[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND – Chapter 28

EXO - MPH

Y POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 28]

 

Author : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt and Marriage Life

Rating : PG – 15

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

 #1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi || #16 || #17 || #18 || #19 || #20 || #21 || #22 || #23 || #24 || #25 || #26 || #27

 

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

 

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

 

Di sebuah ruangan yang terlihat sama dengan ruangan sebelumnya, namun di tempat berbeda –duduk dua orang dalam diam selama beberapa waktu berlangsung.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Hyunji –ya?” sang pria bertanya lebih dulu pada wanita di sebelahnya yang tampak gusar sembari memainkan jemari.

“Sesulit itukan bagimu untuk melihat perbedaan kami hingga tak dapat memanggil namaku dengan benar?” Tak dapat ditolong lagi, suara Hyunhee yang bergetar terdengar sangat jelas, bahkan dia sendiri menyadarinya. Sehun yang masih bungkam, membuat Hyunhee untuk kembali bicara. “NAMAKU PARK HYUNHEE!!” akunya dengan lantang dan penuh penekanan.

Sepasang pupil Sehun melebar, entah itu karena nada tinggi sang gadis atau karena kalimat yang baru saja di dengarnya –mungkin keduanya. Sehun segera menguasai ekspresi terkejutnya, namun juga tidak tampak lebih baik.

“Aku tak tau harus mulai dari mana, tapi pertama aku ingin meminta maaf padamu, kau pasti merasa sakit telah dibohongi.” Ada keputus-asaan dalam tiap kata yang terucap oleh Hyunhee. “Bukan sengaja aku melakukannya, ataupun memanfaatkan kondisimu yang tak stabil setelah sadar dari kecelakaan. Kau sendiri tau, bagaimana aku berusaha menjauhimu kala itu, sementara kau menarikku begitu keras.”

Ucapan Hyunhee bagai kaset kusut yang berputar di pikiran Sehun dan menayangkan kembali kejadian setelah dia membuka matanya dan melihat seorang gadis yang dia panggil ‘Hyunji’, tanpa membiarkan gadis itu mengoreksi namanya.

“Apa yang harus aku perbuat pada seorang pria yang baru selamat dari masa kritisnya, sedangkan kekasih yang dia damba tak ada … dan entah di mana keberadaannya –saat itu?!” air mata Hyunhee luruh seiring perasaan sesak yang terus menggerus jiwanya. “Terlebih ada seorang Ibu yang memohon padaku, demi kelangsungan hidup anak semata wayangnya.”

Setelah semua kilas balik di pikirannya, Sehun menyadari kesalahan yang telah dia perbuat, betapa dia telah banyak menyakiti gadis itu dan dia sungguh tak menyangka jika Ibunya sangat terlibat. Sehun mengusap kasar wajahnya, gerakannya menunjukkan betapa frustrasi dan terkejutnya dia. Namun dia segera menguasai emosinya, berbalik menghadap gadis di sebelahnya. “Hyun –.” Belum sempat dia bicara, gadis itu sudah beranjak dari duduknya.

“Sehun –ssi,” panggil Hyunhee dengan suara bergetarnya. “Sekarang kau bisa kembali bersama Hyunji, aku harap kau bisa membahagiakannya. Tapi … pertama-tama, kau harus perbaiki sikapmu itu yang posesif. Kau tau, itu sangat tidak nyaman. Terlebih bagi Hyunji dia tidak suka di kekang, kau bisa bukan?”

Sehun menatap lurus kearah gadis itu, dia melihat tatapan teduh dan menenangkan, tapi entah mengapa … itu malah menusuk dan menimbulkan rasa sakit di hatinya.

“Maaf baru mengatakannya saat ini, aku sama sekali tidak ada maksud membohongimu. Dan mengenai pernikahan kita.” Hyunhee menjeda ucapannya, lalu senyum kecil. “Tentu kita harus berpisah, bukan? Dan terima kasih sudah menjaga dan menunjukkan rasa cinta padaku, tapi aku bukan orang yang tepat menerima hal itu darimu. Kita memiliki seseorang yang kita cintai. ”

Hyunhee melepaskan cincin yang tersemat di jari manisnya dan meletakkannya di atas meja. “Hyunji ada di kamar sebelah, temui dia. Semoga hubungan kalian berjalan baik setelah ini, dan … aku pergi,” pamitnya.

Saat Hyunhee pergi, Sehun masih termenung di tempat. Memikirkan apa yang telah terjadi belakangan ini, bersama gadis itu dan akhirnya dia pergi. Entah mengapa Sehun merasa kehilangan, sepertinya ada yang salah dari dirinya. Sehun beranjak dari duduk, dia kembali keruangan sebelah.

