[D.O. BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES IN GWANAKGU (3) — IRISH’s Tale

irish-holmes-in-gwanakgu

HOL(M)ES

SCIENCE in Gwanak-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Kai

Special appearance EXO’s Chanyeol, D.O. & Shaekiran`s OC Yara

An adventure, dystopia, family and politic story  rated by Teen served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. Shaekiran

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Kai & D.O. of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Gwanak-gu (2) [D.O.]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Ini sulit, ada password baru untuk membuka e-mail ini.”

Suara Jongin terdengar, sementara ia tengah berusaha keras memahami sandi rumit yang dihadapkan padanya sekarang. Di monitor sudah terpampang sebuah e-mail yang baru saja dikirim Arshavin kepada seseorang.

“Apa mungkin sandi berantai?” Chanyeol bertanya dan Jongin mengangguk mengiyakan.

“Bahkan sandinya sandi paling bajingan yang pernah ada hyung. Sandi dengan anti retas. Salah masuk sandi dan datanya hilang. Kurang sialan apa lagi?” Jongin hampir saja memekik lantaran kesal, sementara Chanyeol kini terlihat berpikir.

“Berapa kesempatan yang kita punya?” tanya Chanyeol dan Jongin hanya menghela nafasnya sangat singkat.

“Satu. Dan aku tidak yakin untuk meretasnya karena aku takut datanya hilang. Ini password sensitive hyung, kau tahu maksudku ‘kan? Salah sedikit dan hilanglah sudah.” keluh Jongin dan Chanyeol hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam.

“Setidaknya Arshavin tidak sadar kalau kalian sudah meretas e-mailnya, itu sudah cukup bagus.” kata Jia-yi, cukup bersyukur meski kemungkinan besar e-mail penting itu tak akan pernah terbuka.

“Kemana Arshavin mengirim e-mailnya? Apa kau bisa memeriksanya?” dengan cepat Jongin mengangguk. Melihat penerima e-mail sepertinya bisa ditolerir tidak akan merugikannya.

“Lee Jung Shil. E-mailnya dikirim ke Lee Jung Shil, menteri pertahanan Korea.” ucap Jongin tak berapa lama kemudian. Mendengarnya Chanyeol maupun Jia-yi langsung terperangah. Menteri pertahanan? Sudah pasti ada yang tidak beres dalam e-mail itu.

Huh, apa mereka berada di perahu yang sama? Sepertinya, menteri satu ini berkhianat.” Chanyeol berucap sinis, sementara Jia-yi kini semakin kalut.

“Kalau pemimpin negaramu saja ingin negaramu hancur, bagaimana dengan negaraku? Cepat atau lambat sesuatu yang lebih buruk akan terjadi di sini, dan adikku masih di luar sana.”  Jia-yi berucap frustasi. Matanya memerah.

Ia memang gadis yang kuat, tapi fakta bahwa pengkhianatan terjadi dimana-mana hingga kemungkinan Korea hancur semakin cepat membuatnya tak tahan lagi.

“Adikmu? Jangankan adikmu, kau mungkin saja mati, nona. Ingat, kau juga ada di Korea sekarang, jangan bodoh!” amarah Chanyeol naik ke permukaan, sementara Jongin hanya bisa pasrah di depan layar komputernya.

Beberapa menit mereka buang dengan saling berdiam tanpa ada keinginan untuk membuka konversasi. Jia-yi meringkuk pasrah, sementara Chanyeol menyenderkan badannya ke dinding. Jongin jadi satu-satunya yang masih memasang raut cukup serius.

Hyung, kau masih punya kontak Yara?” kalimat Jongin membuat Chanyeol membulatkan matanya segera.

“Siapa Yara?” tanya Jia-yi akhirnya.

“Manta kekasih hyung, Lee Yara.” jawaban Jongin tanpa sadar membuat Jia-yi memutar bola mata jengah.

“Kita ada di tengah perang, dan kalian masih sempat memikirkan nasib mantan kekasih—”

“—Yara putri Lee Jung Shil.”

