2ND GRADE [Chapter 05] -by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 05]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun

[EXO] Chanyeol | [Red Velvet] Seulgi |Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue [Welcome to 2nd Grade] | Chapter 1 [New Place] | Chapter 2 [New Team, Dream Team] | Chapter 3 [Hey, You!] | Chapter 4 [Emotion]

.

Now Playing ► Chapter 5 [End of the Day]

Runa seperti bertemu dengan anjing kecil yang butuh usapan, di akhir harinya.

.

.

Setelah hampir lupa menyerahkan salinan tugas pada Jungkook sepulang sekolah, Runa kini tengah berjalan sendirian. Menyusuri pertokoan dan pedagang jalanan yang menyuguhkan makanan ringan. Maniknya terus mencari-cari. Kali saja ada hal yang berhubungan dengan rencananya di sekitar sana. Tapi sayangnya nihil.

Karena tak kunjung menemukan yang dicari, ia memutuskan berjalan asal. Yang penting jalan yang ia lalui tak begitu sepi saja sudah cukup. Berhubung biasanya jika sudah mulai merasa putus asa justru malah mendapat yang dicari, Runa mensugesti dirinya agar menyerah saja. Cukup bodoh? Biar saja. Lebih bodoh lagi saat ia berpura menyerah namun dalam hati tetap menggumam kata semangat.

Sedang asik-asiknya berputus asa, langakahnya terhenti tiba-tiba.

Nah, apa katannya.

Mendadak matanya berbinar. Cepat-cepat ia melangkahkan kaki untuk memasuki minimarket yang sejak beberapa detik yang lalu menarik atensinya. Kala menatap pegawai kasir yang balik memandangnya heran, Runa berucap semangat, “Aku mau itu.”

Telunjuknya terarah pada kertas iklan di kaca depan, yang menuliskan bahwa minimarket ini butuh tenaga kerja tambahan.

Sebegitu senangnya Runa karena sudah diterima dan langsung boleh kerja esoknya, di hari kedua dia datang lebih awal. Membuat sang pemilik menyuguh senyum bangga. Menepuk pundak si gadis dan berkata agar mempertahankan kerjanya.

Begitulah Runa mulai menghabiskan sisa harinya sebagai pegawai di minimarket. Dia berbohong pada Tuan Kwon jika ada kelas tambahan atau mampir di perpustakaan. Di sisi lain merasa punya kesenangan tersendiri tak perlu kesana-kemari mencari kegiatan untuk menghabiskan hari.

“Runa, tolong angkatkan ini sebentar,” suara Seulgi menginterupsi lamunan Runa. Bergegas ia membantu rekan kerjanya hari ini mengangkat kardus berisi barang baru ke depan salah satu rak.

“Oke, terima kasih.”

Runa hanya bergumam mengiakan sebelum kembali ke balik meja kasir. Baru saja beberapa sekon ia sampai, seorang lelaki terlihat memasuki minimarket dengan terburu.

“Tolong yang biasa sa─eh,” lelaki itu menghentikan langkahnya, menatap Runa heran, “Baru, ya?” Merasa dirinya adalah pegawai yang dapat dibilang baru, Runa mengangguk saja. Setelah menunjukkan raut muka sedikit kecewa, si lelaki bergegas menuju rak penuh makanan di sudut sana.

Rasanya Runa pernah melihat si lelaki bertopi itu, tapi di mana ya? Atau dia hanya salah lihat? Oh, mungkin memang matanya yang salah. Masa bodoh, deh, memangnya tidak ada orang yang mirip di dunia?

Begitu si lelaki meletakkan belanjaannya─yang Runa pikir itu adalah yang biasa dipesan, padahal sesungguhnya bukan─Runa mulai menghitung pembayaran.

Setelah ia menyebutkan nominal, lelaki tadi menyerahkan beberapa lembar uang. Sementara si lelaki memasukkan belanjaannya ke kantung plastik, Runa meraih satu-satunya mangkuk ramen di depannya, “Tolong tunggu sebentar.”

