[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (CHAPTER 22)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 22]

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt and Marriage Life

Rating : PG – 15

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi || #16 || #17 || #18 || #19 || #20 || #21

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Sepeninggalan Hyunhee, Chanyeol masih termenung duduk di balik meja makan. Raut bersalah terlihat di wajahnya ketika pikirannya kembali berputar pada beberapa waktu kebelakang, saat Jongin datang ke rumah dan bicara padanya. Pria itu bertanya mengenai Adiknya yang sulit dihubungi, Chanyeol harus bilang apa? Dia bukan pihak yang berhak untuk menjelaskan. Jadi Chanyeol hanya bilang jika Hyunhee tinggal terpisah dan melanjutkan kuliah pada pria itu. Meskipun tidak keseluruhan dia katakan, tapi itu juga kebenarannya.

Chanyeol beranjak dari duduk saat dia mendengar suara bel berbunyi, dia menghampiri pintu dan membukanya. Kini senyuman sumringah sepenuhnya dia tampilkan pada dua orang yang berdiri di depannya, orang tuanya telah kembali. Chanyeol membantu membawakan barang-barang orangtuanya, Tuan dan Nyonya Park segera masuk dan duduk bersandar di sofa sembari melonjorkan kaki. Setelah meletakan koper, Chanyeol menuju dapur untuk mengambil air dan kembali untuk menyerahkannya pada orangtuanya.

“Bagaimana Appa, lancar pembukaan pabriknya?” tanya Chanyeol yang telah duduk.

Tuan Park meletakan gelas setelah menandaskan airnya. “Ya, berjalan lancar.”

Chanyeol menggangguk paham. “Eomma dan Appa sudah makan?”

Eomma sudah makan, tapi Appa –mu belum,” jawab Nyonya Park.

“Kau juga belum makan Yeobo,” ucap Tuan Park pada Istrinya. “Bisa kau siapkan makannya, Chanyeol –ah.” Kali ini Tuan Park meminta.

“Ya, akan segera aku siapkan,” jawab Chanyeol dan beranjak dari duduk.

“Raerim kemana? Sudah tidur?” tanya Nyonya Park.

“Iya,” jawab Chanyeol. “Oh ya, ada Hyunhee.” Chanyeol memberi tahu orangtuanya.

“Benarkah?” tanya Nyonya Park memastikan.

Chanyeol mendehem. “Dia di kamarnya. Mau dipanggilkan?”

“Tidak usah, biar Eomma saja yang mendatanginya.

Sementara itu, Hyunhee yang berada di kamarnya sedang berbaring dengan posisi tengkurap sembari memeluk bantal. Dia termenung, berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya saat ini, Jongin sudah kembali. Dia harus apa? Mengatakannya atau tetap merahasiakannya? Tapi sampai kapan rahasia ini akan bertahan? Setidaknya Jongin pasti curiga dan dia akan mencari tahu, itu yang dia pikirkan.

Ditengah lamunan dalamnya, Hyunhee rasakan ponsel yang ada disakunya bergetar. Dia merogoh dan mengambilnya, itu Sehun yang menelepon.

Yeoboseyo.” Hyunhee menjawab panggilannya.

Chanyeol hyung tadi menelepon, katanya kau akan menginap di rumahmu.”

“Ya, Eomma dan Appa akan pulang malam ini. Tidak masalah bukan?” tanya Hyunhee.

Terdengar helaan nafas dari seberang sana. “Tentu saja boleh, aku tak mungkin melarangmu untuk bertemu orangtuamu. Kau bisa tinggal beberapa hari, karena aku juga akan pergi keluar kota.”

Terlihat atau tidak, saat ini Hyunhee merasa senang mendengar jika Sehun akan pergi beberapa hari ke luar kota. Itu artinya dia masih punya waktu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Jongin saat ini, tanpa harus khawatir kedua pria itu bertemu.

“Berapa hari kau pergi?”

Sekitar tiga atau empat hari, mungkin.”