Namun dia mendapati unit tersebut kosong, Sehun beralih menuju kamar dan dia melihat seorang gadis –yang terlihat sama seperti gadis yang baru saja meninggalkannya– sedang duduk di ranjang sembari memainkan ponsel.

“Hyunhee –ya, kau minum lama sekali. Apa kau menghabiskan segalon air?” seloroh gadis itu.

Sehun mendekati gadis itu hingga ke sisi ranjang, “Hyun … Hyunji –ya,” panggilnya.

Gadis yang dipanggil Hyunji itu, menurunkan ponselnya dan menoleh. “Se … Sehun oppa.”

Sehun memejamkan matanya, mencoba merepasi suara sang gadis yang menyebut namanya, memorinya berputar untuk mengingat nada dan intonasi itu –yang lama tak dia dengar.

Mianhaeyo Hyunji –ya,” ucapnya lirih bersamaan dengan eratnya dekapan dia pada gadis itu.

“Ya~ Oppa … Kau kenapa?” Hyunji mendorong tubuh Sehun agar melepaskan pelukan yang terasa menyesakan baginya.

Sehun masih saja merancaukan kata maaf berulang kali, hingga sosok gadis di hadapannya itu jengah. Hyunji lantas meraih bantal dan memukulkannya ke wajah Sehun.

Ne! Kau memang salah, sangat salah! Mau gila rasanya aku! Bagaimana bisa kau dan … dan Hyunhee. Aish … jinjja jajeungna! Oh Sehun … sadarlah kau, bodoh!” pungkasnya dan menyentakan pukulan yang lebih keras.

Namun Sehun lebih dulu menahan tangan Hyunji, sebelum bantal di tangan gadis itu kembali mendarat di wajahnya. “Keumanhae, Hyunji –ya! Aku tahu kalau aku salah, makanya aku minta maaf padamu. Apakah kau tuli?!” erang Sehun sama frustrasinya.

Ke … keunde Oppa, kenapa kau sangat bodoh!! Apa kau benar-benar mencintaiku, eoh?!” Kekecewaan tak dapat lagi dia sembunyikan, seiring luruhnya air mata Hyunji.

Sehun terpaku menatap titik demi titik air mata yang mengalir membasahi pipi dari sang gadis dan menariknya dalam rengkuhan, sementara Hyunji yang seperti sudah cukup lelah, dia tak menolak dan membiarkan hangat suhu tubuh pria yang (diam-diam) dia rindukan itu mendekapnya erat. Ya, dia membiarkannya kali ini, hanya kali ini saja –mungkin.

Namun di dalam pikirannya, bayangan sosok kembarannya selalu berkecambuk. Memikirkan bagaimana Hyunhee hidup bersama Sehun dan apakah hubungannya dengan Jongin sendiri berjalan baik? Sebab dia tau betul tabiat dan temperamen Sehun, termasuk sikap posesif pria itu. Ahhh … kepala Hyunji semakin berdenyut ketika kembali teringat sebuah ancaman.

___○– IFA –○___

Seorang gadis berdiri di depan sebuah taksi dengan raut bingung, Hyunhee dia meninggalkan hotel tanpa membawa apapun setelah pembicaraannya dengan Sehun. Kini dia sedang berada di depan gedung sebuah perusahaan, namun dia masih tertahan diluar lantaran belum membayar ongkos taksi. Andai saja supir taksi itu dapat bekerjasama dan percaya padanya, nyatanya tidak, meskipun Hyunhee sudah mengucapkan sumpah berulang kali. Sang supir tak membiarkannya pergi untuk meminjam uang pada seseorang yang dikenalnya yang nantinya akan dia gunakan untuk membayar ongkos taksi.

Ahjussi, apa boleh kupinjam teleponmu? Aku akan hubungi seseorang untuk datang dan membayarkan ongkosnya,” negosiasinya, namun sang supir masih terlihat enggan. “Akan kubayarkan juga pulsanya,” tambahnya.

Akhirnya sang supir mengijinkannya memakai ponsel, Hyunhee tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan dia segera menekan beberapa digit nomor.

Eoh … Oppa, syukurlah kau angkat. Igeo …,” ucapnya terdengar ragu. “Aku ada di depan kantormu sekarang, keunde … bisakah kau datang,” ucapnya tanpa menjelaskan alasannya. Setelahnya dia mengembalikan ponsel milik sang supir. “Kamsahamnida Ahjussi.” Hyunhee mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya dan sang Supir menerimanya dengan tampang tak senang.

Selang beberapa waktu, seorang pria dengan setelan jas keluar dari pintu kaca otomatis sebuah gedung perusahaan. Dia berlari dengan tak sabar untuk menghampiri gadis yang berdiri kikuk di samping sebuah taksi.

