[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 12)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 12]

Author    : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family, Drama || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Zhang Yixing || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B  

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Saat ini Hyunhee dan Chanyeol sedang dalam perjalanan menuju kantor detektif, setelah Hyunhee menceritakan mengenai kabar Hyunji, maka Tuan Park langsung meminta putra sulungnya untuk mengurus hal tersebut.

“Hyunhee –ya, ayo,” ucap Chanyeol sembari melepaskan sabuk pengamannya saat mereka telah tiba di depan gedung kantor detektif tersebut.

Bersama dengan Hyunhee, Chanyeol memasuki gedung tersebut. Setibanya di dalam, mereka langsung menemui orang yang berkepentingan untuk menceritakan detail kejadian dan menyerahkan bukti surat itu.

Pihak detektif hanya berkata jika mereka akan berusaha menemukan Hyunji, karena informasi serta bukti yang ada masih sangat kurang dan terbilang lemah. Yiatu hanya berupa pernyataan dari seseorang yang pernah mengalami hilang ingatan (Sehun) dan surat yang ditulis dengan ketikkan. Semua itu tak dapat membuktikan dengan pasti tentang keberadaan Hyunji.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat dua saudara itu, Chanyeol kembali melajukan mobilnya bersama Hyunhee dan bertolak ke Bandara Incheon untuk menuju Jeju. Ya, setidaknya mereka dapat mencari Hyunji lebih lanjut disana dengan bertanya pada warga sekitar mengenai keberadaan Hyunji. Setidaknya, ada atau tidak dari warga disana yang pernah melihat Hyunji.

○●○

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi lepas landas. Hyunhee yang duduk di dekat jendela, dia terus memandang keluar. Sementara Chanyeol yang duduk disebelahnya, ternyata sedari tadi terus memperhatikan adiknya itu. Chanyeol menyentuh punggung tangan Hyunhee, membuat gadis itu menoleh.

“Tenanglah, kita pasti dapat menemukan Hyunji. Berdoa saja, semoga Hyunji dalam keadaan baik disuatu tempat,” ucap Chanyeol sembari membawa Hyunhee dalam dekapannya.

Tampak dua orang paruh baya tengah berdiri dengan tak tenangnya, ketika mendapati kamar putra semata wayang mereka kosong saat ini. Sementara sang suami sedari tadi sibuk dengan ponselnya untuk dapat menghubungi putranya itu.

“Bagaimana Yeobo, apa masih belum dapat menghubungi Sehun?” tanya sang Istri. Tuan Oh menggelengkan kepala. “Coba telepon Hyunhee, bukannya kemarin mereka pergi bersama,” saran Nyonya Oh.

Tuan Oh mengikuti saran Istrinya dan mulai mencari kontak gadis itu, tapi lagi-lagi hanya suara operator yang menjawab panggilannya. “Ponselnya tidak aktif,” jawab Tuan Oh.

“Bagaimana ini Yeobo?” tanya Nyonya Oh yang semakin cemas saja.

“Bukankah mereka kemarin pergi bersama? Mungkin Sehun masih bersama Hyunhee, bisa jadi dia di rumah Keluarga Park,” tebak Tuan Oh.

“Eoh … kalau begitu telepon ke rumahnya,” ucap Nyonya Oh.

Tuan Oh kembali menggunakan ponselnya, kali ini dia menghubungi kediaman Keluarga Park.

Yeoboseyo,” suara ramah dari seorang wanita paruh baya menjawab panggilan Tuan Oh.

“Eoh … Nyonya Park, ini saya.”

Akh … ya, Tuan Oh. Ada apa?”

“Begini, apa Sehun ada di rumah Anda?” tanya Tuan Oh.

Sehun?” terdengar nada bingung dari suara Nyonya Park. “Tidak, dia tidak ada. Kemarin itu, saat pulang, Hyunhee datang sendiri. Apa semua baik-baik saja?

