[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 8)

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 8]

 

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family, Drama || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.ka Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s wife || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7

 

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

 

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan

Don’t be silent readers! Please, leave comment after reading

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

 This story is mine and my work

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

 

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Setelah mengantar Raerim, mereka pulang. Perjalanan ke rumah terasa panjang dan lama, terutama karena Chanyeol yang menjadi begitu pendiam. Hyunhee yang duduk di sebelah Oppa –nya, dia menyadari kesedihan yang tengah dirasakan pria itu.

 

Oppa,” panggil Hyunhee. Chanyeol mendehem, tanpa mengalihkan fokus dari jalan. Hyunhee tampak tak yakin untuk bicara, karena melihat ekspresi Kakak –nya itu.

 

“Kenapa?” tanya Chanyeol akhirnya.

 

“Aku mau buang air kecil,” ucap Hyunhee terdengar hati-hati.

 

“Ya?!” pekik Chanyeol. “Kita sedang di jalan tol, Hyunhee –ya,” ucap Chanyeol. “Kau tahanlah dulu.”

 

___ ___ ___

 

Chanyeol sedang menunggu Hyunhee yang sedang ke toilet, di mobil. Pada saat itu, terdengar dering ponsel dari jok di sebelahnya. Itu ponsel milik Hyunhee, ada sebuah pesan masuk. Chanyeol meraih ponsel tersebut dan melihat notifikasi –nya. Tertulis, dari Jongin. Tanpa sungkan, Chanyeol membuka pesannya.

 

From: Jongin Oppa

Kau sedang apa, Chagi –ya? Kapan aku bisa meneleponmu? Bogoshipo …. Saranghae ….

 

Chanyeol terkekeh saat membaca pesan itu, selanjutnya dia tampak memainkan jarinya di layar ponsel milik Hyunhee. Chanyeol terlebih dahulu menekan option ‘Reply’.

 

To: Jongin Oppa

Oppa … kapan kau pulang ke Korea, eoh?! Segera pulang dan nikahi aku!! Atau aku akan pergi dengan pria lain. 😛

 

[Send]

 

Chanyeol tertawa tertahan, sekarang dia tampak sedang menunggu balasan pesannya. Beberapa saat kemudian, ponsel Hyunhee kembali berdering. Kali ini sebuah panggilan masuk. Chanyeol terdiam sejenak, akhirnya dia memutuskan menolak panggilannya. Tapi ponsel Hyunhee tak berhenti berdering, kini hal tersebut membuat Chanyeol bingung sendiri, terlebih Hyunhee belum kembali juga dari toilet. Pada akhirnya, Chanyeol meletakkan kembali ponsel Hyunhee di jok sebelahnya.

 

Hyunhee sudah kembali, di masuk dan duduk. “Oppa maaf, tiba-tiba ada hal yang lebih besar mendesak untuk di keluarkan,” ucapnya dengan santai. Chanyeol jelas tau maksudnya itu.

 

Secara bersamaan, Hyunhee merasakan getaran dan mendengar suara yang berasal dari bawah bokongnya. “Eoh … kenapa ponselku ada di sini,” ucapnya setelah mengambil ponsel tersebut. “Jongin oppa?” Hyunhee mengangkat panggilannya.

 

Yeoboseyo Oppa, waeyo?” – “Ya?” – “Pesan? Pesan apa?” Hyunhee me –minimize layar panggilan dan beralih pada kotak pesan masuk. “Mwoya igeo? Aku tak mengirimnya, sungguh.” Persekian detik kemudian, Hyunhee mengalihkan tatapannya pada orang ada di sebelahnya, yang tak lain adalah Oppa –nya sendiri. “Chanyeol oppa! Aish … kau ini benar-benar, ya!” ucap Hyunhee meninggikan nada suaranya. “Jongin oppa, aku tutup dulu teleponnya. Aku ada urusan mendesak.”

 

Hyunhee secara membabi buta langsung memberikan pelajaran pada Chanyeol; menjewernya, menarik rambutnya, mencubitnya, bahkan hingga menggigitnya.

