[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 18)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 18]

Author    : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt and Marriage Life

Rating : PG – 13

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi || #16 || #17  

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Hyunhee menerjapkan matanya, dia terbangun setelah tak sadarkan diri sebelumnya. Namun selanjutnya dia dengan cepat menoleh untuk mengetahui keberadaan seseorang dan saat dia telah menemukan orang tersebut, maka secepat itu pula ingatan buruknya datang –tentang bagaimana pria itu memperlakukannya.

Oh Sehun, pria itu duduk di kursi yang terletak di sudut kamar sembari membaca lembaran dokumen. Biarpun saat ini sudah menunjukan pukul dua dini hari, tapi matanya seakan tak pernah terlihat mengantuk. Dia masih fokus membaca deretan huruf bahkan angka yang tercetak di kertas. Namun perhatiannya teralih karena ekor matanya menangkap pergerakan dari atas ranjang. Sehun beranjak dari duduknya dan meletakan dokumen tersebut di meja lalu menghampiri gadis yang terduduk di ranjang.

“Hyunji –ya, kau sudah bangun,” ucap Sehun pelan.

Tubuh Hyunhee menegang ketika melihat pria itu sudah beranjak dari duduk dan menghampirinya, dia segera menuruni ranjang dengan tergesa-gesa. Ketakutan masih tersisa dalam dirinya. Setelah turun dari ranjang, Hyunhee berlari menuju toilet yang berada di dalam kamar dan menguncinya.

Sehun yang melihat gadis itu berlari, tentu saja dia mengejarnya. Namun gadis itu sudah lebih dulu masuk ke dalam toilet dan dikunci sehingga Sehun kehilangan kesempatannya. Di luar pintu, Sehun masih mengetuk sembari memanggil nama gadis itu, berharap dapat di bukakan pintu.

“Hyunji –ya, jebal mianhae,” ucap Sehun lirih. “Kita bicara dulu, eoh? Aku janji tak akan menyakitimu lagi. Mianhae.”

Tapi sebanyak apapun Sehun bicara dan meminta, gadis itu tak kunjung membukakan pintu atau menyahuti ucapannya. Sehun beralih dari pintu dan menuju nakas untuk mencari kunci cadangan, namun hanya keluar dengusan kekesalan darinya, lantaran kunci cadangan tak ditemukan. Tak menyerah sampai di situ, Sehun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

Hyung, cepat hubungi tukang kunci!” titah Sehun saat teleponnya tersambung dengan lawan bicaranya –Xiumin.

Pria itu sudah gila, mana ada jasa tukang kunci yang buka pukul tiga dini hari.

“Aku tidak mau tau, pokoknya panggil siapapun yang dapat membukakan pintu toilet di kamarku,” balas Sehun tak menerima penolakan.

Sehun meremas rambutnya kasar, karena lawan bicara itu masih saja melempar pertanyaan untuknya –tidak bisakah dia hanya menurut. Sehun sudah kepalang kesal saat ini.

“Akh … Hyung, jebal! Hyunji sedang di dalam toilet dan terkunci,” jawab Sehun akhirnya dengan nada sedikit membentak.

Sehun berlari menuju ruang depan sesaat setelah mendengar suara bel dan membukakan pintu. Namun saat dia membuka pintu, hanya ada seorang pria yang ada di hadapannya sembari menenteng sebuah tas. Tanpa mempersilakan masuk terlebih dahulu, Sehun langsung mengajukan pertanyaan pada orang tersebut.

Hyung  sendiri? Dimana tukang kuncinya?” tanya Sehun sembari celingak-celinguk di lorong apartemen.

“Aku,” jawab pria itu –Xiumin.

“Kau?” tanya Sehun dengan tatapan meremehkannya.

Xiumin mendecih, tak terima diremehkan seperti itu. “Lihat saja, dengan ini aku bisa membuka pintunya.” Pamer Xiumin sembari mengangkat tinggi-tinggi tas yang berisi perkakasnya.