“Akh … jadi Sehun tak ada di rumah Anda. Sebenarnya saat ini kami sedang mencarinya.”

Nyonya Park menceritakan kejadian kemarin, mulai dari Sehun yang ingatannya telah kembali hingga dia yang melamar Hyunhee.

“Kalau begitu terima kasih Nyonya Park,” ucap Tuan Oh lalu mengakhiri panggilannya.

Yeobo, Sehun pasti merasa frustrasi karena lamarannya di tolak,” ucap Nyonya Oh semakin bertambah cemas, dia takut putranya berbuat hal yang membahayakan dirinya. “Akh …,” Nyonya Oh sedikit mengerang sembari meremas rambutnya. “Ya Tuhan, dimana Sehun. Semoga dia baik-baik saja.”

“Tenanglah Istriku, jangan berpikiran buruk. Sekarang aku akan hubungi Xiumin, barang kali dia tahu keberadaan Sehun,” ucap Tuan Oh sembari menuntun Istrinya untuk duduk.

“Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Hyunhee, bagaimana bisa dia menolak Sehun?! Padahal dia tahu kondisi Sehun. Dan sekarang dia pergi?!” terselip nada kesal dari nada suara Nyonya Oh.

“Jangan menyalahkan Hyunhee begitu saja. Bagaimanapun gadis itu telah membantu kita selama ini dengan banyak mengorbankan perasaannya. Kau itu –kan juga wanita, seharusnya kau lebih memahami itu. Sebuah lamaran pernikahan bukan perkara main-main, perasaan juga tak dapat dipaksa,” jelas Tuan Oh.

Nyonya Oh hanya diam setelah mendengar ucapan suaminya.

___ ___ ___

Atas permintaan Tuan Oh, maka Xiumin langsung bergegas untuk mencari Sehun. Pertama Xiumin mencari Sehun di apartemennya, dan ternyata pria itu ada disana. Xiumin masuk ke kamar Sehun, tampak pria itu tertidur di lantai dengan beberapa botol minuman yang berserakan di sekelilingnya. Xiumin berdecak, dia membungkuk untuk membereskan botol-botol itu. Lalu Xiumin menghampiri Sehun dan membangunkannya.

“Sehun –ah, bangun dan naik ke ranjangmu. Kau bisa sakit badan jika tidur di lantai,” ucap Xiumin, tapi Sehun tak menggubrisnya. Akhirnya Xiumin memapah Sehun dan membaringkannya di ranjang. Selanjutnya Xiumin beralih ke dapur, sepertinya dia hendak membuat sesuatu, tapi tak banyak bahan yang tersedia di dapur itu. Dan Xiumin pergi meningggalkan apartemen Sehun.

Sekitar dua puluh menit, Xiumin telah kembali ke apartemen Sehun dengan beberapa kantung belanjaan yang di tentengnya. Tanpa menunda, Xiumin bergegas ke dapur dan mengolah bahan makanan yang dia beli. Selanjutnya Xiumin membawanya ke kamar Sehun, agar pria itu dapat menyantapnya.

Namun betapa terkejutnya Xiumin, takala melihat kamar tersebut kosong. Xiumin menaruh terlebih dahulu nampan makan yang dia bawa dan mulai mencari di sekeliling kamar itu. Tidak ada, tapi Xiumin tak berhenti mencari. Hingga seluruh apartemen sudah dia jelajahi tapi Sehun tak dapat dia temukan.

“Ya Tuhan, dimana dia.”

Xiumin keluar apartemen untuk mencari Sehun. Beberapa orang yang dia temui di jalan, Xiumin tanyakan tentang Sehun. Beruntung dari sekian orang yang Xiumin tanyai, ada yang melihat Sehun. Tapi itu juga sedikit disayangkan, karena ternyata dia terakhir melihat Sehun di persimpangan jalan dan setelah itu dia tampak menaiki taksi.

