[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 3)

Exo-MPH [IFangel]

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 3]

Author    : IFAngel  (Wattpad: @ifangel04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.ka Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

Chapter 1 || Chapter 2

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan || Don’t be silent readers! Please, leave comment after reading || Don’t copy without permission! Don’t plagiarize! || This story is mine and my work || Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

SH Entertainment, sebuah perusahaan agensi yang merupakan anak perusahaan dari Empire Group. Meskipun belum lama berdiri, agensi tersebut telah banyak dan sukses mendebutkan beberapa penyanyi, model, aktor, aktris maupun grup idola. Bukan saja dari dalam negara, SH Entertainment juga merekrut calon bintang dari negara lain dengan tujuan memperluas pasar.

Di bawah kepemimpinan dari seorang pria yang usianya bahkan belum mencapai kepala tiga, SH Entertainment berjalan dengan sangat baik. Dia juga orang yang menggagaskan ide dari berdirinya perusahaan agensi tersebut. Hal tersebut berawal dari keinginannya untuk dapat menjadi seorang penyanyi, namun dilarang oleh keluarganya. Bahkan pada tahun ini, dia mulai menggagaskan untuk mendirikan sebuah perusahaan penyiaran atau stasiun televisi. Itu bukanlah pemikiran gila tak berdasar, tujuannya adalah untuk membantu proses promosi dari bintang-bintangnya. Bukankah sebuah hal baik harus diapresiasi?

Cukup sampai disitu, kita memuji kinerja seseorang dibalik kesuksesan SH Entertainment. Tentu kalian penasaran dengan sosok sebenarnya dari orang tersebut. Jika melihat dari nama perusahaannya, itu adalah singkatan dari namanya sendiri. Oh Sehun atau akrab dipanggil Sehun, seorang pria tampan, mapan dan tubuh atletis. Dia sangat cocok bukan untuk menjadi seseorang yang dikagumi? Terutama oleh kaum hawa. Tidak hanya sampai disitu, bukankah dia ingin jadi seorang penyanyi? Dan ya, tentu saja suaranya bagus.

Namun dibalik semua sisi luar mengesankan yang dia tunjukkan, dia memiliki lubang hitam yang terus menghantuinya. Kemampuan bersosialisasinya sungguh buruk, dia hanya mengijinkan orang tertentu yang bisa mendekatinya, bahkan hanya untuk dapat bicara dengannya. Tapi saat dia telah menemukan seseorang yang cocok dengannya, maka dia tak akan melepaskannya dan membuat orang tersebut hanya menjadi miliknya. Itulah sikapnya yang terburuk, menggenggam sesuatu terlalu erat. Dan begitulah semua kisah asmaranya berakhir. Entah karena sang kekasih meninggalkannya, mengkhiyanatinya dan bahkan karena kematian yang memisahkan mereka.

Dan saat inipun hubungannya tak berjalan baik dengan sang kekasih, mereka bertengkar. Memikirkannya saja membuat dia sakit kepala, dia menyudahi pekerjaannya dan meninggalkan meja kerjanya yang penuh dengan dokumen. Beralih menatap keluar jendela dan memperhatikan orang yang lalu-lalang didepan gedung perusahaannya. Hingga suara ketukkan pintu membuyarkan lamunannya.

“Direktur?” Orang tersebut mengintip terlebih dahulu dari balik pintu, dan saat dia melihat orang yang dicarinya, baru dia masuk keruangan tersebut.

Sehun yang tadi sedang berdiri dekat jendela kembali duduk di balik meja kerjanya. “Ada apa, Xiumin hyung?”

“Aku ingin menyerahkan laporan mingguan hasil evaluasi para trainee.”

“Ya Tuhan, yang itu saja belum selesai,” keluh Sehun sembari menunjuk dokumen yang terletak di dalam lemari, lalu dia tampak memijat pelipisnya.

