[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 23)

Poster Secret Wife Season 2 (4)

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 23

(See You Again)

Siapa peduli apa yang orang lain katakan

Kita tidak bisa hidup satu sama lain, jadi apa masalahnya?

Aera masih termangu di kamar bosnya. Meski setahun sudah berlalu dia masih sering mampir ke apartemen milik Soah. Rasa kehilangan masih membekas di hatinya. Setahun menjadi sekretarisnya, menjadikannya memiliki banyak kenangan. Suka duka bersama gadis yang dua tahun lebih muda itu akan selalu terparti di relung memorinya.

Harapan bisa bertemu dengan gadis bermarga Kim itu begitu tinggi. Tak ayal dia diam-diam ikut mencari keberadaannya meski bibi gadis itu sudah bilang akan bertanggungjawab mencarinya. Namun hasil nihil yang selalu didapatnya. Tak ada kabar. Mereka seperti hilang ditelan bumi. Atau hilang tersapu ombak.

Tangannya mengusap foto Soah. Tidak bisa dipungkiri jika sekarang dia sedang sedih. Terbukti dengan setitik air matanya yang jatuh. Dia yang notabenya adalah anak tunggal, akhirnya bisa merasakan memiliki seorang adik bersama gadis itu. Kini dia harus menelan pil pahit karena kehilangan momen itu.

Daepyonim, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja di sana?” Helaan napas dia hembuskan mengungkap pilunya jiwa.

Dia mengambalikan bingkai foto itu ke nakas. Rasa rindunya sudah sedikit terobati melihat foto Soah. Dia mulai beranjak. Meninggalkan ruang bercahaya remah oleh sinar bulan. Langkah anggunnya membawanya pergi menuju tempat tinggalnya.

-o0o-

Tangan kekar pria itu menyentuh bingkai foto. Mengusapnya lembut. Foto tiga orang dengan mengenakan topi kerucut. Dia ingat, foto itu diambil saat ulang tahun pria yang begitu dirindukannya. Setahun kehilangan rekan kerjanya membuatnya merindu. Rindu berat, yang bahkan tak bisa ditimbang.

Hyung, kenapa kau pergi bahkan tanpa pamit pada kami. Apa kau baik di sana? Aku harap kau bahagia bersamanya.”

“Kau sedang apa?” tanya pria bermarga Byun yang baru keluar dari kamar mandi.

“Aku hanya merindukannya,” ucap Sehun masih dengan mengusap bingkai foto tersebut.

Baekhyun berdecak. Tungkainya membawa mendekat menuju Sehun. Mendudukkan diri di samping pria albino tersebut. Tangannya terulur menepuk pundaknya. “Bukan hanya kau. Kita semua juga merindukannya.”

“Apa dia akan baik-baik saja?” Lagi pria albino itu membuka suara.

“Dia pasti baik-baik saja. Kau sudah tahu sendiri alasannya pergi.”

“Memangnya apa alasannya pergi?”

Pria bermarga Byun itu memutar malas bola matanya. Dia benar-benar dibuat sebal oleh pria yang dua tahun lebih muda darinya. Dia kemudian berdiri. Melepar handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambut, tepat di wajah rekannya. “Pabboya,” umpatnya. Dia kembali melangkah menuju lemarinya untuk mengambil baju ganti.

Sehun hanya dia sambil menyingkirkan handuk tersebut. Dia ingin mengumpat, namun entah mengapa dia urungkan. Ekor matanya mengikuti gerak-gerik pria yang lebih pendek darinya meski umurnya di atasnya.

“Dia pergi karena memilih memperjuangkan cintanya.” Suara pria bermarga Byun kembali terdengar. Di tangannya sudah memegang kaos. “Aku tidak pernah menyangka jika dia begitu tergila-gila dengan Kim daepyo.”

Helaan napas terdengar dari hidung Sehun. “Soah memang pantas diperjuangkan,” ucapnya kemudian. Dia berdiri dan segera beranjak. Bahkan tanpa memperdulikan Baekhyun yang menatap aneh padanya.