“Eh, sebentar! Aku beli ramen?” Pertanyaan aneh si lelaki membuat Runa lagi-lagi menatap heran sebelum akhirnya mengangguk. Lalu untuk apa menyodorkan ramen di depannya jika tidak ingin dibuatkan? Apa Runa yang salah?

 “Maksudku, boleh aku lihat sebentar ramennya? Hanya ingin mengecek rasa kesukaanku.”

Oh, Runa kira apa. Dia membiarkan sesi pengecekan rasa ramen oleh si lelaki bertopi. Ketika mangkuk ramen kembali ke tangannya, bergegas ia menyiapkan semua. Tidak begitu lama, tentu saja.

“Permisi, pesanan Anda,” panggilnya kemudian. Dia lupa menanyakan nama. Tapi toh untungnya sedang sepi, jadi tidak perlu salah panggil.

“Kwon….”

Merasa si lelaki mengucapkan sesuatu yang terdengar familier, Runa membuka mulut, “Maaf?”

Untuk yang kesekian kali Runa melihat si lelaki berusaha menyusun kata. “Maksudku, terima kasih.”

“Sama-sa─” Runa belum menyelesaikan kalimatnya saat si lelaki bertopi bergegas pergi, “─ma.”

Huh, pergi begitu saja, terlihat seperti tipikal orang tidak sopan.

.

.

.

-0-

.

.

.

“Runa, kau bisa pulang.” Seulgi yang baru saja memasuki minimarket terdengar sedikit lelah. Padahal setelah ini gilirannya bekerja.

“Kau datang lima menit lebih cepat. Besok-besok datang sedikit terlambat saja, ya?” Runa melepas celemeknya seraya bersungut ria. Membuat Seulgi memicingkan mata, “Di mana-mana pegawai sukanya pulang lebih awal. Kau malah minta dipulangkan terakhiran. Kenapa tidak punya minimarket sendiri saja jika suka jadi kasir?” Dia mencibir penuh canda sambil mengikat rambutnya.

Setelah terkekeh pelan, Runa hanya mengedik bahu. Tak berniat menjawab. Karena kalaupun dijawab, Seulgi tak akan paham. Bagaimanapun menjelaskan sampai ceritanya dipahami akan membutuhkan waktu lama, setidaknya itu menurut Runa.

“Ya sudah, deh. Aku duluan, ya?” Bergegas Runa mengambil ransel yang tadi sudah ia siapkan. Melambaikan tangan pada Seulgi seadanya sebelum melangkah pergi.

Malam ini langitnya cerah, walau begitu tidak ada bintang yang terlihat. Apa dia perlu ke pelosok desa dulu jika ingin menikmati indahnya kerlip malam? Oh, ide yang boleh dicoba kapan-kapan.

Telinganya sudah tersumbat earphone, meluncurkan lagu kesukaan. Hingga sesekali ia bergumam pelan. Pada akhirnya menemukan tempat selain rumah dan sekolah membuat semangat tersendiri dalam sudut hati.

“Wah, apa anak-anak jaman sekarang masih bermain ini?” Rasa antusias langsung merambati nadanya ketika melihat gambar kotak-kotak teratur di jalanan. Sangat jelas dilukis dengan kapur. Biasanya dulu ia bermain itu bersama Sunyoung. “Baik, mencoba kemampuan lama bukan masalah.” Dengan seringan lebar ia mengambil ancang-ancang.

“Satu… Dua…” Berhubung Runa pikir tidak ada orang di sana, dia berucap dengan semangat, hampir tertawa, “Tiga-empat! Lima… Enam-tujuh!” Harusnya dia menghitung satu angka saja untuk dua kotak yang harus dipijak bersama. Tapi, yah, terserah saja deh.