Segera, Jia-yi menelan semua kalimat yang tadinya hendak ia lontarkan sebagai wujud kekesalan. Sudah lupakan dia kalau Chanyeol adalah putra presiden meski tidak diakui? Tentu saja, mantan kekasih pria itu pun bukanlah gadis biasa.

Tapi tunggu, siapa katanya? Putri Lee Jung Shil? Artinya mungkin saja gadis itu tahu e-mail ayahnya, begitu?

“Coba hubungi dia hyung. Mungkin dia mau membantu kita.” nasihat Jongin, namun Chanyeol justru memalingkan wajahnya.

“Tidak, aku tidak mau berurusan lagi dengan gadis itu.” tolaknya cepat.

“Tapi hyung, nasib Korea mungkin ada di—”

“—Tuan Muda Park. Kami datang menjemputmu.”

Ketiga orang itu membulatkan mata saat tiba-tiba saja seorang yang tak asing di mata Chanyeol—entah sejak kapan—muncul di depan pintu. Chanyeol dengan cepat menghidupkan ponselnya, dan hembusan nafas panjang lolos dari pemuda Park itu ketika mendapati puluhan panggilan tak terjawab dan pesan beruntun dari Sekretaris Kim—suruhan ayahnya.

“Ada urusan apa?” tanya Chanyeol sarkas, dan Sekretaris Kim yang sudah cukup berumur itu tersenyum sebelum ia lantas menunduk hormat.

“Saya ditugaskan Presiden untuk membawa anda kembali ke rumah Tuan.” jawabnya, dan dalam hitungan detik belasan bodyguard berbadan kekar sudah mengepungnya.

“Sialan.” Chanyeol mengumpat kesal.

“Presiden ingin anda segera pulang dan berhenti bermain-main, Tuan. Lihatlah bagaimana keadaan Tuan setelah dua bulan pergi dari rumah. Presiden selalu mengkhawatirkan keadaan Tuan dan—”

“Berhenti berbohong seakan ayah peduli padaku sekretaris Kim! Aku tidak senaif itu sehingga bisa kau bodohi seenaknya!” suara Chanyeol naik satu oktaf, hingga semua orang di sana hanya bisa terdiam.

Jia-yi sendiri menyadari satu hal ketika mendengar teriakan Chanyeol. Ia tahu, Chanyeol merindukan ayahnya. Teriakan itu bukanlah ungkapan kemarahan tidak berarti yang diutarakan remaja untuk mendapat perhatian, melainkan sebuah teriakan kesakitan yang selama beberapa waktu tidak dapat ia lontarkan.

“Kita bisa bicara di luar, Tuan.” pria paruh baya itu berucap, layaknya di dalam film-film yang pernah Jia-yi lihat, hal yang selanjutnya terjadi adalah bagaimana Chanyeol melangkah keluar dengan langkah gontai, diikuti dengan bodyguard yang tadi berbaris seolah ingin menahan Chanyeol dan emosinya, sementara pria paruh baya itu sempat menyunggingkan senyum sopan pada dua orang yang tersisa di sana.

Well, Jia-yi tahu semua orang punya setidaknya satu kelemahan, dan setidaknya bagi pria yang kemarin ditemuinya seperti seorang gelandangan itu, sosok seorang ayah yang tidak pernah mengakui eksistensinya adalah sebuah kelemahan. Ia hanya seorang anak yang kesepian, korban ketamakan serta nafsu duniawi orang tua.

“Ibu kandung hyung sudah meninggal dua tahun lalu, sejak saat itu hyung sering kabur dari rumah.” suara Jongin terdengar dari sebelah Jia-yi, diam-diam membuat gadis itu terhenyak.

“Ibu tirinya selalu berusaha membunuhnya sedangkan ayahnya selalu sibuk tanpa pernah menanyakan kabar hyung. Dia itu anak yang kesepian.” jelas Jongin sambil memandang jauh ke masa lalu ketika Chanyeol yang tengah melarikan diri itu secara tak sengaja bertemu dengannya di sebuah café internet dan menyadari bakat Jongin.