Xiumin memijat keningnya, dia sudah tak tahu harus mencari kemana untuk dapat menemukan Sehun. Dia tak mempunyai petunjuk tentang tempat yang kemungkinan akan Sehun datangi. Xiumin berpikir, haruskah dia melapor kepada polisi. Tapi Sehun belum hilang 2× 24 jam, akhirnya Xiumin memilih untuk kembali ke apartemen. Namun pada saat itu, ponsel Xiumin berdering, sebuah panggilan masuk dari nomor tak di kenal.

Yeoboseyo,” jawab Xiumin ketika mengangkat panggilan tersebut. “Ya! Dimana kau, eoh?!” – “Baiklah, kau tunggu disana. Jangan kemana-mana, arraseo?!”

Xiumin mengakhiri panggilan teleponnya dan langsung berlari menuju basement, di menit selanjutnya dia tampak sudah mengendarai mobil.

Xiumin memarkirkan mobilnya dekat halte tersebut.

“Xiumin hyung!” panggil seseorang dan Xiumin menoleh.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat Sehun sedang bersama dengan seorang pria paruh baya. Xiumin sedikit berlari untuk menghampiri Sehun.

“Berapa ongkosnya, Pak?” tanya Xiumin pada pria baruh baya itu.

“10 dollar,” jawab pria paruh baya itu yang merupakan supir taksi.

Xiumin mengeluarkan dompetnya, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang pada pria paruh baya itu. “Kamsahamnida.”

“Kalau tidak punya uang, tidak usah naik taksi. Jalan kaki saja!” ucap pria paruh baya itu sarkastis setelah dia mengantongi uang tersebut.

Jeosonghamnida,” ucap Xiumin sembari membungkuk.

Setelah pria paruh baya itu pergi, Xiumin kembali memusatkan perhatiannya pada Sehun. Dengan bertolak pinggang, Xiumin terus memberikan tatapan mengintimidasi pada Sehun. “Bisakah kau tidak membuat khawatir semua orang?!” ucap Xiumin dengan nada bicaranya yang sudah naik lebih dari satu oktaf. Tapi tampaknya Sehun tak menanggapi ucapan Xiumin, dia malah melengos pergi. Xiumin mencoba bersabar dengan menarik nafasnya dalam, dia masih setia mengikuti Sehun dengan berjalan di belakangnya.

Hyung, apa kau tau tempat ini?” tanya Sehun sembari menatap kearah gedung perpustakaan itu.

“Tentu saja. Ini perpustakaan,” jawab Xiumin layaknya robot.

“Ini tempat aku pertama kali bertemu dengan Hyunji, kau ingat?” tanya Sehun retorik.

Xiumin menghembuskan nafasnya, sebelum akhirnya dia menjawab, “Ya.”

“Tapi Hyunji sama sekali tak ingat, setiap kali aku bertanya,” ucap Sehun terdengar sendu, lalu dia berbalik menatap Xiumin.

Kuharap, aku tidak berbuat kesalahan,’ batin Xiumin lalu dia menghampiri Sehun dan memberikan tepukan lembut di bahu pria yang telah dia anggap sebagai adiknya itu. “Hun –ah, sudah. Sekarang ayo kita pulang dulu.”

–♦

–––♦○°○__ IFA __○°○♦–––

♦–

Chanyeol menaruh koper di sudut ruangan setibanya mereka di penginapan.

“Kau istirahatlah, besok kita baru mulai mencari,” ucap Chanyeol bicara pada Hyunhee lalu dia pergi meninggalkan kamar gadis itu.

“Ya, Oppa juga,” jawab Hyunhee.

Hyunhee menghempaskan tubuhnya pada ranjang ukuran single bed, dia merogoh tas jinjingnya dan mengeluarkan benda kotak dari dalam sana. Hyunhee mengaktifkan kembali ponselnya, yang sebelumnya dia non-aktifkan selama perjalanan. Beberapa notifikasi langsung masuk, diantaranya panggilan tak terjawab dan pesan. Semua berasal dari nomor yang sama, Nyonya Oh.