“Itu tugasmu, Direktur,” jawab sang asisten dingin. “Akh … Dan ya, aku juga ingin menyerahkan ini,” ucap Xiumin sembari memberikan tablet.

“Apa lagi ini?” tanya Sehun saat menerima tablet –nya.

“Aku sudah menyelesaikan masalahmu tempo hari, semua artikel di internet terkait skandalmu dengan Hyunji juga Aktor itu sudah di blokir dan bersih,” jelas Xiumin.

“Eoh … gomawoyo Hyung, sepulang kerja aku akan traktir kau minum,” ucap Sehun dibarengi senyumnya.

“Aku sangat berterima kasih sekali atas tawaranmu, tapi akan lebih baik jika kau selesaikan tugasmu,” pinta Xiumin dengan sopan.

Hyung, kenapa kau jadi sopan sekali bicaranya?” tanya Sehun heran, tapi Xiumin hanya menjawabnya dengan deheman. “Apa aku berbuat salah?” dan sekali lagi Xiumin menjawab dengan deheman. “Beritahu aku, dimana letak kesalahanku,” pinta Sehun.

Xiumin terlebih dahulu menarik nafasnya. “Sebaiknya kau perbaiki sikapmu itu, kalau kau tak mau kehilangan kekasihmu lagi.” Hanya itu yang diucapkan Xiumin, lalu dia pergi meninggalkan ruangan Sehun.

Sepeninggalan Xiumin, Sehun hanya berdiam diri sembari menatap fotonya bersama Hyunji yang terletak di meja kerja dengan sendu. “Maaf,” ucapnya lirih sembari masih menatap sendu kearah foto tersebut. Namun beberapa saat kemudian, Sehun beranjak dari meja kerjanya dan menyambat kunci mobil.

Di kediaman keluarga Park saat ini mereka tengah berkumpul di ruang makan, sedang menyantap makan malam bersama. Hening dan sedikit atmosfer mendung.

Oppa –mu sudah cerita …,” ucap Ayah memecah keheningan, seketika seluruh perhatian anggota keluarga langsung tertuju padanya. “Soal masalahmu, Hyunhee,” sambung Ayah. Mendengar namanya disebut, Hyunhee langsung melempar tatapan tajam pada Oppa –nya. Chanyeol membalas Hyunhee dengan memeototkan matanya. “Appa bangga padamu.” Hyunhee mengalihkan tatapannya pada sang Ayah.

Sepenggal ucapan sang Ayah, ternyata membuat Hyunhee terharu dan menitikan air mata.

“Apa keran air matamu bocor? Kenapa kau mudah sekali menangis? Cengeng!” ucap Hyunji sembari menyerahkan kotak tisu dan Hyunhee mengambil beberapa lembar tisu untuk menghapus air matanya.

“Hyunhee –ya, sudah jangan menangis lagi. Kau masih bisa bekerja di tempat lain atau kau bisa membantu Oppa di kantor,” saran Chanyeol.

“Ya, Eomma juga setuju kau membantu Oppa –mu.”

“Tidak Eomma, aku tak bisa. Aku tak nyaman jika bekerja di perusahaan Appa,” jawab Hyunhee.

“Semuanya terserah padamu, Hyunhee –ya. Kami hanya memberikan saran,” ucap Ayah.

“Apa hanya Hyunhee yang ditawari bekerja diperusahaan? Aku tidak?” Hyunji protes. “Aku bahkan mengambil jurusan Manajemen Bisnis,” sambungnya.

“Sebaiknya kau selesaikan dulu kuliahmu, Nona,” ucap Chanyeol penuh penekanan. Hyunji mengerucutkan bibirnya.

“Akh … dan ya, Eomma juga bilang kalau kau ingin menemui Jongin di London?” tanya Ayah kali ini. Hyunhee mengangguk pelan.

“London?!” pekik Hyunji. “Enak sekali kau bisa keluar negeri!” seru Hyunji. “Appa, aku juga ingin pergi keluar negeri,” pinta Hyunji terdengar seperti anak kecil.