Tak berselang lama, Chanyeol nampak memasuki ruangan lagi. Matanya memerah, sementara ia kini memungut jaket hoodie hijaunya yang tergeletak di lantai.

“Aku pergi. Sepertinya aku memang harus pulang ke rumah untuk sementara waktu.” pamit Chanyeol dan Jongin hanya menepuk bahu hyungnya itu ringan.

“Memang sudah seharusnya kau pulang, bukan? Ayahmu pasti merindukanmu hyung.” ucap Jongin menenangkan Chanyeol, sementara yang ditepuk bahunya hanya diam.

“Kau dan Jia-yi, pergilah ke tempat Kyungsoo. Bawa semua data yang kau perlukan dan katakan kalau aku menunggunya di tempat biasa.” Chanyeol berucap sementara ia sibuk membereskan barang-barangnya yang berserakan.

Hyung, kau punya rencana?” tanya Jongin kali ini. Meski ragu, Chanyeol sempat mengangguk.

“Ya, mungkin. Doakan saja rencanaku ini berhasil.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Mobil Audi hitam yang dikendarai Jongin membelah jalanan kota Seoul. Seperti kata Chanyeol, Jongin akan membawa Jia-yi ke tempat Kyungsoo. Tidaklah jauh sebenarnya jarak Seoul University dengan tempat yang disinggahi Kyungsoo. Namun macet berkepanjangan khas kota besar lah yang justru menghadang laju mobil Jongin.

“Apa Seoul selalu semacet ini?” Jia-yi membuka konservasi setelah sekian lama mereka berdua hanya diam di dalam mobil. Cukup risih karena mereka berdua bersikap begitu canggung layaknya orang asing—meski sebenarnya Jia-yi juga baru mengenal Jongin satu hari yang lalu.

“Tergantung. Biasanya, kau harus memilih jam yang tepat untuk beraktifitas di luar. Bisa dibilang, aku juga tidak sering ada di luar seperti ini.” Jongin menjawab seadanya. Karena ia pun sebenarnya tidak tahu menahu tentang aktifitas jalanan Seoul.

Biasanya ia hanya mendekam dalam ruangan sempit itu bersama Chanyeol, atau sesekali berada di tempat Kyungsoo. Dia tidak banyak keluar dan menikmati rutinitas Seoul.

“Bagaimana kau mengenal Chanyeol?” akhirnya Jia-yi malah bertanya sesuatu yang mencubit rasa ingin tahunya sedari tadi. Jongin tersenyum, lantas dijawabnya pertanyaan Jia-yi.

“Ia memungutku. Aku ini anak yatim piatu yang hidup seperti sampah di tengah perkotaan, keluar masuk café internet dengan uang hasil menipu online dan makan dari hasil mencuri jajanan kaki lima di Myeongdong.” Jia-yi terdiam. Hidup Jongin sama mengenaskannya dengan Chanyeol. Tanpa kasih sayang orangtua.

“Dia melihatku di café internet sedang meretas tabungan dari seorang yang tak sengaja kutemukan di jalan.” kali ini Jongin terkekeh, sementara Jia-yi masih diam tanpa berniat memotong.

“Kami bertemu saat ia masih SMA. Dia katakan kalau dia menyukai bakatku, dan dia bahkan menyekolahkanku di bidang teknologi. Bayangkan, aku berhutang separuh hidupku dan apa jadinya aku sekarang pada Chanyeol.

 “Hingga kini kami masuk ke universitas yang sama, Chanyeol tetap memperlakukanku seperti seorang bocah yang ditemukannya di café internet. Ia bahkan memperbolehkanku mengganggapnya sebagai hyungku. Kau tahu bagaimana bahagianya aku saat bertemu dengannya? Bagiku, dia adalah salah satu keajaiban yang diberikan Tuhan padaku.”

Jia-yi terdiam mendengar penuturan pemuda itu. Mendengar bagaimana Jongin menganggap Chanyeol sekarang, sudah bisa Jia-yi pastikan kalau bagi Jongin, Chanyeol memang seorang yang sangat berarti. Setidaknya, di mata Jia-yi, Chanyeol sudah memberikan harapan baru pada seorang anak yang hampir putus asa dengan hidup.