‘Itu lebih dari cukup,’ gumam Hyunhee sembari mengangguk. “Baiklah.”

Hyunhee mengakhiri panggilannya dengan Sehun, namun selanjutnya dia tersentak tatkala mendengar suara ketukan dari luar. Hyunhee bangun dan menoleh, pintu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita paruh baya yang dia rindukan.

Eomma!!” Hyunhee berangsut dari tempat tidurnya dan berlari menghampiri Eomma –nya.

Nyonya Park menyambut kedatangan putrinya dengan pelukan. “Bagaimana kabarmu, sayang? Eomma  merindukanmu.”

“Baik Eomma, aku juga kangen,” balas Hyunhee di tengah pelukan mereka.

Setelah beberapa saat, pelukan hangat itu terlepas dan digantikan dengan usapan lembut di pipi Hyunhee. “Perasaan Eomma  saja, atau memang kau tampak kurus,” ucap Nyonya Park prihatin. “Maafkan Eomma.”

“Aku sungguh baik-baik saja, Eomma jangan merasa bersalah seperti ini. Aku jadi tak enak,” jawab Hyunhee tak kalah sedih.

Selanjutnya terjadi perbincangan antara Ibu dan Anak putrinya.

“Jadi Jongin sudah kembali?” tanya Nyonya Park. Hyunhee mengangguk pelan dalam pelukan Ibunya. “Hyunhee –ya … Eomma mengharapkan hubunganmu dengan Jongin berjalan dengan baik, meskipun dalam kondisi sulit seperti ini. Keterbukaan adalah langkah pertama yang harus kau lakukan, ceritakan semuanya pada Jongin. Eomma yakin, dia akan mengerti biarpun akan sakit awalnya.”

“Aku juga ingin mengatakannya Eomma, tapi bahkan ketika Jongin oppa menatapku, aku tak sanggup.” Mata Hyunhee berkaca-kaca.

“Maafkan Eomma Hyunhee –ya, Eomma terlalu lemah untuk tidak menyeretmu dalam masalah ini.”

“Tidak Eomma,” jawab Hyunhee lirih.

Hyunhee memang menyesal karena harus menikahi pria yang tidak dia cintai, Sehun. Tapi bukan berarti dia bisa menyalahkan keluarganya karena hal itu. Ini bukan saatnya menunjuk orang yang patut disalahkan, tapi mencari jalan keluar untuk kebaikan masing-masing pihak.

___○– IFA –○___

Malam begitu saja terlewati dan tak terasa hari telah berganti, Hyunhee tersentak dan bangun saat mendengar dering dari ponselnya, ada sebuah panggilan masuk –Jongin oppa. Dengan perasaan ragu Hyunhee mengangkat panggilannya.

Yeoboseyo oppa,” jawab Hyunhee hati-hati.

Kau dimana?”

“Hah? Aku? Aku di rumah.”

Oke.”

Tak ada suara lagi setelah itu, Hyunhee yang masih menempelkan ponselnya di telinga dia mengernyitkan dahinya, hingga terdengar suara tut-tut-tut barulah Hyunhee menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia menghela nafas panjang saat melihat panggilan tersebut telah berakhir.

“Apa coba maksudnya hanya bicara begitu?” gerutu Hyunhee dan berangsut turun dari kasur.

Setelah bersiap, Hyunhee pergi menuju dapur untuk sarapan. Disana sudah ada Ayah, Ibu, Chanyeol oppa, Raerim eonni dan … Jongin oppa? Hyunhee menyipitkan matanya, mungkin saja dia salah lihat. Bukankah dia meneleponnya tadi? Dan sekarang sudah ada di sini, sulit dipercaya. Tapi setelah sebuah suara menegurnya, Hyunhee benar-benar yakin dia tak sedang berhalusinasi.

“Hyunhee –ya, sedang apa disana? Kita sarapan. Aku sudah menunggumu sejak tadi,” ucap pria itu –Jongin– pada Hyunhee sembari dia menepuk bangku di sebelahnya.

