2ND GRADE [Chapter 08] -by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 08]

─by l18hee

.featuring

[EXO] Sehun | [BTS] Taehyung | [Red Velvet] Irene

[OC] Runa | [EXO] Jongin | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue [Welcome to 2nd Grade] | Chapter 1 [New Place] | Chapter 2 [New Team, Dream Team] | Chapter 3 [Hey, You!] | Chapter 4 [Emotion] | Chapter 5 [End of the Day] | Chapter 6 [Welcome Back, Friends] | Chapter 7 [Perkenalan Kedua]

.

Now Playing ► Chapter 8 [Little Hope]

Dia hanya tidak sadar sudah mulai punya selembar harapan.

.

.

(!) (little flashback in beginning)

 

“Niat menyanyi tidak, sih?”

Suara gadis itu sekaan terulang. Lelaki yang tengah berbaring asal di ranjangnya, dengan earphone pinjaman yang masih menyumbat telinga itu, tanpa sadar tersenyum kecil. Dia baru saja menghabiskan waktu merenung di bus hingga pemberhentian terakhir. Perlu waktu sedikit lama untuk kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Namun kini, kendati lelah menyambah tubuhnya, ia tak kunjung memejamkan mata. Tak peduli pada telinganya yang sudah panas karena terlalu lama terpapar nada dalam jarak dekat.

Sehun sudah memikirkan masalahnya. Tentang ucapan Taehyung mengenai ia yang seperti membuat Irene sebagai tempat pelampiasan. Rasanya ingin mengubur diri saja karena dipikir seribu kali pun jika Sehun menganggap itu adalah hal lumrah, maka otaknya perlu mendapat reparasi ulang. Walau alasan ia melakukannya adalah karena keluarga atau sejenis itu, tetap saja sama. Kenapa Irene harus menjadi pelampiasan? Harusnya Sehun mengatasi masalahnya sendiri, dan bukan malah menjadikan orang lain sebagai pelarian. Bukankah yang seperti ini malah membuat semuanya menjadi makin runyam?

Kemudian, pagi-pagi sekali Sehun sudah membersihkan diri dan keluar rumah. Sedang malas berpamitan. Setelah berkaca tadi, Sehun merasa dia tidak sedang dalam kondisi yang bagus untuk menampakkan diri di sekolah. Bisa-bisa image-nya turun.

Jadi dengan mantapnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan. Kemana saja asal hatinya bisa lepas dan lumayan tenang.

 

Irene Bae:

Tidak sekolah?

Di saat sibuk mengamati beberapa anak taman kanak-kanak sedang bermain di taman, Irene mengirim pesan. Sehun sudah terlanjur membukanya, tapi tidak tahu mau membalas apa. Embusan napasnya panjang sebelum kembali memerhatikan bocah-bocah tanpa dosa berebut makanan.

Terus menjadi anak kecil terkadang adalah anugrah yang menggiurkan. Sehun ingat bagaimana ia dan keluarganya masih baik-baik saja─atau setidaknya terlihat begitu. Ayah masih rajin mengajak istri dan anak-anaknya bermain setiap waktu luang. Ibu masih rajin memancing perut para penghuni rumah dengan aroma masakan rumah menggoda. Hojun masih rajin membawa Sehun main ke mana-mana. Sehun kecil adalah Sehun yang merasa dirinya paling bahagia di dunia.

Yah, itu saat kecil. Sehun sendiri tak paham ketika beranjak dewasa, dunia terlihat semakin buruk saja. Dia sudah tidak ingin tahu bagaimana awalnya, yang jelas keputusan cerai ayah dan ibu masih membekas dalam benaknya. Kakak satu-satunya yang biasa melebarkan lengan untuk melindungi terpaan pukul menyakitkan dunia, mendadak saja berpaling. Tanpa alasan jelas mengikuti sang ibu yang pindah hunian.

Janji ayahnya yang berkata ia diperbolehkan mengunjugi sang ibu, sudah tandas entah kemana. Bahkan Sehun tidak tahu di mana ibunya sekarang. Walau berbagai perih sudah ia rasakan, bagaimanapun juga Sehun tak bisa munafik jika dia ingin menemui ibu dan kakakknya. Dan menyuarakan hatinya, “Bukankah jika kita kembali seperti dulu, dunia akan terliat bahagia?”

