2ND GRADE [Chapter 20] by l18hee

2ndgradee.jpg

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 20 [Funny Things]

Teman yang konyol. Alasan yang konyol. Sikap yang konyol.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Baekhyun | [CLC] Seunghee

[EXO] Sehun | [RV] Wendy | [BTS] Jungkook |Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Romance | School-life

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19

.

.

“Telan dulu, Baekhyun. Kuemu ke mana-mana, ew.” Cepat-cepat Runa menjauhkan diri dari Baekhyun. Sedang sang lelaki mencibir sebal, “Biarkan aku menikmati ini. Mengobrol masalah cinta membuatku kehabisan energi.”

Mendadak saja ada sesuatu yang terlintas cepat dalam otak Runa. Ia menatap Baekhyun penuh arti, “Mau mengisi energimu lagi?” Dengan mengusap dagu, Baekhyun menatap sangsi, “Seberapa gila idemu?”

“Biasa saja, sih. Tapi pertama-tama, apa kau sudah mengerjakan tugasmu?”

Satu alis Baekhyun yang naik kini sudah berubah mengkerut─dua-duanya malah. Keduanya sudah berdiri di depan pintu sebuah rumah. Runa baru saja menekan bel, meninggalkan Baekhyun yang bermuka tegang. Lelaki ini meneguk saliva, “Biasa saja dari mana? Kau ingin membuatku kehabisan napas?”

“Apa bedanya dengan bertemu Seunghee di sekolah? Tidak usah gugup.” Diam-diam Runa ingin tertawa begitu keras melihat wajah karibnya sekarang.

“Tentu saja berbeda! Ini seperti … seperti … mengunjungi rumahnya, bertemu orangtuanya, mengucap salam─” Dan hari ini lengkap sudah toyoran ketiga diterima Baekhyun. Sang pelaku toyoran tengah memutar mata sekalias, “Ini belajar bersama, Baek! Bukan acara melamar!”

“Oh, oke.” Lagi-lagi Baekhyun meneguk saliva. Memersiapkan diri untuk bersikap seperti biasa. Entah kenapa semenjak Runa tahu akan perasaannya pada Seunghee, Baekhyun jadi lebih gugup ketimbang sebelumnya. Ketika mendadak pintu dibuka, Baekhyun langsung mengeluarkan suara.

“Oh Seunghee, aku ingin pipis, bisa kupinjam toi─” suara Baekhyun merendah, “─let.”

Mati kau, Byun Baekhyun.

Segera saja Baekhyun menutup mulutnya dan menunduk. Lekas Runa mengambil alih suara, “Selamat sore, Tante. Aku berkunjung lagi. Perkenalkan ini Byun Baekhyun, satu kelas dengan Seunghee juga.” Dia memeluk lengan Baekhyun agar lelaki itu tidak kabur. Sedang wanita yang berdiri di depan mereka hanya menyungging senyum lebar di sela anggukan.

“Ayo, masuk. Baru saja Seunghee memberitahu jika kalian akan datang.” Wanita dengan raut ceria itu menambahi, “Ah, dan tolong panggil Mama Seunghee saja agar akrab.” Baiklah, tidak terlalu buruk.

“Nanti aku akan mengantarkan camilan. Kalian langsung ke kamar Seunghee saja. Dan Runa, tunjukkan toilet pada temanmu itu, ya?” Ketika Mama Seunghee sudah lebih dulu pergi, Runa menarik lengan Baekhyun lagi, “Yang jantan sedikit!”

“Runa, aku baru ingat kalau tugasku sudah kubereskan semua semalam,” alasan mulai Baekhyun koar. Namun Runa tetap menariknya, “Tugas untuk Selasa?”

“Itu juga sudah.” Yakin yang Baekhyun suguh sama sekali tak meyakinkan.

“Jumat?”

“Sudah.”

“Tugas minggu depannya lagi?”

“Sudah semua.”