Xiumin melangkahkan kaki lebih dulu dan masuk, meninggalkan Sehun yang masih menutup pintu.

Saat ini Xiumin sudah ada di depan pintu toilet yang barada di dalam kamar, dia mengeluarkan beberapa alat dan Sehun hanya berdiri di sebelahnya sembari memperhatikan.

“Hyunji –ya, sabar, eoh … Oppa akan segera membukakan pintunya,” ucap Xiumin.

Andwae!!” teriak Hyunhee dari dalam dengan suaranya yang terdengar serak. “Jebal Xiumin oppa, jangan buka pintunya,” pinta Hyunhee di sela-sela isakannya.

Xiumin merasa aneh, lantas dia langsung menatap penuh tanya pada Sehun. “Sehun –ah, ada apa ini? Kenapa sepertinya Hyunji terdengar menangis di dalam? Katakan. Dia terkunci atau mengunci diri?” selidik Xiumin.

Sehun menghela nafasnya berat, pada akhirnya dia hanya dapat menceritakannya pada Xiumin.

Dan Xiumin hanya dapat berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya! Sekiya! Neo micheosseo?!” umpat Xiumin sembari memberikan jitakan kuat di kepala Sehun. “Bisa-bisanya kau berbuat kasar pada perempuan! Neo namja, eoh!!”

“Akh … Hyung, hentikan. Sakit,” adu Sehun memelas. “Aku hanya terbawa perasaan saat itu,” dalihnya.

Xiumin tak menerima alasan Sehun dan dia masih kesal pada pria itu, lantas dia menendang bokong Sehun kuat-kuat untuk melampiaskan emosinya. “Perasaan, pantatmu!! Jelas-jelas itu nafsu dan emosi!”

Setelah puas memberi penghajaran pada Sehun, Xiumin kembali mendekati pintu toilet.

“Hyunji –ya, kau tenang dulu, eoh. Dengarkan oppa,” ucap Xiumin lembut untuk membujuk gadis itu. “Oppa tidak akan akan membuka paksa pintunya, jadi oppa minta kau yang buka pintunya.”

Shireo!! Aku takut,” jawab Hyunhee masih dengan isakannya.

Xiumin memahami ketakukan gadis itu, jadi Xiumin menyuruh Sehun untuk pergi dengan mengibaskan tangannya kearah pria itu. “Pergi sana, cepat.”

Sehun menggeleng kuat, dia menolak untuk pergi.

“Dia takut padamu, Oh Sehun,” ucap Xiumin penuh penekanan lantaran dia juga ikut geram pada pria itu. “Kalau kau tak mau pergi, maka Hyunji juga tak mau keluar. Apa kau tega membiarkannya terus di dalam sana? Dia mungkin saja kedinginan,” jelas Xiumin.

Akhirnya dengan berat kaki, Sehun melangkah pergi keluar dari kamarnya.

“Hyunhee –ya, Sehun sudah pergi. Bisa kau buka pintunya sekarang,” ucap Xiumin bicara dengan nada lembut lagi.

Butuh beberapa menit bagi Xiumin mununggu untuk gadis itu membukakan pintu. Namun saat gadis itu keluar dan memperlihatkan wajahnya, Xiumin sungguh miris menatapnya. Dia bertanya, sebenarnya seburuk apa perlakuan Sehun pada gadis itu.

“Kau duduklah dulu, Oppa akan ambilkan air,” ucap Xiumin lalu keluar kamar.

Sehun beranjak dari duduknya ketika melihat pintu kamar terbuka dan menghampiri Xiumin.

“Bagaimana Hyunji, Hyung?” tanya Sehun penasaran sekaligus khawatir.

“Kau keterlaluan Hun –ah, dia sangat ketakutan sampai tubuhnya tak berhenti bergetar,” jelas Xiumin menyalahkan Sehun. “Jika aku ini Oppa –nya (Chanyeol), aku sudah menghajarmu tanpa ampun,” ucap Xiumin disertai kilatan kemarahan.