“Delapan… Sembilan… Yak!” Runa hampir tergelak saking semangatnya. Dia membalikkan diri untuk menatap area bermain buatan itu, lalu bercacak pinggang seolah ada lawan yang menggigit jari karena kalah di sana, “Sudah kuduga, aku memang jago di banyak bidang.” Selanjutnya Runa terkekeh sendiri. Merasa bodoh tapi di sisi lain terhibur dengan tingkahnya.

“Kwon?”

Eh?

Runa menoleh, mendapati lelaki bertopi yang tempo hari menjadi pembeli di minimarket, di sana. Tapi sekadar informasi, si lelaki sedang tidak pakai topi, kepalanya justru tertutup tudung jaket warna biru tua.

Harusnya Runa begitu malu sekarang. Namun saat mengingat penjelasan Seulgi (yang entah bualan atau tidak) perihal sang lelaki yang sudah menjadi pelanggan minimarket, Runa mencoba bersikap biasa. Hitung-hitung ajang mengakrabkan diri dengan pelanggan minimarket─well sejujurnya itu bukan hal yang terlalu peting.

“Oh! Langganan!” Mati-matian Runa mengubur rasa malu. Jika ia bersikap biasa pasti lelaki itu juga akan menunjukkan reaksi sama.

Namun kenyataannya berbeda. Si lelaki justru menahan gelak tawa. Sialan, tahu begini Runa langsung pergi saja sejak tadi.

“Kenapa tertawa? Tidak pernah lihat permainan ini, ya?” Seraya menyedekapkan tangan, Runa mengambil langkah. Niatnya, sih, langsung pergi saja daripada semakin tak dapat menahan malu. Tapi, lelaki tadi justru kembali mencoba membuat konversasi.

“Mau pulang, ya? Mau kuantar?”

Dengan pandangan sepenuhnya tak percaya, Runa menatap si lelaki, “Serius atau karena ada hal lain?” Berburuk sangka adalah yang ia lakukan, “Kau sengaja menawarkan diri karena ingin mengejekku sampai puas, kan? Atau kau ingin bertindak aneh? Atau jangan-jangan kau paman penjahat yang sedang menyamar?” Bukannya mendapat jawaban, yang ada sang lelaki kembali terkekeh seraya memperpendek spasi yang ada.

“Oh Sehun, tingkat dua di Sekolah Seni Yeonso.” Dia mengulurkan tangan, “Aku hanya anak baik yang ingin mengantar seorang gadis yang pulang larut malam.” Walau bukan murni anak baik, setidaknya Sehun pikir bertindak tak senonoh pada seorang gadis yang baru dikenal itu memalukan. Ow, sedikit menyakitkan hati karena ia teringat seseorang yang telah ia sakiti. Apalagi di bagian ‘tidak senonoh’ yang punya arti luas untuknya.

Uluran tangan tadi dibalas tepukan cepat dari Runa, “Bohong. Anak baik tidak keluar malam-malam.” Dia benar. Dan, omong-omong, ia lupa memperkenalkan diri. “Sudah urusi saja urusanmu, bisa-bisa aku─” Baru sadar akan raut yang Sehun suguh begitu muram, ia terdiam. Sepertinya Sehun bodoh dalam hal memasang senyum palsu. Justru terlihat jelek sekali. “Ya sudah. Aku pergi dulu.” Sadar jika ia terlalu lama terdiam (sebenarnya hanya sekitar empat atau lima detik), Runa segera membalikkan tubuh untuk melanjutkan langkah yang sempat tertunda.

“Hei, Kwon.”

Tadinya Runa ingin mengkritik cara Sehun memanggilnya. Tapi di kala baru saja si gadis menoleh, lelaki itu sudah lebih dulu melanjutkan dengan senyum begitu tipis di wajah.

“Aku tidak ingin minum alkohol, biarkan aku mengantarmu pulang.”

Runa tahu perasaan ini. Maksudnya, perasaan yang begitu terlihat dalam manik Sehun. Ada sesak yang terselip dalam senyum tipis yang disuguh. Entah dari mana Runa merasa Sehun ingin mencegah dirinya sendiri menuju tindakan bodoh untuk ukuran anak sekolah.