Dan si gadis langsung memukul kepala lelaki di sampingnya dengan tak terlalu keras, “Mana ada! Apa kau bisa mengerjakan tugas yang bahkan belum diberikan?” Mereka sampai di depan kamar Seunghee yang terbuka saat Runa baru menyelesaikan ucapan. Di dalam, Seunghee dengan surai legam terikatnya tengah menunduk di kotak lemari paling bawah. Sedang mencari sesuatu, mungkin.

Baekhyun makin ingin membuat kakinya membatu supaya Runa tak dapat menariknya masuk, “Sialan, Runa. Aku benar-benar tidak bisa.”

“Sudah sampai sini.” Desis Runa sebal. Kali ini Baekhyun sungguhan ingin melepaskan lengannya, “Dia mengikat rambutnya, itu sangat cantik.” Gadis di sampingnya memutar mata dengan malas. Di saat begini Baekhyun sama saja.

Sepertinya keduanya terlalu berisik, hingga Seunghee pun menolehkan kepala, “Cepat sekali sampai. Apa kalian mengabari sewaktu dalam perjalanan?”

“Runa, biarkan aku ke toilet.” Baekhyun hampir melepas seruanya kala Runa masih keras kepala. Dia menutup hidungnya, “Demi apa, Kwon Runa?! Aku bisa mimisan sekarang di depannya!” Dan begitu Runa menyerah untuk menahan lengannya, Baekhyun segera pergi untuk menemukan jalan ke toilet dengan instingnya. Dia bohong tentang akan mimisan, ia hanya ingin buang air kecil saja.

“Ada apa dengannya?” Kening Seunghee mengerut, heran. Runa hanya menunjukkan cengiran, “Biasa, serangan di kandung kemih.” Si pemilik kamar mengangguk, “Mau mengerjakan tugas yang mana dulu?”

“Matematika bagaimana? Aku sama sekali tidak bisa hitung-hitungan.” Saat teringat sesuatu, Runa membuka mulut lagi, “Seunghee, boleh pinjam buku tak terpakai? Kami tadi buru-buru ke sini, jadi….”

“Bagaimana bisa mengajak belajar bersama tapi kalian sama sekali tidak bawa buku?” Setelah menyudahi cacak pinggangnya, Seunghee berbalik ke lemari yang tadi sempat ia singgahi untuk mengambil barang yang dibutuhkan.

Selang beberapa saat kemudian ketiganya sudah duduk di depan meja rendah di kamar Seunghee. Berhubung Seunghee sendiri sudah mengerjakan tugas kalkulus, ia lantas mengerjakan yang lain, tapi tetap menyelakan banyak waktu untuk memberi bantuan.

Beberapa kali Seunghee melirik Runa yang menggaruk rambut. “Mau kuberi gambaran mudah?”

“Dari namanya saja rasanya trigonometri itu tidak mudah,” berhubung kadar tidak sukanya pada matematika, Runa sebenarnya agak malas mempelajari lebih dalam. Otaknya jadi tegang. Namun ia memerhatikan Seunghee yang menarik bukunya.

“Buat garis vertikal dan horizontal yang saling berpotongan di tengahnya,” Seunghee sedang dalam mode serius sekarang, “Dimulai dari kanan atas, kita isi masing-masing kotaknya. Sin, cos, tan. Ini hanya gambar patokan. Letakkan minus di sini dan plus di kotak sampingnya. Kalau kau ingin mencari cos bisa dengan menjadikan kotak yang ini sebagai patokan─”

Semuanya melebur sebelum menabrak gendang telinga Baekhyun. Oh, sedang salah fokus rupanya. Ada baiknya juga ia menuruti Runa untuk kemari. Karena sebelumnya Baekhyun sempat menyesal sudah memilih bangku deretan depan. Jadi untuk menoleh ke bangku Seunghee dibutuhkan alasan yang kuat. Well, seringnya menggunakan alasan mengobrol jarak jauh dengan Runa─obrolan tak berbobot, jelas saja.

Baekhyun baru tertarik kembali ke alam sadarnya saat Runa mengoar ‘o’ panjang. Lelaki itu kembali menunduk dan berlagak menyelesaikan soal.

