2ND GRADE [Chapter 17] -by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 17 [Let’s Talk]

Oh, perhatikan siapa yang mulai membuka diri di sini.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun

[BTS] Taehyung | [RV] Kang Seulgi | [BTS] Jimin | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16

.

.

follow my wattpad l18hee

Sampai pulang sekolah Baekhyun menolak diajak ngobrol. Membuat Runa semakin merasa bersalah. Belum juga masalah putus terkubur sempurna, kini masalah percintaan klasik datang lagi. Runa jadi berpikir, memangnya kehidupan sekolah isinya cinta-cintaan saja, ya? Sayangnya pemikiran tersebut langsung buyar begitu sadar bahwa ada setumpuk tugas yang harus diselesaikan. Belum lagi kerja paruh waktu yang harus ia datangi. Kendati tidak begitu membutuhkan tambahan uang, Runa tidak bisa seenaknya bolos juga, kan?

“Selamat menikmati masa sekolahmu, Kwon Runa.” Ia meniup udara dan membenarkan kucir kudanya. Tidak lupa memasang papan nama, Runa sudah menyuguh senyum di balik meja kasir untuk melayani pelanggan; beberapa pelanggan baru yang kebetulan lewat, beberapa sisanya adalah langganan yang biasa mampir walau itu hanya dua atau tiga hari sekali.

Seperti gerombolan Sehun yang datang beberapa menit sebelum jam kerja Runa habis.

“Pesta ramen?” tanya Runa sambil mengecek kode batang belanjaan para lelaki kelaparan itu. Dia lantas menyebutkan nominal.

“Ini hari Selasa, hari paling berat setelah Senin, artinya hari makan ramen,” jawaban aneh dan terkesan memaksa ini justru dilayangkan oleh lelaki di samping Sehun yang masih melayang tatap dalam diam. “Oh, iya, aku Kim Taehyung temannya Sehun. Salam kenal,” lanjutnya seraya mengulungkan tangan untuk bersalaman. Sontak saja Runa memasang senyum canggung─merasa aneh, “Hai.”

“Kau Kwon Runa, kan? Aku sering mendengar tentangmu dari─” Taehyung langsung diam kala rusuknya mendapat sapa dari siku Sehun. Ia menepuk rusuknya dan pamer cengiran sebelum keluar minimarket untuk menghampiri Jongin dan Jimin.

“Dia memang agak …” Akhirnya Sehun bicara, membuat gerakan memutar dengan telunjuknya di sekitar pelipis mata. Mau tak mau Runa terkekeh sambil meraih lembaran uang dan beberapa koin yang Sehun ulungkan, “Dia mirip temanku, senyumnya sama persis.”

“Benarkah? Kuharap gilanya tidak sama.” Setelah meraih semua belanjaan─kecuali ramen, dengan tangannya, Sehun mengedik bahu, “Ya sudah. Aku ke depan dulu.”

“Eh, ini ketinggalan.” Runa mengulungkan botol vitamin yang lupa Sehun ambil. Bukannya berbalik untuk mengambil, Sehun malah memasang tampang jengah, “Minum saja, deh. Tanganku sudah penuh, aku malas berjalan ke situ lagi, dan yang paling penting tiba-tiba aku tidak berselera minum vitamin.” Sementara Sehun pergi untuk menempatkan diri di tengah kawan-kawannya, Runa hanya menekuk kening. Ia menatap vitamin di tangannya dan bergumam, “Semua barang gratis memang tidak baik disia-siakan.” Dan setelah menghabiskan vitaminnya, Runa kembali sibuk menyiapkan ramen untuk para lelaki berisik di luar sana.

“Kang Seulgi!” Runa baru saja akan keluar untuk meminta Sehun dan yang lain mengmbil ramen, saat Seulgi datang dengan wajah merahnya. Dapat ditebak, pasti sudah menyadari keberadaan Taehyung di depan minimarket. “Kau beruntung berangkat lebih awal. Ayo, bantu aku meletakkan ramen ini.” Semangat Runa langsung naik begitu sadar ada ide bagus untuk mengenalkan Seulgi pada idolanya.