Nyatanya saling bertanya kabar lewat telpon pun tak bisa.

“Kakak, tolong lemparkan bolanya!” Sebuah seruan menghentikan sensasi panas di mata Sehun. Lantas lelaki ini meraih bola di dekatnya. Sejenak teringat pada adegan-adegan dalam televisi yang pernah ia lihat. Dia tersenyum, melemparkan bola tadi ke pemiliknya; bocah pipi tembam murid taman kanak-kanak. Seusai melontar terima kasih, bocah itu kembali asik bermain. Meninggalkan Sehun yang lagi-lagi membuang napas panjang. Beberapa saat kemudian ia mengeluarkan ponsel untuk memotret anak-anak di depannya.

Tadinya, sih, dia ingin membagikan foto lewat salah satu aplikasi media sosial. Tapi berhubung tidak tahu bagaimana menulis caption yang tak terkesan lembek, ia hanya mengetikkan beberapa aksara yang muncul dalam otaknya.

 

Malas mengembalikan earphone, kutebak, mereka tak bisa mengantarkannya padamu.

Sebuah kalimat ambigu, sesungguhnya. Entah kenapa Sehun teringat pada earphone pinjaman yang bersarang di sakunya. Yang lantas ia samarkan sebagai penutup makna kebahagiaan masa kecilnya dulu. Arti seungguhnya adalah; Sehun sudah menyerah untuk mengembalikan kebahagiaan yang pernah ia rasakan dulu.

Dan dia harus mencari bahagia yang baru.

 

.

 

.

 

.

Dengan santainya Sehun tertidur di bangku taman. Cukup lama karena ketika ia membuka mata, sebuah kaleng soda sudah berdiri manis di samping kepala.

“Begadang, ya?”

Sontak Sehun menoleh, sedikit menyipitkan mata, mendapati Taehyung sedang memantulkan bola oranye di tangan. Lho? Kenapa bisa ada Taehyung?

Seolah membaca wajah Sehun yang baru beranjak duduk, Taehyung menunjukkan cengiran, “Aku lihat foto yang kau unggah.” Dia meneguk kaleng soda miliknya, “Irene khawatir, lho.” Mengikuti Taehyung, Sehun meminum sodanya, “Dia akan makin panik jika tahu kau bolos.” Yang masih sibuk memainkan bola basket dengan satu tangan, terlihat cuek, “Siapa yang kalah basket, dia yang traktir piza. Berani?”

Oh, Kim Taehyung mulai lagi.

“Kau berani menantangku?”

Tidak perlu ada ucapan formal saling minta maaf dan memaafkan. Sehun dan Taehyung punya cara sendiri untuk memperbaiki pertemanan mereka. Apalagi hanya karena masalah kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan secara baik-baik.

Mereka menghabiskan hari untuk bermain basket. Mampir untuk membeli piza, yang dibayar Taehyung, omong-omong. Lalu berakhir tiduran di lantai markas. Butuh istirahat sedikit lama, tentu saja.

“Sebentar lagi acara persaudaraan dengan SMA Chunkuk tiba, lho. Kau bisa cari gadis seksi baru nanti.” Taehyung mengakhiri ucapan dengan kekeh ringan. Ingat bahwa setiap dua tahun Sekolah Seni Yeonso dan SMA Chunkuk akan mengadakan satu momen khusus, katanya agar kedua sekolah bisa tetap saling mendukung. Walau keduanya unggul dalam bidang yang berbeda, Sekolah Seni Yeonso di bidang seni serta SMA Chunkuk ahlinya di bidang pelajaran, acara itu tetap berjalan dengan lancar dua tahun sekali. Dan tahun ini akan diselenggarakan di Sekolah Seni Yeonso.

“Tetap tidak ada yang mengalahkan Miranda Kerr,” tegas Sehun sarat keyakinan. Makin membuat Taehyung tergelak, “Setidaknya cari yang benar-benar ada di depan matamu, man.” Langsung saja Sehun menunjukkan latar belakang menu ponselnya, “Nih, di depan mataku.” Foto wanita cantik dengan gincu merah tebal di sana. Miranda Kerr, tentu saja. Memancing Taehyung mencibir.

