan berkasnya dan menggendong gadis itu menuju ranjangnya. “Kau istirahat saja.”

 

Hyunhee menekuk wajahnya, dia hanya bermaksud membantu pria itu menemukan barangnya dan membuat pria itu segera pergi.

 

Sehun memasukan beberapa berkas dalam sebuah tas hitam, selanjutnya dia berjalan menuju walk in closet, lalu dia kembali dengan membawa jas, dasi dan sepatunya. Sehun duduk di ranjang untuk memakai sepatunya, sementara dasi dan jas disampirkannya di bahu.

 

“Aku sudah menelepon Eommoni (Ny. Oh) untuk datang agar bisa menjagamu saat aku tidak ada.” Sehun mengecup singkat kening Hyunhee sebelum dia beranjak. “Kalau ada apa-apa, hubungi aku.”

 

Hyunhee menatap punggung pria itu sebelum hilang di balik pintu, dia masih tertegun –berpikir mengenai perlakuan manis yang dia dapat dari Sehun dan dirinya yang hanya diam menerima hal tersebut. Namun Hyunhee segera tersadar, ini bukanlah waktunya untuk merasa tersipu atau berdebar. Hyunhee segera beringsut dari ranjang, mulai menilik setiap sudut ruangan untuk menemukan ponselnya yang disembunyikan Sehun.

 

Entah sudah berapa puluh menit Hyunhee mengitari tiap sudut ruangan tersebut, tapi ponselnya tak ditemukan. Dia berakhir dengan menghempaskan diri di sofa panjang dan memilih menonton televisi. Lambat-laun kantuk kembali menyapa, dia tertidur untuk yang kesekian kalinya.

 

Dirinya sudah seperti jenis Koala yang tukang tidur setiap saat dalam sehari.

 

○●○

 

Sebuah tepukan lembut di bahu membuat Hyunhee terusik, dia menerjap dan melihat sosok wanita paruh baya – Nyonya Oh!

 

“Hyunhee –ya, bangun dulu. Eommeoni buatkan Sup untukmu, kata Sehun kau sakit dan susah makan,” ucapnya terdengar berbisik.

 

Hyunhee memposisikan duduk, tangannya menerima ketika diberikan semangkuk Sup hangat oleh Nyonya Oh. “Terima kasih, Eommeoni.” Hyunhee mendekatkan mangkuk Sup tersebut pada hidungnya untuk membau, aromanya cukup merileks –kannya. Dia mulai menyendok, rasanya enak dan tak membuatnya mual. Hyunhee melanjutkan makannya.

 

“Syukurlah jika kau suka,” ucap Nyonya Oh lega. “Akan Eommeoni bawakan lagi nanti.”

 

“Terima kasih Eommeoni, tapi apa tidak merepotkan? Eommeoni bisa beritahu resepnya saja, aku cukup baik memasak,” jawab Hyunhee tersirat penolakan. Itu antara dia benar-benar tak ingin merepotkan, juga bertemu Nyonya Oh terus.

 

“Baiklah, akan Eommeoni tuliskan nanti.”

 

Setelah itu, hening sampai Hyunhee beranjak hendak mencuci peralatan makan yang dia gunakan dan kembali duduk di sofa lagi. Rasanya sangat canggung hingga membuat Hyunhee bosan dan mengantuk lagi, tapi tak mungkin dia meninggalkan Nyonya Oh. Apa dia harus memulai pembicaraan? Tapi apa? Satu-satunya yang ingin dia lontarkan adalah kekesalannya, lantaran Nyonya Oh sudah membawanya pada nasib seperti ini.

 

“Hyunhee –ya, sebenarnya ada yang ingin Eommeoni bicarakan.” Ada nada ragu dan cemas dari ucapan wanita paruh baya itu.

 

Hyunhee menoleh. “Ya, mengenai apa Eommeoni?”

 

“Sebelumnya Eommeoni ingin meminta maaf padamu, Eommeoni sudah bersalah karena egois dan menyusahkanmu –dengan permintaan hidup bersama Sehun sebagai orang lain, sedangkan kau sendiri memiliki seseorang yang kau cintai.”