Setelah  menyempatkan diri untuk menggaruk rambut tak gatalnya, Runa mengedik bahu dan mencipta langkah.

“Apa itu artinya boleh?” Dengan segera Sehun mengayun kaki untuk menyusul. “Aku melakukan ini untuk kemanusiaan,” ujar Runa cepat. Tak peduli apa alasannya, yang jelas Sehun senang-senang saja. Dia punya alasan lain untuk menekan keinginan egoisnya. Itu sudah cukup.

Tak perlu waktu yang lama bagi keduanya untu menunggu bus datang. Hanya sekitar lima menit, bus sudah berhenti di depan mereka. Sebagai tanda terima kasih, Sehun langsung menggunakan kartu bus-nya untuk membayar. Runa diam saja, lumayan mengirit uang, pikirnya.

Si lelaki tahu gadis di depannya sedikit bingung memilih tempat duduk saat mengedar pandang ke dalam bus. Pasalnya mereka bisa dikategorikan orang asing yang bahkan nama satu sama lain pun tak tahu pasti. Sehun yang tidak ingin membuat suasana semakin menjadi canggung begitu saja menunjuk bangku kosong paling belakang, “Di sana kosong.”

Padahal Runa tahu persis tak hanya bangku paling belakang yang kosong mengingat ini sudah larut malam. Tapi toh dia mengikuti Sehun berjalan ke belakang juga. Memosisikan diri untuk duduk di samping si lelaki.

Tadinya Runa ingin memikirkan topik yang pas untuk diperbincangkan─seperti kebiasaan pada umumnya. Sayangnya dia sedang lelah, jadi yang ia pilih hanya diam. Menyebabkan Sehun-lah yang menjadi pihak pertama pemecah keheningan.

“Kau sekolah di mana?” Sejenak Sehun memerhatikan ekspresi Runa, hingga ia terkekeh sedikit, “Canggung, ya? Maaf,deh. Anggap aku tidak ada, tidak apa-apa kok.”

Runa melirik sekilas, “Sulit, lho, tak memedulikan orang asing yang mendadak ingin mengantar pulang.” Dia mengedik, “Jadi santai saja.” Padahal sedari tadi ia yang menjadi pihak paling tidak santai. Dan Sehun tahu persis itu, tapi ia diam saja.

“Markasku dekat dengan minimarket tempatmu bekerja. Makanya aku sering mampir.” Terserah ini topik yang tepat atau tidak, Sehun hanya mengeluarkan apa yang ia pikirkan. Di sisi lain Runa menangkap istilah markas dengan maksud lain, “Markas? Kenapa aku membayangkan kau ini anggota sebuah kelompok kejahatan?”

Mau tak mau Sehun terkekeh karenanya. “Bukan. Hanya tempat nongkrong biasa, kok. Agar singkat disebut markas.”

“Oh,” Runa manggut-manggut, “enak, ya, punya markas. Aku bahkan jarang berkumpul bersama temanku.” Temannya sekarang baru Seunghee saja sepertinya. Dan mereka memang tidak pernah memikirkan tempat nongkrong.

Sehun berpikir, apa mungkin gadis di sampingnya sedikit punya masalah dengan murid di sekolah? Inginnya bertanya, tapi batas label orang asing sedikit menghambatnya. Jadi yang ia lakukan hanya ikut mengangguk saja.

“Eh, pinjami satu, dong.” Lelaki itu melakukan gestur menunjuk satu telinga. Oh, iya. Runa, kan, sedang mendengarkan lagu. Dia hampir lupa karena volumenya sempat dikecilkan tadi. Tidak punya alasan untuk menolak Sehun, sang gadis merelakan satu kabel earphone-nya berpindah ke telinga si lelaki.