-o0o-

Aera mengetuk pintu sebelum memasuki ruang bertuliskan “President.” Di dalam ruang itu, terdapat seorang wanita yang masih terlihat cantik meski usianya sudah menginjak 46 tahun tengah meneliti sebuah map. Aera berjalan tenang menuju ke meja kerja atasannya. Sekelebat bayang wajah Soah mendatangi pandangannya, saat wanita paruh baya itu mendongak ke arahnya. Senyum wanita itu memang mirip dengan senyum manis Soah.

“Ini laporan bulan ini, hwejangnim,” jelas Aera saat menyerahkan map di tangannya.

“Apa jadwalku setelah ini?” Setelah menerima mapnya, wanita itu memeriksanya sebentar. Ya, sejak keponakannya menghilang dalam kutip dia memang yang menyarankannya, dia kembali menduduki kursi perusahaannya.

“Tidak ada,” jawab Aera dengan senyum mengembang. Dengan setia dia masih berdiri menanti tandatangan Sang Atasan. Netranya tak sengaja menangkap foto gadis yang selama ini dirindukannya. Meski posisiya terbalik, tapi dia yakin itu adalah Soah. Di foto itu bukan hanya ada Soah, ada pria dewasa yang diyakini sebagai mantan kekasihnya. Juga ada seorang anak kecil yang tak dikenalnya.

Saat tangannya terulur ingin mengambil foto tersebut, atasannya sudah lebih dulu menyodorkan mapnya. Hal ini tentu mengurungkan niatnya. Dengan sedikit berat hati dia menerima mapnya. Meski harus menelan rasa penasaran yang tinggi. Kepalanya ia tundukan sebelum meninggalkan meja atasannya. Di langkah ketiganya dia berhenti karena suara Sang Atasan.

“Apa kau masih diam-diam mencari Soah?”

Aera tak berkutik. Bahkan dia tak mampu menoleh. Rasa bersalah tiba-tiba menghinggapinya. Bersalah karena wanita itu pasti menganggapnya tak mempercayainya.

Wanita itu berjalan mendekat setelah sebelumnya mengambil tasnya. Menyerahkan amplop yang dipegangnya. “Kau bisa pergi ke sana, jika kau merindukannya.” Tepat setelah mengetakannya, wanita itu pergi meninggalkan ruangannya. Menyisakan Aera yang terlihat syok dengan keadaan yang baru saja dialaminya.

-o0o-

Aera tak dapat menghentikan senyum yang terus terpatri di wajahnya. Setelah membaca isi amplop yang atasannya berikan, perasaan bahagia mulai menyusupinya. Penantiannya akan segera terbayar sebentar lagi. Dia hanya perlu pergi ke tempat itu agar rindunya terobati.

Bahkan setelah memasuki apartemennya, senyum itu masih tampak jelas. Dia sampai tak sadar jika seseorang baru keluar dari kamar mandinya. Langkah anggunnya membawanya menuju lemari. Setelah meletakkan tas, dia juga menggantung blazernya. Terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang.

“Kau di sini?” ucapnya pada orang itu. Dia sudah tahu siapa orang yang kini memeluknya meski hanya dari aroma parfumnya.

“Emmh.” Hanya gumaman yang orang itu lakukan sebagai jawaban. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Aera.

“Kau sudah makan?” Meski sedikit gugup, Aera tetap mencoba berkomunikasi. Ya, sejak mereka memutuskan untuk berkencan, Aera selalu gugup jika berdekatan dengan pria itu.

“Belum.”

Aera segera melepas pelukan pria itu. Berbalik agar bisa melihat wajah kekasihnya. Dia menghela napas sebentar. Tangannya terulur menyentuh pipi prianya. Mengusapnya penuh kelembutan. “Kenapa belum makan? Ini sudah lewat jam makan malam?”

Pria itu tak menjawab. Dia justru memeluk Aera dari depan. “Aku merindukanmu.”

Aera tersenyum di sela pelukan pria itu. “Kita baru tiga hari tak bertemu,” tuturnya. Pada akhirnya dia hanya bisa membalas pelukan kekasihnya. Meski dia sebenarnya juga merasakan hal yang sama.

“Mau aku buatkan sesuatu?” Suara Aera kembali memecah keheningan. Setelah berhasil memecah rindu, dia melepaskan pelukannya.