 

—-oOo IFA oOo—-

 

Sudah lewat dari sepekan sejak kecelakaan itu terjadi, tapi belum ada kabar tentang Hyunji. Dan hingga hari ini pula, Hyunhee masih datang menjenguk Sehun di rumah sakit sembari merawatnya. Kondisinya masih sama, dia belum sadarkan diri. Saat ini Hyunhee sedang menyeka tangan Sehun dengan handuk basah, seperti biasanya. Hingga mata Hyunhee menangkap adanya pergerakan pada jari Sehun, lantas Hyunhee langsung menatap kearah wajah pria itu. Dilihatnya Sehun membuka mata, tanpa pikir panjang Hyunhee langsung menekan tombol dekat ranjang untuk memanggil Perawat atau Dokter.

 

“Ohhh~ Syukurlah kau sudah sadarkan diri,” ucap Hyunhee menitikkan air matanya.

 

Tiba-tiba tangan Sehun menggenggam lengan Hyunhee, membuat gadis itu kembali menatapnya. “Uljima,” ucap Sehun tak terdengar jelas karena suaranya tertahan alat bantu bernafas.

 

Tak lama Perawat dan Dokter masuk ke ruangan tersebut, Hyunhee mundur agar Dokter dapat memeriksa kondisi Sehun.

 

Setelah mendengar kabar Sehun yang siuman, orang-orang mulai datang untuk menjenguk, termasuk keluarga Hyunhee yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Chanyeol.

 

“Aku sangat bersyukur Sehun telah siuman, setidaknya tak lama lagi kita akan dapatkan informasi mengenai Hyunji,” ucap Chanyeol penuh harap.

 

“Sabar Oppa, dia baru saja siuman. Paling tidak, biarkan dia pulih atau stabil dulu,” ucap Hyunhee.

 

“Hyunhee –ya,” panggil Nyonya Oh pelan sembari menghampiri Hyunhee. Nyonya Oh memegang pundak Hyunhee. “Sehun terus memanggil-manggil Hyunji, bisa kau menghampirinya?” ucap Nyonya Oh meminta.

 

“Ta .. tapi, Eomeoni,” Hyunhee bicara tergagap.

 

Eomeoni mohon, padamu. Sehun baru saja siuman, tak mungkin mengatakan jika Hyunji hilang. Dia bisa terguncang.” Hyunhee tampak ragu, dia menggigit ujung bibirnya. “Hyunhee –ya,” panggil Nyonya Oh sembari menggenggam tangan Hyunhee.

 

Hyunhee menghela nafasnya. “Tapi Eomeoni, akan lebih menyakitkan bagi Sehun jika membohonginya. Terlebih jika dia sampai tau jika aku bukan Hyunji,” elak Hyunhee.

 

“Kau cukup menemuinya,” ucap Nyonya Oh bersi keras.

 

___ ___ ___

 

Sehun melihat seorang gadis melangkah kearahnya, namun langkahnya begitu lambat dan ragu.

 

“Hyunji –ya,” panggil Sehun dan menggenggam tangan gadis itu. “Hyunji –ya,” panggilnya lagi.

 

“Ya,” jawab Hyunhee pelan, hampir tak terdengar.

 

“Hyunji –ya,” panggil Sehun lagi. “Kenapa kau terus menunduk? Kau enggan melihatku? Masih marah padaku?” tanya Sehun.

 

“Tidak,” jawabnya singkat dan tampak masih enggan mengangkat kepalanya atau –pun menatap Sehun. “Mianhae,” ucap Hyunhee dengan suara bergetar. Titik air mata jatuh dari pelupuk matanya.

 

Sehun merengkuh Hyunhee ke dalam dekapannya, membuat gadis itu terkejut awalnya, namun selanjutnya memilih untuk menerima. Hyunhee tak punya kekuatan untuk lepas dari rengkuhan Sehun yang terlampau erat.

 

°°°°°

 

*Note: disini Sehun menganggap Hyunhee sebagai Hyunji. Mohon pembaca juga tidak tertipu layaknya Sehun ataupun menjadi bingung. Terima kasih  🙂

 

Chanyeol sedari tadi memperhatikan Sehun juga Hyunhee dari kejauhan, terpancar rasa khawatir dari raut wajahnya. Hingga sebuah tepukkan di bahu membuatnya menoleh.

 

“Chanyeol –ah, ayo kita pulang,” ucap Nyonya Park.

 

“Ya, aku akan penggilkan Hyunhee dulu,” jawab Chanyeol.