Hyunhee mengabaikan semua notifikasi yang masuk ke ponselnya, lantaran dia mengetahui apa maksud dibalik itu semua. Sudah jelas bukan? Apa lagi jika bukan tentang Sehun. Dan dia sudah cukup lelah mengurusi pria itu. Dari awal, saat dia menerima permintaan Nyonya Oh adalah sebuah kesalahan. Tapi sekarang, dia tak ingin memperparahnya lagi. Terutama disaat ini, saat kembarannya sebentar lagi akan kembali. Ya~ semoga saja.

Hyunhee kembali menon-aktifkan ponselnya, lalu dia menarik bantal dan tidur.

Sementara Chanyeol yang saat ini ada di kamarnya, dia sedang membereskan isi kopernya. Sebelum akhirnya dia melakukan hal yang sama dengan Hyunhee, meng –aktifkan ponselnya. Tak jauh berbeda, dia juga mendapatkan sejumlah notifikasi. Chanyeol kembali beranjak dari duduknya dan menuju kamar Hyunhee. Namun saat dia masuk ke kamar Adiknya itu, dia kembali menutup pintu kamarnya karena dia melihat Hyunhee tertidur.

Chanyeol mengurungkan niatnya yang semula ingin kembali ke kamarnya dan tidur, dia berjalan kearah pantry, mengambil cangkir dan sebungkus kopi instan lalu menyeduhnya. Setelah itu, dengan membawa serta kopinya, Chanyeol pergi ke ruang tv dan duduk di sofa. Namun belum sempat dia menyesap seteguk kopinya, ponselnya berdering.

“Ah … ya, Eomeoni. Ada perlu apa?” jawab Chanyeol saat mengangkat panggilan yang berasal dari Nyonya Oh. “Ya, semua baik-baik saja Eomeoni.” – “Mungkin Hyunhee belum mengaktifkan kembali ponselnya, saat ini dia sedang tidur.” – “Baik Eomeoni, nanti akan aku sampaikan padanya.” – “Ya, sama-sama Eomeoni.”

Chanyeol menaruh ponselnya sembarang dan dia mulai membaringkan tubuhnya di sofa itu. Matanya memandang lurus menatap langit-langit, seolah menerawang. ‘Hyunji –ya, kau dimana? Pandai sekali kau bersembunyi. Keluarlah! Oppa sudah lelah mencarimu,’ gumam Chanyeol sebelum akhirnya dia memejamkan matanya. Namun dibalik matanya yang terpejam, cairan bening keluar dari sana dan jatuh menggelincir di kulit wajahnya.

Sebuah kenangan masa kecil, baru saja terlintas dalam pikiran Chanyeol dan membawanya pada suasana kala dia sedang bermain petak umpet bersama dua adik perempuannya. Dan setiap kali mereka memainkan permainan itu, Hyunji –lah orang terakhir yang ditemukan. Pada akhirnya, semua keluarga juga ikut repot mencari Hyunji.

Namun disaat mereka telah berhasil menemukan Hyunji, tak jarang mereka menjumpai Hyunji yang dengan tenteramnya tertidur saat itu di tempat persembunyiannya. Dan hal tersebut membuat Chanyeol geram sendiri hingga menggerutu juga menjitak kepala Adiknya itu yang sedang tertidur. ‘Auh! Pantas saja dipanggil gak nyaut. Tidur ternyata dia!” ucap Chanyeol kesal lalu menjitak kepala Hyunji.

Dan setelah itu Hyunji terbangun dan menatap bingung kearah Chanyeol seolah bertanya, ‘Kenapa kepalaku di jitak, Oppa?’

Ya~ itu hanya salah satu dari sekian banyak kenangan yang ada di dalam memori Chanyeol. Dan tak jarang setiap kenangan itu muncul tiba-tiba, Chanyeol merasakan sesak di dadanya hingga tak kuat menahan air mata yang mendesak hendak keluar.