“Aku tahu lagu ini! Mau dengar aku bernyanyi?” Mendadak saja Sehun menguar semangat. Diam-diam Runa tak yakin pada suara Sehun, tapi tetap tak protes kala si lelaki mulai menirukan lirik lagu. Catatan, dengan nada yang tidak pas, terkesan datar. Apa itu gaya menyanyi baru?

“Niat menyanyi tidak, sih?” Runa menyenggol lengan Sehun. Tak peduli, yang disenggol masih sibuk menirukan lirik seraya memejamkan mata, memasang ekspresi menikmai setiap nada yang ada. Mendadak Runa tertegun. Merasakan ada semacam gumpalan yang ingin Sehun keluarkan. Runa hampir lupa, ada sesuatu yang masih mengganjal dalam benak Sehun─tebaknya. Dilihat dari sang lelaki yang begitu saja menawarkan akan mengantar pulang, hingga detik ini. Saat dimana Sehun terlihat ingin melepas apa yang membelenggu otaknya dengan sekali tebas.

Runa tidak paham apa itu. Yang jelas ia tahu, saat dirinya ikut menirukan lirik lagu, senyum Sehun berubah jadi semanis susu.

Acara mengantar pulang kala itu berakhir dengan Sehun yang menatap punggung Runa menjauh. Si lelaki yang tidak turun dari bus lantas menghabiskan waktunya berkeliling kota. Di dalam bus terakhir, dengan earphone pinjaman Runa yang sepertinya memiliki efek mutakhir.

Sepertinya Sehun harus beli earphone penghilang muram seperti milik Runa kapan-kapan.

.

.

.

Kwon Runa:

Sudah tidur?

 

Runa memandang pesan yang baru ia kirim. Dia berguling beberapa kali di atas kasurnya seraya menunggu balasan. Apa Chanyeol sudah tidur?

Mendadak suara notifikasi mematahkan perkiraannya.

 

Park Chanyeol:

Baru selesai menggosok gigi, hehe.

 

Kwon Runa:

Um, begitu.

Jadi sudah mau tidur ya?

 

Park Chanyeol:

Kalau kau ingin mendengarkan suaraku, jawabannya tidak kkk~

Runa berpikir sejenak. Dia ingin mengobrol dengan Chanyeol, tapi lelaki itu sepertinya sudah mengantuk. Mungkin Runa sebaiknya─

Oh, ponselnya bergetar.

“Kenapa telpon?” Harusnya Runa cepat membalas tadi. Agar Chanyeol tak perlu menghubunginya selarut ini.

“Nah, kelihatan kangennya.”

Berhubung Chanyeol tidak lihat, Runa bebas mengulas senyum, “Tidak, dasar besar rasa.”

Di ujung saja Chanyeol terkekeh. “Hari ini aku main dengan Kris lagi. Dan kau harus bangga punya pacar sepertiku. Aku menang dan esok Kris akan mentraktirku.” Dia berinisiatif mulai bercerita. Mungkin memancing Runa untuk melakukan hal yang sama. “Kau pulang terlalu larut lagi? Apa besok aku harus menjemputmu?”

“Jaraknya tidak terlalu jauh, kok.” Runa menarik selimut sampai ke perut, “Omong-omong, tadi aku pulang diantar seseorang.” Suara gemersik pelan di sana membuat Runa berpikir Chanyeol sedang mengganti posisi tubuh.

“Siapa? Kau tidak sedang mengakui sebuah perselingkuhan, bukan?” Jika mereka sedang mengobrol secara nyata, Chanyeol pasti akan mendapat tepukan di lengan karena terlalu berlebihan.

“Jangan konyol. Hanya seorang lelaki yang kutahu saat kerja.” Runa membalik posisinya, “Dia keliahatan suram dan tidak punya tujuan, jadi aku membiarkannya mengantarku sampai halte. Lagipula sekolahnya sama dengan Sunyoung, jadi kurasa tidak masalah.”

“Oh, begitu.” Kelihatannya Chanyeol sedang berpikir sejenak. “Besok-besok tidak perlu ladeni orang asing. Siapa tahu, kan, ada niat jahat.”

