[D.O BIRTHDAY PROJECT] Somewhere, Sometime (Oneshot) – Shaekiran

somewhere,sometime.jpg

Somewhere, Sometime

A story by Shaekiran

Dedicated to Kyungsoo’s Birthday

 

EXO’s Do Kyungsoo x OC’s Kim Han Sol

A romance, angst, AU, and historical story

In T rated and oneshot length

Disclaimer

This fanfiction is pure mine. EXO are belong to God, their family and agency. OC is belong to author. Standard disclaimer applied. Happy reading and please enjoy this birthday fiction!

“Disuatu tempat, suatu hari, aku menyukaimu.”

 

©2017 Shaekiran’s Art and Story All Rights Reserved

 

 

Pemuda itu berdiri, ditengah gerimis hujan Hanyang yang kini turun membasahi. Ia menatap kaku, namun yang ditatap kini balas menatapnya bingung sembari mengulum senyum tipis.

“Maaf tuan, apa tuan mengenalku?” dan saat itulah pemuda itu tau bahwa ia telah jatuh hati. Senyum gadis ber-hanbok sederhana yang kini bertanya lembut itu sungguh membuatnya terpana hingga merasa candu.

“Ah, a-a-ni, bu-kan a-pa-apa,” jawabnya kikuk, dibalas pula senyum tulus si gadis yang hanya ber-oh ria kemudian beranjak pergi.

“Sial, harusnya aku menanyakan namanya,” gumam lelaki itu akhirnya saat sadar si gadis sudah beranjak pergi, menghilang dari hadapannya. Dan barulah ia sadar pula kalau gerimis telah reda.

Namun pemuda itu-si tuan muda dari keluarga Do yang terpandang di Hanyang, Kyungsoo namanya- hanya mendesah pelan. Enggan menurunkan harga diri mengejar si gadis lalu menanyakan siapa gerangan nama yang sudah menggetarkan hatinya dalam sekali pandang. Ia hanya diam, menatap kepergian gadis ber-hanbok merah muda dari kejauhan, hingga sosoknya kini hilang ditelan keramaian.

“Kyungsoo, tanggal pertunanganmu telah ditentukan nak,” Nyonya Do, ibu Kyungsoo kini berucap sambil menepuk pelan paha putra semata wayangnya. Disisinya duduk pula Tuan Besar Do yang hanya tersenyum tipis, yakin sudah memilih calon yang tepat sebagai pendamping putranya sekaligus menjadi menantu bangsawan pejabat pemerintahan sepertinya.

“Dia anak Tuan Kim, ayah yakin ia cocok denganmu,” lanjut Tuan besar itu ringan, sementara Kyungsoo kini hanya mengangguk mengiyakan- tau bahwa ia tidak mungkin menolak perjodohan yang sudah ditetapkan orangtuanya itu.

Ne, aku akan menerima calonku dengan senang hati, aboeji,” jawabnya , dan senyum terkembang di bibir kedua orangtuanya.

Demikian Kyungsoo pamit pergi ke kamarnya, duduk di balkon sambil memandangi langit malam yang nampak cerah dengan milyaran pendar bintang. Ia suka duduk disana sebelum raganya menghadap mimpi, rasanya itu adalah penenang bagi bangsawan berkelas sepertinya.

Menatap bintang lama-lama, lambat laun wajah gadis yang tak sengaja bertatap mata dengannya di pasar tadi mulai terbayang di benak Kyungsoo. Ia tersenyum samar. Mengingat bagaimana paras menawan dengan kulit mulus tanpa cela dan senyum bak lengkung bulan sabit milik gadis yang tak ia ketahui namanya itu. Kyungsoo sadar, ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama- satu hal tentang cinta yang tidak ia pernah percayai sebelumnya namun malah terjadi padanya.

“Ia benar-benar cantik,” Kyungsoo menggumam sambil memegangi dadanya yang kini bergejolak hebat. Mengingat gadis itu saja sudah membuat jantunya mulai berdetak tak karuan.

Namun Kyungsoo sadar diri. Ia menghapus lamunannya pada sang gadis segera. Awal bulan depan ia akan bertunangan, dan ia tidak mungkin bergila diri dengan cinta pada gadis yang bahkan tak ia kenal. Terlalu fana dan munafik jika Kyungsoo berharap pertunangannya batal dan ia akan bertemu gadis di pasar itu lagi, atau mengharapkan bahwa gadis di pasar itu adalah putri Tuan Kim sekaligus calon tunangannya. Jadi ia menutup matanya, mulai merebahkan diri dengan niatan menyelami alam mimpi.