Pikirnya, waktu cepat sekali berlalu. Tak terasa mereka kini telah dewasa, dan momen kebersamaan mereka semakin sedikit. Ditambah, Hyunji yang saat ini keberadaannya entah dimana. Biarpun masih ada canda tawa di dalam keluarga, itu semua tak utuh.

Rasanya seperti, mereka harus berpikir dahulu sebelum hendak merasakan kebahagiaan. Dan memunculkan pertanyaan, ‘Apakah aku pantas merasa senang atau tertawa di saat seperti ini? Sementara Hyunji, entah bagaimana keadaannya.’ Itu salah satu pentanyaan yang sering menggelitik benak dan membatasi rasa bahagia di Keluarga Park.

___ ___ ___

Setelah kemarin mereka beristirahat, sehabis menempuh perjalanan Seoul – Jeju, maka hari ini Chanyeol dan Hyunhee mulai berkeliling untuk mencari Hyunji dengan bertanya pada warga sekitar sembari membagikan brosur. Mereka berangkat setelah menyelesaikan sarapannya.

“Sini, biar Oppa saja yang bawa,” ucap Chanyeol sembari merebut setumpuk brosur yang sedang di dekap Hyunhee. Dia tak tega melihat Adiknya kesusahan, karena membawa barang berat di jalan yang menanjak.

Hyunhee menyeka peluhnya. “Oppa, bagaimana kalau kita jalan terpisah saja. Maka akan lebih banyak dan cepat brosur yang disebar,” saran Hyunhee.

“Tidak, kita tetap bersama. Kalau terpisah, nanti kau malah hilang karena tak tau jalan dan aku yang repot mencarimu,” bantah Chanyeol.

Hyunhee merengut, tapi pasrah. Yang dikatakan Oppa –nya itu benar, dia itu susah menghafal jalan dan sering tersesat, terutama di tempat asing.

“Ya! Aku kita duduk disana dulu, sambil minum,” ucap Chanyeol sembari menunjuk sebuah kedai kecil.

Hyunhee mengangguk.

“Kau mau minum apa?” tanya Chanyeol.

“Terserah,” jawab Hyunhee sekenanya.

“Air laut?” ledek Chanyeol. Hyunhee menatap malas ke arah Oppa –nya itu, sementara Chanyeol tertawa puas sehabis meledek Adiknya itu.

Beberapa menit kemudian, bibi penjual datang dengan dua minuman yang dipesan oleh Chanyeol. “Silakan diminum,” ucapnya.

Ne, kamsahamnida Ahjumma,” ucap Chanyeol dan Hyunhee.

Hyunhee mengambil salah satu minuman dan meneguknya hingga setengah gelas.

“Hyunhee –ya,” panggil Chanyeol dan Hyunhee menoleh, tapi Chanyeol masih menggantungkan ucapannya dan membuat Hyunhee menunggu sembari terus menatapnya.

Waeyo Oppa? Marhaebwa (katakan),” ucap Hyuhee.

“Nyonya Oh kemarin menelepon Oppa,” jawab Chanyeol dengan suara pelan.

“Aku tau.” Hyunhee kembali meneguk minumannya, hingga tandas. “Oppa, bisakah kita tak membicarakan itu,” pinta Hyunhee.

“Baiklah,” jawab Chanyeol yang paham akan suasana hati Adiknya itu.

Setelah hening sejenak, Hyunhee kembali membuka pembicaraan.

Oppa,” panggil Hyunhee.

“Hmmm?” Chanyeol hanya mendehem tanpa mengalihkan fokusnya pada ponsel yang sedang menjadi objeknya.

Oppa.” Hyunhee memanggil lagi.

Wae?” sentak Chanyeol dan menaruh ponselnya.

Oppa, apa kita akan bisa segera menemukan Hyunji sekarang?” tanya Hyunhee.