“Tunggu!” Seulgi memegang dadanya, “Aku harus berdandan sebentar.” Dia cepat-cepat membubuhkan bedak tipis dan juga mengoleskan gincu ke bibir. Terang-terangan Runa terkekeh, dia terus melayangkan tatapan godaan pada Seulgi kendati sudah sampai di meja gerombolan Sehun. Omong-omong, dia sudah sekalian bersiap dengan tasnya untuk sekalian pulang.

“Spesial hanya hari ini ramen diantarkan langsung ke meja kalian.” Manakala berucap, Runa menyempatkan diri menyenggol lengan Seulgi. Dengan cekatan Seulgi lantas menurunkan ramen ke meja.

Tahu bahwa Sehun tengah menatapnya heran, Runa sedikit berbisik, “Kondisikan ekspresimu. Anggap saja ini bayaran vitamin tadi.” Tadinya Sehun ingin menanggapi, tapi ia kalah cepat dari Taehyung, “Harusnya kau juga ikut makan.”

“Runa, kau ingat aku?” Lelaki sipit yang duduk di samping Taehyung menyela, “Park Jimin, ingat?”

Semula Runa hanya merasa pernah melihat sekilas, tapi ia langsung teringat sesuatu, “Ingat! Yang waktu itu ditolak Shannon?” Sontak kekehan mengejek ditebar ke udara. Jimin sendiri mau tak mau tersenyum juga walau terpaksa, “Yang penting kau mengingatku.” Padahal dalam hati menebar umpatan. “Oh, kau tidak akan mengenalkannya pada kami?”

Well, setidaknya Runa tidak perlu mengarang alasan untuk memperkenalkan Seulgi.

“Aku hampir lupa, kenalkan ini Kang Seulgi, dia juga kerja paruh waktu di sini. Jadi, santai saja.” Tepukan semangat di pundak Seulgi, Runa lakukan. Ia lalu mengecek arloji, “Aku harus mengerjakan beberapa tugas. Aku pulang duluan, ya?” ujarnya pada sang partner kerja. Setelah menebar salam singkat, dia langsung mencipta langkah.

Lagi, ia melirik arloji. Jika ia pulang sekarang, beberapa tugasnya masih bisa dicicil sebelum batas pengumpulan. Lumayan menghemat waktu karena ia tak lagi punya jeda untuk mengerjakan sesuatu mendekati deadline.

“Kwon!”

Sepertinya Runa mulai terbiasa dengan panggilan itu, jadi ia menoleh, “Sehun, jangan bilang kau ingin menagih vitamin yang tadi. Sudah kuminum habis.” Bisa saja kan, Sehun tengah mengerjainya atau bagaimana.

“Aku tidak mengambil apa yang sudah aku beri,” jawab Sehun tepat saat ia sudah menapak jalanan tepat di samping si gadis. Dia mengusap rambut belakangnya sekilas, “Sudah menemukan orang yang Seunghee sukai?” Tadinya Sehun juga bingung ingin memancing obrolan apa. Untung saja otaknya dapat berputar cepat dan tepat. Tanggapan dari Runa juga lumayan antusias. “Sudah! Kau tahu,” ia memegang lengan Sehun sebentar sebelum menepukkan kedua telapak tangannya sekali, “Aku sama sekali tidak menyangka. Mungkin aku yang terlalu bodoh atau tidak peka.”

“… bodoh dan tidak peka ya?” Diam-diam Sehun bergumam kecil, sedikit menahan tawa dan menyembunyikan tangan di saku celana. Sepertinya ada yang melepas satu kupu-kupu di perutnya barusan.

“Omong-omong, sepertinya ada yang mulai perhatian, nih.” Kalau saja Sehun tengah memasukkan sesuatu dalam mulutnya, ia pasti sudah tersedak berkat ucapan Runa. “Pe-perhatian? Hei, jangan besar rasa. Yang benar saja, aku mengantar pulang bukan karena─” Lengannya langsung mendapat pukulan. Di sampingnya, Runa menunjukkan cibiran, “Aku sedang membicarakan kau dan Seunghee. Lihat siapa yang besar rasa di sini? Bah.”

Sehun merasa konyol tiba-tiba. “Eii, aku cuma bercanda.” Elakan ini membuat Runa terkekeh kecil, “Terserah, deh.” Dia membenarkan posisi ranselnya yang sedikit mengganjal, “Akhir-akhir ini kau perhatian pada Seunghee. Apa mulai ada keinginan untuk memperbaiki hubungan?”