Xiumin berjalan meninggalkan Sehun untuk mengambil air minum dan setelah itu kembali masuk ke kamar tanpa menghiraukan Sehun yang memanggilnya.

___○– IFA –○___

Berselang sekitar empat puluh menit setelah Xiumin masuk, dia keluar kembali dari kamar. Kali ini di ikuti seorang gadis di belakangnya –Hyunhee. Tapi tunggu, kenapa Xiumin membawa koper besar? Sehun lantas menghampirnya, namun ditahan oleh Xiumin dan Hyunhee bersembunyi di balik badan Xiumin.

“Jaga jarak. Menjauhlah lima meter dari kami,” titah Xiumin.

Baiklah, Sehun menurut. Tapi jelaskan untuk apa koper besar itu.

“Sepertinya untuk saat ini, lebih baik Hyunji tinggal terpisah darimu. Setidaknya sampai kondisinya membaik,” jelas Xiumin. “Tidak ada penolakan, Oh Sehun. Disini kau yang bersalah,” sambung Xiumin. Tampaknya dia sudah sangat hafal dengan gelagat Sehun, bahkan dia tak membiarkan pria itu untuk buka mulut dan menyuarakan protesnya.

Tapi bukan Sehun jika dia tak keras kepala. “Paling tidak, biarkan aku tahu dimana Hyunji akan tinggal, agar aku –.”

Lagi. Xiumin kembali motong pembicaraan Sehun sebelum pria itu selesai bicara. “Agar apa, Sehun –ah? Jangan coba-coba mengakaliku, eoh!” Xiumin memperingatkan Sehun.

“Hyunji –ya, kau keluarlah duluan. Aku akan mengawasi pria ini agar tidak mendekatimu,” ucap Xiumin pada gadis itu.

Hyunhee menurut, dia pergi dengan membawa serta kopernya.

°

°

°

Xiumin menemani Hyunhee hingga masuk ke kamar hotelnya, bersama dengan seorang boy room yang membawakan koper milik gadis itu. Saat pintu kamar hotelnya di buka, Hyunhee terbelalak memandangi seisi ruangan tersebut, betapa mewah dan indah. Bahkan tak kalah luas dengan apartemen milik Sehun. Namun Hyunhee berpikir, ini sedikit berlebihan untuknya sebagai tempat pelarian.

Oppa, apa kau yakin memesankan kamar ini untukku? Ini sangat … sangat berlebihan. Aku bisa tinggal di sauna. Eoh! Berapa harga kamar ini semalam?” tanya Hyunhee pada Xiumin.

Xiumin terkekeh terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan gadis itu yang menurutnya lebih berlebihan. Sungguh, dia hanya ingin membuat gadis itu nyaman dan tenang. “Hyunhee –ya, ini bahkan belum kamar hotel nomor satu di hotel ini,” jawab Xiumin.

Lagi. Hyunhee tak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut akibat rasa takjubnya. “Tak usah pikirkan biayanya, istirahat saja dengan nyaman. Kau tau? Jika Sehun yang memesankan kamarnya, mungkin dia akan langsung pilih kamar nomor 1 atau mungkin mengusir seluruh tamu dan memberikan seluruh kamar hotel ini padamu,” sambung Xiumin dengan candaannya yang terlampau berlebihan.

“Benarkan begitu? Apa dia sudah gila?!” Ini semakin lucu karena Hyunhee menanggapinya dengan serius. Dan Hyunhee mulai berpikir, sebenarnya sekaya apa Oh Sehun itu.

“Tentu saja. Dia bebas melakukannya, sebab hotel ini merupakan salah satu anak perusahaan dari Empire Group,” jelas Xiumin.