“Pantas saja kau masih jomblo.” Dia mengambil jeda beberapa detik, “Memangnya kau tidak naksir seseorang lagi sejak putus dengan Junrim?” Ah, bahkan Sehun hampir lupa pada gadis yang pernah menjalin kasih dengannya selama tiga bulan. Mereka sudah putus tahun baru kemarin, sekadar info saja.

Sejemang Sehun terdiam. Pikirannya melayang pada beberapa gadis yang berpotensi hinggap lebih lama di benaknya hingga saat ini. Lalu ia menggeleng, “Sebentar lagi ketemu.” Ia membiarkan tangannya bergerak ke atas saku celana. Memastikan barang yang dipikirkannya masih di sana. Lagi-lagi Sehun mengulas senyum tipis dan membatin dalam hati.

Oh, untunglah, earphone-nya masih ada.

Sampai piza yang dibeli tinggal beberapa potong, dan gelap datang, Sehun dan Taehyung masih betah berada di markas. Mereka sedang asyik bertanding game di ponsel ketika mendadak pintu markas terbuka. Tak disangka pelaku pembuka pintu dengan suara keras adalah Irene. Gadis ini langsung mengambil langkah dan menjitak kedua karibnya, kesal, “Sialan, aku mengkhawatirkan kalian!” Bukannya minta maaf, dua lelaki itu tergelak puas dan tetap berfokus pada game.

“Kukira kau Taehyung, sudah babak belur dan teronggok di tempat sampah tanpa kesadaran. Sementara Sehun menutuskan bunuh diri.” Irene sudah tak dapat menahan lagi rasa sebalnya. Jika bukan karena pesan dari Taehyung tentang keberadaan mereka di markas, Irene sudah melapor pada bagian orang hilang di kantor polisi.

“Tadinya memang mau begitu,” cletukan Sehun membekukan Irene. Namun dengan cepat ia menambahi, “Tapi lapar jadi bunuh dirinya ditunda.” Dan satu tepukan keras bersarang di lengannya. Sumpah, Irene kesal sekali.

Tapi ketika melihat Sehun dan Taehyung masih sibuk melontar ejekan seraya bermain game, dia merasa lega luar biasa menyambah benaknya.

Irene rasa Sehun menemukan jalan kebahagiaan kembali.

“Eh, kalian, mau kupesankan mi hitam?”

Siapa pun, tolong, lihat betapa rona senang tak kunjung enyah dari pipi sang gadis.

.

.

.

-0-

.

.

.

Pelajaran tata krama baru saja selesai. Sehun langsung merenggangkan tubuhnya. Dua minggu lagi acara persaudaraan antar sekolah sudah digelar. Akibatnya berbagai persiapan lumayan membuat waktu pelajaran mereka berkurang. Sebuah keuntungan bagi siswa yang tidak suka ikut campur seperti Sehun. Beda dengan Irene, gadis ini sudah sibuk sekali dengan gelar panitianya. Hingga ia lebih sering meninggalkan Sehun dan Taehyung bermain sendiri.

“Hei, Sehun. Mau kuberitahu hal yang mengejutkan, tidak?” Mereka sedang menikmati semilir angin di atap sekolah ketika Taehyung bertutur barusan.

“Setelah sekian tahun, dengan tololnya kau baru sadar jika sedang tertarik pada seseorang?”

“Kau cenayang?” Cepat-cepat Taehyung memasang wajah terkejut, sebelum akhirnya bertingkah ketakutan. Membuat Sehun memasang tampang jengah, tahu jika sang karib hanya sedang berpura-pura.

“Padahal tidak terlalu seksi. Biasanya, kan, kau suka yang seksi-seksi,” tanggap Sehun yang sudah paham dengan kebiasaan kawannya. Taehyung sendiri justru mengedikkan bahu, “Tidak tahu, padahal dia galak setengah mati, sadis lagi. Tapi anehnya malah… bagaimana ya? Sulit menjelaskannya.”

“Hei, kau benar-benar jatuh cinta.” Dengan gaya sok, Sehun menepuk pundak Taehyung. “Siapa namanya? Aku lupa.”

Dengan pandangan menebar ke lapangan di bawah sana, lantas terhenti pada satu gadis dengan seragam olahraga, Taehyung berkemam,

“Jung Sera.”