 “Kalau ada sinkhole, perang atau apapun itu, kau katakan kau akan menyelamatkan adikmu, bukan?” kali ini Jongin bertanya.

Anggukan yakin tentu Jia-yi berikan sebagai jawaban. Memangnya, untuk apa dia jauh-jauh ke tempat ini dan menjudi nyawa jika bukan karena adiknya?

“Kalau aku, aku pasti akan menyelamatkan Chanyeol hyung.” yakin Jongin dengan senyum merekah di bibirnya.

“Kalian pasti sangat dekat.” Jia-yi tersenyum. Entah kenapa setelah mendengar kisah Jongin, gadis itu semakin merindukan Jin-yi. Tak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan, Jia-yi akhirnya memutar otak, kembali berusaha mencari bahan pembicaraan.

“Soal Kyungsoo yang kalian bicarakan, siapa dia?” tanya Jia-yi, penasaran siapa seorang lagi yang sangat dipercaya Chanyeol juga orang yang nantinya akan mengantarnya menemui Jin-yi.

“Hmm, Kyungsoo hyung adalah orang yang misterius. Dia tidak banyak bicara dan pikirannya sulit di tebak. Dia dari Korea Utara, dia dulu adalah seorang agen dari Pyongyang yang ditugaskan menyusup ke sini.”

Jia-yi terhenyak dengan penuturan Jongin. Korea Utara katanya? Negara itu adalah salah satu negara sekutu China, dan Jia-yi yakin Korea Utara juga pasti ikut andil dalam rencana ini.

“Dan kalau kau tanya siapa yang akan dia tolong pertama kali saat ada sinkhole atau perang, kupastikan Kyungsoo hyung yang meski pikiran dan hatinya sulit ditebak itu akan menjawab sama sepertiku, kami akan menolong Park Chanyeol.”

Jia-yi tersenyum. Meski dia belum bertemu dengan sosok Kyungsoo ini, Jia-yi tahu pria itu pasti memiliki kisah serupa dengan Jongin. Keduanya sama-sama berhutang budi, dan istilah yang pernah Jia-yi dengar saat kecil, hutang budi layaknya dibayar sampai mati.

Agaknya, istilah itu benar adanya. Setidaknya Jia-yi menemui dua orang dengan keadaan yang sama. Merasa cukup memuaskan rasa ingin tahunya, Jiayi lantas menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menatap keluar jendela, merekam pemandangan Seoul yang mungkin tidak akan ia lihat lagi dalam benaknya. Chanyeol boleh saja tidak menerima kasih sayang dari orangtuanya, tapi setidaknya lelaki urak-urakan itu mendapat kasih tulus dari kedua sahabatnya.

“Kita sudah sampai.” Jia-yi mengedarkan pandangannya ketika mobil memasuki sebuah area apertemen sempit di jalanan yang cukup sepi.

Kini ia maupun Jongin sudah turun dari mobil, sementara seorang lelaki yang lebih pendek dari Jongin dengan alis tebal dan bibir yang memahat sebuah senyum kaku nampak sudah menyambut mereka di depan pintu.

“Aku Do Kyungsoo, apa kau gadis China yang diceritakan Chanyeol?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Alunan musik klasik ala tahun 70-an terdengar dari ruangan berukuran empat kali lima meter bernuansa cokelat tua yang kini jadi tempat persinggahan sementara Jia-yi. Aroma asing segera menyambut penciuman Jia-yi, menimbulkan sedikit pertanyaan dalam benak gadis itu tentang sosok yang ada di hadapannya.

“Bau apa ini?” pelan-pelan Jia-yi berbisik pada Jongin yang berdiri di sebelahnya.

“Lavender. Kyungsoo hyung menyukai lavender.” Jongin menjawab sedikit keras, membuat pemilik ruangan sempit tersebut melempar lirikan curiga.