Namun takdir ternyata berkata lain. Kyungsoo hanya bisa menganga dengan pemadangan di depannya kini. Munafiknya terjadi. Gadis di pasar dengan hanbok merah muda dan motif bunga cherry blossom yang berguguran itu kini tersenyum padanya untuk kedua kalinya, dan bahagianya ialah gadis itu tersenyum sebagai calon tunangannya.

“Nama saya Kim Han Sol, putri bungsu Menteri Kim. Senang berkenalan dengan anda Tuan Muda Do,” ucap si gadis yang ternyata bernama Han Sol, sosok yang sudah mengalihkan perhatian Kyungsoo sejak pertemuan pertama di pasar dan sejak ia menatap gadis itu di rumah keluarga calon mertuanya.

Kyungsoo tak bisa berdiam diri. Esok hari adalah tanggal dimana ia akan bertemu Han Sol secara pribadi, niatnya ingin menyusuri jalanan Hanyang sekaligus mendekatkan diri. Jadi Kyungsoo mulai bertingkah aneh di kamarnya, bolak-balik maju-mundur sambil menggigit jemarinya sendiri. Kyungsoo gugup. Sungguh, bahkan malam sebelum ia mengikuti ujian sarjana istana saja ia tidak segugup ini. Tapi hanya karena seorang Han Sol, ia bisa mondar-mandir tak tenang lebih dari puluhan kali.

Ottokhe? Sebaiknya hanbok mana yang kupakai? Yang hijau? Unggu? Atau malah sebaiknya hitam? Ani, hitam terlalu gelap. Sebaiknya hijau saja,” ia berucap sambil membuka lemari pakaiannya, mengobrak-abrik kumpulan hanbok sutera miliknya.

“Oh iya, gat. Gat yang mana yang harus kupakai? Yang inikah? Atau yang ini?” Kyungsoo berucap lagi sambil menaik-turunkan topi di tangan kanan dan kirinya. “Ah, aku bingung,” ia bergumam, kemudian lanjut mengotak-atik isi lemarinya lagi. Maklum, Kyungsoo hanya ingin tampil sempurna di depan Han Sol besok, bagaimanapun caranya.

Jadi besoknya, setelah dirasa penampilannya sempurna, Kyungsoo berdiri di depan gerbang pasar,-tempat perjanjiannya bersama Han Sol. 15 menit menunggu dalam kegelisahan, akhirnya Han Sol datang sambil menenteng jang ot di tangan.

“Maaf, aku lama Kyungsoo-ssi,” gadis itu berucap singkat, lengkap dengan senyum tipis yang terus mengembang di bibir plum-nya.

“Tidak, aku juga baru datang Han Sol-ssi. Kajja, sepertinya banyak yang perlu kita kelilingi,” jawab Kyungsoo bersemangat. Han Sol mengangguk perlahan, lalu mulai mengikuti langkah Kyungsoo di sebelahnya.

Berdiri bersebelahan membuat detak Kyungsoo mulai tak beraturan lagi. Ia gugup. Memandang Han Sol dari jarak sedekat ini bahkan membuat tenggorokannya secara ajaib tercekat. “Ia cantik,” lagi-lagi kini ia membatin, memuji pahatan sempurna di sebelahnya itu.

Kyungsoo berhenti saat sadar Han Sol sudah selangkah tertinggal di belakangnya. Lantas ia berbalik, kemudian menemukan gadis calon tunangannya itu tengah berdiri di depan pedagang aksesoris.

“Kau menyukainya?” tanya Kyungsoo sambil menunjuk sebuah norigae merah muda yang sedari tadi dipandangi Han Sol, dan kagetlah gadis itu saat mendapati Kyungsoo sudah berdiri di sebelahnya.

“Ah, ti-tidak Kyungsoo-ssi, saya hanya melihat-lihat,” elaknya, dan Kyungsoo sadar bahwa gadis itu tengah berbohong pula. Jadi Kyungsoo, dengan senyum tipis di bibir tebalnya yang jarak ia tunjukkan kini memerintah si pedagang memberikan norigae itu pada-nya.

“Lihatlah, norigae ini cocok untukmu,” ucap Kyungsoo sambil mendekat norigae itu pada Han Sol, dan tersipulah si gadis.