Meskipun bingung, Hyunhee menurut dan duduk di sebelah Jongin.

Ini adalah sarapan pertama Hyunhee bersama keluarganya setelah dia meninggalkan rumah, juga sarapan pertamanya dengan sang kekasih –Jongin– setelah dia mengunjunginya di London beberapa waktu lalu. Dan rasanya sangat aneh, padahal saat seperti ini adalah hal yang paling dia tunggu-tunggu, tapi sekarang sangat dia ingin hindari. Belum lagi jika dia teringat janji diantaranya juga Jongin tentang kelanjutan hubungan mereka ke jenjang pernikahan, rasanya dia ingin menghilang saja dari muka bumi.

“Aku sudah selesai.” Hyunhee beranjak dari duduknya sembari membawa piring ke wastafel.

Jongin yang masih makan jadi menoleh, setelahnya dia segera menghabiskan makanannya.

“Ya ~ pelan-pelan,” komentar Chanyeol.

“Jongin oppa, aku akan menunggumu di mobil,” ucap Hyunhee.

Hyunhee berjalan keluar setelah dia berpamitan dengan kedua orang tuanya, Oppa dan Eonnie –nya. Dia bersender pada kap mesin depan sebuah mobil berwarna silver yang dia yakini milik Jongin, tak lama sang empu muncul dan langsung membukakan pintu mobil depan di sebelah kemudi. Hyunhee masuk dan duduk, selanjutnya diikuti Jongin.

“Sudah pasang sabuknya?” tanya Jongin, Hyunhee mendehem. “Baiklah, kita jalan sekarang.” Jongin menginjak pedal gas.

Di tengah keheningan di dalam mobil, tiba-tiba ponsel Hyunhee berbunyi. Namun detik selanjutnya sudah tidak terdengar dering ponselnya lagi lantaran Hyunhee langsung menonaktifkannya.

Jongin sempat melihatnya dan bertanya, “Kenapa tidak diangkat?”

“Apa? Ah … itu hanya spam,” dusta Hyunhee.

Jongin mengangguk paham. “Jadi sejak kapan kau kuliah?” tanya Jongin lalu tertawa.

Hyunhee langsung menoleh ketika mendengar tawa dari sebelahnya dan memberikan tatapan aneh pada Jongin. Apa yang lucu sampai membuatnya tertawa begitu? “Beberapa minggu lalu.”

Jongin masih menertawakan Hyunhee. “Kenapa tiba-tiba kuliah lagi?”

Lama-lama kesal juga mendengar tawa yang tiada habisnya. “Aish … jinjja. Keumanhae Oppa! Apa yang kau tertawakan?!”

“Akh … maaf-maaf. Aku hanya tak habis pikir, setelah mendapat gelar Magister –pun kau masih saja kuliah. Apa kau mau jadi Profesor?” ucap Jongin nada bicaranya yang terkesan meledek Hyunhee.

“Iya!”

Kini Jongin sadar jika gadis di sebelahnya sudah marah padanya, dan dia harus segera memuluhkannya. “Kuliahmu selesai jam berapa? Aku akan menjemputmu.”

“Tidak tentu.”

“Paling cepat jam berapa?”

“Pukul lima.”

Jongin tampak berpikir, sebenarnya dia tak terlalu yakin jika pekerjaannya akan selesai saat itu.

“Tidak usah menjemputku,” tolak Hyunhee lembut. “Oppa bilang baru masuk kerja hari ini, tapi bahkan sekarang kau datang untuk mengantarku kuliah. Kau mau dipecat di hari pertamamu kerja, eoh?”

“Kau bergurau, aku Bos –nya,” jawab Jongin menyombong.

Seakan tak mau kalah, Hyunhee menyahuti Jongin. “Bukan berarti karena kau Bos, kau jadi seenaknya. Atasan harus memberi contoh yang baik bagi bawahannya.”