“Ada yang salah dengan seleraku?” tanyanya tanpa menyelipkan keramahan.

“Tidak,” lekas Jia-yi menggeleng, enggan dinilai telah bersikap tidak sopan di depan pemilik rumah. “Baunya asing bagiku makanya aku bertanya.” Jia-yi menambahkan.

Tidak lagi memikirkan ucapan yang sempat didengarnya, Kyungsoo melangkah ke tepi jendela, menatap layar yang berdiri di atas sebuah tripod penyangga yang ada di sana dengan seksama.

“Dia pulang ke penjara itu?” tanya Kyungsoo kemudian.

“Hmm, seharusnya Jia-yi sendirian ke sini. Tapi Chanyeol malah mempercayakannya padaku.” Jongin menyahuti, seolah tahu benar kemana arah pembicaraan ini Kyungsoo bawa.

“Ah, begitu rupanya. Kudengar gadis ini mencari seseorang.” ucap Kyungsoo memulai konversasi lainnya seolah Jia-yi tidak ada di sana.

“Aku mencari adikku.” Jia-yi menyahut, sekaligus berusaha membuat Kyungsoo sadar bahwa subjek pembicaraannya dengan Chanyeol juga ada di sana.

“Aku tahu.” hanya itu sahutan yang Kyungsoo berikan, sekon kemudian Kyungsoo memutuskan untuk duduk di kursi kecil yang ada di dekatnya, menyandarkan tubuh sementara maniknya memperhatikan Jia-yi dari atas sampai bawah.

“Tidakkah kau katakan pada Chanyeol kalau aku sudah benar-benar keluar dari pekerjaanku?” tanya Kyungsoo kemudian.

“Aku sudah mengatakannya. Tapi kau tahu sendiri bagaimana Chanyeol, bukan?” Jongin menyahut acuh, ekspresinya sekarang memamerkan ucapan ‘aku-sudah-tahu-hal-ini-akan-terjadi’ pada Kyungsoo, sementara Jia-yi masih jadi pendengar setia.

“Memangnya dia di sini untuk bekerja juga? Bukankah dia—”

“—Kau menceritakan tentangku padanya?”

Baru saja Jia-yi berusaha melakukan hal yang sama—mengabaikan eksistensi Kyungsoo dan membicarakan pemuda itu pada Jongin seolah subjek pembicaraan tidak ada di sana—Kyungsoo sudah terlanjur memotong duluan.

“Sedikit?” Jongin berucap dengan nada bertanya.

“Lebih baik kau lupakan semua perkataannya. Terlalu banyak berurusan dengan kabel terkadang membuat Jongin bicara melantur.” Kyungsoo berucap, kali ini pada Jia-yi.

“Apa kau bisa membantuku?” mengabaikan bagaimana Kyungsoo terlihat enggan menunjukkan tentang siapa dirinya, Jia-yi justru bertanya.

“Aku sudah keluar dari pekerjaanku, nona. Tidakkah perkataan itu cukup jelas?” tanya Kyungsoo, dialihkannya pandangan ke arah botol wiski yang menganggur di meja, menyisakan separuh isinya.

Sembari menunggu reaksi Jia-yi, Kyungsoo akhirnya meneguk wiski tersebut, sedikit menyernyit saat reaksi candu melintas kerongkongannya dengan cara yang sebenarnya Kyungsoo benci tapi selalu dirindunya tiap malam, terutama saat masa lalunya tiba-tiba saja mengejar.

“Kupikir kau bisa membantunya sedikit, hyung. Dia sama saja seperti kita.” Jongin akhirnya ikut bicara.

Ingin sekali Jia-yi membantah dan mengatakan kalau dia sama sekali tidak sama dengan dua orang yang sekarang bersama dengannya. Tapi Jia-yi tahu, mengatakan hal semacam itu tidak akan membantu saat ini. Anggap saja, ia sedang mengalah demi kebaikan.

“Dia tidak sama seperti kita, Jongin. Dia tumbuh dengan kasih sayang, di negara yang tenang. Tidakkah kau lihat perbedaan mental stage kita dengannya?” alis Jia-yi terangkat tanpa sadar ketika mendengar ucapan Kyungsoo.