“Eh, Baekhyun, kau sudah paham belum?” Sialan, Baekhyun tahu Runa sedang ingin memojok-mojokkannya agar mengobrol dengan Seunghee. Bukannya Baekhyun selalu segugup dan sepengecut ini. Hanya saja sekarang keadaannya sudah berbeda dari saat di mana ia belum mengatakan perasaannya pada orang lain. Kekhawatiran yang tumbuh semakin menggunung. Bisa saja, kan, Seunghee tiba-tiba menjauh jika tahu bagaimana perasaan Baekhyun sebenarnya?

Maniknya menatap Runa, menguar keberanian di sana. Baiklah jika ini yang Runa inginkan. Sudah terlanjur kemari, kenapa tidak sekalian saja?

“Belum, hehe.”

“Kau bisa tanya Runa, aku baru selesai mengajarinya,” tanggap Seunghee santai. Melihat hal ini, Runa bertindak cepat, “Aku mau ke toilet, akan lama.”

“Apa kau sedang mengarang alasan?” satu alis Seunghee terangkat, curiga. Bergegas Runa beranjak dari duduknya, “Tidak. Sepertinya aku makan terlalu banyak kue tadi.” Dia tak mendengar ucapan Seunghee selanjutnya dan memilih keluar kamar.

“Dia selalu lucu jika menyukai seseorang,” ia terkikik geli. Seolah puas dengan apa yang telah dilakukan hingga detik ini. “Eh, aku tidak lihat Sehun,” gumamnya tiba-tiba. Namun kala teringat sesuatu, ia mengedik kecil, “Paling di markas.” Mendekam selama beberapa menit di toilet memang benar dia lakukan. Setelah keluar dari kamar mandi, irisnya menemukan Mama Seunghee baru saja mematikan blendernya.

“Mama Seunghee, bolah aku membantu?” ujarnya kemudian. Mama Seunghee langsung tersenyum lebar, “Oh, tentu saja cantik. Tolong pindahkan tiga gelas dari lemari dan bersihkan dengan kain itu. Aku akan menuangkan jusnya ke wadah kaca dulu.” Dengan cekatan Runa melakukan apa yang baru dititahkan.

“Sudah lama sejak Seunghee tidak mendapat kunjungan dari temannya sesering ini.” Perlahan jus berpindah ke wadah kaca.

“Maaf karena terlalu sering merepotkan,” kekeh Runa kecil. Dia baru menyelesaikan gelas keduanya.

“Ah, aku justru senang. Seunghee dan Sehun tidak pernah bertengkar. Jika tidak ada tamu, tak banyak suara yang tercipta di sini.” Mama Seunghee terkekeh, beliau baru saja selesai menuangkan jusnya. Memindah wadah kaca ke nampan dan meraih camilan yang sudah lebih dulu ia siapkan untuk ditata kembali.

“Apa itu artinya aku boleh lebih sering lagi berkunjung?” tawar Runa dengan tawa tak seberapa, tugasnya menata gelas sudah rampung. Ia bersiap menenteng nampan untuk dibawa ke kamar Seunghee.

“Aku tidak bisa menolak itu, sayang.” Setelah mengangguk puas Mama Seunghee berujar, masih dengan senyum lebarnya, “Terima kasih bantuannya.”

Dalam hati, seraya melangkah menuju kamar, Runa kasihan juga pada Mamanya Seunghee. Akan sangat menyebalkan jika ada banyak orang di rumah tapi tak satu pun ada yang berniat memecah suasana. Bisa-bisanya mereka bertahan hidup dengan suasana sesepi itu.

“Camilan datang,” seru Runa semangat tepat di depan pintu. Mendapati Seunghee dan Baekhyun masih fokus pada buku yang sama. Oh, harusnya ia lebih lama barusan.

Seusai meletakkan nampan pada spasi yang masih kosong di meja, Runa mendudukkan diri. Sementara Baekhyun langsung mencomot satu kue, Runa memilih menuang jus ke dalam gelas untuk diberikan pada masing-masing temannya. “Eh, Seunghee,” panggilan ini mambuat Seunghee menggumam.