Pria itu hanya mengangguk sebagai persetujuan. Matanya tak lepas dari gerik kekasihnya yang mulai meninggalkan kamar. Setelah menghilang di balik pintu pria itu beringsut mengambil baju ganti.

-o0o-

“Kita benar-benar akan berlibur berdua?” Pria itu mulai mengoceh lagi. Padahal baru lima menit lalu dia diam.

Aera yang masih sibuk memasukan barangnya ke koper hanya berdecak. Dia sudah lelah menjawab pertanyaan yang sama dari kekasihnya. Sifat kekanakan pria itu muncul sejak dia mengatakan jika ingin berlibur berdua. Salahkan pria itu yang mengatakan jika dia mendapat cuti lima hari.

“Ini sudah kali kelima kau menanyakan pertanyaan yang sama. Jika memang tak mau ya sudah, kita batalkan,” ucap Aera kemudian. Tangannya ia lipat di depan dada.

“Bukan begitu. Memangnya kita mau ke mana?” Sepertinya pria itu sadar jika kekasihnya kini tengah merajuk. Karena itu, dia memberikan usapan lembut di pipi kanan kekasihnya.

“Heuksan.” Jawaban yang singkat jelas dan padat. Aera beralih ke sofa untuk mengambil ponselnya.

“Pulau Heuksan?” Pria itu mengulang tempat yang disebutkan kekasihnya, untuk memastikan jika pendengarannya baik-baik saja.

Aera mengangguk. “Kau tidak punya riwayat mabuk laut kan?” ucapnya setelah memakai coat. “Ayo, kita bisa ketinggalan kapal jika tidak segera berangkat.” Aera berjalan mendahului pria itu sambil menyeret kopernya.

Pria itu berfikir sejenak. Namun pada akhirnya dia menyusul kekasihnya. “Tunggu aku.”

-o0o-

Soah hanya menghela nafas melihat testpack yang dipegangnya. Hanya satu garis. Sudah setahun sejak dia kehilangan calon bayinya. Dan sepertinya perkataan dokternya benar. Kemungkinan dia untuk memiliki anak lagi hampir tidak ada. Dia hampir menjatuhkan air matanya jika pintu kamar mandinya tak terbuka.

“Kau sedang apa?” tanya pria yang menjadi suaminya.

Dengan cepat tanggannya ia sembunyikan. Berharap pria itu tak akan melihat apa yang dipegangnya. Dia diam-diam saat melakukannya tadi. Karena memang pria itu melarangnya. Takut akan menambah luka yang perlahan sudah mulai mengering.

“Bukan apa-apa. Aku…” Belum sempat Soah melanjutkan kalimatnya, pria itu sudah lebih dulu mendekatinya. Memeluknya. Tunggu! Bukan. Itu memang terlihat seperti seseorang yang akan memeluk, namun ternyata tangan pria itu menyentuh tangannya. Mengambil benda yang dipegangnya. Dia tak mampu menolah saat pria itu berhasil merebutnya.

Pria itu menghela nafas, melihat benda yang disembunyikan istrinya. “Sudah berapa kali aku bilang, kau tidak perlu melakukan ini.”

Soah tak bisa membendung air matanya. Dia menangis. “Aku…aku hanya berharap. Maafkan aku.”

Tangan pria itu terulur menghapus jejak air mata istrinya. “Jangan menangis.” Pelukkan hangat juga ia berikan. “Tuhan belum mempercayakannya pada kita. Kita hanya perlu bersabar.” Tangannya kini beralih mengusap surai panjang istrinya.

“Setahun sudah berlalu.”

“Aku tahu.” Pria itu melepaskan pelukannya. menatap lekat manik hitam Soah. menempelkan keningnya pada kening istrinya. “Sekarang kita sudah punya Sehun kan.”

Soah hanya mengangguk. Namun dia belum bisa menghentikan laju air matanya.

Pria itu kembali memberikan pelukan hangatnya. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Karena dia tak bisa menghentikan tangisan istrinya. Dia berharap istrinya akan lega setelah mengeluarkan bebannya lewat air mata. Meski tak dapat dipungkiri jika hatinya ikut sakit melihat keadaannya.

Appa, apa yang kau lakukan pada eomma. Kenapa kau membuatnya menangis?”

Soah dan pria itu menoleh. mereka sudah melepaskan pelukannya. Bahkan kini Soah mulai menghapus air matanya dengan jari letiknya.