Untuk sejenak keduanya terdiam. Sehun ikut-ikutan memandang Sera dari atas sini. “Semangat, man. Ambil hatinya secepat mungkin.”

Sehun pikir, sebuah target bisa merubah hidup seseorang. Seperti sebuah suntikan semangat yang membuat tubuhmu kelebihan energi. Memberi efek refleksi hati cerah setiap memikirkan tekad dalam hati. Yah, pokoknya gejolak seperti itu pengaruhnya pada hidup dapat dipastikan begitu tinggi. Anehnya Sehun merasa akan ada suatu gejolak yang sama, yang dapat membawanya ke lingkar kekuatan tersendiri. Entah kapan.

Mungkin sebentar lagi?

Sekali lagi, entah kapan. Sehun sudah tak memikirkannya dalam-dalam. Hanya menganggap itu perasaan biasa yang akan berlalu begitu saja. Dan memang benar, sampai ia kembali ke kelas, mengikuti pelajaran, hingga pulang sekolah tak terpikirkan kembali perasaan aneh tadi.

Kembali seperti hari sebelumnya, sepulang sekolah markas kembali penuh para lelaki. Membahas masalah acara dua tahun sekali yang memungkinkan mereka bertemu dengan beberapa pelajar SMA Chunkuk. Mereka butuh asupan gadis manis berotak encer, sepertinya. Padahal belum tentu para gadis itu mau. Yah, apa salahnya berekspektasi?

Selepas berbusa membahas perihal para gadis, Jongin yang pertama mengalih topik, “Ayo, suit! Yang kalah beli snack.” Yang lain setuju-setuju saja. Tidak tahu jika di sini Jongin-lah yang paling diuntungkan. Berhubung dia paling banyak makan tapi di lain sisi paling minim pengeluaran.

“Batu, kertas, gunting!” Seruan ini berulang beberapa kali sampai pada akhirnya tersisa dua tangan terbuka milik Jongin dan Taehyung; simbol kertas. Mereka dikalahkan oleh simbol gunting dari Hoseok. Sehun dan Jimin sendiri sudah menjadi yang pertama menang sejak tadi.

Di tengah sorak sorai Jimin dan Hoseok, mendadak Sehun beranjak dari duduknya, “Cepat berdiri. Aku akan ikut ke minimarket.” Lekas yang paling bahagia karena kantungnya lumayan terselamatkan adalah Jongin dan Taehyung. Keduanya berdiri dan dengan wajah sumringah, bertukas tos. Sesungguhnya senyuman mereka terlihat menjijikkan.

“Kau baru dapat uang banyak?” tanya Jimin langsung. Lain halnya Hoseok, “Bagus, beli makanan yang banyak. Ramen kalau perlu.”

“Aku hanya ikut ke sana. Tidak ikut bayar.”

Senyum lebar Taehyun dan Jongin hilang. Selamat tinggal lembaran uang.

Apa boleh buat jika Sehun ingin ikut. Toh, dia bisa dimanfaatkan untuk membawa belanjaan─jika bisa dibodohi nanti. Akhirnya ketiganya meraih jaket dan topi, cepat-cepat melangkah keluar. Pembicaraan mereka kemudian merujuk pada game. Ketika hampir sampai ke minimarket, topik berbelok kembali ke seputar para gadis. Membicarakan anak tingkat satu yang penampilan dan wajahnya menarik. Oh, hampir lupa, jangan lupakan gadis seksi. Kapan gadis-gadis seksi bisa lepas dari selaput otak mereka?

Seraya memasuki pintu minimaret, Sehun bertutur yakin, “Tidak. Pokoknya kalau paling seksi itu tetap Miranda Kerr.” Bagaimanapun juga sebanyak-banyaknya gadis yang disodorkan untuknya, Sehun sampai mati tetap akan memilih Miranda Kerr sebagai yang terseksi di antara semua. Titik fanboy-nya sudah sampai level tinggi, info saja.

“Terserah saja, deh. Kalau sudah membahas Miranda kau tak ada diamnya,” Jongin lalu melangkahkan kaki menuju ke lemari pendingin berisi minuman kaleng, diikuti Taehyung. Sehun bukannya mengikuti, dia justru menoleh ke arah kasir. Yang ditemukannya adalah gadis dengan rambut ombre oranye yang diikat ke samping bawah, tengah menatap ke arah Taehyung dan Jongin dengan wajah seperti kehabisan oksigen.