“Sudah kuduga kau akan bilang begitu,” jawab Jongin. “Arraseo.”

___ __ ___

Jongin menepikan mobil ketika mereka sudah tiba di depan gedung fakultas Hyunhee. Sementara itu, Hyunhee yang sudah bersiap turun, tangannya ditahan oleh Jongin dan membuatnya menoleh.

“Ada apa?”

“Jangan lupa, akhir pekan,” ucap Jongin.

“Tentu saja.” Dengan senyuman di bibirnya Hyunhee membalas ucapan Jongin, namun senyuman itu tak bertahan lama dan berubah menjadi ekspresi terkejut yang muncul di wajah gadis itu. Tepatnya saat sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya, sementara sang pelaku –Jongin– salah satu sudut bibirnya tertarik menunjukan seringai.

“Tidak mau turun?” Jongin bertanya karena Hyunhee masih saja diam di tempatnya. “Mau ku cium lagi?” imbuhnya menggoda gadis itu.

“Aku turun sekarang,” jawab Hyunhee cepat dan segera keluar dari mobil. Dia menutup pintunya kencang dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.

Jongin yang ada di dalam mobil terkekeh sembari memandangi kepergian gadisnya melalui jendela. Tak lama, raut wajahnya berubah serius tatkala melihat sebuah notifikasi pesan masuk pada layar ponsel dari nomor tak di kenal. Lantas Jongin membuka pesan tersebut yang berupa lampiran dokumen, setelah membaca keseluruhan isi dokumen itu, Jongin tertawa hambar.

“Ya~ michigesseo,” umpatnya.

_____________

♦––○ IFA ○––♦

_____________

Sekembalinya Jongin ke Korea dan ke kehidupan Hyunhee, itu semua merubah pribadi gadis itu menjadi lebih riang. Dan Hyunhee sangat menikmati saat-saat ini –bersama Jongin, meskipun hanya beberapa waktu lantaran pria itu masih disibukan dengan pekerjaaannya. Semua kebahaagian yang dia rasakan, membuatnya lupa dengan masalah dan hal penting yang harus dia sampaikan. Kehadiran Jongin juga sepertinya menghapus jejak Sehun yang dulu selalu membayang-bayangi harinya. Dan tanpa terasa, hari berlalu begitu saja.

Sesuai janji, akhir pekan mereka akan pergi ke taman hiburan. Tentunya Hyunhee sudah menunggu datangnya hari ini, bahkan dia sengaja bangun pagi. Dan sedari tadi dia sibuk berdiri di depan cermin untuk mencocokan pakaiannya, namun sepertinya belum ada yang menurutnya pas untuk dia kenakan. Sebuah ketukan dan di ikuti suara panggilan, menghentikan kegiatan Hyunhee di depan cermin.

“Jongin sudah datang, Hyunhee –ya.” Raerim eonnie memberitahu jika kekasihnya sudah datang menjemput.

“Ya Eonnie, terima kasih,” jawab Hyunhee.

Oke, dia harus bergegas karena Jongin sudah tiba. Oh Tuhan, rasanya ini lebih berat dari kencan pertamanya dengan pria itu saat mereka masih di tingkat sekolah menengah atas. Ujung bibir Hyunhee tertarik membentuk senyuman.

Hyunhee menuruni tangga dari lantai dua dan langsung menuju ruang TV, di sana sudah ada dua orang pria yang dia sayangi –ayahnya dan kekasihnya. Samar-samar Hyunhee mendengar pembicaraan dua pria itu yang dia yakini pasti seputar bisnis. Tanpa dia sadari, ada perasaan senang yang hinggap di hatinya saat melihat suasana itu. Dalam pikirannya, Ayah dan Jongin terlihat seperti Mertua dan Menantu yang cocok satu sama lain.

Tapi perasaan itu tak lantas membuatnya lupa dengan tujuan utamanya, dia hendak kencan hari ini. Karena dorongan tersebut, Hyunhee mengintrupsi pembicaraan mereka.