Chanyeol menghela nafasnya. “Berdoa saja, semoga dia dalam keadaan yang baik dan ditempat yang aman.”

Hyunhee mengamininya.

Sebuah mobil ambulans baru saja memasuki kawasan rumah sakit. Tak lama kemudian, dua orang petugas medis turun bersamaan dengan brankar (tandu) yang membawa seorang pria yang tengah tak sadarkan diri. Pasien pria tersebut dibawa ke ruang UGD untuk diberi pertolongan lebih lanjut oleh Dokter.

Seorang Dokter menghampiri ranjang pria itu dan segera melakukan pemeriksaan.

“Obati lukanya dan lakukan pemompaan perut, sepertinya dia terlalu banyak minum alkohol,” ucap sang Dokter pada Perawat. “Dimana walinya?” tanyanya kali ini.

“Sedang dihubungi, Dokter,” jawab sang Perawat.

Segera setelah pihak rumah sakit menghubungi wali dari pria itu, maka keluarganya datang.

Dua orang paruh baya dengan seorang pria tampak berlari setelah mereka menyambangi meja resepsionis. Dan kini mereka sudah ada dihadapan pria yang tengah tak sadarkan diri itu.

Aigoo~ anakku, kenapa kau seperti ini?” ucap seorang wanita paruh baya setengah meringis sembari menggenggam tangan pria yang dia panggil anaknya itu.

“Ini bahkan masih siang, kenapa anak ini sudah mabuk-mabukan dan terlibat perkelahian,” keluh pria paruh baya yang merupakan Ayahnya.

“Permisi, siapa wali dari pasien ini? Data dirinya harus diisi,” ucap seorang perawat.

“Biar saya saja yang isi, Suster,” jawab seorang pria yang menemani dua orang paruh baya tadi.

Sang Suster menyerahkan lembar formulir yang dibawanya. “Kalau sudah diisi, tolong kembalikan ke bagian Administrasi dan selanjutnya lakukan pembayaran. Terima kasih.”

“Xiumin –ah, cepat hubungi Hyunhee,” ucap wanita paruh baya itu pada pria yang tengah mengisi lembar formulir tadi. “Bilang padanya untuk segera datang kesini,” sambung Nyonya Oh penuh penekanan.

“Ta … tapi, Eomeoni,” nada bicara Xiumin terdengar ragu.

“Cepat!! Apa kau menunggu Sehun mati dulu, baru menghubungi Hyunhee?” Nyonya Oh sudah dalam pengaruh emosi. “Maka gadis itu akan melihat Sehun dipemakaman dan menyesali perbuatannya seumur hidup!”

YEOBO!!” sentak Tuan Oh keras pada Istrinya. “Berhentilah bicara hal buruk! Kau ini Ibunya, tapi bukannya mendoakan kebaikan untuk anakmu, malah bicara yang tidak-tidak.”

Nyonya Oh menunduk setelah dibentak oleh Suaminya, sebenarnya dia juga mengakui kesalahannya yang telah berucap buruk.

“Xiumin –ah, kau hubungi Hyunhee. Minta tolong padanya untuk datang dan jangan memaksanya, jika dia enggan. Sampaikan juga permintaan maaf,” jelas Tuan Oh.

Xiumin mengangguk mengiyakan, lalu dia permisi keluar untuk melakukan panggilan, sekaligus melakukan Administrasi.

[TBC]

Bagaimanakah kondisi Sehun selanjutnya?

Akankah Hyunhee datang menemui Sehun setelah diminta?

°

POJOK ISTILAH >>>

Pemompaan perut: Prosedur untuk mengeluarkan isi perut. –Google

Brankar atau tandu (Ambulance Stretcher): alat yang digunakan untuk membawa dan memindahkan pasien yang tak dapat atau kesulitan untuk berjalan. Visualisasinya itu, berbentuk tempat tidur yang terdapat rodanya. –Google.