“Bahasa Inggris saja tak bisa, minta pergi keluar negeri,” celetuk Chanyeol. “Kau pergi saja temui pacarmu sana.” Hyunji menatap tajam Oppa –nya.

“Kau boleh pergi menemui Jongin, tapi tidak sendiri. Bukan Appa tak percaya padanya, hanya saja lebih baik ada yang menemanimu. Jongin mungkin sibuk, jadi dia tak bisa selalu menemanimu,” jelas Ayah.

Appa memang sepatutnya tak percaya pada Kai, dia itu mesum,” ucap Hyunji. Sementara itu Hyunhee yang mendengarnya tampak tak suka jika kekasihnya dikatai pria mesum, dia menatap tajam Hyunji. “Memang betul, masa dia bicara tentang …,” sebelum Hyunji bicara lebih banyak, Hyunhee mencubit pinggangnya sembari memelototinya. Hal tersebut membuat Ayah, Ibu dan Chanyeol bertanya-tanya. “Tidak, lupakan saja. Tapi aku siap, jika harus menemani Hyunhee,” sambung Hyunji.

“Tak bisa,” sanggah Chanyeol. “Lebih baik aku saja, Hyunji harus menyelesaikan masalahnya dulu dengan Sehun. Dia tak bisa lari dari masalah. Lagi pula, nanti yang ada malah dia merecoki Hyunhee dan Jongin.”

“Tidak, kau masih ada proyek Chanyeol –ah,” ucap Ayah. Chanyeol tampak menggerutu, Hyunji mulai mendapatkan secercah harapannya kembali dan Hyunhee mulai hilang gairah untuk pergi.

“Kalau begitu, Eomma saja yang menemani Hyunhee ke London. Eomma juga kangen dengan Jongin, terus biar bisa sekalian belanja,” ucap Ibu terdengar antusias.

Zonk!!

Itu pilihan terburuk yang dari semua pilihan,’ batin Hyunhee. Ibunya bukan akan menemani, tapi mengawasinya. Atau justru malah dirinya yang menemani sang Ibu.

“Aku pergi dengan Hyunji saja, dia kan pengangguran sekarang, jadi tidak masalah,” ucap Hyunhee angkat bicara. Bagi Hyunji, di satu sisi dia senang karena dia yang diajak ke London. Tapi di sisi lain, hatinya kesal karena di katai pengangguran.

Ayah tampak berpikir. “Baiklah, kalau itu maunya Hyunhee.”

“Semoga perjalanan kalian menyenangkan, terutama kau Hyunhee,” ucap Chanyeol dengan senyum smirk –nya. Jelas sekali jika Oppa –nya itu tengah menyimpan kekesalan padanya.

“Sudah, lanjutkan makannya,” ucap Ayah.

Suasana hening kembali, hingga terdengar suara bel.

Ahjumma, sepertinya ada seseorang yang memencet bel. Bisa tolong lihat siapa yang datang?” ucap Ny. Park.

“Tidak usah, Ahjumma. Biar aku saja, aku sudah selesai makan.”

Akhirnya gadis itu yang membukakan pintu untuk orang yang memencet bel rumahnya. Saat dia melihat di Intercom, seorang pria yang dia kenal sedang berdiri di depan pintu. Gadis itu langsung membukakan pintu untuk pria itu.

Saat pintu dibuka, pria tersebut tampak kaget dengan seorang gadis yang ada didepannya. “Hyunji –ya, maafkan Oppa,” ucap pria itu sembari menggenggam tangan gadis itu.

Gadis itu menautkan alisnya, dia tampak bingung dengan gelagat pria tersebut. “Sehun –ssi, kau kenapa?”

Pria itu langsung menatap mata gadis yang memanggilnya dengan sebutan formal (–ssi). “Kau masih marah rupanya,” ucap Sehun. Setelah itu, dia langsung memeluknya.

“Sehun –ssi, lepaskan!” ucap gadis itu setengah berteriak sembari mendorong Sehun.