 

Hyunhee hanya mampu tersenyum getir. Bagusnya, Nyonya Oh menyadari hal itu dan Hyunhee tak perlu repot mengutarakannya sendiri. Yang mungkin dia akan emosi saat mengatakan hal tersebut.

 

Eommeoni dan Aboeji sendiri juga mencari keberadaan Hyunji, hanya saja belum menemukan titik terang. Tapi hal yang dapat dipastikan dari Hyunji, dia selamat dari kecelakaan itu,” jelas Nyonya Oh. “Eommeoni menemukan sebuah surat dari Hyunji saat Sehun masih dalam perawatan setelah kecelakaan, maaf baru memberi tahumu, itu karena Eommeoni takut kau akan pergi dari Sehun saat itu.”

 

“Aku tau.”

 

“Ya?” Nyonya Oh bingung dengan pernyataan Hyunhee.

 

“Surat itu, aku telah mengetahuinya. Di hari aku pergi dengan Sehun ke taman bermain, dan dia melamarku tapi aku menolaknya. Sehun memberikan surat itu.”

 

Hanya kata maaf dan isak dari Nyonya Oh yang terdengar, sementara Hyunhee hanya menyaksikan derai dari Ibu Mertuanya itu. Hingga dia mulai tak tahan dan bersuara.

 

“Aku sudah memaafkan Eommeoni.” Nyonya Oh mendongak dan menatap Hyunhee. “Hal terlemah bagi seorang Ibu adalah kasih sayangnya terhadap anak.”

 

Nyonya Oh memeluk tubuh Hyunhee. “Terima kasih.”

 

“Tidak,” sela Hyunhee. “Aku memang sudah memaafkan Eommeoni, tapi bukan berarti aku menerima kondisiku yang seperti ini terus-menerus.”

 

Nyonya Oh melepaskan pelukannya. “Maksudmu?”

 

“Aku ingin berpisah dari Sehun,” tegas Hyunhee.

 

Meskipun sudah menduga jika Hyunhee akan mengatakan hal itu, nyatanya Nyonya Oh masih terkejut dan tampak enggan menyetujui permintaan Hyunhee. “Bagaimana bisa aku memisahkan orang yang dicintai anakku sendiri.”

 

“Bukan aku yang dicintai oleh Sehun, Eommeoni tau sendiri siapa nama yang selalu dia sebut saat memanggilku,” ucap Hyunhee lirih. “Kumohon Eommeoni … setidaknya jelaskan pada Sehun, sebab sulit jika hanya aku yang mengatakan padanya.”

 

Nyonya Oh masih bergeming.

 

Eommeoni, kumohon.”

 

“Bagaimana jika Sehun membenciku? Lalu dia kembali berniat bunuh diri.” Nyonya Oh gusar. “Bagaimanapun, aku yang membuat kalian ….”

 

Hyunhee menggenggam tangan Nyonya Oh. “Tidak, Sehun tak akan membenci Eommeoni. Tapi jika Eommeoni khawatir akan seperti itu, bukan saja kita berdua yang harus bicara pada Sehun … kita semua harus menjelaskan padanya,” tutur Hyunhee.

 

Nyonya Oh bersama dengan Hyunhee pergi ke kediaman Keluarga Park untuk mendiskusikan jalan keluar atas masalah yang pelik ini, bagaimanapun kedua keluarga tersebut –kecuali Sehun– terlibat.

Dan selain itu, Hyunhee juga merindukan keluarganya. Dia telah pergi cukup lama tanpa kabar, yang pertama adalah diseret Sehun ke Maladewa meskipun dengan alasan libur. Lalu kabur bersama Jongin dan kembali diseret Sehun.

 

Eommeoni,” panggil Hyunhee lantaran Nyonya Oh masih bergeming di dalam mobil.

 

“Kau masuk saja duluan.”

 

“Baiklah.” Hyunhee turun dan menutup pintu mobil

 

 

Hyunhee menekan bel rumahnya, tak lama pintu terbuka dan berdiri seorang pria jangkung. “Oppa,” panggilnya pelan seraya menyunggingkan senyum.