Sambil menyerahkan gelas jus, Runa meluncurkan tanyanya, “Kok, aku tidak melihat Sehun? Dia pergi?” Mendadak Seunghee terdiam, seakan teringat sesuatu. “Um, apa sebelum ini kau mengatakan sesuatu pada Kak Sehun?” Langsung saja Runa teringat dengan saran yang ia tuturkan malam kemarin.

“Apa yang terjadi?”

Lama Seunghee memandang Runa, sedang menimbang apa yang harus dan tak harus ia utarakan. Pada akhirnya ia memutuskan untuk angkat bicara, “Kau harus bicara padanya lagi agar tidak melakukan hal aneh. Siang tadi Kak Sehun memberiku apel.”

“Bukannya bagus? Kau suka itu, kan?” Runa meminum jusnya. Sama sekali tidak tahu Baekhyun sedang manggut-manggut di sisi sebelah sana dan menggumam, “Suka apel. Suka apel.”

Sepertinya memang ada hal penting yang tak ingin Seunghee bicarakan, terlihat jelas dari tatap mata gelisahnya. “Pokoknya kau harus bicara lagi padanya.”

“Baiklah,” Runa menyerah, “Aku akan bicara padanya saat kami bertemu lagi.”

Lantas mereka kembali fokus dengan tugas yang ada. Begitu selesai, tak lupa Runa dan Baekhyun meminjam buku bekas yang baru mereka gunakan untuk menyelesaikan soal. Supaya lebih mudah menyalin. Tadinya Runa ingin memotretnya satu-satu berhubung malas membawa buku. Tapi Baekhyun lebih dulu menyanggah dengan mengatakan tidak baik melihat ponsel terlalu lama. Bah, padahal biasanya juga menatap layar ponsel terus untuk main game. Memangnya Runa tidak tahu jika Baekhyun modus ingin meminjam barang kepunyaan Seunghee?

“Belajar yang menyenangkan?” tanya Runa akhirnya kala mereka sudah dalam perjalanan pulang.

“Seperti sedang main jet coaster.” Pengakuan Baekhyun membuat kekehan meluncur dari katup bibir gadis di sampingnya, “Itu karena kau terlalu gugup, lain kali santailah sedikit. Tidak biasanya kau begini, Baek. Apa kau sangat menyukainya?”

“Benar, sih. Tapi alasanku banyak gelisah hari ini lebih karena Mamanya Seunghee.” Baekhyun mengusap rambutnya sedikit gemas. Jelas saja Runa bingung, “Memangnya kenapa?”

Kenapa kau bilang?” suara Baekhyun hampir melengking, “Bagaimana bisa aku tenang jika salam yang kukatakan saat pertama kali bertemu adalah ‘aku ingin pipis’?! Aku sudah hancur di awal, Runa.”

Tawa Runa benar-benar meledak. Di satu sisi ingat ekspresi Baekhyun saat pertama kali pintu di buka. Di sisi satunya lagi baru sadar ada hal yang lupa ia tertawakan tadi. “Aku ingin pipis,” dia meniru Baekhyun, dan tertawa lagi. Sangat puas.

Sementara Baekhyun hanya memberengut sebal. Berjanji dalam hati akan mengucap salam dengan baik di depan rumah siapa saja untuk selanjutnya.

.

.

.

-0-

.

.

.

Runa mendengus saat melihat ekspresi Wendy. Dia lantas mengibaskan tangan, “Kubilang ekspresi itu tidak cocok, Wendy.”

Memberengut sebal, Wendy berucap, “Ini ekspresi andalanku, tahu!” Kemudian Runa berucap dengan lebih lembut, “Ayolah, kau sedang pakai seragam sekolah. Jangan gunakan ekspreksi seksi.” Dia mulai menempatkan kameranya lagi, “Nanti akan kubiarkan kau berekspresi sesukamu saat memakai pakaian lain.” Mau tak mau Wendy menurut juga. Ia lantas memosisikan diri di depan loker, berlagak tengah membukanya.

Usai mengambil beberapa gambar, Runa berujar pelan, “Kau tegang?”

