[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 11B)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 11B]

 

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family, Drama || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A

 

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

 

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

 

“Sehun –ssi … Sehun –ssi … tolong sadarlah.” Hyunhee terus memanggil nama pria yang kini terbaring dipangkuannya sembari menepuk-nepuk wajahnya.

 

Sehun membuka mata, dan sebuah perasaan lega muncul dalam benak Hyunhee namun tetap masih menyisakan kecemasan. Hyunhee membuka mulutnya, hendak bertanya keadaan pria itu. Namun Sehun lebih dulu berucap.

 

Mianhae,” ucap Sehun lirih. Hyunhee membuat ekspresi bingung di wajahnya setelah Sehun tanpa alasan malah meminta maaf padanya. “Syukurlah kau selamat dan baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkan,” ucap Sehun lagi sembari mengusap wajah gadis itu.

 

Hyunhee semakin dibuat bingung dengan ucapan Sehun. “Apa maksudmu?” tanya Hyunhee.

 

“Aku mengingatnya.” Sehun menjeda ucapannya. “Kecelakaan itu dan kau yang menyelamatkan aku.” Sehun bangun dan mendudukan tubuhnya, lalu dia membawa gadis itu dalam dekapannya.

 

Hyunhee yang masih hanyut dalam pikirannya untuk mencerna perkataan Sehun, dia tersenyap.

 

Sehun melonggarkan pelukkannya, dapat dia lihat sepasang mata kini menatapnya dengan lekat.

 

“Benarkah yang kau katakan itu?” tanya Hyunhee penuh harap. Sehun mengangguk, mengiyakannya. “Lalu apa yang terjadi pada Hyunji?” tanya Hyunhee kali ini terdengar antusias sembari menggenggam lengan Sehun.

 

Sehun mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis itu. “Kenapa kau aneh sekali? Kau menanyakan dirimu sendiri,” ucap Sehun. “Apa kau juga mengalami hilang ingatan?”

 

Hyunhee menerjapkan matanya, dia tersadar setelah salah berucap kembali. Tapi tunggu, apa yang baru saja Sehun katakan tadi? Apakah dia masih mengira dirinya ini Hyunji. Ya Tuhan, apakah Sehun sebegitu tak dapat membedakan dirinya dengan Hyunji. Akh … persetan dengan itu, saat ini yang jadi prioritasnya adalah menanyakan tentang Hyunji.

 

“Tidak, aku hanya ingin menanyakannya kembali dan mencocokkannya dengan versi –ku,” dalih Hyunhee.

 

“Begitu rupanya,” ucap Sehun yang tampaknya percaya dengan ucapan Hyunhee. “Baiklah, nanti akan kukatakan,”

 

“Kenapa tidak sekarang saja?” desak Hyunhee tak sabar.

 

“Dengan kondisi seperti ini?” tanya Sehun menunjuk pakaian mereka yang basah. “Kita bisa masuk angin dan sakit.” Seketika, tepat setelah Sehun mengatakannya, Hyunhee langsung merasakan tubuhnya menggigil kedinginan. “Ayo, cepat kita ganti baju dahulu.”

 

___ ___ ___

 

Saat ini Sehun dan Hyunhee sedang berada di sebuah kafe, setelah mereka mengganti dengan pakaian yang baru.

 

Sehun menyesap secangkir Teh Jahe hangat, sementara Hyunhee Susu Coklat hangat.

 

“Kau yakin tak ingin mencoba ini?” tanya Sehun menawarkan Teh Jahe –nya. “Jahe lebih membantu menghangatkan tubuh.”

 

Hyunhee menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Sehun. “Tidak, aku tak suka bau Jahe –nya yang terlalu kuat.” Hyunhee menaruh cangkirnya di meja. “Jadi, ceritakan kejadiannya sekarang,” ucap Hyunhee mengingatkan Sehun.

 

“Baiklah, kau tidak sabaran sekali,” ucap Sehun dan setelah itu dia menceritakan kejadian kecelakaannya itu.

 

○○○

 

Hyunhee menangis tepat setelah Sehun selesai bercerita dan membuat Sehun bingung juga kewalahan untuk menghentikan tangis gadis itu.