Appa, aku mau pergi dengan Jongin oppa. Bisakah nanti saja Appa mengobrolnya lagi?” ucap Hyunhee dengan suara seperti membujuk.

Tuan Park tersenyum. “Baiklah, kita lanjutkan nanti Jongin –ah.”

Jongin beranjak dari duduk dan membungkuk sejenak pada Tuan Park sebelum akhirnya dia ikut menyusul Hyunhee yang sudah keluar lebih dulu.

Jongin mematikan mesin mobil setelah dia berhasil parkir, selanjutnya dia menoleh dan tersenyum saat melihat gadis yang tertidur di jok sebelahnya. Pantas saja sejak di perjalanan tadi sangat hening. ‘Sebenarnya, bangun sepagi apa gadisnya itu?’

“Hyunhee –ya,” panggil Jongin lembut sembari mengusap wajah gadis itu. “Kita sudah sampai.”

Lenguhan kecil diiring peregangan dilakukan Hyunhee, sebelum akhirnya dia membuka mata. “Maaf aku ketiduran, Oppa,” sesalnya.

“Bukan masalah, ayo sekarang kita menikmati kencan ini.” Senyum Jongin dan dibalas Hyunhee.

Kacau, itu yang ada dipikiran Hyunhee saat dia menginjakkan kaki setelah keluar dari mobil. Dia tau tempat ini, ini adalah taman hiburan yang pernah dia kunjungi juga dengan Sehun. Ya Tuhan, dari banyaknya teman hiburan atau tempat wisata lainnya, kenapa Jongin mengajaknya ke tempat ini. Jika Tuhan menginginkan dirinya segera mengaku pada Jongin perihal Sehun, tolong setidaknya biarkan dia menikmati waktunya dulu dengan Jongin. Maafkan dirinya yang egois, tapi Hyunhee juga ingin menikmati kebahagiaan bersama pria yang dicintainya.

“Kau baik-baik saja?”

“Ya Oppa.”

Tangan Jongin menuntun Hyunhee untuk berjalan bersamanya.

Tak apa Hyunhee, lupakan pria itu. Sebab sekarang kau sedang bersama dengan orang yang kau cintai,’ bisiknya pada diri sendiri.

“Kau mau naik bianglala?” tanya Jongin dan dijawab anggukan oleh Hyunhee.

Sepasang kekasih itu menaiki bianglala, perlahan mereka mulai naik dan hampir menuju puncak. Tanpa sadar tangan Hyunhee yang berada dalam genggaman Jongin mengepal keras, tentu saja pria itu menyadarinya dan lantas menoleh.

“Kau takut?”

“Entahlah,” jawab Hyunhee ragu.

Persekian detik selanjutnya, Hyunhee melihat wajah Jongin mulai memangkas jarak mereka hingga bantalan kenyal menyentuh bibirnya. Sebuah ciuman lembut dia terima, namun lambat laun menjadi begitu dalam dan disertai isapan. Dan entah sejak kapan tangan Hyunhee melingkar di leher Jongin, hingga suatu perasaan sesak menyadarkan mereka. Dua insan itu masih memejamkan mata disertai deru nafas tersenggal.

Saranghae Park Hyunhee,” bisik Jongin lembut di depan wajah gadis itu.

Rasa bergemuruh muncul dalam hati Hyunhee setelah mendengar penuturan sang kekasih, lambat dia mendongak sebelum akhirnya dia dapat melihat sebuah senyuman tulus di hadapannya. Sontak saja hal itu membuatnya seperti kehilangan akal dan kembali mengucap salam pada bibir pria itu. Ya~ tampaknya ciuman tadi belum cukup baginya.

Tapi efek yang ditimbulkan dari gejolak hasratnya tadi belum hilang juga, Hyunhee setelah turun dari bianglala masih menunduk sepanjang jalan. Ya Tuhan, kenapa dia akhir-akhir ini jadi sangat agresif dan main nyosor pada Jongin. Saat remaja bahkan dia tak seperti ini, tidak mungkin dia terlambat pubertas –memalukan!