Tidak diduganya pemuda itu akan menarik kesimpulan seperti saat ini. Pikirnya, Kyungsoo akan memberikan jawaban serupa perkataan kasar, atau sejenisnya. Tapi yang sekarang terjadi justru di luar dugaan.

“Kau benar, aku memang tumbuh di tengah keluarga yang tidak mengabaikanku. Tapi setidaknya, saat ini kita sama—tidak punya siapa-siapa. Aku mengadu nasib ke tempat ini untuk bertahan hidup dan menyelamatkan saudaraku, apa aku salah?”

Kyungsoo sendiri memilih bungkam. Menyibukkan diri dengan memperhatikan sisa wiski yang ada di dalam botol sementara samar-samar, bibirnya menyunggingkan sebuah senyum.

“Imbalan apa yang akan kau berikan jika aku menemukan saudaramu?”

Imbalan? Lagi? Jia-yi kini menghembuskan nafas panjang.

“Bagaimana aku bisa menjanjikan imbalan untukmu saat aku bahkan tidak tahu apa aku bisa bertahan hidup di tempat ini?” Jia-yi berucap. Baginya, melalui dua hari di tempat yang tidak dikenalnya bukanlah perkara mudah, dan menjanjikan imbalan justru akan jadi hal yang makin membebaninya.

Jika Jia-yi nyatanya juga tidak bisa bertahan di tengah katastropis ini? Bukankah imbalan tersebut hanya akan jadi hutang yang dibawanya mati?

“Manusia haruslah optimis,” Kyungsoo menyahuti, masih dengan senyum yang sama terukir di wajahnya, ia lantas bangkit dari tempat duduknya dengan membawa botol wiski tersebut, mendekati sebuah piringan hitam di sudut ruangan.

“Sebenarnya, negaramu sungguh tidak kreatif. Meniru konsep peperangan lama yang dilakukan seorang pahlawan untuk menghancurkan negara.” Kyungsoo mulai berkelakar.

Jia-yi, menatap Jongin dengan pandang tidak mengerti sementara Jongin sendiri mengangkat bahu, pertanda bahwa ia juga tidak tahu.

“Apa maksudmu?” Jia-yi tidak tahan juga untuk tidak bertanya.

Kyungsoo, mengganti piringan hitamnya sejenak sebelum musik klasik bernada cukup keras mengejutkan Jia-yi. Sungguh, ia bisa mengerti jika seseorang punya selera musik yang berbeda-beda. Tapi mengganti musik lembut secara tiba-tiba menjadi Concerto No. 9 juga cukup mengejutkan Jia-yi, tentu saja.

“Kau tahu legenda lama tentang Vendetta? Kyungsoo salah seorang yang percaya kalau legenda itu benar-benar ada.” Jongin berbisik, seolah sudah paham benar tentang Kyungsoo dan seluk-beluk musik klasik aneh yang disukai pemuda itu.

“Ah…” Jia-yi mengangguk-angguk paham.

“Sampai dimana pembicaraan kita tadi?” Kyungsoo tiba-tiba saja bertanya.

“Meniru konsep perang lama, katamu.”

Jongin, tanpa sadar mengulum senyum kecil ketika didengarnya bagaimana Jia-yi menyahuti perkataan Kyungsoo meski gadis itu bersikap begitu acuh.

“Benar, ternyata kau mendengarkanku juga.”

Sebuah senyum terukir di wajah Kyungsoo, sementara Jia-yi melempar senyum kaku yang serupa. Agaknya, kecanggungan yang tadi tercipta di antara dua orang itu perlahan hancur.

“Jadi, aku boleh melanjutkan hipotesaku?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Jika kemarin Jia-yi katakan kalau Chanyeol mirip gelandangan, mungkin gadis itu harus menarik ucapannya segera jika melihat penampilan Chanyeol sekarang. Lelaki Park itu sudah tidak menggunakan hoodie lusuh dan jeans rombeng lagi, tapi digantikan dengan setelah tuxedo hitam mewah yang membalut tubuhnya dan alas kaki berupa sepatu pantofel berwarna senada dengan tuxedo-nya.