“Diamlah.” Nada yang digunakan terlalu dingin untuk memancing Runa kembali menanggapi. Jadi gadis itu hanya menggumam saja dan mulai menggandeng hening. Di sisi lain Sehun tidak enak juga, walau sebenarnya ia memang tidak begitu suka membahas apa yang barusan Runa ungkit. Namun mendapati Runa tak kunjung biacara, Sehun memberi berkali-kali lirikan setengah menyesal.

Kali ini Sehun merasa bodoh. Dia membuang napas panjang dengan pelan. “Kau tahu, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar membenci Seunghee atau Ibu tiriku.”

“Kita serius akan membicarakan ini?”

“Jangan membuat suasana dramatisnya buyar.”

“Oke, maaf.” Well, Runa hanya mencoba memperingatkan kalau masalah pribadi Sehun yang akan dibicarakan. Jika lelaki itu tetap ingin bicara, ya mau bagaimana?

Lagi, Sehun membuang napas untuk mengulangi rasa dramatis dalam dirinya. “Jadi, aku punya satu kakak lelaki, namanya Oh Hojun.” Dan yang selanjutnya terlontar adalah cerita kilat mengenai apa yang pernah Seunghee utarakan pada Runa; tentang percerian dan pernikahan kedua Tuan Oh.

“Aku merasa─” Sehun ingin menahan napas, “─sedikit tidak suka menyandang status sebagai kakak.”

“Kenapa?” Runa semakin sering mengalihkan pandangan dari jalan di depan untuk menatap Sehun, tanda ia serius memerhatikan.

“Karena Oh Hojun meninggalkanku.” Ada lega yang tak kentara dirasakan oleh Sehun berkat ia bercerita. Bibirnya tertarik sedikit ke samping, “Yang selalu jadi orang pertama melindungiku, satu-satunya yang kujadikan panutan hampir di semua hal bahkan dalam cara menggosok gigi yang aneh, yang kubangga-banggakan disela kebanggaan kawanku akan tokoh pahlawan. Nyatanya justru dia  yang melukaiku.”

“Apa … lukanya terlalu dalam?” Tanpa disadari Runa ikut terbawa dalam suasana yang Sehun ciptakan. Sehun sendiri menyempatkan diri untuk mengedik bahu, “Entahlah, emosiku selalu sulit dikendalikan jika mengingat itu semua.” Dia menarik napas begitu dalam dan mengembuskannya sekaligus. “Sewaktu keadaan rumah kacau, Hojun yang kukira dapat kujadikan pegangan malah bersikap berbeda. Dan begitulah aku dibuang. Ibu membawa Hojun pergi, meninggalkanku bersama Ayah yang akhirnya menikah lagi.”

“Kau baik-baik saja?” Begitu sadar Sehun tengah menggenggam tangannya sediri kelewat erat, Runa mulai merasa panik. Gadis itu menghentikan langkah dan dengan meraih lengan Sehun, ia mengisyaratkan agar si lelaki ikut berhenti. “Kita bisa duduk dulu.”

“Tidak, tidak. Aku baik.” Yang berucap begitu malah memijit keningnya sendiri, seolah meredam sesuatu. Mana bisa Runa percaya? Ia menebar pandang untuk mencari sesuatu yang dapat dijadikan alasan. “Mau mampir beli kopi?” Untuk menepis ragu yang Sehun kuar, Runa menyuguh deret gigi di antara senyum lebarnya, “Aku punya voucher yang harus digunakan.”

.

.

“Enak?” Sehun yang sudah kembali dalam keadaan seperti biasa kini menyuguh pertanyaan bernada mengejek, menatap Runa sambil menahan tawa. Mereka sedang duduk di bangku sebuah kedai kopi yang tak terlalu besar. Dia yang ditatap lekas mengalihkan pandangan, “Berhentilah mengejek. Mana aku tahu vouchernya sudah habis masa. Yang penting kan, aku mentraktirmu.” Gadis ini berdecih, “Untung uang gajiku masih. Kau sendiri, kenapa beli cake? Dan kenapa juga pilihanmu mahal?”