Seorang anak kecil berdiri di pintu kamar mandi. Dengan tangan dilipat di depan dada. Wajahnya terlihat tak ramah. Seperti seseorang yang tengah menahan marah.

“Kau sudah selesai?” Pria itu mendekat. Mengacak pelan rambut anak kecil tersebut, setelah menyamakan tingginya dengan menunduk.

Sebisa mungkin anak kecil itu menyingkirkan tangan pria yang dipanggil ayah olehnya. “Appa membuat eomma menangis lagi.”

“Tidak. Kapan appa membuat eomma menangis?”

“Bohong. Lihat itu, matanya sampai sembab.” Masih dengan wajah tak ramahnya anak kecil itu membantah. Dia tak terima dengan penjelasan ayahnya.

Eomma, baik-baik saja.” Soah ikut mendekat. “Eomma tidak menangis, hanya kemasukan air tadi.”

“Benarkah!”

Soah kembali mengangguk. Senyum tulus juga dia berikan.

Anak kecil itu kini memeluk Soah. “Eomma, tidak boleh menangis. Arra!”

“Emh.” Soah membalas pelukan anak kecil tersebut. Kecupan ringan di kepala anak kecil itu juga diberikanya.

Pria itu tersenyum. Melihat tingkah hangat istri dan putranya membuat hatinya ikut menghangat.

“Kau sudah selesai memandikan Livy?” lanjut Soah setelah melepaskan pelukannnya.

“Iya. Dia sudah bersih sekarang,” jawab anak kecil itu dengan antusias. Wajahnya berubah senang setelah memamerkan hasil kerjanya.

“Kalau begitu, kita sarapan. Eomma sudah memasak makanan kesukaanmu.”

Asha!” ucap anak kecil itu kembali dengan ekspresi senangnya. “Ayo, aku sudah lapar.” Dia menarik tangan Soah. Berjalan dengan cepat kemudian.

-o0o-

“Sehun mau dimasakkan apa?” tanya Soah setelah sampai. Mereka memang tengah pergi ke pasar sekarang.

“Sashimi,” ucap ayah dan anak itu secara serempak.

Soah tersenyum mengejek. Sejak pria kecil bernama Sehun itu tinggal dengan mereka, dua pria itu selalu memiliki selera yang sama. “Baiklah, kita beli ikan dulu.”

“Ayo!” tutur Chanyeol sambil menggandeng lengan Sehun.

Tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi, terlihat dua orang tengah meributkan sesuatu. Sang Perempuan tengah memberikan nasehatnya.

“Mereka tidak akan mengenaliku kan?” Sang Pria bersuara dengan nada berbisik. Sebagian wajahnya ditutup syal yang juga dililitkan di leher. Kacamata hitam bertengger manis di hidungnya.

Gadis itu melepas kacamata Sang Pria. “Akan lebih mencolok jika kau memakai ini.” Dia menyimpannya kemudian.

“Kau benar.” Pria itu mengangguk setuju. “Kita mau cari apa?” Mereka mulai berjalan memasuki pasar.

“Tentu saja mencari makanan untuk persediaan kita nanti.”

“Ayo!” Tangan pria itu terulur menggenggam tangan Sang Gadis. Sepertinya dia ingin menegaskan jika gadis itu adalah miliknya.

-o0o-

Eomma, ayo kita beli itu.” Tangan pria kecil bernama Sehun itu terus menarik lengan Soah. Dia sudah tak sabar, meski kini ibunya tengan menunggu barang belanjaannya di bungkus Sang Penjual.

“Sebentar, Sayang. Ikannya belum dibungkus.” Dengan penuh kelembutan Soah mencoba memberi pengertian.

“Tapi penjualnya sudah jauh, jika tidak sekarang kita akan kehilangannya. Eomma, ayo!” Masih dengan nada merengeknya Sehun berucap. Dia memang sedang tergoda dengan dagangan pedagang keliling.

“Pergilah! Biar aku yang jaga,” ujar Chanyeol kemudian.

Soah akhirnya mengangguk. Dia hanya bisa menatap sendu suaminya, karena memang dia sudah ditarik pria kecil yang sudah menjadi bagian dari keluarganya.

