2ND GRADE [Chapter 07] -by l18hee

 

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 07]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Chanyeol | [EXO] Sehun

[Red Velvet] Seulgi | [BTS] Taehyung | [EXO] Jongin | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue [Welcome to 2nd Grade] | Chapter 1 [New Place] | Chapter 2 [New Team, Dream Team] | Chapter 3 [Hey, You!] | Chapter 4 [Emotion] | Chapter 5 [End of the Day] | Chapter 6 [Welcome Back, Friends]

.

Now Playing ► Chapter 7 [Perkenalan Kedua]

Menghafal nama harusnya tidak susah, jika kau tertarik pada orangnya.

.

.

Kwon Runa:

Hari ini kau main dengan Kris lagi, tidak?

Setelah melambaikan tangan pada Seunghee, Runa memutuskan untuk menunggu sejenak di dekat gerbang sekolah. Kali saja Chanyeol kosong setelah ini.

 

Park Chanyeol:

Hari ini kau kerja?

Sebenarnya kesal mengetahui pesannya dibalas dengan pertanyaan lain. Tapi toh Runa balas juga.

Kwon Runa:

Iya. Aku ada bagian hari ini.

 

Park Chanyeol:

Mau aku antar?

Kesalnya menguap seketika. Runa tersenyum kecil, tidak sia-sia dia menunggu lebih dulu di dekat gerbang.

Kwon Runa:

Boleh^^

 

“Tumben sekali.” Kulum senyum yang si gadis suguh mengiringi ia yang menyimpan ponsel di saku. Menatap ke koridor tempat di mana harusnya Chanyeol muncul. Namun hingga lima belas menit berlalu, yang ditunggu tak kunjung terlihat. Runa baru akan mengecek ponselnya lagi ketika tahu-tahu saja Chanyeol mendaratkan lompatan kecil di depannya.

“Kaget, ya?” Dengan kurang ajarnya Chanyeol terkekeh sendiri. Tidak paham jika Runa hampir merasakan jantungnya copot. Kenapa lelaki ini suka mengagetkan, sih?

“Tidak. Yang barusan pura-pura,” sungut Runa kesal, malah memancing tarikan pelan dari Chanyeol di pipinya. “Ayo cepat, aku ingin lihat tempat kerja pacarku. Sebuah alamat saja kurang memuaskan.”

Setelah mengambil langkah beriringan, Runa yang pertama membuka percakapan, “Memangnya kau dari mana tadi? Kukira masih di dalam gedung sekolah.” Seraya sibuk memasang earphone, si lelaki menjawab asal, “Kau tahu sendiri orang tampan sepertiku sangat mudah menarik perhatian banyak orang. Tadi aku itu sedang berusaha bersembunyi dari fans-ku yang─” Runa memotong, “Iya, iya, iya.” Jika dibiarkan berceloteh tentang para penggemarnya, bisa-bisa tingkat kenarsisan Chanyeol semakin menggunung. Lelaki itu tadinya ingin melanjutkan pamernya, namun mendadak ia teringat sesuatu, “Oh, ya, kulihat di papan pengumuman kau lolos seleksi.” Sebuah anggukan tersuguh sebagai jawaban.

Dengan senyum lebar berimbuh deret gigi putih yang tergambar, Chanyeol merentangkan tangan, “Mau peluk? Aku tahu kau sangat senang.” Senyum lebar tadi merambat ke wajah Runa, ia lantas menghambur dalam pelukan sang kekasih. Sedikit berjingkrak pada awal, lalu tertawa sedikit, “Aku ingin menangis.” Sejak tadi ia sudah berusaha menahan diri agar tak terlihat norak atau bagaimana. Tapi Chanyeol memang tempat ternyaman tanpa kepalsuan yang ia tahu saat ini. Dekapan hangat lelaki ini bisa meloloskan semua tembok pertahanan yang dipunya.

Runa benar-benar menyayangi Chanyeol.

Seraya menepuk pelan punggung si gadis, Chanyeol terkekeh. Tahu persis bagaimana perasaan Runa. Setelah melalui berbagai hal menyebalkan di awal tingkat dua, lolos seleksi adalah hal yang dapat mengobatinya. Sekian saat, Runa akhirnya melepas pelukan Chanyeol. Saling bertukar senyum, kemudian mulai berjalan adalah yang mereka lakukan.