“Kau yang bilang akan membayar dengan voucher kebangganmu.” Sehun mengulungkan potongan cake dengan garpunya, “Makan. Kali saja uangmu tiba-tiba kembali.”

“Mana ada hal seperti itu.” Setelah menolak dengan menepas tangan lelaki tersebut, Runa menyesap caramel macciato-nya. Sejujurnya, dia sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan harga yang harus dibayar. Hanya saja, mengingat ia sudah menyia-nyiakan voucher penting yang sangat menguntungkan, tidak tahu kenapa menimbulkan gunung sesal tersendiri. Kapan lagi dapat diskon setengah harga tanpa batasan harga minimal pembelian? Sialan, pokoknya Runa seratus persen menyesal.

“Memangnya ada barang yang sedang ingin kau beli?” Tak tahu apa yang dipikirkan Runa, Sehun malah megira si gadis menyesal telah mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar.

“Aku ingin beli DSLR. Eh, omong-omong, aku tidak marah karena masalah pembayaran, lho.” Gelengan yang Runa lakukan sedikit berlebihan. Menarik Sehun untuk tersenyum. “Oh, jadi aku boleh pesan lagi?”

“Beri aku DSLR dulu.”

“Pakai uangmu?” Sehun nyengir kuda ketika Runa berlagak ingin memukulnya. Mereka kembali sibuk dengan pesanan masing-masing untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Sehun memutuskan membuka suara.

“Maaf, sempat membuatmu panik.”

Berlagak menutupi, Runa menunjukkan kedikan bahu, “Aku tidak panik.” Tahu jika itu bohong, lantas Sehun mengubah suara dan nadanya, “Kita bisa duduk dulu. Mau mampir beli kopi?”

“Sialan,” umpatan Runa menyela kekeh tawa yang sengaja Sehun lepas. Lelaki itu kembali membuka mulut tatkala usai menuntaskan gelaknya, “Aku sedikit tidak dapat menahan emosiku tadi.” Untung saja tidak terlalu parah. Bisa gawat jika Sehun lepas kendali seperti yang pernah ia lakukan pada Irene.

Jemari Runa masih sibuk memutar-mutar minumannya ketika ia akhirnya bersuara, “Biar kubocorkan sebuah rahasia.” Dia sedikit memajukan kepala, berlagak seolah akan ada yang memasang telinga untuk menguping di sana, “Seunghee sedih karena mengira kau membencinya.”

“Itu rahasia?” ujar Sehun sarkastik. Dia menelan potongan terakhir cake-nya, “Lanjutkan sambil jalan saja.”

Setelah beranjak, Runa berkata lagi dengan tidak mengungkit respons sang lelaki, “Aku punya satu sepupu yang sekarang tinggal bersamaku. Mudahnya, anggap aku kakaknya.” Dengan gerakan tangan, ia semakin antusias meluncurkan berbagai frasa, “Intinya aku lumayan berpengalaman juga di bidang hubungan antar saudara. Tanpa disadari, mengaku atau tidak, pasti seseorang yang posisinya adalah adik akan mengharap perhatian lebih dari kakaknya.”

“Bisa jelaskan dengan bahasa yang tidak berbelit-belit?” Oh, Sehun sedang malas menelaah, rupanya. Usai berdecak kecil, Runa melanjutkan, “Begini, bayangkan kau ada di posisi Seunghee. Anak tunggal yang sekian tahun tidak didampingi siapa pun selain ibunya. Lalu ketika ia mencoba bahagia atas keluarga baru yang didapatkan, malah respon dari salah satu keluarga barunya berbeda, tidak senang sama sekali. Bukankah itu menyakitkan?”

“Jangan membelanya karena dia temanmu.”

“Aku tidak membelanya,” tegas Runa, “Aku hanya menawarkan gambaran sudut pandang yang berbeda padamu.” Mereka melangkah untuk menaiki tangga bus.

“Kenapa tidak kau tawarkan pada Seunghee? Dia juga butuh gambaran sudut pandangku.” Tak mau kalah, jelas. Sehun mulai kesal sekarang, tapi ia malah mengulungkan kartu busnya untuk mendahului Runa, “Dua, Pak.” Di sisi lain, Runa mengatur napasnya agar tetap stabil, “Karena kau kakaknya, Oh Sehun.” Dia mendorong lengan Sehun dengan gemas. “Hadapi seperti lelaki. Sekarang kau ini kakak dari seseorang, tahu.”