Ditengah rutukannya, Hyunhee merasakan sepasang tangan yang menangkup di wajahnya hingga terpaksa membuatnya mendongak.

“Hyunhee yang seperti ini, aku sangat menyukainya,” ucap Jongin dan kembali mendaratkan kecupan di bibir gadis itu. “Mau es krim?” tanyanya dengan senyuman malaikat.

Hyunhee menggangguk pelan.

— — —

Baik Hyunhee maupun Jongin sangat menikmati waktu kencan mereka, hingga tak terasa hari sudah gelap. Tapi dia masih ingin terus bermain, berbeda saat dia pergi dengan Sehun, dimana gadis itu terus meminta pulang.

“Kita pulang sekarang?” tanya Jongin dan dibalas cemberut oleh Hyunhee. “Ini sudah malam, Hyunhee –ya. Chanyeol hyung bisa mengamuk jika aku tak segera mengembalikanmu ke rumah.”

“Baiklah.”

“Hey~ jangan merajuk. Bagaimana kalau kita makan kudapan dulu sebelum pulang?” tawar Jongin.

“Aku ingin es krim,” pinta Hyunhee.

“Apapun permintaanmu akan kupenuhi, Chagi –ya,” balas Jongin menyetujui permintaan kekasihnya, meskipun mereka tadi sudah beberapa kali makan es krim. “Termasuk jika kau memintaku untuk menjadi milikmu seutuhnya segera,” sambungnya.

Deg!!

Rasanya jantung Hyunhee serasa disentak oleh perkataan Jongin barusan, ‘menjadi milikmu seutuhnyaapakah bisa saat ini? Ada senyum getir dan tatapan bersalah yang terlukis di wajah gadis itu saat ini. Sepertinya dia memang harus segera memberi tahu Jongin perihal Sehun. Ya Tuhan, tolong berikanku kekuatan.

Lampu lalu lintas bersinar merah, Jongin perlahan menurunkan laju mobil sebelum akhirnya berhenti. Lantaran sedikit bosan dan hening, Jongin mengajak bicara gadis di sebelahnya yang sedari tadi menatap lurus dengan kosong.

“Apa kau masih sering kesini?” tanya Jongin sembari menatap keluar jendela.

Hyunhee lantas menoleh, awalnya dia belum menyadari tempat yang di maksud Jongin, namun selanjutnya Hyunhee hanya mampu membelalakan mata. Tempat tersebut membuatnya terbesit akan suatu peristiwa di masa lalu yang berujung pada kefatalan di masa kini, sebuah gedung perpustakaan yang menjadi saksi bisu pertemuannya dengan seorang pria bernama Oh Sehun dan berlanjut pada kesalah pahaman juga kebohongan.

“Maafkan aku, Oppa,” ucap Hyunhee dengan suara parau, runtuh sudah pertahanannya. Ini adalah waktunya untuk mengatakan kebenaran pada Jongin.

“Ya?” tanya Jongin bingung.

“Aku telah mengkhiyanatimu selama ini.” Dalam wajahnya yang tertunduk, air matanya yang sudah mengalir dia sembunyikan, termasuk dengan menggigit kuat bibirnya untuk meredam isakan.

Jongin tak lantas merespon, lantaran mobil di belakangnya sudah berisik membunyikan klakson. Jongin segera mengalihkan pandangannya ke depan untuk melajukan mobil sebab lampu hijau sudah kembali menyala.

Gwaenchana Chagi –ya?” tanya Jongin setelah dia menepikan mobil. Dia khawatir sekaligus bingung dengan sikap kekasihnya saat ini yang sedang menangis, tanpa dia tau alasannya. “Maafkan Oppa jika sudah menyakitimu.”