“Sangat terlihat, ya?” Cengiran Wendy terlihat, membuat Runa terkekeh kecil, “Harusnya kau tidak gugup dipotret amatiran sepertiku.” Seraya mengecek hasil gambar, Runa membuka suara lagi, “Kelas akan dimulai sebentar lagi. Mau lihat hasil fotonya dulu?”

Kemudian keduanya duduk di bangku Jungkook. Sekadar info, si pemilik bangku masih belum kembali dari toilet. Begitu Jungkook muncul, lelaki itu hanya mendengus kecil dan menempatkan diri di bangku Runa.

“Tidak niat mengusir?” Suara Seunghee hinggap di pendengaran Jungkook. “Aku malas berdebat. Omong-omong, apa kau tidak canggung padaku?” Langsung saja helaan napas terdengar dari spasi di sampingnya.

“Kita sudah bicarakan ini, Jungkook.” Seunghee menata kembali duduknya dengan sedikit gelisah. Berharap tak ada satu orang pun yang melihat ke arah bangkunya untuk menemukan ia dan Jungkook tengah bercakap. “Yang kemarin itu tidak sengaja. Runa dan Baekhyun saja yang terlalu cepat menyimpulkan.”

“Apa perlu kuminta kau jadi pacarku?” Jungkook mengatakannya dengan ekspresi biasa, menguap sedikit dan mulai memosisikan diri untuk tidur di meja. Awalnya Seunghee diam saja, namun kemudian ia berucap seolah sebal, “Jangan membuatnya makin runyam. Berhenti melontar candaan.”

Yang ada, Jungkook hanya mengedik bahu saja.

Dia tahu betul Baekhyun sedang diam-diam memerhatikan dari sudut lain.

.

“Aku tidak bertemu dengannya.” Di tengah kelas sejarah, mendadak Runa menggumam kata. Merasa hanya dirinyalah yang punya kemungkinan untuk diajak bicara, Seunghee lantas menanggapi, “Siapa?”

“Oh Sehun. Sudah empat hari dia tidak muncul di minimarket.” Awalnya Runa tak ingin membahas ini, tapi ia terlanjur penasaran, “Dia tidak membalas pesanku.” Empat hari tentu sudah lumayan aneh menurut Runa. Bukan masalah dia rindu karena tak bertemu atau bagaimana. Masalahnya, kata-kata yang Seunghee lontar kala mereka belajar bersama sedikit mengganjal di hati Runa. Membuat gadis itu semakin yakin ada yang tidak beres di sini. Tentu ia berharap hanya perasaannya saja yang salah. Namun perilaku Sehun yang terus diam ini malah memancingnya untuk makin menggandeng resah.

“Kau khawatir?”

“Sebenarnya aku hanya penasaran, tapi─well khawatir juga boleh. Terdengar sama.” Rupanya Runa sedang tak ingin mempermasalahkan pemilihan istilah sekarang. “Aku tidak bisa bersikap biasa. Ucapanmu waktu itu seolah menjurus pada pesan yang kukirim pada Sehun. Ini melibatkanku, bagaimana bisa aku tidak bingung?”

Tahu persis bahwa ia ikut andil dalam mebuat Runa khawatir, Seunghee menghela napas berat. Memilih melanjutkan mencatat apa yang perlu ia perhatikan dari materi yang disampaikan di depan. Dia tahu Runa sedang menunggunya bicara. Dan ia memang sedang menimbang apa yang harus diutarakan sekarang. “Kak Sehun,” baik Oh Seunghee, memang harusnya dikatakan. Lagi, ia menghela napas sebelum memutuskan kembali melanjutkan tanpa memberi lirikan, “Tangannya retak. Dia jatuh dari pohon saat mengambil apel.”

Lekas Runa menegakkan tubuh, tak dapat memegang kembali kendali suaranya, “Apa dia tidak tahu kalau jaman sekarang apel ada di pasaran? Apa dia bodoh?” Matanya membelalak sempura, tiga per empat merasa kaget dan sisanya campuran perasaan bersalah serta keinginan mengatai Sehun tolol. Serasa ingin mengumpati Sehun sampai berbusa. Namun semua itu terpecah berkat ketukan ujung tongkat di sudut mejanya. Berimbuh suara berat dari seorang pria.