 

Air mata tak henti-henti keluar dari pelupuk mata Hyunhee, dia menangis bukan karena merasa sedih tapi merasa sangat lega dan bersyukur lantaran mengetahui jika kembarannya itu ternyata selamat dari kecelakaan tersebut dan masih hidup. Itu seperti beban dalam hatinya selama ini terangkat.

 

“Hyunji –ya, gwaenchana?” tanya Sehun yang cemas.

 

Hyunhee mengangguk pelan dalam isakannya.

 

Hyunji –ya, aku tau kau itu gadis yang kuat. Tapi dimana kau saat ini? Kenapa kau tidak kembali? Kami sangat mencemaskan dan merindukanmu, terlebih lagi Eomma. Kau tau, biarpun Eomma tak pernah cerita atau menunjukkannya. Tapi Eomma –lah yang paling merasa terpukul. Ku –dengar dari Eonnie Manajer di Butik, kalau Eomma sering terlihat menangis sendiri di ruangannya dan saat pulang sebelum ke rumah, dia selalu pergi untuk berdoa. Hyunji –ya, tolong cepatlah kembali. Karena aku juga sudah merasa sangat sakit harus berbohong seperti ini.’ batin Hyunhee.

 

Hyunhee mengusap matanya, untuk menghapus jejak air mata. “Ayo, sekarang kita pulang,” ucap Hyunhee. Dia harus segera memberitahu keluarganya mengenai kabar Hyunji.

 

“Pulang sekarang?” tanya Sehun. Hyunhee mengangguk. “Tidak, tidak bisa. Tidakkah kau lihat, matamu itu sudah bengkak dan merah. Tidak, aku tak ingin diamuk oleh Chanyeol hyung lantaran dia salah sangka kalau aku membuatmu menangis,” tolak Sehun.

 

“Tidak, aku akan jelaskan pada Chanyeol oppa. Kau tenang saja,” jawab Hyunhee lembut.

 

Sehun masih bersi keras menolak permintaan Hyunhee yang meminta pulang.

 

“Baiklah,” jawab Hyunhee akhirnya memilih menyerah. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihnya pada Sehun karena telah menceritakan tentang Hyunji.

 

“Bagus. Kalau begitu, bagaimana kalau kita naik wahana lagi?” ucap Sehun.

 

“Baiklah.” Hyunhee kembali meng –iyakan permintaan Sehun.

 

“Heol! Kenapa kau jadi begitu penurut? Itu bagus, aku suka,” ucap Sehun senang lalu mengacak-ngacak rambut Hyunhee.

 

Hyunhee mengangkat bahunya samar.

 

“Baiklah, ayo kita jalan lagi!” seru Sehun.

 

Namun saat Sehun baru saja mengangkat bokongnya dari kursi, Hyunhee mengintrupsinya.

 

“Tapi aku penasaran akan satu hal,” Hyunhee menjeda ucapannya, membuat Sehun jadi penasaran dan dia mengurungkan niat untuk beranjak dari kursi. “Kenapa kau enggan berfoto dengan badut tadi dan menghindar darinya sampai kau terjatuh ke kolam. Tidakkah kau berpikir dulu sebelum melangkah, kau bisa saja celaka.” Hyunhee mulai terdengar mengomel lagi.

 

Sehun terdiam.

 

“Kau baik-baik saja, bukan?” kini nada suara Hyunhee berubah jadi lembut kembali.

 

Sehun menarik kursinya dan duduk di sebelah Hyunhee, lalu tangannya mengibas seolah meminta gadis itu untuk mendekat padanya. Sehun mendekatkan mulutnya ke telinga Hyunhee dan membisik.

 

“Sebenarnya aku takut dengan badut.”

 

Hyunhee segera menjauhkan wajahnya dari Sehun dan lantas menatap pria itu, seolah bertanya, ‘benarkah?’