Masih dengan kepalanya yang tertunduk, Hyunhee menggeleng cepat. “Tidak, bukan Oppa yang salah, tapi aku,” jelas Hyunhee. “Ada yang ingin aku katakan pada Oppa, tapi bisakah kita bicarakan di tempat yang lebih nyaman?”

“Baiklah.”

Jongin membawa Hyunhee ke taman yang ada didekat rumah gadis itu, menuntunnya untuk duduk di sebuah bangku panjang. Namun setelah beberapa menit waktu berlalu, Hyunhee belum buka suara, meskipun begitu Jongin masih sabar menunggu sembari tangan merangkul sekaligus mengusap lembut puncak kepala gadis itu untuk memberikan ketenangan. Padahal dirinya sendiri juga tak dapat tenang setelah mendengar penuturan sang kekasih dan juga tangisnya.

“Maafkan aku, Oppa … yang baru bisa mengatakannya sekarang, tapi aku akan jujur meskipun kau tidak akan mencintaiku lagi atau pergi meninggalkanku. Hanya saja, tolong jangan benci aku setelah ini,” tutur Hyunhee  pelan masih dengan kepala yang tertunduk. “Sebab aku tidak ada maksud sengaja untuk menyakiti Oppa.”

Jongin masih tidak merespon, pikiran dan perasaannya sedang berkecambuk saat ini. Dia mengetahui jika maksud pembicaraan gadis itu pastilah bukan hal baik, mengingat dia menangis. Tapi Jongin tak ingin mendesak atau menyalahkan gadis itu semena-mena, terlebih dia belum mendengar penjelasannya. Jadi dia memilih bungkam sembari memasang telinga.

“Aku sudah menikah.”

Tangan Jongin yang masih di pundak gadis itu mengepal. Jika saja Hyunhee menatap Jongin, mungkin dia akan dapat melihat rahang pria itu mengeras serta tatapannya yang penuh api kemarahan.

Setelahnya Hyunhee melanjutkan dengan bercerita, mulai dari awal dimana dia bertemu dengan pria bersama Oh Sehun yang sedang hilang akal berkeliaran di tengah jalan dan dia yang menolong pria itu, hingga Sehun mencari-cari sosok gadis penolongnya yang berujung kesalah pahaman pria itu terhadap kembarannya –Hyunji– dan mereka menjalin hubungan. Selanjutnya insiden kecelakaan Sehun dan Hyunji di Jeju yang menyebabkan Hyunji hilang dan Sehun hilang ingatan, dan pria itu kembali salah paham dengan dirinya hingga dia harus menikahi pria itu.

“Maafkan aku Oppa.” Hyunhee kembali meminta maaf setelah dia mengakhiri penjelasan panjangnya.  Sejak pembicaraan mereka di depan gedung perpustakaan, Hyunhee belum mengangkat kepalanya, dia takut untuk menatap wajah pria itu –lebih tepatnya tak sanggup melihat kilat kebencian yang ditunjukan Jongin.

Namun saat dia begitu putus asa dengan Jongin, tangan pria itu menangkup di wajahnya dan membuatnya terpaksa melihat pada pria itu. Jongin dengan raut wajah sendu dan matanya yang sudah berkaca-kaca, rasanya itu lebih menyakitkan dari dia yang melihat kebencian pria itu.  Bahkan ekspresi kecewa tak tampak sama sekali, hanya sorot yang memancarkan cinta yang dia lihat.

Hyunhee lantas kembali menundukan kepala, tapi benda kenyal sudah mendarat di bibirnya dan membuat dia tersentak. Sebuah ciuman lembut dan syarat akan perasaan yang dalam, kini dia juga dapat merasakan linangan air mata dari pria itu.

Perlahan Jongin memundurkan wajahnya, membuat tautan mereka terlepas, dengan tangan yang masih tertangkup di wajah Hyunhee, Jongin menatap lekat gadis itu.

“Maafkan aku, Hyunhee –ya.”