Dengan penuh semangat Sehun berjalan bahkan terkesan berlari mengejar Si Penjual. Butuh waktu lima menit untuk menemukannya. Senyum lebar tak dapat ditahan melihat Si Penjual tengah menerima pembeli.

“Sehun, mau beli yang mana?” tanya Soah. Dia juga mengusap pelan kepala putranya.

“Ini.” Sehun menunjuk salah satu barang yang disukainya.

Setelah mendapat bayarannya, Si Penjual kembali melanjutkan langkahnya. Sedang Soah hanya diam mengamati putranya yang terlihat senang dengan mainan barunya. “Ayo! Eomma lupa belum beli tomat,” ajaknya kemudian.

“Aku mau ke kamar kecil sebentar,” tutur Sehun yang terlihat menahan sesuatu.

Eomma tunggu di sana ya.”

Sehun hanya mengangguk. Dia berlari dengan cepat. Ini memang bukan kali pertama dia datang ke tempat tersebut. Itulah mengapa Soah membiarkannya. Karena memang pria kecil itu tak mungkin tersesat. Kalau boleh jujur, sebenarnya justru pria kecil itulah yang lebih mengenal lingkungan di sana.

Sehun bertemu pria yang dianggapnya aneh, setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dari jenis dan cara berpakaiannya sangat kentara jika pria dewasa itu bukan dari lingkungannya.

Ahjussi, dari mana?” Tanpa rasa takut, Sehun kecil mengajukan pertanyaan pada pria asing yang berdiri di sampingnya.

Pria itu menengok ke kanan dan ke kiri. Mencoba memastikan jika pria kecil di sampingnya tengah berbicara dengannya. “Kau berbicara denganku?” ujarnya sambil menunjuk ke dirinya sendiri.

“Tentu saja. Di sini tidak ada siapa pun selain Ahjussi.”

“Kau kenal denganku.”

“Tidak. Hanya saja sangat jelas jika Ahjussi bukan penduduk di sini.”

Pria itu mengangkat alisnya. Tak pernah menyangka jika anak kecil itu sudah paham jika dia orang asing.

Ahjussi, dari mana?” Lagi Sehun kecil mengajukan pertanyaannya.

“Aku dari Seoul.”

“Seoul! Ayah dan ibuku juga berasal dari sana.”

“Benarkah!”

Sehun kecil mengangguk.

Pria itu membungkuk, mencoba menyamakan tingginya dengan anak kecil di hadapannya. “Siapa namamu?”

“Kwon… Sekarang bukan lagi. Park Sehun. Ahjussi bisa memanggilku Sehun,” jawab pria kecil itu disertai senyuman.

“Kau tidak berbohong kan? Atau kau sengaja menyebutkan nama itu karena sudah mengenaliku.

“Untuk apa aku berbohong. Dulu namaku Kwon Sehun, tapi sekarang sudah berganti menjadi Park Sehun. Dan lagi, aku benar-benar tak mengenali, Ahjussi. Ini bahkan kali pertama aku bertemu denganmu.”

Pria itu tercengang. Dia tak pernah menyangka jika akan bertemu dengan orang yang memiliki nama yang sama dengannya. Terlebih itu adalah seorang anak kecil yang terlihat cerdas. Dari penampilan bahkan tutur katanya, benar-benar kejutan.

“Memangnya nama Ahjussi siapa?”

“Kita memiliki nama yang sama. Namaku juga Sehun. Oh Sehun.”

Kedua pria itu hanya saling menatap. Tak ada yang tahu apa arti tatapan mereka. Seolah terlihat mereka sedang berkomuikasi lewat tatapan itu.

“Sehun-ah. Kau dimana?”

Suara itu memecah keheningan mereka. Dengan segera Sehun kecil beranjak meninggalkan pria dewasa yang mengaku memiliki nama yang sama, Sehun.

Eomma, aku di sini.”

Pandangan pria itu mengikuti arah Sehun kecil berlari. Dia terpaku melihat wanita yang tengah dihampiri Sehun kecil. Kakinya berjalan tanpa diperintah. Membawanya mendekat ke arah wanita itu. “Ai-chan,” gumamnya tanpa sadar.