“Tolong bungkus norigae ini untuk nona si sebelahku,” Kyungsoo berucap, dan dalam hitungan detik si pedagang lekas mengangguk. Beberapa keping perak Kyungsoo berikan sebagai imbalan, dan norigae cantik itu sudah resmi menjadi miliknya.

“Untukmu, sebuah norigae cantik untuk gadis yang sama cantiknya,” jujur Kyungsoo, dan bahagialah ia karena Han Sol menerimanya dengan malu-malu.

“Terima kasih Kyungsoo-ssi,” tutur si gadis dan Kyungsoo hanya tersenyum. Ia mulai melebarkan lagi buchae-nya, kemudian lanjut mengajak Han Sol berkeliling.

Hari terus berlanjut. Sudah seminggu pula sejak pertemuan antar Kyungsoo dan gadis tunangannya. Meski demikian, senyum Han Sol layaknya sebuah candu yang selalu bersarang dalam pikir Kyungsoo. Kini tak ada hari pemuda bangsawan itu yang terlewat tanpa bayangan gadisnya.

Pagi itu, Kyungsoo dikejutkan dengan kehadiran seorang kurir di depan pintu rumahnya. Usut punya usut, ternyata kurir itu adalah pekerja di kediaman Tuan Kim-ayah Han Sol- dan ia menjelaskan bahwa nona mudanya mengirimkan sebuah surat pada Kyungsoo.

Sepeninggal kurir itu dengan surat beramplop putih di tangannya, Kyungsoo segera berlari ke dalam rumah. Ia masuk ke dalam kamar, kemudian segera membuka surat itu penasaran.

“Untuk Tuan Muda Do,
Tuan, jikalau tuan tak keberatan dan waktu mengijinkan, bisakah kita bertemu saat mentari muncul di ufuk timur esok hari?
Jikalau tuan membaca ini dan menyanggupinya, datanglah esok ke taman kota. Saya akan menunggumu di bawah pohon persik yang tengah berbuah ranum.
Dari seorang gadis keturunan Kim yang selalu memandangmu dari kejauhan.”

Senyum Kyungsoo tentunya merekah terlalu sempurna. Ia bersorak sendiri, berteriak kegeringan setelah membaca beberapa patah kata yang tergores di surat Han Sol. Mungkin kedengaran mustahil, namun Kyungsoo mau mentari pagi ini berganti saja dengan rembulan malam segera. Ia ingin esok datang lebih cepat hingga ia dan Han Sol dapat bertatap muka segera dan melepas rindu bersama.

Kyungsoo dengan penampilan hanbok rapi dilengkapi bat hitam yang menutupi kepala serta buchae yang ia pegang di tangan kiri, kini merajut langkahnya pasti menuju taman kota. Dengan cepat ia menangkap sosok pohon persik satu-satunya di taman itu lalu segera pergi ke sana. Seperti kata Han Sol, pohon itu berbuah sangat ranum. Lantas Kyungsoo menyenderkan badannya ke badan pohon yang sudah berumur, menikmati angin pagi sambil memandang orang yang lalu lalang lewat di jembatan beberapa meter di depannya sembari menunggu Han Sol yang belum kelihatan batang hidungnya.

Sudah setengah jam lebih Kyungsoo menunggu, namun tak kunjung datang pula gadis yang ia tunggu. Mentari yang tadinya bersembunyi malu-malu kini sudah merangkak naik cukup berani, langit semakin terang dan sinarnya semakin keemasan. Meski demikian Han Sol belum datang jua.

Mentari yang tadinya keemasan, kini berubah gelap. Raja siang bersembunyi, sementara kini awan tebal sudah menaungi langit. Tak lama, hujan turun mengguyur tipis. Sadar dirinya kehujanan, dengan segera Kyungsoo menumpukan kedua tangannya di atas kepala-melindungi diri dari hujan- kemudian mencari tempat berteduh secepatnya. Nampaklah baginya sebuah pelataran kedai tak jauh dari tempatnya kini berada, jadi pemuda itu memutuskan berteduh saja di sana.

“Hujan ini menyebalkan,” Kyungsoo menggumam tak lama setelah ia berhasil mencapai teras kedai yang tengah tutup. Ia me-lap beberapa bagian tubuhnya yang basah, cukup kesal karena hujan ini mungkin membuatnya tak bisa bertemu dengan Han Sol di tempat perjanjian mereka.