Sementara anggota keluarga yang ada di ruang makan mendengar keributan dan langsung menghentikan makan mereka.

“Kalian sedang apa?” ucap seorang gadis yang baru saja datang dari ruang makan bersama anggota keluarga lainnya.

Sehun langsung melepaskan pelukkannya dan gadis yang dipeluknya tadi langsung menjauh.

“Kau kacau sekali, Sehun –ah,” ucap Chanyeol sembari geleng-geleng kepala. “Membedakan kekasihmu dengan kembarannya saja tak bisa, dia Hyunhee.”

Sehun membelalakkan matanya, melihat kearah Hyunhee. “Maaf, aku tak tau,” sesal Sehun sembari membungkuk.

Hyunhee menatap tak suka kearah Sehun. “Makanya, kau tanya dulu!” ucap Hyunhee kesal lalu pergi.

Sementara yang lain sudah masuk kerumah, Sehun masih berdiri dipintu.

“Sehun –ah, kau akan berdiri disitu terus?” tanya Tuan Park. Sehun segera tersadar dan ikut masuk.

“Kau sudah makan?” tanya Nyonya Park kali ini.

Sehun tak langsung menjawab, Nyonya Park masih menatapnya menunggu jawaban. “Belum, Eomeonim,” jawab Sehun pelan, hampir tak terdengar. Dia tengah menahan malu saat ini.

Semua anggota keluarga kembali duduk di meja makan dan melanjutkan makan malam yang sempat tertunda, kecuali Hyunhee karena dia sudah selesai makan dan juga kesal dengan kekasih Hyunji.

Nyonya Park mengambilkan nasi dan ditaruh dipiring untuk Sehun. “Kau ingin makan dengan lauk apa, Sehun –ah?” tanya Nyonya Park.

“Tak masalah Eomeonim, aku akan makan apapun yang Eomeonim berikan,” ucap Sehun sopan. Nyonya Park tersenyum. Sementara itu, ekor mata Sehun masih mengikuti langkah Hyunhee yang tengah menaiki anak tangga.

Chanyeol menyadari arah tatapan Sehun. “Sudah, tak usah dipikirkan. Hyunhee memang begitu, sensitif orangnya. Lebih baik kau pikirkan kekasihmu sendiri.”

Sehun langsung menatap Hyunji yang duduk tepat di depannya, tapi yang dilihat Sehun hanya kepala gadis itu, karena Hyunji menunduk.

___ ___ ___

Selesai makan malam, Hyunji mengajak Sehun ke halaman belakang dan mereka duduk di ayunan. Sejenak terjadi keheningan.

“Hyunji –ya, Oppa minta maaf,” ucap Sehun sembari menggenggam tangan Hyunji. Tapi Hyunji masih berdiam diri. “Aku juga sudah menemui Yixing dan meminta maaf padanya,” sambung Sehun.

Hyunji menghela nafas dan melepaskan tangannya dari genggaman Sehun. “Oppa, aku ingin pergi ke London,” ucap Hyunji terdengar datar. Dia tampak alami mengalihkan topik pembicaraan, dan Sehun sebagai lawan bicaranya langsung menanggapi.

“Kau ingin jalan-jalan ke London? Baiklah, aku akan ambil cuti beberapa hari kedepan dan me –reservation,” ucap Sehun antusias.

“Tidak. Aku bukan akan pergi denganmu, tapi dengan Hyunhee.” Hyunji beranjak dari ayunan. “Oppa, kau pulanglah. Ini sudah malam, besok kau harus kembali bekerja.”

Sehun menarik lengan Hyunji, menghentikan langkah gadis itu. “Sulitkah bagimu untuk memaafkanku, Hyunji –ya?” tanya Sehun liris.

“Aku sudah memaafkanmu,” jawab Hyunji singkat.

“Lalu bagaimana dengan hubungan kita?” tanya Sehun lagi.