“Hm… iya, Chan. Maaf, ya.” Bukannya mendengar jawaban, Runa justru mendapati telinganya menangkap suara tawa di seberang sana. “Chanyeol…” gumamnya mengingatkan.

“Aduh, maaf, maaf. Aku hanya sedang berpikir, kapan terakhir kali kau memanggilku seperti itu. Kangen, tahu.”

“Kurasa kau benar-benar sudah mengantuk, Park Chanyeol.” Tak habis pikir dengan pemikiran kekasihnya, Runa hanya maklum saja. “Ya sudah. Selamat tidur. Kututup.”

Dan tepat sebelum ia resmi menutup sambungan, suara pelan Chanyeol terdengar.

“Aku menyanyagimu.”

Runa tertegun sesaat. Tolong siapa pun pukul kepalanya sekarang. Kenapa ia justru memikirkan maksud tersendiri dari nada yang Chanyeol gunakan? Kenapa, sih, para gadis harus sering dibayangi resah seperti ini?

Kwon Runa:

Aku juga

Jangan balas.

Tidur sana.

Dia setengah hati menatap balasan pesan yang si telinga besar tetap kirimkan.

Park Chanyeol:

Zzz

Runa tidak suka saat ia merasa aneh pada kekasihnya ketika pada kenyataannya semua berjalan seperti biasa.

.

.

.

.to be continue

Yeay chapter 5 up wkwkwk (seolah-olah gak merasa bersalah banget update lama/digampar)

Gak bisa janji sih, tapi aku usahain pas liburan aku update seminggu sekali kalok gak ada event :3

Ye ye ye makasih semuanya yang udah baca dan ninggalin komen :* ❤ Maaf aku belum sempet bales 😦

.nida

Iklan

29 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 05] -by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 24] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 21] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 20] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 19] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 18] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 17] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 16] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 09] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 15] | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 14] | EXO FanFiction Indonesia

  13. sumvah, sampai sejauh ini penuh teka teki.
    sebenarnya ada apa dengan chanyeol?
    trus ada apa jg antara baekhyun dan runa?
    trus kenapa sehun seperti pernah mengenal seseorang dgn nama kwon blablabla?
    sesu nih

  14. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 13] | EXO FanFiction Indonesia

  15. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 12] | EXO FanFiction Indonesia

  16. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 11] | EXO FanFiction Indonesia

  17. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 10] | EXO FanFiction Indonesia

  18. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 08] | EXO FanFiction Indonesia

  19. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 07] | EXO FanFiction Indonesia

  20. Halo kak nida^^
    Aku reader baru.
    Aku udah baca dari chapter 1 sampe chapter ini. Udah aku like in setiap chapter tp ga sempet comment karena aku lg sibuk banget nyelesain remidi yg ga ada habisnya. Maklum masih SMA😂

    Aku menikmati banget setiap tulisan yang kakak tulis. Enak banget dibaca. Terus ini juga school life yg dikasih bumbu2 drama romance dikit. Ga berlebihan/lebay, porsinya cukup.

    Feelnya kalo menurut aku kurang greget sih. Tp secara keselurahan baguslah.
    Sejauh ini sih ga ada typo. Tp ga tau juga kalo chapter sebelumnya ada typo atau nggak. Soalnya saking menikmatinya jd ga sadar ada typo atau nggak.

    And btw ini ada Irene-sehun-taehyung yg gosip2nya lagi bnyk di couplein sama fans2. jd semangat baca karena ada 3 orang ini😂 terus pas ending chapter ini agak kesel juga kok udah muncul tulisan tbc😂

    Oke ditunggu next chapternya kakkkk^^
    Maafin comment aku yg panjang banget😂
    Always support you🙆😍💕

  21. itu pasti chanyeol selingkuh sama yeulbi deh
    kan ada dibilang
    sahabatnya aja mengkhianati pasti pacarnya juga
    gilak dimanamana dikhianati yaaa nah ini malah mengkhianati

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s