Kyungsoo hanya bisa menghela nafasnya. Tak mungkin pula ia menyalahkan langit yang telah menurunkan hujan. Jadi pemuda Do itu maju beberapa langkah, memilih tersenyum saja pada hujan.

“Semoga aku bertemu dengannya di tengah hujan lagi, seperti dulu,” ia membatin sambil meletakkan tangannya di bawah guyuran hujan, menikmati sensasi dingin air yang tumpah ruah ke bumi itu mengenai permukaan kulitnya. Ternyata Kyungsoo tak sendiri, karena kini sudut matanya menangkap sebuah tangan yang juga melakukan hal yang sama, sebuah tangan dengan jemari lentik mulus khas seorang gadis.

Penasaran, Kyungsoo memalingkan wajahnya ke kanan, nampaklah baginya paras sempurna gadis yang sedari tadi ia tunggu tengah menutup matanya dengan kepala menengadah ke langit. Nampak begitu damai dan tenang.

“Kim Han Sol?” Kyungsoo bertanya memastikan, dan detik selanjutnya si gadis membuka mata lalu menatap Kyungsoo. Tatapan sama terkejutnya diberikan si gadis pada Kyungsoo yang kini tersenyum penuh arti.

“Ternyata hujan mempertemukan kita lagi,” Kyungsoo berucap, sementara si gadis mengangguk setuju sambil setengah tertawa.

“Ternyata Tuan disini. Padahal aku menunggumu sambil menantang langit di bawah pohon persik sebelah sana,” kelakar si gadis sambil menunjuk pohon persik yang tadi batangnya menjadi sandaran tubuh Kyungsoo, Tentu saja di pemuda Do terkejut.

“Aku juga menunggumu sejak tadi, di sana, tepat di bawah pohon persik itu. Namun kau yang tak kunjung datang nona,” Kyungsoo berucap jujur, sementara keterkejutan yang sama kini gadis itu berikan sebagai balasan.

“Aku menghadap jalan ke pertokoan sana, Tuan menghadap mana?” tanya si gadis akhirnya saat menyadari ada yang mungkin terjadi hingga mereka salah paham seperti ini.

“Jembatan. Tatapanku tepat beradu pandang dengan jembatan di sana,” Kyungsoo menjawab dengan kekehan tipis, seakan sadar bagaimana bisa mereka tak bisa bertemu padahal saling menunggu di tempat yang sama.

“Seperti pohon persik itu mempermainkan kita Tuan, pohonnya terlalu besar sehingga kita saling berbalik tanpa bertemu seperti tadi,” tawa kecil lolos dari bibir Han Sol, renyah dan nyaman di telinga Kyungsoo. Ia mengangguk setuju, sementara kini mereka sama-sama menengadahkan tangan menanti hujan menerpa.

“Menyesal karena menunggu bodoh seperti tadi?” si gadis lanjut bertanya, dan Kyungsoo dengan cepat menggeleng.

“Tidak, justru aku menyukainya, aku menikmati saat-saat menunggumu seperti orang bodoh padahal kita bersandar ke pohon yang sama. Meski bodoh dan sia-sia, namun semuanya terasa menyenangkan karenamu.” Han Sol tersenyum tipis, lantas ditatapnya sisi tampan Kyungsoo yang asyik menatap pemandangan di depannya.

“Han Sol-ssi, sepertinya aku harus berterima kasih sekarang,” lanjut Kyungsoo, dan kata tanya mengapa meluncur begitu saja dari bibir plum si gadis Kim.

“Mungkin aku harus berterimakasih sekarang pada hujan, karena telah mempertemukanku denganmu dulu dan sekarang di bawah guyuran tipisnya di kota Hanyang. Aku menyukai saat-saat kita saling menatap di bawah hujan tanpa sengaja seperti ini.” Kyungsoo memalingkan wajahnya, menatap paras Han Sol yang kini juga menatapnya. Mata Kyungsoo menatapnya dalam, mencari keteduhan di balik mata sayu si gadis.

“Han Sol-ssi, sebenarnya ada yang-“

“Han Sol-ah, ternyata kau di sini.”

Atensi kedua insan itu segera teralih ke sumber suara, seorang pemuda yang sama rupawannya dengan Kyungsoo tengah menepuk bahu Han Sol ringan. Si gadis tersenyum, lantas ditatapnya penuh keteduhan pemuda yang baru saja muncul itu.