 

Sang Oppa membalas senyum dan memeluknya. “Gadis nakal! Kemana saja kau?” omel Chanyeol.

 

“Maaf.”

 

“Liburanmu menyenangkan?” tanya Chanyeol terdengar menyindir.

 

Oppa tidak bekerja?” Hyunhee mengalihkan topik.

 

“Ti.dak! Aku bolos.”

 

“Kau akan kena marah Appa.”

 

Chanyeol menggeleng. “Appa juga membolos.” Hyunhee mengeryitkan keningnya. “Sudah, memangnya tujuanmu datang untuk inspeksi kehadiran karyawan. Masuk, karena ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”

 

“Siapa?”

 

Chanyeol tidak menggubris pertanyaan Hyunhee, dia mendorong punggung adiknya menuju ruang tamu. Di sana semua keluarganya berkumpul dan juga seseorang ….

 

“Hyunhee –ya,” panggil orang itu ketika melihat kedatangan Hyunhee.

 

Rasanya, waktu dan jantungnya berhenti berdetak.

 

___○– IFA –○___

 

Hyunhee terpaku melihat sosok cerminannya itu, kakinya entah mengapa melangkah mundur di saat orang itu hendak menghampirinya. Sang Oppa yang berada di sebelahnya mencekat lengannya, tapi Hyunhee menepis dan pergi meninggalkan rumahnya.

 

Saat di luar dia berpapasan dengan Nyonya Oh yang hendak masuk, wanita paruh baya itu menatapnya bingung.

 

Eommeoni, kita bicarakan hal ini lain waktu saja,” ucap Hyunhee dengan gusar. Dia menghampiri mobil dan masuk.

 

Nyonya Oh sendiri tak mengajukan pertanyaan meskipun dia sangat penasaran, dia memilih mengikuti Hyunhee untuk kembali dengan pikiran –mungkin kondisi Keluarga Park sedang tak baik.

 

 

Kenapa di saat akan menyelesaikan segala, dia ….

Pikiran Hyunhee rasanya buntu, dia tak tau harus berbuat apa. Tapi di lubuk hatinya dia merasa tenang dan bersyukur setelah melihatnya.

 

“Hyunhee –ya, kau baik-baik saja?”

 

“Ya?” Hyunhee tersadar dari pikiran sesaatnya. “Ya Eommeoni, aku baik-baik saja. Eommeoni sekarang pulang saja, sepertinya aku sedikit lelah dan ingin istirahat.”

 

“Sehun meminta Eommeoni untuk ___.”

 

“Tidak perlu Eommeoni, kali ini aku ingin sendiri. Kumohon,” potong Hyunhee.

 

“Baiklah, jaga dirimu.”

 

“Terima kasih Eommeoni.” Hyunhee membungkuk sampai mobil Nyonya Oh meninggalkan kawasan hotel. Dia berjalan masuk untuk kembali ke kamarnya.

 

Hyunhee menunggu pintu lift terbuka, saat dia telah masuk dan pintu lift hendak tertutup … sebuah tangan mencegahnya.

 

Seorang gadis berdiri di depannya. Hyunhee menatap gadis itu dengan bergetar. “Hyu … Hyunji –ya.”

 

“Kenapa kau lari, Sister?” tanya gadis bernama Hyunji itu, kembarannya –sembari melangkah masuk ke dalam lift.

 

Hyunhee tak menjawab. Dia bergeser sedikit dari tempatnya, menyediakan ruang lebih bagi saudaranya.

 

Manik Hyunji memperhatikan nomor lantai yang terus berganti naik. “Kau tak ingin bertemu denganku? Tak rindu padaku?” tanya Hyunji dengan nada tenang.

 

Berbeda dengan Hyunhee yang panik. “Bu … bukan begitu.”

 

Hyunji menghampiri kembarannya itu dan memeluknya. “Aku sangat merindukanmu. Maaf karena telah membuat kalian susah.”