 

Chanyeol menghampiri Hyunhee yang masih menemani Sehun, dia terlebih dahulu menepuk bahunya. “Ayo pulang,” ucap Chanyeol pelan. Hyunhee mengangguk.

 

“Akh … Hyung, tidak bisakah Hyunji tetap tinggal?” pinta Sehun dan menahan tangan Hyunhee.

 

“Dia akan tidur dimana? Xiumin hyung saja tidur di sofa,” balas Chanyeol.

 

“Disini,” ucap Sehun sembari menepuk ranjang di sisi lainnya. “Ranjang ini cukup luas, muat saja jika kami tidur berdua,” sambungnya.

 

“Enak saja!” jawab Chanyeol spontan dan terdengar sedikit sewot. “Mau –ku patahkan juga tanganmu?”

 

Sehun lantas melepaskan tangannya dari Hyunhee. “Hyunji –ya, besok kau harus datang. Jangan lupa oleh-olehnya.”

 

 

Saat kedua orang tuanya telah turun dari mobil, Hyunhee masih termenung duduk di bangku mobil depan sebelah Chanyeol yang mengemudi.

 

“Kau tidak turun? Mau menginap di garasi?” tanya Chanyeol. Hyunhee diam. “Kenapa?” tanyanya kali ini.

 

Oppa, sampai kapan aku harus berbohong? Rasanya menyakitkan, bahkan hanya untuk persekian detik. Disini bukan Sehun saja yang dibohongi, aku juga merasa membohongi diriku sendiri. Terlebih lagi pada Jongin oppa dan Hyunji, aku merasa mengkhianati mereka,” ucap Hyunhee pilu.

 

Oppa juga tidak tau harus mengatakan apa. Pribadi Sehun yang rapuh, membuat kita juga harus berhati-hati terhadapnya,” jawab Chanyeol sama putus asa –nya.

 

Sebuah kebohongan itu seperti bola salju, semakin jauh kau menggelindingkannya, maka ia akan menjadi semakin besar. –Martin Luther.

Karena diperlukan kebohongan lainnya, untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Dan akan terus seperti itu, sehingga tanpa sadar kau sudah terbiasa dengan kebohongan itu.

 

○°○

—-oOo IFA oOo—-

○°○

 

Chanyeol yang sudah rapi dengan setelan kemeja dan jas –nya hendak berangkat ke kantor, namun tepat sebelum dia pergi, dia mendapatkan telepon. Sehun –lah yang meneleponnya, Chanyeol langsung saja menjawab panggilan tersebut. Setelah menerima telepon tersebut, Chanyeol kembali memasuki rumahnya dan naik ke lantai dua menuju kamar Hyunhee. Saat dia masuk, gadis itu masih menggulung diri dengan selimut. Chanyeol menggucangkan tubuh gadis itu untuk membangunkannya.

 

“Kau tidak kerumah sakit, eoh?” tanya Chanyeol.

 

Hyunhee menarik dua tangan ke atas, melakukan peregangan sejenak. “Jam berapa memang sekarang?” tanya Hyunhee lalu beranjak duduk sembari menerjapkan matanya.

 

“Pukul tujuh,” jawab Chanyeol sembari melihat ke arloji yang terpasang di pergelangan tangannya.

 

“Ya Tuhan, Oppa! Ini masih sangat pagi. Memangnya aku akan memandikan dia (Sehun)?”

 

“Mana –ku tau. Dia (Sehun) tadi meneleponku, menyuruhmu segera datang,” jawab Chanyeol.

 

“Aku masih ngantuk.” Hyunhee menelungkupkan wajahnya di atas telapak tangannya. “Kalau bisa, aku tak usah datang.”

 

“Itu terserah kau,” jawab Chanyeol lalu meninggalkan Hyunhee di kamarnya.

 

°

°

 

Sebuah senyum menyambut kedatang seorang gadis, begitulah pemandangan yang terlihat saat Hyunhee memasuki ruang rawat Sehun. Tapi Hyunhee sungguh tak ingat jika Sehun bisa tersenyum semanis itu, karena yang dia tahu, Sehun dan Hyunji lebih sering bertengkar. Pikirnya, otak Sehun sudah koslet setelah kecelakaan itu.

 

Hyunhee duduk didekat ranjang Sehun, karena pria itu yang memintanya.

 

“Terima kasih Hyunji –ya, kau sudah datang dan merawat Sehun selama ini,” ucap Nyonya Oh yang berdiri di samping meja, sedang menyiapkan makanan untuk Sehun.