“Jadi kau akan membuat desain poster baru atau tetap menggunakan yang kemarin untuk seleksi? Kudengar acaranya dua minggu lagi.” Dipikir-pikir lumayan sebentar juga untuk persiapan jika mengusung konsep baru.

“Semuanya sama seperti waktu seleksi, kok. Karena itulah dulu saat sesi seleksi semua diwajibkan fresh.” Runa mengedik bahu, “Mungkin aku akan sedikit menambahkan sesuatu jika diperlukan. Oh, dan belajar presentasi juga, berjaga-jaga jika ada.” Chanyeol mempersilakan dirinya untuk menaiki tangga bus lebih dulu, “Mau belajar denganku? Aku bisa jadi penilai yang baik.”

“Tidak, deh.” Sambil mendudukkan diri, Runa lantas menolak, “Jika belajar presentasi denganmu aku tidak bisa konsentrasi.” Karena sifat Chanyeol yang kadang terlalu menyebalkan, mengganggunya hingga ia terbahak keras. Kapan bisa selesai jika begitu terus? Tapi Chanyeol sendiri menerjemahkan ucapan tadi dengan arti lain, “Ah, maaf aku terlalu imut dan tampan. Perhatianmu jadi terpecah, kan?” Hanya putaran mata malas yang Runa suguh. Mereka terdiam beberapa saat, cuma beberapa detik karena Chanyeol tak pernah tahan dalam keheningan.

“Sehabis acara sekolah itu, mau jalan-jalan, tidak?”

Sebuah tolehan kepala Runa lakukan, “Kencan?” Kemudian Chanyeol mengangguk membenarkan, “Sejak liburan kita belum keluar lagi. Nanti aku pikirkan tempatnya, oke?”

“Oke, Park!” ujar Runa setuju. Menarik Chanyeol terkekeh pelan. Diraihnya kepala si gadis agar menyandar pada bahunya─perlu merendah sedikit mengingat jarak tinggi badan mereka, “Tidur sebentar saja. Haltenya masih lumayan jauh.” Rupanya Chanyeol mengerti jika ada selip lelah yang dirasa gadisnya. Tanpa berniat menolak, Runa memejamkan mata. Bersyukur si lelaki menemaninya hari ini. Mana berani ia tidur di bus saat sendiri.

Chanyeol sendiri terlanjur paham. Digosokkan pipinya ke surai lembut gadisnya. Menebar pandang keluar jendela. Apa pun yang dia pikirkan sekarang, sepertinya hal penting. Dilihat dari siku-siku yang menyambah alisnya kala menatap arloji. Mengetahui Runa sudah tertidur, ia meraih ponsel. Menggunakan tangan bebasnya untuk mengetikkan beberapa rangkai kata kepada sang calon penerima pesan. Seusai menyimpan kembali ponselnya, Chanyeol meraih tangan Runa untuk digenggam. Mengembuskan napas panjang, seolah melepas rasa sesal.

“Aku akan pikirkan tempat kencan yang bagus.” Nada ambigu yang digunakannya samar-samar menyambah telinga Runa. Sayang, kesadarannya tak sepenuhnya ada. Runa masih di antara tidur dan sadar, kendati bahu Chanyeol kepalang nyaman. Dia baru terbangun ketika bariton Chanyeol terdengar beriring dengan sebuah tepukan di tangan, “Hampir sampai.”

Setengah sadar, Runa langsung berdiri untuk bersiap turun. Karena bangku mereka sedikit jauh dari pintu, keduanya lantas berjalan beberapa langkah. Ketika bus berhenti dan pintu terbuka, Runa langsung turun tanpa menunggu Chanyeol. Matanya masih sayu. Dia tak menyadari Chanyeol berseru untuk meminta supir bus menunggu.

Rupanya ransel Runa tertinggal. Untung Chanyeol menyadarinya dengan cepat. Dia lantas bergegas meraih ransel coklat di bangku belakang sebelum membungkuk; mengucap terima kasih. Kala menapak halte, yang pertama Chanyeol lihat setelah memastikan Runa masih di sana adalah dua orang pelajar sekolah lain. Chanyeol tak pernah masalah jika saja dua siswa tak jauh di depannya tidak memandang Runa terus-menerus seperti itu. Lantas dengan segera diraihnya pundak gadisnya, “Buka matamu. Kau bisa terlambat.” Dengan sengaja Chanyeol memandang lama ke arah dua siswa tadi. Sebelum akhirnya menoleh ke depan dan fokus pada jalanan.