 

Dalam rengkuhan sang saudara, Hyunhee terisak dengan tubuh kaku. Dia –pun sama halnya merasakan kerinduan dan khawatiran yang menyesak itu. Tapi Hyunhee juga tak tau harus berkata apa pada Hyunji mengenai Sehun dan yang terjadi selama dia tak ada.

 

 

Hyunhee dan Hyunji duduk bersebelahan di sofa, ada ketegangan diantara mereka.

 

“Kenapa kita diam-diaman seperti ini?” Hyunji memecah hening. “Ya! Apa kau punya salah padaku?” tuduhnya.

 

Hyunhee duduk dengan gugup, sedari tadi dia sibuk meremas jemarinya. Dia harus mulai cerita dari mana pada Hyunji? Hyunhee masih bermain dalam pikirannya. “Maafkan aku, Hyunji –ya. Aku tak bermaksud ___.”

 

“Chanyeol oppa sudah menjelaskan semua.” Hyunji berujar tenang. “Bukan kau yang salah, tapi aku … aku melarikan diri dari Sehun. Sementara dia … Aish! Memikirkannya membuatku kesal sendiri. Bodoh sekali mengira kau itu, aku!” Hyunji geram, dia meraih cangkir dan menenggak isinya, untuk melancarkan tenggorokannya.

 

Uhuk!

Dia batuk –tersedak. Hyunhee membantu menepuk punggungnya.

 

“Ceroboh!” rutuk Hyunhee.

 

“Panas, tau!” sungut Hyunji dan menjulurkan lidahnya sembari mengibaskan tangan.

 

Hyunhee beranjak dari duduk dan kembali dengan segelas air dingin.

 

“Terima kasih.” Hyunji menerima segelas air dingin itu dan segera meminumnya, tapi dia tak membiarkan air itu lolos dalam tenggorokannya, dia membiarkan air itu tetap dalam mulut hingga pipinya tampak menggembung –bermaksud untuk menahan sensasi dingin agar panas yang meradang lidahnya segera hilang.

 

“Jorok!” cela Hyunhee dan dia menepuk kedua sisi wajah Hyunji hingga gadis itu memuncratkan isi mulutnya ke wajah Hyunhee yang ada di hadapannya. Hyunhee menutup mata dan mulutnya ketika semburan air bercampur liur itu menerpa wajahnya, hingga persekian detik dia masih belum membuka mata dan mulutnya –malah semakin menutup rapat. Ekspresi jijik jelas terlihat di wajahnya saat ini.

 

“Maaf Hyunhee –ya, salah kau sendiri kau tepuk wajahku,” sesal Hyunji namun tetap menyalahkan tingkah Hyunhee. Hyunji menarik beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Hyunhee.

 

Hyunhee menerima tisu dan mengelap kasar wajahnya. Selesai. Dia membuka kembali matanya, namun pemandangan tak kalah menggelikan tersuguh di hadapannya –Hyunji tengah memamerkan puppy eyes dengan tangannya yang dia tangkupkan. Namun yang jadi poin adalah mulut Hyunji yang masih meneteskan air sisa-sisa semburannya –membuat saudaranya itu tampak semakin konyol. Hyunhee tergelak.

 

Hyunji awalnya bingung kenapa kembarannya tertawa, tapi selanjutnya dia juga ikut tertawa –katakan saja karena tawa itu dapat menular.

 

Air mata berlinang di dua sudut sepasang saudara itu lantaran terlalu larut dalam tawa, namun akhirnya mereka dapat segera berhenti karena mulai merasa efeknya pada perut mereka.

 

“Sepertinya aku perlu mandi.” Terlihat baju Hyunhee memang cukup basah.

 

 

Beberapa belas menit kemudian Hyunhee menyelesaikan mandinya dan keluar dengan pakaian lengkap.

 

“Apa kau tidak terlalu berlebihan Hyunhee –ya?” tanya Hyunji lantaran dia melihat handuk yang terlilit di kepala saudaranya yang menandakan dia juga mengeramaskan rambutnya.