 

Sehun menghela nafasnya. “Ya,” jawab Sehun. Hyunhee masih menatapnya penuh tanya, membuat Sehun terpaksa mengatakannya. Padahal sebenarnya dia enggan, karena dia tak mau terlihat lemah di hadapan gadisnya itu. “Itu karena aku pernah di culik saat kecil, tepatnya saat pesta ulang tahunku dan yang menculikku adalah badut sewaan yang mengisi acara ulang tahunku,” jelas Sehun.

 

“Menakutkan,” komentar Hyunhee. “Seharusnya ulang tahun dan badut adalah saat menyenangkan bagimu.”

 

“Sudah, lupakan saja itu. Sekarang kita naik wahana lagi, kau sudah berjanji,” ucap Sehun mengingatkan.

 

“Iya,” jawab Hyunhee penuh penekanan.

 

 

“Ayo, pulang,” ucap Hyunhee saat Sehun baru saja kembali sehabis mengembalikan sepeda yang mereka sewa untuk berkeliling taman hiburan tadi.

 

Namun Sehun kembali membuat ekspresi aneh, dan itu selalu dia tunjukkan setiap kali Hyunhee mengajaknya untuk pulang. Itu seperti Hyunhee, Ibu yang sudah lelah menemani anaknya bermain dan membujuknya untuk pulang, tapi anak itu masih betah dan enggan pulang.

 

“Ini sudah sore, apalagi yang mau kau lakukan?” omel Hyunhee.

 

“Sekali lagi, aku janji ini yang terakhir,” pinta Sehun dengan sangat sembari meng –acungkan jari telunjukknya.

 

Hyunhee mendesah malas dan menjawab, “Baiklah.”

 

Sehun kembali mengajak Hyunhee berjalan, hingga mereka sampai ke Taman Lampion.

 

Hyunhee kembali melayangkan protesnya. “Ini masih terlalu terang untuk dapat melihat lampion.”

 

“Karena itu kita tunggu sampai hari gelap,” jawab Sehun.

 

Mwo?!” sentak Hyunhee.

 

“Tenang saja, itu tak akan lama. Terlebih lagi jika bersamaku.”

 

Hyunhee mencibir ucapan Sehun dalam benaknya.

 

Sehun menuntun Hyunhee untuk duduk di bangku panjang yang tersedia dia area tersebut.

 

Perlahan mentari mulai tergelincir, warna lembayung yang sebelumnya menghiasi langit, kini sudah berubah gelap sepenuhnya dan mereka masih menunggu dengan setia.

 

Hyunhee beranjak dari duduknya. “Sehun oppa, lebih baik kita pulang saja. Ini sudah gelap dan sepi, aku sedikit khawatir,” pinta Hyunhee dengan suara lemahnya.

 

Sehun menjetikan jarinya. Seketika suasana yang tadinya gelap, kini menjadi terang dan indah karena lampion-lampion yang menyala.

 

Hyunhee terkesiap menyaksikan pemandangan di hadapannya, kekagumannya tak dapat dia sembunyikan. “Neomu yeppeo!” ucap Hyunhee setengah berbisik. Sehun yang masih dapat mendengarnya, dia tersenyum senang.

 

Sehun meraih salah satu tangan gadis itu, lantas Hyunhee menoleh. Dan tanpa Hyunhee ketahui, Sehun sudah duduk berjongkok dengan salah satu kakinya di jadikan tumpuan. Lalu Sehun mengeluarkan benda kotak dari dalam sakunya.

 

Entah kenapa, muncul perasaan tak enak dalam benak Hyunhee saat melihat Sehun dengan posisi tersebut.

 

“Hyunji –ya,” panggil Sehun. “Ijinkan aku melakukannya sekali lagi dengan benar.” Hyunhee masih menatap sembari mendengarkan Sehun. “Maukah kau menikah denganku?” Sehun membuka kotak tersebut, sebuah cincin dengan batu permata.

 

Deg!!!

 

Pupil mata Hyunhee tampak bergetar, diikuti tetes air matanya yang jatuh. Hyunhee melepaskan tangannya dari genggaman Sehun untuk membekap mulainya yang siap mengeluarkan isakkan.