Sebagai lelaki dia tahu pikiran para lelaki, tentu saja. Dan kadang pengetahuan itu mengganggu, omong-omong.

“Ah!” Mendadak Runa berteriak dan menghentikan langkah, “Ransel! Aku lupa membawa─” Seruan paniknya terhenti ketika Chanyeol mengangkat ransel tiga puluh senti ke depan mukanya. “Oh, terima kasih. Kukira aku harus mengejar bus malam-malam begini.” Senyum Chanyeol terlihat. “Jika sendirian jangan tidur di bus.”

“Mana berani aku begitu.” Runa menggendong ranselnya, “Eh, eh, lihat minimarket yang itu? Nah, di sana tempatnya. Bosku baik karena aku selalu datang beberapa saat sebelum jatahku.” Sedikit memfokuskan pandangan, Chanyeol dapat melihat minimarket di depan sana. Masih beberapa meter di depan, namun ia bisa melihat seseorang memasuki pintu. “Saat malam masih ramai, ya?”

Seolah itu adalah hal yang wajar, Runa mengangguk, “Tentu saja. Untuk sebagian besar orang, setelah menghabiskan seharian untuk berkerja atau belajar, memangnya kapan lagi waktu untuk ke minimarket?” Chanyeol manggut-manggut, lantas mengajukan pertanyaan lagi, “Apa ada pekerja paruh waktu lelakinya?”

“Ada. Tapi aku belum pernah bertemu, kata bos dia seringnya minta jatah paling malam. Aku hanya kenal satu perempuan.” Beberapa langkah dan mereka sampai di pelataran minimarket. “Oke, sampai sini saja. Terima kasih sudah mengantarku.”

“Harusnya aku bisa sering-sering, ya?” Sebenarnya Chanyeol bersedia mengantar setiap hari. Sayangnya Runa juga tidak begitu suka mengganggu waktu Chanyeol yang sering bermain basket bersama Kris sepulang sekolah. “Jika kemalaman atau tidak berani pulang sendiri, hubungi aku, oke?”

Runa membentuk kode oke, sebelum akhirnya mendorong lengan si lelaki, “Sudah sana pulang. Hati-hati, ya?” Satu acak lembut di pucuk kepala gadisnya, dan Chanyeol pun mengambil langkah untuk berbalik pergi.

Selepas kepergian Chanyeol, Runa bergegas menuju tempat kerjanya. Mendapati Seulgi tengah menyerahkan kembalian pada seorang lelaki paruh baya.

“Lima belas menit lebih awal? Lagi? Aku heran, apa kau tidak ingin pergi les?” ucap Seulgi setelah pembeli tadi tak terlihat.

“Kapan-kapan jika sudah suka les, aku pasti berangkat, kok,” jawaban yang Runa layangkan seraya menuju ruang belakang menarik Seulgi terkekeh. Dia menduga jika Runa itu memang tipikal yang lumayan anti terhadap tekanan untuk terus belajar. Beberapa saat berselang, Runa sudah keluar dengan celemek bergambar logo minimarket miliknya. “Masih beberapa menit lagi. Aku rapikan barang saja, ya?” Dia tidak meminta persetujuan Seulgi, sebenarnya.

Semula Seulgi ingin memberi komentar tentang nametag yang lupa Runa pasang, namun gerombolan lelaki yang terlihat mendekat membuatnya menahan napas, “Runa, Runa, Runa.” Panggilan beruntun ini memancing Runa untuk menoleh, mengangkat satu alis untuk bertanya ada apa. Seulgi seakan menahan seruan senang, “Lelaki yang kuceritakan akan kemari. Sebentar lagi aku tunjukkan.” Bisa dirasakan Seulgi begitu ingin berteriak kegirangan. Runa jadi ingat tempo hari kala Seulgi bercerita tentang pelanggan tampan. Hanya dalam satu kali pertemuan Seulgi sudah mendeklarasikan diri sebagai penggemar si lelaki yang bahkan namanya pun belum diketahui.