Tangan Sehun menyusup ke saku celana, menyentuh kabel earphone di sana seraya membatin, “Aku datang terlalu awal.” Harusnya dia mengulur waktu sedikit lebih lama tadi di perjalanan. Ah, sudahlah. Mau bagaimana lagi? Sebaiknya ia segera mengambil beberapa makanan seperti jelly, coklat, kripik ubi, kimbab, ra─eh?

Yang pertama Sehun katakan setelah bergegas menuju rak kimbab adalah: “Oi, kukira kau belum datang.”

Itu, Si Gadis Kwon.

Gadis itu menoleh dan terlihat terkejut untuk dua detik, di detik ketiga ia menggerakkan manik bingung, “Aku datang sedikit lebih awal.” Sehun rasa ada hal yang membuat si gadis menunjukkan ekspresi bingung bercampur ingin segera pergi. “Lupa namaku, ya?” tebaknya kemudian. Ditilik dari ekspresi yang sang gadis pasang, Sehun tahu tebakannya benar. Lantas bibirnya terbuka kembali, “Oh Sehun.”

Sebelah tangan Sehun sudah menggenggam earphone yang ingin ia keluarkan. Namun sesuatu mendorongnya kuat untuk berhenti, membiarkan tangan lain membenarkan topi, “Omong-omong, aku lupa membawa earphone-mu.” Awalnya Sehun kira gadis ini tak keberatan, tapi selanjutnya justru terdengar sebuah nada tak suka, “Kembalikan secepatnya. Aku butuh itu.” Oh, mungkin ia tipikal yang susah jauh dari musik.

“Jangan khawatir, aku sering ke sini. Akan kukembalikan secepatnya.” Sehun berucap pasti seraya meraih beberapa kimbab yang lantas memenuhi kedua tangannya. Dia baru akan berjalan untuk mengambil keranjang ketika mendadak sebuah tanya terlontar dari bibir si marga Kwon, “Mereka teman satu sekolahmu, kan? Boleh tahu namanya?”

Rasanya ada yang aneh. Kenapa malah menanyakan nama pelanggan lain? Apa itu strategi promosi atau gadis ini memang ingin berkenalan? Sehun langsung menoleh pada dua temannya yang sedang memilih minuman. “Yang hitam─maksudku, yang sedikit cokelat itu Kim Jongin, dan yang pakai topi Kim Taehyung, kami satu kelas.” Dia kembali menumbuk fokus pada yang diajak bicara, “Naksir salah satunya?” Yang ditanya tak menunjukkan ekspresi berarti, hanya sebuah gelengan, “Tidak. Aku sedang mencoba menghafal langganan.” Sungguh, Sehun langsung tahu itu seratus persen bohong. Dia ingin tertawa.

“Namaku saja tadi lupa.”

Nah, lihat saja bagaimana ekspresi seperti ketahuan mencontek langsung dipasang sang gadis. “Aku tidak lupa, kok.” Sebelum Sehun sempat mengatakan sesuatu, si gadis cepat-cepat menyingkirkan diri. Bergegas menuju rak dengan deret pembalut wanita. Kali ini Sehun tak dapat menahan kekehannya.

Sumpah, gadis itu lucu sekali.

Kekehannya tak lama, hanya saja senyum yang dipasang sepertinya akan bertahan beberapa saat lagi. Dia meletakkan kimbab di keranjang, lalu menghampiri Taehyung dan Jongin, merebut minuman yang mereka genggam sebelum memindahkannya ke keranjang tadi.

Membiarkan Taehyung dan Jongin berdebat tentang apa lagi yang ingin mereka beli, Sehun lagi-lagi menggenggam earphone di sakunya dan membatin, “Besok saja. Masih bisa bertemu.” Baik, apa sekarang dia sedang mengulur waktu?

Pada akhirnya, karena jengah, Sehun mengambil semua yang ada di tangan Taehyung dan Jongin, “Kalian membuatnya rumit. Beli saja semua.”