 

Hyunhee bingung harus menjawab apa, jadi dia hanya bilang, “Ya, Eomeoni.”

 

Dengan mangkuk berisi bubur, Nyonya Oh menghampiri Sehun. “Sekarang kau makan dulu,” ucap Nyonya Oh sembari mengulurkan tangannya yang memegang sendok di depan mulut Sehun.

 

Eomma, aku sudah besar. Bisa makan sendiri,” tolak Sehun, matanya melirik samar kearah Hyunhee.

 

Tapi Nyonya Oh belum sadar juga dengan isyarat dari lirikkan mata Sehun dan masih saja hendak menyuapi makan anaknya itu. “Bangun saja susah, bagaimana mau makan sendiri.”

 

Bibir Sehun tampak komat-kamit dan masih memberi isyarat dengan melirik Hyunhee. Hingga Nyonya Oh tersentak dan langsung menyodorkan mangkuk itu pada Hyunhee. “Eoh … kau ini, bilang saja tak mau disuapi oleh Eomma.”

 

Sehun hanya nyengir. “Eomma peka –lah sedikit,” sindirnya.

 

Nyonya Oh mendecak.

 

Akhirnya Hyunhee yang menyuapi Sehun, tapi tampaknya dia tak sabar dan terus menyuapkan buburnya ke gua mulut Sehun. “Hyunji –ya, pelan-pelan. Ini saja belum tertelan,” ucap Sehun yang tampak kewalahan.

 

“Buburnya –kan encer, jadi tinggal telan saja,” marah Hyunhee, tapi masih terdengar lembut.

 

“Leherku –kan di gips, jadi saluran makanan jadi menyempit, makanya susah juga menelan,” ucap Sehun berkelah.

 

Ucapan Sehun barusan terdengar seperti bualan bagi Hyunhee dan membuat dia mendengus, tampaknya rasa kesalnya pada pria itu telah kembali.

 

___ ___ ___

 

“Kau sedang apa, Hyunji –ya?” tanya Sehun sedikit meninggikan nada suaranya, karena gadis itu sedang berada di kamar mandi.

 

Tak lama, Hyunhee keluar dari kamar mandi dengan wadah plastik berisi air dan handuk kecil. Lalu dia memberikan handuk kecil yang sebelumnya telah dia peras airnya, kepada Sehun. “Usapkan pada wajahmu, tangan dan kemudian kaki,” ucap Hyunhee memberi petunjuk.

 

Namun sepertinya Sehun tidak mendengar, dia malah lebih dulu mengusap tangannya.

 

“Sehun –ssi, ku bilang usapkan dulu pada wajahmu.” Kali ini nada Hyunhee terdengar sedikit geram.

 

“Kau marah padaku?” tanya Sehun.

 

“Tidak,” sanggah Hyunhee cepat.

 

“Iya tuh … tadi kau panggil aku ‘Sehun –ssi’. Kau selalu seperti itu jika marah, bahkan aku hampir tak pernah mendengarmu memanggilku Oppa.”

 

“Ya, Sehun oppa,” sahut Hyunhee setengah hati.

 

“Aku tak ingat kau menjadi begitu penurut seperti ini,” komentar Sehun.

 

Hyunhee tersentak, dia terdiam sejenak dan berpikir. ‘Haruskah aku jadi pembangkang seperti Hyunji,’ gumamnya. “Sebenarnya apa sih, maumu?” bentak Hyunhee.

 

Sehun malah terkekeh. “Tak –ku sangka, sifat pemarahmu kembali secepat ini.”

 

Hyunhee mendengus. “Sudah, berikan handuknya pada –ku.” Hyunhee mengambil handuk kecil itu dan mulai menyeka wajah Sehun. Sementara di saat itu, Sehun terus memandangi wajah Hyunhee yang ada di hadapannya. “Berhenti melihatku seperti itu,” ucapnya mengutarakan ketidak nyamanannya.

 

Merasa tertangkap basah, Sehun langsung mengalihkan pandangannya. Dia melihat bungkusan yang tergeletak diatas meja yang tak jauh dari ranjangnya. “Itu apa?” ucap Sehun sembari menunjuk kearah bungkusan yang dia lihat tadi.