Memangnya lelaki seperti apa, sih?

Dalam sepuluh detik, beberapa suara bariton bersahut-sahutan terdengar. Runa kembali fokus pada pekerjaannya, namun sedikit mendekatkan diri ke meja kasir, walau jaraknya masih saja, hampir tiga meter.

“Tidak. Pokoknya kalau paling seksi itu tetap Miranda Kerr.” Lelaki jangkung yang pertama masuk. Topi biru tuanya dibalik, berkulit putih, matanya sipit.

Sebentar, Runa tahu lelaki itu. Si langganan. Aduh, sialan, bisa-bisanya Runa lupa namanya. Dia hanya ingat sang lelaki bersekolah di Sekolah Seni Yeonso. Informasi yang lumayan tidak berguna sekarang.

Dua lelaki muncul selanjutnya. Yang satu berkulit tan, memakai jaket tipis hitam. Yang satu lagi jaket kotak-kotak dan topi putih. Jadi di antara tiga lelaki ini, yang manakah yang sanggup membuat Seulgi sekuat tenaga menahan teriakan seolah akan mati?

Untuk beberapa sekon Runa menanti Seulgi menunjuk satu lelaki. Tapi yang ada gadis itu malah menatap lurus pada satu sosok, sampai-sampai seperti akan pingsan karena lupa bernapas. Runa mengikuti arah pandang si gadis, terhenti pada lelaki dengan topi putih.

Oh, yang itu.

Setelah tahu, Runa hanya memasang wajah biasa untuk menghindari kecurigaan. Memilih kembali menata deretan kimbab di depannya.

“Oi, kukira kau belum datang.”

Runa menoleh demi mendapati si langganan di sana. Dia hanya menggerakkan manik bingung, “Aku datang sedikit lebih awal.” Inginnya, sih, Runa berpindah menata rak lain karena rasanya tak enak mengganggu pelanggan memilih belanjaan. Tapi rupanya si langganan malah berucap kembali, “Lupa namaku, ya?”

Selain menjadi langganan, apa lelaki ini juga cenayang?

“Oh Sehun.” Si langganan memperkenalkan diri ulang. Dia beralih memilih kimbab, “Omong-omong, aku lupa membawa earphone-mu.” Runa baru tuntas menggumam ‘o’ panjang dalam hati ketika mengingat nama sang lelaki, sampai pikirannya terjatuh pada benda penting yang beberapa hari ini tak bertengger di dalam sakunya. “Kembalikan secepatnya. Aku butuh itu.”

“Jangan khawatir, aku sering ke sini. Akan kukembalikan secepatnya.” Sehun meraih beberapa kimbab yang lantas memenuhi kedua tangannya. Dia baru akan berjalan untuk mengambil keranjang─yang entah kenapa tidak diambilnya sejak awal─ketika Runa mendadak melontar tanya, “Mereka teman satu sekolahmu, kan? Boleh tahu namanya?” Seulgi pasti akan senang nanti jika Runa berhasil mendapatkan nama si topi putih.

Sehun sendiri menoleh pada dua temannya yang sedang memilih minuman. “Yang hitam─maksudku, yang sedikit cokelat itu Kim Jongin, yang pakai topi Kim Taehyung, kami satu kelas.” Dia kembali menumbuk fokus pada Runa, “Naksir salah satunya?” Tanpa mau terkaget karena ditanyai tiba-tiba, Runa menggeleng pelan, “Tidak. Aku sedang mencoba menghafal langganan.” Sebenarnya ini justru semakin menimbulkan kecurigaan. Apa Runa tidak punya alasan lain?

“Namaku saja tadi lupa.”

Tuh, kan? Harusnya Runa cari alasan yang lebih fantastis. Seperti ingin memastikan mereka bukan buronan, misalnya.

“Aku tidak lupa, kok.” Jelas sekali bohong. Cepat-cepat Runa menyingkirkan diri dari hadapan Sehun. Memilih menyembunyikan malu dengan menata barang lain yang tidak mungkin dikunjungi lelak-lelaki itu; barisan pembalut wanita. Cerdas sekali, Kwon Runa. Siapa pun tolong beri dia sanjungan.