Saat membiarkan Jongin dan Taehyung membayar, Sehun kembali menoleh pada gadis Kwon yang masih saja berdiri di depan deret pembalut wanita. “Dia tidak pakai nametag,” dia bergumam sendiri, antara kesal dan sedikit kecewa. Ketika ingin bertanya pada gadis ombre di balik meja kasir, yang Sehun dapati justru gadis itu sedang menahan napas seraya melirik Taehyung. Ah, kenapa situasinya tidak pas sekali?

Mereka bertiga keluar dari minimarket, dengan es loli di tangan. Lumayan, untuk bekal perjalanan ke markas. Walau hanya sekitar dua ratus meter, tapi tetap butuh tenaga tambahan, kan? Yah, kendati es loli sedikit tak memberi efek berarti.

“Kalian sudah belanja?”

Sontak ketiga lelaki itu menoleh, mendapati Irene dengan tangan membawa plastik, “Padahal aku bawa kue beras.”

Yang paling pertama mengambil alih plastik adalah Taehyung, mengalahkan kesigapan Jongin, “Bagus. Kau harus sering-sering begini.” Dia segera menghindar ketika Jongin mencoba merebut plastik. Pada akhirnya keduanya bertengkar sendiri.

Di lain sisi, Sehun memilih berjalan di samping Irene. Dia pikir, memperbaiki hubungan dengan Irene akan sedikit berbeda dengan kasus Taehyung. Jika Taehyung bisa dengan mudah berjalan seperti biasa, karena mereka itu laki-laki, kan? Sehun sedikit aneh jika ia dan Taehyung melewati sesi penuh drama dengan ‘Maaf ya, Taehyung?’ dan ‘Iya tidak apa-apa, Sehun’. Walau jika begitu pun tak masalah. Sehun tahu bahwa meminta maaf pada perempuan adalah hal yang harus dilakukan. Hanya saja rasanya sedikit canggung, dan bingung akan mulai dari mana.

“Hei─”

“Aku senang.” Irene lebih dulu menyuarakan hatinya. Ia memilih mengambil alih percakapan, “Aku sempat berpikir kita bertiga akan bejalan sendiri-sendiri, tapi nyatanya tidak. Kita masih baik-baik saja.”

Sehun mengulas senyum untuk membenarkan. Dia membiarkan hening sejenak mengambil alih, sebelum akhirnya berucap tulus, “Maaf, ya? Aku memang sangat keterlaluan.” Dia tidak bisa membayangkan jika pertemanannya dengan Taehyung dan Irene hanyalah tipikal pertemanan dangkal. Pasti tidak akan berlanjut seperti ini.

“Sudahlah, jangan seperti anak kecil lagi. Kau tahu sendiri aku dan Taehyung bukan kategori anak yang berteman saat senang saja. Lupakan saja yang kemarin,” ucap Irene tanpa beban. Pertemanan yang semakin eret sudah cukup mengobatinya. Sebenarnya semua pihak punya rasa sakit tersendiri. Sehun dengan pelampiasannya, Irene dengan cara mengatasi masalah yang salah, dan Taehyung yang berusaha membuka mata keduanya dengan berbagai usaha. Saling membantu walau tak kentara. Hasilnya? Sungguh, Irene ingin terus berdoa pada Tuhan agar menjadikan pertemanan ini sampai tua.

Sebuah tepukan mendarat di pucuk kepala Irene, berimbuh suara Sehun sepersekian sekon kemudian, “Terima kasih, ya, kak?”

Oh, ayolah, kenapa Sehun mulai lagi?

“Kau membuatku terlihat lebih tua.” Menyingkirkan tangan Sehun, Irene berdecih sebal. Sehun sediri sudah suka dengan panggilan yang lumayan jarang ia layangkan, “Salah sendiri seperti kakak.” Dan sebuah cubitan bersarang di pinggangnya.

“Eh, iya, bagaimana dengan Junhong?” Mendadak Sehun ingin tahu. Bukan karena cemburu, dia hanya ingin membuat Irene merasa diperhatikan. Mengingat Sehun lebih sering bercerita pada sang gadis dibanding mendengarkan.

Kok, tiba-tiba sekali?” Irene mencoba menyembunyikan gugupnya. “Aku baik-baik saja dengannya.” Bayangan Junhong hinggap di otaknya, membuat rona samar menyambah pipinya. Jika Sehun bisa lihat dengan jelas, pasti akan tertawa.