 

Bukan lantaran dia terharu dengan lamaran Sehun yang tiba-tiba, jelas tidak. Tapi itu perasaan sakit, seperti tertancap sebilah pisau di jantungnya. ‘Kenapa firasat buruk tak pernah salah,’ batin Hyunhee.

 

Berbeda dengan Sehun, yang sepertinya mengartikan ekspresi gadis itu dengan arti lain yang berlawanan. Namun harapan itu sirna, setelah sebuah kata yang lolos dari mulut gadis itu.

 

Mianhaeyo,” jawab Hyunhee pelan. “Tapi aku tidak bisa menerimanya.” Hyunhee berbalik, hendak pergi. Namun Sehun menahan tangannya.

 

“Katakan. Sejak kapan kau berniat meninggalkanku?” tak ada lagi nada lembut dari ucapan Sehun, dia sudah terlalu emosi untuk menahan amarahnya. Hyunhee masih membisu. “Apa sejak kau menuliskan surat itu?” tanya Sehun.

 

Hyunhee membulatkan matanya, seakan menyadari kata janggal yang dia dengar. Surat? Apa maksudnya? Apa Hyunji menulis surat perpisahan pada Sehun? Karena itu dia tak segera kembali,’ batin Hyunhee bertanya-tanya. Hyunhee kembali berbalik dan menatap Sehun.

 

“Eoh! Ternyata benar?!” Nada sinis sangat kental terdengar dari ucapan Sehun barusan.

 

Sehun membuang sembarang kotak cincin yang sedari tadi di genggamnya dan merogoh saku lalu mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya. Selanjutnya Sehun menyerahkan surat tersebut pada Hyunhee.

 

Setelah menerimanya, dengan cepat Hyunhee membuka lipatan surat tersebut dan membacanya.

 

Sehun oppa, sepertinya aku tidak bisa bersama denganmu lagi. Jadi mari kita akhiri hubungan ini dan tidak saling bertemu lagi. Kuharap kau dapat mengerti dengan keputusanku, mianhaeyo. –Hyunji.

 

“Ketika aku membaca surat itu pertama kali, aku cukup terkejut. Tapi aku memilih untuk menanyakannya terlebih dahulu padamu dengan meneleponmu,” jelas Sehun.

 

[Flashback]

Setelah Sehun mendapatkan obatnya, di menutup kembali laci meja tersebut. Namun sebelum itu, perhatiannya teralih pada secarik kertas, maka Sehun mengambilnya.

 

Itu sebuah amplop, Sehun membuka dan mengeluarkan kertas di dalamnya yang ternyata sebuah surat. Dia melihat sebentar surat itu, tapi saat ekor matanya tertuju pada kata terakhir dalam surat, Sehun memilih membacanya.

 

Setelah membaca surat tersebut, Sehun tampak mengeluarkan ponselnya dan selanjutnya dia mendekatkan ponselnya itu di telinga.

 

Yeoboseyo,” suara seorang gadis menjawab panggilan dari Sehun.

 

“Hyunji –ya, apa kau berniat meninggalkanku? Kau tidak pernah menghubungiku lagi sejak hari itu,” ucap Sehun terdengar memburu. Namun orang yang jadi lawan bicara Sehun itu, tak lantas menjawab dan membuat Sehun memanggil namanya kembali. “Hyunji –ya!” sentak Sehun.

 

Tidak sama sekali, itu karena aku sibuk.”

 

“Benarkah?” tanya Sehun terdengar seperti meragukan jawaban yang di dengarnya. “Taukah kau, jika selama ini aku menunggumu? Aku berpikir, kalau aku telah berbuat salah padamu lantaran aku mencium –mu saat itu. Jadi aku merasa ragu untuk menghubungimu lebih dulu.”

 

Maafkan aku, itu karena aku terlalu terkejut. Dan alasan aku tidak menghubungimu, itu karena aku juga merasa ragu.”

 

Sehun menengadahkan kepala sembari meremas rambutnya. “Ya Tuhan~ jadi selama ini kita terjebak dalam pikiran masing-masing.”

 

Sepertinya begitu.”