Hyunhee tak henti-hentinya mengeluarkan decak kagum. Sehun saja sudah memiliki dua perusahaan atas namanya sendiri. Dan Empire Group sendiri merupakan perusahaan besar dari Keluarga Oh yang bergerak di banyak bidang.

Xiumin mengibas-ngibaskan tangannya di depan Hyunhee, untuk membawa kembali kesadaran gadis itu.

“Hyunhee –ya, kalau begitu Oppa pulang. Kalau kau ada perlu sesuatu, kau bisa hubungi aku –termasuk jika Sehun mengganggumu,” ucap Xiumin dengan senyumnya.

Ne, kamsahamnida Xiumin oppa,” jawab Hyunhee dan tersenyum.

Xiumin bertepuk riang lantaran melihat senyum gadis itu. “Eoh … akhirnya kau tersenyum juga Hyunhee –ya, hatiku lega melihatnya,” tutur Xiumin.

Kini Hyunhee tertawa. “Kenapa begitu, Oppa? Aku ini bukan gadis berwajah kaku,” timpal Hyunhee.

Xiumin menghela nafasnya. “Aku memang hampir tak pernah melihatmu tersenyum Hyunhee –ya, terlebih sejak berurusan dengan masalah Sehun,” jawab Xiumin. “Emmm … baiklah, aku pamit sekarang.”

Xiumin melangkahkan kaki keluar dari kamar hotel Hyunhee. “Nanti akan Oppa pikirkan bagaimana cara untuk mengatakan hal tersebut pada Sehun. Semoga saja kita memiliki waktu yang tepat,” sambung Xiumin dan Hyunhee mengangguk –mengiyakannya.

Hyunhee mengantar Xiumin hingga masuk ke dalam lift. Namun di belakangnya, ada seseorang entah siapa itu yang tengah memperhatikan Hyunhee dengan tatapan layaknya pemburu yang sedang menargetkan mangsanya.

_____________

♦––○ IFA ○––♦

_____________

Hyunhee melangkahkan kakinya menuju dapur, mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas dan menandaskannya. Lalu dia menyeret kakinya menuju ruang TV, hanya duduk berselonjor tanpa melakukan apapun –dia bosan. Ini hari ke tiga pelariannya dan dia hanya diam di kamar hotel, bahkan dia bolos ke kampus lantaran takut bertemu dengan Sehun –menurutnya berdiam diri di kamar hotel lebih aman baginya.

Ting … Tong …

Bel kamarnya berbunyi, Hyunhee melirik jam yang tergantung di dinding. Tepat waktu, gumamnya. Hyunhee beranjak dari duduk untuk membukakan pintu bagi room boy yang hendak mengantarkan sarapan –itu termasuk ke dalam pelayanan kamar hotel tersebut.

“Terima kasih,” ucap Hyunhee lalu menutup pintu setelah dia menerima satu set makanan dari room boy yang dibawa dengan meja beroda.

Hyunhee menatap tanpa minat kearah makanan itu, telur mata sapi, roti tawar dan sosis. Oh … bahkan dia mulai merasa mual saat hendak menyantapnya. Selama dia tinggal di hotel, makanan yang diantar selalu bergaya barat, sedangkan Hyunhee sangat menginginkan makanan Korea. Hal tersebut membuatnya seperti tinggal jauh dari rumah dan dia jadi merindukan masakan Ibunya. Hyunhee meraih ponselnya yang terletak di atas meja dan mulai mencari kontak dari Ibunya, lalu dia mulai menunggu panggilannya di angkat.

Hyunhee melakukan video call, tampaknya hanya mendengar suara Ibunya saja tidak cukup bagi gadis itu.

Eomma! Bogoshipoyo …,” jerit Hyunhee saat panggilannya tersambung.

Nyonya Park menyambut anaknya dengan senyum malaikat. “Eoh … bagaimana kabarmu, sayang?”

“Tentu saja baik,” jawab Hyunhee mantap.

Benarkah?” tanya Nyonya Park seakan tak mempercayai Putrinya. “Matamu tampak sayu.”