 

“Rambutku juga ikut basah karena semburanmu, Hyunji –ya,” ujar Hyunhee sembari melangkah menuju ranjang dan ikut bergabung dengan Hyunji yang duduk bersandar di sana.

 

“Ya Tuhan, aku bukan menyemburkan air comberan!” frustasi Hyunji.

 

“Berhentilah terus berkelit, katakan apa yang membuatmu selama ini tak dapat kembali,” tuntut Hyunhee.

 

Dada Hyunji tampak mengembang kempis cukup lama, itu tampak seperti dia merasa sulit untuk bernafas. Namun setelah itu, akhirnya Hyunhee dapat mengetahui alasan dari kembarannya itu menghilang selama ini –termasuk fakta bahwa surat perpisahan itu adalah palsu.

 

Derai air mata kembali mengaliri tiap inci kulit wajah dua gadis itu, bahkan setelah beberapa menit berlalu Hyunji menyelesaikan ceritanya. Namun di banding Hyunji merasakan sendiri sulitnya masa selama dia jauh dari keluarga, Hyunhee yang hanya sebagai pendengar –air matanya tumpah lebih deras.

 

“Aku akan ambil minum.” Merasa dia membutuhkan sesuatu untuk melegakan perasaan sesaknya, Hyunhee beranjak dari ranjang dan keluar menuju dapur.

 

Saat ini Hyunhee berdiri di balik luar pintu kamar, setelah tak lagi melihat wajah kembarannya –air mata yang sebelumnya dia tahan beberapa saat lalu kembali tumpah. Dia membekap mulutnya kuat-kuat sembari menjauh dari kamar, tak membiarkan isakannya terdengar oleh Hyunji. Langkahnya yang goyah, membuatnya harus bertopang tangan pada dinding untuk dapat mencapai dapur. Namun baru sampai di ruang TV, Hyunhee sudah tak kuat dan jatuh bersimpuh.

 

Cerita Hyunji terus menerpa pikirannya. Hal buruk yang pernah dia bayangkan, ternyata benar-benar menimpa kembarannya. Hyunji yang selama ini menghilang, itu bukan keinginannya, tapi karena tak bisa kembali. Entah bagaimana dia bisa bertahan selama ini? Di tengah rasa ketakutan dan sendirian. Jika dirinya yang berada dalam posisi Hyunji, mungkin dia sudah hilang akal atau jiwa.

 

Seakan terengut oleh emosinya, Hyunhee tak menyadari ke datangan seseorang hingga sebuah tangan menyentak bahunya diikuti suara bernada cemas milik seorang pria.

 

“Hyunji –ya, gwaenchana?” Sehun sudah bertekuk lutut di hadapannya –mensejajarkan diri dengannya yang dalam posisi duduk bersimpuh.

 

Entah dorongan dari mana, Hyunhee menyergap Sehun dalam pelukannya –erat– dan wajahnya dia benamkan pada ceruk leher pria itu. Sementara Sehun dengan ketidaktahuannya, hanya dapat memberikan usapan lembut di punggung gadis itu dan membiarkannya tanpa mengajukan pertanyaan yang sebenarnya saat ingin dia lakukan.

 

“Sudah lebih baik?” tanya Sehun setelah terlepas rengkuhan sang Istri. “Ada apa?” Sehun menghapus jejak air mata pada pipi gadis itu.

 

Tampak Hyunhee sedang mengatur nafasnya. “Ada yang ingin aku katakan, tapi bisa kita bicara di tempat lain?”

 

Alis Sehun tampak meliuk, dalam benak dia bertanya –ada apa sebenarnya? Namun hatinya seakan mengatakan jika itu bukanlah hal yang baik, dia risau, tapi tetap mengikuti permintaan gadis itu.

 

[TBC]

 

Apa sebenarnya yang ingin Hyunhee bicarakan dengan Sehun?

Bagaimana kira-kira kelanjutan hubungan diantara mereka?