 

Terdengar suara tawa Sehun, sebelum akhirnya dia berhenti dan menghela nafas. “Syukurlah kalau begitu, aku sudah takut jika kau meninggalkanku. Aku berpikir, mungkin saja aku bisa mati karena tak sanggup kehilanganmu,” ucap Sehun terdengar seperti sedang bercanda.

 

Tapi bagi orang yang menjadi lawan bicaranya, itu terdengar serius dan membuatnya gugup. “Oppa, ini sudah malam. Kau istirahatlah.”

 

“Akh … ya, kau juga istirahat. Kau pasti lelah karena selalu sibuk,” balas Sehun.

 

Kalau begitu, kututup teleponnya.”

 

Chakkaman!” tahan Sehun. “Kapan kira-kira waktumu senggang?”

 

Weekend. Kenapa?”

 

“Tidak, aku cuman tanya,” jawab Sehun berdalih.

 

Seutas senyuman tampak terukir di wajah Sehun setelah dia mengakhiri panggilannya. ‘I will give her surprise,’ guman Sehun.

 

[Flashback End]

 

“Setelah itu aku memilih mengabaikannya, karena kupikir hubungan kita baik-baik saja dan terus berharap padamu,” sambung Sehun. “Tapi setelah ini, aku menyadari jika aku salah tentang hubungan kita. Dan sekarang, semua tampak begitu jelas bagiku, mulai dari sikapmu yang berubah, kau marah ketika aku menciummu dan sekarang kau yang menolak lamaranku.”

 

Hyunhee masih memegang surat itu sembari menatapnya dengan kepala tertunduk. Lalu dia mendongakan kepalanya. “Dimana dan kapan tepatnya kau menemukan surat ini?”

 

“Cih! Sepertinya hatimu benar-benar sudah mati dan tak memiliki perasaan lagi padaku,” ucap Sehun masih dengan nada sinisnya. “Dan lagi-lagi aku salah masih berharap padamu hingga detik ini, kupikir kau akan berubah pikiran setelah aku menjelaskannya.”

 

Sehun berjalan melewati Hyunhee dan pergi.

 

“Aku sungguh-sungguh ingin mengetahuinya, tolong jawablah,” ucap Hyunhee meminta dengan sangat.

 

Sehun menghentikan langkahnya. “Apa kau akan kembali padaku, jika aku katakan?” tanya Sehun. Hyunhee terdiam. “Sepertinya tidak,” cibir Sehun. “Baiklah kalau begitu, aku akan turuti kemauanmu untuk mengakhiri hubungan ini, termasuk untuk tidak saling bertemu lagi. Aku harap kau sehat selalu dan bahagia.” Sehun mengakhiri perkataannya dan meninggalkan gadis itu sendirian di tengah kesunyian dan gelap. Sepertinya rasa pedulinya pada gadis itu telah lenyap.

 

 

–––♦○°○__ IFA __○°○♦–––

 

 

Ting … Tong …

 

Mendengar bunyi bel, seorang pria yang tadinya tengah asyik berbaring di sofa sembari menonton dan menikmati snack, merasa terusik dan beranjak untuk membukakan pintu.

 

Saat dia membuka pintu untuk tamu tersebut, seorang gadis dengan wajah tertunduk ada di hadapannya.

 

“Pulang juga kau akhirnya, Hyunhee –ya. Ya! Apa kau pulang sendiri?” tanya pria jangkung tersebut saat melihat adik perempuannya datang sendiri. “Dimana Sehun? Oppa kira tadinya, dia menahanmu untuk pulang. Baru saja aku ingin meneleponnya.”

 

Perkataan panjang lebar dari Chanyeol, sama sekali tak di respon oleh Hyunhee. “Ya! Kau kenapa terus menunduk? Mencari koin recehan?” ucap Chanyeol bermaksud bercanda.

 

Chanyeol memegang dagu Hyuhee, hendak melihat wajah gadis itu. Tapi Hyunhee sudah lebih dulu berhambur ke pelukkan Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Oppa –nya itu.

 

“Kau itu kenapa? Pulang-pulang malah jadi melo drama,” ucap Chanyeol merasa heran.

 

Namun beberapa saat kemudian, Chanyeol merasakan basah dari kaos bajunya. “Ya! Kau menangis?” tanya Chanyeol.