Dada Hyunji berkecambuk saat Sehun kembali menanyakan kelangsungan hubungan mereka. Bukan karena Hyunji tak lagi mencintai Sehun, hanya saja dia ragu dengan perasaannya saat ini.

“Aku tak tau, tolong jangan memaksaku. Jika Oppa masih ingin bersamaku, tolong beri waktu aku untuk berpikir dan menata kembali perasaanku.” Seketika, setelah Sehun mendengar perkataan Hyunji, dia melepaskan tangannya di lengan Hyunji dan membiarkan gadis itu pergi.

….-ooOoo-IFA-ooOoo-….

Akhirnya hari yang ditunggu dua saudara kembar itu tiba, hari dimana mereka akan berlibur ke luar negeri. Mereka sudah menyiapkan segalanya, dua buah koper besar tergeletak di teras rumah. Beberapa menit kemudian, seorang pria jangkung keluar dari rumah dan di ikuti dua orang gadis. Pria jangkung itu menarik dua koper besar milik dua gadis yang hendak berlibur dengan susah payah.

“Kalian akan berlibur berapa lama, sih? Kopernya terasa sangat berat,” ucap Chanyeol terdengar sedikit kesal.

Hyunhee berlari kearah Chanyeol dan menyambat koper miliknya. “Biar –ku bawa sendiri koperku.”

Dengan senang hati Chanyeol melepaskan salah satu koper yang sedang ditariknya tadi, dia tersenyum simpul kearah Hyunhee. “Nah … seharusnya kalian itu peka,” ucap Chanyeol tersirat. “Hyunji –ya,” panggil Chanyeol sembari menatap orangnya.

“Emmm … waeyo Oppa?” tanya Hyunji. Dia tak mendengarkan perkataan Chanyeol barusan.

“Bawa kopermu sendiri, aku mau menyiapkan mobil!” Chanyeol setengah berteriak, lalu dia meninggalkan koper milik Hyunji dan pergi ke garasi.

Semua barang bawaan sudah masuk ke bagasi mobil, Chanyeol hendak masuk kedalam mobil. Namun saat itu kedua orang tuanya datang menghampiri mereka ke mobil. Chanyeol kembali melangkah keluar dari mobilnya.

“Ada apa, Eomma?” tanya Chanyeol. Sementara Hyunhee dan Hyunji yang sudah berada di dalam mobil, menurunkan kaca mobilnya.

“Sudah kau masuk saja,” suruh Ibu pada Chanyeol, sembari mengibaskan tangannya.

Mau tak mau Chanyeol kembali masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi. Tak lama, Ibu dan Ayah juga masuk ke dalam mobil di bangku penumpang, membuat Hyunhee yang duduk disana harus bergeser. Chanyeol dan Hyunji yang duduk di bangku depan, berbalik badan menghadap bangku penumpang di belakang. Ketiga anak itu, sedang menatap penuh tanya kearah orangtua mereka.

“Kenapa? Eomma dan Appa mau ikut ke bandara mengantar putri-putriku,” jawab Ibu.

Chanyeol menerjapkan matanya. “Mereka bukan mau berangkat wajib militer, Eomma dan Appa berlebihan sekali!” seru Chanyeol.

Incheon Airport, Korea Selatan.

Setelah beberapa menit sebelumnya Hyunhee dan Hyunji berpisah dengan keluarga mereka, dan sekarang mereka sedang menunggu keberangkatan pesawat menuju London. Hyunhee beranjak dari duduknya dan berdiri, tepat setelah dia mendengar jika pesawat yang di tumpanginnya akan segera berangkat. Namun sepertinya Hyunji masih betah untuk duduk.

Hyunhee menepuk pundak kembarannya itu. “Heh. Ayo cepat! Pesawat kita akan berangkat.”

Hyunji tersenyum simpul, dia berdiri dan memeluk Hyunhee. “Enjoy your flight and holiday, sister.” Hyunhee menatap bingung kearah Hyunji. “Pesawatku berangkat tiga puluh menit lagi,” ucap Hyunji sembari menyerahkan tiket milik Hyunhee.