Hai guys~ aku balik nih!! Bawa Hyunji juga … gimana, seneng gak kalian? Akhirnya penantian kalian selama ini berakhir. *hembuskan nafas lega

Tapi alasan Hyunji ngilang masih aku simpan. Heheh .. *evilsmile

Sabar ya. Adakan yang bisa nebak?

Pertama, aku mau bilang minta maaf karena lama update. Adakah yang kangen aku? Masih penasan dengan kelanjutan cerita ini?

Setelah membaca komentar di chapter sebelumnya, aku kembali membaca ulang cerita ini secara keseluruhan sekaligus mengoreksi. Oh ya, terima kasih banyak yang telah mengingatkan aku dengan meninggalkan komentarnya tentang alur cerita ini. Aku terima setiap saran dan kritik dengan hati ringan dan mengharapkan saran lainnya dari kalian. Bagaimanapun aku masih memiliki banyak kekurangan dan terkadang sulit untuk melihat kekurangan itu sendiri. Mohon bimbingannya~

Setelah membaca ulang cerita ini, ah … alurnya memang lambat. Jadi aku menyimpulkan kalau itu sebagai penyebab kejenuhan (terbesarnya). Iya kah?

Jadi di chapter berapakan kalian mulai merasa cerita ini membosankan?

*tolong dijawab ya~ supaya aku gak mengulangi chapter membosankan itu dan memperbaikinya.

Selain itu, aku juga menata kembali cerita ini. Jadi chapter ini dan kedepannya itu berbeda dari yang sebelumnya telah aku konsepkan.

  1. Alur aku percepat, pada chapter ini aku pangkas sekitar 2 chapter.
  2. Terdapat perubahan urutan & adegan, sehingga berbeda pula aksi-reaksi nya.

Dan entah mana yang lebih bagus, versi sebelum atau sesudah revisi. *soalnya aku gak buat versi chapter sebelum revisi.

Kira-kira kalian penasarankah dengan versi chapter sebelum revisi?

Oke, sekian cuap-cuap aku. Tolong kiranya bisa dijawab pertanyaan aku. ^^

See you next chapter

#XOXO

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (CHAPTER 27)”

  1. Hyunji is back…. Penasaran kenapa hyunji menghilang lama… Bosen nunggu kelanjutannya sih kak… Sama bosen hyunhee harus sedih terus…

    1. Yey!! *Lempar mercon ke Hyunji xD
      Hehe.. mian, telah membuat dirimu menunggu..

      Hohoh .. sabar-sabar, badai pasti berlalu ya, Hyunhee 😊😊

  2. AKHIRNYA YANG DITUNGGU TUNGGU!!! :’) Aku suka sama alur cerita di chapter yang ini. Karena sangat sangat menjelaskan kelanjutan yang sebelumnya. Mohon maaf, di chapter sebelumnya memang agak membosankan karena mungkin menurutku ceritanya terlalu sedikit. Tapi untuk chapter yang ini, bener bener aku sangat suka dan lebih panjang ehehhehe. Aku penasaran gimana kelanjutannya? Bagaimana sama nasib Kai ? Kayaknya Hyunee sebenernya suka sama sehun tanpa disadari.. Bagaimana dengan Hyunji ? Ditunggu ya kelanjutannya!! 🙂

  3. Akhirnya keluar juga hyjunji, cuma kok ,si hyunji kayak orang biasa aja,padahal ngilang berbulan2. Menurut aq,yang agak bikin ngulur2 ketika hyuhee bertengkar terus sama sehun.soalnya hyunji gak keluar2 sih..wkwk..nanti baekhyun tetep nongol kan thor..wkwk,semangat!!!!

    1. HYUNJI IS BACK!! Separuh penantian kalian, akhirnya datang juga. Tinggal nunggu bom di lempar aja xD
      Hohoh .. aku memang sengaja buat kemunculan Hyunji jadi antiklimaks, menyesuaikan dgn karakternya yang santai dan gak mau terlalu mikirin hidup 😂😂

      Hyunhee sama Sehun mana ada akurnya, berantem Mulu emang. Beda klo sama Kai 🙈🙈

      Iyo, Baekhyun ada kok 😙😙

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s