“Kwon Runa, berdiri di luar. Kau mengganggu pembelajaranku.”

Oh, sialan. Harusnya Runa lebih bisa mengontrol suara.

.

.

.

-0-

.

.

.

Dengan tangan kanan yang sudah dibebat gips, Sehun baru saja melewati pintu utama rumahnya. Niatnya ingin langsung mengambil air di lemari pendingin begitu saja luntur. Betapa ia mensyukuri matanya yang langsung menangkap sosok Runa dan satu orang lelaki bersurai cokelat sebelum mereka menangkap basah keberadaannya. Cepat-cepat Sehun berbalik dan keluar rumah, memilih memojokkan diri di tembok bersudut yang punya kemungkinan besar menjadi tempat persembunyian terbagus.

“Sialan, kenapa dia kemari?” dengusnya. Setengah kesal, setengah menyesal karena tidak bisa bertemu langsung seperti biasa.

Beberapa saat kemudian terdengar percakapan kecil antara si lelaki surai cokelat, Runa, dan Seunghee. Sehun bisa mendengar pintu ditutup tatkala Runa dan lelaki tersebut sudah melewati gerbang. Penasaran, dintipnya kedua orang itu yang masih bertukar kata.

“Belajar yang menyenangkan?” Ini jelas suara milik Runa.

“Seperti sedang─” Suara tanggapan dari sang lelaki mengilang. Sehun sudah tak dapat mendengarnya lagi walaupun samar. Bergegas ia kembali masuk ke rumah, menemukan Seunghee yang langsung menolehkan kepala.

“Kak Sehun, apa sangat parah? Kenapa digips?” Sebagai penerima apel yang merasa bersalah, Seunghee berucap begitu. Tak mau ambil pusing, Sehun menjawab asal, “Ini tidak buruk. Omong-omong, kau tidak mengatakan apa pun pada Kwon Runa, kan?”

Sebuah gelengan yang disuguh membuat Sehun mengembus napas lega. Ia menepuk pundak gadis di depannya, “Baiklah, terima kasih, ya?”

Baru kali ini Seunghee mendapat pujian dari Sehun, dia mengembang senyum dengan cepat dan mengangguk.

“Ah, satu lagi. Lelaki yang tadi itu siapa?” Masa bodoh dia tidak dapat menahan rasa penasaran di depan adiknya. Sehun terlanjur ingin tahu.

“Itu Byun Baekhyun,” ujar Seunghee tak lengkap sama sekali. Sehun lebih membutuhkan status ketimbang nama, “Pacar baru Kwon Runa?” Dia akan bertepuk tangan jika itu benar.

“Mana ada. Mereka bersahabat sejak SMP, kok,” tegas Seunghee cepat. Dia seperti sedang berusaha menyuguhkan jawaban terbaik yang dapat dilayangkan. Sesaat Sehun menggumam kecil, ia lalu menepuk sekilas bahu Seunghee, “Kadang pertemanan antar lawan jenis perlu dicurigai.” Entah siapa yang dinasihati di sini. Yang penting Sehun sudah ingin membanting diri di kasur. Siapa tahu esok hari mendadak tangannya sudah sembuh kembali.

Memerhatikan sang kakak yang melesat ke kamar adalah yang Seunghee lakukan. Dia berteriak agak kencang, “Kak Sehun suka Runa?”

Waktu berjalan, dan tak ada sedikit pun jawaban yang terdengar.

.

.

.

. to be continue

Lah, Sehun mah lawak 😦 Ngapain jatuh dari pohon segala 😦 Lah gapapa yang penting ganteng.