Rambut yang tadinya gondrong dan acak-acakan kini dipotong cukup pendek, hingga kini meninggalkan kesan rapi saat rambut Chanyeol di ubah mode menjadi under cut. Satu lagi, tidak ada rokok yang biasanya tersulut di bibir Chanyeol. Sekarang, Chanyeol sempurna sebagai putra presiden Korea Selatan.

“Kau tampan, seperti biasanya.” sebuah suara kini menyapa telinga Chanyeol yang menyederkan badannya ke dinding, efek lelah karena sudah satu jam lebih ia dipermak habis-habisan oleh penata rias yang sudah disiapkan ayahnya.

“Kau juga cantik Yara, aku sampai tidak mengenalimu. Untung saja, jantungku masih mengenalimu dengan baik.” jawaban Chanyeol yang santai namun terkesan menggoda seketika membuat rona di pipi Yara merebak. Gadis itu tersipu.

“Terima kasih Chanyeol. Tapi meski senang kau ada di sini, kau tidak biasanya betah di rumah. Apa karena pesta ini?” tanya Yara dan Chanyeol memberikan anggukan singkat sebagai jawaban.

Tentunya ingat bagaimana ia berbalas kata lewat telepon dengan ayahnya yang menyuruhnya kembali pulang karena ada pesta dengan menteri dari luar negeri. Alasan omong kosong dan mudah jika Chanyeol ingin menolak sebenarnya, namun fakta bahwa ia harus menemukan password untuk e-mail Arshavin seakan menuntutnya kembali ke rumah dengan kenangan buruk itu, apalagi Lee Jung Shin si penerima e-mail juga ada di pesta ini.

“Omong-omong Yara, apa kau masih menyukaiku?”

please wait for the next story: Hol(m)es in Jung-Gu

Fingernotes by Shaekiran:

First of all (cielah bahasanya/digampar/ XD) eki pengen ngucapin makasih banyak buat Kak IRISH selaku pencipta birthday series yang memborbardir hidup Wang Jia-yi ini. Sumpah, gak nyangka diajak collab sama senpai per-fanfiction-an yang dari dulu eki pantengin, sebelas dua belaslah kayak dinotis bias (*ane yakin kak IRISH pasti ngedit bagian ini, bhuakaka/plakk/ XD)—Irish: HOI EKI INI APAAN WKWK.

Meski rencana collab pertama (re: Chanyeol series) gagal bikos eki ada di bumper dan gak bisa megang Inem si lepi kesayangan (efeknya eki  nge-notis sandi pramuka di ff ini dibagian purti Arshavin, bhukaka nista sekalee) T.T

Maapkeun eki kak RISH, efeknya part cy jadi dikit dan cuma 1 part, gak macem yg lain yg 2 part. (Irish: EH INI BAGIAN CAHYO JADI TIGA WOI, WKWK, KITA SEMACEM SEMANGAT EMPAT LIMAH).

Tapi inilah kebaikan seorang Kak IRISH, what a good girl every one! (Irish: INI FITNAH KEJAM!!!).

Tau-tau aja ada japri ngajak eki collab egen meski ini buat Kai ver, tapi katanya ada cy nyempil. YEHET, eki bahagia beut yalord, langsung eki setuju dan terciptalah ini, Gwanakgu (2) dan Gwanakgu (3) . Meski ini Kai birthday, tapi memang eki orangnya nista, kayaknya ini jadi banyakan part cy bukan ya? (*dibakar rame-rame kai lovers/ XD)

Maafkan eki Kai, karena mungkin eki gak terlalu merhatiin kamu karena sesungguhnya mata eki memang tercipta hanya untuk cy seorang/dibalang/dibakar/dicelupin ke magma/ 😄