“Apa ini orangnya?” si pemuda pendatang bertanya dan Han Sol mengangguk pelan. Kyungsoo tentu saja bingung apa yang terjadi sekarang. Pikirnya berkelana jauh, menebak-nebak siapa gerangan pemuda yang nampak akrab dengan calon tunangannya itu.

“Aku akan membiarkanmu bicara dengannya, jelaskan semuanya dan aku akan menunggu di tempat biasa, arraseo?” pemuda itu tersenyum, kemudian membelai halus surai gelap milik Han Sol sebelum ia menunduk singkat pada Kyungsoo. Tak lama, pemuda itu sudah pergi meninggalkan Kyungsoo dan Han Sol berdua, menembus hujan dan berlari ke suatu tempat yang mungkin pemuda tadi sebut tempat biasa.

Gatal sudah bibir Kyungsoo ingin bertanya, namun perubahan raut wajah Han Sol yang berubah sendu seakan mencegahnya melontarkan pertanyaan yang sudah mengganjal di hati.

“Kyungsoo-ssi, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu,” dan Kyungsso sadar, ada yang tidak beres setelah ini.

Manik Kyungsoo hanya bisa membola. Penuturan Han Sol-gadis yang diam-diam ia puja- agaknya sudah cukup membuat Kyungsoo jatuh ke dasar jurang hatinya, mencelos dengan rasa sakit teramat dalam. 

“Dia kekasihku, dan aku sangat mencintainya meski orangtuaku tak merestui hubungan kami,” kalimat itu masih terngiang jelas di rungu Kyungsoo, sebuah jawaban dari pertanyaan tertahannya pada Han Sol.

Sebuah kata maaf mendominasi konservasi yang tercipta antar Kyungsoo dan Han Sol. Gadis itu menunduk sangat dalam, lagi-lagi mengucapkan kata maaf yang sudah bosan Kyungsoo dengar. Ingin rasanya air menyeruak keluar dari sudut mata Kyungsoo, namun ia menahannya sebisa mungkin.

Sudah cukup berapa luka yang tergores karena pengakuan Han Sol bahwa ia mempunyai seorang kekasih gelap saat si gadis sudah bertunangan dengannya. Tinggal menghitung hari bagaimana mereka resmi bertunangan dan tinggal menunggu dua purnama lagi mereka terikat janji sebagai sepasang suami istri yang berbahagia. Tapi kenyataan ini menampar Kyungsoo seketika.

Kyungsoo masih diam dengan rasanya, memandang kosong si gadis yang kini tertunduk menyesal seakan berkata maaf-aku-tidak-menyukaimu. Ingin rasanya Kyungsoo mengumpat sekeras yang ia bisa, mempertanyakan kenapa waktu terlalu lama mempertemukan ia dan Han Sol. Ia marah. Harusnya ia yang dicintai Han Sol, bukan pemuda tadi.

“Aku akan membatalkan pertunangannya segera. Maaf karena lagi-lagi aku mengecewakanmu Kyungsoo-ssi. Namun lagi-lagi takdir sepertinya mempermainkan kita berdua, aku terlanjur mencintai orang lain,” belum ada jawaban dari Kyungsoo, yang ada masih pandangan kosong yang sulit Han Sol tebak artinya.

“Kuharap kita bisa berpisah baik-baik Kyungsoo-ssi, dan ini-“ Han Sol menggantung kalimatnya, kemudian melepas norigae yang tergantung di hanbok-nya- norigae pemberian Kyungsoo.

Norigae ini juga ku kembalikan Kyungsoo-ssi, ada gadis baik di luar sana yang lebih pantas mendapatkan benda cantik ini daripada aku,” ucapnya sambil mengulurkan benda merah muda itu pada Kyungsoo yang masih tak bergeming. Rasanya terlalu sulit menghadapi kenyataan perpisahan dari pertemuan singkat seperti ini.

“Kau bilang orangtuamu tak merestui ‘kan? Lalu apa yang akan kalian lakukan kalau Tuan Kim masih tak merestui?” kali ini Kyungsoo bersuara, mempertanyakan sebuah pertanyaan kecil yang mencubit hatinya sedari tadi setelah beberapa saat hanya memilih diam.

“Kami akan menikah diam-diam, dan memilih pergi saja dari Hanyang. Kami berpikir tentang hidup tenang di pedesaan, sepertinya lebih menyenangkan daripada hidup sesak terikat di ibukota seperti ini,” jujur Han Sol dan jujur pula itu semakin memberi asam pada luka menganga di hati Kyungsoo. Mereka akan menikah.