 

Hyunhee mengikuti arah tangan Sehun. “Itu makanan yang ku bawa dari rumah,” jawab Hyunhee datar.

 

“Apa ada juga oleh-oleh untukku?” tanya Sehun.

 

“Oleh-oleh apa?” Hyunhee balik bertanya.

 

“Kau kan dari London, tidak bawa oleh-oleh?”

 

“Tidak sempat membelinya,” jawab Hyunhee sekenanya, dia masih sibuk menyeka kulit Sehun dengan handuk basah.

 

“Apa saja yang kau lakukan di London sampai tak sempat membeli oleh-oleh untukku?”

 

“Aku hanya diam di apartemen Jongin oppa,” jawab Hyunhee lagi.

 

Namun beberapa saat kemudian, dia tampak tersentak dengan ucapannya sendiri dan menghentikan pergerakan tangannya yang tengah menyeka kulit Sehun tadi. Hyunhee langsung mengalihkan tatapan pada Sehun, memandangi pria itu untuk melihat reaksinya. Setelah dia merasa sudah salah berucap. Hyunhee benar-benar tak sadar, ucapan itu lolos begitu saja dari mulutnya. Dia menjawab pertanyaan Sehun, sesuai yang ada di pikirannya dan yang dia alami.

 

“Owh … jadi kalian tinggal di apartement Jongin. Dia pacarnya Hyunhee, bukan?” Berbeda dengan Hyunhee yang tampak gusar sebelumnya, tak di sangka jika Sehun merespon cukup santai dengan jawabannya tadi. “Oh ya … aku sempat menghubungimu, tapi tak pernah dapat tersambung. Jadi aku menelepon Hyunhee dan saat itu juga bukan saudaramu yang mengangkat, tapi Jongin,” jelas Sehun. “Kenapa kau tak mengangkat teleponku, eoh?”

 

Hyunhee kembali diam dan berpikir, dia harus jawab apa. Dia tak ingin salah berucap lagi dan membuat Sehun curiga. “Ru … rusak, ponsel –ku rusak,” jawab Hyunhee tersendat-sendat.

 

“Begitukah? Jadi sejak di London ponsel –mu rusak dan sampai sekarang kau belum memperbaikinya?” tanya Sehun. Hyunhee kembali berpikir, dan kemudian memilih mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sehun. “Lalu bagaimana aku akan menghubungimu, jika tiba-tiba aku merindukanmu?” tanya Sehun, jelas dia sedang menggoda gadis yang ada di hadapannya.

 

Namun Hyunhee terlalu pasif untuk merespon godaan Sehun, dia hanya mengangkat bahunya, sebagai jawaban ketidak-tahuannya atau mungkin juga dapat diartikan sebagai ketidak-peduliannya. Tentu itu bukan respon yang diharapkan Sehun, karena setidaknya dia menginginkan gadis itu tersipu karena ucapannya.

 

○○°○○

 

Sehun tak ada bosan-bosannya menanyakan tentang liburan gadis itu di London, sementara Hyunhee hanya bisa menjawab seadanya atau mungkin mengarangnya.

 

“Se ––” Hyunhee hampir memanggil pria itu dengan sebutan formal ‘Sehun –ssi’ lagi, namun dia segera menyadarinya. “Sehun oppa.” Lidah Hyunhee rasanya kelu menyebut panggilan itu, dia sungguh tak dapat membiasakan diri.

 

Sehun mendehem. “Ada apa, Hyunji –ya?” lanjutnya bertanya.

 

“Kau sedari tadi hanya bertanya tentang liburan –ku ke London, tak adakah hal lain yang ingin kau tanyakan atau bicarakan?” tanya Hyunhee berinisiatif. Sebenarnya dia juga sama penasarannya dengan Chanyeol yang ingin menanyakan sesuatu, perihal kecelakaan itu pada Sehun. Tapi mereka memilih bersabar, menunggu kondisi Sehun pulih dahulu.

 

“Seperti apa misalnya?” tanya Sehun.

 

Haruskah aku menanyakan padanya, bagaimana dia bisa kecelakaan. Bagaimana dia bisa selamat, sedangkan Hyunji hingga saat ini belum dapat di temukan,” batin Hyunhee.

 

“Hyunji –ya … Hyunji –ya,” panggil Sehun beberapa kali dan barulah Hyunhee tersadar di saat dia tengah hanyut dalam pikirannya sendiri.