Tak acuh, Sehun malah memilih tempat duduk lebih dulu. Membiarkan Runa melanjutkan ucapan, “Apa yang menurutmu tidak menyakitkan, bisa jadi sebaliknya untuk orang lain.” Usai mendapat lirikan serius dari Sehun, Runa kembali angkat bicara, “Aku juga akan bicara pada Seunghee.” Tak berniat menjawab apa pun, Sehun menebar pandang keluar jendela. Lalu Runa menganggapnya sebagai biar-aku-pikirkan daripada jangan-bahas-lagi.

Sunyi yang ada lumayan lama. Tak diduga, Sehun-lah yang lebih dulu memecah hening, “Omong-omong tentang sudut pandang,” ia melirik sebentar, “kau sudah mencoba pandangan mantan pacarmu usai putus?” Kurang ajar memang, Sehun tak bisa mengendalikan penasarannya.

Jelas saja Runa terkejut, tapi ia bisa mengendalikan ekspresi dengan cepat, “Sudah.” Dimainkanya jemari beberapa saat, “Kurasa dia jenuh atau tidak menyukaiku lagi. Dan mungkin juga rasa penasarannya padaku sudah hilang. Entahlah.” Kendati sedikit bingung dengan maksud dari kalimat tersebut, Sehun mengangguk kecil. Sedikit menyesal kenapa ia harus membawa-bawa perihal mantan segala.

“Kau mau turun? Bukannya ini belum sampai halte dekat rumahmu?” Pikiran Sehun berkelana, mengira Runa marah atau sejenisnya. Habisnya, gadis itu begitu saja memencet tombol dan berlakon seolah bersiap turun dari bus.

“Kau yang turun. Haltemu sudah di depan.” Nah, siapa yang bingung sekarang?

Lho? Aku tidak mau turun sekarang.” Seperti mendapat paksaan tak kentara, Sehun memeluk sandaran kursi di depannya dengan erat; persis seorang bocah. Astaga, bayi besar.

“Jangan kembali ke markas. Sudah sampai sini, ya harusnya pulang.” Runa mendorong-dorong lengan Sehun dengan paksa. “Pulang sana, pulang.” Dia tak peduli pada raut sebal yang Sehun pasang, pun tak mengizinkan lelaki itu menyela, “Jangan membuat pak supir menunggu. Jangan juga buat aku sia-sia menekan tombol tadi.”

“Memangnya butuh tenaga besar?” Setengah mencibir akhirnya Sehun mau beranjak, tepat kala bus berhenti. “Ya sudah, terima kasih traktirannya. Lain kali kuganti.”

Tanpa lambaian tangan, Runa membiarkan Sehun melewati pintu bus sekali loncat. Ia meniup udara cepat, kembali terpikir akan ekspektasinya tentang Chanyeol yang masih terkesan dangkal.

Apa ini artinya ia harus mencoba mendengarkan Chanyeol walau semuanya seakan sudah jelas?

Astaga, Runa perlu menyiapkan tameng yang lebih kuat untuk hatinya sebentar lagi.

.

.

.

Dengan asupan kafein yang sempat ia konsumsi, Runa masih dapat membuka matanya sekarang; berkutat dengan salah satu tugas yang sudah ia targetkan. Tidak banyak soal, sih. Hanya dua puluh soal yang─tunggu, kenapa tidak ada nomor enam belas?

“Sial, pasti aku melewatkannya.” Pasti konsentrasinya buyar waktu menulis tadi. Diraihnya ponsel sebelum mengecek panggilan terakhir. Ia begitu saja menghubungi salah satu nomor di dalam daftar. Ketika nada sambung berakhir dan seseorang di ujung sana mengangkatnya, Runa langsung membuka suara, “Seunghee, maaf mengganggu sebegini larutnya. Jika kau belum ingin tidur bisa tolong fotokan soal─”

“Dia sudah tidur.”

Segera Runa mengecek ponselnya, kalau tidak salah nomor Seunghee yang ini adalah nomor yang dihubungi Sehun waktu─lho? Sebentar, sebentar, “Ini Sehun?”