“Hyunhee –ya!” panggilnya dan berakhir memeluk gadis itu. “Syukurlah kau kembali,” ucapnya tulus di sela-sela pelukan mereka. “Aku sudah khawatir, jika pria itu akan membawamu pergi jauh dariku,” lanjutnya penuh emosi bercampur rasa khawatir.

“Itu tidak akan terjadi lagi Oppa, semua sudah kembali seperti semula. Hyunji sudah kembali bersama Sehun. Dan aku … tentu saja denganmu, Kim Jongin –ku yang kucinta,” balas Hyunhee dengan senang.

Pria itu –Kim Jongin– dia melepaskan rengkuhannya pada sang kekasih dan memberikan tatapan penuh tanya. “Ada apa denganmu? Bicaramu aneh, Chagi ya. Tapi aku suka,” imbuhnya dan kembali memeluk Hyunhee.

Rasanya, dunia serasa milik mereka berdua telah kembali. Namun kebersamaan mereka harus berakhir lantaran seorang pria paruh baya mendehem keras di sebelah mereka, yang tak lain adalah sang supir taksi.

“Oh ya Oppa, boleh kupinjam beberapa Won untuk membayar taksi dan mengganti pulsa,” pinta Hyunhee.

Jongin mengeluarkan beberapa lembar Won yang jumlahnya lebih dari cukup untuk membayar ongkos taksi dan ganti pulsa sang supir. “Maaf membuat Anda menunggu, Ahjussi. Dan terima kasih,” ucapnya dan menyerahkan uang tersebut.

Setelah sang supir taksi tersebut pergi, Jongin merangkul dan membawa Hyunhee masuk ke kantornya. “Kau sudah makan, eoh?”

“Belum,” jawab Hyunhee sekenanya.

“Baiklah, setelah aku merapikan pekerjaanku, kita makan. Kau mau makan apa?” lanjut Jongin bertanya.

“Tak usah, aku tak terlalu berselera untuk makan.”

Raut cemas tak dapat Jongin sembunyikan, lantaran melihat wajah pucat dan tirus dari gadisnya itu. Sebenarnya, bagaimana Oh Sehun mengurus Hyunhee?! Jongin geram sendiri memikirkannya. “Bagaimana kalau Chocolate Cake?” Jongin masih membujuk Hyunhee dengan menawarkan makanan kesukaannya.

Yang ditanya hanya diam saja, tetapi jika dilihat –dia tampak sedang berpikir. Suatu keanehan bagi seseorang yang sangat menggilai segala jenis olahan coklat dan kini tampak berpikir untuk memakannya, Jongin tak tahu harus bagaimana membujuk gadis itu untuk makan.

“Aku bosan makan Coklat, Oppa.” Dengar sendiri apa jawaban gadis itu. Kira-kira apa yang membuat seleranya kini berubah. “Mungkin sesuatu yang segar dan asam,” lanjutnya.

“Baiklah, kau dapat memutuskannya nanti saat kita sampai di restoran atau sebuah kafe,” sahut Jongin.

○○○

Separuh loyang Strawberry Cake dan segelas Mango Milksake yang sudah tandas sedang dicerna dalam perut seorang gadis berbadan ramping, tak akan ada yang percaya jika gadis itulah yang telah menghabiskan sebagian besar sajian itu. Bahkan seorang pria yang menemaninya saja, sempat terkejut dengan besarnya nafsu makan gadis itu. Yang sebelumnya dia khawatir lantaran gadis itu tampak seperti orang tidak diberi makan, kini khawatir karena gadis itu terlalu banyak makan.

“Ahhh … kue ini bukan saja manis rasanya, tapi juga manis harumnya. Sayang sekali, aku kenyang sekarang,” tutur gadis itu.

Pria di hadapannya geleng-geleng kepala. “Kita bisa pesan kembali untuk dibawa pulang, Hyunhee –ya,” sarannya. “Ohya, jam makan siang sebentar lagi usai, aku harus segera kembali ke kantor. Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”  Jongin menarik tangan Hyunhee, tapi gadis itu bertingkah seolah enggan. “Kenapa?” jemarinya mengusap lembut punggung tangan gadis itu. “Tak ingin pulang kerumah?” Jongin melihat anggukan kecil dari Hyunhee. “Aku sih senang saja, kalau kau ikut denganku. Tapi keluargamu nanti khawatir.”

“Boleh kupinjam ponselmu?”

“Apapun keinginanmu sayang, akan kupenuhi,” tutur Jongin dan mengerling nakal.

Hyunhee hanya mendesis sebelum dia pergi untuk melakukan panggilan.