“Apa ini? Penerbangan kita berbeda?” tanya Hyunhee terdengar sedang protes.

Hyunji memutar bola matanya. “Ya,” jawabnya singkat. “Tujuan kita berbeda,” sambungnya. Hyunhee mengerutkan keningnya. “Aku akan pergi ke Jeju,” ucap Hyunji, diikuti ekspresi terkejut Hyunhee. “Ya~ kau harusnya berterima kasih. Aku sedang memberimu waktu berdua bersama Kai.”

“Kau tidak terdengar tulus mengatakannya,” ucap Hyunhee curiga, dia menangkap keraguan dari ucapan Hyunji. “Katakan sebenarnya ada apa?” selidik Hyunhee.

“Ya … aku cuman merasa, kalau kita perlu waktu untuk diri masing-masing.” Hyunhee masih menatap Hyunji penuh kecurigaan. “Ya! Aku serius. Kalau kau tak percaya, ku tarik kembali ucapanku barusan,” ucap Hyunji kali ini terdengar marah.

“Baiklah, jadi kau mau ku bawakan oleh-oleh apa dari London?”

Hyunji berpikir sejenak. “Emmm … aku tak minta banyak hal, hanya—,” Hyunji menggantungkan ucapannya, membuat Hyunhee menunggu dengan penasaran. “Cukup aku terima kabar baik dari kalian.”

Kalimat terakhir Hyunji meninggalkan pertanyaan di benak Hyunhee. “Kabar baik seperti apa?”

“Keponakan untukku yang lucu,” ucap Hyunji sekenanya.

“Ya! Mesum!!” pekik Hyunhee seraya mengeplak kepala kembarannya itu yang mulai koslet.

“Kau jauh-jauh ke London, bukan cuman mau bertemu Kai saja kan?” goda Hyunji.

“Sudah, pesawatku sebentar lagi akan lepas landas.” Hyuhee menarik kopernya sebelum memeluk Hyunji dan pergi. Dia melambaikan tangannya.

Fighting, Hyunhee –ya! Aku tau kalian bisa,” teriak Hyunji.

Keumanhae!” jerit Hyunhee tertahan.

London

Hyunhee menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang, setelah perjalanan jauh yang ditempuhnya. Dia sudah berada di apartemen kekasihnya saat ini. Bagaimana dia bisa masuk? Mudah saja. Hyunhee sudah mengabari orang kepercayaannya perihal kedatangannya ke London, Kyungsoo oppa lah berhak menerima ucapan terima kasihnya. Beberapa hari sebelumnya dia menghubungi asisten dari kekasihnya itu, mulai dari alamat apartemen, password apartemennya, hingga jadwal sang kekasih. Tak lupa dia menanyakan tempat yang bisa dia kunjungi di London. Dan berkat Kyungsoo oppa juga, dia dapat menyiapkan kejutan untuk kekasihnya.

Hyunhee beranjak dari sofa dan berjalan kearah ruang kamar. “Mari kita lihat kamar Jongin oppa tidur,” ucap Hyunhee dengan binar dimatanya. Ketika dia membuka pintu, matanya tertuju pada sebuah ranjang besar. Hyunhee langsung berlari dan menimpa benda empuk itu. “Eum~ wangi Jongin oppa.” Hyunhee menghirup aroma sang kekasih yang melekat pada seprai. “Naega neomu joha!” Hyunhee berseru senang.

Setelah puas berguling di ranjang, Hyunhee mulai menjelajah seisi ruang apartemen milik sang kekasih.

–Kamar mandi, oke. Luas dan keran air hangat menyala.

–Dapur, kosong. Dia bersyukur membawa beberapa makanan, jadi bisa memasakkan sesuatu untuk kekasihnya.

–Ruang tengah, oke. Ada TV dan sofa, setidaknya.