Ibu dan anak itu menoleh. Sama seperti pria itu, Soah juga tampak syok. Tak pernah terlitas dalam benaknya jika dia akan bertemu dengan sahabat kecilnya. “Hunnie.”

Tanpa banyak bicara, pria itu berjalan semakin dekat. Memeluk Soah, bahkan tanpa meminta izin. Tak terasa setitik kristal bening itu jatuh. Perasaannya bercampur aduk sekarang. Antara lega dan bahagia. “Aku merindukanmu,” tuturnya sambil mempererat pelukannya.

Soah hanya bisa tersenyum dalam pelukan pria itu. “Aku juga merindukanmu,” gumamnya kemudian.

-o0o-

Gadis itu terus mengawasi gerak-gerik seorang pria yang tengah membeli sesuatu. Sejak dia tak mengaja melihat pria itu, dia tertarik untuk mengikutinya. Bahkan tanpa memperdulikan kekasihnya yang sudah berjalan entah kemana. Dia masih ragu antara menyapa atau tidak. Karena memang dia juga masih ragu apakah pria itu adalah pria yang dikenalnya.

“Terimakasih, Ahjumma,” ucap pria itu dengan ramah. Senyum khasnya juga ia berikan.

“Chanyeol-ah.”

Refleks pria itu menoleh mendengar namanya dipanggil. “Iya,” ucapnya bahkan sebelum tahu siapa yang memanggilnya.

“Jadi benar kau,” ucap gadis itu lagi. Dia sudah tak bisa menahan dirinya, itulah mengapa dia kini menyapanya.

“Iya, ini aku. Lama tak bertemu, Min Aera.” Masih dengan senyum khasnya Chanyeol menjawab.

Aera termangu. Dia tak bisa berkata apapun. Rasanya seperti mimpi bisa melihat pria itu lagi. “Jika kau di sini, lalu Soah?”

“Dia di sana.” Chanyeol menunjuk ke arah pria dan wanita serta anak kecil yang berjalan ke arahnya.

Daepyonim,” teriaknya kencang. Hal ini mampu mengundang sekelilingnya untuk melihat. Aera tak memperdulikannya. Dia memeluk erat wanita yang selama ini dirindukannya. Berharap jika rindunya akan menguap setelahnya.

Hyung.” Pria bernama Sehun itu juga berlari ingin memeluk Chanyeol. Namun dengan sigap Chanyeol menghindar, jadilah mereka saling mengejar.

Sehun kecil hanya menggeleng kepala melihat tingkah keempat orang dewasa yang kini mengabaikannya.

-o0o-

“Aku tak pernah menyangka jika kalian masih di Korea. Kupikir kalian sudah pergi ke luar negeri,” ucap Sehun yang kemudian menyesap minumannya. Dia sedang duduk bersama Chanyeol, sambil menatap para wanita yang sibuk berkutat di dapur.

Chanyeol hanya tersenyum. Meneguk minumannya kemudian. Dia juga tak menyangka jika dirinya tak diketahui banyak orang. Bibi istrinya memang luar biasa, bisa menyembunyikan keberadaan mereka.

“Omong-omong siapa yang memberikannya nama Sehun. Kenapa dia harus memiliki nama yang sama denganku?” sepertinya Sehun tak terima jika namanya disamakan dengan pria kecil yang tengah bermain bersama anjing. “Berapa umurnya?” tanyanya lagi, sebelum Chanyeol bersuara.

“Lima tahun. Tentu saja ayah dan ibu kandungnya. Aku dengar ibunya penggemar beratmu. Mungkin karena itulah dia memberikan nama itu padanya.”

Sehun mengangkat alisnya. Menatap aneh ke arah Chanyeol. Seolah tak terima dengan penjelasan rekannya.

“Lagi pula, di Korea bukan hanya dia yang memiliki nama sepertimu.”

Pada akhirnya Sehun hanya bisa berdecak dan membuang muka. “Memang benar sih.” Sehun mengangguk setuju. Dia kembali meneguk minumannya.

“Dia baik-baik saja kan? Aku benar-benar khawatir setelah mendengar kalau dia keguguran. Apalagi setelah melihat keadaannya.” Sehun mendesah. Dia teringat hari di mana dia menjenguknya dulu.