“Dia memperlakukanmu dengan baik, kan?” Terkadang Sehun sedikit khawatir, bisa saja karibnya ini bertemu dengan lelaki bajingan, bukan?

“Tentu saja. Dia juga makin dewasa.” Irene menyuguh senyum, “Walau kadang dia cemburu pada kau atau Taehyung, tapi dia tetap percaya padaku. Mungkin dia tahu kalau aku tulus padanya.” Dan dari sudut mana pun Sehun juga tahu jika Irene tulus. Mungkin akan sedikit susah membiarkan kekasih sendiri bersahabat dengan para lelaki. Tapi Sehun bersyukur, Junhong bukanlah tipikal yang terlalu protektif. Mungkin karena lelaki itu sudah tahu bagaimana hubungan Sehun, Taehyung, dan Irene sejak dulu.

Dalam hati Sehun ikut bahagia melihat Irene baik-baik saja dengan Junhong.

.

.

.

.to be continue

Yeeeyeeeeey xD Chapter 8 rilis sesuai janji kemarin :3 Ini sebenernya fokus sama Sehun lagi setelah dia sadar gitu sih di chapter emotion. Well, kadang emang sahabat itu diam-diam hebat /nid../ Bangga sendiri gaktau kenapa, ngeliat Sehun-Taehyung-Irene saling memahami satu sama lain. Adem rasanya wkwk Jadi inget temen/baper nid/

Di chapter ini bagian yang paling aku suka pas Irene nawarin jjajangmyeon waktu tau kalok Sehun-Taehyung udah baikan wkwk Kayak ngerasain juga gimana leganya dia wakaka

Gitu aja, ummm, makasih banyak buat yang masih ngikutin dan ninggalin komen di bawah :* muah wkwk Walau lambat, aku bakal bales semua InsyaAllah. Pokoknya makasih gengs udah bikin aku semangat ngelanjutin ff ini ❤

.nida

Iklan

40 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 08] -by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 25] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 24] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 21] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 20] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 19] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 18] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 17] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 16] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 13] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 15] | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 14] | EXO FanFiction Indonesia

  14. Sehun runa makin banyak moment nya. 😍😍😍
    Makin lama makin keren kak. Ringan, asik dan ga ngebosenin.
    Sukak banget sama ff genre school life gitu.
    Semangat kak… 😍😍😍

  15. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 12] | EXO FanFiction Indonesia

  16. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 11] | EXO FanFiction Indonesia

  17. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 10] | EXO FanFiction Indonesia

  18. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 09] | EXO FanFiction Indonesia

  19. Err..sbnrnya aku buka Exo ffi biasanya nyari ffnya irish (author kesukaan plus punya bias yg sama), tp karena poster ff ni yg bkn penasaran dan temanya School life ( suka bgt ama tema sekolahan padahal udh gk sekolah wkwkw dan msh berasa under 17 karena serem ama tema yg 17+). Dan ff ni tdk mengecewakan. Tdk ff ecek2 dgn berbagai hal yg bkn otak kmn2 pdhl baru 1 atau 2 chapter, pilihan kata yg tidak membosankan terkadang justru membuat berpikir keras, great job.
    Hanya saja permintaannya, Baekhyun part please….sbnrnya karena ada wajah dia di poster makanya tertarik baca wkwkkwkw…

    Kyknya Sehun sama runa, runa diputusin Chanyeol, lalu Baekhyun sama Seunghee? Gitu Polanya ya? Ya gak sih? Jgn digantungi ya biar tw endingnya mereka gimana….
    Fighting!

    • KYAA READER KAKIRIS DIMARI XD aduh dd mah jauh sama kakiris, jadi bisa bangga gini readernya mampir :3 ciyus ini lho ihik :3 salam kenal yak 😀
      wahaha aku juga udah gak sekolah tapi ide anak sekolah ada aja, mungkin ini yang terakhir kali yak/jan gitu nid/plak
      duh duh makasih lho :3 tapi sejujurnya ini ff masih perlu banyak polesan :’) ummm baek bakal muncul juga kok di beberapa episod dan jadi peran penting, ini tergantung alurnya aja gimana sih hehe :3 kalok aku gak munculin dia banyak, aku kurang berani pasang wajahnya di poster ehehe
      waduh waduh waduh ngomongin pola nih :3 aku mau bales panjang tapi jelas banget entar spoiler :’v miyane :’v Iyaaa ini pasti aku selesein kok sampe end, insyaAllah hehe
      semangat juga buat kamu dan makasih banyak udah mampir ❤ ❤ ❤