Beberapa saat kemudian, Hyunhee telah seesai berkeliling. “Mwoya?! Cuman ada satu kamar. Lalu dimana Kyungsoo oppa tidur?” Hyunhee kembali melirik kearah kamar tidur yang sebelumnya dia sambangi. Tiba-tiba dia bergidik ngeri saat sesuatu terlintas dipikirannya. “Eyyy … Tidak mungkinkan, kalau Jongin oppa dan Kyungsoo oppa tidur dikamar dan ranjang yang sama?” Hyunhee mengibas-ngibaskan tangannya di udara, menghilangkan pemikiran kotor yang mulai hinggap di otaknya. “Jongin oppa normal, dia mencintaiku,” ucap Hyunhee terus mengulangi kalimat itu.

Bukankah seharusnya gadis itu berpikir dan khawatir dimana dirinya akan tidur nanti malam? Kkkk~ 😀 Bagaimanapun kecil kemungkinan bagi kucing (Jongin) akan menyia-nyiakan ikan (Hyunhee) yang ditinggal sendirian.

[TBC]

Mari kita tunggu saja kejutan yang disiapkan oleh Hyunhee dan reaksi Jongin saat melihat kehadiran kekasihnya yang tidak dia duga. #JongHeeCouple

[Preview Chapter 4]

Setelah beberapa hari Sehun tak dapat menghubungi Hyunji, dia memberanikan diri menelepon Hyunhee untuk menanyakan hal terkait kekasihnya itu.

Yeoboseyo,” suara dari seseorang yang menjawab telepon Sehun terdengar berat, dia menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melihat apakah dia salah menekan kontak. Benar kok, itu kontak milik Hyunhee.

Sehun kembali mendekatkan ponselnya ke telinga. “Nuguseyo?”

Ini Kai, pacarnya Hyunhee. Dia sedang memasak, jadi aku yang angkat teleponnya. Kenapa Sehun –ah?” jawab Kai dilanjutkan dengan bertanya.

“Hyunji, bisakah kau berikan teleponnya pada dia. Aku ingin bicara dengannya, karena ponselnya tak dapat dihubungi,” ucap Sehun.

Kai mengerutkan keningnya. Pikirnya, apa Sehun sedang mabuk. “Hyunji? Dia tak ada, memangnya dia juga pergi ke London?

Sehun tampak terkejut, setelah itu dia langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan Kai secara sepihak dan membuat Kai terus berteriak ‘halo’. Perasaan dan pikirannya campur aduk saat ini.

°°°

Cuman mau kasih pemberitahuan sebelumnya, karena aku mulai beraktivitas kembali dan sedang dalam masa penyelesaian tugas akhir. Jadi akan slow update, mohon maaf atas ketidak nyamanan ini. Padahal aku baru post beberapa chapter, tapi udah gak konsisten dan gak update teratur. Aku usahakan update (biarpun gak seminggu sekali).

Terima kasih aku ucapkan sekali lagi pada para pembaca, atas apresiasi kalian. Saranghaeyo~ ❤ dan tetap menantikan setiap kesan/pesan pengalaman kalian setelah membaca FF aku ini. ^^

See you next chapter :-*

#XOXO

 

32 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Possessive Husband (Chapter 3)”

  1. Aku suka banget moment keluarga Park, mereka lucu lucu tingkahnya apalagi Hyunji bikin gemes 🙂
    masih nunggu moment mereka sama pasangan masing masing 🙂

    1. Ya, kan~ aku pun juga suka sama suasana keluarga Park. Keluarga Park itu keluarga idaman bgt, harmonis.
      Tenang, selanjutnya Hyunhee bakal ketemu Jongin.. >o<

  2. Idenya hyunji pas buat hyunhee..lagian g mungkin hyunji mo ikut ke london yang ada tar jadi nyamuk..haha..ditunggu author lanjutannya, ceritanya ringan,bahasanya mudah dipahami..dan komedi dikit..bagus deh..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s