Skip lah _-

LAH AKHIRNYA AING UPDATE JUGAK 😦 SEDIH INI FF UDAH BULUK AJA GAK LANJOT-LANJOT 😦

Tenang kawans, bakal aku kelarin kok, aku kan setia /gaknyambungwoy/ Mumpung liburan aku pinginnya sering nulis, pinginnya :’) wkwk Semoga bisa kelar sebelum mulai masuk kuliah lagi wkwk Semangatin dong /najis ngemis semangat :(/ /boddooo :((((

Eh, masih pada inget ff ini gak ya? :’) Aku sendiri sejujurnya kangen, tapi sayangnya doi gak kangen balik /BUANG SAJA NIDA KE RAWA/ Ih paan sih kok rasanya bingung mau ngomong apa, cem baru ketemu mantan ae 😦 /ini apa lagi yhalord _-/ Dah dah gitu deh intinya, gamutu gapapa karna aku cinta kalian /lah

Btw walau sudah seminggu berlalu tapi tetep aja … Maaf lahir batin semuanyaa, sarangek ❤

.nida

Iklan

20 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 20] by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 25] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. anjayyy segitunya ngikutin sran runa biar ngasi seunghee ssuatu yg dy suka… msak bru suka apel ehh sehun buknny bli apel d pasar ato d swalyan kek eh mlh maen pnjt2 pohon… ampe jatuh… T.T kacian sehun …. kdg bodoh jgn dplihara hun…

  3. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 24] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 21] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  7. Okeh fix gue ngakak onlen kak,,
    Baek astogeh,,, salamnya yg elit dikit kek baek..😂 pulang bek pulang,, malu gua punya bias cem lu✌✌😂🔪
    Ni lagi sehun,,😑 kepinteran lu bang asw,,, Untung tangan lu yg retak bang,, klo hati yg retak kan susah😳 klo hati abang retak, panggil dedeq ajah yha bang 😪*alay kumat😂 Lagian lu make manjat manjat pohon segala sih,, otaklu tuh terlalu pinter bang, jenius malah,, aduuh kutersunjang jadinya.
    Kuki, kamu ngapain disitu? Dah kaya anak ilang coba,, ya Allah bang… daripada manas manasin si cabe(?) *Hehe mian baek*, mending lu ke rumah bang,, mamah nanyain tuh, katanya kapan lamar aku *dibakar 😂😚🔫🔫

    Ditunggu kelanjutannya qaqa👼👼

  8. Spt’ny 세훈 butuh les privat manjat 🌳 buah sm 누나 nih 😀 wkt kcl prnh kg jth pas lg manjat 🌳 jambu lmyn tinggi tp alhmdllh ga da yg retak /mgkn tanah’ny ja x yg retak ktiban bdn eike 😅 kangen bgt nid sm lnjtn ff ini 😢 화이팅.. moga bs kelar sblm mule sbk sm kuliah’ny ☺
    Wkt stay di 발리 kmrn sblh 🏡 tu rawa, jd inget candaan para author ksayangan di tiap a/n or klm kmntr yg sk bw2 rawa 😂 tu rawa bs2 isi’ny bkn 🐸🐛 tp para bias & author exoffi! ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Msh inget sih scene trakhr di chptr 19 yg 백 lg mkn 🍰 dg lahap’ny, tp lupa sm psan runa ke 세훈 yg bikin 세훈 manjat2 🌳 tu apa ya? 😕 /tar bc ulang ah
    Kocak bgt 백 di eps ini 😂
    Kirain 세훈 smpt dngr obrolan 백 sm runa di dpn rmh’ny ttg prasaan 백 ke seunghee. Pas dngr tngn 세훈 trnyt retak tu ga klh shock dr runa 😨 rasa’ny pngn lngsng jengukin /modus!!
    Mhn maaf lhr batin jg ya nid ☺ 나도 사랑해🙆

  9. Aku makin binggung sama jungkook. Die sebenernya naksir seunghee apa cuman mau manas”in bekon sih 😆😆😆
    Ahelah. Sehun mah gitu… ga pengen bikin runa khawatir yaaa..
    Yeaah akhirnya update juak. Setelah sekian lama daku menanti hadir nya dirimu. 😍😍😍
    Ditunggu selalu Nid 😚

  10. Terima kasih author
    setelah sekian lama
    sehun dan baekhyun lucu banget disini efek jatuh cinta mungkin 😁😁
    lanjutkan yah ka
    semangat

  11. Setelah menunggu sekian lama thor,
    Finally diupdate jga, mian baru bisa komen disini
    Semangat buat next chaptnya thor ..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s