Di sisi lain Sehun hanya terkekeh melihatnya. Hanya sebentar, dia lalu meletakkan kimbab tadi di keranjang. Disusul merebut minuman dari tangan Taehyung dan Jongin. Mereka berdebat sebentar untuk membeli makanan lain. Setelah dirasa cukup, kasir menjadi tujuan terakhir. Seulgi sudah menahan napas, apalagi ketika matanya bertemu tatap dengan sang idola, Kim Taehyung.

Tangan Seulgi bergerak lebih cepat untuk menutupi gugup. Dia menyebutkan angka dan melirik Taehyung─lagi─yang sayangnya sibuk menatap ke arah lain. Setelah sesi pembayaran dan penyerahan barang berakhir, para lelaki itu bergegas mengenyahkan diri. Membuat Runa yang lelah berpura menata barang yang sudah rapi lekas menghampiri Seulgi.

“Kim Taehyung.”

Seulgi melebarkan bola mata, “Namanya?” Runa mengangguk. Tak sampai sedetik, Seulgi sudah mencubit pipinya sendiri, “Taehyung. Sangat tampan, astaga, astaga, astaga. Kami tadi bertatapan sebentar, astaga, astaga, astaga. Kim Taehyung, astaga.”

Rasanya Runa ingin tergelak keras melihat kekonyolan gadis di depannya. Padahal hanya nama. Oh, dia tentu tak melupakan fakta bahwa segala hal tentang idola memang bisa berefek luar biasa.

“Bereskan barangmu, sana. Sepertinya kau tidak sabar untuk mimpi indah.”

.

.

.

.to be continue

Akhirnya chapter 7 rilis :3 Sebagai hadiah tahun baru, besok chapter 8 juga bakal rilis lhoo wkwk Sekali-kali dua chapter beruntun ya :’v

Aku di sini suka bagian Chanyeol pas rada gelisah di bus itu, tapi tetep nyadar teledornya Runa gimana wkwk. Selain itu aku suka pas Runa lari ke deretan pembalut di minimarket HAHA anjay bayangin muka cengo Sehun lucu banget wkwk Btw kalian paling suka bagian mana? Eh, pertanyaan barusan ngingetin aku sama kartun Dora deh/nid…

Udah singkat aja ah wkwk Aku lagi menyiapkan diri dan hati buat menghadapi Dear Archimedes yang bergenre suspense romance dengan 20 episode entar Februari, walau web drama tapi… ah, sudahlah :’) Siap-siap yang penting, kemungkinan kissing scene atau bedscene lumayan tinggi, kawans. Aku mau donlot itu habis tamat aja deh biar gak baper/lha? Nid…/ ini malah bahas apa /ngekek/

Oke deh, makasih banyak buat kalian yang masih ngikutin :* Sayang banget deh ❤ Yang sabar yah, ini emang rencananya FF berchapter yang lumayan banyak wkwk Tenang, gak sampe 100 kok/digelindingin.

.nida

Iklan

29 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 07] -by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 24] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 21] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 20] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 19] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 18] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 17] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 16] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 13] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 15] | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 14] | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 12] | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 11] | EXO FanFiction Indonesia

  15. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 10] | EXO FanFiction Indonesia

  16. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 09] | EXO FanFiction Indonesia

  17. Kak ada beberapa kalimat yang penggunaan katanya agak berantakan. Tapi secara keseluruhan ini memuaskan kok kak.
    Btw bagian yg aku suka waktu interaksi sehun sama runa, apalagi pas dia nanya runa suka sama salah satu temannya apa gak :v cemburukah?

    Mau lanjut baca chapter 8 duluuuu~

  18. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 08] | EXO FanFiction Indonesia

  19. Ahhh gua paling suka semua scan.. itu si pcy sms siapa coba so misterius amat… aduhh thorr kenpa lama sekali nge postnya.. di tunggu next chapt nya ya

  20. Jangan jangan si chan ngajak kencan mau putusin runa?
    Entah kenapa di fanfuc ini aku selalu berpikiran buruk kepadamu chan, mianhee
    Oke lah aku tunggu next chapternya ya,, aku suka pas seulgi heboh sendirk gegara tau namanya taehyung, hahahahaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s