Hyunhee refleks memegangi matanya. “Itu karena aku kurang tidur, mungkin,” jawab Hyunhee sekenanya. “Eomma, aku mau makan masakan Eomma!!” rengek Hyunhee dengan nada manja.

Kau bisa makan sepuasmu, sayang. Tinggal datang saja ke rumah, kok repot. Pintu rumah selalu terbuka untukmu,” seru Nyonya Park lembut.

Hyunhee menghela nafasnya. “Shireo. Ada Chanyeol oppa,” jawab Hyunhee dengan cemberut.

Aigoo … kalian belum baikan juga rupanya? Berhenti bertingkah kekanak-kanakan dan gengsi –an. Sudah, sekalian saja Eomma suruh Oppa –mu yang mengantar makanannya,” putus Nyonya Park sepihak.

“Kenapa bukan Eomma saja yang mengantar makanan untukku? Aku juga mau disuapi oleh Eomma.” Hyunhee kembali berucap dengan nada manja.

OMO~ gula darah Eomma bisa naik karena melihat aegyo –mu,” canda Nyonya Park dan tertawa, begitu juga Hyunhee. “Hyunhee –ya, Eomma tak bisa datang karena sedang di luar kota menemani Appa,” jelas Nyonya Park. “Sudah, pokoknya Eomma tidak mau tau! Kalian harus segera berbaikan, arraseo?!” tekan Nyonya Park.

Ne Eomma.”

Hyunhee mengakhiri panggilan singkatnya dengan sang Ibu dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Dadanya tampak naik turun pertanda dia menarik dan menghela nafas begitu dalam. Dia tak menyangka, jika untuk berbaikan dengan Oppa –nya sesusah ini.

Lambat laun, kantuk mulai menderanya hingga dia tertidur. Namun belum sampai mimpi menyapanya, suara nyaring dari bel telah mengusik tidurnya. Dengan malas Hyunhee bangun untuk membukakan pintu, dia terlebih dahulu melihat di intercom. Tanpa dia duga, pemandangan di layar intercom membuat matanya berbinar, lantas Hyunhee membukakan pintu untuk orang tersebut dan menyambutnya penuh suka cinta.

“Raerim eonnie!” seru Hyunhee kelewat girang.

Raerim yang tak siap dengan sambutan spektakuler itu, dia memegangi dada agar jantungnya yang di dalam tidak melompat keluar –sangking kagetnya. “Ya Tuhan, Hyunhee –ya!” pekik Raerim dengan memukul pelan pundak gadis di hadapannya. “Biasa saja dong.”

Hyunhee terkekeh. “Maaf Eonnie, aku terlampau senang dan tak percaya dengan kedatangan Eonnie,” dalih Hyunhee yang masih tak dapat menyembunyikan kegembiraannya itu. “Ayo masuk, Eonnie.”

Raerim melangkah masuk, namun dia kembali di kagetkan oleh Hyunhee yang tiba-tiba menyambat tas yang tengah dia jinjing.

Eonnie, apa ini makanan untukku?” tanya Hyunhee setelah dia berhasil merampas tas yang dia ketahui berisi makanan dari jinjingan Raerim.

Raerim mendehem sebagai jawaban. Sementara Hyunhee langsung mengacir menuju dapur untuk mengambil peralatan makannya, meninggalkan Raerim begitu saja.

“Hyunhee –ya, kenapa kau tinggal di hotel?” tanya Raerim setelah dia menempatkan bokongnya di atas sofa yang empuk.

Hening tak ada sahutan dari lawan bicaranya. Namun setelahnya Hyunhee muncul dengan membawa makanan yang telah tersaji di piring.

Eonnie tanya apa tadi?” tanya Hyunhee yang sepertinya tak mendengar pertanyaan Raerim dan tentunya Raerim perlu mengulang kembali pertanyaannya. “Eoh … itu … itu karena ada orang yang baru pindah di sebelah apartemen kami dan dia sedikit mengganggu, jadi aku takut lalu memutuskan pindah ke hotel sementara,” jawab Hyunhee dengan dustanya yang terdengar sempurna.