Dari jauh Jongin memandangi punggung gadis itu yang sedang bicara di telepon, dia tahu siapa yang gadis itu hubungi –Saudara laki-lakinya, Chanyeol. Tak lama gadis itu kembali, wajah sumringah dan senyum merekah yang rasanya baru saja membuat seorang pria terkena serangan jantung. Hal mengembirakan apa yang baru saja gadis itu bicarakan dengan Kakaknya itu.

“Ayo Oppa!” ajak Hyunhee dan menggandeng lengan Jongin untuk meninggalkan kafe.

Hyunhee memandang keluar jendela selama Jongin fokus menyetir, dari raut wajahnya tampak sebuah tanda tanya, ‘kemana Jongin membawanya pergi? Ini bukan jalan menuju kantor atau rumah pria itu. Rumahnya? Tidak mungkin, karena dia sudah bilang jika enggan pulang ke rumah.

“Aku berpikir, kalau kau menungguku di kantor, aku takut kau bosan dan tidak nyaman. Kalau di rumahku, nanti aku dikira bawa kabur istri orang oleh Eomma dan Noona,” jawab Jongin tanpa ditanya dan diakhiri dengan kekehannya.

“Lalu kita kemana, Oppa?”

“Apartemenku.”

“Eh?”

“Kenapa?”

“Tidak,” jawab Hyunhee lalu memilih bungkam.

Jongin mengantar Hyunhee hingga masuk ke unit apartemennya, mengajak gadis itu berkeliling sebentar untuk mengenalkan tiap sudut ruangan dan berakhir di kamarnya agar gadis itu istirahat.

“Aku janji akan segera kembali, jika kau perlu sesuatu, kau bisa minta pada Dyo Hyung,” tutur Jongin dan sebuah kecupan dia sematkan di kening Hyunhee, sebelum dia pergi untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya di kantor.

Setelah perasaannya lebih baik, Hyunji melepaskan dekapannya pada Sehun, sementara tangan pria itu menghapus lembut jejak air mata sang gadis. Lalu dia berjalan keluar dan kembali dengan segelas air, menitah agar gadis itu meminumnya. Beberapa teguk air tak cukup membasahi kerongkongannya yang kering, Hyunji menandaskan air dalam gelas tersebut.

“Terima kasih, Oppa,” ucap Hyunji ketika Sehun menerima gelas itu kembali untuk membantu meletakannya di nakas.

“Kau sudah makan?”

“Belum.”

“Baiklah, ayo kita makan di keluar,” ajak Sehun dan menarik tangan Hyunji, namun gadis itu masih mematung di tempat, membuat Sehun tersentak saat melangkah. “Ada apa?”

“Hyunhee kemana?” tanya menanyakan saudara kembarnya.

Sehun diam sejenak, mencoba mengingat. Ah~ dia melupakan gadis itu. Hyunhee pergi setelah gadis itu selesai dengan pengakuannya, sementara dirinya, dia langsung menghampiri Hyunji. “Aku tidak tahu, tadi dia pergi tanpa berkata apapun.”

“Aish! Cepat telepon Hyunhee, Oppa!”

Sehun merogoh saku celananya, hendak mengambil ponselnya, namun selanjutnya dia tersadar –ponsel Hyunhee dia yang simpan. Bodohnya kau, Oh Sehun!

Oppa! Kau keterlaluan! Bagaimana bisa kau memperlakukan Hyunhee seperti itu! Mengurungnya – menyita ponselnya!!” marah Hyunji saat Sehun mengatakan kejujurannya. “Sekarang bagaimana menemukan Hyunhee?” Hyunji mengerang frustrasi. “Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya!!” pikiran negatif menghantui dirinya.

“Aku minta maaf mengenai itu. Sekarang, kau tenang dulu,” bujuk Sehun.

“Mana bisa aku tenang, Oppa! Bagaimana jika orang itu benar akan menculik Hyunhee?”

“Apa?! Siapa yang hendak menculik Hyunhee?”

Hyunji tak ada pilihan selain menceritakan kejadian sebenarnya dan Sehun cukup terkejut mendengarnya.

[TBC]

 

Siapakah yang hendak menculik Hyunhee kali ini?

 

Hai, see you again~ Do you miss me? Hohoho …

Maafkan daku baru nongol lagi, writer block itu sangat parah, kubuntu hanya untuk membuat beberapa kalimat.

Mianhaeyo

See you next chapter

#XOXO

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND – Chapter 28”

  1. Haloooo sister..kemana aja dirimu..lama come back. Ada misteri lagi nih..siapa tuh yang ngincer hyunhee??? Jangan lama thor..hehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s