 

Chanyeol hendak melepaskan pelukkan Hyunhee, tapi gadis itu memeluknya cukup erat.

 

“Apa Sehun yang membuatmu menangis? Dasar cecenguk itu, beraninya membuat adikku menangis!” omel Chanyeol. “Tidak ada yang boleh membuat adikku menangis, kecuali aku.”

 

Hyunhee menggelengkan kepalanya dalam pelukkan Chanyeol.

 

Aigoo~ kau ini sebenarnya kenapa? Jika hanya diam, Oppa mana tau.”

 

Chanyeol menggendong Hyunhee dan membawanya naik ke kamarnya. Lalu membaringkan gadis itu diranjangnya dan menyelimutinya.

 

“Baiklah, kalau kau tak mau cerita sekarang. Tapi Oppa akan terus menagihmu,” ucap Chanyeol. “Istirahatlah.” Chanyeol mematikan lampu kamar Hyunhee dan pergi.

 

–––♦

–––♦♦

 

Keluarga Park tengah duduk bersama untuk sarapan pagi ini, suasana begitu hening hingga mereka selesai makan. Saat Ayah dan Chanyeol hendak beranjak dari meja makan, Hyunhee buka suara.

 

“Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan.” Hyunhee menarik nafas terlebih dahulu. Sementara itu, Ayah dan Chanyeol kembali duduk. “Ini mengenai Hyunji,” sambungnya.

 

Hyunhee mulai menceritakan kejadian kemarin, mulai dari Sehun terjatuh ke kolam dan dia mendapatkan kembali ceritanya, surat dan termasuk Sehun yang melamarnya.

 

Ibu memberikan pelukkan pada Hyunhee, bermaksud memberikan ketenangan pada putrinya itu, juga dirinya.

 

Suasana keluarga Park kini terasa haru, sebuah harapan muncul kembali dan datang kepada mereka, tetes air mata bahagia dan panjatan puji syukur tak henti terucap oleh lisan.

 

[TBC]

 

Bagaimana kira-kira nasib Sehun selanjutnya setelah lamarannya ditolak?

Dan apa langkah yang akan dilakukan Keluarga Park setelah mengetahui kabar tentang Hyunji?

 

°

 

Hai … Hai …

Fyuh~ akhirnya terungkap juga ya, rahasia di balik hilangnya Hyunji. Tau gak sih, perasaan aku campur aduk pas buat chapter ini, macam perasaan Hyunhee. 😛

Kalau kalian bagaimana perasaannya? Legakah? Mari kita tarik nafas sebentar, karena ini masih awal. Dan masih banyak lagi hal-hal yang belum terkuak di FF ini. Heheheh …

Aku harap kalian sabar menantikan chapter demi chapternya dan tidak bosan.

 

°

 

Oh ya, aku mau sedikit kasih pemberitahuan. Tapi sebelumnya aku mau minta maaf sama kalian, jika aku ada salah, mohon dimaafkan dengan tulus.

Kenapa sih? Kenapa?

Aku mau liburan 😀 hahah … Sebentar lagikan lebaran. *padahal masih ada lebih dari seminggu lagi sebelum lebaran >o<

Kapan baliknya? *kayak ada yg nanyain aja 😛

Mungkin setelah lebaran atau mulai di bukanya kembali pengiriman FF freelance oleh EXOFFI. Hmmmm~ bisa juga bulan Juli.

Jangan lupakan aku ya~ ❤

 

Untuk kalian, sehat-sehat. Bagi yang menjalankan puasa, tetap semangat hingga akhir. Dan yang akan mudik, semoga dilancarkan perjalanannya juga selamat sampai tujuan. Happy Holiday~

 

Hahah.. Udah, segitu aja. Bye … Bye …

 

See you next chapter

#XOXO

 

32 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 11B)”

    1. Hmmm .. ingatan Sehun memang sudah kembali soal kecelakaan yang dia dan Hyunji alami, lalu dia yg di tolong Hyunji ..
      Tapi kenyataannya, Hyunji hilang setelah itu dan Sehun gak tau..
      Nah, disitu masalahnya..
      Kalau Hyunhee jujur, Sehun tau donk klo Hyunji ilang .. ala Mak, bisa stress dia..