“Sudah dilaporkan?” tanya Raerim lagi.

“Eh? Hah? Belum Eonnie, gak tau tuh,” jawab Hyunhee kini terdengar plin-plan. “Eonnie gak makan?” tanya Hyunhee sebelum dia hendak menyuap makanan tersebut.

“Aku sudah kenyang, kau saja yang makan,” tolak Raerim halus.

Barulah Hyunhee menguyah makanannya. “Ngomong-ngomong Eonnie, apa Eonnie sedang libur?”

“Tidak,” jawab Raerim singkat.

“Loh … terus kok bisa pulang? Cuti?” tanya Hyunhee lagi, kali ini dia mencoba menebak-nebak.

Raerim menggeleng sembari menyunggingkan senyuman. “Hayoo … kenapa coba?” tanya Raerim seakan meladeni tebak-tebakan Hyunhee. Bola mata Hyunhee tampak memutar-mutar, layaknya orang kebingungan. Lalu gadis itu memilih menggeleng karena sudah kehabisan ide. “Kau akan terkejut mendengarnya,” ucap Raerim kembali memancing rasa penasaran Hyunhee.

“Akh … Eonnie, sudah katakan saja,” pinta Hyunhee sedikit merajuk.

Raerim mengibas-ngibaskan tangannya, agar gadis itu mendekat padanya. Hyunhee menurut dan Raerim mulai berbisik di telinga Hyunhee. “Kau sebentar lagi akan jadi Imo,” bisik Raerim.

Daya tanggap Hyunhee tampaknya melemah, hingga beberapa detik berlalu dia masih saja tak dapat mencerna ucapan Raerim. “MWO?! JINJJA?! JEONGMAL?!” respon terlambat Hyunhee akhirnya menghasilkan keterkejutan yang meluap. “Eonnie hamil? Sudah berapa lama? Aku akan dapat keponakan begitu?”

Raerim mengangguk, dia tak kalah senang tentunya. “Sudah masuk dua bulan,” jawab Raerim.

“Ahhh … Eonnie chukkaeyo …,” ucap Hyunhee memberi selamat di sertai pelukan dan kecupan pada Raerim.

“Apa Chanyeol oppa, Eomma dan Appa sudah tau?” tanya Hyunhee dengan antusiasnya.

Oh … Ya Tuhan, tentu saja mereka semua tau.

“Jahat. Jadi aku yang terakhir di kabari?!” rajuk Hyunhee. “Lalu tadi Eonnie kesini dengan siapa?” tanya Hyunhee kini terdengar khawatir.

“Tentu saja dengan suamiku,” jawab Raerim sembari mencubit gemas dagu Hyunhee. “Kau pikir aku jalan sendiri? Dia tak akan mengijikan, bahkan kerjaanku di rumah hanya tidur,” jelas Raerim.

Hyunhee hanya manggut-manggut sembari mengunyah makanannya. Tentu saja Oppa –nya itu harus mengantar istrinya yang sedang hamil, jika tidak … maka Hyunhee akan menceburkan pria caplang itu ke Sungai Han agar sadar.

“Oh ya … Hyunhee –ya, tadi Oppa titip maaf padamu,” ucap Raerim.

“Cuman titip maaf? Tidak titipkan uang juga?” ujar Hyunhee nyeleneh sembari makan.

“Hus! Kau ini ya.” Raerim rasanya ingin sekali menjewer telinga adik iparnya itu. Dia benar-benar dibuat geleng-geleng kepala karena kelakuan dua saudara itu yang gengsinya terlampau tinggi.

Dan sebenarnya, permintaan maaf dari Chanyeol itu tidak benar sama sekali. Itu hanya akal-akalan Raerim agar kakak-beradik ini segera baikan. Sebab Raerim sudah pusing sendiri untuk meladeni Chanyeol yang terus mengeluh soal perang dinginnya dengan Hyunhee.