“Awalnya tidak baik-baik saja. Butuh waktu enam bulan untuk bisa melihatnya tersenyum kembali. Jika bukan karena Sehun, aku mungkin belum bisa membuatnya tersenyum.” Chanyeol mengambil nafas dalam. Meminum minumannya kemudian.

“Hari itu, Sehun datang ke rumahku. Dia memberikan kimchi buatan neneknya. Soah yang pertama kali menemuinya. Entah apa yang Sehun katakan, tapi yang jelas aku bisa melihat senyum Soah meski samar. Sejak saat itu hampir setiap hari dia datang ke sini.”

“Dan akhirnya dia bisa tersenyum kembali,” sambung Sehun.

Chanyeol mengangguk sebagai jawaban.

“Jadi sejak itu juga kau mengadopsinya?”

“Bukan. Awalnya hubungan kami hanya sebatas tetangga baik. Tiga bulan yang lalu neneknya tiada. Ya, sejak saat itu kami mengadopsinya.” Chanyeol tampak ragu, namun akhirnya dia mengangguk memantapkan ucapannya.

“Apa orangtuanya setuju?”

“Sejak umur tiga bulan, dia sudah kehilangan orangtuanya.”

Sehun mengangguk paham. “Kau tak akan kembali?”

Chanyeol terdiam. Dia belum bisa menjawab. Untuk saat ini, dia masih ingin menikmati kehidupan sederhananya dengan Soah. “Entahlah! Aku belum memikirkannya.”

Sehun menepuk pelan pundak Chanyeol. “Kembalilah, Hyung. Kami semua menunggumu.”

Chanyeol menghembuskan nafas dalamnya. “Akan aku pertimbangkan.”

“Kau tahu, Baekhyun Hyung menjadi lebih pendiam sejak kau pergi. Dia yang biasanya cerewet jadi jarang berbicara.”

Chanyeol hanya tersenyum menanggapinya. Di hati kecilnya ada saat dia merindukan bercengkerama dengan rekan satu grupnya. Mereka diam setelahnya. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

“Ada yang membuatku penasaran, bagaimana bisa kalian datang bersama? Seingatku kau tak dekat dengan Aera,” ucap Chanyeol kembali memecah keheningan.

Sehun hanya tersenyum. Ada hal yang memang belum dia beritahukan pada pria itu.

“Jangan bilang jika kalian, berkencan.”

Sehun kembali tersenyum.

Yak, Min Aera. Kau berkencan dengan Sehun?” teriak Chanyeol dengan lantang. Dia tahu pria yang duduk di sampingnya tak akan mau bersuara.

Aera menoleh. Senyum aneh juga diberikannya.

“Benarkah!” Soah ikut bertanya. Dia yang tadinya memotong ikan, mulai menghentikan aktifitasnya.

Eoh. Waeyo? Jika kalian bisa menikah kenapa aku tak bisa berkencan dengannya,” sahut Aera kemudian.

“Wah, wah.” Chanyeol menunjukkan raut terkejutanya. Dia bahkan sampai berdiri. “Kalian memang terlihat cocok,” lanjutnya yang disertai anggukan. Kembali mendudukan dirinya.

“Selamat ya!” ucap Soah meletakkan sepiring penuh potongan ikan. Kalimatnya ia tujukan pada Aera yang sibuk menata piring di meja.

“Sehun-ah. Ayo kita makan. Sashiminya sudah siap.” Kali ini kalimat Soah ditujukan untuk putranya yang sedang bermain bersama anjingnya. “Kalian berdua juga kemari, kita makan sama-sama,” lanjutnya yang ditujukan untuk suami dan sahabatnya.

to be continue……..

Saya kembali lagi.

Bagaimana menurut kalian?

Terima kasih sudah jadi pembaca setia.

See you.

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 23)”

  1. Oh my god oh my god akhirnya Soah bisa bahagia walaupun belum sepenuhnya bahagia, Sehun juga bahagia sama Aera.
    Ah author memang dabest dah bikin ceritanya, jadi ga sabar nunggu next chap. Fighting thor 💪💪💪

  2. Lucu sehun besar ketemu sehun kecil..wkwk tapi sifatnya yg besar kayak anak2 yang kecil pintar dan dewasa..wkwk..akhirnya bertemu juga mereka..lanjut thor..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s