  1. Tarik nafas dalam dalam… keluarkan . Sekali lagi.. tarik nafas dalam dalam… keluarkan💕maaf thor.. ane telat(kelamaan liburan)komentnya😂next chapter nanti semoga masuk ke klimaksny biar dag dig dug hatiku menunggunya

  2. Sangat haru… akhir.na sehun ingat..
    Dan hyunji kapan kau kembali kau tdk kasihan sama kembaran.muuu
    Sehun kasihan..
    Tp kalo akk jd kyunhee juga pasti jengkel..
    Gk bisa benakan saudara nyaa..
    Maaf kaak baru komen..
    Lanjut kaakk.. buat akk tambah baper… lg…

    1. Hai~ jumpa lagi ^^
      Chapter ini penuh suasana yg mengaduk perasaan, tapi yang paling dan -ter adalah pas Sehun mendapatkan kembali ingatannya. Semoga setelah ini, semua berjalan lancar dan Hyunji dapat segera ditemukan. Semogakan saja 😉
      Kamu jengkel kenapa?
      Benakan saudara? Maksudnya telepati gitu? Karena Hyunhee-Hyunji itu saudara kembar. 😀
      Sip .. Sip .. Tunggu saja .. Aku akan kembali mengaduk perasahan kalian. Hahahah.. #evillaugh

  3. Hai..hai..thor..dah mulai.nih..serunya..hehe..ayo sedikit lagi hyunji pasti ketemu..kasian hyunhee.., sehun digetok aja dulu biar amnesia lagi.dia..haha…,tar dia berjuang lagi ngelamar hyunhee dikira hyunji.., oke thor..lanjut ya,jangan pusing sendiri atas ilangnya hyunji..,pasrah kalo si baeky g ada di cerita ini..wkwk..

    1. Ini baru awal, chingu -ya. Fufufu~ >o< Belum klimaks loh ini.
      Doakan saja semoga Hyunji bisa ketemu & mengakhiri penderitaan karena hubungan palsu itu.
      Aduh … kesian dong Sehun kena getok. Bisa-bisa dia amnesia permanen.. 😛
      Iya, jgn terlalu pusingin Hyunji yg hilang. Itu tugasnya pak detektif, kita mah pantau aja 😀
      Aku ingin memberikan ketenangan padamu, jgn nyerah gitu.. Baekhyun masih kebagian scene kok di FF ini, jadi sabarnya. ^^

  4. Author sukses bikin baper, aku bayangin di posisi Hyunhee dan itu nyesek banget apalagi pas Sehun ngelamar dia yg seharusnya ngelamar Hyunji. Pasti bingung dia harus gimana. Bener Hyunji itu gadis tangguh, itu yg aku suka dari sosok Hyunji. Aku bakal terus nungguin kelanjutan ceritanya smpe udh lebaran.
    Mohon maaf lahir dn batin Author-nim 🙂

    1. Sepertinya kamu membaca dgn penuh penghayatan >o< semoga efeknya gak berkelanjutan ya, bisa gawat itu.
      Hyunji yg dikit scene -nya aja, banyak yg suka & nanyain. Gimana klo dia jam tayang banyak, punya fansclub kali. Kkk~ 😀
      Ne, aku pun minta maaf jikalau aku punya salah sama kalian. ^^

  5. Gag akan bosen baca cerita ini….. Dan gag bakal sabar nunggu next chapter sampe hyunji ketemu…. Happy holiday kak… Liburannya jangan lama2 yak…

    1. Syukurlah kalo kamu gak bosen dgn ceritanya. *ku senang 🙂
      Aku pun maunya gak lama-lama liburnya, soalnya aku takut rindu dgn kalian. #kardus 😀
      Selamat menikmati liburan~

  6. what the @#&*
    perasaan gua di aduk aduk ..
    sip lu berhasil thor bikin gua baper –‘
    di tunggu kelanjutannya, siapa tau bikin gua nangis kejer.
    selamat liburan!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s