Padahal Raerim sudah bilang agar Chanyeol minta maaf langsung pada Hyunhee, tapi si Caplang itu sudah injak pegal gas duluan dan kabur. Lalu si Adik, juga sama ngeselinnya. Boro-boro ditanggapi tuh permintaan maaf (palsu) –nya, dia malah minta uang.

°

Hyunhee banyak mengobrol dan bersenda gurau dengan Raerim, topik pembicaraannya sangat banyak dan semakin melebar. Tapi yang pasti, bukan persoalan hubungan gadis itu dengan pria bernama Oh Sehun. Itu antara Raerim yang tak mau menyinggung perasaan Hyunhee, juga karena dia sudah tau masalahnya dari Chanyeol.

Waktu yang mereka habiskan sungguh tak terasa, hingga hari sudah mulai senja. Raerim pamit untuk pulang. Namun sebelum itu, sempat terjadi percekcokan antara keduanya hanya karena masalah mengantar Raerim pulang.

“Sudah Hyunhee –ya, Eonnie bisa pulang sendiri, tak perlu diantar-antar,” tolak Raerim.

Eonnie –kan sedang hamil, aku harus pastikan keselamatan Eonnie,” bantah Hyunhee.

“Eoh … ayolah Hyunhe –ya, Eonnie bisa pulang sendiri. Jika kau yang mengantarku, itu malah membuatku cemas,” dalih Raerim.

Hyunhee mengkerutkan keningnya, dia bingung dengan perkataan Raerim yang justru balik mencemaskannya. Memangnya dia kenapa? Baik-baik saja tuh.

“Ya Tuhan … Hyunhee –ya, badanmu panas begini kau tidak merasakannya?!” omel Raerim sembari menuntun tangan Hyunhee untuk menyentuh keningnya sendiri.

Hyunhee mulai menimbang-nimbang suhu tubuhnya dengan telapak bahkan punggung tangannya. Selanjutnya Hyunhee menyunggingkan senyum kuda saat sadar jika dia tengah demam.

“Aku sungguh tak merasakannya, Eonnie,” dalih Hyunhee.

Aigoo~ apa kepalamu tidak merasa pusing?” tanya Raerim.

“Karena Eonnie bilang begitu, sekarang aku jadi merasakan pusingnya,” jawab Hyunhee dengan cemberut. “Kalau dipikir-pikir, tadi pagi saat bangun tidur aku juga merasakan pusing dan mual,” sambung Hyunhee.

“Sudah, kau tidak perlu mengantarku. Kau istirahatlah,” titah Raerim dan segera menarik pintu dan menutupnya.

Hyunhee mendesah malas, saat wajah sang Eonnie sudah menghilang di balik pintu.

Hyunhee menghempaskan tubuhnya di sofa panjang, namun dia merasa seperti ada yang mengganjal punggungnya, maka Hyunhee bangun kembali dan dia menemukan ponsel milik Raerim. Hah~ Eonnie –nya itu ternyata bisa lupa juga. Hyunhee segera bangun untuk menyusul Raerim agar dapat mengembalikan ponselnya.

Eoh! Sebenarnya dimana Eonnie –nya itu? Hyunhee sampai harus keluar dari kawasan hotel untuk menemukannya, bahkan dia berjalan hingga ke jalan besar untuk dapat menemukan Raerim. Apa Eonnie –nya itu sudah pergi? Cepat sekali. Hyunhee mengedarkan pandangannya dan menemukan Raerim sedang berdiri di halte. Menatap Eonnie –nya itu, Hyunhee geleng-geleng kepala. Kenapa Raerim tak naik taksi saja dari hotel? Atau jangan-jangan dia hendak naik bus? Dasar irit!