“Pergilah, dia sudah menunggumu terlalu lama,” kali ini Kyungsoo berucap lirih, nampak di belakang Han Sol sudah ada kekasih si gadis dengan payung di tangan.

“Tapi Kyungsoo-ssi, aku-“

Norigae-nya ambil saja. Anggap itu kenang-kenangan dari seorang pemuda yang tak sengaja kau temui di bawah hujan Hanyang, atau kau juga boleh menganggapnya sebagai hadiah pernikahan dari mantan calon tunanganmu yang merelakanmu pergi,” miris hati Kyungsoo, miris pula ucapannya. Mungkin Han Sol bisa tertipu dengan senyum terkekeh yang sedang pemuda Do itu torehkan di bibirnya. Mimik wajah penuh senyum pasti yang tak sedikitpun menyiratkan kesedihan perpisahan.

Salah, seharusnya bukan itu yang Kyungsoo ucapkan. Harusnya ia mengucapkan jangan pergi dengan lantang, harusnya ia sedikit egois menahan Han Sol sebagai tunanganya. Namun Kyungsoo sadar diri, ia telak ditolak gadisnya sendiri.

“Semoga kau bahagia Han Sol, aku pasti akan mendoakan pernikahan kalian berdua. Omong-omong, norigae itu paling cocok denganmu, jadi tolong ambil saja itu sebagai kenang-kenangan, arraseo? Aku harap kita masih bisa berteman baik.”

Sore itu hujan mengguyur tipis kota Hanyang. Di bawah teras sebuah kedai yang tengah tutup, Kyungsoo tersenyum tulus.

“Bagai punguk merindukan bulan,

Layaknya tandus setia menanti hujan

Rasa ini membelengguku terlalu dalam.”

 

 

-FIN-

Shaekiran’s note

Nyempil dikit historical nih,wkwk, sebenarnya sih gak histori juga, cuma ngambil latarnya ya di era joseon begitu/plakk/ 😄

Sekedar info untuk yg kurang ngeh dengan kata-kata bahasa korea yang ada di ff ini,

  1. gat itu topi yang biasa di pakai cowok Joseon kalau kelar rumah.
  2. norigae itu aksesoris, semacam hiasan buat hanbok gitu, buat cewek Joseon
  3. buchae itu kipas yang dibawa sama pemuda-pemuda Joseon
  4. hanbok pakaian tradisional Korea yang jadi pakaian sehari-hari di Joseon
  5. Jang ot, semacam kain yang dipake sebagai penutup kepala cewek di Joseon

Bonus pict yaw biar makin ngerti yg mana yg eki maksud, kalo nonton drama Korea yg latarnya Joseon atau Goryeo banyak kok seliweran 😀

Bonus pict terakhir dari babang yg  ultah aja kali ya biar gak mumet /plakk/ 😄

Saeing-il chukkae uri Kyungsoo Oppa!! ❤

Iklan

11 thoughts on “[D.O BIRTHDAY PROJECT] Somewhere, Sometime (Oneshot) – Shaekiran

  1. Pasti sakit jdi Dyo Oppa,sini sama Aku aj ya Oppa,tinggalin aj tuh cewe,dasar cewe aneh masa Namja Segwanteng Dyo Oppa ditolak si,ga masuk di akal aku banget

    Maaf telat Oppa Happy Kyungsoo Dyo Oppa Day

    • Sakit beuy ya d.o-nya, chingu, eki sedih/plakk/😂
      Mungkin ceweknya katarak, ga bisa liat cowok secogan bang d.o, anggep aja gitu chingu/plakk/😂
      Happy kyungsoo day, thanks for reading. Cintakuh padamuh.😍

  2. aku pikir bakal happy ending, ternyata kasihan kyungsoo oppa nya gpp lah pasti Ada Yang lebih baik nanti ya oppa. n happy birthday D.O oppa

  3. Aduh kok jadi do oppanya ngenes sih?! Tpi gpp munkin wanita baik diluar sana yg di sebutkan han sol itu aku kkk~
    Happy kyungsoo day 🙂

    • Oppa sekalinya jatuh cinta ama calon tunangan eh tuh calon dah punya pacar dna otw nikah, asem beut kan chingu? /plakk/ 😄
      hoho, semoga beneran chingu, kyyaaaa/digampar/ 😀
      happy kyungsoo day jugaa ^^
      Thanks for reading, cintakuh padamuh ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s