  • ●●

Hai~ balik lagi aku setelah libur lebaran >o< Gimana kabar kalian? Semoga sehat selalu ya.

Kalian masih nunggu kelanjutan FF ini, kan? Hoho …

See you next chapter

#XOXO

 

33 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 12)”

  1. Waahhh aku bener² pengen cekik tuh ibunya sehun. Sebel dah. Emang dia siapa bisa mengendalikan hyunhee? Berbuat seenaknya sama hyunhee. Haiisshhh. Jjija.

  2. Hai thor..met idul fitri maaf lahir bathin yeee.., ceritanya makin bikin gemes n greget..selain kesel banget ama ibunya sehun..kesel ama sehun juga..ibunya sehun kok terlalu ngandelin si hyunhee sih..harusnya dia kasih pengertian ke anaknya..dong..,hyunji..cepet bangun..udah pada rusuh tuh gara2 kamu.ilang..

    1. Met Idul Fitri juga buat kamu dan kalian .. 😉
      Greget – gemes, ye? Haha .. syukur dah .. semoga terus lanjut .. >o<
      Mungkin Nyonya Oh sangkin bingung untuk kasih pengertian ke anaknya, jadi ngandelin Hyunhee yg lebih mudah ..

  3. Hyunji-ya.. dimanakah kau berada??btw ,ibunya sehun rada2 kejam gitu deh perkataannya.. pedes amat
    Thor ,it’s me sarahsong8 yak.. ganti nama jadi sarahsongs ..biar kaga bingung😂fighting!

    1. Hyunji bakal muncul kok, cmn belum waktunya aja saat ini. Dan pasti, ada alasan knp Hyunji blm bisa balik 🙂
      Harap bersabar, ini mungkin cobaan >o<

  4. Jangan jangan bener, Kayaknya Hyunji ketiduran deh, makanya CY sama Hyunhee gk bisa nemuin dia 😀 Makin gregeett. Hyunji Cepet nongol lah!! Si Jongin juga suruh cepet balik, kasian Hyunhee dibikin repot mulu sama kelakuan Sehun sama permintaan nyonya Oh 😦

    1. Udah ketiduran, gak ada yang bangunin.. kesian amat Hyunji..
      Tau gak sih, sampai saat ini aku masih memikirkan responnya Hyunji sama Jongin pas muncul dan tau ttg hubungan Sehun Hyunhee. Menurut kamu gimana? #lah? 😀 Hahahah.. #kocak
      Lebih cepat mereka balik, lebih bagus, kan~ 😉

  5. Omona….bisa amat bkib tbc nya disaat saat genting…
    Itu makny sehun minta dinistain sumpah..sbar napa bu bu.. itu pacarnya jongjong..pcar sehun mah lg ngumpet..dia ga suka m albino sukany m yg eksotis 😂😂😂😂

    1. Hoho .. harus itu mah. TBC harus di taro disaat-saat krisis, biar kalian penasaran. 😛 #jahat
      Emaknya gak sabar, anaknya bikin tingkah mulu, untung bapaknya masih pengertian..
      Suho hyung, adeknya jangan lama-lama ditahan di negeri orang. Cepet suruh pulang >> permintaan readers.
      *FYI: Sebenernya aku juga nyiapin cerita untuk Jongin-Hyunhee. Sejarah hubungan mereka. **Jiaaahh~ 😛
      Tapi sabar, selesaiin dulu yang ini. Oke? 🙂

    1. Lelah sih Hyunhee itu, makanya telepon Ny. Oh diabaikannya.
      Untung masih punya Oppa yang baik (re: CY caplang) biarpun usil..
      Fighting Hyunhee!!

    1. ‘Bangsul’ itu bahasa apa chingu -ya? artinya apa? >o<
      Hoho .. greget ya? 😛 Oke yess!! 😀
      Terima kasih juga sudah komentar ..
      Tunggu kelanjutan ceritanya ya~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s