Hyunhee sedikit berlari untuk menghampiri Raerim, dan saat sudah tak jauh lagi, dia melihat Eonnie –nya sedang bicara dengan seseorang –itu tampak serius. Hyunhee memicingkan matanya. Oh Sehun?

“Raerim eonnie!” seru Hyunhee memanggil.

Dua orang yang sedang berbincang itu langsung menoleh saat mendengar suara milik seorang gadis yang mereka kenal.

Eonnie, ponselmu ketinggalan,” ucap Hyunhee dan memberikan ponsel milik Raerim.

“Terima kasih,” jawab Raerim.

Hyunhee hanya bicara dengan Raerim dan mengabaikan seorang pria yang terus menatapnya dengan sendu –Oh Sehun.

“Hyunji –ya,” panggil Sehun yang sepertinya sudah tak tahan diabaikan oleh gadis itu.

Hyunhee tak menanggapi panggilan Sehun dan masih bicara pada Raerim. “Eonnie, apa kau akan naik bus? Sudah naik saja taksi, ya.”

Sehun menarik tangan gadis itu untuk mendapatkan perhatiannya.

“Kenapa?!” sentak Hyunhee sembari menepis tangan Sehun.

Nggggg …

Hyunhee merasakan telinganya berdengung dan rasa pusing mulai menderanya kembali, Hyunhee refleks memegangi kepalanya dan selanjutnya dia limbung terjatuh –tak sadarkan diri. Sehun lantas menangkap tubuh gadis itu sebelum jatuh.

“Ya Tuhan … Hyunhee –ya,” seru Raerim menyebut nama milik gadis itu sembari ikut berjongkok hendak membantu.

Sepertinya Sehun lebih sibuk mengurusi gadis yang tengah tak sadarkan diri itu dalam yang berada dalam dekapannya, hingga tak memperhatikan seseorang yang salah menyebut nama. Sehun lantas bangun dan menggendong gadis itu, lalu dia membawanya masuk ke mobilnya.

[TBC]

Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan Sehun dengan Raerim sampai terlihat seserius itu?

°

Hai Readers Ketjeh –ku, kita mulai memasuki babak baru nih~ sebentar lagi kita bakal menyingkap tabir antara Sehun dan Raerim. Mereka terlibat hubungan apa ya di masa lalu? Penasaran? Tetap ikuti perkembangan ceritanya ya.. ^^

See you next chapter

#XOXO

18 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 18)”

  1. Hyunhee pingsan mulu ya setiap sehun coba pegang..wahh..sehun bawa virus tuh..wkwk..hari ini g mo maen tebak2an thor..lagi puyeng..hehe gara2 hyunji g nongol..ditambah my baekhyun g dikasih lewat..

    1. Bukan, itu karena Sehun mengandung muatan listrik 😀 jadi tiap dipegang Sehun, Hyunhee kena kejutan .. #gaje
      Heheh … sabar yo, kamu~
      Hyunji sama Baek kebagian scene kok untuk di chapter mendatang 🙂

  2. Nah ini salah satu yang bikin aku penasaran, Raerim sama Sehun pernah punya hubungan apa di masa lalu? Soalnya Raerim juga terkejut waktu pertama tahu kalau Sehun itu pacarnya Hyunji. Dan yang paling bikin aku gak bosen berharap adalah kembalinya Hyunji dan Jongin 😀 Entah kapann?? Hehe
    Oke kalau begitu sampai ketemu di Chapter selanjutnya 🙂 Semangat!! 🙂

    1. Iya, tapi waktu itu Raerim dan Sehun belum ketemu langsung, soalnya Sehun belum sadar setelah kecelakaan itu.
      ahahhahhh … aku gak bakal PHP -in kalian kok, Jongin Hyunji itu bakal balik >//<

  3. Bukannya pas hyerim pulang tugas pernah kaget ketemu sehun yg diceritain jadi pacarnya hyunji… Berarti ada masa lalu diantara mereka dong….. Mulai tersingkap episode depan yaa….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s