Mari kita lihat bagaimana si penerima telpon di ujung yang lain. Tepatnya di salah satu kamar kediaman Keluarga Oh, Sehun tengah menggaruk pantatnya dengan sedikit kesal, “Ya siapa lagi? Ini siapa memangnya mengganggu─” Mendadak ia mendelikkan mata, bergegas mengecek layar ponselnya.

Kwon

Oh, shit.

Lekas Sehun mendudukkan tubuh dan mengusap bekas liur di ujung bibir, kesadarannya kembali tiba-tiba.

“Sehun? Kau sudah tidur ya? Kututup saja─”

“Ada apa?” Merasa bahwa suara seraknya jelek, Sehun meraih gelas air di nakas samping ranjangnya. Meneguk banyak-banyak sementara telinganya mendengarkan suara Runa, “Aku hanya ingin bertanya sesuatu pada Seunghee. Kenapa ponselnya bisa ada padamu?”

“Ini memang nomorku,” ujar Sehun. Kemudian ia melanjutkan, “Seunghee sudah tidur, sepertinya. Tidak mau bertanya padaku saja?”

“Tentang pelajaran, lho.” Jelas-jelas Runa merasa sangsi. Nyatanya memang Sehun tak begitu mau diandalkan perihal pelajaran, “Jika tentang dasar-dasar akting aku sudah hafal di luar kepala.” Lalu sebuah decihan terdengar dari ujung sana, “Mana ada pelajaran seperti itu di SMA Chunkuk.”

“Pindah ke sekolahku saja bagaimana?” Bakal seru jika mereka satu sekolah, kan? Ah, kenapa Sehun jadi membayangkan? Sepertinya bertukar toyoran di koridor sekolah asyik juga.

“Jangan konyol, deh.”

Tahu-tahu Sehun sadar, ia membuang bayangan yang baru saja terlintas dalam pikiran, “Ah, sepertinya aku memang mengantuk.” Niatnya ingin bergumam, tapi Sehun lupa si gadis masih mendengarkan. “Iya, iya, kututup.”

“Eh, sebentar! Bukan begitu ….” tangan Sehun terulur seperti ingin mencegak seseorang─kali ini anggap saja tak kasat mata.

“Bukan begitu bagaimana?” Semakin bingung saja Runa. “Kau ini ngelindur, ya?”

Gemas, Sehun akhirnya bergelimpangan sendiri di kasur layaknya cacing, dan dalam sekian sekon kembali ke posisi duduknya semula. Ia bergeming lama, super bingung dengan apa yang ingin diucapkan, “Kwon?” Sebuah gumaman terdengar. “Sudah mau tidur?”

“Belum, sih. Aku harus menyelesaikan tiga soal lagi, kutinggalkan yang lain untuk besok.” Di bayangan Sehun, Runa tengah mengetuk-ngetukkan pensil di atas buku, dengan surai depan di ikat kecil ke belakang, lucu sekal─astaga, Oh Sehun, sadarlah!

“Oh, ya sudah. Kututup ya?” Dan kala ibu jarinya terlalu cepat mengetuk layar ponsel, seruan tertahan Sehun langsung terdengar, “Kenapa kumatikan?! Bisa saja dia mencegah, astaga! Bodoh! Kalau begini─ah, apa kutelpon lagi?” Sedetik ia berpikir, sedetik pula ia kembali berseru kesal, “Mana bisa aku mengganggunya belajar! Astaga Demi Neptunus, ini─sial!” Dia menggeram sendiri, sadar bahwa percuma marah-marah begini.

“Baik, baik. Lebih baik tidur lagi saja.” Tubuhnya dibanting ke kasur, sedang alisnya masih mengerut jelek. Belum juga terpejam sepuluh detik, Sehun kembali membuka mata. Cukup lama ia memandangi benda kotak di tangannya. Ada sesuatu yang menuntunnya untuk membuka kata sandi agar kunci ponselnya terbuka. Lantas sebuah kontak paling atas di kotak panggilan terakhirnya, menjadi hal yang mengakibatkan nada sambung terdengar beberapa saat ke depan.

“Katanya mau tidur, memangnya─”

“Selamat tidur, Runa.”

Sambungan singkat itu terputus. Pelakunya tentu si lelaki yang tengah memandang langit-langit kamarnya dalam diam. Wow, ajaib, telinganya memerah.