Dari ucapannya tak kalah terdengar nada penyesalan. Tapi kenapa pria itu malah meminta maaf? Apa salahnya? Dan itu membuat Hyunhee berpikir, jika Jongin terlalu baik untuknya, sementara dia bukan orang yang pantas untuk menerima kebaikan dari seorang Kim Jongin.

“Aku sudah berburuk sangka padamu selama ini, seharusnya aku tahu kau mencintaiku lebih dari apapun dan kau juga pasti menderita,” sambung Jongin dan menghapus jejak airmata Hyunhee.

Ya Tuhan, Hyunhee benar-benar mencintai pria ini. Apakah dia masih boleh melanjutkan hubungannya dengan Jongin? Maaf jika dirinya egois, tak ingin melepaskannya meskipun dengan statusnya saat ini yang sudah menikah.

“Terima kasih sudah mau menceritakan segalanya padaku, kupikir aku akan ditinggalkan olehmu tanpa penjelasan apapun.” Jongin tersenyum getir.” Lalu bagaimana selanjutnya, heum?” tanya lembut.

“Aku tidak tahu,” jawab Hyunhee frustrasi.

“Kau mencintaiku, Hyunhee –ya?” Jongin bertanya dengan menatap langsung kemanik mata gadis itu.

“Ya … aku sangat mencintaimu Oppa.”

“Kau ingin bersamaku?”

“Itu yang selalu kuinginkan.”

Tangan Jongin terulur menggenggam tangan Hyunhee. “Baiklah, kau hanya perlu kembali padaku,” tuturnya penuh keyakinan. “Pertama kita perlu menyadarkan pria yang telah merebutmu dariku.” Kali ini Jongin bersuara penuh tekad.

[TBC]

Bagaimana cara Jongin untuk menyadarkan Sehun yang sudah tertutup hatinya itu? akankah semua berjalan sesuai harapannya?

°

Hai Guys, jumpa lagi … maafku baru update lagi … Chapter ini terasa berat karena memikirkan cara bagaimana Hyunhee mengaku pada Jongin. Mengakui kesalahan itu –hanya untuk orang yang berani, jujur dan kuat (menanggung resikonya). Syukurlah Hyunhee sudah mengaku dan Jongin bisa menerimanya …

Menurut kalian gimana? Apa sebelumnya kalian mikir Jongin bakal gak terima dengan status kekasihnya yang sudah menikah dan dia bakal ninggalin Hyunhee?

Oke, Jongin disini sangat berjiwa besar dan pantang menyerah ya.. Saranghae uri Kamjong ❤

Disini aku juga spoiler chapter 15 yang di privat. Udah baca belum sih kalian? Masih penasaran gak? Yang belum baca, mending baca dulu deh … siap-siap aja wow …

Oh ya, FF ini juga aku post di wattpad. Jadi kalian bisa baca chapter 15 disana, tapi itu aku bagi menjadi 2 part. Chapter 15 AChapter 15 B.

See you next chapter

#XOXO

18 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (CHAPTER 22)”

  1. Di buat campur aduk perasaaannya.. antara seneng, sedih, susah,sama was was pas jongin balik. Untung aja jongin mau ndengerin hyunhee, coba kalo jongin orang yg egois, bisa berabe kan.. ini masalahnya tinggal sehun, gmn klo dia sampe tau coba.. greget bgt akumya, pengen ngomong aja yg sebenernya ke sehun, udah ngga tahannnnn..

    1. Fufufufu~ Ayey! ini baru Jongin ya yang balik, gimana nanti klo Hyunji juga balik? bukan lagi ku aduk hati kalian, bisa-bisa diperas-pelintir 😀 wkwkwkwk..
      Klo Jongin egois, gak seru dong .. ahahhaha…
      Duh … kamu mau ngomong apa sama Sehun yang batu itu? sabar aja ..

  2. Horeeee..jongin memang luar biasa..haha.., genderang perang mulai berkibar nih..(maaf thor,lagi error),jongin kayaknya bisa neh nyadarin sehun,secara dia dewasa dan berpikiran positif..semangat..thor..lanjutkan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s