  20. Yeaayy chapter ini lebih panjangg^^
    Aku sukaaaa versi yang ini.
    Duh jadi pengen punya sahabat kaya mereka:’ saling pengertian, paham situasi temen, dan walaupun ada masalah tp ga ngebuat persahaatan mereka rusak.
    Butuh butuh butuhh banget temen kaya mereka.
    Terus buat adegan favoritnya waktu irene-sehun-taehyung berinteraksi.

    Ditunggu chapter 9nya kak. Yang panjang kak :v

    • hehehe aku gak sadar ini lebih panjang /digeplak/ /ga
      ah, terharu aku ada yang suka :3
      iyaaaa seru kan punya temen yang terus ada, gak cuma pas senengnya doang wkwk jadi bisa saling bantu dan nguatin satu sama lain dan juga gak mudah kepecah :333
      pas interaksi tiga orang itu emang ada rasa rasa unyunya gitu yak wkwk aku aja yang bikin pen unyel-unyel/ga
      btw besok chap 9 rilis xD entah panjang atau engga, tapi semoga kamu gak kecewaa :3
      btw lagi makasih banyak yaaa udah mampir ❤ lafyu ❤

    • iyaaa yen akhirnya mereka baikan 😀 ah suka banget ciyus soale mereka unyuuuu :3
      ehehe sehun-runa? hayohloh tapi runa udah punya pacar loh wkwk /digeplak/
      btw makasih banya yeniii udah mampir sini :3 suka banget deh ❤ ❤ ❤

    • waw wawwwwww mau bilang apa coba ya entar :3
      hmm ini nih, wkwk, sehun ini nih yang gatau kapan dia bakal tau kalok runa udah punya pacar wkwk
      btw makasih devita udah setia ngikutin terus 😀 aku terharu sangad :3 makasih yak ❤ btw lagi besok chap 9 rilis xD

    • hmmmm… aku juga penasaran ini..karena emang kelihatannya mereka baik-baik saja wkwk
      btw makasih salat udah mampir lagi ❤ /peluk cium/ ❤ ❤ ❤

    • wiiiii hai bil kita ketemu lagi :3 btw panggil nida aja atuh :3
      waw waw waw chanyeol atau baek ya.. hmm tenang, tenang, ada beberapa episode yang hampir di dominasi dua orang itu kok :3 sesuai sama peran mereka 😀
      btw besok chap 9 rilis hehe
      makasih banyak billaaaa udah ngikutin ❤ suka deh ❤

  21. Seneng deh ngeliat mereka bertiga baikan lagi… 😊😊😊 Btw aku suka bgt sama ff ini… 😍😍😍 Bela2in begadang demi baca ff ini dri awal sampe chapter 8. 😁😁😁 Ditunggu ya next chapternya~ 😄😄😄 Fighting!!! 😉😉😉

    • iyaaa akhirnya baikaaaan… unyu kan :3
      hehehe makasih banyak lho zera ❤ aku terharu bacanya :3 sampe semangat ini mau lanjut nulis lagi ;))))
      chap 9 rilis besok hehe 😀 makasih banyaaaakkk pokoknya ❤ :*

    • wkwk aku juga suka runa ihik :3 suk akamu juga /nid/
      hmmm tapi runa udah punya pacar 😦 gimana 😦 ya biarkan berjalan sesuai arus sungai ya/paan/
      nextnya rilis besokk xD
      bta makasih udah mampir lho, makasih banget yak ❤

  22. Seneng liat mereka semua…
    Apalagi interaksi sehun runa, lucu deh, si sehun mulai ada rasa tertarik sama runa ya…
    Oke lah aku tunggu next chapternya yaaa

    • aku lebih seneng liat kamu mampir lagi /nid/ :3
      iya emang lucu mereka, kayak aku :3 /digeplak/ hmmm keknya iya nih si sehun mulai ada gimana gitu ya sama runa wkwk
      besok chap 9 rilis di sini xD btw
      makasih yaaaa udah ngikutin terus hehe ❤ peluk sini :* ({}) ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s