Dan 5k words (Irish: setelah ane tambahin, words count-nya jadi 8000+ BTW, WKWKWKWKKWKWKW HEBAT KAN?) itu bukan karena eki emejing kak RISH, itu karena eki ini dasarnya suka kilap kalo udah ngetik dengan perasaan menggebu-gebu, ceritanya keblablasan gitu soalnya ide pada hari pengetikan mengalir dengan cukup lancar, selancar cinta eki mengalir buat bias nun jauh disana (bahasanya Yalord, pasti ada yang mual setelah baca ini, bhuakaka, nista -____-) . Mana eki ngetiknya ngaco dan amburadul, maaf kak RISH, semoga dikau tak menyesal ngajak collab seorang Shaekiran yang nista ini :’D

Ngakaknya kak IRISH kilap gegara menduakan Kyungsoo, ku ngekek seketika karena kak IRISH terfokus pada Kai /digampar/ 😄

Betewe, eki nampak kalem ya di note ini? *kedip-kedip manja* /digampar/

Ingin eki kilap dan nekan kepslock aja, tapi nurani eki tak mengijinkan. Ga boleh ngerusuh lapak orang pake kepslock jebol, makanya eki kalem ngetiknya sesuai penggunaan huruf kapital menurut EYD (sok EYD, baca tuh buku aja lu gak pernah ki/plakk/ XD).

Gimana? Eki dah kalem pan? Kalem pan? Iya-in pliss biar eki bahagia/dibalang/ 😄

Mungkin itu aja dari Eki, tetiba eki speechless mau ngomong apalagi, habis kamus, bhuakaka 😀

Intinya happy reading, enjoy the story and also happy birthday Kai and Kyungsoo ❤

Bubhay, eki pamit dulu. Thanks for reading, cintakuh padamuhhh ❤

*kedip-kedip manja- semanja mbak mimi peri* /dibalang/ 😄

With Luv, Shaekiran

Fingernotes by IRISH:

BISA GA DIWAKILIN EKI AJA? WKWK. BTW, BAGIAN YANG KOLAB SAMA EKI MASIH ADA DIKIT BESOK DI PROJECT PUNYA KAI. STEI TUNET GAES.

5 thoughts on “[D.O. BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES IN GWANAKGU (3) — IRISH’s Tale

  1. Ping-balik: [KAI BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in JUNGGU — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  2. ITU NOTE NISTA PANJANG BEUT YALORD, FICLET KEKNYA BISA ITU, ATAU MALAH VIGNETTE? /PLAKK/😂
    ANE BINGUNG KENAPA CEPET BEUT SELESAINYA, TERNYATA KAK IRISH POTONG KE NEXT SERIES TOH, BHUAKAKA,😂😂
    CY BAIK BEIT OI/DIGAMPAR/
    PENJARA, BAHASANYA YALORD, KAK RISH KU NGEKEK ITU DIBILANG PENJARA RUMAH PRESIDEN,😂
    IYA KAK, KITA SEMANGAT EMPAT LIMAH, CY JADI 3 SHOT MALAH GEGARA NAMPANG MULU DI KAISOO,😂
    8K WORDS LEBIH, KOL KITA KEKNYA SEMANGAT BEUT NGETIKNYA KAK,😂😂

  3. PERTAMA LAGI HUAHAHAHAHAHA

    ANE SUKA HUBUNGAN YARA-CEYE WKWKWK. GAK TAU AJA AKAKAKAKAKAK. NGEDERDER TAU YARA MANTAN CEYE DAN LALU BAPAKNYA PENGKHIANAT ANJR

    DAN ANJR ANJRR SI KYUNGSOO MANTAN AGEN KORUT, JD INGET ANE DOLOEH KOMEN KOK KONFLIKNYA BUKAN KARENA CHINA CSNYA KORUT TAPI TENTANG UANG WKWKWKWK.

    INI KEREWN SEKALI. BAYANGIN SOSOK D.O YG MATANYA GEDE-PENDEK /DISAMBIT/ YG NYATANYA MANTAN AGEN 😄 LALU EHEK SI CEYE PERTANYAAN TERAKHIRNYA :V

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s