 

“Eum … ya?” Hyunhee menerjapkan matanya. Sehun masih menatap gadis itu, menunggunya untuk kembali bicara. “Owh … itu tadi aku lupa mau tanya apa,” ucap Hyunhee berkelah. “Aku mau ke toilet dulu.” Dia beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Sehun.

 

Hyunhee berdiri di depan wastafel, matanya memandangi pantulan dirinya di cermin.

 

“Hyunji –ya,” ucap Hyunhee masih memandangi pantulan dirinya di cermin. “Sampai kapan aku harus berbohong?” ucapnya lagi lirih.

 

Tanpa di minta, air mata Hyunhee lolos begitu saja.

 

“Eoh … sial. Kenapa aku menangis?” Hyunhee menengadahkan kepalanya sembari mengusap air matanya yang terus mengalir itu. “Hyunhee –ya, berhentilah menangis sebelum matamu bengkak,” ucapnya pada diri sendiri. Selanjutnya dia membasuh muka dengan air beberapa kali, baru setelah itu dia keluar.

 

Hyunhee berjalan menunduk menghampiri Sehun. Saat dia berdiri tepat di samping pria itu, suatu hal yang sebelumnya begitu sulit dia utarakan … kini lolos begitu saja, keluar dari mulutnya. “Oppa, bagaimana bisa kau mengalami kecelakaan itu?” tanyanya mencoba untuk terdengar sedatar mungkin. Di balik wajahnya yang tertunduk, Hyunhee sedari tadi sedang menggigit ujung bibirnya.

 

Sehun tak lantas menjawab.

 

 

[TBC]

 

Kira-kira apa jawaban Sehun terkait pertanyaan yang diajukan Hyunhee padanya?

 

– Sadarkah kalian, jika Sehun tak sama sekali membahas perihal kecelakaannya? Kenapa dia melakukan itu? Apakah dia mencoba berlaku biasa saja, seakan tidak terjadi apa-apa?Apa tujuan sebenarnya dia melakukan itu? Atau ada hal lainnya? –

 

○○○○○○○○○

 

[Preview Chapter 9]

Nyonya Oh baru saja dari luar dan kembali ke ruangan Sehun. Saat dia masuk, dia menemukan sebuah surat yang tergeletak di lantai, Nyonya Oh lantas membungkuk dan mengambilnya.

 

Sebuah surat tanpa nama dan alamat pengirim. Rasa penasaran membuatnya terdorong untuk mengetahui isi surat itu, maka Nyonya Oh membuka dan membaca surat tersebut.

 

Nyonya Oh tampak bingung saat membaca isi surat tersebut. Namun tak lama kemudian, raut wajahnya berubah. Ekspresi terkejut muncul dari wajahnya saat membaca kata terakhir yang terletak pada pojok kanan bawah surat tersebut.

 

°

°

°

 

Akhirnya Sehun siuman, chingu –ya! Siapa yang kangen sama si abang satu ini? Hand-up!

Hahhah … udah, itu aja. #abaikan #gaje 😀

Oh ya, Chanyeol bilangkan pribadi Sehun itu rapuh. Itu karena Sehun dulunya pernah mengalami hal-hal yang menyakitkan. Salah satunya, sering kehilangan kekasih. Nah, sifat posesifnya muncul karena itu. Terus kalo dia lagi emosi, itu dia lampiaskan dengan minum sampai mabuk. Kalian tau sendirikan gimana orang kalo udah mabuk, lupa daratan. Dan pada chapter prolog juga, Sehun berkeliaran di jalan sambil mabuk. Syukurnya ada yang nolong dia.

Semoga setelah ini dia sadar dan tobat. ^.~

 

Terima kasih aku ucapkan sekali lagi pada para pembaca, atas apresiasi kalian. Saranghaeyo~ ❤ dan tetap menantikan setiap kesan/pesan pengalaman kalian setelah membaca FF aku ini. ^^

 

See you next chapter

#XOXO

 

 

30 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 8)”

  1. Si abang sehun..kayaknya amnesia tuh,dia g ngomong apa2 mengenai kecelakaannya,malah taunya hyunji habis dari london.kasian hyunhee..terpaksa bohong.hyunhee dan hyunji kembar identik banget YA..sampai sehun g bisa bedain,penasaran ama chapter selanjutnya..Terimakasih thor to chapter ini,semangat ya..