“Sialan Oh Sehun, apa yang barusan kau lakukan?”

.

.

.

.to be continue

EYAK EYAK JOS ini hampir full Sehun-Runa kan yak wkwk

Tambahan foto orang yang kurang ajar gantengnya (aku belum bisa move on dari seperangkat foto majalah ini walau yang kulampirin cuma tiga wkwk) (dan btw dia di Paris juga gans) (yaampun). Aku sampe bingung mau pake lockscreen yang mana :’) kan lawak.

p.s: Yang nge-line aku, mohon maaf sekali lineku error jadi kudu bikin lagi deh 😦 Add aja nidakhaulaa dan rechat yak :’) kalok mau sih wkwk

Oh, iya! Jangan lupa follow wattpadku yak wkwk Secepatnya bakal aku urus dengan telaten :3

Makasih buat yang udah baca apalagi yang ninggalin emas di kolom komentar/nid/ wkwk Sayang banget deh ❤

Salam dari Sehun, katanya.

.nida

Iklan

23 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 17] -by l18hee

  1. INI CHAPTER YANG PALING BIKIN BAPER.
    serius kak demi apa aku baca sambil gulung-gulung di kasur, nendang-nendang di tembok, jerit-jerit sendiri. Okay, aku bisa disangka pasien RSJ lama-lama.

    But, tbh it’s so sweet. And cute. Cara kakak ngegambarinnya juga bagus banget. Emang cerita yg kaya gini pasaran bget tp berkat penulisannya kakak, ini kesannya jadi istimewa dan bikin nagih.

    Kesel banget aku sama kakak lama2. Abis nagih banget. Terus sukanya bikin penasaran terus.

  2. tuh kan hun percuma kode”an… runa kurang ngeh sama begituan.. apa lg abis kit ati, jadi makin gk konek
    mending langsung digamblangin sekalian… tapi gengsi+malunya itu ya hun ya..kkkkkkkkk
    dasar……..

  3. Akhirnya sehun ada kemajuan yaa… hahaha lucu pas bayangin sehun glimpungan di kasur gegara si runa.. hahahahha
    Oke lah aku tunggu next chapternya yaa

  4. Runa bener2 ga peka ya, Sehun udah jelas2 ada rasa lho. Sebenernya penasaran kenapa Chanyeol bisa selingkuh. Yah, well ini part lucu apalagi pas Sehun di telp Runa, gemes deh. Next part di tunggu. Semangat author

  5. Omaygat… sehun salting, gue ikut salting jugaa masaa.. gemess sm moment sehun runa,,, pen nyakar tembok jadinya😂😂😂
    Ditunggu chap selanjutnya eonni❤❤

  6. *kipas2 muka krn ngfluff sm hun-run moment yg sngt kunanti ini 😍 kyaa~
    Aduh, 백 kshn msh mode broken-hearted 😞 sbr ya..
    Ia nid, ini hmpr full hun-run moment smua 😍 kyaa~ pngn jejeritan mulu skng xcited’ny sm gaya pdkt couple ini! Sehun jiwa’ny blm kumpul smua ya 😅 knp reflek jari’ny cpt bgt bwt nutup panggilan tlp’ny?? /prnh ngalamin jg ky gini, kdng slh sentuh dikit dah brubah pa yg qt mksd dlm ht sm reflek tngn di hp touch screen ini/ ck..ck..ck..!!
    Prnh bgt itu tlat pk vchr mkn grts-an di resto korea gegara ga ngcek tgl xpired’ny 😭 pdhl dah kbawa mimpi mkn di resto pk vchr tu!
    Asik.. bkl ada blsn traktiran dr sehun a.k.a nex date 💕bnrn sehun ti2p slm? Slm blk ya nid 😀 slm syng dr 누나 🙆
    Senyum’ny taehyung emang mrp sm senyum’ny 백 ya? Gila’ny sm jg ga? 😅
    Nm 형ny sehun di RL bnrn hojun ya?
    Kyutt.. 😘 bgt tu sehun gegulingan di t4 tdr 😍 ngayal 1sklh sm runa! Cpt kembali bw update-an progress hub couple ini ya nid, 너무 첳아~💗

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s