    1. Mari tunggu chapter selanjutnya, kira-kira tebakan kamu klo Sehun amnesia, benar atau gak. Fighting! *dapet kecup nanti dari aku *almeera kabur :’-D
      Iya, ingatan Sehun cuman sampe pas dia nelepon Hyunhee dan yg angkat malah Jongin. Soalnya dia masih sadar & emosinya stabil. Dan emosinya mulai berubah pas Sehun telepon Chanyeol buat nanya kabar Hyunji, tp Chanyeol juga gak tau. Disitu Sehun mulai frustrasi, putus asa dan minum-minum. Pikirannya jadi kacau, emosinya jadi naik-turun. *(klo kurang jelas, coba baca lg Chapter 4)
      Batin Hyunhee pasti tertekan karena harus berbohong, bahkan dia menganggap dirinya sudah berkhianat sama Jongin juga Hyunji. Tapi disisi lain, dia gk bisa mengabaikan rasa ibanya ke Sehun.
      Iya, aku mem -visualisasikan kalau Hyunhee-Hyunji itu kembar identik. Sebenernya itu dr pengalaman aku yg gak bisa bedain kakak kelas yg kembar, sampai hampir kelulusan 😀 Padahal hampir tiap hari ketemu di sekolah. Coba bayangin, gmn Sehun mau ngebedain Hyunhee-Hyunji, sdg kan dia jarang ketemu karena sering bertengkar. Kenal Hyunji aja baru beberapa bulan, terus langsung lamar.
      Astaga! Panjang bgt ini balasan 😀 😀 😀

  2. Hand up ala spa dlu? 2pm?blackpink?ap bap??🤣🤣🤣🤣
    Ampun dije….jong..balik korea napa jong??ayang ebebmu d ambil s cadel jong…
    Cadel…ayang ebebmu msh ilang..jgn godain ayang ebebny kamjong dehhhh..
    Caplang tampan bininyaaaa dikurung jaaa biar ga ktmu cadelll…
    Ne smua cewe cewe pada disekelilingny cadel..heraannn…km pake pelet apa del??tp emg cadel ganteng ciiii 🤣🤣🤣🤣
    Aku ngomong apa ini…ga fokus kan gegara byangin ketampanan hakikiny mreka brtiga wkakaakakak
    Fighting!!!😆

    1. Akh … Jinjja! Tau gak sih, rasanya aku antusias bgt baca komentar kamu. xD Semangat gitu. Kamsahamnida~
      Hand up ala 2PM. Itu yg paling familiar di ingatan aku. Haha … 😛
      Salahkan saja Junmyeon yg ngirim adeknya keluar negeri & jadi misah sama Hyunhee. Salahkan Jongin juga yg gak buru-buru nikahin Hyunhee. Padahal -mah -kan -ya, klo perempuan udh nikah itu emang ikut suami.
      Sehun sudah dibutakan cinta, makannya gak bisa ngebedain yg mana pacarnya.
      Tenang, istrinya Chanyeol udh terbang lagi.. aman dah … 😀
      Sehun mah gak usah pake pelet dia, di kedipin juga udh meleleh .. xD
      #SKY

    1. Tenang aja, Hyunji gak meninggal kok. Nama dia masih bertengger (?) di daftar cast. Kalo ilang, iya. Dirawat orang lain? Hmmm~ *mikir* bisa jadi. Mungkin juga karena Hyunji gak bisa pulang, atau bahkan gak mau pulang. O.o
      Surat apa dan dari siapa, akan diungkap seiring berjalannya alur. Mohon sabar, ini cobaan. 🙂
      Jongin, untuk saat ini dia belum tau ya, kalo pacarnya lagi di keep sama Sehun. Yang sabar bang Jongin #hug #modus 😀

  3. Si hyunji kapan balik thoor..
    Kasian hyunhee hrus bhong ma abang sehun..

    Keep writing thoor
    D tunggu chap selanjutnya..

    1. Huhu … Hyunji -ya, banyak yg nanyain kamu tuh. Kamu kapan baliknya toh, ndok? U_U
      Kesian juga kembaranmu itu, susah hidupnya gara-gara kudu boong ke pacarmu
      Terimakasih atas apresiasi & telah bersabar menunggu chapter selanjutnya. :*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s